Anda di halaman 1dari 14

BAB 1 PENDAHULUAN

Luka bakar merupakan luka yang diakibatkan oleh nyala api, benda-benda panas, radiasi, listrik dan sinar tembus (X-ray). Luka bakar bisa juga disebabkan oleh zat kimia korosif seperti asam sulfat, asam nitrat, asam karbol dan lain-lain. Luka bakar yang disebabkan oleh cairan atau uap panas disebut scalds 1. Jenis luka dapat beraneka ragam dan memiliki penanganan yang berbeda tergantung jenis jaringan yang terkena luka bakar dan tingkat keparahan. Luka bakar dapat merusak jaringan otot, tulang, pembuluh darah dan jaringan epidermal yang mengakibatkan kerusakan yang berada di tempat yang lebih dalam dari akhir sistem persarafan 1-3. Kasus luka bakar memerlukan pemeriksaan untuk kepentingan

medikolegal. Luka bakar bisa disebabkan kecelakaan, kelalaian atau perbuatan sengaja. Luka bakar sering pada anak-anak dan pekerja yang berhubungan dengan api. Namun tidak jarang terjadi pembunuhan dengan latar belakang kecelakaan atau kesengajaan menghilangkan identitas korban dengan membakar korban 1. Seorang korban luka bakar dapat mengalami berbagai macam komplikasi yang fatal termasuk diantaranya kondisi shock, infeksi, ketidak seimbangan elektrolit dan masalah distress pernapasan. Selain komplikasi yang berbentuk fisik, luka bakar dapat juga menyebabkan distress emosional (trauma) dan psikologis yang berat dikarenakan cacat akibat luka bakar dan bekas luka. Luka bakar dangkal dan ringan (superficial) dapat sembuh dengan cepat dan tidak menimbulkan jaringan parut. Namun apabila luka bakarnya dalam dan luas, maka penanganan memerlukan perawatan di fasilitas yang lengkap dan kecacatan dapat terjadi 2,3. Laki-laki cenderung lebih sering mengalami luka bakar dari pada wanita, terutama pada orang tua atau lanjut usia (diatas 70 tahun). Selain itu, indikasi

untuk melakukan pembunuhan dengan mempersulit identifikasi korban melalui luka bakar juga memiliki prevalensi yang cukup tinggi yakni 90% 4,5. Pengetahuan tentang luka bakar secar klinis dalam menetapkan luka bakar ante-mortem, post-mortem, luas luka dan sebagainya. Demikian juga pemeriksaan pada korban yang meninggal karena luka bakar agar visum yang sampai ke tangan penegak hokum dapat memberi arahan dan pegangan dalam mengambil keputusan. Aspek yang sering diperhatikan bagi penegak hokum adalah aspek medikolegal apakah karena kecelakaan, pembunuhan atau bunuh diri 1.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1.1 DEFINISI Luka bakar merupakan luka yang diakibatkan oleh nyala api, benda-benda panas, radiasi, listrik dan sinar tembus (X-ray). Luka bakar bisa juga disebabkan oleh zat kimia korosif seperti asam sulfat, asam nitrat, asam karbol dan lain-lain. Luka bakar yang disebabkan oleh cairan atau uap panas disebut scalds 1. 2.1.2 KLASIFIKASI Luka bakar dapat diklasifikasikan menurut 1-5. Berdasarkan dalamnya luka Berdasarkan luas luka Berdasarkan dalam, luas dan lokasi luka bakar Berdasarkan penyebab luka bakar

a) Berdasarkan dalamnya luka Menurut Dupuytren : Tingkat I : Eritema Terjadi apabila mendapat kontak yang singkat dengan benda panas. Eritema terjadi akibat dilatasi dari pembuluh darah dan terjadi sedikit eksudasi, dengan menghasilkan vesikula berwarna putih karena berasal dari epidermis. Luka ini tidak menimbulkan sikatriks setelah sembuh. Eritema dapat menghilang bila kasus bersangkutan meninggal. Tingkat ini dapat menimbulkan rasa sakit yang hebat.

