Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH

GANGGUAN SISTEM HEMATOLOGI ASKEP MALARIA

Dosen Pembimbing: Ns. Eva Mayasari, S.Kep Disusun Oleh : Kelompok D 1. Agung Arie Pradana 2. Adilah Fitri Sari 3. Amelia Theresia 4. Amila Amalia 5. Ade Kurniawan 6. Kartini 7. Eti Etika 8. Martinah 9. Rosliana 10. Trie Yoga P.S 11. Dedi Sutrisno 12. Eko Prasetya 13. Mimi Harpia S 14. Raudatul Husna 15. Hergani 16. Hema Sasri 17. Uniza 18. Yeni Astuti 19. Rudi 2008-21-126 2008-21-018 2008-21-010 2008-21-050 2008-21-108 2008-21-014 2008-21-132 2008-21-080 2008-21-066 2008-21-052 2008-21-042 2008-21-058 2008-21-114 2008-21-134 2008-21-122 2008-21-092 2008-21-118 2008-21-110 2008-21-148

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BAITURRAHIM JAMBI STIKBA PRODI S1 KEPERAWATAN

2009-2010

LAMPIRAN Daftar Nama Kelompok 4 Beserta Tugasnya NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 NAMA Agung Arie Pradana Adilah Fitri Sari Amelia Theresia Amila Amalia Ade Kurniawan Kartini Eti Etika Martinah Rosliana Trie Yoga P.S Dedi 2008-21-042 Eko 2008-21-058 Mimi Harpia 2008-21-114 Raudatul 2008-21-134 Hergani 2008-21-122 Hema 2008-21Uniza 2008-21Yeni 2008-21-110 Rudi 2008-21TUGAS Kordinator Cari Bahan Cari bahan Cari bahan Meringkas Cari bahan Cari Bahan Cari Bahan Cari Bahan + Mencatat Mengetik+ cari bahan Cari Bahan Meringkas Mencatat Cari Bahan Meringkas Sasri Meringkas Mencatat Astuti Meringkas Cari Bahan

Sutrisno Prasetya S Husna

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan karuniaNya, penulis dapat menyelesaikan makalah Sistem Hemetologi & Imunologi yang berjudul Asuhan Keperawatan dengan Klien Malaria tepat pada waktunya. Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pengrjaan makalah ini. Penulis juga menyadari banyak kekurangan yang terdapat pada makalah ini, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik yang membangun agar penulis dapat berbuat lebih banyak di kemudian hari. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya.

Jambi, 16 Desember 2009

Penulis

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... LAMPIRAN .................................................................................................... i KATA PENGANTAR .................................................................................... ii DAFTAR ISI ................................................................................................... iii BAB I PENDAHULUAN 1.1 1.2 1.3 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 2.7 2.8 Latar Belakang .................................................................................. 1 Rumusan Masalah ............................................................................. 1 Tujuan ................................................................................................ 1 Pengertian Malaria ............................................................................ 2 Etiologi............................................................................................... 2 Klasifikasi........................................................................................... 3 Patofisiologi....................................................................................... 4 Manifestasi klinis............................................................................... 8 Pemeriksaan Penunjang..................................................................... 10 Penatalaksanaan................................................................................. 11 Komplikasi......................................................................................... 12

BAB II KONSEP DASAR TEORI

BAB II PEMBAHASAN KASUS 3.1 Asuhan Keperawatan Malaria............................................................. 14 BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan .......................................................................................... 20 4.2 Saran ................................................................................................... 20

