Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan komponen lingkungan yang penting bagi kehidupan.

Air merupakan kebutuhan utama bagi proses kebutuhan utama bagi proses kehidupan di bumi, sehingga tidak ada kehidupan seandainya di bumi tidak ada air. Selain itu air meliputi kira-kira dari permukaan bumi. Sumber air dipermukaan bumi atau dikenal sebagai hidrosfera mencakup air laut, es dan salju pada kawasan kutub dan gunung gleitser. Air pada permukaan bawah bumi meliputi air tanah, air hujan, air dalam flora dan fauna.

Berdasarkan salinitasnya, ekosistem perairan yang ada di dunia ini terbagi dua, yaitu perairan asin dan perairan tawar. Dalam lymnology, ekosistem air tawar dibagi menjadi dua yaitu ekosistem lentik dan ekosistem lotik . Air tergenang atau habitat lentik (berasal dari kata lenis yang berarti tenang) , arusnya cenderung relative tenang, contohnya adalah danau, kolam, rawa, atau pasir terapung. Sedangkan yang termasuk air mengalir atau habitat lotik (berasal dari kata lotus yang berarti tercuci) antara lain mata air, aliran air (brook-creek) atau sungai (Odum, 1993).

Ekosistem perairan, termasuk ekosistem air tawar, dipengaruhi oleh berbagai faktor. Dalam ekosistem ini, faktor-faktor tersebut akan saling mempengaruhi melalui hubungan timbal balik dan membentuk suatu karakteristik perairan. Faktor-faktor tersebut adalah kimia, fisika, dan biologi.

Baik buruknya kualitas suatu perairan sangat dipengaruhi oleh berbagai kegiatan disekitarnya. Sering kalisuatu kegiatan yang ada dapat

menurunkan kualitas lingkungan perairan yang pada akhirnya akan


Pengukuran factor lingkungan abiotik ekosistem akuatik
1 | Laporan Ekologi Perairan

mengganggu kehidupan biota akuatik. Selain itu, upaya pemanfaatan sumber daya alam perairan sering kali juga turut mempengaruhi eksistensi komponen ekosistem perairan baik secara structural maupun fungsional.

1.2 Tujuan Mengamati prinsip kerja dari masing-masing alat pengukuran dasar ekosistem perairan. Mengetahui fungsi kerja dari masing-masing alat pengukuran ekosistem perairan. Mampu menggunakan alat-alat pengukuran dasar ekosistem perairan. Menganalisis suatu perairan berdasarkan parameter dan alat ukur yang digunakan dalam praktikum ini.

Pengukuran factor lingkungan abiotik ekosistem akuatik

2 | Laporan Ekologi Perairan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Menurut Nybakken (1992), suatu komunitas atau serangkaian komunitas beserta lingkungan fisik dan kimia di sekelilingnya secara bersamasama membentuk suatu ekosistem. Terdapat dua macam ekosistem yang kita kenal, yaitu ekosistem darat dan ekosistem perairan. Lingkungan perairan mempunyai kekhasan tertentu yang berbeda dari lingkungan terrestrial dengan biota di dalamnya dari mulai yang hidup melayang di permukaan sampai yang menempati dasar perairan telah teradaptasi dengan medium air. Dalam lymnology, ekosistem air tawar dibagi menjadi dua yaitu ekosistem lentik dan ekosistem lotik. Air tergenang atau habitat lentik (berasal dari kata lenis yang berarti tenang) , arusnya cenderung relative tenang, contohnya adalah danau, kolam, rawa, atau pasir terapung. Sedangkan yang termasuk air mengalir atau habitat lotik (berasal dari kata lotus yang berarti tercuci) antara lain mata air, aliran air (brook-creek) atau sungai (Odum, 1996). Parameter Fisika 1. Suhu Pengukuran suhu menggunakan thermometer dengan satuan unit C. Dalam setiap penelitian ekosistem air, pengukuran temperatur air merupakan hal yang mutlak dilakukan. Hal ini disebabkan karena kelarutan berbagai jenis gas didalam air serta semua aktivitas biologis-fisiologis di dalam ekosistem air sangat dipengaruhi temperatur. Menurut Vant Hoffs dalam Barus (2002), kenaikan temperatur sebesar 10C (hanya pada kisaran temperatur yang masih ditolerir) akan meningkatkan laju metabolisma dari organisme sebesar 2-3 kali lipat. Faktor-faktor yang mempengaruhi suhu antara lain musim, cuaca, waktu pengukuran, kedalaman air dan kegiatan manusia di sekitar perairan
Pengukuran factor lingkungan abiotik ekosistem akuatik
3 | Laporan Ekologi Perairan

(Nybakken, 1988). Suhu berguna dalam memperlihatkan kecenderungan aktivitas-aktivitas kimiawi dan biologis, pengentalan, tekanan uap, tegangan permukaan dan nilai-nilai penjenuhan dari benda-benda padat dan gas.

