Anda di halaman 1dari 3

Komposisi dan Sebaran Lumut Epifit pada Tumbuhan Inang di Sarongge, Taman Nasional Gunung GedePangrango (TNGGP)

Nurlaili Zikri, Regina Novelga, Riski Ayu Amelia dan Yulita Anggraeni PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hutan Sarongge merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dengan luas mencapai 38 hektar, terletak di daerah jawa barat. Sampai saat ini ketersediaan data dan informasi tentang keanekaragaman jenis lumut dari komposisi sampai sebarannya di kawasan konservasi ini masih kurang. Hal ini dapat dilihat antara lain dari sedikitnya koleksi spesimen serta terbatasnya pustaka yang berkaitan dengan keanekaragaman flora di kawasan konservasi ini. Lumut merupakan salah satu kelompok tumbuhan rendah dan bagian dari keanekaragaman hayati yang belum banyak mendapat perhatian meskipun banyak manfaat dari tumbuhan lumut tersebut antara lain merupakan tumbuhan perintis pada batu dan berkontribusi pada terbentuknya tanah. Pada hutan bertebing, mereka membentuk karpet yang tebal, mengurangi erosi, menyediakan habitat untuk tumbuhan lain dan hewan, Sering dapat bertindak sebagai bioindikator polusi dan kerusakan lingkungan (Sedayu). Selain itu, lumut mempunyai peranan yang penting dalam keseimbangan ekosistem di hutan. Lumut dapat mempengaruhi iklim mikro (kelembaban udara, temperatur, kelembaban tanah) karena tidak memiliki kutikula dan jaringan transportasi, sehingga menyerap air dengan mudah (Bohlman et al. 1995; Freiberg 1997, 2000), sedangkan pengaruh iklim mikro akan mempengaruhi phenomorphology epifit (Freiberg 1996). Lumut epifit juga mempuyai fungsi sebagai pengumpul dan penyimpan air hujan (Pocs 1980, Veneklaas et al. 1990) dan karenanya memainkan peran penting dalam siklus air ekosistem. Lumut mempunyai cara hidup sebagai epifit yaitu tumbuhan yang hidup menumpang pada suatu substrat, substratnya bisa berupa bebatuan, tanah berserasah dan batang maupun cabang pada suatu tumbuhan inang. Oleh karena itu, timbul pertanyaan bagaimana komposisi dan sebaran lumut epifit pada tumbuhan inang di Sarongge, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango? Maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi dan sebaran lumut epifit pada tumbuhan inang di Sarongge, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Komposisi B. Sebaran C. Lumut D. Epifit Epifit adalah tumbuhan yang hidup normal, mampu menyediakan makannanya sendiri namun tumbuh pada permukaan tumbuhan lain untuk mendapatkan dukungan. Umumnya hidup pada cabang atau batang pohon tropis. (Sumarti & Prabowo, 2009). Spesies tumbuhan epifit sangat beragam mulai dari lumut, lichens, pteridophyta sampai spermatophytes. Keanekaragaman spesies itu sendiri adalah jumlah dan kelimpahan relatif suatu spesies dalam suatu komunitas biologis. ( Campbell, 2002) E. Tumbuhan Inang F. Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (suhu, kelembaban, curah hujan, ketinggian) Sarongge adalah salah satu daerah yang termasuk dalam kawasan TNGP. Areal TNGP yang merupakan tambahan dari bekas area perhutani yang semula luasnya 15.196 ha yang pa METODOLOGI PENELITIAN A. Tujuan Operasional Penelitian Penelitian ini memiliki tujuan operasional, yaitu: 1. Mencatat jenis lumut dan liken epifit pada tumbuhan inang 2. Mencatat posisi dan menghitung sebaran lumut dan liken epifit pada tumbuhan inang yang ditemukan beserta DBH (Diameter Breast High) pohon inangnya. 3. Mencatat data fisik lingkungan di sekitar kawasan pengamatan antara lain morfologi kulit pohon inang, tutupan kanopi pohon inang, kemiringan tanah, dll. B. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Jawa Barat pada tanggal 1 4 Juli 2010.
C. Alat dan Bahan Penelitian

Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah lembar pengamatan, alat tulis, meteran jahit, meteran gulung, binokuler, Loop, kamera, plastik specimen, cutter. Bahan yang digunakan adalah alkohol 70% untuk herbarium. D. Cara Kerja 1. Penentuan Lokasi Lokasi penelitian ditentukan di Sarongge, kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). 2. Pengukuran Parameter Lingkungan

Data lingkungan yang diambil antara lain intensitas cahaya, suhu lingkungan dan kelembapan. 3. Pengambilan Data Pengambilan data dilakukan dengan membuat plot yang berukuran 10 x 10 meter dan jarak antar plot 50x50 meter. Kemudian mencatat lumut yang tumbuh pada tumbuhan inang. 4. Pengambilan Spesimen Spesies yang ditemukan didokumentasikan dengan menggunakan digital camera dan diambil sampelnya untuk dijadikan spesimen. 5. Pengidentifikasian Sampel Sampel yang telah diambil kemudian di identifikasi dengan buku . Jika tidak teridentifikasi, maka akan ditanyakan nama daerah kepada guide lokal, dicocokkan di Herbarium Stasiun Penelitian TNGGP , atau dikonsultasikan langsung dengan dosen pembimbing. E. Analisis Data Lumut yang ditemukan pada tumbuhan inang kemudian dihitung besar indeks keanekaragaman dan kemerataan jenis liana tersebut pada beberapa lokasi yang berbeda dengan menggunakan indeks ShannonWeaner. a. Kerapatan (K) = Jumlah Individu Luas petak ukur
b. Kerapatan Relatif (KR)

Kerapatan satu jenis Kerapatan seluruh jenis

100%
c. Dominansi

(D)

= =

Luas penutupan suatu jenis Luas petak Dominansi suatu jenis X

d. Dominansi Relatif (DR)

100% Dominansi seluruh jenis


e. Frekuensi

(F)

Jumlah petak penemuan suatu

jenis Jumlah seluruh petak


f. Frekuensi relatif (FR)

Frekuensi suatu jenis X 100% Frekuensi seluruh jenis

g. Indeks Nilai Penting (INP) = Kerapatan Relatif + Frekuensi Relatif

+ Dominansi Relatif

DAFTAR PUSTAKA