Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Kegiatan usaha dalam industri minyak dan gas bumi (migas) terbagi dalam dua kegiatan yaitu hulu (upstream) dan hilir (downstream). Kegiatan usaha hulu migas terdiri dari eksplorasi dan eksploitasi sedangkan kegiatan usaha hilir migas terdiri dari pengolahan, pengangkutan, penyimpanan dan niaga. Kunjungan lapangan ke Stasiun Pengisian Bulk Elpiji PT Patra Trading Madiun (SPBE Madiun) merupakan salah satu kegiatan praktek dari kurikulum Diklat Inspektur Migas Pertama, yaitu Jenis Peralata Industri Migas, Kunjungan SPBE Madiun. 1.2. Tujuan Tujuan dari diselenggarakannya kunjungan lapangan adalah sebagai berikut:
a. Peserta Diklat mendapatkan gambaran lebih jelas tentang kegiatan

Stasiun Penimbunan Bulk Elpiji (SPBE),


b. Peserta Diklat mendapatkan gambaran lebih jelas tentang sarana dan

prasana (sarfas) yang terdapat pada unit kegiatan Stasiun Penimbunan Bulk Elpiji (SPBE);
c. Peserta mendapat gambaran umum tentang hal-hal yang menjadi obyek
Laporan Fieldtrip Kawengan PEP Cepu Adi Santosa

inspeksi pada Stasiun Penimbunan Bulk Elpiji (SPBE).

1.3. Waktu dan Tempat Kunjungan dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 25 Mei 2012. Tempat kunjungan Stasiun Penimbunan Bulk Elpiji (SPBE) PT Patra Trading Madiun, Jawa Timur.

Page |1

1.4. Peserta Kunjungan terdiri dari 15 peserta diklat, tiga instruktur pendamping (Bpk Ikhsan Kholis, Bpk. Ichsan Muchtar dan Bpk. Risdiyanta) dan staf adminstrasi. Kunjungan diterima oleh Bapak Suyanto mewakili kepala Terminal BBM Madiun..

Page |2

Adi Santosa

Laporan Fieldtrip Kawengan PEP Cepu

Kegiatan usaha dalam industri minyak dan gas bumi (migas) terbagi dalam dua kegiatan yaitu hulu (upstream) dan hilir (downstream). Kegiatan usaha hilir migas terdiri dari kegiatan usaha Pengolahan, Penyimpanan, Pengangkutan dan Niaga yang pelaksanaannya berdasarkan Izin Usaha. Kunjungan lapangan ke Stasiun Pengisian Bulk Elpiji PT Patra Trading Madiun (SPBE Madiun) merupakan salah satu kegiatan praktek dari kurikulum Diklat Inspektur Migas Pertama, dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 25 Mei 2012. SPBE Madiun merupakan Badan Usaha yang bergerak di kegiatan hilir migas dengan Izin Usaha Penyimpanan. Adapun tujuan dari kunjungan lapangan ini menurut hemat saya adalah para peserta Diklat mendapatkan gambaran lebih jelas tentang sarana dan prasana (sarfas) yang terdapat pada area SPBE. Sebelum kegiatan ini dilaksanakan, peserta diklat telah mendapatkan pembekalan materi di kelas tentang inspeksi pompa, turbin, bejana tekan, inspeksi kegiatan produksi dan inspeksi kegiatan distribusi BBM yang diberikan oleh instruktur-instruktur dari Pusdiklat Migas Cepu. Tim yang berangkat ke SPBE PT Patra Trading Madiun terdiri dari 15 peserta diklat, tiga instruktur pendamping (Bpk. Ichsan Muchtar, Bpk. Risdiyanta dan Bpk. Ikhsan Kholis) dan beberapa staf adminstrasi. Sedangkan pemandu dari SPBE Madiun selama kunjungan lapangan adalah Bpk. Andriyatna selaku pengawas. Sebelum menuju ke SPBE Madiun, para peserta diklat dan instruktur disambut oleh perwakilan manajemen dari PT Pertamina TBBM Madiun dan diberikan paparan singkat tentang kegiatan operasi di TBBM Madiun serta safety briefing.
Laporan Fieldtrip Kawengan PEP Cepu

Page |3

Adi Santosa

Gambar 1 - Suasana Penyambutan di Ruang Pertamax TBBM Madiun


I.

