Anda di halaman 1dari 16

I. A.

Latar Belakang

PENDAHULUAN

Bumi tempat kita berpijak sebagian besar adalah air. Air yang ada dimanfaatkan oleh makhluk hidup di bumi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari baik untuk minum, mencuci , mandi dan masih banyak yang lainnya. Air yang kita gunakan sehari-hari telah menjalani siklus meteorik yaitu telah melalui proses penguapan dari laut maupun sungai lalu mengalami kondensasi diatmosfer dan kemudian menjadi hujan yang turun ke permukaan bumi tersebut ada yang langsung mengalir di permukaan bumi (Runn off) dan ada yang mereesap ke baah permukaan bumi (Inflitration). Proses terjadinya siklus air inilah yang kemudian disebut siklus hidrologi,dimana air terus mengikuti siklusnya. Air yang ada di permukaan bumi kemudian menguap menuju ke langit dan berkumpul membentuk awan,hingga awan sampai pada titik jenuh lalu meneteskan air ke bumi. Inilah yang disebut air hujan,curah hujan ini merupakan unsur iklim yang mempunyai variasi terbesar baik itu variasi sebaran waktu dan variasi sebaran tempat.Besar curah hujan yang terukur dan tercatat oleh sebuah alat penakar hujanmerupakan kejadian hujan lokal yang mewakili wilayah tidak luas. Sebaran hujan dalam suatu wilayah tergantung pada tipe hujan dan kondisi lahan, Oleh karena itu perlu pengelolaan data curah hujan agar dapat dimanfaatkan bagi kepentingan manusia dan alam. Penentuan hujan wilayah yang berdasarkan pada beberapa penakar hujan akan menghasilkan data yang lebih baik. Praktikum kali ini akan melakukan analisa sifat-sifat hujan. Intensitas curah hujan yang tinggi di suatu lokasi yang tekstur tanahnya adalah sedimen, misalnya pasir serta letak tanahnya juga agak curam menimbulkan tingkat erosi yang tinggi. Selain faktor curah hujan, tekstur tanah dan kemiringannya, tutupan tanah juga mempengaruhi tingkat erosi. Tanah yang gundul tanpa ada tanaman pohon atau rumput akan rawan terhadap erosi. Erosi juga dapat disebabkan oleh angin, air laut dan es. Sehubungan dengan tingginya jumlah dan intensitas curah hujan, terutama di IndonesiaBagian Barat. Bahkan di Indonesia Bagian Timur pun yang tergolong daerah beriklim kering,masih banyak terjadi proses erosi yang cukup tinggi, yaitu di daerah-daerah yang memiliki hujandengan intensitas tinggi, walaupun jumlah hujan tahunan relatif rendah.

B. Tujuan 1. Menghitung indeks erosivitas hujan (R) menurut metode wischmier dan smith (1959) atau E130 2. Menghitung indeks erosivitas hujan menurut R.LAL (1976) atau Aimp. 3. Menghitung KE> 1 (Ke. 25) 4. Menduga E130 menurut rumus Bols.

II. A. Alat dan Bahan

METODE PRAKTIKUM

Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum menganalisis sifat-sifat hujan adalah kertas pias, ombrometer, dan pen marker. B. Prosedur kerja 1. Kertas pias yang terlampir dibagi menjadi beberapa periode a-b, b-c, c-d, d-e sesuai dengan bentuk hujan yang ada. Pembagian ini sesuai dengan kemiringan kurva. 2. Selanjutnya dianalisis sifat-sifat hujan yang diperoleh dan di buat dalam bentuk tabel.

III. A Bagan Hujan B Besar Hujan (Cm) C Waktu terjadi hujan/menit D I= Intensitas Hujan Cm/Jam A-B 1,6 Cm B-C 0,9 Cm C-D 0,3 Cm D-E 0,7 Cm 70 Menit 0,7x =0,6 40 Menit 60 Menit 0,9x =0,9 80 Menit 1,6x =1,2

HASIL E Log I F I30 Cm/jam G Ek Hujan Ek Total I EI30

0,08

1,2

217,34

347,74

-0,004

216,74

195,066

0,3x =0,45 -0,34 -0,22

180,04

54,012

190,72

133,504

=730,32

Mencari nilai Ek Hujan = 210,3 + 89 Log I Mencari nilai Ek Total = Ek Hujan x Besar Hujan

EI30 =

= 8,763

IV.