Tingkat II : Vesikula Terjadi apabila mendapat kontak yang singkat dengan benda panas, tetapi lebih lama dari tingkat I. Terjadi oedema vesikula yang berisi yang berisi albumin dan khlorida. Pinggir vesikula berwarna merah. Sel-sel jaringan lebih banyak rusak. Luka dapat menimbulkan bahaya toksemia. vesikula terjadi antara cutis dan cutis vera. Jaringan epitel dengan cepat terbentuk lagi dari jaringan cutis vera. Belum ada jaringan parut pada penyembuhan.

Tingkat III : Kerusakan jaringan kulit yang superfisial Cutis dan cutis vera mengalami destruksi, tetapi folikel rambut dan kalenjar keringat tidak mengalami destruksi. Epitel baru terbentuk dari permukaan yang rusak dan dapat terbentuk sikatriks yang tipis dan elastis. Tidak terjadi kontraktur atau kelainan bentuk. Ujung saraf sensoris tidak ikut terbakar tetapi rangsangan panasnya dapat menimbulkan rasa sakit yang hebat.

Tingkat IV : Kerusakan seluruh lapisan kulit Seluruh lapisan kulit terbakar, juga folikel rambut dan kalenjar keringat. Pada penyembuhan terjadi jaringan parut yang tidak mengandung elemen kulit. Bisa terjadi kelainan bentuk dan kelainan fungsi akibat terjadi kontraktur. Luka tingkat ini tidak menimbulkan sakit saperti luka bakar tingkat I, II dan III, karena ujung saraf sensoris ikut mengalami kerusakan.

Tingkat V : Kerusakan sampai ke jaringan otot Tingkat VI : Terbakar hangus Dijumpai kerusakan kulit, sub-cutis, otot-otot, tulang dan saraf. Bila saraf turut terbakar maka perasaan sakit turut hilang. Infeksi di daerah tersebut cepat terjadi dan penyembuhan luka memerlukan waktu yang lama. Keadaaan ini sering diikuti dengan syok yang biasanya timbul dalam waktu 24-72 jam. Prognosa agak sukar ditentukan disebabkan syok dapat mengakibatkan kematian.

Menurut Wilson Penyederhanaan dari klasifikasi Dupuytren Tingkat I (Superficial thickness) :Tingkat I, II dari klasifikasi Dupuytren Tingkat II (Partial thickness) Tingkat III (Full thickness) :Tingkat III, IV dari klasifikasi Dupuytren :Tingkat V, VI dari klasifikasi Dupuytren

Pada masa kini, klasifikasi luka bakar lebih disederhanakan menjadi : Luka bakar dangkal (superficial) Luka bakar dalam (deep)

b) Berdasarkan luas luka Luas luka dibagi berdasarkan persentase luas tubuh. Untuk menentukan dengan cepat dipakai rumus Rule of Nine. Metode ini diperkenalkan sejak tahun 1940-an sebagai suatu alat pengkajian yang cepat untuk menentukan perkiraan ukuran / luas luka bakar. Dasar dari metode ini adalah bahwa tubuh di bagi kedalam bagian-bagian anatomik, dimana setiap bagian mewakili 9 % kecuali daerah genitalia 1 %

Pada anak, sering dipakai rumus lain karena luas relatif permukaan kepala anak jauh lebih besar dan luas relatif permukaan kaki lebih kecil. Rumus 10 untuk bayi Rumus 10-15-20 untuk anak.

Pada metode Lund and Browder merupakan modifikasi dari persentasi bagian-bagian tubuh menurut usia, yang dapat memberikan perhitungan yang lebih akurat tentang luas luka bakar. Selain dari kedua metode tersebut di atas, dapat juga digunakan cara lainnya yaitu mengunakan metode hand palm. Metode ini adalah cara menentukan luas atau persentasi luka bakar dengan menggunakan telapak tangan. Satu telapak tangan mewakili 1 % dari permukaan tubuh yang mengalami luka bakar.

c) Berdasarkan dalam, luas dan lokasi luka bakar Keparahan luka bakar dapat dinilai sebagai berikut : Ringan : Luka bakar tingkat I meliputi <10% luas permukaan tubuh Luka bakar tingkat II meliputi <5% luas permukaan tubuh Luka bakar tingkat III meliputi hanya 2% dari luas permukaan tubuh Sedang : Luka bakar tingkat I meliputi 15-30% luas permukaan tubuh Luka bakar tingkat II meliputi 10-15% luas permukaan tubuh Luka bakar tingkat III meliputi 5-10% mengenai wajah, tangan atau kaki
6

