Anda di halaman 1dari 14

Syaiful Rachman 3105 100 093

Pendayagunaan & Pengendalian SDA

AIR DI BUMI KITA - Hanya 2.5% yang berupa air tawar. - Cuma < 1% yg dapat dimanfaatkan dg biaya rendah, yaitu: air di danau, sungai, waduk dan sumber air tanah dangkal. - Diperlukan upaya bersama untuk mempertahankan keberadaannya untuk kelangsungan kehidupan dan peradaban sekarang dan yg akan datang.

GARIS BESAR SUBSTANSI UU No.7/2004 tentang SDA 1. Cakupan Air diperluas = UU 11/1974 + air laut yg berada di darat. (Ps 1) 2. Substansi pengaturan lebih komprehensif, meliputi DOMAIN pengelolaan (konservasi SDA, pendayagunaan SDA, pengendalian & penanggulangan daya rusak air) dan PROSES pengelolaannya. 3. Menegaskan hak dan peran masyarakat dalam keseluruhan proses pengelolaan SDA. (Ps 11 ay 3, Ps 41 ay 3- 4, Ps 62, Ps 64 ay 5, Ps 75 ay 2- 3, Ps 82- 84) 4. Menyatakan bahwa air untuk KEBUTUHAN POKOK adalah HAK SETIAP ORANG yg dijamin oleh Negara. (Ps 5, Ps 8 ay 1, Ps 16 huruf h, Ps 29 ay 3, Ps 80 ay 1) 5. Hak Guna Air untuk kebutuhan pokok sehari-hari dan pertanian rakyat, serta kpd pemegang Izin mendapat jaminan pemerintah. (Ps 8-9) 6. Mengakui hak ulayat masyarakat hukum adat atas SDA. (Ps 6) 7. Pola dan Rencana Pengelolaan SDA didasarkan atas Wilayah Sungai (Ps 11 ay 2), implementasi penggelolaannya dapat dilakukan multi instansi dan multi daerah secara terkoordinasi. (Ps 26 ay 4) 8. Asas keterbukaan diakomodasi dalam SISTEM KOORDINASI PENGELOLAAN SDA di tk. Nasional, tk. Propinsi, tk. Kab/Kota dan Wilayah Sungai. (Bab XII) 9. Mempertegas batas tanggung jawab pemerintah Pusat, Propinsi dan Kabupaten/Kota (otonomi daerah). (Bab II ) 10. Mengadopsi prinsip pelimpahan wewenang kepada pemerintah di bawahnya, penyerahan wewenang kepada pemerintah di atasnya. (Ps 18-19) 11. Mempertegas kewajiban dan tanggungjawab pengelola SDA. (Ps 19 ay 2, Ps 29 ay 5, Ps 55 ay 1, Ps 56, Ps 57 ay 2, Ps 61 ay 4, Ps 67 ay 3, Ps 74 ay 3, Ps 90, Ps 91) 12. Sumber daya air berfungsi sosial, lingkungan hidup, dan ekonomi yang diselenggarakan dan diwujudkan secara selaras untuk melindungi kepentingan penduduk yg berkemampuan ekonomi lemah. (Ps 4, Ps 26 ay 2, Ps 26 ay 7, Ps 80) 13. Mengadopsi prinsip penggunaan air hujan, air permukaan dan air tanah secara conjunctive. (Ps 26 ay 5) 14. Menekankan asas keseimbangan antara upaya pendayagunaan dengan konservasi, termasuk pemberian sistem insentif kepada pelaku konservasi. (Ps 11 ay 4, Ps 77 ay 1 dan 2) 15. Mengatur prinsip pemanfaat dan pencemar membayar (kecuali untuk kebutuhan pokok sehari-hari dan pertanian rakyat) sebagai instrumen untuk berhemat air, yg nilainya disesuaikan dg kemampuan ekonomi kelompok pengguna dan jenis penggunaannya. (Ps 26 ay 7, Ps 77, Ps 78 ay 1, Ps 80) 16. Memfasilitasi perlindungan hak penemu dan temuan ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi dalam bid. SDA. (Ps 73) 17. Mengatur pengelolaan sistem informasi SDA. (Bab VIII) 18. Mengatur pengusahaan SDA secara lebih ketat. (Ps 26 ay 3, Ps 45, Ps 46, Ps 47, Ps

48, Ps 49). 19. Mengakomodasi penyelesaian sengketa dan gugatan masyarakat. (Bab XIV) 20. Memperhatikan perkembangan lingkungan global, a.l. tentang pengelolaan SDA pada Wilayah Sungai lintas negara. (Ps 13 ay 3, Ps 14, Ps 49)

