Anda di halaman 1dari 14

DIET

BULIMIA DAN ANOREXIA NERVOSA

Oleh Rizkia Dara Febrina P2 31 31 010 093 Politeknik Kesehtan Kemenkes Jakarta II Jurusan Gizi

Gangguan makan ditandai dengan ekstrem. Gangguan makan hadir ketika seseorang mengalami gangguan parah dalam tingkah laku makan, seperti mengurangi kadar makanan dengan ekstrem atau makan terlalu banyak yang ekstrem, atau perasaan menderita atau keprihatinan tentang berat atau bentuk tubuh yang ekstrem. Seseorang dengan gangguan makan mungkin berawal dari mengkonsumsi makanan yang lebih sedikit atau lebih banyak daripada biasa, tetapi pada tahap tertentu, keinginan untuk makan lebih sedikit atau lebih banyak terus menerus di luar keinginan (American Psychiatric Association [APA], 2005). A. Anorexia a. Pengertian Anoreksia nervosa (AN) adalah sebuah gangguan makan yang ditandai dengan penolakan untuk mempertahankan berat badan yang sehat dan rasa takut yang berlebihan terhadap peningkatan berat badan akibat pencitraan diri yang menyimpang. Pencitraan diri pada penderita AN dipengaruhi oleh bias kognitif (pola penyimpangan dalam menilai suatu situasi) dan memengaruhi cara seseorang dalam berpikir serta mengevaluasi tubuh dan makanannya. AN merupakan sebuah penyakit kompleks yang melibatkan komponenpsikologikal, sosiologikal, dan fisiologikal, pada penderitanya ditemukan peningkatan rasioenzim hati ALT dan GGT, hingga disfungsi hati akut pada tingkat lanjut. Seseorang yang menderita AN disebut sebagai anoreksik atau (lebih tidak umum)anorektik. Istilah ini sering kali namun tidak benar disingkat menjadi anorexia, yang berarti gejala medis kehilangan nafsu makan. b. Penyebab (etiology) Anorexia Nervosa Etiologi adalah semua faktor yang berkontribusi terhadap perkembangan suatu penyakit atau gangguan (Davison et al., 2004). Terdapat beberapa penyebab anorexia nervosa, antara lain sebagai berikut: 1. Genetik Perempuan muda generasi pertama dari sebuah keluarga yang anggota keluarganya mengalami anorexia nervosa kemungkinan mengalami anorexia nervosa 10 kali lebih banyak bila dibandingkan dengan perempuan seusia yang mengalami anorexia nervosa tetapi anggota keluarganya tidak ada yang mengalami (Strober, Freeman, & Morrel, sitat dalam Davison et al., 2004). Studi anak kembar juga menunjukkan adanya pengaruh genetik terhadap gangguan ini (Fichter & Naegel; Holland et al., sitat dalam Davison et al., 2004). Gen memiliki pengaruh yang lebih besar bila dibandingkan dengan pengaruh lingkungan untuk terjadinya gangguan anorexia nervosa (Wade et al., sitat dalam Davison et al., 2004). Penelitian menunjukkan bahwa hal-hal yang mendukung eating disorder seperti ketidakpuasan terhadap tubuh, keinginan kuat untuk kurus, binge, preokupasi (pemusatan perhatian) terhadap berat badan adalah bersifat menurun (herritable) (Klump, McGue, & Iacono; Rutherford et al., sitat dalam Davison et al., 2004). Studi tambahan mengungkap fakta bahwa faktor-faktor genetik tertentu dapat memberikan sumbangan dalam hubungan karakteristik kepribadian tertentu, seperti emosi-emosi yang negatif, dengan eating disorder (Klump, et al., sitat dalam Davison et

