TUGAS 2
STRUKTUR JEMBATAN
DOSEN PENGAMPU
Ir . I Putu Didik Sulistiana ST. MT
DIKERJAKAN OLEH:
A.A. GDE ARYAWEDA SANTIKA
202361121067
C2
A . DATA PERENCANAAN
GAMBAR POTONGAN JEMBATAN
Penjelasan mengenai data Tugas
STRUKTUR ATAS JEMBATAN
Data diketahui :
b atas = 5,5 m
b bawah = 6,5 m
h = 9 m
NIM: 202361121067
NIM = 76
MIN = 760
MI,N = 76,0
Data yang Diketahui
Jarak antar gelagar sg = 1,94 m
Tebal pelat ts = 0,25 m
Bentang jembatan Lb = 76,0 m Note : Dikarenakan lebih dari 50 m
LB = 76,0 maka Lebar bentang jembatan dibagi 2
2
LB = 38
Panjang balok = 38,6 m
Lebar Jalan = 7000 + MIN
Wr = 7000 + 760
= 7760
= 7760 / 1000
= 7,76 m
Berat jenis beton Yc = 25 Kn/m3
TUGAS 2 STRUKTUR JEMBATAN
A.A. GDE ARYAWEDA SANTIKA
202361121067
C2
1,6 Pembebanan
1.6.1 Beban Mati komponen struktur dan nonstruktural (MS)
Untuk menghitung berat beban mati yang bekerja pada gelagar, data yang diperlukan adalah dimensi
penampang jembatan dan berat jenis material.
Jarak antar gelagar sg = 1,94 m
Tebal pelat ts = 0,25 m
Bentang jembatan Lb = 76 m
Panjang balok = 38,6 m
Lebar Jalan Wr = 7,76 m
Berat jenis beton Yc = 25 Kn/m3
A. Beban mati yang bekerja pada gelagar beton pratekan adalah :
1. Beban pelat jembatan (dek)
Luas pelat Ad = sg x ts
= 1,94 x 0,25
= 0,485 m
Beban pelat Ws = Yc x Ad
= 25 x 0,485
= 12,125 m
= 921,500 kN R. Tumpuan (Ujung Bentang -1 Bentang)
= 460,750 kN R. Tumpuan (Ujung Bentang 1/2 Bentang)
2. Beban RC Plate
Lebar RC Plate Wrcp = 1,68
Tebal RC Plate trcp = 0,07
Beban RC Plate = Wrcp x trcp x Yc
= 1,68 x 0,07 x 25
= 2,94 Kn/m
= 223,44 kN R. Tumpuan (Ujung Bentang -1 Bentang)
= 111,72 kN R. Tumpuan (Ujung Bentang 1/2 Bentang)
3. Beban diafragma
Luas penampang diafragma tengah Adp_mid = 1,072 m2
Tebal diafragma tengah tdp_mid = 0,2 m
Beban diafragma Wdp_mid = Adp_mid x tdp_mid x Yc
= 1,072 x 0,2 x 25
= 5,360
Luas penampang diafragma tepi Adp_end = 1,236 m2
Tebal diafragma tepi tdp_end = 0,5 m
Beban diafragma tepi Wdp_end = Adp_end x tdp_end x Yc
= 1,236 x 0,5 x 25
= 15,450 kN
Jumlah diafragma Tengah = 1 Buah
= 1 x 5,360
= 5,360 kN
Jumlah diafragma Tepi = 2 Buah
= 2 x 15,45
= 30,900 kN
[Link] (3 bh) = 36,260 kN R. Tumpuan (Ujung Bentang -1 Bentang)
= 18,130 kN R. Tumpuan (Ujung Bentang 1/2 Bentang)
4. Beban Gelagar
Luas gelagar Ag = 0,2573 m2
Beban gelagar Wg = Yc x Ag
= 25 x 0,2573
36,257 = 6,4325 kN/m
= 488,870 kN R. Tumpuan (Ujung Bentang -1 Bentang)
= 244,435 kN R. Tumpuan (Ujung Bentang 1/2 Bentang)
MStot = 1670,070 kN R. Tumpuan (Ujung Bentang -1 Bentang) Input Midas
= 835,035 kN R. Tumpuan (Ujung Bentang 1/2 Bentang) Input Midas
1.6.2 Beban Mati tambahan atau utilitas (MA)
Untuk menghitung beban mati tambahan pada gelagar, data yang diperlukan adalah dimensi penampang
jembatan, dimensi trotoar, dimensi barrier, lebar jalan, dan berat jenis material.