Pengelolaan Sumber Daya Air Definisi (UU SDA No 7 tahun 2004) : upaya merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air. Aspek Pengelolaan SDA Batasan Pengertian Istilah 1. KONSERVASI: upaya MEMELIHARA KEBERADAAN, serta KEBERLANJUTAN KEADAAN, SIFAT, dan FUNGSI SDAir agar senantiasa tersedia dalam kuantitas dan kualitas yg memadai untuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup baik pada waktu sekarang maupun yang akan datang. (pasal 1 angka 18) 2. PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR: upaya PENATAGUNAAN, PENYEDIAAN, PENGGUNAAN, PENGEMBANGAN, dan PENGUSAHAAN SDAir secara optimal agar berhasilguna dan berdayaguna. (pasal 1 angka 20) 3. PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR: upaya untuk MENCEGAH, MENANGGULANGI, serta melakukan PEMULIHAN kerusakan kualitas lingkungan yg disebabkan oleh daya rusak air. (pasal 1 angka 19) 4. DAYA RUSAK AIR: daya air yang dapat merugikan kehidupan. (pasal 1 angka 21)

PENDAYAGUNAAN SUMBER DAYA AIR PASAL-PASAL MENGENAI PENDAYAGUNAAN SDA 1. Pasal 26 Pendayagunaan SDA 2. Pasal 27 Penatagunaan SDA 3. Pasal 28 Peruntukan air pada Sumber air 4. Pasal 29-31 Penyediaan SDA 5. Pasal 32-33 Penggunaan SDA 6. Pasal 34-44 Pengembangan SDA 7. Pasal 45-49 Pengusahaan SDA

PENDAYAGUNAAN SDA (1/1) 1. Dilakukan melalui kegiatan : Penatagunaan,Penyediaan, Penggunaan, Pengembangan, dan Pengusahaan SDA dengan mengacu pada pola pengelolaan SDA yang ditetapkan pada setiap sungai 2. Ditujukan untuk : Memanfaatkan SDA secara berkelanjutan, Mengutamakan pemenuhan kebutuhan pokok kehidupan masyarakat secara adil. 3. Pendayagunaan sumber daya air dikecualikan pada kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam. KEGIATAN PENDAYAGUNAAN SDA (2/2) 1. Pendayagunaan SDA diselenggarakan secara terpadu dan adil antar sektor atau antar wilayah, maupun antar kelompok masyarakat dengan mendorong pola kerjasama 2. Didasarkan pada: - Air hujan, - Air permukaan, - Air tanah dgn mengutamakan pendayagunaan air permukaan. 3. Setiap orang WAJIB mengunakan air se-HEMAT mungkin 4. Pendayagunaan SDA dilakukan dengan mengutamakan fungsi sosial guna mewujudkan keadilan memperhatikan prinsip pemanfaatan air membayar biaya jasa pengelolaan SDA, dan Melibatkan peran masyarakat A. Penatagunaan SDA. Dimaksudkan untuk menetapkan Zona Pemanfaatan Sumber Air peruntukan air pada sumber air ZONA PEMANFAATAN SUMBER AIR. Zona ini digunakan sebagai acuan untuk : Penyusunan atau perubahan RTRW, Rencana pengelolaan SDA pada wilayah sungai yang bersangkutan. Penetapan zona pemanfaatan sumber air dilakukan dengan : - Mengalokasikan zona untuk fungsi lindung dan budi daya - Menggunakan dasar hasil penelitian dan pengukuran secara teknis hidrologis - Memperhatikan ruang sumber air yg dibatasi oleh garis sempadan sumber air - Memperhatikan kepentingan berbagai jenis pemanfaatan - Melibatkan peran masyarakat sekitar dan pihak lain yang berkepentingan dan - Memperhatikan fungsi kawasan PENETAPAN PERUNTUKAN AIR Penetapan peruntukan air pada sumber air adalah pengelompokan penggunaan air yang terdapat pada sumber air ke dalam beberapa golongan penggunaan air termasuk baku mutunya, misalnya mengelompokkan penggunaan sungai ke dalam beberapa ruas menurut beberapa jenis golongan penggunaan air untuk keperluan air baku untuk rumah tangga, pertanian, dan usaha industri.