iii

DAFTAR PUSTAKA

iv

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Malaria merupakan penyakit yang terdapat di daerah Tropis. Penyakit ini sangat dipengaruhi oleh kondisi-kondisi lingkungan yang memungkinkan nyamuk untuk berkembangbiak dan berpotensi melakukan kontak dengan manusia dan menularkan parasit malaria. Contoh faktor-faktor lingkungan itu antara lain hujan, suhu, kelembaban, arah dan kecepatan angin, ketinggian. Salah satu faktor lingkungan yang juga mempengaruhi peningkatan kasus malaria adalah penggundulan hutan, terutama hutan-hutan bakau di pinggir pantai. Akibat rusaknya lingkungan ini, nyamuk yang umumnya hanya tinggal di hutan, dapat berpindah di pemukiman manusia, kerusakan hutan bakau dapat menghilangkan musuh-musuh alami nyamuk sehingga kepadatan nyamuk menjadi tidak terkontrol. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis dat membuat rumusan masalah yaitu sebagai berikut : 1. Apa Pengertian dari Malaria? 2. Apa Etiologi dari anemia Malaria? 3. Bagaimanakah patofisiologis pada Malaria? 4. Apa saja manifestasi dari anemia Malaria? 5. Bagaimankah penatalaksanaannya ? 6. Apa saja komplikasinya ? 7. Bagaimnakah Asuhan Keperawatan pada pasien dengan Malaria? 1.3 Tujuan Tujuan umum penulisan makalah ini adalah sebagai pemenuhan tugas Sistem Hematologi yang berjudul Asuhan Keperawatan Klien dengan Malaria . Tujuan khusus penulisan makalah ini adalah menjawab pertanyaan yang telah dijabarkan pada rumusan masalah agar penulis ataupun pembaca tentang konsep pengkajiannya. Anemia Sel Sabit serta proses keperawatan dan

BAB II PEMBAHASAN 2.1. Pengertian Malaria adalah penyakit akut dan dapat menjadi kronik yang disebabkan oleh protozoa (genus plasmodium) yang hidup intra sel (Iskandar Zulkarnain, 1999). Malaria adalah infeksi parasit pada sel darah merah yang disebabkan oleh suatu protozoa spesies plasmodium yang ditularkan kepada manusia melalui air liur nyamuk (Corwin, 2000, hal 125). Malaria adalah penyakit infeksi dengan demam berkala, yang disebabkan oleh Parasit Plasmodium dan ditularkan oleh sejenis nyamuk Anopeles (Tjay & Raharja, 2000). 2.2. Etiologi Menurut Harijanto (2000) ada empat jenis plasmodium yang dapat menyebabkan infeksi yaitu, a. b. Plasmodium vivax, merupakan infeksi yang paling sering dan Plasmodium falciparum, memberikan banyak komplikasi dan menyebabkan malaria tertiana/ vivaks (demam pada tiap hari ke tiga). mempunyai perlangsungan yang cukup ganas, mudah resisten dengan pengobatan dan menyebabkan malaria tropika/ falsiparum (demam tiap 24-48 jam). c. d. Plasmodium malariae, jarang ditemukan dan menyebabkan malaria Plasmodium ovale, dijumpai pada daerah Afrika dan Pasifik Barat, quartana/malariae (demam tiap hari empat). diIndonesia dijumpai di Nusa Tenggara dan Irian, memberikan infeksi yang paling ringan dan dapat sembuh spontan tanpa pengobatan, menyebabkan malaria ovale. Masa inkubasi malaria bervariasi tergantung pada daya tahan tubuh dan spesies plasmodiumnya. Masa inkubasi Plasmodium vivax 14-17 hari, Plasmodium ovale 11-16 hari, Plasmodium malariae 12-14 hari dan Plasmodium falciparum 10-12 hari (Mansjoer, 2001).

2.3. Klasifikasi Menurut Harijanto (2000) pembagian jenis-jenis malaria berdasarkan jenis plasmodiumnya antara lain sebagai berikut : a. Malaria Tropika (Plasmodium Falcifarum) Malaria tropika/ falciparum malaria tropika merupakan bentuk yang paling berat, ditandai dengan panas yang ireguler, anemia, splenomegali, parasitemia yang banyak dan sering terjadi komplikasi. Masa inkubasi 914 hari. Malaria tropika menyerang semua bentuk eritrosit. Disebabkan oleh Plasmodium falciparum. Plasmodium ini berupa Ring/ cincin kecil yang berdiameter 1/3 diameter eritrosit normal dan merupakan satusatunya spesies yang memiliki 2 kromatin inti (Double Chromatin). Klasifikasi penyebaran Malaria Tropika: Plasmodium Falcifarum menyerang sel darah merah seumur hidup. Infeksi Plasmodium Falcifarum sering kali menyebabkan sel darah merah yang mengandung parasit menghasilkan banyak tonjolan untuk melekat pada lapisan endotel dinding kapiler dengan akibat obstruksi trombosis dan iskemik lokal. Infeksi ini sering kali lebih berat dari infeksi lainnya dengan angka komplikasi tinggi (Malaria Serebral, gangguan gastrointestinal, Algid Malaria, dan Black Water Fever). b. Malaria Kwartana (Plasmoduim Malariae) Plasmodium Malariae mempunyai tropozoit yang serupa dengan Plasmoduim vivax, lebih kecil dan sitoplasmanya lebih kompak/ lebih biru. Tropozoit matur mempunyai granula coklat tua sampai hitam dan kadang-kadang mengumpul sampai membentuk pita. Skizon Plasmodium malariae mempunyai 8-10 merozoit yang tersusun seperti kelopak bunga/ rossete. Bentuk gametosit sangat mirip dengan Plasmodium vivax tetapi lebih kecil. Ciri-ciri demam tiga hari sekali setelah puncak 48 jam. Gejala lain nyeri pada kepala dan punggung, mual, pembesaran limpa, dan malaise umum. Komplikasi yang jarang terjadi namun dapat terjadi seperti sindrom nefrotik dan komplikasi terhadap ginjal lainnya. Pada

