Anda di halaman 1dari 11

4.4.

Analisis Simpang Pada zona 1 terdapat simpang bersinyal, yaitu simpang MM yang merupakan pertemuan dari Jalan Kaliurang dan Jalan Teknika Utara. Data masukan yang diperoleh dari survey simpang pada hari Jumat, 11 Mei 2012 adalah sebagai berikut : a) Data Lingkungan Jalan a. Ukuran Kota Simpang MM berada di kota Sleman, maka data jumlah penduduk yang dibutuhkan adalah jumlah penduduk kota Sleman. Dari data BPS didapatkan jumlah penduduk Sleman tahun 2010 sebesar 1.093.110 jiwa dengan pertumbuhan penduduk 1,92% per tahun. Maka diperkirakan jumlah penduduk tahun 2012 sebesar 1.135.489 jiwa. Pada kenyataannya di daerah Sleman banyak terdapat pendatang dari daerah di luar Sleman, dengan demikian ukuran kota diperbesar dengan mempertimbangkan jumlah pendatang menjadi 1,3 juta. b. Tipe Lingkungan Jalan Tipe lingkungan jalan pada pendekat utara(U), selatan(S), timur(T), dan barat(T) adalah lingkungan komersial (COM). c. Tingkat Hambatan Samping Pada pendekat utara(U), tingkat hambatan tergolong tinggi karena kendaraan umum sering berhenti di dekat pendekat, banyak pejalan kaki, dan kendaraan keluar masuk halaman di sekitar pendekat. Akan tetapi untuk pendekat lainnya memiliki tingkat hambatan samping yang masih rendah. b) Data Geometri Kondisi geometri jalan pada simpang MM adalah sebagai berikut: Tabel 4.4.1 Data Geometri Simpang MM Lebar Pendekat (m) Kode Pendekat Masuk Belok Kiri Pendekat (WA) (WENTRY) Langsung (WLTOR) U 5,70 5,70 0,00 S 9,50 6,20 3,30 T 12,80 7,00 5,80 B 11,50 11,50 0,00

Keluar (WEXIT)

5,70 12,2 11,50 7,50

Pada pendekat T dan B terdapat median yang dalam hal ini berupa selokan mataram. Selokan Mataram melintas sejajar pendekat T dan B serta memisahkan 2 jalur di masing-masing pendekat. c) Data Lalu lintas Tabel 4.4.2 Data Volume Lalu Lintas Simpang MM Tahun2012 Arus Lalu Lintas (kend/jam) Kode Pendekat Arah Kendaraan Ringan (LV) Kendaraan Berat (HV) Sepeda Motor (MC) Kendaraan Tak Bermotor (UM)

LTOR ST RT LTOR ST RT LTOR ST RT LTOR ST RT

198 361 215 45 243 52 95 99 122 95 97 54

7 7 14 0 8 0 9 51 10 5 6 2

1012 1320 603 302 1016 366 537 537 537 361 872 208

22 45 6 18 37 5 6 8 4 5 12 19

d) Data Waktu Siklus Fase 1 Waktu green : 40 detik Intergreen : 5 detik Fase 2 Waktu green : 20 detik Intergreen : 7 detik Fase 3 Waktu green : 40 detik Intergreen : 9 detik Fase 4 Waktu green : 20 detik Intergreen : 6 detik Waktu hilang total (IG=LTI) = 27 detik Waktu siklus (c) = LTI+g = 27 detik + (40+20+40+20) detik = 147 detik Dari analisis data survey traffic counting simpang tersebut diperoleh data sebagai berikut: 4.4.1 Kondisi Esisting (2012) Hasil dari analilis data, dari SIG-IV diperoleh: Kapasitas simpang MM (C) = S x g / c ...............(smp/jam) Tabel 4.4.3 Data Kapasitas Simpang MM Tahun 2012 Kapasitas Kode Pendekat (smp/jam) U 1530 S 738 T 794 B 586 Bagian SIG-IV Tabel 4.4.4 Data Derajat Jenuh Simpang MM Tahun 2012 Kode Arus Kapasitas Derajat Pendekat Lalu smp / Kejenuhan

jam Lintas smp/jam Q (2) 1251 603 649 479 DS= Q/C C (3) 1530 738 794 586 (4) 0,817 0,817 0,817 0,817

