Anda di halaman 1dari 4

Raport Merah Ideologi Demokrasi

USTADZ ABU MINHAL

Isu demokrasi telah mendunia. Ideologi produk Barat ini (baca: orang-orang kafir)
lantas dipaksakan atas negara-negara lain, termasuk pada komunitas kaum muslimin.
Opini yang dihembuskan, bahwa kesengsaraan dan penderitaan rakyat suatu negara
berpangkal pada hilangnya ruh demokratis di tengah mereka. Ketika suasana demokratis
telah menaungi sebuah negara, maka rakyat akan hidup dalam kemakmuran yang merata
(?!).

Faktanya, justru, wajah demokrasi melahirkan masalahmasalah baru yang tidak bisa
dianggap sepele oleh umat Islam. Berikut ini sedikit tentang pelanggaran-pelanggaran
ideologi demokrasi secara ringkas, baik ditinjau dari hukum asalnya, atau m e k a n i s m
e - m e k a n i s m e penyelenggaraan negara dalam negara berdemokrasi (dimanapun)
ditinjau dari sudut pandang Islam.

PELANGGARAN TERHADAP AKIDAH ISLAM

Pelanggaran dalam aspek akidah ini, lantaran ideologi demokrasi memutuskan hukum
berdasarkan suara mayoritas. Apapun hasilnya, pilihan suara mayoritas itu akan
diputuskan sebagai peraturan yang mengikat. Suara terbanyak dikultuskan, dan penetapan
hukum-hukum hanya berada di tangan sekelompok orang saja.

Demokrasi yang bertumpu pada ketaatan pada suara mayoritas telah mengakibatkan
terjadinya syirkuth-thâ’ah (menyekutukan sesuatu dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala
pada aspek ketaatan secara mutlak). Simaklah ayat berikut :

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan


untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?

Hukum Allah itulah yang mestinya (wajib) diterapkan dalam seluruh bidang
kehidupan sosial kemasyarakatan. Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala al-Khâliq (Dzat
Yang Maha Menciptakan) dan Maha Tahu apa yang paling bermanfaat dan mengandung
maslahat sebesarbesarnya bagi makhluk-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, yang
artinya:
Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak
menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui. (Qs. Yûsuf/12:40).
MEMICU SIFAT KEMUNAFIKAN

Calon-calon legislatif atau eksekutif berusaha menampilkan citra dirinya sebagai


figur yang baik. Tak kurang, misalnya dalam soal nama, disematkanlah label Haji (H) dan
Hajjah (Hj). Penyematan gelar-gelar seperti ini atau yang sejenisnya, seolah menjadi
“wajib”. Ucapan-ucapan manis dan janji-janji menarik menghiasi bibir-bibirnya.
Semuanya menjanjikan perbaikan keadaan dan meningkatkan kemakmuran rakyat.

Namun, begitu usai dan berhasil menggenggam jabatan, ternyata kepentingan pribadi,
partai atau golongan berbalik menjadi tujuan utamanya. Janji-janji yang pernah
diucapkan hanyalah isapan jempol. Itulah sebuah kedustaan. Padahal Allah Shubhanahu
wa Ta'ala berfirman, yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu
bersama orangorang yang benar. (Qs. at-Taubah/ 9:119).

Juga disebutkan riwayat dari Abu Hurairah Radhiallahu'anhu , Rasulullah Shallallahu


'alaihi wa Sallam bersabda:

Tanda-tanda kemunafikan ada tiga. Jika berbicara, ia dusta. (2) Jika berjanji, ia
mengingkari. (3) dan jika dipercaya, ia berkhianat. (HR al-Bukhâri, no. 32, dan Muslim,
no. 89).

MENYUBURKAN BUDAYA SUAP

Politik uang tidak bisa lepas dari alam demokrasi. Misalnya dengan pembagian
sembako, hadiah, atau bantuan lain. Ini dilakukan oleh calon-calon pencari kekuasaan
untuk menarik simpati kalangan bawah. Apapun bentuknya, ketika materi berbicara,
itulah esensi dari politik uang. Dalam terminologi fiqih sebagai risywah (suap) yang
diharamkan Islam. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

Allah melaknat penyuap dan orang yang disuap. (HR at-Tirmidzi dan Ibnu Mâjah dan
dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni, Shahîh at- Targhîb wat-Tarhîb, 2/261).