pemeriksaan akan di temukan edema, asites, proteinuria, hipoproteinemia, tanpa uremia dan hipertensi. c. Malaria Ovale (Plasmodium Ovale) Malaria Tersiana (Plasmodium Ovale) bentuknya mirip Plasmodium malariae, skizonnya hanya mempunyai 8 merozoit dengan masa pigmen hitam di tengah. Karakteristik yang dapat di pakai untuk identifikasi adalah bentuk eritrosit yang terinfeksi Plasmodium Ovale biasanya oval atau ireguler dan fibriated. Malaria ovale merupakan bentuk yang paling ringan dari semua malaria disebabkan oleh Plasmodium ovale. Masa inkubasi 11-16 hari, walau pun periode laten sampai 4 tahun. Serangan paroksismal 3-4 hari dan jarang terjadi lebih dari 10 kali walau pun tanpa terapi dan terjadi pada malam hari. d. Malaria Tersiana (Plasmodium Vivax) Malaria Tersiana (Plasmodium Vivax) biasanya menginfeksi eritrosit muda yang diameternya lebih besar dari eritrosit normal. Bentuknya mirip dengan plasmodium Falcifarum, namun seiring dengan maturasi, tropozoit vivax berubah menjadi amoeboid. Terdiri dari 12-24 merozoit ovale dan pigmen kuning tengguli. Gametosit berbentuk oval hampir memenuhi seluruh eritrosit, kromatinin eksentris, pigmen kuning. Gejala malaria jenis ini secara periodik 48 jam dengan gejala klasik trias malaria dan mengakibatkan demam berkala 4 hari sekali dengan puncak demam setiap 72 jam. Dari semua jenis malaria dan jenis plasmodium yang menyerang system tubuh, malaria tropika merupakan malaria yang paling berat di tandai dengan panas yang ireguler, anemia, splenomegali, parasitemis yang banyak, dan sering terjadinya komplikasi. 2.4. Patofisiologi Daur hidup spesies malaria pada manusia yaitu: a.Fase seksual Fase ini terjadi di dalam tubuh manusia (Skizogoni), dan di dalam tubuh nyamuk (Sporogoni). Setelah beberapa siklus, sebagian merozoit di dalam eritrosit dapat berkembang menjadi bentuk- bentuk seksual jantan dan