Berat : Luka bakar tingkat I meliputi wajah, tangan, kaki dan daerah

perineum/kelamin Luka bakar tingkat II meliputi >30% luas permukaan tubuh Luka bakar tingkat III meliputi 20% mengenai saluran nafas, luka bakar dengan komplikasi fraktur

d) Berdasarkan penyebab luka bakar Api atau benda panas : Penyebab tersering dari luka bakar. Terjadi jika kulit kontak atau terpapar dengan api, uap panas, air panas, minyak panas, atau logam panas. Luka bakar akibat benda panas dapat terjadi akibat dari kebakaran, mobil yang mengalami kecelakaan, kecelakaan akibat petasan, kecelakaan rumah tangga, ledakan tabung gas, ledakan bom, menyentuh knalpot sepeda motor yang panas dan lain-lain. Cairan panas dan uap panas (Scalds) : Luka ini dapat dikenal dari sifat-sifatnya seperti rambut tidak terbakar dan tidak ada perhitaman pada daerah luka dan vesikel banyak dan kecil-kecil sesuai dengan kontak cairan dengan tubuh di sepanjang daerha kontak, cenderung lebih banyak kearah bawah tubuh. Sirup dan minyak panas dapat menimbulkan luka yang lebih hebat daripada air panas. Jaringan parut yang terhasil lebih tipis dibandingkan dengan luka disebabkan api dan tidak menyebabkan kontraktur maupun kelainan bentuk. Bahan kimia : Terjadi jika kulit kontak dengan bahan-bahan kimia yang tergolong asam kuat atau basa kuat yang dapat bereaksi menghasilkan panas, seperti senyawa kimia kaustik (natrium hidroksida atau perak nitrat, dan asam seperti asam sulfat atau orang sering menyebutnya dengan air keras). Aliran listrik atau sambaran petir : Luka bakar karena aliran listrik dapat terjadi akibat menyentuh kabel maupun sesuatu yang menghantarkan listrik dari kabel yang terpasang.
7

Sedangkan kecelakaan akibat tersambar petir bisa terjadi jika seseorang secara terbuka berdiri di lapangan luas saat ada petir, jika seseorang bersandar pada atau berada di dekat batang pohon yang tersambar petir (paling jauh 2 meter dari pohon tersebut) atau jika seseorang berdiri atau berjongkok dekat tanah yang tersambar petir. Radiasi : Dapat terjadi jika terpapar sinar matahari dalam waktu yang lama, radioterapi pada pengobatan kanker atau akibat efek panas dari radiasi gelombang mikro.

2.1.3 PENILAIAN TERHADAP LUKA BAKAR Berat ringannya suatu luka bakar dipengaruhi oleh beberapa faktor 1: a) Luas luka Luas luka lebih menentukan, karena luka bakar tingkat I yang meliputi 1/3 luas permukaan tubuh bisa menimbulkan syok, jika melebihi 50% bisa berakibat fatal. b) Lokasi Kepala, leher, badan, bagian depan abdomen lebih berbahaya daripada tungkai. Jika terjadi luka bakar tingkat III pada tungkai hanya bisa menyebabkan gangguan fungsi tetapi tidak menyebabkan kematian. Luka bakar pada organ genitalia dan bagian bawah abdomen juga berbahaya. c) Umur Lebih berbahaya jika terjadi pada anak-anak dan orang tua (lebih 70 tahun terutamanya) karena mudah terjadi syok. d) Jenis kelamin Laki-laki lebih tahan dari perempuan. e) Derajat kepanasan Prognosa lebih jelek pada panas yang lebih tinggi. f) Lamanya kontak Bila kontak lebih lama, maka prognosa lebih jelek.
8

2.1.4 PENYEBAB KEMATIAN Penyebab luka bakar bisa secara langsung dan tidak langsung 1-5 : Langsung : Karena panas yang luas pada tubuh atau inhalasi asap bila terkurung dalam ruangan mengandung CO dan CO2 yang berkonsentrasi tinggi. Tidak langsung : Syok terjadi sesudah 2-3 hari, kehilangan cairan, gagal nafas karena inhalasi udara panas yang menyebabkan peradangan saluran nafas. Penyebab kematian bisa juga karena : a) Syok neurogenik atau hipovolemik. b) Mati lemas, karena inhalasi asap, CO2 dan CO dari hasil pembakaran. c) Kecelakaan atau luka lain. d) Peradangan membran serosa dan organ dalam. e) Hipoproteinemi. f) Kehabisan tenaga. g) Erisipelas, septikemia, gangren dan tetanus.

