Anda di halaman 1dari 7

CHLOROFORM

1. N a m a 1.1. Golongan Halogen alipatik 1.2. Sinonim / Nama Dagang Formyl trichlorida; Trichloromethane; Methenyl trichlorida 1.3. Nomor Identifikasi : Nomor CAS Nomor EC : INDEX Nomor RTECS : 67-66-3 602-006-00-4 FS 9100000

UN

1888

2. Sifat Fisika Kimia 2.1. Nama bahan Chloroform 2.2. Deskripsi Cairan tak berwarna, sangat reaktif, berat, cairan mudah menguap, rasa manis,bau khas seperti eter. BJ 1,484; index bias 1,4776; suhu didih 61-62C; suhu lebur 63,5C.Campuran kloroform dengan alkohol 70 % mempunyai suhu didih konstan pada 59C ; BJ 1,474-1,478. Etanol 0,5-1% merupakan stabilisator kloroform. 1 ml klorofom pada suhu 25 larut dalam 100 ml air. Tercampurkan dengan alkohol, benzena, eter, petrolium eter, karbon tetraklorida, karbon disulfida,minyak. Rumus molekul CCL3H 2.3. Frasa Risiko, Frasa Keamanan dan Tingkat bahaya Peringkat NFPA (Skala 0-4) : Kesehatan 2 = Tingkat keparahan tinggi Kebakaran 0 = Tidak dapat terbakar Reaktivitas 0 = Tidak reaktif Klasifikasi EC :

Xn : Berbahaya Xi : Iritasi R 22 = Berbahaya jika tertelan R 38 = Menyebabkan iritasi pada kulit R 40 = Risiko karena pengaruh yang tidak dapat balik R 48/20/22 = Berbahaya : berbahaya karena kerusakan serius pada kesehatan akibat paparan jangka panjang panjang melalui saluran pernafasan dan jika tertelan 3. Penggunaan Untuk pelarut. Pada industri Fluorocarbon, Propelan aerosol, Plastik; Pemurnian antibiotik, Pelarut proses fotographi. Pencuciaan secara kering, fumigasi tanah. 4. Identifikasi Bahaya 4.1. Risiko utama dan sasaran organ Iritasi saluran pernafasan, kulit, mata, depresi sistem saraf pusat, bahaya kanker pada binatang. Sasaran organ : sistem saraf pusat, liver dan ginjal 4.2. Rute Paparan 4.2.1. Paparan jangka pendek Terhirup : Iritasi, mual, muntah, denyut jantung tidak beraturan, sakit kepala, mengantuk, gejala mabuk, fainting, disorientasi, dilatasi pupil, konvulsi dan koma Kontak dengan kulit : Iritasi Kontak dengan mata : Iritasi, mata berair Tertelan : Mual, muntah, diare, sesak nafas, gejala mabuk, dilatasi pupil, kulit berwarna kebiruan. 4.2.2. Paparan jangka panjang Terhirup : Gangguan pencernaan, tingling, pandangan kabur, kerusakan ginjal, kerusakan hati. Kontak dengan kulit : Iritasi Kontak dengan mata : Iritasi, mata berair

Tertelan : Kerusakan ginjal, kerusakan hati dan kanker 5. Tancampurkan Dengan aluminium dapat menyebabkan ledakan Dengan dinitrogen tetraoxide dapat menyebabkan ledakan Dengan magnesium (serbuk) dapat menyebabkan ledakan 6. Penyimpanan Simpan dan tangani sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan dan standar yang berlaku Simpan jauh dari jangkauan anak-anak Simpan pada tempat yang dingin, kering dan tersedia ventilasi Simpan terpisah dari bahan-bahan tancampurkan Simpan pada wadah yang tertutup rapat Hindari kontak dengan udara dan cahaya 7. Toksikologi 7.1. Toksisitas : THR tinggi melalui oral dan inhalasi LD 50 (oral) tikus LCLO (inhaalsi) tikus : 300 mg/kg : 8000 bpj selama 4 jam.

