Anda di halaman 1dari 6

Karies Karies adalah suatu proses kronis regresif: 1) yang dimulai dengan larutnya mineral email, sebagai akibat

terganggunya keseimbangan antara email dan sekelilingnya yang disebabkan oleh pembentukan asam mikrobial dari subtract. 2) timbul destruksi komponenkomponen organik. 3) akhirnya terjadi kavitas. Jaringan keras gigi mengalami perubahan disebabkan oleh pengaruh lingkungan. Pada prinsipnya bahan tersebut dapat larut di dalam air. Oleh karena itu, keberadaanya di dalam mulut, seluruhnya tergantung dari kesimbangan dinamis email-lingkungan. Biasanya terdapat keseimbangan antara gigi-geligi dan lingkungan, ludah dan plak sedemikian rupa sehingga netto tidak ada mineral yang hilang dari jaringan gigi. Stabilitas email sebagian besar ditentukan oleh pH (derajat asam) dan susunan ludah. PERJALANAN LESI AWAL Setiap harinya mengalir 1 liter air ludah melalui mulut. Email secara berangsur-angsur akan larut di dalam air ludah bila air ludah terhadap email tidak jenuh dengan kalsium dan fosfat; yang selebihnya untuk sebagian terikat pada putih telur ludah dan plak. Email terdiri dari mineral yang sangat mirip dengan hidrosilapatit, tetapi didalamnya terdapat juga ion-ion lainnya. Dan di dalam plak, suatu lapisan yang menutupi gigi dan yang 70% dari volumenya terdiri dari bakteri, dibentuk asam dari karbohidrat yang mengakibatkan turunnya pH lokal yang normal. Penurunan ini mengganggu keseimbangan antara jaringan gigi, biasanya email dibawah plak, dan lingkungannya lingkungan ini pada pH fisiologis jenuh dengan kalsium dan fosfat. Namun pada pH 5,5 (pH kritis) terjadi keadaan yang sebaliknya pada jaringan gigi. Bagian mineral, kalsium dan fosfat, yang merupakan bahan pembentuk, oleh email diberikan kepada sekelilingnya, sehingga prosses mineralisasi berhenti dan keadaan tidak jenuh dengan kalsium dan fosfat; Pada fase dini ini terbentuk lesi awal yang berbentuk bintik putih pudar, yang disebut bercak putih. Secara klinis serangan awal pada email baru dapat dilihat dengan jelas sesudah bagian tersebut dikeringkan dengan semprot angin, karena cairan di dalam pori-pori kecil mempertahankan sifat tembus cahaya email sehingga sifat translusen normal email hilang. Pada fase yang lebih lanjut, bercak putih dapat dilihat tanpa bantuan. Bercak putih terbentuk karena hilangnya mineral interpristama dan larutnya mineral pada perifer pristama. Sebelumnya garisgaris pertumbuhan yang bermuara pada permukaan email hilang sehingga akam mudah terjadi keausan. Bentuk bercak putih sesuai dengan bentuk plak. Jadi bagian yang kurang dibersihkan, misalnya interdental dibawah titik kontak di antara gigi-gigi, akan terjadi bercak putih oval dan pada derah cervical biasanya bentuknya sebagai bulan sabit

