Anda di halaman 1dari 3

Abaca ROTE alias PISANG ABACA Wednesday, September 06, 2011 09:02 AM ROTE alias Pisang AbacaBahan Baku

Uang DollarOleh:PAULUS LONDO Mungkin, belum banyak yang tahu, bahwa uang Dollar yang mengisi dompet Presiden Amerika Serikat dan para artis ternama Hollywood, terbuat dari serat pisang. Dan bahan bakunya boleh jadi didatangkan dari Indonesia dan negara di Asia Tenggara lainnya. Jenis pisang penghasil serat terbaik itu adalah Pisang Abaca (nama ilmiahnya: Musa textilis NEE). Pisang ini termasuk famili Musaceae dan ordo Scitanineae. Sedangkan masyarakat mengenalnya dengan sebutan Pisang Serat, Manila Henep, Pohon Kofo atau Hote (Sangihe) Rote (Talaud). Pisang Abaca sebagai penghasil serat terbaik sudah terkenal jauh sejak awal abad 20. Bahkan pada jaman Hindia Belanda, telah ada perkebunan Abaca di beberapa daerah antara lain di Minahasa pada tahun 1853, kemudian di Jawa, Sumatera Selatan, dan Lampung pada tahun 1905, di daerah Besuki Jawa Timur pada tahun 1915. Namun, karena harganya kurang menggembirakan, masyarakat kemudian berhenti menanamnya. Tapi, belakangan serat Abaca kian menjanjikan di pasar dunia, dan penanaman Abaca kembali mendapat perhatian para pelaku bisnis.Membaiknya harga serat Abaca berlangsung seiring dengan meningkatnya kebutuhan akan serat berkualitas tinggi untuk bahan baku kertas uang, kertas chaque dan berbagai kertas yang termasuk dalam sequrity papers lainnya, memiograph, kantong teh celup, tissue, dan lain-lain juga untuk tekstil, geotekstil, dan karpet.Peluang pasar serat Abaca di pasar global cenderung terbuka luas. Permintaan dari Jerman, Belanda, Prancis, Jepang, Spanyol, Denmark, Amerika, Inggris, dan Kanada terus meningkat. Kondisi ini menunjukkan adanya peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan areal dan produksi Abaca sebagai komoditas ekspor non-migas. Pisang JantanBerbeda dengan tanaman pisang pada umumnya, pisang Abaca tidak menghasilkan buah yang dapat dimakan. Meski kerap pisang Abaca mengeluarkan buah, namun agak keras dan kecil sehingga masyarakat menyebutnya sebagai pisang jantan. Hasil utama dari pisang ini serat (fibre) yang terkenal dalam perdagangan internasional sebagai jenis serat berkualitas tinggi.Dibanding dengan serat kayu, serat pisang Abaca memang jauh lebih baik, karena tahan terhadap pengaruh air garam. Karena itu serat Abaca banyak dijadikan pembungkus kabel bawah laut atau tali temali pada kapal. Namun serat pisang abaca (untuk selanjutnya disebut sebagai serat abaca) juga banyak dipakai untuk bahan baku pulp kertas bermutu tinggi seperti kertas uang, cek, kertas filter dan kertas pembungkus.Perdagangan serat Abaca sempat merosot tajam karena terdesak oleh serat-serat yang berasal dari bahan sintetik. Akibatnya masyarakat pun mengalihkan penanaman Abaca ke jenis tanaman yang lain. Tapi, seiring dengan berkembangnya kampanye pemakaian bahan baku terbarukan, terutama pembatasan pemakaian bahan sintetik, penggunaan serat Abaca untuk industri belakangan kian meningkat.Sebenarnya, untuk mengurangi penggunaan serat kayu yang berdampak pada penebangan hutan, Indonesia dapat menggalakkan kembali penanaman Pisang Abaca untuk memenuhi kebutuhan pabrik kertas. Apalagi daur hidup Abaca termasuk singkat.Selain pelepahnya menghasilkan serat bermutu tinggi, hati batangnya pun bermanfaat untuk makanan ternak. Sedangkan daunnya dapat dijadikan bahan bahan tissue.Keunggulan budi daya Abaca antara lain, tidak menyebabkan tanah rusak bahkan dapat dipakai untuk merehabilitasi lahan kritis, tidak perlu perawatan rumit, bebas penjarahan, dapat dijadikan barrier area untuk pencegahan kebakaran hutan dan merupakan tanaman produktif dan berkelanjutan.Secara agronomis penanaman pisang abaca di Indonesia sangat sesuai, mengingat tanaman pisang abaca adalah tanaman yang berasal dari daerah tropis. Selain itu pisang ini sudah pernah dikembangkan secara komersial dalam areal yang besar.