Untuk menentukan besarnya beban mati tambahan diperlukan data sebagai berikut:
Lebar jalan Wr = 7,76 m
Panjang bentang Lb = 76 m
Panjang Balok = 38,6 m
Jumlah gelagar ng = 5 m
Tebal trotoar ttr = 0,42 m
Tebal perkerasan ta = 0,05 m
Berat jenis beton Yc = 25 kN/m3
Berat jenis aspal Yb = 22 kN/m3
CTC 2,1 m
a. Beban mati tambahan yang bekerja yaitu:
1. Beban barrier
Jumlah barrier nb = 1 Sisi
Luas barrier Ab = 0,37 m2
Beban barrier Wbr = Yc x Ab x nb
= 25 x 0,37 x 1
= 9,25 kN/m
= 703 kN R. Tumpuan (Ujung Bentang -1 Bentang) Input Midas
= 351,5 kN R. Tumpuan (Ujung Bentang 1/2 Bentang) Input Midas
2. Beban trotoar
Jumlah trotoar ntr = 1 Sisi
Luas trotoar Atr = 0,4152
Beban trotoar Wtr = Yc x Atr x ntr
= 25 x 0,4152 x 1
= 10,38 kN/m
= 788,88 kN R. Tumpuan (Ujung Bentang -1 Bentang) Input Midas
= 394,44 kN R. Tumpuan (Ujung Bentang 1/2 Bentang) Input Midas
3. Beban Aspal
Luas Aspal Aa = ta x CTC
= 0,05 x 2,1
= 0,105 m2
Beban Aspal Wa = Yb x Aa
= 22 x 0,105
= 2,31 kN/m
= 175,560 kN R. Tumpuan (Ujung Bentang -1 Bentang) Input Midas
= 87,780 kN R. Tumpuan (Ujung Bentang 1/2 Bentang) Input Midas
1.6.3 Beban Lajur D/Lalu Lintas (MA)
Untuk menghitung beban lajur “D” pada jembatan diperlukan data bentang jembatan (panjang lajur
terbebani) dan sapasi antar gelagar.
Jarak antar gelagar Sg = 1,94 m
Panjang Bentang Lb = 38,6 m
Dari gambar di atas, yang termasuk beban lajur ‘D’ adalah BGT dan BTR
1. Beban terbagi rata (BTR)
Beban terbagi rata (BTR) ditentukan berdasarkan lebar tributari pembebanan dengan lebar tributari diambil
berdasarkan jarak antar gelagar. Nilai beban BTR bergantung pada panjang bentang jembatan. Persamaan
di bawah ini untuk menentukan nilai beban BTR yang digunakan:
a. JikaLb ≤ 30m : maka q = 9 kpa
b. Jika Lb ≥ 30m : maka q = 0,5 + 15 kpa
Lb
Karena bentang jembatan 40.10 m, maka :
Beban terbagi rata QBTR = 0,5 + 15 kpa
38,6
= 0,889 kpa
Beban BTR bekerja
pada gelagar
tengah WBTR = qBTR x Sg
= 0,889 x 1,94
= 1,724 kN/m
2. Beban garis terpusat (BGT)
Beban lajur "D" selanjutnya adalah beban garis terpusat (BGT) yang nilainya sebesar 49 kN/m dan faktor
beban dinamis (FBD) seperti gambar di bawah ini:
Karena bentang jembatan 40.10 m maka nilai FBD 40%.