al., 2004). Studi pemetaan genetik menunjukkan bahwa ada keterkaitan kromosom 1 pada penderita anorexia nervosa (Grice et al., sitat dalam Davison et al., 2004). 2. Otak Bagian otak yang mengatur perasaan lapar dan perilaku makan adalah hypothalamus. Penelitian menunjukkan bahwa kerusakan pada bagian lateral hypothalamus mengindikasikan menurunnya berat badan dan hilangnya nafsu makan pada hewan ujicoba (Hoebel & Teitelbaum, sitat dalam Davison et al., 2004). Diduga hypothalamus mempunyai peranan terhadap munculnya anorexia nervosa. Beberapa hormon yang diatur oleh hypothalamus, seperti kortisol didapatkan dalam kondisi yang tidak normal pada penderita anorexia nervosa. Namun, kondisi kortisol yang tidak normal ini bukan penyebab terjadinya anorexia nervosa. Sebaliknya, kelainan kortisol disebabkan karena tubuh menderita kelaparan yang berlebihan yang akan kembali normal kalau berat badan bertambah (Doerr et al.; Stroving et al., sitat dalam Davison et al., 2004). 3. Pengaruh Sosiokultural (Davison et al., 2004) Standar sosial mengenai tubuh yang ideal, khususnya perempuan sangat bervariasi sepanjang sejarah. Pada abad 17an, tubuh yang ideal adalah tubuh yang sedikit gemuk. Hingga saat ini, anggapan mengenai bentuk tubuh ideal dari waktu ke waktu menunjukkan adanya kecenderungan untuk menjadi semakin kurus. Hal ini juga berlaku bagi laki-laki meskipun tidak sekuat pada perempuan. Paradoks yang terjadi adalah, di saat budaya semakin menekankan kekurusan, jumlah orang yang menjadi overweight meningkat dari tahun ke tahun. Kondisi ini juga disebabkan adanya perubahan dalam industri makanan dan perubahan gaya hidup atau pola makan. Saat masyarakat mulai menyadari pentingnya kesehatan dan bahaya kegemukan, diet untuk mengurangi berat badan menjadi semakin umum. Persentase orang yang berdiet terus meningkat dari tahun ke tahun, baik pada perempuan maupun laki-laki namun persentase perempuan lebih banyak bila dibanding dengan persentase laki-laki. Standar sosial yang menekankan pada bentuk tubuh yang kurus sebagai ideal memainkan peranan penting dalam perkembangan gangguan ini. Perempuan yang takut menjadi gemuk biasanya mempunyai perasaan tidak puas terhadap tubuh mereka. Ketidakpuasan dan tingginya IMT (Indeks Massa Tubuh) merupakan faktor penyumbang terhadap gangguan anorexia nervosa. Tubuh ideal yang kurus seperti yang distandarkan oleh masyarakat menyebabkan orang belajar untuk takut menjadi atau merasa gemuk. Menjadi gemuk memiliki konotasi yang negatif, contohnya seperti orang yang tidak mampu mengendalikan diri atau tidak sukses. Orang yang gemuk cenderung dianggap sebagai kurang pandai dan mempunyai stereotipe sebagai orang yang kesepian, malu, dan rakus akan afeksi dari orang lain. Perubahan sosial kultural menyebabkan tubuh perempuan dilihat dengan lensa seksual dan dampaknya perempuan banyak dinilai berdasarkan tubuhnya. Tubuh perempuan dijadikan sebuah objek dan ini menjadikan perempuan melihat dirinya sebagai objek (self objectifity), perempuan melihat tubuhnya menurut pandangan orang lain. Perasaan malu dapat timbul saat terdapat ketidaksesuaian antara diri ideal dan diri sebagai objek. Objektifikasi diri dan perasaan malu akan tubuh sangat terkait dengan munculnya anorexia nervosa. a. Gender influences