Gambar 2.1 Termometer Peningkatan suhu mengakibatkan peningkatan viskositas, reaksi kimia, evaporasi dan volatilisasi. Selain itu, peningkatan suhu air juga mengakibatkan penurunan kelarutan gas dalam air seperti O2, CO2, N2, dan CH4 (Haslam, 1995). 2. Kecerahan Mahida (1993) mendefinisikan kekeruhan sebagai intensitas kegelapan di dalam air yang disebabkan oleh bahan-bahan yang melayang. Kekeruhan perairan umumnya disebabkan oleh adanya partikel-partikel suspensi seperti tanah liat, lumpur, bahan-bahan organik terlarut, bakteri, plankton dan organisme lainnya. Kekeruhan perairan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat dalam air (Davis dan Cornwell, 1991). Kekeruhan yang terjadi pada perairan tergenang seperti danau lebih banyak disebabkan oleh bahan tersuspensi berupa koloid dan parikel-partikel halus. Kekeruhan yang tinggi dapat mengakibatkan terganggunnya sistem

osmoregulasi seperti pernafasan dan daya lihat organisme akuatik serta dapat menghambat penetrasi cahaya ke dalam air. Menurut Koesoebiono (1979), pengaruh kekeruhan yang utama adalah penurunan penetrasi cahaya secara

Pengukuran factor lingkungan abiotik ekosistem akuatik

4 | Laporan Ekologi Perairan

mencolok, sehingga aktivitas fotosintesis fitoplankton dan alga menurun, akibatnya produktivitas perairan menjadi turun. Effendi (2003) dalam penelitiannya menyatakan bahwa tingginya nilai kekeruhan juga dapat menyulitkan usaha penyaringan dan mengurangi efektivitas desinfeksi pada proses penjernihan air. Kecerahan merupakan ukuran transparansi secchi perairan disk yang ditentukan secara visual perairan dengan sangat

menggunakan

(Effendi,2003).

Kecerahan

dipengaruhi oleh keberadaan padatan tersuspensi, zat-zat terlarut, partikel partikel dan warna air. Pengaruh kandungan lumpur yang dibawa oleh aliran sungai dapat mengakibatkan tingkat kecerahan air danau menjadi rendah, sehingga dapat menurunkan nilai produktivitas perairan (Nybakken, 1992).

Gambar 2.2 Cara penggunaan keping secchi (secchi disk) 3. Turbiditas Turbiditas sebenarnya ditentukan oleh kadar suspensi padatan dalam air. Turbiditas memiliki satuan NTU (Nephelo Turbidity Unit). Turbiditas memengaruhi adanya media untuk menempel bakteri dan logam. Nilai turbiditas yang semakin tinggi memungkinkan adanya kandungan bakteri atau logam yang semakin besar. Pengataman perlu dilakukan untuk mengetahui
Pengukuran factor lingkungan abiotik ekosistem akuatik
5 | Laporan Ekologi Perairan

kaitan antara nilai turbiditas dengan aktivitas biota-biota di perairan tawar. Turbiditas diukur dengan menggunakan turbidimeter.

Parameter Kimia 1. Derajat Keasaman (pH) Derajat Keasaman adalah logaritma negatif konsentrasi ion hydrogen (Goldman & Horne, 1983). Besarnya pH suatu perairan adalah besarnya konsentrasi ion hidrogen yang terdapat dalam perairan tersebut. Nilai pH suatu perairan akan menunjukkan air akan bereaksi asam atau basa. Perairan disebut asam jika nilai pH < 7, netral pH = 7, dan basa pH > 7. pH sangat penting sebagai parameter kualitas air karena ia mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi beberapa bahan di dalam air.

a.

b.

c.

d.