PEMBAHASAN

Jumlah air di Bumi adalah tetap. Perubahan yang dialami air di bumi hanya terjadi pada sifat, bentuk, dan persebarannya. Air akan selalu mengalami perputaran dan perubahan bentuk selama siklus hidrologi berlangsung. Air mengalami gerakan dan perubahan wujud secara berkelanjutan. Perubahan ini meliputi wujud cair, gas, dan padat. Air di alam dapat berupa air tanah, air permukaan, dan awan. Air-air tersebut mengalami perubahan wujud melalui siklus hidrologi. Adanya terik matahari pada siang hari menyebabkan air di permukaan Bumi mengalami evaporasi (penguapan) maupun transpirasi menjadi uap air. Uap air akan naik hingga mengalami pengembunan (kondensasi) membentuk awan. Akibat pendinginan terus-menerus, butir-butir air di awan bertambah besar hingga akhirnya jatuh menjadi hujan (presipitasi). Selanjutnya, air hujan ini akan meresap ke dalam tanah (infiltrasi dan perkolasi) atau mengalir menjadi air permukaan (run off). Baik aliran air bawah tanah maupun air permukaan keduanya menuju ke tubuh air di permukaan Bumi (laut, danau, dan waduk). Jadi siklus hidrologi adalah lingkaran peredaran air di bumi yang mempunyai jumlah tetap dan senantiasa bergerak. Siklus Hidrologi adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sirkulasi atau peredaran air secara umum. Siklus hidrologi terjadi karena prosesproses yang mengikuti gejala-gejala meteorologi dan klimatologi sebagai berikut:

Evaporasi, yaitu proses penguapan dari benda-benda mati yang merupakan proses perubahan dari wujud air menjadi gas.

Transpirasi, yaitu proses penguapan yang dilakukan oleh tumbuh-tumbuhan melalui permukaan daun.

Evapotranspirasi, yaitu proses penggabungan antara evaporasi dan transpirasi. Kondensasi, yaitu perubahan dari uap air rnenjadi titik-titik air (pengembunan) akibat terjadinya penurunan salju.

Infiltrasi, yaitu proses pembesaran atau pergerakan air ke dalam tanah melalui poripori tanah.

Secara umum macam-macam siklus hidrologi berdasarkan jalur yang dilewati air dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu sebagai berikut:

Siklus pedek, yaitu penguapan terjadi di permukaan laut, kemudian terbentuk awan dan akhirnya terjadilah hujan di kawasan laut.

Siklus sedang, yaitu proses penguapan dari laut maupun dari darat kemudian terbentuk awan. Awan terbawa angin ke wilayah daratan yang menyebabkan hujan di daratan, kemudian air mengalir lagi ke laut melalui sungai di permukaan.

Siklus panjang, yaitu penguapan terjadi di permukaan laut, kemudian terbentuk awan. Awan terbawa angin ke daratan yang menyebabkan hujan di daratan, kemudian air mengalir ke laut melalui sungai permukaan dan aliran bawah tanah.

Air tawar di bumi berasal dari siklus air yang sudah diatur sangat baik oleh Yang Maha Kuasa melalui proses penguapan. Kemudian terbentuk awan,hujan, selanjutnya menjadi air lonon, air infiltrasi, baru kemudian muncul kembalike permukaan bumi sebagai sumber atau mata air yang bersih dan jernih karenatelah mendapat proses penyaringan alami dan lapisan lapisan tanah. Dengan demikian manusia dan organisme yang ada di bumi ini dapat dengan mudah menjangkau dan memanfaatkannya.Siklus hidrologi adalah pergerakan permanent dari kelembapan di bumiyang membentuk urutan berputar dari lautan, melewati proses penguapan (CE=Evaporasi), kemudian menjadi hujan (P= presipitasi) dan akhirnya melewatis u n g a i m e n g a l i r d i s e b u t s e b a g a i d e b i t ( R = R u n o f f ) menuju kembali ke laut. Meskipun keseimbangan air di bumi tetap konstan dari waktu ke waktu, molekul air bisa datang dan pergi, dan keluar dari atmosfer. Air bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain,