COMPANY PROFILE SPBE PT PATRA TRADING MADIUN SPBE Madiun merupakan salah satu bidang usaha jasa Liquified Petroleum Gas

(LPG) yang dimiliki dan dioperasikan oleh PT Patra Trading. PT Patra Trading, didirikan pada tanggal 2 Januari 2003, merupakan perusahaan jasa tingkat nasional khususnya di bidang industri migas. PT Patra Trading adalah perusahaan terbatas yang bergerak di bidang jasa dan perdagangan umum dengan kepemilikan saham sebesar 98,58% oleh PT Patra Niaga (Anak Perusahaan PT Pertamina (Persero)) dan sisanya atau sebesar 1,42% oleh Dana Pensiun Elnusa (Dapenusa).

Dalam perkembangannya PT Patra Trading memiliki tiga bidang usaha: 1. Jasa LPG a. SPBE; b. Depot / Terminal LPG;
2. Jasa Non LPG

a. Retester Plant; b. Handling dan Distribusi; c. Fabrikasi Aksesori Tabung Elpiji;

Page |4

Adi Santosa

Laporan Fieldtrip Kawengan PEP Cepu

Gambar 2 - Logo PT Patra Trading

d. Blending Asphalt Multigrade; e. Bottling Plant Pelumas;


3. Petrochmeical Trading a. Polytam; b. Petrokimia (Minarex, Paraffinic); c. Solvent (SBPx, Pertasol, LAWS); d. Aspal (Straight run dan Modified); e. Sulphur; f. Greencokes, Slackwax;

Wilayah kerja SPBE PT Patra Trading di Indonesia berada di sekitar Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Untuk memudahkan dalam pengawasan dan pembinaan, PT Patra Trading membagi wilayah kerja SPBE menjadi tiga rayon:
1. Rayon-1 meliputi wilayah DKI Jakarta dan Jawa Barat. Rayon-1 memliki

sembilan SPBE dengan rincian pada Tabel 1. No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Nama SPBE SPBE Tanjung Gerem SPBE Tanjung Priok SPBE Plumpang SPBE Cikampek SPBE Padalarang SPBE Ujung Berung SPBE Balongan SPBE Cimangkok SPBE Tasikmalaya Depot BBM Lokasi Depot BBM Depot LPG Depot BBM Depot BBM Depot BBM
Laporan Fieldtrip Kawengan PEP Cepu Adi Santosa

Depot BBM Depot LPG

Tabel 1 - Daftar SPBE PT Patra Trading di Rayon-1

2. Rayon-2 meliputi wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Rayon-2 memiliki

sembilan SPBE dengan rincian pada Tabel 2.


Page |5

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Nama SPBE SPBE Cilacap SPBE Tegal SPBE Rewulu SPBE Cepu SPBE Tanjung Perak SPBE Madiun SPBE Malang SPBE Jember SPBE Tanjung Wangi

Lokasi Depot LPG

Depot BBM

Depot LPG Depot BBM Depot BBM Depot BBM Depot BBM

Tabel 2 - Daftar SPBE PT Patra Trading di Rayon-2


3. Rayon-3 meliputi wilayah Sumatera. Rayon-3 memliki empat SPBE dengan

rincian pada Tabel 3. No. 1 2 3 4 Nama SPBE SPBE Pulau Layang SPBE Tandem SPBE Dumai SPBE Pangkalan Susu Lokasi Depot LPG Depot LPG Depot LPG Depot LPG
Laporan Fieldtrip Kawengan PEP Cepu Adi Santosa