Gambar 2.3 (a). pH-meter, (b). pH-meter, (c). Kertas lakmus, (d). Indikator kertas lakmus Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan mempunyai pH berkisar antara 6,5-7,5. pH asam mematikan ikan kurang dari 4 dan pH basa yang mematikan sebesar 11 (Boyd, 1990). Pescod (1973) mengemukakan bahwa batas toleransi organisme perairan terhadap pH bervariasi dan
6 | Laporan Ekologi Perairan

Pengukuran factor lingkungan abiotik ekosistem akuatik

dipengaruhi antara lain suhu, oksigen terlarut, alkalinitas, kandungan kation dan anion, maupun jenis dan tempat hidup organisme. 2. Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen /DO) Oksigen terlarut adalah parameter kimia perairan yang menunjukkan banyaknya oksigen yang terlarut dalam suatu ekosistem perairan. Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen = DO) dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan proses metabolisme atau pertukaran zat yang menghasilkan energi. Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal dari suatu proses difusi dari udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut (Salmin, 2000). Teknik yang digunakan dalam pengujian dissolved oxygen dalam larutan air, diperkenalkan beberapa dekade yang lalu oleh Winkler yaitu titrasi Winkler. Metode yang dilakukan pun relatif mudah (Cole, 1994). Dapat juga menggunakan alat yang cukup modern, untuk pengukuran Oksigen yang terlarut dalam air adalah DO-meter. Kelarutan suatu gas pada cairan merupakan karakteristik dari gas tersebut sendiri dan dipengaruhi oleh tekanan, ketinggian suatu tempat, suhu dan salinitas. Setiap kenaikan 100 m dpl, tekanan atmosfer menurun 8-9 mmHg, dan kelarutan gas menurun1,4%. Kelarutan Oksigen di dalam air dipengaruhi oleh : a. Suhu air b. Tekanan atmosfer c. Kandungan garam-garam terlarut d. Kualitas pakan e. Aktivitas biologi perairan (Reid & Wood, 1976 dalam Koestawa, 1989)

Pengukuran factor lingkungan abiotik ekosistem akuatik

7 | Laporan Ekologi Perairan

a.

b.

Gambar 2.3 a. DO-meter manual, dan b. DO-meter digital

Pengukuran factor lingkungan abiotik ekosistem akuatik

8 | Laporan Ekologi Perairan

BAB III METODE PENGAMATAN

3.1 Lokasi Pengamatan Lokasi Pengamatan Di Situ Gintung, Ciputat Tangerang selatan, dan Gedung Pusat Laboratorium Terpadu (PLT) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Waktu Pengamatan Selasa, 20 Maret 2012, pukul : 13.20 Selesai

3.2 Alat dan Bahan Pada praktikum ini, alat yang digunakan berupa; thermometer, keping secchi, turbidimeter, botol Winkler, water sample bottler Lamotte, DO-meter, pHmeter, Kertas indicator universal (lakmus), dan meteran. 3.3 Cara Kerja a. Pencuplikan Air Pencuplikan air dilakukan dengan menggunakan water sampler bottle, pertama kali yang dilakukan adalah memastikan alat tersebut dengan keadaan baik, kemudian botol diturunkan secara horizontal pada kedalaman yang diinginkan. Dipastikan tutup botol dalam keadaan terbuka. Gelembung udara yang muncul di atas permukaan air menandakan bahwa tutup botol telah terbuka, dan lilangnya gelembung air tersebut menandakan bahwa botol telah terisi penuh sehingga disegerakan untuk diangkat ke atas lalu ditampung dalam botol winkler dengan hati-hati.

Pengukuran factor lingkungan abiotik ekosistem akuatik

9 | Laporan Ekologi Perairan

b. Pengukuran Suhu Pengukuran suhu dilakukan dengan cara manual yaitu menggunakan termometer biasa. Termometer diletakkan di atas permukaan air dengan ujung termometer tersebut menyentuh air kemudian dicatat suhunya setelah 1 menit. c. Pengukuran Derajat Kecerahan Air Pengukuran derajat kecerahan air dilakukan dengan menggunakan Secchi disk. Keping Secchi tersebut diturunkan ke dalam air secara perlahan sambil terus memperlihatkan keping warna. Pada saat warna putih tidak dapat dibedakan lagi dari warna hitam, diukur panjang tali yang masuk kedalam. Keping Secchi diturunkan kembali sedikit lebih dalam lalu ditarik secara perlahan ke atas. Tepat pada saat warna putih dapat terlihat, panjang tali dibaca kembali. d. Pengukuran pH Air Pengukuran derajat keasaman atau pH air dilakukan menggunakan pH indikator. Masukkan pH indikator pada air pencuplikan yang sudah dimasukkan ke dalam botol, ditunggu beberapa saat kemudian dibaca hasilnya pada kertas indikator yang telah tersedia. e. Penentuan Kadar Oksigen Terlarut Penentuan kadar oksigen yang terlarut dilakukan dengan menggunakan DOmeter. Dihidupkan DO-meter, lalu alat dikalibrasi kemudian sampel air diuji menggunkan alat tersebut kemudian baca hasilnya. DO-meter juga dapat mengukur suhu air. f. Pengukuran Turbiditas Air Pengukuran turbiditas air dilakukan dengan menggunakan turbidity meter. Sama seperti DO-meter, alat ini juga perlu dikalibrasi terlebih dahulu kemudian air sampel yang didapat dimasukkan ke botol sampel, setelah itu botol dimasukkan ke dalam tempat sampel yang ada pada turbidity meter tersebut lalu segera dibaca hasilnya dan bersihkan kembali botol sampel.