Pelaksanaannya pada tiap daerah dilaksanakan dengan memperhatikan: - Daya dukung sumber air - Jumlah dan penyebaran penduduk serta proyeksi pertumbuhannya - Perhitungan dan proyeksi kebutuhan SDA - Pemanfaatan air yang sudah ada. - Pemerintah dan Pemerintah Daerah melakukan pengawasan pelaksanaan ketentuan peruntukan air mengalokasikan zona untuk fungsi lindung dan budi daya B. Penyediaan Sumber Daya Air. Dimaksudkan untuk : memenuhi kebutuhan air dan daya air memenuhi berbagai keperluan sesuai dengan kualitas dan kuantitas. Penyediaan sumber daya air dalam setiap wilayah sungai dilaksanakan sesuai dengan penatagunaan sumber daya air yang ditetapkan untuk memenuhi kebutuhan pokok, sanitasi lingkungan, pertanian, ketenagaan, industri, pertambangan, perhubungan, kehutanan dan keanekaragaman hayati, olahraga, rekreasi dan pariwisata, ekosistem, estetika, serta kebutuhan lain yang ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Penyediaan air untuk memenuhi kebutuhan pokok merupakan prioritas utama penyediaan sumber daya air di atas semua kebutuhan. Penyediaan sumber daya air direncanakan, ditetapkan dan dilaksanakan sebagai bagian dalam rencana pengelolaan sumber daya air pada setiap wilayah sungai oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya. Pemerintah/Pemda dapat mengambil tindakan penyediaan SDA untuk: memenuhi kepentingan yang mendesak berdasarkan perkembangan keperluan, dan Keadaan setempat. C. Penggunaan Sumber Daya Air. Ditujukan untuk : pemanfaatan sumber daya air, dan prasarananya sebagai media dan/atau materi. Pelaksanaannya sesuai dengan : penatagunaan dan rencana penyediaan sumber daya air yang telah ditetapkan dalam rencana pengelolaan sumber daya air wilayah sungai bersangkutan. Penggunaan air untuk : memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari yang dilakukan melalui prasarana SDA harus dengan persetujuan dari pihak yang berhak atas prasarana yang bersangkutan. Apabila dalam penggunaannya menimbulkan kerusakan pada sumber air, yang bersangkutan WAJIB mengganti kerugian. Setiap orang/badan usaha dalam penggunaan air berupaya menggunakannya secara: daur ulang dan menggunakan kembali air. Dalam keadaan memaksa (bersifat darurat), Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah mengatur dan menetapkan penggunaan sumber daya air untuk : kepentingan konservasi, (misal: penggelontoran sumber air di perkotaan dg tingkat pencemaran sangat tinggi), persiapan pelaksanaan konstruksi, (misal: mengatasi kerusakan mendadak pada prasarana SDA), pemenuhan prioritas penggunaan sumber daya air. (misal: pemenuhan kebutuhan air minum saat kekeringan). C. Pengembangan Sumber Daya Air. Ditujukan untuk : peningkatan kemanfaatan fungsi SDA guna memenuhi kebutuhan air baku untuk: rumah tangga, pertanian, industri, pariwisata, pertahanan, pertambangan, ketenagaan, perhubungan, dan untuk berbagai keperluan

lainnya (kegiatan konstruksi). Pelaksanaan pengembangan SDA tanpa harus merusak lingkungan. Diselenggarakan berdasarkan rencana pengelolaan SDA dan RTRW yang telah ditetapkan dengan mempertimbangkan : Daya dukung SDA, Kekhasan dan aspirasi daerah dan masyarakat setempat, Kemampuan pembiayaan, dan Kelestarian keanekaragaman hayati dalam SDA. Pelaksanaannya dilakukan melalui konsultasi publik, dengan tahapan survei, investigasi, perencanaan, serta berdasarkan pada kelayakan teknis, lingkungan hidup, dan ekonomi. Potensi dampak yang mungkin timbul akita pelaksanaan pengembangan SDA harus ditangani secara tuntas dengan melibatkan berbagai pihak yang terkait pada tahap perencanaan. Jenis Pengembangan SDA : Air permukaan pada sungai, danau, rawa, dan sumber air permukaan lainnya. Yang dimaksud dengan sumber air permukaan lainnya, antara lain, situ, embung, ranu, waduk, telaga. dan mata air (spring water) : Air tanah pada cekungan air tanah, Air hujan, Air laut yang berada di darat. Air Permukaan Pengembangan air permukaan pada sungai, danau, rawa, dan sumber air permukaan lainnya dilaksanakan dengan memperhatikan karakteristik dan fungsi sumber air yang bersangkutan Air Tanah Merupakan salah satu sumber daya air yang keberadaannya terbatas dan kerusakannya dapat mengakibatkan dampak yang luas serta pemulihannya sulit dilakukan. Pengembangan air tanah pada cekungan air tanah dilakukan secara terpadu dalam pengembangan sumber daya air pada wilayah sungai dengan upaya pencegahan terhadap kerusakan air tanah. Air Hujan Pengembangan Fungsi Dan Manfaat Air Hujan. Dilakukan dengan mengembangkan Teknologi Modifikasi Cuaca. Teknologi Modifikasi Cuaca : upaya dengan cara memanfaatkan parameter cuaca dan kondisi iklim pada lokasi tertentu untuk tujuan meminimalkan dampak bencana alam akibat iklim dan cuaca. Pemanfaatan awan dengan teknologi modifikasi cuaca dapat dilaksanakan oleh Badan usaha dan perseorangan setelah memperoleh izin dari Pemerintah.