Faktor beban dinamis FBD = 0,40
Beban garis terpusat BGT = 49 kN/m
Beban BGT yang bekerja pada gelagar tengah
PBGT = 1 + FBD x BGT x sg
PBGT = 1 + 0,40 x 49 x 1,94
PBGT = 133,084 kN
Beban TD yang bekerja pada abutment adalah setengah dari panjang bentang, sehingga:
[Link] PBGT
WTD = 2
+ 2
x ng
1.687 x 40.10 132.398 = 499,065 kN
WTD = + x5
2 2
kN R. Tumpuan (Ujung Bentang -1 Bentang) Input Midas
= 998,13 kN
kN R. Tumpuan (Ujung Bentang 1/2 Bentang) Input Midas
= 499,065 kN
1.6.4 Gaya REM
Gaya rem harus diambil yang terbesar dari :
* 25% dari berat gandar truk desain atau,
* 5% dari berat truk rencana ditambah beban lajur terbagi rata BTR
Gaya rem tersebut harus ditempatkan di semua lajur rencana yang dimuati sesuai dengan Pasal 8.2 dan yang
berisi lalu lintas dengan arah yang sama. Gaya ini harus diasumsikan untuk bekerja secara horizontal pada
jarak 1800 mm diatas permukaan jalan pada masingmasing arah longitudinal dan dipilih yang paling
menentukan. Untuk jembatan yang dimasa depan akan dirubah menjadi satu arah, maka semua lajur
rencana harus dibebani secara simultan pada saat menghitung besarnya gaya rem. Faktor kepadatan lajur
yang ditentukan pada Pasal 8.4.3 berlaku untuk menghitung gaya rem.
Hitung beban rem yang terjadi pada jembatan dengan 2 lajur dan terdiri dari 5 gelagar.
Jumlah Lajur nL = 2
Jumlah Gelagar ng = 5
Lebar jalan raya Wr = 7,76 m
Panjang jembatan Lb = 38,6 m
Beban terbagi rata qBTR = 0,889 kN/m2
Beban BTR yang bekerja disemua lajur =
PBTR = qBTR x Wr x Lb
= 0,889 x 7,76 x 38,6
= 266,17 kN
1. 25% dari berat gandar truk desain
Untuk mendapatkan pengaruh maksimum gunakan nilai berat gandar terbesar, pada perhitungan ini
digunakan gandar belakang:
Berat gandar truk desainWt = 225 kN
TB1 = 0,25 nL x WT
ng
TB1 = 0,25 2 x 225 = 22,5 kN
5
2. 5% dari berat truk rencana ditambah beban lajur terbagi rata (BTR)
Beban satu truk rencana
PT = 500 kN
TB2 = 0,05
PT x nL x PBTR
ng
TB2 = 0,05 500 x 2 x 266,168 2662 kN
5
Jadi beban rem yang menentukan adalah akibat kondisi 1 yaitu sebesar 22,50 kN. Dalam perhitungan
pengaruh gaya rem terhadap struktur, gaya rem diaplikasikan untuk bekerja secara horizontal pada
jarak 1800 mm di atas permukaan jalan pada arah longitudinal jembatan.
TB_Long = 22,5 kN Input Midas
MTB_Cros = 5323,4 kN/m Input Midas Momen Arah Cros (My)
1.6.5 Beban Pejalan Kaki (TP)
Untuk menghitung beban pejalan kaki pada jembatan, data yang diperlukan adalah lebar trotoar dan
panjang bentang jembatan.
Untuk trotoar yang memiliki lebar lebih dari 600mm, maka beban pejalan kaki sebesar 5 kPa harus
diterapkan di sepanjang trotoar. Data yang diperlukan untuk menentukan beban pejalan kaki adalah sebagai
berikut:
Jumlah trotoar ntr = 2
Beban pejalan kaki WTP = 5 kN/m2
Lebar trotoar btr = 1 m
Bentang jembatan Lb = 38,6 m
Jumlah gelagar ng = 5
Maka, beban pejalan TP
kaki = WTP x btr x ntr
= 5 x 1 x 2
= 10 kN/m
Beban pejalan kaki sebesar 10 kN/m diterapkan di sepanjang bentang jembatan sebagai beban merata pada
lokasi trotoar jembatan. Jika digunakan metode analisis pendekatan, maka beban pejalan kaki yang bekerja
pada suatu gelagar harus dibagi dengan jumlah gelagar.
