Anda di halaman 1dari 4

menjadi besi (II). Reduksi ini dapat dilakukan dengan reduktor jones atau dengantimah (II) klorida.

Reduktor jones lebih disarankan jika asam yang tersedia adalahsulfat mengingat tidak ada ion klorida yang masuk . Jika larutannya mengandungasam klorida seperti yang sering terjadi reduksi dengan timah (II) klorida akan lebihmemudahkan. Klorida ditambahkan kedalam larutan panas dari sampelnya danperkembangan reduksi diikuti dengan memperhatikan hilangnya warna kuning dariion besi (anonim,2009.c). Kalium permanganat merupakan oksidator kuat dalamlarutan yang bersifat asam lemah, netral atau basa lemah. Dalam larutan yangbersifat basa kuat, ion permanganat dapat tereduksi menjadi ion manganat yangberwarna hijau. Titrasi harus dilakukan dalam larutan yang bersifat asam kuatkarena reaksi tersebut tidak terjadi bolak balik, sedangakan potensial elektrodasangat tergantung pada pH. Beberapa ion logam yang tidak dioksidasi dapatdititrasi secara tidak langsung dengan permanganometri seperti : (1) ion-ion Ca, Ba, Sr, Pb, Zn, dan Hg (I) yang dapat diendapkan sebagai oksalat.Setelah endapan disaring dan dicuci, dilarutkan dalam H2SO4 berlebih sehinggaterbentuk asam oksalat secara kuantitatif. Asam oksalat inilah yang akhirnyadititrasi dan hasil titrasi dapat dihitung banyaknya ion logam yang bersangkutan.(2) ion-ion Ba dan Pb dapat pula diendapkan sebagai garam khromat. Setelahdisaring, dicuci, dan dilarutkan dengan asam, ditambahkan pula larutan bakuFeSO4 berlebih. Sebagian Fe2+ dioksidasi oleh khromat tersebut dan sisanya dapatditentukan banyaknya dengan menitrasinya dengan KMnO4. (anonim,2009.a)Prinsip Titrasi Permanganometri Prinsip titrasi permanganometri adalahberdasarkan reaksi oksidasi dan reduksi. Pada percobaan permanganometri ini,secara garis besarnya terbagi atas 2 komponen utama yang secara skema dapatdigambarkan sebagai berikut: Permanganometri Zat pentiter Zat yang dititer (didalam buret) (di dalam erlenmeyer) KMnO4 H2C2O4 Akhir titrasi : Grek zatpentiter = Grek zat yang dititer V1. N1 = V2. N2 2.3. Reaksi-reaksi Kimia dalamPermanganometri Kalium permanganat yang digunakan pada permanganometriadalah oksidator kuat yang dapat bereaksi dengan cara yang berbeda-beda,tergantung dari pH larutannya. Kekuatannya sebagai oksidator juga berbeda-bedasesuai dengan reaksi yang terjadi pada pH yang berbeda itu. Reaksi yang beranekaragam ini disebabkan oleh keragaman valensi mangan. Reduksi MnO4berlangsungsebagai berikut: a.dalam larutan asam, [H+] 0,1 N atau lebih MnO4- + 8H+ + 5eMn2+ + 4H2O b.dalam larutan netral, pH 410 MnO4- + 4H+ + 3e- MnO2 + 2H2Oc.dalam larutan basa, [OH-] 0,1 N atau lebih MnO4- + e- MnO42- AplikasiPermanganometri Sistem Pengolahan Air Asin Alat pengolah air asin ada banyak macamnya. Selama ini untuk mengolah air asin dikenal dengan cara destilasi,pertukaran ion, elektrodialisis, dan osmosis balik. Masing-masing teknologimempunyai keunggulan dan kelemahan. Pemanfaatan teknologi pengolahan airasin harus disesuaikan dengan konsidi air baku, biaya yang tersedia, kapasitas dankualitas yang diinginkan oleh pemakai air. Di antara berbagai macam teknologitersebut yang banyak dipakai adalah teknologi destilasi dan osmosis balik. Teknologi destilasi umumnya banyak dipakai ditempat yang mempunyai energiterbuang (pembakaran gas minyak pada kilang minyak), sehingga dapatmenghemat biaya operasi dan skala produksinya besar (>500 m3/hari). Sedangkanteknologi osmosis balik banyak dipakai dalam skala yang lebih kecil. Keunggulanteknologi membran osmosis balik adalah kecepatannya dalam memproduksi air,karena menggunakan tenaga pompa. Kelemahannya adalah penyumbatan padaselaput membran oleh bakteri dan kerak kapur atau posfat yang umum terdapatdalam air asin atau laut. Untuk mengatasi kelemahannya pada unit pengolah airosmosa balik selalu dilengkapi dengan unit anti pengerakkan dan anti penyumbatanoleh bakteri. Sistem