Air Laut Pengembangan Fungsi Dan Manfaat Air Laut. Dilakukan dengan memperhatikan fungsi lingkungan hidup, untuk keperluan usaha tambak dan sistem pendinginan mesin. Badan usaha dan perseorangan dapat melakukan usaha pengembangan air laut setelah memperoleh izin pengusahaan sumber daya air dari Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah. Pemenuhan Kebutuhan Air Baku Untuk Air Minum Rumah Tangga Dilakukan dengan mengembangkan sistem penyediaan air minum. Menjadi tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Penyelenggaranya : Badan usaha miliki

negara dan atau badan usaha milik daerah. Dapt melibatkan Kopersi, badan usaha swasta dan masyarakat dalam penyelenggaraannya. Tujuan pengaturan pengembangan sistem penyediaan air minum : terciptanya pengelolaan dan pelayanan air minum yang berkualitas dengan harga yang terjangkau, tercapainya kepentingan yang seimbang antara konsumen dan penyedia jasa pelayanan, dan meningkatnya efisiensi dan cakupan pelayanan air minum. Pengaturan pengembangan sistem penyediaan air minum diselenggarakan secara terpadu dengan pengembangan prasarana dan sarana sanitasi. Untuk mencapai tujuan pengaturan pengembangan sistem penyediaan air minum dan sanitasi, Pemerintah dapat membentuk badan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada menteri yang membidangi sumber daya air. Pemenuhan Kebutuhan Air Baku Untuk Pertanian. Dilakukan dengan Pengembangan Sistem Irigasi. Pengembangan Sistem Irigasi (primer dan sekunder) merupakan wewenang dan tanggung jawab Pemerintah, dengan ketentuan: Lintas provinsi > Pemerintah, Lintas Kabupaten/Kota >Pemerintah Provinsi, Utuh pada satu kabupaten/kota > Pemerintah Kabupaten/Kota ybs. Pengembangan sistem irigasi tersier menjadi hak dan tanggung jawab perkumpulan petani pemakai air, dengan kewenangan dan tanggung jawab tetap pada pemerintah. Pengembangan sistem irigasi primer dan sekunder dapat dilakukan oleh perkumpulan petani pemakai air atau pihak lain sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya, atas supervisi pemerintah dan melibatkan masyarakat. Pengembangan Sda Utk Industri & Pertambangan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air baku dalam proses pengolahan dan/atau eksplorasi. Pengembangan Sda Utk Keperluan Ketenagaan, keperluan ketenagaan misalnya menggunakan air sebagai penggerak turbin pembangkit listrik atau sebagai penggerak kincir. Dilakukan untuk memenuhi keperluan sendiri dan untuk diusahakan lebih lanjut. Memenuhi keperluan sendiri adalah penggunaan tenaga yang dihasilkan hanya dimanfaatkan untuk melayani dirinya sendiri/kelompoknya sendiri, sedangkan untuk diusahakan lebih lanjut adalah penggunaan tenaga yang dihasilkan tidak hanya untuk keperluan sendiri tetapi dipasarkan kepada pihak lain. Pengembangan Sda Air Utk Perhubungan, dilakukan pada sungai, danau, waduk, dan sumber air lainnya. Contoh Pengembangan sumber daya air untuk perhubungan antara lain untuk media transportasi misalnya untuk lalu lintas air dan pengangkutan kayu melalui sungai. E. Pengusahaan Sumber Daya Air. Diselenggarakan dgn memperhatikan fungsi sosial & kelestarian lingkungan hidup. Pengusahaan SDA permukaan yang meliputi satu SWS hanya dapat dilaksanakan oleh badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah di bidang pengelolaan sumber daya air atau kerja sama antara keduanya. Pengusahaan SDA permukaan yang meliputi satu wilayah sungai adalah pengusahaan pada seluruh sistem sumber daya air yang ada dalam wilayah sungai yang bersangkutan mulai dari hulu sampai hilir sungai atau sumber air ybs. Pengusahaan SDA lainnya dapat dilakukan oleh perseorangan, badan usaha, atau kerja sama antar badan usaha pemerintah (bukan badan usaha pengelola sumber daya air wilayah sungai) atau swasta berdasarkan izin pengusahaan dari Pemerintah atau Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya.