Eating disorder lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki. Sosiokultural mempunyai standar bentuk tubuh dan penilaian terhadap perempuan banyak dipengaruhi dari bentuk tubuhnya sedangkan laki-laki lebih dihargai karena kemampuan-kemampuan mereka (Garner et al., sitat dalam Davison et al., 2004). b. Cross cultural studies Eating disorder lebih sering muncul pada negara-negara dengan masyarakat industrialis daripada negara-negara nonindustrial. Selain itu terdapat perbedaan persepsi mengenai kekurusan dan citra tubuh pada beberapa negara barat. Beberapa kebudayaan justru menghargai perempuan yang mempunyai badan yang agak gemuk karena hal itu menandakan kesuburan dan kesehatan. Perbedaan budaya menyebabkan prevalensi eating disorder juga bervariasi sehingga hanya bisa diperkirakan dan terkadang masih diperdebatkan. Beberapa studi juga menunjukkan bahwa bila perempuan yang berasal dari masyarakat dengan prevalensi gangguan makan yang rendah pindah ke masyarakat dengan prevalensi gangguan makan yang tinggi, maka kemungkinan besar akan mengalami gangguan makan akan makin besar (Nasser; Yates, sitat dalam Davison et al., 2004). 4. Kepribadian Kepribadian mendasari munculnya gangguan anorexia nervosa, seperti self esteem yang rendah dan sifat perfeksionisme. Anorexia nervosa juga mungkin dialami seseorang sebagai sarana pemenuhan kebutuhan, seperti perasaan efektif yang diperoleh saat berdiet atau menekan seksualitas dengan menjadi sangat kurus. Sebuah penelitian dilakukan untuk melihat kepribadian sebelum seseorang mengalami anorexia nervosa. Studi tersebut menunjukkan bahwa pasien anorexia nervosa memiliki kepribadian perfeksionis, pemalu, dan penurut (Vitousek & Manke, sitat dalam Davison et al., 2004). Beberapa studi yang lain mengukur kepribadian dengan Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI) saat seseorang sedang mengalami anorexia nervosa. Ditemukan kesamaan antara penderita anorexia nervosa dan bulimia nervosa, yaitu tinggi pada neuroticism dan anxiety, dan memiliki self esteem yang rendah. Mereka juga memiliki skor yang tinggi berkaitan dengan tradisionalisme yang menandakan adanya pengaruh keluarga dan standar sosial yang kuat (Vitousek & Manke, sitat dalam Davison et al., 2004). 5. Karakteristik Keluarga Anorexia nervosa disebabkan adanya pola pengasuhan yang menyebabkan munculnya perasaan tidak kompeten, tidak berdaya, helplessness, tidak efektif dalam kehidupan dan sebagainya. Anak-anak seperti ini menjadi bingung akan siapa dirinya dan berdiet dapat dijadikan sumber perasaan kontrol dan identitas diri (Davison et al., 2004). Lingkungan keluarga tertentu mengembangkan metode penyimpangan pasif dan mempersulit anggota untuk menunjukkan individualitasnya (Minuchin, sitat dalam Brumberg, 2000). Orang tua dari penderita anorexia seringkali tidak mengembangkan kemandirian dan perasaan akan self-determined identity. Mereka mengontrol kehidupan remaja dan mengembangkan ketergantungan. Akibatnya, remaja yang berkecenderungan