(1) U S T B

Tabel 4.4.5 Data Waktu Tundaan Simpang MM Tahun 2012 Tundaan Tundaan Tundaan lalu geoTundaan Tundaan lintas metrik rata-rata rata-rata rata-rata total det/smp det/smp det/smp smp.det D = DT DG DT+DG D x Q (13) 30,6 45,0 45,2 51,8 (14) 3,7 3,9 3,9 4,0 (15) 34,2 48,9 49,1 55,9 (16) 42831 29511 31848 26759

6,0 4753 Total : 135702 Tundaan simpang ratarata(det/smp) : 35,96 Bagian SIG-V Untuk simpang bersinyal perkotaan terdapat batasan-batasan nilai Derajat Jenuh (DS) dan waktu tundaan yang merupakan nilai maksimum di mana simpang di batas jenuh. Nilai tersebut, sebagai berikut: Derajat Jenuh (DS) Besar derajat jenuh didapatkan dari rumus berikut: DS=Q/C Keterangan: DS : derajat jenuh Q : arus lalu lintas (smp/jam) C : kapasitas (smp/jam) Batas maksimum untuk simpang bersinyal perkotaan adalah 0,85 . Apabila suatu simpang nilai DS melebihi 0,85 maka simpang tersebut dapat dikatakan lewat-jenuh. Kondisi lalu lintas saat DS lebih dari 0,85 adalah timbulnya antrian panjang pada simpang dan berpotensi kemacetan.

0,0

6,0

Dari Tabel 4.4.4, dapat dilihat bahwa nilai kapasitas simpang masih lebih besar dari pada besar arus lalu lintas yang melalu simpang MM, sehingga nilai DS<1.Dapat dilihat dari Tabel 4.4.4 bahwa Derajat Kejenuhan (DS) simpang MM sebesar 0,817, di mana nilai tersebut masih di bawah nilai 0,85. Hal tersebut menunjukkan simpang belum lewat-jenuh, dan belum menimbulkan antrian panjang karena kondisi lalu lintasnya. Akan tetapi, nilai DS simpang sudah mendekati batas maksimum, sehingga dapat dikatakan simpang mendekati kondisi lewat-jenuh.Sedangkan dari data waktu tundaan pada kondisi eksisting tahun 2012, tundaan rata-rata simpang MM mencapai 35,96 det/smp. 4.4.2 Kondisi 5 Tahun (2017) dan 10 Tahun (2022) Semakin tahun pengguna jalan raya semakin banyak dan aktivitas manusia di sekitar jalan juga semakin banyak. Dengan demikian untuk meramalkan kondisi simpang pada 5 tahun ke depan diperlukan nilai Growth Factor untuk memperkirakan besar arus lalu lintas di tahun tersebut. Nilai Growth Factor dapat dihitung dengan cara sebagai berikut: [ dengan, Pn Po n i : jumlah lalu lintas tahun terakhir (kend/hari) : jumlah lalu lintas tahun awal (kend/hari) : tahun akhir - tahun awal (tahun) : angka pertumbuhan lalu lintas ]

Dengan diketahui data tahun 2011 dan 2012 dapat diperkirakan nilai growth factor. Tabel 4.4.6 Perbandingan Arus Lalu Lintas Tahun 2011 dan 2012 Arus lalu lintas smp/j Q (18) 1251 603 649 479 =2981 Tahun 2012 arus lalu lintas= 2815 smp/jam