Bentuk-Bentuk Pengusahaan, hrs sesuai persyaratan dalam perizinan: - Penggunaan air pada suatu lokasi - Pemanfaatan wadah air pada suatu lokasi tertentu (wisata air, olahraga arung jeram, atau lalu lintas air) - Pemanfaatan daya air pada suatu lokasi tertentu (penggerak turbin pembangkit listrik atau sebagai penggerak kincir)

Pengaturan dan Penetapan Alokasi Air Pada Sumber Air

Pemerintah atau Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya, mengatur dan menetapkan alokasi air pada sumber air untuk pengusahaan SDA oleh badan usaha atau perseorangan. Alokasi air yang ditetapkan tidak bersifat mutlak, tetapi dapat ditinjau kembali apabila persyaratan atau keadaan yang dijadikan dasar pemberian izin dan kondisi ketersediaan air pada sumber air yang bersangkutan mengalami perubahan yang sangat berarti dibandingkan dengan kondisi ketersediaan air pada saat penetapan alokasi.

Alokasi air untuk pengusahaan SDA didasarkan pada rencana alokasi air yang ditetapkan dalam rencana pengelolaan sumber daya air wilayah sungai bersangkutan, dengan tetap memperhatikan alokasi air untuk pemenuhan kebutuhan pokok seharihari dan pertanian rakyat. Alokasi air untuk pengusahaan ditetapkan dalam izin pengusahaan sumber daya air dari Pemerintah atau Pemerintah Daerah. Jika rencana pengelolaan SDA belum ditetapkan, izin pengusahaan sumber daya air pada wilayah sungai ditetapkan berdasarkan alokasi air sementara (alokasi yang dihitung berdasarkan perkiraan debit andalan dengan memperhitungkan kebutuhan pengguna air yang sudah ada. Pengawasan Mutu Pelayanan Pemerintah wajib melakukan pengawasan mutu pelayanan atas : Badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah pengelola sumber daya air dan badan usaha lain dan perseorangan sebagai pemegang izin pengusahaan sumber daya air. Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah wajib memfasilitasi (menyerap, mempelajari dan mendalami objek pengaduan dan merespon secara proporsional/wajar) pengaduan masyarakat atas pelayanan dari badan usaha dan perseorangan. Badan usaha dan perseorangan WAJIB ikut serta melakukan kegiatan konservasi SDA dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Rencana pengusahaan SDA dilakukan melalui konsultasi publik. Pengusahaan SDA diselenggarakan dengan mendorong keikutsertaan usaha kecil dan menengah - Syarat Pengusahaan SDA

- Pengusahaan SDA dlm suatu wil sungai yg dilakukan dengan membangun dan/atau menggunakan saluran distribusi (misalnya pipa) hanya dapat digunakan utk wil sungai lainnya bila masih terdapat ketersediaan air yang melebihi keperluan penduduk pd wil sungai ybs. - Pengusahaan SDA didasarkan pada rencana pengelolaan sumber daya air wilayah sungai ybs. - Pengusahaan Air Untuk Negara Lain - TIDAK DIIZINKAN , kecuali apabila penyediaan air untuk berbagai kebutuhan telah dapat terpenuhi - Syarat Pengusahaan air utk negara lain : harus didasarkan pada rencana pengelolaan SDA wilayah sungai ybs, serta memperhatikan kepentingan daerah di sekitarnya, dilakukan melalui proses konsultasi publik oleh pemerintah sesuai dengan kewenangannya, wajib mendapat izin dari Pemerintah atas rekomendasi dari PEMDA dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Rambu pengaturan mengenai Pengusahaan SDA KETENTUAN UU No.11/1974 UU No. 7/2004 ttg SDA Syarat bagi pihak swasta untuk melaksanakan pengusahaan SDA Cukup dg ijin dari pemerintah, dan berpedoman pada asas usaha bersama dan kekeluargaan (ps11) 1. Ijin dari pemerintah (ps 45 ayat 3) 2. Tidak boleh meliputi seluruh WS (ps 45 ayat 4). 3. Berdasarkan rencana alokasi air. (ps 46 ayat 2) 4. Melalui konsultasi publik (ps 47 ayat 4) 5. Dilarang ditransfer keluar WS, kecuali SDA pada WS ybs surplus. (ps 48 ay 1) Kewajiban pihak swasta dalam pelaksanaan pengusahaan SDA Tidak mengatur 1. Memperhatikan fungsi sosial dan kelestariannya (ps 45 ayat 1) 2. Wajib ikut serta melakukan konservasi dan meningkatkan kesejahteraan masy di sekitarnya. (ps 47 ayat 3) 3. Mendorong keikut sertaan UKM (ps 47 ayat 5) Kewajiban Pemerintah Tidak mengatur 1. Pengawasan mutu layanan pengusaha (ps 47 ayat 1). 2. Fasilitasi pengaduan masyarakat(ps 47 ayat 2) PENGENDALIAN DAYA RUSAK AIR 1. Dilakukan secara menyeluruh yang mencakup upaya PENCEGAHAN, PENANGGULANGAN, dan PEMULIHAN. (pasal 51 ayat 1) 2. Menjadi tanggung jawab Pemerintah, pemerintah daerah, serta pengelola sumber daya air wilayah sungai dan masyarakat. (pasal 51 ayat 3) 3. Mengutamakan upaya PENCEGAHAN melalui perencanaan pengendalian daya rusak air yang disusun secara terpadu dan menyeluruh dalam POLA pengelolaan sumber daya air. (pasal 51 ayat 2)