Tabel 3 - Daftar SPBE PT Patra Trading di Rayon-3 PT Patra Trading dipimpin oleh seorang Direktur Utama yang membawahi Direktur Marketing dan Operasi. Dalam menjalankan operasi, SPBE Madiun dipimpin oleh seorang Kepala SPBE yang bertanggung jawab langsung kepada Manager Operasi LPG. Salah satu wewenang dan tanggung jawab Manager Operasi LPG yaitu merencanakan dan mengawasi pelaksanaan program dan sistem manajemen HSE dan maintenance peralatan pengisian untuk menjamin ketaatan pekerja dalam melaksanakan pekerjaan dengan peralatan yang layak operasi.

Page |6

Gambar 3 - Struktur Organisasi PT Patra Trading Pola supply dan distribusi LPG dari hulu sampai ke hilir dapat dilihat pada Gambar 4. Depot atau Terminal LPG memperoleh sumber LPG dari tanker pengangkut LPG dan kilang / unit pengolahan LPG dan LNG. SPBE mendapatkan supply LPG dari Depot LPG yang diangkut dengan menggunakan skid tank atau kendaraan angkut darat. SPBE kemudian menyalurkan LPG dalam bentuk tabung Elpiji (bulk) berukuran 3 kg, 12 kg, dan 50 kg untuk didistribusikan kepada dealer atau agen tabung LPG untuk
Laporan Fieldtrip Kawengan PEP Cepu Adi Santosa

dipasarkan kepada konsumen akhir.

Page |7

Gambar 4 - Pola Supply dan Distribusi LPG

II.

HASIL KUNJUNGAN LAPANGAN SPBE Madiun yang berada di wilayah kerja Rayon-2 lokasinya berada di dalam

area PT Pertamina TBBM Madiun seperti pada Gambar 5.

Gambar 5 - Lokasi SPBE Madiun yang berada di area TBBM Madiun III.1. Proses Pengisian Tabung LPG Supply LPG di SPBE Madiun berasal dari Depot LPG yang diangkut menggunakan skid tank atau alat angkut darat. Setelah itu dilakukan proses transfer LPG dari skid tank ke tangki penimbun berupa bejana tekan tipe horizontal dengan kapasitas 30.000

Page |8

Adi Santosa

Laporan Fieldtrip Kawengan PEP Cepu

MT. LPG dari tangki penimbun dikirim ke Bottling Plant melalui pipa penyalur menggunakan pompa. Terdapat kompresor untuk mengirim LPG yang sudah berubah fase menjadi vapour kembali ke tangki penimbun. Di area Bottling Plant dilakukan proses pengisian tabung LPG menggunakan filling machine. Setelah pengisian selesai dipasang seal cup pada tabung kemudian dilakukan leakage test dengan mencelup tabung LPG yang sudah terisi. Jika tidak ditemukan kebocoran, tabung LPG dimasukan ke truk penyalur untuk didistribusikan ke dealer atau agen.

Gambar 6 - Skematik Proses Pengisian LPG di SPBE Madiun III.2. Proses Transfer LPG ke Tangki Penimbun Proses transfer LPG dari skid tank ke tangki penimbun merupakan kegiatan transfer terdapat uap LPG yang menyebar disekitar Connector Coupling. Menurut teori segitiga api yang cukup populer dalam dunia migas, proses terbentuknya api disebabkan oleh tiga unsur utama yaitu terdapat bahan bakar (dalam hal ini vapour LPG), oksigen dan panas. Dua unsur sudah terpenuhi yaitu bahan bakar dan oksigen. Panas atau percikan pada saat transfer kemungkinan besar ditimbulkan oleh listrik statis dari sambungan flexible hose ke skid tank. Untuk mengantisipasi hal ini bounding cable pada skid tank harus dipastikan terpasang dengan baik sebelum proses transfer dan prosedur transfer LPG harus dijalankan dengan baik.
Laporan Fieldtrip Kawengan PEP Cepu Adi Santosa