Pengukuran factor lingkungan abiotik ekosistem akuatik

10 | Laporan Ekologi Perairan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Parameter yang diukur Kecerahan air Alat yang digunakan Secchi disk Hasil Awal ; 113 cm Akhir ; 100 cm Suhu Kandungan O2 terlarut Suhu air saat Termometer DO-meter Termometer 26 C 10,3 mg/L 27,1 C

pengambilan kandungan O2 terlarut pH air pH-meter/kertas indicator universal (lakmus) Kadar suspense padatan dalam air Turbidimeter 42,58 FTU 7

Dari table diatas dapat diketahui beberapa parameter yang telah diukur untuk dapat mengetahui seberapa kualitas perairan yang digunakan sebagai sample yaitu kawasan perairan danau Situ Gintung. Dari derajat kecerahan/kejernihan air yang diukur menggunakan secchi disk yang dimasukkan hingga warna putih tidak dapat dibedakan lagi dengan warna hitam hasil awal menunjukkan kecerahan jatuh sampai kedalaman 113 cm, sedangkan hasil akhir setelah secchi disk diangkat kembali didapat hasil akhir pada kedalamn 100 cm. Hal ini menunjukkan kejernihan atau kecerahan air dapat dilihat, seberapa jauh cahaya matahari yang masuk ke dalam perairan untuk digunakan oleh organisme yang berada di perairran untuk melakukan kegiatan produktivitas kehidupan seperti fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan air, alga dan plankton-plankton. Berdasarkan teori Pengaruh kandungan lumpur yang dibawa oleh aliran sungai
11 | Laporan Ekologi Perairan

Pengukuran factor lingkungan abiotik ekosistem akuatik

dapat mengakibatkan tingkat kecerahan air danau menjadi rendah, sehingga dapat menurunkan nilai produktivitas perairan (Nybakken, 1992). Sehingga semakin keruh suatu perairan penetrasi cahaya yang masuk semakin sedikit dan dapat menghambat aktivitas fotosintesis fitoplankton dan alga menurun, akibatnya produktivitas perairan menjadi turun. Karena sebagian besar organisme laut menggunakan cahaya sebagai sumber energy. Transparansi kecerahan perairan perlu diamati karena merupakan indikasi seberapa dalam cahaya mampu melakukan penetrasi ke dalam badan air. Banyak cahaya memengaruhi kehidupan biota fotosintetik, seperti fitoplankton. Produktivitas primer dari perairan juga dipengaruhi oleh transparansi badan air. Aktivitas biota fotosintetik dan produktivitas primer akan naik bila nilai transparansi semakin besar. Suhu danau yang diukur berdasarkan table diatas didapat 26 C, sedangkan suhu yang diukur saat pengambilan kandungan oksigen terlarut 27,1 C. Hal ini menujukkan perbedaan suhu dalam suatu danau yang sama, karena pengambilan suhu diambil di titik lokasi yang berjauhan dan suhu bergantung pada kondisi cuaca/iklim, lintang, ketinggian dari permukaan laut, sirkulasi udara, penutupan awan, dan aliran serta kedalaman dari badan air. Perubahan suhu berpengaruh terhadap proses fisika, kimia, dan biologi di badan air. Peningkatan suhu mengakibatkan peningkatan viskositas, reaksi kimia, evaporasi dan volatilisasi. Selain itu, peningkatan suhu air juga mengakibatkan penurunan kelarutan gas dalam air seperti O2, CO2, N2, dan CH4 (Haslam, 1995). Selanjutnya pada pengukuran Kandungan Oksigen Terlarut di badan perairan Situ Gintung diperoleh 10,3 mg/L, di dalam rata-rata batas normal kandungan oksigen terlarut pada perairan 8 mg/L. Namun, semakin tinggi kandungan oksigen yang terlarut di dalam air akan semakin baik. Oksigen yang berada di dalam perairan merupakan faktor penting sebagai pengatur metabolisme tubuh organisme untuk tumbuh dan berkembang biak. Sumber oksigen terlarut dalam
Pengukuran factor lingkungan abiotik ekosistem akuatik
12 | Laporan Ekologi Perairan