betina. Gametosit ini tidak berkembang akan mati bila tidak di hisap oleh Anopeles betina. Di dalam lambung nyamuk terjadi penggabungan dari gametosit jantan dan betina menjadi zigote, yang kemudian mempenetrasi dinding lambung dan berkembang menjadi Ookista. Dalam waktu 3 minggu, sporozoit kecil yang memasuki kelenjar ludah nyamuk (Tjay & Rahardja, 2002, hal .162-163). Fase eritrosit dimulai dan merozoid dalam darah menyerang eritrosit membentuk tropozoid. Proses berlanjut menjadi trofozoit- skizonmerozoit. Setelah 2- 3 generasi merozoit dibentuk, sebagian merozoit berubah menjadi bentuk seksual. Masa antara permulaan infeksi sampai ditemukannya parasit dalam darah tepi adalah masa prapaten, sedangkan masa tunas/ incubasi intrinsik dimulai dari masuknya sporozoit dalam badan hospes sampai timbulnya gejala klinis demam. (Mansjoer, 2001, hal. 409). b. Fase Aseksual Terjadi di dalam hati, penularan terjadi bila nyamuk betina yang terinfeksi parasit, menyengat manusia dan dengan ludahnya menyuntikkan sporozoit ke dalam peredaran darah yang untuk selanjutnya bermukim di sel-sel parenchym hati (Pre-eritrositer). Parasit tumbuh dan mengalami pembelahan (proses skizogoni dengan menghasilakn skizon) 6-9 hari kemudian skizon masak dan melepaskan beribu-ribu merozoit. Fase di dalam hati ini di namakan Pra -eritrositer primer. Terjadi di dalam darah. Sel darah merah berada dalam sirkulasi lebih kurang 120 hari. Sel darah mengandung hemoglobin yang dapat mengangkut 20 ml O2 dalam 100 ml darah. Eritrosit diproduksi oleh hormon eritropoitin di dalam ginjal dan hati. Sel darah di hancurkan di limpa yang mana proses penghancuran yang di keluarkan diproses kembali untuk mensintesa sel eritrosit yang baru dan pigmen bilirubin yang dikelurkan bersamaan dari usus halus. Dari sebagian merozoit memasuki sel-sel darah merah dan berkembang di sini menjadi trofozoit. Sebagian lainnya memasuki jaringan lain, antara lain limpa atau terdiam di hati dan di sebut ekso-eritrositer sekunder. Dalam waktu 48 -72 jam, sel-sel darah merah pecah dan merozoit yang di lepaskan dapat memasuki siklus di mulai kembali. Setiap saat sel darah merah pecah, penderita merasa kedinginan dan demam, hal ini di sebabkan oleh merozoit

dan protein asing yang di pisahkan. Secara garis besar semua jenis Plasmodium memiliki siklus hidup yang sama yaitu tetap sebagian di tubuh manusia (aseksual) dan sebagian ditubuh nyamuk.

Web Of Causation

Gigitan nyamuk Anopheles betina Sporozoit masuk kedalam darah Setelah setengah jam masuk kedalam hati Bermukim di parenkim hati (Pre-eritrositer) Skizogon menghasilkan skizon 6-9 hari skizon masak melepaskan beribu merozoit MALARIA Sebagian merozoid masuk ke sel sel darah merah Berkembang dalam sel darah merah menjadi trofozoid Skizon pecah dalam eritrosit Eritrosit pecah Hb ANEMIA Suplai O2 kejaringan inadekuat Menggigil kedinginan dan demam Banyak mengeluarkan keringat Sebagian lain masuk ke jaringan lain (limpa, hati) Penyumbatan oleh sel-sel eritrosit parasit pada limfa dan hati Splenomegali dan Hepatomegali Distensi abdomen Mual, muntah Anoreksia

MK: Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh MK: Hipertermi

MK: Perubahan perfusi jaringan

MK: Defisit volume cairan

2.5. Manifestasi Klinis

Tanda dan gejala yang di temukan pada klien dngan malaria secara umum menurut Mansjoer (1999) antara lain sebagai berikut : a. Demam Demam periodik yang berkaitan dengan saat pecahnya skizon matang (sporolasi). Pada Malaria Tertiana (P.Vivax dan P. Ovale), pematangan skizon tiap 48 jam maka periodisitas demamnya setiap hari ke-3, sedangkan Malaria Kuartana (P. Malariae) pematangannya tiap 72 jam dan periodisitas demamnya tiap 4 hari. Tiap serangan di tandai dengan beberapa serangan demam periodik. Gejala umum (gejala klasik) yaitu terjadinya Trias Malaria (malaria proxysm) secara berurutan: 1) Periode dingin. Mulai menggigil, kulit kering dan dingin, penderita sering membungkus diri dengan selimut atau sarung dan pada saat menggigil sering seluruh badan bergetar dan gigi-gigi saling terantuk, pucat sampai sianosis seperti orang kedinginan. Periode ini berlangsung 15 menit sampai 1 jam diikuti dengan meningkatnya temperatur. 2) Periode panas. Muka merah, kulit panas dan kering, nadi cepat dan panas tetap tinggi sampai 40oC atau lebih, respirasi meningkat, nyeri kepala, nyeri retroorbital, muntah-muntah, dapat terjadi syok (tekanan darah turun), kesadaran delirium sampai terjadi kejang (anak). Periode ini lebih lama dari fase dingin, dapat sampai 2 jam atau lebih, diikuti dengan keadaan berkeringat. 3) Periode berkeringat. Penderita berkeringat mulai dari temporal, diikuti seluruh tubuh, sampai basah, temperatur turun, penderita merasa capai dan sering tertidur. Bila penderita bangun akan merasa sehat dan dapat melakukan pekerjaan biasa.

b.