seperti dari sungai ke laut, atau dari laut ke atmosfer, oleh proses fisik penguapan, kondensasi, presipitasi, infiltrasi, limpasan, dan aliran bawah permukaan. Dengan demikian, air berjalan melalui fase yang berbeda: cair, padat, dan gas. Siklus hidrologi melibatkan pertukaran energi panas, yang menyebabkan perubahan suhu. Misalnya, dalam proses penguapan, air mengambil energi dari sekitarnya dan mendinginkan lingkungan. Sebaliknya, dalam proses kondensasi, air melepaskan energi dengan lingkungannya, pemanasan lingkungan. Siklus air secara signifikan berperan dalam pemeliharaan kehidupan dan ekosistem di Bumi. Bahkan saat air dalam reservoir masingmasing memainkan peran penting, siklus air membawa signifikansi ditambahkan ke dalam keberadaan air di planet kita. Dengan mentransfer air dari satu reservoir ke yang lain, siklus air memurnikan air, mengisi ulang tanah dengan air tawar, dan mengangkut mineral ke berbagai bagian dunia. Hal ini juga terlibat dalam membentuk kembali fitur geologi bumi, melalui proses seperti erosi dan sedimentasi. Selain itu, sebagai siklus air juga melibatkan pertukaran panas, hal itu berpengaruh pada kondisi iklim di bumi. Presipitasi Uap air yang jatuh ke permukaan bumi. Sebagian besar presipitasi terjadi sebagai hujan, tetapi di samping itu, presipitasi juga menjadi salju, hujan es (hail), kabut menetes (fog drip), graupel, dan hujan es (sleet). Sekitar 505.000 km3 (121.000 cu mil) air jatuh sebagai presipitasi setiap tahunnya, 398.000 km3 (95.000 cu mi) dari terjadi di atas lautan. Canopy intersepsi Pengendapan yang dicegat oleh dedaunan tanaman dan akhirnya menguap kembali ke atmosfer daripada jatuh ke tanah. Pencairan salju Limpasan yang dihasilkan oleh salju mencair. Limpasan (runoff) Berbagai cara dengan mana air bergerak di seluruh negeri. Ini mencakup baik limpasan permukaan (surface runoff) dan limpasan saluran (channel runoff). Karena mengalir, air dapat merembes ke dalam tanah, menguap ke udara, menjadi disimpan di danau atau waduk, atau diekstraksi untuk keperluan manusia pertanian atau lainnya. Infiltrasi Aliran air dari permukaan tanah ke dalam tanah. Setelah disusupi, air menjadi kelembaban tanah (soil moisture) atau air tanah (groundwater). Arus Bawah Permukaan

