Anda di halaman 1dari 3

BAB II PEMBAHASAN A.

Pengertian Penolakan Menolak adalah salah satu sikap ahli waris terhadap harta peninggalan seseorang yang telah meninggal dunia (pewaris). Menolak harta warisan sama halnya dengan melepaskan hak atas harta warisan. Syarat lain dari penolakan adalah harus dilakukan setelah peristiwa kematian. Pasal 1334 ayat (2) BW secara singkat mengatakan bahwa tidak diperkenankan untuk melepaskan suatu warisan yang belum terbuka. Konon, ketentuan ini didasarkan pada pertimbangan etis atau moral, yakni melepaskan atau menolak harta warisan yang belum terbuka sama halnya dengan menyuruh orang tua supaya cepat mati.1 Penolakan harta warisan banyak terjadi dalam suatu harta warisan dalam keadaan pailit, hendak membebaskan diri dari hutang-hutang harta peninggalan, benci terhadap pewaris dan anak cucunya (hal ini jarang sekali terjadi), tetapi dapat juga untuk menguntungkan waris-serta atau waris dari kelompok berikutnya. B. Bentuk Penolakan Pasal 1057 BW : Penolakan suatu warisan harus dilakukan dengan tegas, dan harus terjadi dengan cara memberikan pernyataan di kepaniteraan Pengadilan Negeri yang dalam daerah hukumnya warisan itu terbuka. Pada intinya, penolakan terhadap suatu harta warisan harus diajukan secara

1 Anisitus Amanat. Membagi Warisan : Berdasarkan Pasal-Pasal Hukum Perdata BW. 2000. Rajawali Perss. Jakarta : hlm. 30.

tegas dan tanpa syarat kepada Panitera Pengadilan Negeri.2 Untuk menyatakan keinginanya menolak warisan dan panitera membuat akta penolakan. Apabila si penolak warisan tidak datang sendiri, ia boleh menguasakan penolakan itu kepada orang lain. Akan tetapi surat kuasa itu haruslah Notariil.3 C. Akibat Penolakan Akibat dari penolakan : 1. Kedudukan sebagai ahli waris dianggap tidak pernah ada; 2. Bagiannya dalam harta warisan jatuh kepada harta warisan, jadi bukan jatuh kepada kawan waris yang lain. Hal ini akan menjadi jelas perbedaannya bila ada testament yang bisa dilaksanakan, maka bagian mutlak kawan waris yang lain tidak mencakup bagian ahli waris yang menolak itu, melainkan jatuh kepada penerima testament; 3. Keturunan ahli waris yang menolak tidak bisa mewaris karen apergantian tempat; 4. Jika ada testamen dari pewaris yang ditujukan atau diperuntukan buat orang yang menolak, maka testamen tersebut tidak bisa dilaksanakan (Pasal 1001); 5. Jika orang yang menolak pernah menerima hibah dari pewaris, maka hibah tersebut tidak wajib dimasukkan kembali (inbreng) ke dalam harta warisan pewaris (pemberi hibah), kecuali hibah tersebut menyinggung atau
2 Benyamin Asri. Dasar-Dasar Hukum Waris Barat. 1988. Tarsito: Bandung. hlm. 26. 3 Effendi Perangin. Hukum Waris. Ed-6. 2010. Rajawali Perss: jakarta. hlm. 171.

melanggar hak mutlak dari ahli waris yang memunyai hak itu; 6. Yang ditolak hanya menyangkut harta warisan atau harta peninggalan pewaris saja dan penolakan itu harus ikhlas serta tidak diembel-embeli syarat-syarat lain. D. Pemulihan Penolakan Walaupun ada prinsip yang mengatakan bahwa seorang ahli waris yang telah menolak harta warisan secara sah dianggap tidak pernah berkedudukan sebagai ahli waris, namun Pasal 1056 secara singkat mengatakan bahwa ahli waris yang telah menolak harta warisan masih dapat menerima kembali selama ahli waris lain yang berhak belum menerima bagian atas harat warisan tersebut. Pemulihan pernyataan penolakan yang dimaksudkan oleh Pasal 1056 hanya sah apabila penolakan memang dilakukan atas kesadaran dan kemauan yang ikhlas dari ahli waris. Terlihat Pasal 1056 dan Pasal 1065 tentang pemulihan penolakan sangat kontradiktif, untuk itu pemecahannya adalah :
1. Pemulihan penolkan tidak berguna lagi apabila diajukan setelah harta

warisan dibagi kepada ahli waris yang berhak;


2. Meskipun harta warisan telah dibagi seluruhnya kepada ahli waris lain,

namun pernyataan pemulihan penolakan masih berguna jika penolakan itu terjadi karena ada unsur penipuan atau pemaksaan.4
4 Anisitus. Op. Cit. hlm 34.