air berasal dari difusi oksigen yang terdapat di atmosfer, arus atau aliran air melalui air hujan serta aktivitas fotosintesis oleh tumbuhan air dan fitoplankton (Novonty and Olem, 1994). Derajat keasaman danau Situ Gintung yang diukur oleh kelompok kami adalah 7. 7 merupakan nilai normal atau biasa dikatakan netral. Derajat keasaman merupakan gambaran jumlah atau aktivitas ion hidrogen dalam perairan. Secara umum nilai pH menggambarkan seberapa besar tingkat keasaman atau kebasaan suatu perairan. Perairan dengan nilai pH = 7 adalah netral, pH < 7 dikatakan kondisi perairan bersifat asam, sedangkan pH > 7 dikatakan kondisi perairan bersifat basa (Effendi, 2003). Adanya karbonat, bikarbonat dan hidroksida akan menaikkan kebasaan air, sementara adanya asamasam mineral bebas dan asam karbonat menaikkan keasaman suatu perairan. Sedangkan padatan yang tersuspensi didalam air dalam pengukuran yang menggunakan turbidimeter didapat hasil 42,58 FTU, Nilai turbiditas yang semakin tinggi memungkinkan adanya kandungan bakteri atau logam yang semakin besar.

Pengukuran factor lingkungan abiotik ekosistem akuatik

13 | Laporan Ekologi Perairan

BAB V KESIMPULAN

Mengukur suatu kecerahan/kejernihan air menggunakan keping secchi/secchi disk dengan ditandai terlebih dahulu pada tali keping secchi batas-batas ukurannya untuk memudahkan pengukuran.

Mengukur suhu dengan thermometer pada suatu titik yang berbeda akan menghasilkan yang berbea pula meskipun pada satu peraian yang sama.

Kandungan Oksigen yang terlarut diukur menggunakan DO-meter Kandungan oksigen terlarut di danau Situ Gintung 10,3 mg/L, (cukup tinggi untuk produktivitas organisme perairan tersebut).

Derajat keasaman (pH) pada perairan Situ Gintung netral. Kualitas perairan di Situ Gintung dapat dikatakan normal dan baik berdasarkan kandungan oksigen terlarut, pH, dan suhu.

Pengukuran factor lingkungan abiotik ekosistem akuatik

14 | Laporan Ekologi Perairan

DAFTAR PUSTAKA

Odum, E.P. 1971. Fundamental of Ecology. W. B. Saunder COM. Philadelphia 125pp. Barus, T.A 2004.pengantar limunologi studi tentang ekosistem sungai dan danau, program studi biologi fakultas mipa usu medan. Cole, Gerald A. 1994. Textbook of Limnology. Fourth edition. Waveland Press, Inc. United States of America. Haslam, S. M. 1995. Enviromental Biological Indicators of Freshwater Pollution and

Management. London: Elsevier Applied Science Publisher. Odum, E. P. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Terjemahan oleh Tjahjono Samingan dari buku Fundamentals of Ecology: Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Nybakken, J.W.1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. PT Gramedia. Jakarta. Salmin.2005. Oksigen terlarut (DO) dan kebutuhan oksigen biologi (BOD) sebagai salah satu indikator untuk menentukan kualitas perairan. Oseana, Volume XXX, Nomor 3, 2005 : 21 26.www.oseanografi.lipi.go.id/volxxxno33.pdf. (23.04.2012)
http://www.scribd.com/doc/50419751/7/Parameter-Fisika diakses : 23-03-2012, http://www.scribd.com/doc/86170388/Lap-ekologi-Air-Tawar diakses ; 23-03-2012 http://biodiversitas.mipa.uns.ac.id/D/D0301/D0301pdf/D030104.pdf http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=parameter%20pengukuran%20ekosistem %20perairan&source=web&cd=4&ved=0CDMQFjAD&url=http%3A%2F%2Frepository.i pb.ac.id%2Fbitstream%2Fhandle%2F123456789%2F43991%2FPKM-AI-11-IPB-Adityakarakteristik%2520ekosistem%2520perairan.doc%3Fsequence%3D3&ei=GxsT6WhK8TIrQenkqCmAg&usg=AFQjCNGwxV60HRcoIkYK0OMCpUx48aGxIg 15 | Laporan Ekologi Perairan

Pengukuran factor lingkungan abiotik ekosistem akuatik

LAMPIRAN

Botol Titrasi Winkler 300 ml

Keping Secchi/Secchi disk

DO Meter

Pengukuran factor lingkungan abiotik ekosistem akuatik

16 | Laporan Ekologi Perairan