Beban yang diterima pada tiap gelagar adalah:
Wp = TP
ng
Wp = 10 = 2 kN
5 m
= 77,2 kN R. Tumpuan (Ujung Bentang -1 Bentang) Input Midas
= 38,6 kN R. Tumpuan (Ujung Bentang 1/2 Bentang) Input Midas
1.6.6 Beban Gempa (TA)
Sumber: Peta Gempa dan Respon Spektra 2019, ESRC-PUSGEN-PUSKIM PUPR
Lokasi Bangunan :DENPASAR BALI
1. Parameter Gerak Tanah Ss
Gambar 15, SNI 1726:2019
Nilai parameter gerak tanah Ss dapat diambil dari aplikasi RSA 2019
Ss = 0,972 g
2. Parameter Gerak Tanah S1
Nilai parameter gerak tanah S1 dapat diambil dari aplikasi RSA 2019
S1 = 0,39312 g
3. Klasifikasi Situs Tanah
Klasifikasi jenis tanah mengacu pada SNI 1726:2019 Tabel 5.
Kelas Situs = = SD
Kelas Situs = SD
4. Koefisien Situs Tanah
Untuk penentuan koefisien situs mengacu SNI 1726:2019 Tabel 6 dan Tabel 7. Untuk mempermudah
perhitungan dapat digunakan bantuan aplikasi RSA 2019.
Koefisien Situs Fa
Fa = 1,122
Koefisien Situs Fv
Fv = 2,428
5. Respon Spektral Percepatan Gempa
Parameter ini mengacu pada SNI 1726:2019 Pasal 6.2.
Periode Pendek
SMS = Fa Ss
SMS = 1,091
Periode 1.0 Second
SM1 = Fv S1
SM1 = 0,954
6. Percepatan Spektral Desain
Parameter ini mengacu pada SNI 1726:2019 Pasal 6.3.
Periode Pendek
2
SDS = /3 SMS
SDS = 0,727
Periode 1.0 Second
2
SD1 = /3 SM1
SD1 = 0,636
7. Septrum Respon Desain
Nilai spektrum respons desain diperoleh dari rumusan SNI 1726:2019 Pasal 6.4
Periode Getar Awal
T0 = 0,2 SD1
SDS
T0 = 0,175 sec
Periode Getar Awal
Ts = SD1
SDS
Ts = 0,875 sec
Transisi Periode Panjang
Nilai dari transisi periode panjang diperoleh dari bantuan Aplikasi RSA 2019 dan Gambar 20 SNI 1726:2019
TL = 12 sec
Spekturm Respons Percepatan Desain
Nilai Sa pada setiap periode getar diperoleh melalui ketentuan Pasal 6.4 SNI 1725 : 2019
Keterangan T (sec) Sa (g)
0 0 0,0000
T0 0,17 0,0000
TS 0,87 0,0000
T>Ts 1,27 0,0000
T>Ts 1,67 0,0000
T>Ts 2,07 0,0000
T>Ts 2,47 0,0000
T>Ts 2,87 0,0000
T>Ts 3,27 0,0000
T>Ts 3,67 0,0000
T>Ts 4,07 0,0000
T>Ts 4,47 0,0000
T>Ts 4,87 0,0000
T>Ts 5,27 0,0000
T>Ts 5,67 0,0000
T>Ts 6,07 0,0000
T>Ts 6,47 0,0000
T>Ts 6,87 0,0000
T>Ts 7,27 0,0000
T>Ts 7,67 0,0000
T>Ts 8,07 0,0000
T>Ts 8,47 0,0000
T>Ts 8,87 0,0000
T>Ts 9,27 0,0000
T>Ts 9,67 0,0000
T>Ts 10,07 0,0000
T>Ts 10,47 0,0000
T>Ts 10,87 0,0000
T>Ts 11,27 0,0000
T>Ts 11,67 0,0000
T>Ts 12,00 0,0000
Respons Spektrum Desain SNI 1726:2019
Daerah Denpasar, Kelas Situs SD (Tanah Sedang)
0,8
Percepatan Respon Spektra, Sa (g)
0,7
0,6
0,5
0,4
0,3
0,2
0,1
0,0
0 2 4 6 8 10 12
Periode T (sec)
8. Kategori Risiko
Penentuan kategori risiko bangunan gedung berdasarkan Tabel 3 SNI 1726:2019.