2.1.5 AUTOPSI KORBAN LUKA BAKAR Perlu ditentukan apakah korban terbakar sesudah mati atau mati karena terbakar. Pada korban mati terbakar akan didapati tanda-tanda intravitalis yaitu 6 : a) Jelaga dalam saluran nafas atau pencernaan a. Korban menghirup partikel karbon dalam asap yang berwarna hitam. b. Tanda dari inhalasi aktif antemortem, maka partikel-partikel jelaga ini dapat masuk kedalam saluran nafas melalui mulut yang terbuka, mewarnai lidah, dan faring, glottis , vocal cord , trachea bahkan bronchiolus terminalis c. terbentuk oedema laring

b) Peningkatan kadar CO dan CO2 Merupakan tanda penting dalam menentukan korban mati terbakar apabila terperangkap dalam ruangan tertutup. Peningkatan CO dalam darah yang tinggi menyebabkan warna kulit lebih merah terang (cherry red) dan darah berwarna merah terang. c) Reaksi jaringan Terbentuknya eritema, vesikel atau bulae. Gelembung ini

mengandung cairan encer berisi albumin, khlorida, lekosit dengan nucleus polimorf, dasarnya merah atau bintik-bintik merah dan ada lingkaran merah sekitar vesikula. Pada gelembung karena

pembusukan akan berisi cairan pembusukan dengan dasar pucat. d) Pendarahan subendokardial ventrikel kiri jantung Perdarahan subendokardial pada ventrikel kiri dapat terjadi oleh karena efek panas. Akan tetapi perdarahan ini bukan sesuatu yang spesifik karena dapat disebabkan oleh berbagai mekanisme kematian. Pada korban kebakaran perdarahan ini merupakan indikasi bahwa sirkulasi aktif sedang berjalan ketika tereksposure oleh panas tinggi yang tidak dapat ditolerasi oleh tubuh dan ini merupakan bukti bahwa korban masih hidup saat terjadi kebakaran. e) Psuedo-epidural hematom Adalah hematom yang didapati di kepala akibat panas yang tinggi.Tidak dijumpai luka pada kepala atau trauma, konsistensi lembek, berwarna coklat, tidak padat dan tampak seperti sarang lebah dimana ada gelembung-gelembung udara berisi gas CO yang terjadi karena darah yang mendidih dan otak menyusut. Besarnya sekitar antara 1,5-15cm dan volume mencapai 120mm3. Letak luka bakar di luar tengkorak dan sering bilateral. Terdapat juga tanda-tanda fraktur pada tulang tengkorak. f) Reaksi kemerahan dan luka bakar kulit Lines of redness dijumpai di sekitar luka bakar dan melibatkan seluruh lapisan kulit, terjadi karena pembengkakan kapiler sementara.
10

g) Terdapat proses penyembuhan

Pemeriksaan luar korban luka bakar : a) Pakaian diteliti, apakah ada minyak tanah, bensin dan sebagainya. b) Distribusi kebakaran pada pakaian menunjukkan cara pembakaran mulai dan menentukan posisi korban saat terbakar. c) Puguilistic attitude dijumpai yaitu tubuh mengerut, tangan terangkat seperti posisi petinju sewaktu mempertahankan diri. d) Warna kulit tergantung pada bahan yang dipakai untuk pembakaran - Kulit berwarna putih akibat radiasi panas - Kontak dengan logam panas menghasilkan eritema jika kontak sebentar dan apabila kontak lama menghasilkan seperti daging yang dipanggang - Daerah luka terbakar luas dan hitam pada korban ledakan - Ada penghitaman dan bau minyak tanah pada korban yang terbakat akibat minyak tanah

Pemeriksaan dalam pada korban luka bakar : a) Tulang tengkorak bisa fraktur atau pecah akibat panas yang tinggi. Di atas duramater bisa dijumpai darah berwarna merah coklat kemerahan atau merah bata dan disebut dengan hematom epidural semu. b) Kongesti slauran pernafasan karena sekresi lender bertambah c) Kongesti pleura dan kongesti paru-paru d) Bila korban mati sesudah beberapa hari dirawat bisa didapati ulkus pada duodenum (Curlings ulcer), limpa membesar dengan konsistensi lembek e) Glandula suprarenalis bengkak dan hiperemis