4. Upaya PENCEGAHAN lebih diutamakan pada KEGIATAN NONFISIK. (pasal 53 ayat 2) 5. Kegiatan NONFISIK adalah kegiatan penyusunan dan/atau penerapan piranti lunak yang meliputi antara lain pengaturan, pembinaan, pengawasan, dan pengendalian. (penjelasan pasal 53 ayat 2) Pengendalian Daya Rusak Air: Pencegahan, Penanggulangan, Dan Pemulihan (Pasal 51) 1. Pengendalian daya rusak air dilakukan secara menyeluruh yang mencakup upaya pencegahan, penanggulangan, dan pemulihan. Yang dimaksud dengan daya rusak air adalah daya air yang menimbulkan kerusakan dan/atau bencana,yang antara lain berupa : banjir, erosi dan sedimentasi, tanah longsor, banjir lahar dingin, tanah ambles, perubahan sifat dan kandungan kimiawi, biologi, dan fisika air, terancam punahnya jenis tumbuhan dan/atau satwa, wabah penyakit, intrusi; dan/atau perembesan, Tidak ada atau kekurangan AIR? Menimbulkan bencana kekeringan. 2. Pengendalian daya rusak air diutamakan pada upaya pencegahan melalui perencanaan pengendalian daya rusak air yang disusun secara terpadu dan menyeluruh dalam pola pengelolaan sumber daya air. 3. Pengendalian daya rusak air diselenggarakan dengan melibatkan masyarakat. 4. Pengendalian daya rusak air menjadi tanggung jawab Pemerintah, Pemerintah Daerah, serta pengelola sumber daya air wilayah sungai dan masyarakat. Larangan Usaha Mengakibatkan Terjadinya Daya Rusak Air (Pasal 52) Setiap orang atau badan usaha dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan terjadinya daya rusak air Cara Pencegahan (Pasal 53) 1. Pencegahan dilakukan baik melalui kegiatan fisik dan/atau nonfisik maupun melalui penyeimbangan hulu dan hilir wilayah sungai. Yang dimaksud dengan : kegiatan fisik adalah pembangunan sarana dan prasarana serta upaya lainnya dalam rangka pencegahan kerusakan/ bencana yang diakibatkan oleh daya rusak air, kegiatan nonfisik adalah kegiatan penyusunan dan/atau penerapan piranti lunak yang meliputi antara lain pengaturan, pembinaan, pengawasan, dan pengendalian, penyeimbangan hulu dan hilir wilayah sungai adalah penyelarasan antara upaya kegiatan konservasi di hulu dengan pendayagunaan di hilir. 2. Pencegahan lebih diutamakan pada kegiatan nonfisik. 3. Pilihan kegiatan ditentukan oleh pengelola sumber daya air yang bersangkutan. 4. Ketentuan mengenai pencegahan kerusakan dan bencana akibat daya rusak air diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah Cara Penanggulangan (Pasal 54) 1. Penanggulangan daya rusak air dilakukan dengan mitigasi bencana. Mitigasi bencana adalah kegiatan-kegiatan yang bersifat meringankan penderitaan akibat bencana, misalnya penyediaan fasilitas pengungsian dan penambalan darurat tanggul

bobol. 2. Penanggulangan dilakukan secara terpadu oleh instansi-instansi terkait dan masyarakat melalui suatu badan koordinasi penanggulangan bencana pada tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota. 3. Ketentuan mengenai pencegahan kerusakan dan bencana akibat daya rusak air diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Tanggung Jawab (Pasal 55) 1. Penanggulangan bencana akibat daya rusak air yang berskala nasional menjadi tanggung jawab Pemerintah 2. Bencana akibat daya rusak air yang berskala nasional ditetapkan dengan keputusan presiden