menderita anorexia merasa bahwa tekanan dari luar mengontrol hidup mereka (Dusek, 1996). Penelitian menunjukkan bahwa orangtua yang anaknya mengalami anorexia nervosa ini kurang kemampuan komunikasi, seperti kurangnya kemampuan untuk mengklarifikasi pernyataan-pernyataan dari orang lain yang tidak jelas (Van Den Broucke, Vandereycken, & Vertommen, sitat dalam Davison et al., 2004). Menurut Minuchin (sitat dalam Davidson et al., 2004) anak-anak dengan eating disorder hidup dalam keluarga yang menunjukkan karakteristik berikut: a. keterikatan, keluarga memiliki bentuk ekstrim keterlibatan yang berlebihan dan keintiman. Orangtua mengambil keputusan untuk anak-anak karena mereka merasa yakin bahwa mereka mengerti apa yang diinginkan anak-anak mereka, b. overprotektif, anggota keluarga memiliki tingkat kepedulian yang ekstrim terhadap kesejahteraan anggota keluarga satu sama lain, c. rigiditas, keluarga cenderung mempertahankan kondisi yang sudah ada dan menghindari adanya perubahan, misalnya seperti tuntutan yang diajukan remaja untuk memberikan otonomi, d. kurangnya penyelesaian konfllik, keluarga yang cenderung menghindari konflik atau berada dalam situasi konflik yang kronis. Pandangan Minuchin (sitat dalam Davidson et al., 2004) anggota keluarga yang mengalami anorexia nervosa disebabkan karena mengalihkan perhatian dari berbagai konflik yang terjadi dalam hubungan antar anggota keluarga. Perempuan yang memiliki relasi negatif dengan kedua orangtuanya cenderung menunjukkan pola makan yang buruk bila dibandingkan dengan perempuan yang memiliki relasi positif dengan salah satu atau kedua orangtuanya (Swarr & Richards, sitat dalam Santrock, 2003). Relasi orangtua dan anak yang tidak harmonis, berkaitan dengan meningkatnya perilaku diet pada perempuan di awal masa remaja (Archibald, Graber, & Brook-Gunn, sitat dalam Santrock, 2003). Self report mengenai keadaan keluarga pada penderita anorexia nervosa menyatakan bahwa adanya konflik dalam keluarga memiliki korelasi yang tinggi dengan anorexia nervosa yang dialami. Relasi dalam keluarga yang tidak harmonis juga nampaknya berkaitan dengan gangguan ini karena dalam relasi yang tidak harmonis, seseorang tidak memiliki dukungan sosial yang cukup. Kaitan antara karakteristik keluarga dan anorexia nervosa masih belum jelas manakah diantara keduanya yang merupakan faktor penyebab dan mana yang merupakan akibat (Wonderlich & Swift, sitat dalam Davison et al., 2004). 6. Kekerasan pada Masa Kecil (Child Abuse) Beberapa studi menyatakan bahwa perempuan yang mengalami kekerasan pada masa kecil mempunyai kecenderungan lebih tinggi untuk mengalami anorexia nervosa. Namun adanya kekerasan pada masa kecil ini juga belum terlalu jelas keterkaitannya karena kekerasan sendiri sangat bervariasi sifatnya. Kekerasan yang nampaknya paling berkaitan dengan anorexia nervosa adalah kekerasan yang diterima saat usia masih

sangat muda dan dilakukan oleh anggota keluarga (Everill & Waller, sitat dalam Davison et al., 2004). 7. Pandangan Kognitif Perilakuan Ketakutan akan kegemukan dan body image yang terdistorsi memotivasi seseorang untuk membiarkan dirinya kelaparan dan menurunnya berat badan memperkuat perilaku tersebut. Perilaku mempertahankan kekurusan memperoleh penguatan negatif berupa berkurangnya kecemasan mengenai kegemukan. Penguatan positifnya adalah perasaan memiliki kontrol terhadap diri (Fairburn, Shatran, & Cooper; Garner, Vitousek, & Pike, sitat dalam Davison et al., 2004). Faktor kepribadian, sosiokultural, teman kelompok, dan orangtua juga berperan dalam penyimpangan kognitif mengenai bentuk tubuh yang ideal. Perfeksionisme dan rasa ketidakmampuan diri dapat membuat seseorang sangat khawatir akan penampilannya dan menjadikan diet sebagai penguat yang berpengaruh. Melihat gambargambar di media yang menunjukkan kelangsingan sebagai sesuatu yang ideal, kondisi kegemukan, dan kecenderungan membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang sangat menarik berkontribusi dalam ketidakpuasan seseorang terhadap bentuk tubuhnya (Stormer & Thompson, sitat dalam Davison et al., 2004). Kritik dari teman sebaya dan orangtua tentang berat badan juga menjadi faktor penting untuk menghasilkan dorongan yang kuat untuk langsing dan citra tubuh yang terganggu (Paxton et al.; Thompson et al., sitat dalam Davison et al., 2004). c. Gejala Anoreksia Meningkatnya perhatian secara berlebihan pada makanan dan berat badan Meskipun sudah kurus namun tetap merasa gemuk Selalu menyangkal kalau dirinya sudah kurus Melakukan olahraga berlebihan untuk mengendalikan berat badan Tidak mengeluh meski mengalami nafsu makan dan berat badan berkurang d. Diagnosis Menolak untuk mempertahankan berat badan yang normal, dalam artian memiliki berat badan yang kurang dari 85% dari berat badan normal berdasarkan usia dan tinggi badan individu. Pengurangan berat badan umumnya dilakukan dengan cara diet, meskipun purging dan olahraga berlebihan juga mungkin dilakukan. Mempunyai ketakutan yang sangat kuat terhadap kegemukan. Ketakutan ini tidak berkurang seiring dengan menurunnya berat badan. Penderita tidak pernah dapat merasa bahwa diri mereka telah cukup kurus. Adanya distorsi mengenai bentuk tubuh. Sekalipun penderita sudah kurus, penderita memandang bahwa diri mereka overweight atau setidaknya beberapa bagian dari tubuh mereka terlalu gemuk. Mereka sangat sering mengukur berat badan, mengukur bagian tubuh yang berbeda, dan memandang bayangan mereka di cermin dengan kritis.