Selama sehari akan terjadi berulang kali pelepasan asam. Tiap kali bila pada plak diberikan gula yang dapat difermentasi, nilai pH akan turun di bawah nilai kritis 5,5 untuk selanjutknya naik pelan-pelan sempai kira-kira pH netral. Dengan naiknya pH berangsur-angsur akan terjadi endapan dari lingkungan setempat yang semakin menjadi jenuh. Remineralisasi normal ini terjadi jauh di dalam pori-pori; tetapi karena ion-ion yang berasal dari email meresap k edalam mulut dan air ludah relative miskin ion, terjadi kekurangan material dan bersisa netto suatu volume pori-pori yang lebih besar. Tambahan lagi bahwa demineralsasi berjalan jauh lebih cepat daripada remineralisasi. Bila asam yang dilepaskan setelah makan gula menyebabkan demineralisasi selama setengah jam, maka untuk remineralisasi penuh dituntut waktu beberapa jam. Bila pada waktu itu makan gula lagi, bercak putih akan menunjukan pengembangan yang meningkat. Makin banyak makan manis-manis makin banyak perubahan pH. Pada waktu remineralisasi yang cukup lama akan terjadi perbaikan, pada waktu yang terlalu pendek terjadi demineralisasi yang berlangsung terus. Karena pemberian kalsium dari ludah sangat kecil dibandingkan dari email, waktu remineralsisasi harus lebih lama daripada waktu demineralisasi, untuk mengkompensasi hilangnya mineral. Proses berulang demineralisasi disusul dengan remineralisasi yang tidak cukup, menyebabkan bahwa lesi setiap kali menunjukan kemajuan. Karena pada remineralisasi bagianbagian organis, antara lain zat warna, dari makanan dibangun di dalam bercak putih, terjadi perubahan warna coklat yaitu bercak coklat Pada pH 5 tidak saja terjadi keadaan kurang jenuh cairan mulut sehubungan dengan hidrosilapatit, tetapi bersamaan waktu masih terjadi adanya kejenuhan sehubungan dengan fluorapatit. Apabila dibentuk, seperti telah diketahui, lebih sukar larut dibandingkan apatit asli. Kehadiran flurida di dalam plak dan cairan mulut membantu presipitasi CaF2 dan fourapatit yang lebih tahan terhadap asam. Histology dan kimia lesi awal Pada permukaan, karena pengaruh asam terjadi saluran-saluran mikro, pori-pori, dengan kedalaman 20-50 mikrometer. Volume pori-pori di dalam email menjadi lebih besar karena tepi prismata-email larut. Kecuali itu tidak hanya terjadi pori-pori tetapi juga lubang focus, sumursumur mikro dan daerah-daerah dengan pengrusakan yang tidak teratur. Bahan-bahan bangunan yang larut pada permukaan email mendapat tambahan email dari lapisan yang letaknya dekat di bawah permukaan. Jadi pada lapisan di bawah kulit ini apatit larut. Oleh sebab itu permukaan berfungsi sebagai jendela penerus dan permukaan itu sendiri tetap tidak dapat terserang. Hal ini disebabkan karena pada bagian permukaan email terdapat relative banyak fluoride sehingga represipitasi bagian-bagian mineral menjadi meningkat.