Tindakan Darurat (Pasal 56) Dalam keadaan yang membahayakan, gubernur dan/atau bupati/walikota berwenang mengambil tindakan darurat guna keperluan penanggulangan daya rusak air. Keadaan yang membahayakan merupakan keadaan air yang luar biasa yang melampaui batas rencana sehingga jika tidak diambil tindakan darurat diperkirakan dapat menjadi bencana yang lebih besar terhadap keselamatan umum. Pemulihan Daya Rusak Air (Pasal 57) - Pemulihan daya rusak air dilakukan dengan memulihkan kembali fungsi lingkungan hidup dan sistem prasarana sumber daya air. - Pemulihan menjadi tanggung jawab Pemerintah, Pemerintah Daerah, pengelola sumber daya air, dan masyarakat. - Ketentuan mengenai pemulihan daya rusak air diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Pengendalian Air Permukaan dan Air Tanah (Pasal 58) 1. Pengendalian daya rusak air dilakukan pada sungai, danau, waduk, rawa, cekungan air tanah, sistem irigasi, air hujan, dan air laut yang berada di darat. 2. Ketentuan mengenai pengendalian daya rusak air pada sungai, danau, waduk dan/atau bendungan, rawa, cekungan air tanah, sistem irigasi, air hujan, dan air laut yang berada di darat diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Abrasi pantai? - Penanggulangan daya rusak air: dilakukan dengan mitigasi bencana. - Penanggulangan secara terpadu oleh instansi-instansi terkait dan masyarakat melalui suatu badan koordinasi penanggulangan bencana pada tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota. - Penanggulangan bencana akibat daya rusak air yang berskala nasional menjadi tanggung jawab Pemerintah. - Bencana akibat daya rusak air yang berskala nasional ditetapkan keppres - Kewenangan Tindakan Darurat: gubernur dan/atau bupati/walikota

- Pemulihan daya rusak air dilakukan dengan memulihkan kembali fungsi lingkungan hidup dan sistem prasarana sumber daya air, tanggung jawab oleh Pemerintah, pemerintah daerah, pengelola sumber daya air, dan masyarakat. - Pengendalian daya rusak air dilakukan pada sungai, danau, waduk, rawa, cekungan air tanah, sistem irigasi, air hujan, dan air laut yang berada di darat. Preventif untuk suatu tindakan untuk mencegah terjadinya bencana dan atau mencegah terjadinya efek yang berbahaya pada komunitas atau instalasi yang penting. Berikut ini beberapa contoh klasifikasi umum tindakan preventif : - Lembaga dan instansi terkait harus terlibat dalam usaha pencegahan; - Pembangunan dam atau tanggul untuk mengontrol banjir sehingga pada nantinya tidak menimbulkan kerugian masyarakat, bangunan dan instansi lain, persediaan pangan, alat-alat produksi dan penghidupan dan lain-lain. - Pengontrolan titik/daerah rawan gerakan tanah pada musim kemarau. - Segala upaya dalam mengantisipasi kekeringan: misal identifikasi, rencana tindak, menyiapkan cadangan air Mitigasi (REDUKSI) Tindakan-tindakan yang bertujuan untuk mereduksi dampak bencana baik dampak ke komunitas (jiwa), harta benda maupun dampak ke infrastruktur.

Asas Mitigasi Umum - Bencana memberikan kesempatan yang langka untuk memperkenalkan tindakan mitigasi - Mitigasi dapat diperkenalkan dengan 3 macam konteks: rekonstruksi, investasi baru dan lingkungan yang ada. Setiap kesempatan berbeda akan mengenalkan tindakan yang aman. Prioritas - Dalam kondisi sumber daya alam yang terbatas, prioritas harus diberikan untuk perlindungan kelompok sosial penting, - Pelayanan kritis dan sektor ekonomi vital. Monitoring Dan Evaluasi Tindakan mitigasi perlu dimonitor dan dievaluasi secara kontinyu sehingga untuk merespon perubahan pada pola bencana, daerah rawan dan sumbernya. Pengelolaan - Tindakan mitigasi adalah kompleks dan interdependen, dan mereka memiliki tanggung jawab yang luas. Oleh karena itu kepemimpinan yang efektif dan koordinasi adalah penting untuk menciptakan keberhasilan. - Mitigasi akan menjadi lebih efektif jika tindakannya tentang keamanan terhadap

