Anda di halaman 1dari 4

Pendidikan Indonesia, Wajahmu Kini Indikator suatu bangsa yang besar bisa ditilik dari beberapa hal, salah

satunya kemajuan tingkat pendidikan masyarakat yang ada di dalamnya. Pertanyaan besar yang selanjutnya muncul adalah bagaimana dengan Indonesia? Sudahkah kita termasuk kategori bangsa yang besar bila dilihat dari segi tersebut? Sayangnya kenyataan di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Meskipun telah mengecap manisnya janji kemerdekaan selama hampir 67 tahun, akan tetapi masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan terkait bidang ini. Mulai dari biaya pendidikan yang dirasa semakin mahal sehingga semakin me-marjinal-kan kaum menengah ke bawah. Persoalan guru honorer yang hampir setiap tahunnya tak pernah alpha mengunjungi wakil-wakil mereka yang duduk di kursi empuk senayan. Banyaknya SDM guru yang tiap tahunnya dihasilkan perguruan tinggi, tetapi tidak diimbangi dengan persebaran guru yang merata sehingga hanya menambah penumpukan guru pada beberapa titik. Hingga debat kusir mengenai UNAS yang dirasa bagi sebagian orang adalah sarana pemaksaan siswa untuk belajar. Menyoroti permasalahan yang terakhir, UNAS seharusnya bukanlah sarana untuk memaksa anak-anak kita belajar. Apabila UNAS memang dimaksudkan untuk memaksa mereka belajar maka secara tidak langsung kita telah mengakui bahwa sistem pendidikan yang ada saat ini telah gagal membuat generasi penerus kita nyaman untuk belajar. Padahal belajar bukan hanya soal rutinitas pertukaran ilmu antara guru dan murid. Belajar adalah kesediaan dan keikhlasan seseorang untuk mendapatkan suatu pengetahuan yang baru, dan hal tersebut tidak hanya terbatas di dalam kelas. Disisi lain, sebagaimana kita ketahui bersama UNAS yang sejatinya dirancang untuk melihat pencapaian generasi-generasi muda kita, dalam penerapannya justru menimbulkan celah-celah penyimpangan yang sifatnya sistemik. Masih segar di ingatan saya kejadian unik di salah satu SD di Surabaya dimana seorang anak beserta keluarganya menjadi bulan-bulanan warga sekitar hanya karena dia menolak untuk memberikan contekan kepada temannya sesuai instruksi sang guru. Bayangkan, seorang anak kecil yang telah mengumpulkan keberanian sedemikian rupa untuk menolak instruksi dari gurunya karena dia berusaha untuk tetap memegang nilai kejujuran justru dikucilkan dan disalahkan oleh lingkungan sekitarnya Bagaimana hal ini bisa terjadi, bukankah pendidikan sudah sewajarnya menjadi salah satu sarana untuk menanamkan