Splenomegali

Splenomegali adalah pembesaran limpa yang merupakan gejala khas Malaria Kronik. Limpa mengalami kongesti, menghitam dan menjadi keras karena timbunan pigmen eritrosit parasit dan jaringan ikat bertambah (Corwin , 2000, hal. 571). Pembesaran limpa terjadi pada beberapa infeksi ketika membesar sekitar 3 kali lipat. Lien dapat teraba di bawah arkus costa kiri, lekukan pada batas anterior. Pada batasan anteriornya merupakan gambaran pada palpasi yang membedakan jika lien membesar lebih lanjut. Lien akan terdorong ke bawah ke kanan, mendekat umbilicus dan fossa iliaca dekstra. c. Anemia Derajat anemia tergantung pada spesies penyebab, yang paling berat adalah anemia karena Falcifarum. Anemia di sebabkan oleh penghancuran eritrosit yang berlebihan Eritrosit normal tidak dapat hidup lama (reduced survival d. time). Gangguan pembentukan eritrosit karena depresi eritropoesis dalam sumsum tulang (Mansjoer. dkk, Hal. 411). Ikterus Ikterus adalah diskolorasi kuning pada kulit dan skIera mata akibat kelebihan bilirubin dalam darah. Bilirubin adalah produk penguraian sel darah merah. Terdapat tiga jenis ikterus antara lain : 1) Ikterus hemolitik Disebabkan oleh lisisnya (penguraian) sel darah merah yang berlebihan. Ikterus ini dapat terjadi pada destruksi sel darah merah yang berlebihan dan hati dapat mengkonjugasikan semua bilirubin yang di hasilkan 2) Ikterus hepatoseluler Penurunan penyerapan dan konjugasi bilirubin oleh hati terjadi pada disfungsi hepatosit dan di sebut dengan hepatoseluler. 3) Ikterus Obstruktif Sumbatan terhadap aliran darah ke empedu keluar hati atau melalui duktus biliaris di sebut dengan ikterus obstuktif (Corwin, 2000, hal. 571). 2.6. Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan mikroskopis malaria

Diagnosis malaria sebagai mana penyakit pada umumnya didasarkan pada manifestasi klinis (termasuk anamnesis), uji imunoserologis dan ditemukannya imunoserologis parasit yang (plasmodium) dirancang di dalam penderita. Uji target dengan bermacam-macam

dianjurkan sebagai pelengkap pemeriksaan mikroskopis dalam menunjang diagnosis malaria atau ditujukan untuk survey epidemiologi di mana pemeriksaan mikrokopis tidak dapat dilakukan. Diagnosis definitif demam malaria ditegakan dengan ditemukanya parasit plasmodium dalam darah penderita. Pemeriksaan mikrokropis satu kali yang memberi hasil negatif tidak menyingkirkan diagnosis deman malaria. Untuk itu diperlukan pemeriksaan serial dengan interval antara pemeriksaan satu hari. Pemeriksaan mikroskropis membutuhkan syarat-syarat tertentu agar mempunyai nilai diagnostik yang tinggi (sensitivitas dan spesifisitas mencapai 100%). 1) Waktu pengambilan sampel harus tepat yaitu pada akhir periode demam memasuki periode berkeringat. Pada periode ini jumlah trophozoite dalam sirkulasi dalam mencapai maksimal dan cukup matur sehingga memudahkan identifikasi spesies parasit. 2) Volume yang diambil sebagai sampel cukup, yaitu darah kapiler (finger prick) dengan volume 3,0-4,0 mikro liter untuk sediaan tebal dan 1,0-1,5 mikro liter untuk sedian tipis. 3) Kualitas perparat harus baik untuk menjamin identifikasi spesies plasmodium yang tepat. 4) Identifikasi spesies plasmodium 5) Identifikasi morfologi sangat penting untuk menentukan spesies plasmodium dan selanjutnya digunakan sebagai dasar pemilihan obat b. QBC (Semi Quantitative Buffy Coat) Prinsip dasar: tes floresensi yaitu adanya protein pada plasmodium yang dapat mengikat acridine orange akan mengidentifikasi eritrosit terinfeksi plasmodium. QBC merupakan teknik pemeriksaan dengan menggunakan tabung kapiler dengan diameter tertentu yang dilapisi acridine orange tetapi cara ini tidak dapat membedakan spesies plasmodium dan kurang tepat sebagai instrumen hitung parasit.