Aliran air bawah tanah, di zona Vadose dan akuifer. Air bawah permukaan dapat kembali ke permukaan (misalnya sebagai pegas atau dipompa) atau akhirnya meresap ke dalam lautan. Air kembali ke permukaan tanah pada elevasi lebih rendah dari tempat itu disusupi, di bawah tekanan gaya gravitasi atau gravitasi diinduksi. Tanah cenderung bergerak lambat, dan diisi kembali perlahan-lahan, sehingga dapat tetap dalam akuifer selama ribuan tahun. Penguapan Transformasi air dari cair ke fase gas ketika bergerak dari tanah atau badan air ke atmosfer atasnya. Sumber energi untuk penguapan terutama radiasi matahari. Penguapan banyak yang implisit meliputi transpirasi dari tanaman, meskipun bersama-sama mereka secara khusus disebut sebagai evapotranspirasi. Jumlah evapotranspirasi tahunan total sekitar 505.000 km3 (121.000 cu mi) volume air, 434.000 km3 (104.000 cu mi) yang menguap dari lautan. Sublimasi Perubahan wujud secara langsung dari air padat (salju atau es) untuk uap air. Adveksi Gerakan air - dalam wujud padat, cair, atau uap - melalui atmosfer. Tanpa adveksi, air yang menguap dari lautan tidak bisa jatuh sebagai presipitasi di atas tanah. Kondensasi Transformasi uap air untuk tetesan air cair di udara, awan dan kabut adalah wujudnya. Transpirasi Pelepasan uap air dari tanaman dan tanah ke udara. Uap air adalah gas yang tidak dapat dilihat. Sama seperti proses fotosintesis pada siklus karbon, matahari juga berperan penting dalam siklus hidrologi. Matahari merupakan sumber energi yang mendorong siklus air, memanaskan air dalam samudra dan laut. Akibat pemanasan ini, air menguap sebagai uap air ke udara. 90 % air yang menguap berasal dari lautan. Es dan salju juga dapat menyublim dan langsung menjadi uap air. Selain itu semua, juga terjadi evapotranspirasi air terjadi dari tanaman dan menguap dari tanah yang menambah jumlah air yang memasuki atmosfer.

Setelah air tadi menjadi uap air, Arus udara naik mengambil uap air agar bergerak naik sampai ke atmosfir. Semakin tinggi suatu tempat, suhu udaranya akan semakin rendah. Nantinya suhu dingin di atmosfer menyebabkan uap air mengembun menjadi awan. Untuk kasus tertentu, uap air berkondensasi di permukaan bumi dan membentuk kabut.

Arus udara (angin) membawa uap air bergerak di seluruh dunia. Banyak proses meteorologi terjadi pada bagian ini. Partikel awan bertabrakan, tumbuh, dan air jatuh dari langit sebagai presipitasi. Beberapa presipitasi jatuh sebagai salju atau hail, sleet, dan dapat terakumulasi sebagai es dan gletser, yang dapat menyimpan air beku untuk ribuan tahun. Snowpack (salju padat) dapat mencair dan meleleh, dan air mencair mengalir di atas tanah sebagai snowmelt (salju yang mencair). Sebagian besar air jatuh ke permukaan dan kembali ke laut atau ke tanah sebagai hujan, dimana air mengalir di atas tanah sebagai limpasan permukaan. Sebagian dari limpasan masuk sungai, got, kali, lembah, dan lain-lain. Semua aliran itu bergerak menuju lautan. sebagian limpasan menjadi air tanah disimpan sebagai air tawar di danau. Tidak semua limpasan mengalir ke sungai, banyak yang meresap ke dalam tanah sebagai infiltrasi. Infiltrat air jauh ke dalam tanah dan mengisi ulang akuifer, yang merupakan toko air tawar untuk jangka waktu yang lama. Sebagian infiltrasi tetap dekat dengan permukaan tanah dan bisa merembes kembali ke permukaan badan air (dan laut) sebagai debit air tanah. Beberapa tanah menemukan bukaan di permukaan tanah dan keluar sebagai mata air air tawar. Seiring waktu, air kembali ke laut, di mana siklus hidrologi di mulai. Erosi adalah hilangnya atau terkikisnya tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat yangdiangkut oleh media alami ketempat lain (Arsyad, 1989). Erosi menyebabkan hilangnya lapisan atas tanah yang subur dan baik untuk pertumbuhan tanaman serta berkurangnya kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air. Tanah yang terangkut tersebut akan diendapkan ditempat lain: didalam sungai, waduk, danau, saluran irigasi dan sebagainya. Setiap permasalahan sudah tentu memiliki penyebab, begitu pula dengan erosi. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya erosi diantaranya adalah:

(Kartasapoetra,2000) 1.Iklim Iklim dapat mempengaruhi erosi oleh karena menentukan indeks erosifitas hujan. Selain itu,komponen iklim yaitu curah hujan dapat mempengaruhi laju erosifitas secara terus menerussesuai intensitas hujan yang terjadi. 2.Tanah Sedang tanah dengan sifat-sifatnya itu dapat menentukan besar kecilnya laju pengikisan (erosi)dan dinyatakan sebagai faktor erodibilitas tanah (kepekaan tanah terhadap erosi atau ketahanantanah terhadap adanya erosi).