11

Umur luka bakar : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Warna merah dari kulit terbentuk langsung setelah terjadi kebakaran. Bulla terbentuk kira-kira 1 jam kemudian. Nanah terbentuk 36 jam (2-3 hari). Kulit terkelupas dalam 4-6 hari. Bertukar kulit 14 hari kemudian. Parut dan cacat terbentuk setelah beberapa minggu atau bulan bergantung pada banyaknya supurasi dan pertukaran kulit.

Cara pemeriksaan CO di dalam darah. Ambil setetes darah dari jantung korban dan encerkan dengan 10cc aquades. Sebagai kontrol, lakukan hal yang sama dengan menggunakan darah orang hidup. Masing-masing darah diteteskan 2-3 tetes NaOH 10%. Hasil : Darah normal : segera terjadi perubahan warna merah kecoklatan Darah yang mengandung CO : perubahan warna darah memerlukan waktu yang lebih lama

2.1.6 ASPEK MEDIKOLEGAL Dari hasil pemeriksaan pada korban luka bakar, mungkin dokter yang memeriksa dapat menentukan cara kematian yang dapat berupa 1,6 : Kecelakaan Pembunuhan Bunuh diri

12

BAB 3 KESIMPULAN

3.1.1 KESIMPULAN Luka bakar merupakan salah satu klasifikasi jenis luka yang diakibatkan oleh sumber panas ataupun suhu dingin yang tinggi, sumber listrik, bahan kimiawi, cahaya, radiasi dan friksi. Jenis luka dapat beraneka ragam dan memiliki penanganan yang berbeda tergantung jenis jaringan yang terkena luka bakar, tingkat keparahan, dan komplikasi yang terjadi akibat luka tersebut. Dalam aspek kedokteran klinis forensik, dapat dilihat faktor - faktor yang mempengaruhi berat-ringannya luka bakar antara lain kedalaman luka bakar, luas luka bakar, lokasi luka bakar,penyebab luka dan aspek medikolegalnya. Selain itu, luka bakar juga dibagi dalam berbagai kategori yang disesuaikan dengan derajatnya. Pada korban yang sudah meninggal, aspek patologi forensik sangat berperan untuk menentukan penyebab dan mekanisme kematian korban. Kematian akibat luka bakar ini dapat terjadi akibat ketidaksengajaan atau memang ada unsur kesengajaan. Ada beberapa cara yang digunakan untuk membedakan apakah pasien meninggal sebelum atau sesudah luka bakar terjadi seperti jelaga pada saluran nafas, saturasi COHB dalam darah, pendarahan subendokardial ventrikel kiri jantung, dan lainnya yang telah dijelaskan. Identifikasi korban tidak mudah dilakukan dan memerlukan ketelitian. Metode yang terbanyak dan paling dipercaya adalah dental identification karena gigi relatif tahan terhadap api. Metode lain yang dapat dipercaya tetapi kurang umum penggunaannya adalah membandingkan x-ray yang diambil antemortem dan postmortem dari korban. Bila identifikasi tidak dapat dibuat melalui finger prints, dental charts, dental x-rays atau antemortem x-ray maka hanya satu harapan yang dapat digunakan dalam menegakan identifikasi yaitu melalui pemeriksaan DNA.
13

DAFTAR PUSTAKA
1. Amir.A. 2011. Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik . 2nd ed. Medan;

Hal:104 2. Knight.B. 1997. Simpsons Forensic Medicine. 11th ed. London; Hal:143 3. James.P.J 2005. Encyclopedia of Forensic and Legal Medicine. 1st ed. London; Hal:80 4. Benson A, Dickson WA, Boyce DE. ABC of Wound Healing : Burns. BMJ 2006 5. Rao.J.V.Medscape Refference. Forensic Pathology of Thermal

Injuries.Diunduh dari: http://emedicine.medscape.com/article/1975728-overview.Diakses tanggal 28 Januari 2012


6. Amir.A. 2011. Autopsi Medikolegal. 2nd ed. Medan; Hal:39

14