Amenorrhea. Pengurusan badan yang berlebihan pada perempuan yang telah menstruasi dapat menyebabkan amenorrhea yaitu tidak mendapatkan menstruasi (berhenti menstruasi). e. Dampak Anoreksia Anorexia nervosa dapat mengakibatkan pengaruh yang kurang baik terhadap tubuh. Dampak dari gangguan anorexia nervosa antara lain tekanan darah menurun, detak jantung menurun, massa tulang berkurang, kulit kering, kuku rusak, masalah gastrointestinal, perubahan hormon, beberapa pasien rambutnya rontok, dan cairan tubuh berkurang (Davison et al., 2004). Drevelengas dan koleganya (sitat dalam Weyandt, 2006) menyatakan bahwa penderita anorexia nervosa dapat mengalami pembesaran ventricel dan sulci. Katzman, Zipursky, Lambe, dan Mikulis (sitat dalam Weyandt, 2006) mengukur volume cairan cerebral gray dan white matter pada remaja perempuan penderita anorexia nervosa dengan MRI dan hasilnya menunjukkan di bawah rata-rata normal. Tubuh dapat menjadi semakin lemah dan malas, lebih mudah lelah, jantung lemah, bahkan dapat mengakibatkan kematian. Anorexia nervosa merupakan gangguan yang dapat menyebabkan kematian. Angka kematian yang disebabkan oleh gangguan anorexia nervosa sepuluh kali lebih besar dibandingkan populasi umum yang tidak mengalami gangguan dan dua kali lebih besar bila dibandingkan dengan penderita gangguan psikologis lain (Davison et al., 2004). Beberapa studi menunjukkan bahwa angka kematian pada penderita anorexia nervosa besarnya sekitar lima persen setelah gangguan muncul selama 5-8 tahun, setelah dua puluh tahun sejak gangguan muncul tingkat kematian berkisar antara 13-20%. Penyebab kematian biasanya adalah kelaparan, gangguan pada elektrolit tubuh, dan bunuh diri (Sokol & Gray, 1998).

B. Bulimia Nervosa
a. Pengertian Bulimia Nervosa adalah kelainan cara makan yang terlihat dari kebiasaan makan berlebihan yang terjadi secara terus menerus. Bulimia adalah kelainan pola makan yang sering terjadi pada wanita. Kelainan tersebut biasanya merupakan suatu bentuk penyiksaan terhadap diri sendiri. Yang paling sering dilakukan oleh lebih dari 75% orang dengan bulimia nervosa adalah membuat dirinya muntah, kadang-kadang disebut pembersihan; puasa, serta penggunaan laksatif, enema, diuretik, dan olahraga yang berlebihan juga merupakan ciri umum. Penyakit mental lainnya yang biasanya dialami oleh wanita, Bulimia atau juga dikenal dengan bulimia nervosa mempengaruhi sekitar 3% dari wanita di amerika Serikat. Bulimia adalah penyakit yang diakibatkan oleh psikologi pasien, yang mengakibatkan kelainan makan. Bulimia merupakan keadaan dimana seorang pasien makan secara berlebihan secara berulang-ulang (binge) dan kemudian kembali mengeluarkannya. Mengeluarkan makanan yang dimakan ini bisa melalui muntah yang biasanya diinduksi dengan obat