LCLO (inhalasi) mencit : 28 bpj TLV (1877) : 25 bpj 7.2. Mutagenik : 7.3. Efek Reproduksi 7.4. Informasi ekologi Toksik pada ikan LC50 (Mortality) 66800 ug/L 96 jam 8. Efek klinis 8.1. Keracunan akut Terhirup : Dapat menyebabkan iritasi saluran pernafasan bagian atas. Depresi sistem saraf pusat. Pada konsentrasi 1.000 2.000 bpj dapat menyebabkan pusing, sakit kepala, fatigue, salivasi dan mual; 4.000 bpj dapat menyebabkan muntah, disorientasi yang serius dan fainting feeling; 20.000 bpj dapat menyebabkan gangguan pernafasan, cardiac aritmia

dan kematian. Kontak dengan kulit : Dapat menyebabkan iritasi dengan inflamasi, kerusakan pada epitelium dan prurulent blebs. Percobaan pada kulit kelinci selama 24 jam menyebabkan hiperemia dan nekrosis sedang. Beberapa terserap dapat menyebabkan kehilangan berat badan dan kerusakan ginjal. Kontak dengan mata Uap dengan konsentrasi tinggi dapat menyebabkan stinging, iritasi dan blepharospasm. Kontak dengan larutan dapat menyebabkan rasa terbakar, lakrimasi dan mata merah. Dapat terjadi kerusakan epithelium kornea, bagaimanapun mata kembali normal dalam waktu 1-3 hari. Tertelan : Dapat menyebabkan terbakar pada mulut, tenggorokan, oesopagus dan perut, mual, muntah, diare, perut sakit., dingin, sianosis, kram otot, midriasis, hipotensi, pernafasan tidak beraturan, gangguan pernafasan, tidak sadar dan kerusakan ginjal. 8.2. Keracunan kronis Terhirup : Terhirup berulang pada 77 237 bpj dapat menyebabkan lassitude, dulness dan gangguan pencernaan. Gejala lain termasuk mulut kering, malaise, thirst, anorexia, sakit kepala, depresi, konfus, lemah, pandangan kabur, paresthesia, kehilangan rasa, kehilangan memori, tremor, anemia, kerusakan ginjal dan liver. Kontak dengan kulit : Kontak yang lama atau berulang dapat menyebabkan dermatitis dengan kulit kering, cracking dan merah. Kontak dengan mata : Kontak yang lama atau berulang dengan iritasi dapat menyebabkan radang konjungtiva Tertelan : Penelanan berulang dapat menyebabkan kerusakan ginjal dan liver. 9. Pertolongan Pertama 9.1. Terhirup Bawa korban ke tempat udara segar, dapatkan pemeriksaan medis. 9.2 Kontak melalui kulit Bilas mata dengan air atau larutan garam netral sedikitnya 15 menit, dapatkan perawatan medis.

9.3. Kontak dengan mata Lepaskan pakaian terkontaminasi kemudian bilas dengan air dan sabun 9.4. Tertelan Bilas mulut, jangan rangsang muntah, beri korban minum air dan segera bawa ke dokter. 10. Penatalaksanaan Stabilisasi a. Penatalaksanaan jalan nafas, yaitu membebaskan jalan nafas untuk menjamin udara. pertukaran

b. Penatalaksaan fungsi pernapasan yaitu memperbaiki fungsi ventilasi dengan cara memberikan pernafasan buatan untu menjamin cukupnya kebutuhan oksigen dan pengeluaran karbondioksida. c. Penatalaksanaan sirkulasi, mengembalikan fungsi sirkulasi darah. d. Jika ada kejang: beri diazepam dengan dosis: Dewasa 10 20 mg IV dengan kecepatan 2,5 mg / 30 dtk atau 0,5 ml / 30 menit, jika perludosis ini dapat diulang setelah 30 60 menit. Mungkin perlu infuse kontinyu sampai maksimal 3 mg / kg BB / 24 jam. Anak-anak: 200 300 g / kg BB. Dekontaminasi Dekontaminasi mata Dilakukan sebelum membersihkan kulit: Posisi pasien duduk atau berbaring dengan kepala tengadah dan miring ke sisi mata yang terkena atau terburuk kondisinya. Secara perlahan bukalah kelopak mata yang terkena dan sejumlah air bersih dingin atau larutan NaCl 0,9 % perlahan selama 15 20 menit. Hindari bekas air cucian mengenai wajah atau mata lainnya Jika masih belum yakin bersih , cuci kembali selama 10 menit. Jangan biarkan pasien menggosok matanya. Tutuplah mata dengan kasa steril dan segera kirim / konsultasi ke dokter mata. Dekontaminasi kulit (termasuk rambut dan kuku) Bawa segera pasien ke air pancuran terdekat Cuci segera bagian kulit yang terkena dengan air mengalir, air dingin, atau hangat dan sabun minimal 10 menit. Jika tidak ada air, sekalah kulit dan rambut pasien dengan kain atau kertas secara lembut jangan digosok. Lepaskan pakaian, arloji, dan sepatu, yang terkontaminasi atau muntahannya dan buanglah dalam wadah dari plastik tertutup. Penolong perlu dilindungi dari percikan, misalnya dengan menggunakan sarung