Risiko = II
9. Faktor Keutamaan gemoa
Penentuan faktor keutamaan gempa dilihat dari Tabel 4 SNI 1726:2019
Ie = 1,00
10. Kategori Desain Seismik
Penentuan kategori desain seismik dilihat dari Tabel 8 dan Tabel 9 SNI 1726:2019
Periode Pendek
Kategori = D
Periode Pendek 1.0 sec
11. Sistem Struktur
Pemilihan sistem struktur mempengaruhi daktilitas bangunan. Sistem struktur dapat dipilih sesuai
dengan Tabel 12 SNI 1726:2019
Sistem = SRPMK
R = 8
Ω = 3
Cd = 5,5
Penentuan zona gempa Penentuan zona gempa
Dalam perhitungan beban gempa, lokasi jembatan harus dikelompokkan berdasarkan zona gempa.
Zona gempa yang digunakan terdiri dari zona gempa 1 sampai dengan zona gempa 4 yang
Zona gempa ini digunakan untuk menentukan kategori kinerja seismik struktur jembatan. Kategori kinerja
seismik merupakan gambaran variasi risiko seismik dan digunakan untuk penentuan :
1 metode analisis struktur
2 panjang tumpuan minimum
3 detail perencanaan pilar
4 prosedur desain fondasi dan kepala jembatan
Penentuan faktor modifikasi respon
Nilai faktor modifikasi respon R merupakan suatu faktor modifikasi gaya gempa elastis yang diterima oleh
struktur. Penerapan faktor R pada struktur jembatan dilakukan dengan membagi gaya gempa elastis yang
bekerja pada struktur dengan faktor modifikasi respon R sehingga diperoleh gaya gempa rencana yang
Pada Tabel 3.6 terlihat bahwa faktor modifikasi respon R untuk hubungan struktur atas dengan kepala
jembatan dan sambungan siar mulai bernilai 0,8 dan untuk sambungan antara struktur bawah (pilar dan tiang)
dengan struktur atas serta sambungan struktur bawah dengan fondasi bernilai 1,0. Hal ini bertujuan untuk
Dengan diterapkannya faktor modifikasi respon R dalam perencanaan struktur jembatan terhadap beban
gempa, hal ini berdampak terhadap detail elemen struktur yang direncanakan untuk mengalami plastifikasi.
Pembahasan terkait detail komponen struktur pemikul gempa dibahas pada
1.6.7 Gaya Horizontal akibat tekanan tanah (TA)
Koefisien tekanan tanah aktif (Ka)
Tinggi Abutmen H = 7,26 m
Sudut pada urukan terhadap garis horizontal 𝛽 = 0 °
Sudut pada dinding belakang terhadap garis horizontalθ 𝜃 = 90 °