dengan resiko yang paling tinggi di SPBE. Hal ini dikarenakan pada saat proses

Page |9

Gambar 7 - Connector Coupling pada Skid Tank Terdapat dua valve pada manifold yaitu valve untuk liquid (LPG) dan valve untuk vapour. Kedua valve tersebut dihubungkan dengan flexible hose untuk disambung ke pipa penyalur LPG menuju tangki penimbun. LPG disalurkan dari skid tank ke tangki penimbun menggunakan pompa sedangkan vapour LPG menggunakan kompresor. Pada pipa penyalur vapour terdapat alat pengaman berupa Emergency Shutdown Valve (ESDV) yang akan menutup apabila terjadi over pressure dari arah upstream ESDV yang melebihi setting switch high-nya untuk mengamankan instalasi di area downstream ESDV. Selain itu juga tersedia APAR dan gas detector di area loading ini untuk menjamin keamanan selama proses transfer serta air sabun untuk keperluan leakage test.
Laporan Fieldtrip Kawengan PEP Cepu

P a g e | 10

Adi Santosa

Gambar 8 - ESDV pada Pipa Penyalur Uap LPG III.3. Proses Transfer LPG ke Bottling Plant Klasifikasi area di dalam SPBE adalah Zona 1 yaitu vapour hanya ada pada saat operasi, karena proses pengisian tabung LPG pada SPBE menggunakan sistem batching atau tidak continue. SPBE Madiun memiliki satu unit tangki penimbun LPG dengan kapasitas 30,000 MT. Proses transfer LPG dari tangki penimbun ke Bottling Plant dilakukan melalui pipa penyalur yang disambung pada bagian bawah tangki penimbun untuk selanjutnya LPG didorong ke Bottling Plant dengan bantuan pompa. LPG yang berubah fase menjadi vapour pada saat transfer akan dikirim balik ke tangki penimbun dengan bantuan kompresor gas melalui return line.

Gambar 9 - Pompa untuk Transfer LPG dari Tangki Penimbun ke Bottling Plant III.4. Proses Pengisian Tabung LPG Proses pengisian tabung LPG dilakukan dalam bottling plant atau filling hall. Bottling Plant dirancang dalam kondisi terbuka dengan lingkungan luar dengan shelter sebagai penutup. Dasar pertimbangannya adalah agar uap LPG yang berada disekitar Bottling Plant dapat langsung terbawa oleh angin, karena uap LPG memiliki berat jenis lebih berat dari udara sehingga cenderung mengumpul di bawah. Dari pengamatan di lapangan, SPBE Madiun hanya melakukan pengisian tabung LPG ukuran 3 kg. Di dalam area Bottling Plant terdapat beberapa prosedur yang harus dipahami oleh para operator dalam bekerja yaitu: 1. Petunjuk tata cara penyusunan tabung;
Laporan Fieldtrip Kawengan PEP Cepu Adi Santosa

P a g e | 11

2. Petunjuk tata cara pengisian LPG ke tabung;


3. Instruksi kerja proses pengisian mesin pengisian (filling machine); 4. Instruksi kerja LPG pump;

5. Instruksi kerja pengoperasian kompresor gas; 6. Instruksi kerja ESDV; dan 7. Petunjuk tata cara penanggulangan keadaan darurat dan organisasinya; Berikut ini petunjuk tata cara pengisian LPG ke tabung:
1. Periksa dan setting timbangan;

2. Periksa dan yakinkan bahwa fasilitas lainnya dalam keadaan siap operasi; 3. Periksa kondisi tabung LPG apakah memenuhi persyaratan; 4. Periksalah berat tabung kosong;
5. Tekanan pengisian maksimal 13 kg/cm2; 6. Yakinkan filling machine, filling hoses dan filling head dalam kondisi baik; 7. Lakukan setting timbangan pada berat yang dikehendaki secara otomatis; 8. Pastikan rubber seal sebelum LPG diisikan;

9. Tabung agar diisi dengan teliti dan tepat;


10. Pastikan koneksi filling head dan kerangan tabung terhubung dengan baik; 11. Lakukan tes kebocoran (leakage test) dengan direndam ke dalam air;

12. Lakukan penimbangan ulang tabung;


13. Pasang safety seal cap; 14. Bila kegiatan selesai, tutup semua kerangan dan matikan filling machine; 15. Bersihkan

area

pengisian

dan

semprotkan

udara

bertekanan

untuk
Laporan Fieldtrip Kawengan PEP Cepu Adi Santosa

menghilangkan sisa-sisa LPG yang tertinggal dibawah conveyor.