Tahun 2011

Setelah diketahui nilai Growth Factor, kemudian dihitung arus lalu lintas di tahun 2017, dengan rumus: Qi =Q0 (1+i)n Q0 : arus lalu lintas di tahun sekarang Q1 : arus lalu lintas di tahun ke-i n : selisih tahun sekarang sampai tahun ke-i i : growth factor Dikarenakan analisa ini bertujuan untuk mengetahui apakah simpang MM masih dapat melayani arus lalu lintas di tahun 2017 ataukah tidak, maka data masukan yang berupa data geometrik jalan dan waktu siklus dianggap tetap. Data yang berbeda dari tahun 2012 adalah: a) Data Lingkungan Jalan a. Ukuran Kota Pada kondisi eksisting ukuran kota sebesar 1,3 juta, dengan angka pertumbuhan 1,92% setiap tahunnya maka ukuran kota di tahun 2017 sebesar 1.429.685, dibulatkan menjadi 1,5 juta. b) Data Lalu lintas Berikut adalah data hasil analisis kondisi simpang di tahun 2017: Tabel 4.4.7 Data Kapasitas Simpang MM Tahun 2017 Kode Kapasitas Pendekat smp / jam

(1) U S T B Bagian SIG-V

C (3) 2086 1137 884 665

Tabel 4.4.8 Data Derajat Jenuh Simpang MM Tahun 2017 Kode Arus Kapasitas Derajat smp / Pendekat Lalu jam Kejenuhan Lintas DS= smp/jam Q/C Q C (1) U S T B (2) 2051 1118 869 654 (3) 2086 1137 884 665 (4) 0,983 0,983 0,983 0,983

Bagian SIG-V Tabel 4.4.9 Data Waktu Tundaan Simpang MM Tahun 2017 Tundaan Tundaan Tundaan lalu geoTundaan Tundaan lintas metrik rata-rata rata-rata rata-rata total det/smp det/smp det/smp smp.det D = DT DG DT+DG D x Q (13) 178,6 260,6 294,0 327,5 (14) 3,8 3,9 3,9 4,0 (15) 182,4 264,4 297,9 331,5 (16) 374036 295649 258776 216786

6,0 8113 Total : 1153360 Tundaan simpang ratarata(det/smp) : 190,84 Bagian SIG-V Dapat dilihat dari Tabel 4.4.8 bahwa nilai kapasitas dan arus lalu lintas yang melintasi simpang nilainya hampir sama. Hal ini berpengaruh pada nilai derajat jenuh simpang.Jika dibandingkan dengan Derajat Kejenuhan (DS) pada kondisi eksisting tahun 2012, Derajat Kejenuhan (DS) tahun 2017 mengalami kenaikan, yaitu mencapai 0,983. Nilai tersebut telah melampaui batas jenuh simpang (0,85). Menunjukkan pada tahun 2017, kondisi simpang MM tidak dapat melayani volume lalu lintas yang ada dan sudah menimbulkan antrian panjang.Untuk waktu tundaan rata-rata simpang di tahun 2017 mencapai 190,84 det/smp. Untuk memperkirakan kondisi simpang di tahun 2012 terjadi perubahan data masukan, antara lain: a) Data Lingkungan Jalan a. Ukuran Kota Dengan pertumbuhan penduduk 1,92 persen pertahun, pada tahun ke 2022 jumlah penduduk kota Sleman sudah mencapai 1.814.200 jiwa. Pada perhitungan ukuran kota dibulatkan menjadi 1,9 juta. b. Tingkat Hambatan Samping Dikarenakan semakin tahun semakin banyak aktifitas manusia di sekitar simpang , maka diprediksikan tingkat hambatan samping pada pendekat utara(U) tetap tinggi dan pendekat timur(T) serta selatan(S) juga menjadi tinggi.Pada pendekat timur(T) berpotensi mengalami kenaikan hambatan samping karena terdapat pertokoan di dekat pendekat. Sedangkan untuk pendekat selatan(S), juga berpotensi mengalami kenaikan karena banyak aktifitas manusia di sekitar pendekat. b) Data Lalu lintas