nilai-nilai moral kepada generasi muda kita? Mengapa justru demi memenuhi standar pendidikan, nilai moral ditanggalkan? Apabila diamati lebih jauh, fenomena ini tidak lain karena UNAS sendiri telah berubah wujud menjadi momok yang menakutkan, tidak hanya di mata siswa, tetapi juga di mata guru dan orang tua. Embel-embel Lulus dan Tidak Lulus nyatanya cukup bisa mendorong orang untuk menggadaikan nilai moralnya. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya laporan kasus kecurangan yang terjadi selama UNAS berlangsung. Lebih mencengangkan saat diketahui bahwa kecurangan ini tidak hanya melibatkan para siswa, tetapi juga beberapa oknum guru. Guru yang dalam bahasa jawa sering diartikan sebagai sosok yang digugu (baca: didengarkan) dan ditiru pada beberapa kasus justru menunjukkan perilaku yang sangat berkebalikan dengan perilaku yang seharusnya dilakukan seorang guru. Menyikapi persoalan tersebut, maka sudah sewajarnya kita turut andil dalam pemecahan solusinya. Bagi saya pribadi, semua hal ini juga disebabkan oleh bergesernya pola pendidikan yang diterapkan ke arah pengajaran, bukan lagi pendidikan. Kedua kata ini meskipun sekilas terlihat sama, akan tetapi nyatanya memiliki perbedaan yang lumayan besar. Menurut KBBI pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Dari pengertian diatas maka jelas bahwa pengajaran hanyalah sebagian kecil dari pendidikan. Dimana pengajaran sendiri memiliki arti proses, cara, perbuatan mengajar atau mengajarkan. Padahal ajar yang merupakan kata dasar dari pengajaran memiliki arti petunjuk yg diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut). Berdasarkan gramatikalnya saja bisa dilihat bahwa kedua kata yang seringkali dianggap sama ini memiliki tujuan yang berbeda. Pendidikan memiliki tujuan untuk mendewasakan manusia melalui pengubahan sikap dan tata laku. Sedangkan pengajaran bertujuan untuk membuat pihak yang diajar mengerti. Hanya sebatas itu saja, tidak ada proses pendewasaan. Anak-anak kita terbiasa mengikuti petunjuk yang telah diberikan. Maka tidak heran apabila output dari sistem sekarang kebanyakan hanyalah generasi-generasi yang sekedar berilmu, sekedar mengerti tapi kurang memahami esensi dibalik ilmu tersebut.

Maka,pertama-tama yang bisa kita lakukan adalah mengembalikan hakikat pendidikan kepada pendidikan itu sendiri, bukan hanya berhenti di pengajaran. Termasuk di dalamnya pendidikan karakter, penanaman nilai moral kepada generasi muda. Karena di pundak merekalah masa depan bangsa ini akan ditentukan 20 hingga puluhan tahun mendatang. Dalam prosesnya, pendidikan karakter ini perlu mendapat dukungan dan kerja sama dari semua pihak. Menyerahkan semua tanggung jawab tersebut hanya kepada guru sebagai eksekutor sama artinya dengan nonsense. Mengingat bahwa sejatinya pendidikan tidak hanya berjalan selama pembelajaran di sekolah formal, akan tetapi berjalan secara kontinyu di semua sendi kehidupan. Terlebih apabila kita mau sedikit jujur, sebenarnya interaksi siswa dengan sekolah hanya memakan maksimal sepertiga waktu mereka tiap harinya. Bagaimana mungkin hal tersebut bisa memberikan efek optimal apabila tidak diimbangi dengan kolaborasi pihak lainnya (keluarga dan lingkungan sekitar). Semua ini akan sangat mungkin dijalankan apabila setiap orang ingat bahwa mendidik adalah kewajiban setiap orang yang terdidik (Anies Baswedan). Pendidikan karakter ini bisa dilakukan melalui berbagai hal, salah satunya melalui penguatan dasar ilmu agama. Hal ini dikarenakan setiap agama pastinya akan mengajarkan nilai-nilai moral yang baik kepada pengikutnya. Sehingga output yang dihasilkan bukan hanya generasi penerus yang pintar, tetapi cerdas, berkarakter dan menjunjung tinggi nilai moral. Dengan generasi-generasi penerus yang unggul saya yakin Indonesia kedepan akan mampu menjadi bangsa yang besar bukan hanya dari segi jumlah penduduknya, tetapi besar dalam artian yang sebenarnya. Masih dengan semangat hari pendidikan nasional mari kita bersama-sama bahu membahu untuk memperbaiki pendidikan kita sesuai dengan peranan kita masing-masing.

Nama Fakultas Universitas Email Telepon Alamat

: Tri Hadiah Muliawati (Lely) : Teknik Informatika : Politeknik Elektronika Negeri Surabaya : lelylee92@gmail.com : 08564 6263 623 : Puter, Kembang Bahu, Lamongan