pencahar, selain itu juga dengan mengeluarkannya lewat kencing dengan menggunakan obat diuretik. Selain itu, selain makan berlebih, penderita bulimia juga cenderung diet sangat ketat dan juga olah raga yang berlebihan. Cirri khas penyakit bulimia sudah tentu kebiasaan mengeluarkan makanan yang dimakan dengan sangat cepat, sehingga sangat aneh bagi orang biasa kalau sehabis makan kembali memuntahkan makanannya. Membersihkan atau memuntahkan makanan ini diperkirakan sebagai aksi untuk mengurangi rasa benci atau rasa bersalah karena sudah binge. Pasien berobsesi untuk membersihkan diri mereka dari makanan itu, sehingga makanan yang masuk tidak sempat terserap tubuh. Seorang pasien penyakit bulimia dalam melakukan pesta makan ini, diduga terdorong oleh depresi atau stress terhadap sesuatu yang berhubungan dengan berat badan, bentuk badan ataupun makanan. Mereka menganggap, makan merupakan kegiatan paling menyenangkan dan bisa menghilangkan depresi. Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung sementara karena akhirnya mereka kembali membenci makanan serta marah atas control diri terhadap pesta makan yang kurang. Kebencian ini membuat mereka terobsesi untuk membersihkan makanan tersebut dari tubuh. Aksi pembersihan biasanya berlangsung seketika, namun pada beberapa penderita bulimia melakukan pembersihan pada beberapa periode setelahnya. Sama halnya dengan anorexia, bulimia selalu berhubungan dengan control diet ataupun penurunan berat badan. Penderita bulimia biasanya terlalu memperhatikan berat badan, selalu merasa kurang percaya diri dengan berat badan sehingga cenderung melakukan diet berlebih. Bedanya dengan penderita anorexia, penderita bulimia memiliki berat badan yang lebih stabil sehingga penyakit ini jarang diketahui oleh masyarakat umum. b. Penyebab Bulimia merupakan salah satu kelainan mental, penyebab bulimia belum diketahui secara biologis. Namun karena ini berhubungan dengan behavioral health, maka para ahli meyakini ada beberapa factor yang bisa menyebabkan penyakit ini: - masalah keluarga - perilaku maladaptif - pertentangan identitas diri - budaya yang terlalu menitikberatkan kepada penampilan fisik. Masalah penampilan serta berat badan merupakan factor utama yang penyebab bulimia pada seorang wanita. Seorang penderita bulimia biasanya mempunyai ketahanan mental yang kurang, kurang percaya diri dan memiliki masalah dengan berat badan dan ini yang membuatnya menjadi terobsesi dengan penurunan berat badan. Hal-hal seperti di atas juga bisa menjadi akibat bulimia yang mengerikan. Pengalaman mempunyai masalah dengan berat badan membuatnya selalu merasa gemuk. Hal ini mendorong diet yang tidak terkontrol, olah raga berlebih dan akhirnya menderita bulimia. Penelitian baru menunjukan bahwa kelainan mental ini juga disebabkan oleh proses kimiawi yang ada di dalam otak. Para ahli menduga bahwa kelainan neurotransmitter dalam