3.Topografi Kemampuan tanah terbawa air erosi dipengaruhi oleh topografi suatu wilayah. Kondisi wilayahyang dapat menghanyutkan tanah sebagai sedimen erosi secara cepat adalah wilayah yangmemiliki kemiringan lereng yang cukup besar. Sedangkan pada wilayah yang landai akan kurangintensif laju erosifitasnya, karena lebih cenderung untuk terjadi penggenangan. 4.Tanaman Penutup Tanah Tanaman penutup tanah (vegetasi) berperan untuk menjaga agar tanah lebih aman dari percikan-percikan yang terjadi akibat jatuhnya air hujan ke permukaan tanah. Selain melindungi daritimpaan titik-titik hujan, vegetasi juga berfungsi untuk memperbaiki susunan tanah denganbantuan akar-akar yang menyebar. 5 .Manusia Manusia dapat berperan sebagai penyebab cepatnya laju erosi maupun menekan laju erosi.Dalam proses mempercepat erosi, manusia banyak melakukan kesalahan dalam pengelolaanlingkungan, seperti penambangan, eksploitasi hutan, pengerukan tanah, dan lain sebagainya.Sedangkan dalam penanggulangan laju erosi, manusia dapat melakukan evaluasi konservasi lahan dengan cara reboisasi, pembuatan terasering pada areal pertanian,dan lainlain. Di antara kelima faktor penyebab erosi yang paling dominan adalah faktor iklim. Di daerah beriklim basah faktor iklim yang mempengaruhi erosi adalah hujan. Besarnya curah hujan, intensitas hujan, dan distribusi hujan menentukan kekuatan dispresi hujan terhadap tanah jumlah dan kecepatan aliran permukaan dan kerusakan erosi. Besarnya curah hujan didefinisikan sebagai volume air yang jatuh pada luasan tertentu sehingga curah hujan dinyatakan dalam satuan volume per satuan luas atau secara umum dinyatakan dalam satuan tinggi air (misalnya milimeter). Besarnya curah hujan dinyatakan untuk satu waktu atau rentang waktu tertentu, misalnya per hari, per bulan, per tahun, dan disebutkan sesuai dengan waktu yang ditinjau, misalnya hujan harian, hujan bulanan, atau hujan tahunan Intensitas hujan menyatakan besarnya curah hujan yang jatuh dalam suatu waktu yang singkat yaitu 5,10,15, atau 30 menit, yang dinyatakan dalam milimeter per jam. Atau sentimeter per jam. Intensitas hujan dapat diklasifikasikan. Klasifikasi intensitas hujan berdasarkan Kohnke dan betrand (1959).

Intensitas hujan (mm/jam) Kurang dari 6,25 6,25 12,50 12,50 50,00 Lebih dari 50,00

Klasifikasi Rendah (Gerimis) Sedang Lebat Sangat lebat (Arsyad,1989)