Mempelajari resapan email yang ada bercak putihnya dengan sinar langsung dan sinar yang dipolarisasi, yang terakhir ini kering atau tidak, dan dengan mikroradiografi ditunjukan bahwa dapat dibedakan berbagai daerah Lesi awal pada permukaan licin berbentuk kerucut, dengan alas kearah permukaan email uyang masih utuh. Didalam fisura dan cekungan yang terlalu sempit untuk diberksihkan dengan sikat gigi, timbul berncak putih di kedua sisi alur. Setelah beberapa waktu kedua daerah dapat bersatu dibawah fisura Secara mikroskopis dibedakan dari luar ke dalam 4 daerah didalam bercak putih 1. Permukaan bercak putih tidak begitu menyimpang dibandingkan email normal; perikimata hilang dan volume pori-pori normal membesar 0,1% sampai 1,5%. 2. Dibawah permukaan terletak inti lesi, daerah yang terbesar. Lesi ini memiliki banyak pori-pori, pada perifer 5% dan sentral 25% dan lebih. Yang pertama-tama diserang adalah Kristal-kristal. 3. Lapisan berikutnya adalah daerah gelap artinya gelap dibwaah sinar polarisasi. Didaerah tersebut dijumpai por-pori kecil dengan volume 2-4%. Ada beberapa mineral hilang. Daerahnya gelap, karena tidak dapat ditembus beberapa bahan imbibisi 4. Agak dalam kadang-kadang masih terletak daerah tembus cahaya:, dimana permulaan kehilangan demineralisasi menhasilkan kehilangan sedikit magnesium dan karbonat, volume pori-pori 1% dengan relative banyak flourida. Protein di tempat tersebut tidak diserang. PENJALARAN PROSES KARIES Secara perlahan-lahan demineralisasi interna berjalan kea rah dentin melalaui prismata dan lewat perluasan lubang fokus namun belum sampai kavitas. Kavitas baru timbul bila dentin terlibat dalam proses tersebut. Namun kadang-kadang begitubanyak mineral hilang dari dari ini lesi sehingga permukaan mudah rusak secara mekanis, yang menghasilkan kavitas yang makroskopis. Bila lesi mencapai dentin, pulpa langsung akan terlibat dalam proses melalui cabangcabang odontoblas di dalam kanal-kanal dentin. Melalui email yang menjadi porus produkproduk bacterial mencapai dentin yang lebih miskin mineral dan kaya putih telur dari pada email. Berbagai keadaan menambah perluasan proses di dalam dentin: 1. Kanal-kanal dentin karena anastomosisnya dengan mudah memberi jalan bagi perluasan kearah lebarnya, melalui batas dentin-email 2. Terdapat pula perluasan ke arah dalamnya, suatu proses yang pada batas tertentu dikompensasi oleh pembentukan dentin sklerotik,terlihat sebagai daerah transparan. Juga perluasan kearah lebar, sehingga bagian-bagian besar email utuh menjadi rusak, menurut

perkiraan, dibatasi oleh sklerotisasi kanal-kanal dentin. Oleh karena rintangan tubuli, maka dentin setempat agak sukar dimasuki bakteri-bakteri dan asam-asamnya dan karena fisis akan menahan perluasan proses. Walaupun demikian bila kekuatan yang menyertai serangan memadai, proses akan meluas. Hasil perluasan adalah lesi pada dentin yang berbentuk kerucut terpotong dan pada email masih terdapat serangan yang berbentuk kerucut pula. Pada fase ini di dalam pulpa dibentuk dentin reparative oleh odontoblas. Dosebabkan karena jalannya kanal-kanal dentin, dari inisial ke apical, maka letak dentin-reaksi lebih ke apical dari pada lesi email. Secara histopatologis, pada karies tulang gigi yang tidak begitu dalam, terdapat dibedakan dari luar ke dalam 5 daerah: 1. Lapisan dentin lunak yang strukturnya tidak dapat dikenal lagi. Di dalam lapisa ini terdapat flora campuran yang mengeluarkan enzim hidrolitik yang akan merusak komponen organic dentin 2. Lapisan infeksi. Disni akan dijumpai bakteri-bakteri di dalam tubuli. Tubuli melebar dan saling menyatu. Selain itu terlihat juga celah-celah yang mengikuti jalannya garis-garis pertumbuhan owen 3. Lapisan demineralisasi, suatu daerah sempit, dimana dentin peritabular diserang. 4. Lapisan transparan, terdiri atas tulan dentin sklerotik, kemungkinan membentuk rintangan terhadap mikroorganisme dan enzimnya. Mineral daerah translusen mungkin berasal dari demineralisasi aris depan dalam bentuk produk-produk reprisipitasi, juga dari suatu proses aktif, berasal dari odontoblas atau cabang-cabangnya. Yang terakhir ini disokong oleh penemuan dalam percobaan pada anjing bahwa gigi tanpa jaringan pulpa tidak dapat remineralisasi dibagian dalam 5. Lapisan opak. Didalam tubuli terdapat lemak, mungkin merupakan gejala degenerasi cabang-cabang odontoblas. Pada karies dentin yang baru mulai yang terlihat hanya lapisan keempat dan kelima. Baru setelah terjadi kavitas, bakteri akan menembus tulang gigi. Pada proses karies yang amat dalam tidak terdapat lapisan 3,4, dan 5