otak, utamanya neurotransmitter serotonin merupakan pemicu terjadinya penyakit bulimia nervosa ini. Namun dugaan awal ini masih belum bisa dijelaskan secara spesifik karena kompleksnya penyakit. c. Gejala Seperti yang dijelaskan di atas, binge merupakan gejala utama dari bulimia. Binge bulimia ini akan diikuti dengan muntah, diet yang ketat serta olah raga berlebihan. Namun untuk mendeteksi gejala bulimia dalam kehidupan sehari-hari sangatlah susah. Proses makan berlebihan terkadang adalah hal umum dalam masyarakat. Makan merupakan kegiatan yang menyenangkan, bisa menghilangkan stres atau depresi. Selain itu, setiap orang juga memiliki nafsu makan berbeda, sehingga makan dengan jumlah banyak tersebut kadangkala adalah hal yang normal. Selain itu, penderita bulimia tidak selalu kurus. Bisa saja memiliki berat badan normal atau malah gemuk. Namun ada beberapa pertanda yang bisa dianggap sebagai gejala bulimia, yaitu: Selalu ke kamar mandi setelah makan untuk muntah (tentu saja dilakukan berkali-kali) Olah raga berlebih. Terjadi perubahan seperti pipi atau rahang yang bengkak, pecahnya pembuluh darah di mata, rusaknya lapisan email gigi sehingga gigi yang nampak jelas. Terlalu terbelenggu dengan urusan berat ataupun bentuk badan. d. Diagnosis Sama halnya dengan anoreksia, diagnosis untuk penyakit bulimia susah karena ini menyangkut masalah perilaku yang bisa saja disangkal oleh penderita. Namun sebagai dasar bagi dokter untuk mendiagnosa penyakit ini, ada lima criteria dasar yang bisa dipakai sebagai patokan. Pesta makan yang terjadi berulangkali. Hal ini ditandai dengan porsi yang sangat banyak dan di luar porsi normal makan seorang manusia dalam jangka waktu dua jam. Merasa tidak bisa berhenti makan dalam satu periode. Perilaku yang menyimpang untuk mengurangi berat badan secara ekstrim dan berlebihan, seperti muntah, penggunaan obat pencahar dan diuretic, puasa ataupun olah raga berlebihan. Pesta makan serta perilaku penurunan badan yang ekstrim terjadi minam dua kali dalam seminggu selama jangka waktu tiga bulan. Rasa yang tidak pernah puas terhadap bentuk tubuh yang dimiliki.

e. Akibat dan bahaya Bulimia Bahaya bulimia ini disebabkan oleh perilaku makan berlebihan dan kemudian membersihkannya yang terjadi secara berulang. Berbagai macam organ akan rusak akibat pembersihan secara ekstrim ini, seperti

Pembengkakan kelenjar ludah di pipi Jaringan parut di buku jari tangan yang digunakan untuk merangsang muntah Pengikisan email gigi akibat bulimia yang sering muntah dan mengeluarkan asam lambung Kadar kalium yang rendah dalam darah. Gigi sensitive terhadap panas atau dingin Masalah pada kelenjar ludah yang berupa rasa nyeri atau pembengkakan Paparan asam lambung berlebih pada kerongkongan bisa menyebabkan borok, pecah atau penyempitan. Terganggunya proses pencernaan akibat pencahar, bisa mengakibatkan disfungsi organ pencernaan . Ketidakseimbangan cairan tubuh akibat stimulus zat diuretic secara berlebih.

Akibat bulimia juga terjadi pada kehidupan social, penderita bulimia cenderung akan bermasalah dalam hal sosialisasi lingkungan, bersifat impulsive, seringkali merasa stress atau depresi dan menyalahgunaan alcohol atau obat-obatan.

