Anda di halaman 1dari 8

IDENTIFIKASI DAN DETERMINASI HEWAN (AVERTEBRATA DAN VERTEBRATA)

Oleh : Nama NIM Rombongan Kelompok Asisten : Anjar Astuti Ferdhiani : B1J010155 :I :1 : Agus Hermawan Ramadhan

LAPORAN PRAKTIKUM TAKSONOMI HEWAN

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2012

I. A.

PENDAHULUAN Latar Belakang

Identifikasi adalah tugas untuk mencari dan mengenal ciri-ciri taksonomik individu yang beraneka ragam dan memasukannya ke dalam suatu takson. Identifikasi berhubungan dengan ciri-ciri taksonomik dalam jumlah sedikit idealnya satu ciri dan akan membawa spesimen ke dalam kunci determinasi. Identifikasi berdasarkan pemikiran yang bersifat deduktif. Klasifikasi adalah penataan hewan-hewan ke dalam kelompok yang didasarkan atas kesamaan dan hubungan mereka. Klasifikasi berbeda dengan identiikasi, klasifikasi bersifat induktif. Klasifikasi berhubungan dengan upaya mengevaluasi sejumlah besar ciri-ciri idealnya seluruh ciri yang dimiliki. Identifikasi dan pengenalan kelompok dan jenis hiewan merupakan bagian yang sangat penting dalam taksonomi. Salah satu alat bantu identifikasi adalah kunci (identifikasi) yang dipakai untuk menentukan kedudukan hewan dalam sistematika hayati. Ada kunci untuk menentukan Filum (Phylum), Kelas (Class), Bangsa (Ordo), Suku (Family), Marga (Genus), dan Jenis (Species) hewan. Ada berbagai cara untuk menyusun sebuah kunci. Susunan yang paling praktis adalah kunci dengan deskripsi umum dan singkat yang disusun secara berpasangan (dikotom). Kunci ini dapat digunakan untuk memilih satu diantara dua kemungkinan yang ada. Jika spesimennya sangat unik, biasanya salah satu diantara dua pilihan deskripsi yang diberikan kunci akan cocok. Kunci merupakan alat bantu yang sangat penting dalam taksonomi. Kunci juga dapat bersifat membatasi upaya identifikasi. Sebuah spesimen yang unik atau menyimpang dari karakteristik umum akan mustahil teridentifikasi oleh kunci yang bersifat umum. Identifikasi adalah tugas untuk mencari dan mengenal ciri-ciri taksonomik individu yang beraneka ragam dan memasukkannya ke dalam suatu takson (Jasin,1989). B. Tujuan

Tujuan praktikum acara identifikasi dan determinasi hewan avertebrata dan vertebrata adalah : 1. Mengenali ciri-ciri hewan avertebrata dan vertebrata yang dapat dilihat dengan mata telanjang atau menggunakan alat bantu. 2. Melakukan identifikasi dan determinasi hewan avertebrata dan vertebrata dan mendeskripsikan hewan yang telah diidentifikasi dan dideterminasi.

II. MATERI DAN METODE

A.

Materi

Materi yang diamati adalah paku dan baut yang berbeda. Alat yang digunakan yaitu buku gambar, kamera dan alat tulis.

B.

Metode

1. 2.

Preparat yang akan diamati dibawa oleh masing-masing kelompok Preparat diidentifikasi dan diklasifikasikan berdasarkan ciri-ciri yang diamati

3.

Preparat dibuat pohon filogenetiknya, ditentukan tetua, outgroup dan ingroupnya

4. 5.

Dibuat kunci determinasinya Digambar

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil praktikum identifikasi dan determinasi didapatkan tetua yaitu skrup. Tetua memiliki tanda-tanda atau ciri-ciri yang terdapat pada semua organisme perkembangannya (Jasin,1989). Paku kayu memiliki ciri-ciri yaitu batangnya tidak berulir, ujungnya runcing, kepalanya tidak bertanda dan bentuknya bulat berkerabat dekat dengan paku seng karena ciri-cirinya yang hampir sama namun ada perkembangan pada kepalanya yang berbentuk payung. Paku asbes memiliki ciri-ciri kepala bentuk payung, batang berulir,

ujungnya lancip berkerabat dekat dengan skrup runcing, skrup runcing memiliki tanda di kepalanya dan panjang batangnya lebih pendek. Runcing berulir memiliki ci-ciri kepala bentuk corong, bertanda, batang berulir dan ujungnya lancip. Skrup yang pada pohon filogeni ini adalah sebagai tetua yang ciri-cirinya dimiliki oleh semua sekrup dan baud. Ciri-ciri skrup adalah batang berulir, kepala bentuk corong, kepala bertanda dan ujungnya tumpul. Skrup tumpul memiliki kepala bulat, batang berulir, ujung tumpul. Sisi segi enam perak berkerabat dengan emas besar dan emas ramping. Emas besar dan emas ramping berkerabat dekat karena ciri-ciri yang hampir sama yaitu batang berulir, ujung

