Anda di halaman 1dari 9

MESIN BENDING PLAT

A. Gambar Mesin Bending Plat

B. Analisis Sistem Kerja Mesin Bending Plat Jika tombol start ditekan, maka udara akan mengalir dari katup sensor menuju katup pembalik kemudian udara masuk ke katup start melalui saluran 1 ke saluran 2 dan mengalirkan udara ke final control sehingga merubah posisi katup final control ke posisi 1. Udara dari final control masuk melalui saluran 1 ke saluran 4 yang menyebabkan pengaktuasian terhadap silinder A sehingga silinder A bergerak maju, setelah silinder A maju dengan penuh akan memberikan sensor pada processor B katup 3/2 roll SR untuk berubah posisi ke posisi 2, sehingga udara dari katup pembalik mengalir ke processor melalui saluran 1 ke 2 sehingga udara yang mengalir merubah posisi final control ke posisi 2 yang menyebabkan udara mengalir ke silinder,
1

mengaktuasi silinder sehingga silinder B bergerak maju (B+). Setelah silinder B bergerak maju dengan penuh, maka prosessor dari silinder C akan menerima sensor sehingga merubah posisi prosessor ke posisi 2. yang menyebabkan udara mengalir dari prosessor C dengan katup 3/2 Roll SR melalui saluran 1 ke saluran 2. udara mengalir ke final control dan mengubah posisi final control ke posisi 1, sehingga udara dari final control masuk melewati saluran 1 ke saluran 4 menuju silinder, dan menyebabkan pengaktuasian terhadap silinder C yang menyebabkan silinder C bergerak maju (C+). setelah silinder C bergerak maju dengan penuh, sensor C1 akan merubah katup 3/2 Roll SR berubah ke posisi 2 sehingga udara dari compressor mengalir melewati saluran 1 dan mengalir ke final contol B dan final control C yang menyebabkan kedua final control berubah posisi ke posisi 2. yang menyebabkan udara dari compressor masuk melewati saluran 1 ke saluran 2 pada kedua actuator itu. hal ini mengaktuasi silinder B dan silinder C bergerak mundur (B-,C-). Setelah silinder C mundur dengan penuh akan memberikan sensor ke prossesor C0sehinga merubah posisi katup ke posisi 1. ini menyebabkan udara dari katup pembalik mengalir ke katup ini melalui saluran 1 ke saluran 2, udara mengalir ke final control dan merubah posisi final control ke posisi 2. kemudian udara dari compressor masuk ke final control melewati saluran 1 ke saluran 2 dan mengalir ke silinder dan menyebabkan silinder bergerak mundur A0. untuk mematikan system ini tekan kembali tombol start sehingga system ini mati.

C. Rancangan Silinder Atau Aktuator Dari Mesin Bending Plat

Diketahui :

Diameter Silinder (D) : 70 mm = 0,070 m Diameter batang torak (d) : 40 mm = 0,040 m Langkah maksimum (S) : 100 mm = 0,1 m Tekanan kerja/effektif (Pe) : 4 bar = (4.105 N/m2) Banyaknya langkah (n) = 1 (kali/menit)

1. Gaya gerak silinder (maju) pada silinder F = Pe . A. F = (4.10 ) . ( 0,070) . 0,8 4 F = (4.10 ) . 3.85 F = 1230.4 N
2
5 -3 5 2

dimana: = 0,8 (asumsi)

.0,8

2. Gaya gerak silinder (mundur) pada silinder F = Pe . A . F = (4.10 ) . (0,070 0,040 ) 0,8 4 F = (4.10 ) . 2.59 F = 828.96 N
5 -3 5 2 2

.0,8

3. Kecepatan gerak silinder V= keterangan: V = kecepatan Q = banyaknya udara yang diperlukan (liter/menit) A = luas penampang (m )
2 2

Dimana: A = (D) 4

Q = 2 . A . S . n ( Pe + 1atm) 1atm
2

Keterangan : Pe = tekanan kerja efektif (N/m ) A = luas penampang (m ) n = banyaknya langkah (kali/menit)
2

Q=2.A.S.n. Q = 2 . (D) S.n ( Pe + 1) 4


2 2

Q = 2 . 3,14 ( 0,070) 0,1 x 1 (4 + 1)