P a g e | 12

Gambar 10 - Proses Pengisian LPG oleh Operator di Bottling Plant Terdapat alat-alat pengaman pada instalasi di area Bottling Plant antara lain water sprinkler, Pressure Safety Valve (PSV) pada sistem perpipaan dan pompa, gas detector, ESDV dan emergency button serta APAR. III.5. Fasilitas Pemadaman Kebakaran Untuk mengantisipasi apabila terjadi kebakaran, SPBE Madiun dilengkapi juga dengan fasilitas pemadaman kebakaran antara lain alarm system, muster point, APAR, fire hydrant, fire hose, fire pump house dan kolam penampung air (water pond). Apabila diperlukan bantuan tambahan, SPBE Madiun dapat bekerja sama dengan PT Pertamina TBBM Madiun karena lokasinya yang berdekatan dan juga untuk melindungi aset TBBM Madiun. Selain itu juga pada tangki penimbun LPG yang merupakan the most critical item terdapat water sprinkler yang berada di bagian atas dan di bagian dinding untuk mendinginkan bagian luar tangki penimbun dari radiasi panas.
Laporan Fieldtrip Kawengan PEP Cepu Adi Santosa

P a g e | 13

Gambar 11 - Fire Pump House dan Water Pond di SPBE Madiun III.6. Fasilitas Pengolahan Limbah SPBE Madiun memiliki fasilitas pengolahan limbah berupa oil catcher untuk mencegah limbah berupa minyak yang berasal dari kegiatan operasi SPBE Madiun agar tidak masuk ke saluran air di luar SPBE Madiun.

Gambar 12 - Fasilitas Oil Catcher di SPBE Madiun III. REKOMENDASI Berikut ini beberapa poin positif dari SPBE Madiun: 1. Secara umum area SPBE Madiun terlihat bersih dan rapih; 2. Para operator menyusun tabung LPG yang sudah terisi ke bak truk penyalur dengan baik, tidak dengan cara dilempar; Berikut ini beberapa poin dari SPBE Madiun yang dapat diperbaiki: 1. Denah SPBE Madiun yang dipasang pada pintu masuk posisinya terbalik;
2. Beberapa operator di area Bottling Plant tidak menggunakan masker;
Laporan Fieldtrip Kawengan PEP Cepu Adi Santosa

3. Arah aliran atau marking flow pada pipa penyalur masih terlihat jelas

3. Tabung yang ditumpuk ada yang tidak diikat dengan tali baja; dan
4. Papan prosedur di Bottling Plant ada yang terhalang oleh tumpukan tabung;

P a g e | 14

Gambar 13 - Papan Prosedur yang Terhalang oleh Tabung LPG IV. PENUTUP Kunjungan lapangan ini memberikan tambahan pengetahuan dan pengalaman di lapangan khususnya tentang sarana dan fasilitas di area SPBE Madiun. Untuk kedepannya saya menyarankan agar peserta diklat diberikan dokumen company profile SPBE Madiun dalam bentuk softcopy ataupun hardcopy sehingga dapat dijadikan referensi yang lebih baik, selain itu juga akan lebih baik lagi jika para peserta dapat melihat simulasi pemadaman kebakaran atau emergency drill oleh regu pemadam secara langsung di area SPBE Madiun. Cepu, Mei 2012

P a g e | 15

Adi Santosa

Laporan Fieldtrip Kawengan PEP Cepu

Ilham Rakhman Hakim, S.T.