0,0

6,0

Dengan Growth Factor 24,23% per tahundapat diperkirakan arus lalu lintas di tahun 2022. Pada perhitungan tahun 2022 data geometrik dan waktu siklus simpang dianggap tetap, karena perhitungan ini bertujuan untuk mengetahui apakah simpang masih dapat melayani lalu lintas di tahun tersebut. Kondisi simpang 10 tahun ke depan (2022) adalah sebagai berikut: Tabel 4.4.10 Data Derajat Jenuh Simpang MM Tahun 2022 Kode Arus Kapasitas Derajat smp / Pendekat Lalu jam Kejenuhan Lintas DS= smp/jam Q/C Q C (1) (2) (3) (4) U 2531 1836 1,378 S 1433 1040 1,378 T 1049 761 1,378 B 809 587 1,378 Bagian SIG-V Pada kondisi simpang di tahun 2022, arus lalu lintas yang ada melebihi kapasitas simpang yang dapat dilayani.Hal tersebut menunjukkan bahwa simpang bersinyal MM tidak dapat lagi mengatasi konflik di pertemuan ruas Jalan Kaliurang dan Jalan Teknika Utara lagi. Derajat Kejenuhannya (DS) mencapai 1,378. Dengan nilai DS tersebut menunjukkan simpang sudah terlampau lewatjenuh, dan kemacetan timbul pada simpang. Tabel 4.4.11 Data Waktu Tundaan Simpang MM Tahun 2022 Tundaan Tundaan Tundaan lalu geoTundaan Tundaan lintas metrik rata-rata rata-rata rata-rata total det/smp det/smp det/smp smp.det D= DT DG DT+DG D x Q (13) (14) (15) (16) 761,6 9,3 771,0 1951006 771,3 12,0 783,2 1122385 779,2 8,1 787,2 825511 786,3 10,0 796,3 644278

0,0

6,0

6,0 10393 Total : 4553572 602,85

Tundaan simpang ratarata(det/smp) : Bagian SIG-V

Waktu tundaan simpang mencapai 602,85 det/smp atau sekitar 10 menit, dapat dikatakan simpang bersinyal MM sudah tidak dapat mengatasi konflik tetapi justru menimbulkan kemacetan. Melihat kondisi simpang pada tahun 2017 dan tahun 2022 sudah lewat-jenuh, sebaiknya dilakukan manajemen simpang agar untuk 5 tahun sampai 10 tahun ke depan simpang MM masih dapat melayani lalu lintas.

5.2 Perancangan Simpang Melihat Simpang MM pada tahun ke-5 sudah tidak dapat melayani arus lalu lintas yang ada, maka sebaiknya dilakukan manajemen simpang atau penataan ulang geometrik simpang agar pada 5 tahun hingga 10 tahun ke depan simpang masih dapat melayani arus lalu lintas yang ada. Dengan perencanaan dengan tujuan simpang masih dapat melayani arus lalu lintas pada tahun 2022, maka dalam perhitungan bertujuan untuk menurunkan derajat jenuh dari 1,378 menjadi di bawah 0,85. Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menurunkan derajat jenuh tersebut adalah: 1. Di sekitar pendekat di berlalukan larangan parkir on-street, penjual kaki lima di badan jalan maupun di trotoar, memaksimalkan trotoar untuk pejalan kaki, dan menyediakan tempat henti kendaraan umum yang jauh dari simpang.Hal tersebut bertujuan untuk mengurangi tingkat hambatan samping di simpang. Tabel 5.2.1 Data Hambatan Samping Simpang MM Rencana Tipe Hambatan Kode lingkungan Samping Pendekat jalan (com/res/ra) (Tinggi/Rendah) (1) (2) (3) U Com Rendah S Com Rendah T Com Rendah B Com Rendah Bagian SIG-I 2. LTOR tidak diberlakukan, dan dirubah menjadi LT agar kapasitas simpang meningkat. LT diberlakukan untuk semua pendekat, baik U, S, B maupun T. Dengan merubah LTOR menjadi LT dan mengendalikan hambatan samping nilai, Derajat Jenuh (DS) dari simpang turun menjadi 1,026 dengan nilai DS sebelumnya 1,387. Tabel 5.2.2 Data Derajat Jenuh Simpang MM Rencana Kode Arus Kapasitas Derajat smp / Pendekat Lalu jam Kejenuhan Lintas DS= smp/jam Q/C Q C (1) (2) (3) (4) U 2531 2466 1,026 S 1433 1396 1,026 T 1049 1022 1,026 B 809 788 1,026 Bagian SIG-V Akan tetapi nilai tersebut belum memenuhi batas maksimal derajat jenuh simpang bersinyal yaitu 0,85. Maka perlu dilakukan usaha lain, seperti :