tangan, masker hidung, dan apron. Hati-hati untuk tidak menghirupnya. Keringkan dengan handuk yang kering dan lembut.

A. Pertolongan darurat dan Suportif 1. Perbaiki jalan nafas dan bantu pernafasan bila diperlukan. 2. Atasi koma dan kejang bila hal ini terjadi. Cegah penggunaan efinefrin atau simpatomimetik amina-amina yang lain yang mungkin menimbulkan aritmia-aritmia. 3. Monitor ECG sekurang-kurangnya 4-6 jam setelah pemaparan B. Obat Spesifik dan antidot Asetilsistein : mungkin membantu pada pencegahan kerusakan hati dan ginjal C. Dekontaminasi. 1. Inhalasi : Pindahkan korban dari tempat pemaparan dan berikan tambahan oksigen bila ada. 2. Kulit dan Mata : Lepaskan pakaian terkontaminasi dan bersihkan kulit dengan air dan sabun. Aliri mata yang terkontaminasi dengan air agak hangat yang banyak. 3. Ingestion : a. Lakukan bilas lambung, jangan rangsang muntah karena kloroform cepat terabsorbsi dan mungkin menyebabkan depresi saraf pusat secara tiba -tiba. b. Berikan karbon aktif dan katartik. c. Pengosongan usus tidak perlu dilakukan bila karbon aktif sudah diberikan segera. D. Percepat Eleminasi Tidak ada obat yang mujarab yang telah didokumentasikan untuk diuresis paksa, Hemodialisis, Hemoperfusi atau pengulangan pemberian charchoal. 11. Batas paparan dan alat pelindung diri Batas pemaparan di tempat kerja : Ventilasi : Sediakan penghisap udara setempat (local exhaust) atau sistem ventilasi proses tertutup. Pastikan dipatuhinya paparan yang dapat diterapkan. Proteksi mata : Gunakan kacamata pengaman dan pelindung muka tahan percikan. Sediakankran pencuci mata keadaan darurat (emergency eye wash fountain) dan semprotan air deras (quick drench shower) dekat area kerja. Pakaian : Kenakan pakaian tahan bahan kimia yang sesuai. Sarung tangan : Pakailah sarung tangan tahan bahan kimia yang sesuai. 12. Manajemen Pemadam Kebakaran Cairan tak mudah terbakar, bahaya kebakaran ringan, kloroform dengan panas yang tinggi dapat terbakar, uap kloroform atau kloroform jika dipanaskan sampai terurai akan mengeluarkan asap yang sangat beracun. jika terjadi kebakaran, pemadaman harus dilakukan dari jarak yang cukup aman bagi petugas pemadam kebakaran. Petugas harus menggunakan pakaian pelindung dan alat bantuan

pernafasan untuk mencegah terisapnya asap kloroform yang sangat beracun. 13. Manajemen tumpahan Pastikan perlindungan diri. Hentikan tumpahan-tumpahan jika tak ada risiko. Kumpulkan cairan-cairan yang tumpah ke dalam wadah tertutup. Serap kloroform yang sisa ke dalam bumi atau pasir dan pindahkan ketempat yang aman. Cegah jangan masuk got / saluran air. 14. Daftar Pustaka 1. International Programme on Chemical Safety.1994. Chloroform Health And Safety GuideNo.87 .World Health Organization Geneva.7-25 2. Departemen Kesehatan RI.1985. Panduan Bahan Berbahaya. Jilid IB. Direktorat Pengawasan Obat Dan Makanan .Hal 482