PUJIAN BAGI DIRI SENDIRI

Dalam alam demokrasi, sebagian calon eksekutif maupun legislatif senang memuji
diri sendiri. Saat kampanye sering menyatakan sebagai pihak yang paling pantas
mengemban amanah rakyat. Pujian-pujian dan sanjungan-sanjungan juga dipaksakan oleh
tim suksesnya demi kemenangan calon-calonnya. Bisa disaksikan, baliho-baliho,
spanduk-spanduk maupun iklaniklan dijejali dengan ungkapanungkapan pujian, gambar-
gambar bagaimana orang-orang yang mencalonkan diri (atau dicalonkan) berempati
kepada rakyat kecil, rela berkotor-kotor keluar masuk pasar tradisional (yang sebelumnya
tidak pernah dilakukan) guna mendulang simpati lebih besar. Bila mereka tidak berhak
dipuji, berarti telah terjadi penipuan dan kedustaan. Jika sepertinya pantas memperoleh
pujian, ini pun tidak perlu dilakukan.

Hal ini karena pada asalnya, memuji diri sendiri tidak boleh (haram). Seseorang
dituntut agar rendah hati, tidak menonjolkan diri, atau membanggakan diri. Allah
Shubhanahu wa Ta'ala berfirman:

Maka, janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang
orang yang bertakwa. (Qs. an- Najm/53:32).

SIAPAPUN BISA TERPILIH, MESKI ORANG PALING ZHALIM DAN


TERBEJAT SEKALIPUN

Proses pencapaian kursi kekuasaan dalam ideologi demokrasi melalui mekanisme


kepartaian. Masing-masing partai mendelegasikan orang pilihannya. Lantas, masyarakat
menentukan pilihan pada siapa saja yang mereka kehendaki, tanpa memandang baik
buruknya individu tersebut. Dalam penghitungan suara, para wakil yang memperoleh
suara terbanyak akan memperoleh tempat. Demikian pula, pemegang kekuasaan
(eksekutif) berdasarkan suara terbanyak, bagaimanapun buruk sifat dan karakter mereka.

DEMOKRASI MEMECAH PERSATUAN UMAT

Ideologi demokrasi melahirkan pembentukan partai-partai yang sangat berpotensi


menimbulkan perpecahan dan fanatisme buta terhadap golongan. Secara tidak langsung
juga menumbuhkan bahaya laten konflik antar simpatisan. Bahkan untuk membela
golongannya rela mempertaruhkan nyawanya. Sedangkan Islam mengutamakan
persatuan dan mencela perpecahan.

ADANYA UNSUR PERJUDIAN DALAM PESTA DEMOKRASI

Terjadinya persaingan dalam meraih kekuasaan, telah menginspirasikan berbagai cara


ditempuh untuk memenangkan suara. Bagi yang kalah, ia akan mengalami banyak
kerugian. Inilah hasil yang akan didapat pihak pecundang. Sebaliknya, pihak yang
memenangkan, ia akan memperoleh keuntungan. Meskipun pada hakikatnya, semua
pihak mengalami kerugian dalam pesta yang menelan anggaran sangat besar, baik negara
maupun individu. Dikatakan oleh Syaikh ‘Abdul-Muhsin –hafizhahullah- realita ini mirip
dengan qimâr (perjudian).

DEMOKRASI MENGAJARKAN KEBEBASAN MUTLAK

Demokrasi terbangun di atas asas kebebasan mutlak, meskipun berupa kekufuran atau
kebejatan dan degradasi moral. Setiap orang bebas melontarkan atau bertindak serta
meyakini apa saja, tanpa memperhatikan norma agama maupun norma sosial, etika.
Dalihnya, karena semua orang bebas menentukan pilihan pribadinya tanpa intervensi
orang lain.

Demikian, sebagian pelanggaran demokrasi terhadap syariat Islam. Ketika sebuah


sistem berlandaskan pada pemikiran yang rusak (kekufuran), maka tak dapat terelakkan,
out putnya pun tidak jauh berbeda. Yakni membuahkan hasil yang sama-sama rusak dan
berakibat buruk bagi orang banyak. Wallahul-Hadi ilâ Shirâthil- Mustaqîm.

Marâji‘:
1
. Al-Adlu fi Syarî’atil Islâm wa Laisa fid-Dimaqratiyyah al- Maz’umah, ‘Abdul-Muhsin
al- Abbâd Darut-Tauhîd, Riyadh, Cetakan I, 1428 H.
2
. Hukmu ad-Dimaqrathiyyah fil- Islâm, Munkarât wa Mukhâlafât Syar’iyyah Tahshulu
fil- Intikhâbât, Dr. Hamd bin Muhammad al-Hâjiri, Cetakan I, Tahun 1427 H – 2006 M,
tanpa penerbit