bencana disebarluaskan melalui perbedaan yang banyak atas aktivitas menyeluruh. - Tindakan mitigasi aktif yang mengandalkan pada dorongan akan lebih efektif daripada tindakan pasif yang berdasarkan hukum dan pengendalian terbatas. - Mitigasi harus terintegrasi dan tidak terisolasi dari elemen perencanaan bencana terkait, seperti kesiap siagaan, pertolongan dan rekonstruksi. Institusionalisasi - Tindakan mitigasi harus berkelanjutan sehingga mencegah keresahan masyarakat dalam jangka panjang antara bencana besar. - Komitmen politis adalah penting untuk permulaan dan kelangsungan mitigasi. KESIAGAAN/PREPAREDNESS Kesiagaan Suatu aksi/aktifitas yang membuat pemerintah, organisasi, masyarakat, perorangan (stakeholders) dapat merespons bencana yang bakal terjadi dengan cepat, tepat, efektif, efisien dan benar Beberapa Contoh Tindakan Kesiagaan: - Formulasi tindakan dan RAB yang akurat, up-to-date dengan rencana pencegahan bencana. - Perlengkapan khusus untuk tindakan emergency seperti evakuasi penduduk atau perpindahan sementara ke tempat yang aman. - Perlengkapan sistem peringatan. - Komunikasi emergency. - Pendidikan dan kesadaran masyarakat. - Progam pelatihan termasuk latihan dan tes. Sub Segmen Kesiagaan - Peringatan. Waktu atau periode ketika bencana telah teridentifikasi tetapi belum membahayakan di area tertentu. (Contoh peringatan bahwa angin siklon akan ada tetapi jaraknya masih jauh). - Bahaya. Waktu atau ketika bencana telah teridentifikasi dan diamati sebagai ancaman daerah tertentu.(Contoh angin siklon bertiup melewati area itu). - Tindakan pencegahan. Tindakan diambil setelah menerima peringatan untuk menutup kerugian dari pengaruh bencana (Contoh menutup kantor-kantor, sekolah-sekolah ). PROSES WAKTU DAMPAK BENCANA - Instan tanpa peringatan atau tanda-tanda - Instan namun dengan peringatan atau tanda-tanda - Merangkak CONTOH : - Longsor mungkin tidak memberi peringatan namun dampaknya signifikan - Longsor bisa diketahui dengan tanda-tanda, misal retak-retak tanah yang terus berkembang - Banjir mungkin memberikan waktu peringatan dan dampak yang lama terutama untuk sungai-sungai besar waktu antara banjir yang menghancurkan dan merusak dapat dicegah - Banjir terjadi instan terutama untuk sungai-sungai di kota dengan DAS < 100 km2

(hampir semua kota) - Kekeringan dampaknya terasa secara merangkak (creeping) RESPON Respon semua tindakan yang segera dilakukan pada saat bencana terjadi. Tujuannya untuk meminimalkan korban baik jiwa maupun benda. Tindakan respon biasanya diperoleh setelah mendapatkan persetujuan dan sesuai dengan dampak bencana. Tindakan harus sesuai dengan SOP (Standard Operation Procedure) Macam Tindakan Respon : - Rencana pelaksanaan - Aktivitas sistem pertolongan bencana - Pencarian dan penemuan - Perlengkapan makanan darurat, tempat penampungan, bantuan medis,dll ; - Survey dan penaksiran - Tindakan evakuasi Prosedur Tetap Untuk Korban Saat Bencana (Kedaruratan) - Masyarakat harus dapat Makan - Masyarakat harus dapat Tempat Tinggal (Sementara) - Masyarakat harus dapat Pelayanan Kesehatan PEMULIHAN (RECOVERY) Pemulihan Adalah proses dimana mayarakat dibantu oleh pihak yang berwenang untuk mengembalikan ke tempat yang pantas setelah terjadinya bencana. Pengertian pantas disini menyangkut substansi kejiwaan, harta, fisik atau infrastruktur yang ada. Proses pemulihan dapat cepat, lama bahkan lama sekali. Bisa dalam harian-mingguan, bulanan bahkan tahunan Beberapa Langkah Penting Tindakan Pemulihan : - Restorasi (perbaikan, pemugaran, penyembuhan) - Rehabilitasi (perbaikan, pemulihan) - Rekonstruksi (pembangunan kembali) Macam Aktivitas Pemulihan : - Restorasi pelayanan umum - Restorasi rumah yang dapat diperbaiki dan bangunan/instalasi lainnya - Penyediaan rumah/tempat tinggal sementara - Tindakan untuk membantu rehabilitasi fisik dan psikologis (trauma) penduduk yang menderita akibat dampak bencana - Tindakan (bisa pendek, menengah ataupun jangka panjang) rekonstruksi, termasuk mengganti bangunan dan infrastruktur yang rusak akibat bencana.