10

c.

Pemeriksaan imunoserologis

Pemeriksaan imunoserologis didesain baik untuk mendeteksi antibodi spesifik terhadap paraasit plasmodium maupun antigen spesifik plasmodium atau eritrosit yang terinfeksi plasmodium teknik ini terus dikembangkan terutama menggunakan teknik radioimmunoassay dan enzim immunoassay. d. Pemeriksan Biomolekuler Pemeriksaan biomolekuler digunakan untuk mendeteksi DNA spesifik parasit/ plasmodium dalam darah penderita malaria.tes ini menggunakan DNA lengkap yaitu dengan melisiskan eritrosit penderita malaria untuk mendapatkan ekstrak DNA. 2.7. Penatalaksanaan Penatalaksanaan khusus pada kasus- kasus malaria dapat diberikan tergantung dari jenis plasmodium, menurut Tjay & Rahardja (2002) antara lain sebagai berikut: a. Malaria Tersiana/ Kuartana Biasanya di tanggulangi dengan kloroquin namun jika resisten perlu di tambahkan mefloquin single dose 500 mg p.c (atau kinin 3 dd 600 mg selama 4-7 hari). Terapi ini disusul dengan pemberian primaquin 15 mg /hari selama 14 hari) b.Malaria Ovale Berikan kinin dan doksisklin (hari pertama 200 mg, lalu 1 dd 100 mg selama 6 hari). Atau mefloquin (2 dosis dari masing-masing 15 dan 10 mg/ kg dengan interval 4-6 jam). Pirimethamin-sulfadoksin (dosis tunggal dari 3 tablet ) yang biasanya di kombinasikan dengan kinin (3 dd 600 mg selama 3 hari). c. Malaria Falcifarum Kombinasi sulfadoksin 1000 mg dan pirimetamin 25 mg per tablet dalam dosis tunggal sebanyak 2-3 tablet. Kina 3 x 650 mg selama 7 hari. Antibiotik seperti tetrasiklin 4 x 250 mg/ hari selama 7-10 hari dan aminosiklin 2 x 100 mg/ hari selama 7 hari 2.8. Komplikasi

11

Menurut Gandahusa, Ilahude dan Pribadi (2000) beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit malaria adalah : a. Malaria otak Malaria otak merupakan penyulit yang menyebabkan kematian tertinggi (80%) bila dibandingkan dengan penyakit malaria lainnya. Gejala klinisnya dimulai secara lambat atau setelah gejala permulaan. Sakit kepala dan rasa ngantuk disusul dengan gangguan kesadaran, kelainan saraf dan kejang-kejang bersifat fokal atau menyeluruh. b. Anemia berat Komplikasi ini ditandai dengan menurunnya hematokrit secara mendadak (<> 3 mg/ dl. Seringkali penyulit ini disertai edema paru. Angka kematian mencapai 50%. Gangguan ginjal diduga disebabkan adanya Anoksia, penurunan aliran darah keginjal, yang dikarenakan sumbatan kapiler, sebagai akibatnya terjadi penurunan filtrasi pada glomerulus. c. Edema paru Komplikasi ini biasanya terjadi pada wanita hamil dan setelah melahirkan. Frekuensi pernapasan meningkat. Merupakan komplikasi yang berat yang menyebabkan kematian. Biasanya disebabkan oleh kelebihan cairan dan Adult Respiratory Distress Syndrome (ARDS). d. Hipoglikemia Konsentrasi gula pada penderita turun (< style="font-weight: bold;">B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

BAB III PEMBAHASAN KASUS KASUS:

12

Tn. G umur 40 tahun datang ke poli Rumah sakit dengan keluhan badan terasa dingin menggigil yang hilang timbul suhu badan makin lama makin panas (40o) dan banyak mengeluarkan keringat seperti orang mandi, dan gejala seperti itu sudah tiga kali berulang, perut mual disertai muntah kepala terasa sakit timbulnya sakit setiap dua hari sekali, mukosa tampak kering pada bibir, TD=110/70, 3.1 Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Malaria A. 1. Anamnesa Identitas Klien Nama Umur : Tn. G : 40 tahun Pengkajian

Riwayat Penyakit Sekarang Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari malaria yang nantinya membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi terjadinya penyakit. Riwayat Penyakit Dahulu Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab malaria Dasar data pengkajian a. Aktivitas/ istirahat Gejala : Keletihan, kelemahan, malaise umum Tanda : Takikardi, Kelemahan otot dan penurunan kekuatan. b. hangat, hipovolemia. c. Makanan dan cairan Gejala : Anoreksia mual dan muntah Tanda : Penurunan berat badan, penurunan lemak subkutan, dan Penurunan masa otot. Sirkulasi Tanda : Tekanan darah normal atau sedikit menurun. (fase demam) Kulit

d.

Neuro sensori

13

Gejala : Sakit kepala, pusing Tanda : Gelisah DS : Tn. G mengeluhkan badan terasa dingin dan menggigil Tn. G mengeluhkan mual disertai muntah dan sakit Tn. G mengeluhkan badannya semakin lama makin yang hilang timbul. kepala yang timbul dua hari sekali DO : TD = 110/70 mmHg Mukosa bibir kering Suhu = 40o C B. ANALISA DATA ETIOLOGI Infeksi plasmodium T n. G mengeluhkan badannya semakin lama makin panas dan banyak mengeluarkan kali. DO : DS : Suhu = 40o C Pengeluaran keringat T yang berlebihan dan n. G mengeluhkan mual muntah disertai muntah dan sakit kepala yang timbul dua Defisit volume cairan keringat dan telah berulang tiga PROBLEM Hipertermia panas dan banyak mengeluarkan keringat dan telah berulang tiga kali.

SIGN & SYMPTOM DS :

14

hari sekali n.G mengeluarkan DO : DS: Tn.G timbul sekali DO: C. 1. 2. 3. TD = 110/70 Diagnosa Keperawatan Hipertermia berhubungan dengan peningkatan metabolisme, dehidrasi, efek langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus. Defisit volume cairan berhubungan dengan pengeluaran keringat yang berlebihan dan muntah. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang di perlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrient dalam tubuh. D. NO 1. Diagnosa Keperawatan Hipertermi b.d infeksi virus Ds: keluarga An.T mengatakan badan anak T panas Do: - Suhu 40 C
o

T mengeluhkan keringat

seperti orang mandi

Penurunan komponen mengatakan seluler pengirim O2 dan dua hari sakit kepala yang nutrient dalam tubuh

Perubahan perfusi jaringan

NCP Tujuan Adanya peningkatan suhu tubuh Intervensi berikan kompres hangat Rasional menurunkan suhu tubuh - menentukan tindakan keperawatan selanjutnya Berikan - Dapat menurunkan

mencapai observasi normalnya tanda-tanda vital terutama suhu Kriteria Hasil : - Kulit normal teraba tubuh

15

C -

suhu normal 36-370 HB 12 Leukosit normal Trombosit normal 150.000 -

banyak minum air putih

suhu tubuh

- mencegah berikan pakaian tipis yang mudah menyerap keringat kolaborasi medis untuk pemberian infuse dan obat-obatan antipiretik - mendukung perawatan penatalaksnaan medis dan penguapan berlebihan yang

2.