Karies akar Bila sementum oleh retraksi gingival terbuka bagi lingkungan mulut, dapat terjadi karies akar, suatu proses yang meluas kea rah lebar dari pada kea rah dalam. Hal ini meyebabkan keadaan tidak janggal bahwa dentin yang makin tua akan lebih mengalami sklerosis. Mikroorganisme menembus saluran-saluran dimana sebelumnya terdapat jaringan ikat dan dengan demikian pada lapisan lebih dalam dapat mengurus proses perluasan kea rah lebar.

Karena karies akar hamper secara eksklusif dapat ditemukan pada permukan-permukan bebas karies mahkota, dank arena karies akar terjadi sama banyak pada seseorang sengan atau tanpa fluorosis, maka ditarik kesimpulan bahwa karies akar dan karies mahkotadalah penyakit yang sungguh-sungguh berbeda. Flora pada karies akar lain dibandingkan flora karies pada karies tempat lain; antara lain A. viscosus, S.mutans dan S.sanguis pada karies akar adalah dominan. Perubahan lingkungan di dalam mulut mungkin berperan pada terjadinya karies akar. Pengaruh buffer ludah menurun bila jumlah ludah berkurang. Proses proteolitik dapat menaikkan lingkungan mulut yang lebih basa dan karenanya memperngaruhi susunan plak dan aktivitas karies. Karies akar pada dentin tidak menyimpang betul dibandingkan karies pada dentin mahkota meskipun mikroorganisme lain dan mungkin juga aktivitas proteolitik bakteri anaerob dianggap turut bertanggung jawab terhadapterjadinya karies akar. Karena pertumbhan elemen gigi-geligi yang melanjut dan resesi gingival daerah plak akan makin ke apical dan oleh karenaya akan terlihat berselang-selang daerah yang utuh dan daerah yang terserang.

BEBERAPA FAKTOR YANG MENAIKKAN KARIES Diabetes mellitus mungkin menaikkan terjadinya dan jumlah karies. Tetapi kelihatannya bila pasien telah menyadari keadaannya dan menjalankan diet, karies bahkan akan terjadi lebih sedikit dbandingkan rata-rata. Xerostomia, kurangnya produksi ludah, jelas merupakan faktor predisposisi. Mulut kering karena obat-obatan, diantaranya antidiuretika dan parasimptolitika, sinar ionisasi pada kepala/ daerah leher dan lain-lain sebab dapat menaikkan proses karies. Karies susu botol adalah istilah yang dipakai untuk menunjukan kerusakan karies yang sangat meluas pada anak-anak sangat muda. Hal ini disebabkan antara lain: 1. Minum susu botol dalam waktu yang lama ( sampai umur lebih 1 tahun) 2. Minum botol yang kurang benar yaitu cara menentukan penyediaan botol (diisi dengan susu atau minuman manis) pada waktu menjelang tidur dan pada setiap waktu anak menginginkan 3. ASI dalam waktu yang lama dan selama tertidur putting mash didalam mulut anak.

IDENTIFIKASI KARIES

Bercak putih dan coklat serta kavitas pada permukaan bukal dan lingual dapat dilihat secara jelas dengan mata telanjang atau lewat kaca mulut. Dengan sinar langsung lesi aproksimal pada gigi-gigi dapat dilihat. Di bawah fisura yang warnanya menjadi coklat, tetapi tersembunyi karies dentin yang meluas. Dengan sumber cahaya karies fisura dapat dinilai dengan baik; cara ini lebih diutamakan dibandingkan pemakaian sonde yang ditangani dengan kekuatan karena bahaya rusaknya lesi awal yang masih dapat remineralisasi Karies aproksimal pada gigi (pre)molar memerlukan foto rontgen, karena derah yang mengalami demineralisasi lebih banyak ditembus cahaya dari pada yang tidak mengalami demineralisasi