3

4 Q = 2 . 0,000385 x 0,1 x 5 Q = 0,000385 m /dtk


3

Q = 0,0065 dm /menit 0,0065 liter/menit

4. Kecepatan silinder

V maju = 3,85 . 10 3,85 . 10 = 1 m/dtk


-4

-4

5. Perhitungan kecepatan dan debit udara secara faktual

V=

V = kecepatan (m/dtk2) S = panjang langkah (m) t = waktu yang ditempuh (detik)

Contoh perhitungan kecepatan dan debit udara pada putaran cekik pada silinder C Diketahui: S = 100 mm = 0,100 m D = 70 mm = 0,070 m t = 2,75 detik

Vmaju = 0,1 2,75 = 0,036 m/dtk

Q maju = V.A
4

= V. 3,14.(0,070) 4

= 0,036 . 0,000385 = 0,00001386 m /detik


3

D. Rancangan Kontrol (Sirkuit Diagram) Rangkaian sistem stempel otomatis full pneumatik Gerakan silinder A maju (A+) kemudian silinder B maju (B+), dan silinder C maju (C+), kemudian silinder B dan silinder C mundur bersamaan (B-,C-) lalu silinder A mundur (A-)

1
1

5=1

A
0 1

B 1 C
0
A+

B+

C+

B-/C-

Aa0

a1

b1

c1

b0/c0

S2

S1

k2

k1

Persamaan Langkah y = A+,B+,C+,B-/C-,A-

Persamaan Kontrol A+ = S2 + Start C+ = c1 + S2

Persamaan Saluran S1 = C1 S2 = A0

B+ = a1 + S2 B - = S1 C - = S1 A - = c0 + S1

Identifikasi Komponen berikut ini merupakan komponen-komponen untuk merakit system pneumatic mesin bending: komponen DAC (Double Acting Cylinder) DCV 5/2 DP DCV 4/2 DP DCV 3/2 Roll SR DCV 3/2 PB detent - SR KOMPRESOR unit 3 buah 3 buah 1 buah 5 buah 1 buah 4 buah

A0

A1

B0

B1

C0

C1

5 1

5 1 2 A1

5 1

2 C0 1 3

3 B1

5 1 2 C1 1 3 A0

E. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Setelah melakukan pengamatan serta analisis pada sistem stempel otomatis full pneumatik maka dapat diambil kesimpulan bahwa: Pada sistem pneumatik komponen pendukung sangat berpengaruh penting dari hasil kerja sistem pneumatik itu sendiri. Tiap-tiap komponen pneumatik membutuhkan perawatan yang baik agar komponen tersebut dapat berfungsi dengan baik dan dapat tahan lama (awet). Pada tiap-tiap silinder memerlukan penyetelan yang tepat agar proses kerja dari sistem pneumatik dapat berjalan dengan baik dan lancer. Apabila terdapat kesalahan dalam pemasangan selang maka rangkaian pneumatik tidak akan dapat berjalan. Peletakan katup rol 3/2 yang kurang tepat akan menyebabkan proses tidak bekerja secara maksimal. Semakin banyak komponen dan panjang pendek saluran udara sangat mempengaruhi jumlah tekanan masuk yang dibutuhkan untuk menggerakkan sistem.
Saran Sebaiknya perawatan komponen pneumatik dilakukan secara berkala agar komponen pneumatik dapat tahan lama atau awet serta untuk menghindari kerusakan. Diharapkan untuk lebih teliti dalam pemasangan selang bila terdapat sambungan untuk mengantisipasi dari kebocoran. Pada Tiap-tiap komponen pneumatik harus diberi pelumasan agar komponen tersebut tidak macet. Perlu dilakukan pengecekan pada tiap-tiap komponen pneumatik sebelum merangkai sistem pneumatik itu sendiri

F. DAFTAR PUSTAKA

Sugihartono. 1996. Dasar-dasar Kontrol Pneumatik. Bandung: Tarsito Bissinger, N. and Meixner, H. Simple Control and Logic Sircuit, Festo Didactic, Esslingen, 1987 Bocksnick, B. Fundamental Of Control Technology, Festo Didactic, Esslingen 1988