KESIMPULAN
Pengertian Anoreksia Sebuah gangguan makan yang ditandai dengan penolakan untuk mempertahankan berat badan yang sehat dan rasa takut yang berlebihan terhadap peningkatan berat badan akibat pencitraan diri yang menyimpang. Genetik Kerusakan pada bagian lateral hypothalamus yang mengindikasikan menurunnya berat badan dan hilangnya nafsu makan Perempuan yang takut menjadi gemuk sehingga mempunyai perasaan tidak puas terhadap tubuh mereka (pengaruh sosiokultural) memiliki kepribadian perfeksionis, pemalu, dan penurut adanya pola pengasuhan yang menyebabkan munculnya perasaan tidak kompeten, tidak berdaya, helplessness, tidak efektif dalam kehidupan dan sebagainya mengalami kekerasan pada masa kecil Ketakutan akan kegemukan dan body image yang terdistorsi sehingga membiarkan dirinya kelaparan dan menurunnya berat badan Meskipun sudah kurus namun tetap merasa gemuk Selalu menyangkal kalau Bulimia Perilaku makan yang menyimpang dicirikan oleh kelebihan makan ekstrem, diikuti oleh muntah-muntah disebabkan oleh diri sendiri penyalahgunaan obat-obat pencahar diuretic. yang yang yang dan dan

Penyebab

Mempunyai masalah dengan berat badan membuatnya selalu merasa gemuk sehingga mendorong diet yang tidak terkontrol, olah raga berlebih

Gejala

Makan secara berlebihan secara berulang-ulang Selalu ke kamar mandi setelah makan

dirinya sudah kurus Melakukan olahraga berlebihan untuk mengendalikan berat badan Tidak mengeluh meski nafsu makan dan berat badan berkurang

untuk muntah Olahraga berlebih Terjadi perubahan seperti pipi/rahang yang bengkak, pecahnya pembuluh darah di mata, rusaknya lapisan email gigi sehingga gigi nam[ak jelas Terlalu terbelenggu dengan urusan berat badan

Diagnosis

Menolak untuk mempertahankan berat badan yang normal Mempunyai ketakutan yang sangat kuat terhadap kegemukan Adanya distorsi mengenai bentuk tubuh Amenorrhea

Pesta makan yang terjadi berulangkali. Hal ini ditandai dengan porsi yang sangat banyak dan di luar porsi normal makan seorang manusia dalam jangka waktu dua jam. Merasa tidak bisa berhenti makan dalam satu periode. Perilaku yang menyimpang untuk mengurangi berat badan secara ekstrim dan berlebihan, seperti muntah, penggunaan obat pencahar dan diuretic, puasa ataupun olah raga berlebihan. Pesta makan serta perilaku penurunan badan yang ekstrim terjadi minam dua kali dalam seminggu selama jangka waktu tiga bulan. Rasa yang tidak pernah puas terhadap bentuk tubuh yang dimiliki.

Dampak

tekanan darah menurun, detak jantung menurun, massa tulang berkurang, kulit kering, kuku rusak, masalah gastrointestinal, perubahan hormon, beberapa pasien rambutnya rontok, dan cairan tubuh berkurang

Pembengkakan kelenjar ludah di pipi Jaringan parut di buku jari tangan yang digunakan untuk merangsang muntah Pengikisan email gigi akibat bulimia yang sering muntah dan mengeluarkan asam lambung Kadar kalium yang rendah dalam darah. Gigi sensitive terhadap panas atau dingin Masalah pada kelenjar ludah yang berupa rasa nyeri atau pembengkakan

Paparan asam lambung berlebih pada kerongkongan bisa menyebabkan borok, pecah atau penyempitan. Terganggunya proses pencernaan akibat pencahar, bisa mengakibatkan disfungsi organ pencernaan . Ketidakseimbangan cairan tubuh akibat stimulus zat diuretic secara berlebih. bermasalah dalam hal sosialisasi lingkungan, bersifat impulsive, seringkali merasa stress atau depresi dan menyalahgunaan alcohol atau obatobatan.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Bulimia_nervosa http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23140/4/Chapter%20II.pdf http://books.google.co.id/books?id=w2ATTYUMRwwC&pg=PA77&dq=anoreksia&hl=i d&sa=X&ei=88arT_b9L8fmrAeVoajyAQ&ved=0CE4Q6AEwBg#v=onepage&q=anoreksi a&f=false


http://www.scribd.com/doc/53419837/2/II-1-2-Diagnosis-Anorexia-Nervosa