Defisit volume cairan Gangguan volume - kaji keadaan umum - untuk b.d keringat dan muntah. DS: Tn.G mengeluhkan mengeluarkan keringat orang mandi Tn. G mengeluhkan mual disertai muntah dan sekali - balance DO: cairan) cairan berapa dan sakit kepala yang timbul dua hari seperti pengeluaran cairan tubuh dapat berlebihan teratasi KH: - volume cairan perlahanlahan teratasi - Pengeluaran keringat normal - Tidak muntah muntah lagi - observasi infus dan tetesan lokasi - menjaga - obserfasi tandatanda dehidrasi - obserfasi tandatanda vital (s,n,rr)

mengetahui

kondisi pasien - mengevaluasi keadaan pasien

- memenuhi kebutuhan pasien

penusukan jarum

keseimbangan cairan

(input dan output - supaya mengetahui banyak keluar dari cairan yang masuk

16

tubuh - beri pasien menganti pasien dan untuk pakaian kenyamanan pasien

anjurkan keluarga - menjaga

pasien yang basah oleh keringat kolaborasi: - pemberian infus sesuai indikasi - Pemberian antiemetik 3. Perubahan komponen pengirim O2 perfusi Setelah dilakukan seluler keperawatan dan menunjukkan perfusi yang Ukur tandatanda vital, observasi pengisian kapiler, warna kulit/membrane mukosa, dasar kuku. KH: TD = 110/70 sakit kepala hilang TD= 120/80 normal Auskultasi bunyi napas. Dispnea, gemericik menunjukkan CHF karena regangan jantung lama/peningkatan Obat - dapat mengurangi muntah memberikan informasi tentang keadekuatan perfusi jaringan dan membantu kebutuhan intervensi. cairan dextrosa - untuk dengan mempertahankan volume cairan dalam tubuh pasien

jaringan b.d penurunan tindakan

nutrient dalam tubuh terasa sakit kepala d Do: -

Ds: Tn. G mengatakan adekuat

17

kompensasi curah jantung. Observasi keluhan nyeri dada, palpitasi. Iskemia seluler mempengaruhi jaringan miokardial/potensial resiko infark.

Evaluasi respon verbal melambat, agitasi, gangguan memori, bingung. Dapat mengindikasikan gangguan perfusi serebral karena hipoksia.

Evaluasi keluhan dingin, pertahankan suhu lingkungan dan tubuh supaya tetap hangat. mengidentifika si defisiensi dan kebutuhan pengobatan/respons terhadap terapi. vasokonstriksi (ke organ vital) menurunkan sirkulasi perifer.

Observasi hasil pemeriksaan laboratorium darah lengkap

Kolaborasi Berikan meningkatkan jumlah sel pembawa

18

transfusi darah lengkap/packed sesuai indikasi.

oksigen, memperbaiki defisiensi untuk mengurangi resiko perdarahan. memaksimalka n transpor oksigen ke jaringan.

Berikan oksigen sesuai indikasi.

19

BAB III PENUTUP 4.1 Kesimpulan Malaria adalah penyakit akut dan dapat menjadi kronik yang disebabkan oleh protozoa (genus plasmodium) yang hidup intra sel (Iskandar Zulkarnain, 1999). Malaria adalah infeksi parasit pada sel darah merah yang disebabkan oleh suatu protozoa spesies plasmodium yang ditularkan kepada manusia melalui air liur nyamuk (Corwin, 2000, hal 125). Menurut Harijanto (2000) ada empat jenis plasmodium yang dapat menyebabkan infeksi yaitu, Plasmodium vivax, Plasmodium falciparum, Plasmodium malariae, dan Plasmodium ovale. Klasifikasi 4.2 Saran Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan pada makalah ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan sekali kritik yang membangun bagi makalah ini, agar penulis dapat berbuat lebih baik lagi di kemudian hari. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya. Malaria Tropika (Plasmodium Falcifarum) Malaria Kwartana (Plasmoduim Malariae) Malaria Ovale (Plasmodium Ovale) Malaria Tersiana (Plasmodium Vivax)

20

DAFTAR PUSTAKA Carpenito, Lynda Juall.2009. Diagnosis Keperawatan Aplikasi Pada Praktik Klinis Edisi 9. Jakarta : EGC Handayani Wiwik dan Andi Sulistyo. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Hematologi. Jakarta : Salemba Medika. Doengoes, Mariliynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC Smeltzer C. Suzanne, Bare G. Brendo.2002. Keperawatan Medikal Bedah Vol.3. Jakarta:EGC Mansjoer, Arif dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga. Jilid 1. Jakarta: Media Aesculapius. Wong, Donna L. 2004. Pedoman Klinis Keperawtan Pediatrik. Edisi 4. Jakarta: EGC.

21