Sedangkan dukungan ketersediaan lahan sangat memungkinkan untuk di kembangkan misalnya di daerah Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara (terutama Halmahera), Irian Jaya sebagian Sumatera dan Jawa, tentunya untuk lokasi-lokasi yang memiliki agroklimat yang sesuai untuk tanaman ini.Di sisi lain peluang pengembangan perkebunan pisang abaca pada saat ini semakin terbuka dengan semakin potensialnya pasaran internasional, terutama untuk memenuhi permintaan negara-negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Potensi pasar internasional tercatat sebesar 600.000 ton serat abaca per tahun. Untuk memenuhi potensial demand tersebut, Filipina adalah produsen utama dengan share sebesar 80.000 ton dan diikuti Equador sebesar 10.000 ton . Dengan demikian, permintaan pasar masih belum terpenuhi, sehingga pengembangan pisang abaca di Indonesia masih sangat terbuka, apalagi sumber daya alamnya sangat mendukung. Penyeratan Abaka merupakan salah satu jenis pisang yang tumbuh baik di daerah tropika. Abaka ditanam untuk diambil seratnya, yaitu dari batangnya yang merupakan kumpulan dari pelepah-pelepah daun. Serat abaka digunakan seeaJ'a luas karena keunggulan seratnya. Kegunaan serat abaka diantaranya adalah sebagai bahan baku tali kapal, pembungkus kabel laut, bahan tekstil, pembungkus teh eelup, pembungkus tembakau, jok kursi, kerajinan tangan, kertas sigaret, pamper bayi, tenun kasal', kertas tisu, dan sebagai bahan baku uang kertas serta sebagai bahan pembuat kertas berharga. Untuk mengembangkaJl serat abaka salah satunya harus didukung dengan pengembangan alat penyerat abaka yang mampu menyerat dengan kapasitas tinggi, hasil seratannya bagus. Mesin penyerat pi sang abaka yang diraneang menggunakan tenaga motor Iistrik 1 HP yang menghasilkan tenaga putar, disalurkan untuk mcnggerakkan mesin penyerat abaka. Dalam mengoperasikan mesin ini membutuhkan seorang operator dengan tingkat ketrampilan biasa, tidak memerlukan keahlian khusus. Proses penyeratan dengan mesin penyerat abaka ini prinsip keljanya hampir sama dengan penyeratan seeara manual, pada awalnya pelepah batang dipotong sesuai dengan kebutuhan, kemudian dimasukkan di antara tabung penjepit untuk menghancurkan jaringan parenkim dan memeras air. Pelepah batang pi sang kemudian masuk ke dalam sisi antm'a bilah pisau penyerat pada tabung penyerat dengan plat penahan, dipisahkan dari parenkimnya, keluar dalam bentuk sera!. Mutl! serat terbesar ymlg dihasilkan adalah mutl! A, yaitu beratnya 26.151 g, panjangnya 190 dan 170 em, 78 % dari keseluruhan serat yang dihasilkan. Seral yang paling sedildt adalah serat mutu D beratnya 1.332 g, seldtar 4 %, panjaJlgnya 80 em. Serat mutu E beratnya 6.16 g, sekitar 18 %, panjangnya kurang dari 80 em. Berat keseluruhan serat yang dihasilkan adalah 33.645 g. Rendemen serat yang dihasilkan sebesar 3.3645 %. Kapasitas lapang mesin penyerilt ini adalah 75 kg/j am, sedangkan kapasitas teoritis mesin penyerat ini adalah 168 kg/jam, sehingga efisiensi mesin penyerat abaka ini adalah 45 persen. Dengan jam keIja 8 jam/hari, satu hari mesin mampu menyerat sebanyak 600 kg bahan baku, dengan rendemen 3.3645 %, dalam satu hari mesin dapat menghasilkan serat sebanyak 20.2 kg. Beban kerja terbesar yang dikeluarkan ketika mengoperasikan mesin penyerat abaka adalah 1.6385 kkal/menit, beban ketja terendah 1.2889 kkallmenit. Beban ketja rata-rata selama pengoperasian mesin penyerat adalah 1.5140 kkal/menit, peketjaan mengoperasikan mesin penyerat abaka ini termasuk ke dalam pekerjaan sangat ringan. .Morfologi Akar Pohon pisang berakar rimpang dan tidak mempunyai akar tunggang. Akar ini berpangkal pada

umbi batang. Akar terbanyak berada pada bagian bawah tanah. Akar ini menuju bawah sampai kedalaman 75-150 cm. sedang akar yang ada di bagian samping umbi batang tumbuh kesamping atau mendatar. Dalam perkembanganya akar samping bias mencapai 4-5 meter. Batang Batang pisang sebenarnya terletak dalam tanah berupa umbi batang. Di bagian atas umbi batang terdapat. Tumbuh yang menghasilkan daun dan pada suatu saat akan tumbuh bunga pisang (jantung). Sedang yang berdiri tegak di dalam tanah yang biasanya dianggap batang itu adalah batang semu. Batang semu ini terbentuk dari pelepah daun panjang yang saling menelengkup dan meutupi dengan kuat dan kompak sehingga bias berdciri tegak seperti batang tanaman. Tinggi batang semu ini berkisar 3,5-7,5 meter tergantung jenisnya. b. Daun Daun pisang letaknya tersebar, helaian daun berbentuk lanset memanjang. Pada bagian bawahnya berlilin. Daun ini diperkuat oleh tangkai daun yang panjangnya antara 30-40 cm. daun pisang mudah sekali robek atau terkoyak oleh hembusan angina yang keras karena tidak mempunyai tulang-tulang pinggir yang menguatkan lembaran daun. c. Bunga Bunga berkelamin satu, berumah satu dalam tandan. Daun penumpu bunga berjejal rapat dan tersusun secara spiral. Daun pelindung berwarna merah tua, berlilin, dan mudah rontok dengan panjang 1-25 cm. bunga tersusun dalam 2 baris melintang. Bunga betina berada dibawah bunga jantan (jika ada). lima daun tenda bunga melekat sampai tinggi, panjangnya 6-7 cm. benang sari 5 buah pada betina tidak sempurna, bakal buah persegi, sedang pada bunga jantan tidak ada. d. Buah Sesudah bunga keluar, akan terbantuk sisir pertama, kemudian memanjang lagi dan terbentu sisir kedu, ketiga dan seterusnya. Jantungnya perlu di potong sebab sudah tidak menghasilkan sisir lagi.

Beri Nilai