3. Pelebaran geometrik simpang. WA semua lengan diperlebar terutama untuk arus lalu lintas yang tinggi. Pada hitungan perancangan simpang lebar pendekat direncanakan menjadi: Tabel 5.2.3 Data Lebar Pendekat Rencana Lebar Pendekat ( m ) Belok kiri Kode Pendekat Masuk lgs. Keluar W Pendekat WA WENTRY LTOR W EXIT (1) U S T B Bagian SIG-I (8) 7,00 10,00 13,00 12,00 (9) 7,00 10,00 13,00 12,00 (10) 0,00 0,00 0,00 0,00 (11) 6,00 12,20 11,50 7,50

Dengan merubah lebar pendekat menjadi seperti data di atas nilai Derajat Jenuh (DS) dapat direduksi menjadi seperti di bawah ini: Tabel 5.2.4 Kode Arus Pendekat Lalu Lintas smp/jam Q (1) (2) U 2531 S 1433 T 1049 B 809 Bagian SIG-V

Kapasitas Derajat smp / jam Kejenuhan DS= Q/C C (3) (4) 2623 0,965 1485 0,965 1087 0,965 839 0,965

4. Waktu siklus pada simpang diperpanjang guna memperbesar kapasitas. Akan tetapi memperpanjang waktu siklus dapat menyebabkan tundaan lebih lama pula. 5. Mengurangi jumlah fase untuk menambah kapasitas simpang. Akan tetapi untuk simpang empat lengan dengan arus lalu lintas tinggi, pengurangan jumlah fase dapat beresiko menambah konflik di simpang tersebut. 6. Pemasangan detector pada traffic light. Sehingga, lama nyala lampu hijau, merah, atau kuning dapat menyesuaikan banyaknya jumlah kendaraan yang melalui jalan tersebut. 7. Selain melakukan manajemen simpang itu sendiri, dapat dilakukan pula usaha untuk mengurangi arus lalu lintas yang ada, seperti: a. Memberlakukan strategi road pricing, yaitu pemberlakuan tarif setiap masuk suatu jalan tertentu yang biasanya jalan tersebut sering terjadi kemacetan, sehingga secara tidak langsung mengarahkan pengguna kendaraan bermotor

yang tidak ingin membayar untuk merubah rute perjalanan atau waktu perjalanannya. b. Mengkaji ulang prosedur kepemilikan kendaraan bermotor dan besar pajak kendaraan bermotor karena disinyalir terjadinya booming kendaraan pribadi dikarenakan kemudahan dalam mengurus kepemilikan kendaraan dan rendahnya pajak. c. Menghimbau masyarakat untuk memakai transportasi pulik dengan penataan kembali transportasi publik (seperti angkutan kota, bus, dan trans jogja) agar masyarakat dapat kembali tertarik untuk menggunakan transportasi publik. Penataan ini dapat berupa perampingan dan pengaturan kembali trayek agar lebih optimal, peremajaan armada bus (sekaligus mengurangi polusi udara yang diakibatkan asap buangan kendaraan lama yang terkenal kurang perawatannya dan pada umumnya sudah berumur lama), dan atau penambahan jam operasional hingga malam hari (sehingga dapat menampung mobilitas penumpang pada malam hari dan dapat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi di malam hari).