Sudut geser antara urukan dan dinding 𝛿 = 20 °
𝛾
Berat Jenis tanah = 16,5 kN/m3
Kohesi ∁ = 0 kN/m2
Sudut geser efektif tanah ∅𝜑 = 30 °
Faktor beban Ultimited 𝛾TA = 1,25 Tekanan Tanah Aktif
1,4 Tekanan Tanah Fasif
Beban Mati Tambahan (SDL)
No Jenis Tebal Berat Vol Beban
m kN/m3 kN/m
1 Rigid 0,25 25 6,25
2 Air Hujan 0,05 10 0,5
3 Base Course 0,15 20 3
QSDL 9,75
Persamaan [Link] tanah aktif
𝑠𝑖𝑛2 (𝜃+∅′ 𝑓)
𝐾𝑎 = 2
𝑟𝑥(𝑠𝑖𝑛 𝜃𝑥𝑠𝑖𝑛 𝜃−𝛿 )
diman :
2
sin ∅′ f + δ + sin(∅′ f − β)
r= 1+
sin θ + δ + sin(θ − β)
2
−0.2624 𝑥 −0.9880316
r= 1+ 0.7739 𝑥 0.89399666
2
r = 1 + 0.37469469
= 1,2697
ka = 0,7258 (koef. Tekanan tanah kondisi aktif)
Koefisien tanah dalam kondisi diam (K0)
k0 = 1 − 𝑠𝑖𝑛∅′ 𝑓
= 0,5
Tekanan Tanah Akibat beban SDL
Psdl = QSDL x Ka
= 9,75 x 0,7258
= 7,0766 kN/m2
Tekanan Tanah Aktif
Pa = H x Y x Ka
= 7,26 16,5 0,7258
= 86,944 kN/m2
Tekanan Tanah Saat Gempa (SNI 2833-2016)
Tekanan tanah lateral akibat pengaruh gempa dapat dihitung dengan menggunakan pendekatan
pseudostatis yang dikembangkan oleh Mononobe dan Okabe. Formula gaya tekan tanah akibat
pengaruh gempa (EAE) yaitu sebagai berikut :
1
EAE = 2 𝛾𝐻𝑡 2 1 − 𝐾𝑣 𝐾𝐴𝐸
dengan nilai koefisien tekanan aktif seismik (KAE) adalah
−2
𝑐𝑜𝑠2 (∅−𝜃−𝛽𝑎) δ+∅)sin(∅−𝜃−𝑖
𝐾𝐴𝐸 = 𝑐𝑜𝑠𝜃𝑐𝑜𝑠2 𝛽acos(𝛿+𝜃+𝛽𝑎)x 1 + cos 𝛿+𝜃+𝛽𝑎 cos(𝑖−𝛽𝑎)
Selanjutnya untuk komponen tekanan tanah pasif yang cenderung mendorong tanah timbunan yaitu sebagai
berikut :
1
𝐸𝑃𝐸 = 𝛾𝐻𝑡 2 1 − 𝑘𝑣 𝐾𝑃𝐸
2
dengan nilai koefisien tekanan pasif seismik (KPE) adalah
2
𝑐𝑜𝑠2 (∅−𝜃−𝛽𝑎) sin 𝛿+∅ sin(∅−𝜃+𝑖)
𝐾𝐴𝐸 = 𝑐𝑜𝑠𝜃𝑐𝑜𝑠2 𝛽acos(𝛿+𝜃+𝛽𝑎)
x 1+ cos 𝛿+𝜃−𝛽𝑎 cos(𝑖−𝛽𝑎)
0.890515722 0.766𝑥0.5
= 1𝑥1𝑥0.8600522x(1+(0.86005𝑥0.94552)0.5)-2
= 1.03542055 x 1 + (0.6863)^-2
= 1,03542 x 0,351666
= 0,36412
𝐸𝐴𝐸 = 0.5 𝑥 𝛾𝐻 2 𝑥 1 − 𝐾𝑣 𝑥 𝐾𝐴𝐸
= 158,33 kN
Koofisien tekanan tanah Pasif seismik (KPE)
𝑐𝑜𝑠2 (∅−𝜃−𝛽) sin 𝛿+∅ 𝑥𝑠𝑖𝑛(∅−𝜃−1)
𝐾𝑃𝐸 = x(1+( )0.05)-2
𝑐𝑜𝑠𝜃𝑥𝑐𝑜𝑠2 𝛽𝑥𝑐𝑜𝑠𝑥(𝛽+𝜃+𝛽) cos 𝛿+𝜃+𝛽 𝑥𝑐𝑜𝑠(𝑖−𝛽)
=
0.890515722 0.766𝑥0.5
x(1+( )0.5)-2
1𝑥1𝑥0.800522 0.86005𝑥0.94552
= 1,03542 x 1 + 0,6863 ^-2
= 1,03542 + 0,351666
= 1,38709
𝐸𝑃𝐸 = 0.5 𝑋𝛾𝑋𝐻 2 𝑥 1 − 𝐾𝑣 𝑥𝐾𝐴𝐸
= 0 kN
Tekanan Tanah saat Gempa
𝑃𝑔 = 𝐻 𝑥 𝛾 𝑥 𝐾 𝐴𝐸
= 7,26 x 16,5 x 0,364122
= 43,6181 kN/m2