Pada hasil praktikum terdapat empat periode atau empat bagan hujan yaitu a-b, b-c, c-d, dan d-e. Untuk bagan hujan a-b besar hujan nya 1,6 cm selama 80 menit dan intensitas hujan nya 1,2 cm/jam menurut klasifikasi kohnke dan bertrand intensitas hujan kurang dari 6,25 adalah rendah (gerimis). Pada bagan hujan yang ke dua b-c besarnya hujan 0,9 cm selama 60 menit dan intensitas hujannya 0,9 cm/jam menurut klasifikasi kohnke dan bertrand intensitas hujan kurang dari 6,25 adalah rendah (Gerimis). Pada bagan hujan ketiga c-d besar hujan 0,3 cm selama 40 menit dan intensitas hujannya adalah 0,45 cm/jam menurut klasifikasi kohnke dan bertrand intensitas hujan kurang dari 6,25 adalah rendah (Gerimis). Dan pada bagan terakhir d-e besarnya hujan 0,7 cm selama 70 menit dan intensitas hujannya adalah 0,66 cm/jam menurut klasifikasi kohnke dan bertrand intensitas hujan kurang dari 6,25 adalah rendah (Gerimis). Hasil praktikum menunjukan bahwa intensitas hujan dari beberapa bagan hujan tidak mencapai atau kurang dari 6,25 yang berarti intensitasnya rendah / gerimis. Tidak semua air hujan mengakibatkanya erosi, tapi tergantung pada intensitasnya. (Printz, 1999 dalam Hardiyatmo, 2006). Untuk intensitas hujan sekitar 30-60 mm/jam, hanya sekitar 10 % dari air hujan yang menimbulkan erosi. Untuk intensitas hujan lebih besar dari 100 mm/jam, semua hujan dapat menimbulkan erosi. Walaupun intensitas hujan besar, namun jika berlangsungnya tidak terlalu lama, sehingga tidak mengakibatkan aliran permukaan maka hujan tidak mengakibatkan erosi. Hasil EI30 yang didapatkan adalah 8,763 hasil dari jumlah energi kinetik total dikali intensitas maksimum 30 menit dibagi dengan 100. Dari hasil yang didapat bahwa pada nilai E130 tidak menyebabkan erosi karena kurang dari 25. Yang menyebabkan erosi adalah kurang dari 25 Faktor erosivitas hujan , R didevinisikan sebagai jumlah satuan indeks erosi hujan dalam setahun. Nilai R yang merupakan daya rusak hujan, dapat ditentukan dengan persamaan yang dilaporkan oleh Wischmeier, 1959 (dalam Yudistira 2008) sebagai berikut : EI 30 = E ( I30 x 10-2)

Dimana EI 30 adalah interaksi energi dengan intensitas maksimum, merupakan hasil perkalian energi hujan ( E = Kj/ ha-mm) dan intensitas maksimum 30 menit. Validitas dari persamaan tersebut diatas untuk daerah tropis diragukan karena curah hujan biasanya sangat tinggi. Disamping itu, bahwa tidak semua tempat di negara negara berkembang seperti Indonesia dioperasikan alat penakar hujan otomatis, maka telah dicoba mendapatkan metode lain untuk menentukan nilai EI30 dengan menggunakan data hujan yang tersedia. Lenvain, 1975 (dalam Suripin 2002) mendapatkan hubungan antara EI30 dengan curah hujan tahunan (R) sebagai berikut EI30 = 2,34 R1,98. Pada hasil pengamatan didapatkan data EI30 sebesar 8,763 yang berarti nilai EI30 tidak menyebabkan erosi. Jika nilai EI30 lebih besar dari 25 maka menyebabkan erosi karena menurut Hudson 1976 (dalam arsyad,1989) dari penelitian di rhodesia mendapatkan bahwa besar tenaga kinetik untuk setiap curah hujan yang mempunyai intensitas lebih besar dari 25 mm/jam (KE>25) mempunyai korelasi dengan erosi yang lebih baik dari indeks erosi EI30. Sejak tahun 1974/1975 di indonesia telah memulai dilakukan percobaan-percobaan dalam rangka mempelajari paremeter-parameter hujan yang mempunyai hubungan erat dengan erosi. Hasil percobaan selama 3 tahun 1974/1975 sampai1976/1977 menunjukan bahwa EI30 dan KE>25 merupakan indeks erosi hujan yang mempunyai koefisien korelasi dengan erosi yang paling besar. Penelitian di Internasional Institute of Tropical Agriculture (IITA) menunjukan bahwa perkalian antara jumlah hujan atau bagian hujan dengan intensitas maksimum yang dinyatakan dalam Aim, merupakan suatu parameter yang baik untuk menduga besarnya erosi atau aliran permukaan. Indeks erosi hujan adalah pengukur kemampuan suatu hujan untuk menimbulkan erosi. Kemampuan hujan untuk menimbulkan erosi atau menyebabkan erosi itu dinamai daya erosi hujan atau erosivitas hujan. Indeks erosi hujan untuk suatu tempat adalah indeks erosi rata-rata hujan tahunan selama beberapa tahun. (Arsyad ,1989). Suatu sifat hujan yang sangat penting dalam mempengaruhi erosi adalah energi kinetik hujan tersebut, oleh karena merupakan penyebab pokok dalam penghancuran agregatagregat tanah. Dapat dianggap bahwa energi kinetik hujan dapat dengan mudah dihitung dengan rumus dasar :