tumpul, kepala segi enam dan ujung tumpul hanya pada emas besar ukuran batang lebih besar dari emas ramping. Semua paku dan skrup ini disebut in group yang memiliki kekerabatan yang dekat atau satu familia, sedangkan out group dipilih didasarkan kepada cincin segienam emas besar, cincin segienam emas kecil dan cincin segiempat perak merupakan sister group untuk famili yang dipilih menjadi ingroup (Hidayat,2008). Filogenetik adalah studi yang membahas tentang hubungan kekerabatan antar berbagai macam organisme melalui analisis molekuler dan morfologi. Fenetik adalah suatu studi yang mengklasifikasikan berbagai macam organisme berdasarkan kesamaan atau kemiripan morfologi dan sifat lainnya yang bisa diobservasi tidak tergantung pada asal evolusi organisme bersangkutan (Watson,1975).Menurut teori evolusi, spesies biologi yang ada telah dikaitkan di masa lalu oleh nenek moyang yang sama. Setelah Darwin, ilmuwan banyak mempresentasikan hubungan kekerabatan dengan pohon, yang disebut filogeni. Leluhur dari kelompok tertentu spesies, seperti vertebrata, telah meninggalkan catatan fosil tentang keberadaan mereka yang dapat digunakan untuk dijadikan perbandingan dengan spesies yang serupa. Hal ini telah menyebabkan tingkat kesepakatan struktur pohon kekerabatan kelompok tersebut (Foulds dan Graham,1982). Biologi Evolusioner, sejarah spesiasi dari keluarga terkait atauganisms umumnya direpresentasikan secara grafis oleh aphylogeny, yaitu pohon dimana daun adalah (masih ada) yang diamati spesies dan cabang-cabang didicate peristiwa spesiasi. Pendekatan tradisional untuk merekonstruksi phylogenies dari homolog urutan molekul diekstrak dari yang diamati

spesies (Daskalakis,2009). Kekerabatan merupakan suatu gambaran hubungan organisme yang satu dengan yang lain, baik yang sekarang ada maupun yang hidup di masa silam selama perkembangan sejarah filogenetiknya. Dalam sistematika, jauh dekatnya hubungan antarkesatuan taksonomi dapat ditinjau dari dua sudut, yaitu fenetik dan filogenetik. Kekerabatan fenetik ditentukan oleh banyaknya filogenetik persamaan sifat-sifat ditentukan yang tampak, sedangkan nenek kekerabatan sesuai

berdasarkan

asal-usul

moyang

perkembangan atau proses evolusi. Fenetik sering dipakai karena caranya yang mudah karena dilihat dari ciri morfologi yang tampak (Davis dan Heywood, 1973). Identifikasi adalah tugas untuk mencari dan mengenal ciri-ciri taksonomi individu yang beraneka ragam dan memasukkannya dalam suatu takson. Kunci

identifikasi adalah bahan cetakan atau alat yang dibantu oleh komputer untuk mengidentifikasi organisme biologi atau tipe lain. Kunci identifikasi tradisional yang ada umumnya adalah bentuk kunci berakses tunggal, khususnya kunci dikotom. Kunci dikotom berupa rangkaian langkah-langkah yang pasti, yang masing-masing memiliki alternatif ganda dan pilihan itu menentukan langkah berikutnya. Kunci berakses ganda yang memungkinkan pengguna secara bebas memilih langkah-langkah identifikasinya. Identifikasi yang sempurna

membutuhkan perbandingan dengan spesimen atau gambar yang telah diidentifikasi oleh pihak yang berwenang (Farris,1972). Kunci determinasi paku-pakuan : 1.a. Paku berujung runcing..................................................................................(2) b. Paku berujung tumpul.................................................................................. (6) 2.a. Paku yang berkepala corong....................................................(corong berulir) b. Paku yang berkepala bulat...........................................................................(3) 3.a. Paku dengan berkepala bertanda............................................(skrup runcing) b. Paku dengan berkepala tidak bertanda........................................................(4) 4.a. Paku yang berulir.........................................................................(paku asbes) b. Paku yang tidak berulir.................................................................................(5) 5.a. Paku yang berkepala payung.........................................................(paku seng) b. Paku yang tidak berkepala payung................................................(paku kayu) 6.a. Paku dengan kepala yang tidak segi enam.................................................(7) b. Paku dengan kepala segi enam...................................................................(8) 7.a. Paku yang bertanda (+)........................................................................(skrup) b. Paku yang bertanda (-)..............................................................(skrup tumpul) 8.a. Paku yang berwarna perak..................................................(segi enam perak) b. Paku yang berwarna emas...........................................................................(9) 9.a. Paku besar...................................................................................(emas besar) b. Paku kecil.................................................................................(emas ramping)

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Ciri-ciri paku baut yang digunakan sebagai simulasi pohon filogenetik hewan avertebrata dan vertebrata adalah berulir, tidak berulir, ujung lancip, ujung tumpul, kepala payug, kepala bulat, kepala bertanda, tidak bertanda, kepala segi enam, kepala tidak segi enam , warna perak , warna emas. 2. Corong berulir, skrup runcing, paku asbes, paku seng, paku kayu, skrup, skrup tumpul, segi enam perak, segi enam emas, emas besar, emas ramping termasuk in group dan cincin segi enam emas besar, cincin segi enam emas kecil dan cincin segi empat perak merupakan out group.

B. Saran Memerlukan pemahaman yang lebih luas dan ketelitian, terkadang masih sulit menentukan tetua dan kekerabatannya.

DAFTAR REFERENSI

Daskalakis, C. 2009. Phylogenies without Branch Bounds: Contractingthe Short, Pruning the Deep. Davis, PH dan Heywood, 1973. Principle of Taxonomy.Olyver and Boyd London. Farris, J.S. 1972. Natur. 645-668 Foulds, L.R dan Graham, R.L. 1982. The Steiner Problem in Phylogeny Is NPComplete.Advances in Applied Mathematics 3, 43 49. Hidayat, T. 2008. Analisis Filogenetik Molekuler pada Phyllanthus niruri L (Euphorbiaceae) Menggunakan Urutan Basa DNA Daerah Internal Transcribed Spacer (ITS). Jurusan Pendidikan Biologi, Fakultas Pendi dikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Jasin, M. 1989. Sistematika Hewan Vertebrata dan Invertebrata. Sinar Wijaya, Surabaya. Watson, J.D. 1975. Molecular Biology of the Gene. 3rd. Benjamin, Menlo Park, Calif.