Ek = mv2
Di mana Ek adalah energi kinetik, m adalah massa butir, dan v adalah kecepatan jatuhnya. Oleh karena terdapat berbagai ukuran butiran pada suatu hujan, maka terdapat banyak

kecepatan jatuh yang harus diperhitungkan sehingga merupakan pekerjaan yang sulit untuk dilakukan. Agar dapat menterjemahkan energi kinetik butir-butir hujan yang jatuh kedalam energi penghancur agregrat tanah, ukuran dan bentuk butir harus dipertimbangkan. Energi kinetik curah hujan sendiri mempengaruhi erosi walaupun demikian, korelasi yang lebih erat dengan erosi didapat dengan menggunakan term interaksi energi intensitas hujan. Energi kinetik hujan didapatkan dari persamaan (Wischmeir dan smith, 1959) : E = 210 + 89 log i. Yang bermakna E adalah energi kinetik dalam metrik ton meter per hektar per sentimeter hujan dan i adalah intensitas hujan dalam sentimeter per jam. Term interaksi energi dengan intensitas maksimum 30 menit didapat dari hubungan : EI30 = E( I 30. 10 -2) Sedangkan Bols (1978) mengembangkan persamaan pendugaan EI30 sebagai berikut : EI30 = 6,199[RAIN]1,21 [DAYS]-0,47 [MAXP]0,53 (Arsyad,1989)

V.

KESIMPULAN

1. Pada hasil pengamatan di dapatkan data intensitas hujan (cm/jam) pada empat bagan hujan kurang dari 6,25 yang menurut Kohnke dan betrand (1959) termasuk klasifikasi hujan rendah (Gerimis). 2. Di dapatkan data pengamatan EI30 adalah 8,76 yang berarti tidak menyebabkan erosi karena kurang dari 25. Jika nilai EI30 lebih besar dari 25 akan menyebabkan erosi. 3. Energi kinetik merupakan penyebab pokok dalam penghancuran agregat-agregat tanah. Enrgi kinetik hujan di dapatkan dari persamaan (Wischmeir dan smith, 1959) E = 210 + 89 log i. 4. Perkalian antara jumlah hujan atau bagian hujan dengan intensitas maksimum yang dinyatakan dalam Aim, merupakan suatu parameter yang baik untuk menduga besarnya erosi atau aliran permukaan.
5.

Persamaan penduga EI30 menurut bols : EI30 = 6,199[RAIN]1,21 [DAYS]-0,47 [MAXP]0,53

DAFTAR PUSTAKA Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air .IPB, Bogor Hardiyatmo,H.C.2006. Penanganan Tanah Longsor dan Erosi, Edisi Pertama . Gajah Mada University Press, Yogyakarta Yudhistira. 2008. Kajian dampak kerusakan lingkungan akibat kegiatan penambangan pasir didaerah kawasan gunung merapi. Laporan khusus program pasca sarjana-Undip. Kartasapoetra,A.G. 2000. Teknologi Konservasi Tanah dan Air. Rineka cipta, Jakarta.

LAPORAN PRAKTIKUM KONSERVASI TANAH DAN AIR ACARA IV CARA MENGANALISIS SIFAT-SIFAT HUJAN

OLEH :

ALINA MERDEKA PUTRI A1L010180

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDRAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO 2012