membran reverse yang dipakai dapat berupa membran hollowfibre, lempeng/plate atau berupa spiral wound. Membran ini mampu menurunkankadar garam hingga 95-98%. Air hasil olahan sudah bebas dari bakteri dan dapatlangsung diminum Teknologi pengolahan air asin sistem osmosis balik banyakdipakai di banyak Negara seperti Amerika, Jepang, Jerman dan Arab. Teknologi inibanyak dipakai untuk memasok kebutuhan air tawar bagi kota-kota tepi pantaiyang langka sumber air tawarnya. Pemakai lain adalah kapal laut, industri farmasi,industri elektronika, dan rumah sakit. Pada proses dengan membran, pemisahan airdari pengotornya didasarkan pada proses penyaringan dengan skala molekul. Didalam proses desalinasi air laut dengan sistem osmosis balik, tidak memungkinkanuntuk memisahkan seluruh garam dari air lautnya, karena akan membutuhkantekanan yang sangat tinggi sekali. Pada prakteknya untuk menghasilkan air tawar,air asin atau air laut dipompa dengan tekanan tinggi ke dalam suatu modulmembran osmosis balik yang mempunyai dua buah pipa keluaran, yakni pipakeluaran untuk air tawar yang dihasilkan dan pipa keluaran untuk air garam yangtelah dipekatkan. Di dalam membran osmosis balik tersebut terjadi prosespenyaringan dengan ukuran molekul, yakni partikel yang molekulnya lebih besardari pada molekul air, misalnya molekul garam dan lainnya, akan terpisah dan akanikut ke dalam air buangan. Oleh karena itu air yang akan masuk ke dalam membranosmosis balik harus mempunyai persyaratan tertentu, misalnya kekeruhan harusnol, kadar besi harus < 0,1 mg/l, pH harus dikontrol agar tidak terjadi pengerakankalsium karbonat dan lainnya. Pengolahan air minum dengan sistem osmosis balikterdiri dari dua bagian, yakni unit pengolahan awal dan unit osmosis balik. Salahsatu contoh diagram proses pengolahan air dengan sistem osmosis balik dapatdilihat seperti pada Gambar 2.1. Air laut, terutama yang dekat dengan pantai masihmengandung partikel padatan tersuspensi, mineral, plankton dan lainnya, maka airbaku tersebut perlu dilakukan pengolahan awal sebelum diproses di dalam unitosmosis balik. Unit pengolahan pendahuluan tersebut terdiri dari beberapaperalatan utama yakni pompa air baku, tangki reaktor (kontaktor), saringan pasir, filter mangan zeolit, dan filter untuk penghilangan warna (color removal), dan filtercartridge ukuran 0,5 m. Sedangkan unit osmosis balik terdiri dari pompa tekanantinggi dan membran osmosis balik, serta pompa dosing klorin dan sterilisator ultraviolet (UV) (anonim,2009.e). HASIL DAN PEMBAHASANHasil PercobaanMassa KMnO4 =3,16 gr BM KMnO4 = 158,034 gr/mol V Pelarut H2O = 200 ml

2. Pemeriksaan Zat Organik Tahapan setelah pembebasan labu erlenmeyer dari zat organik, selanjutnya adalah pemeriksaan zat organik dengan menggunakan metode ttitrasi permanganometri. Memasukkan sampel air sumur sebesar 50 ml ke dalam labu erlenmeyer yang telah terbebas dari zat organik. Penentuan zat organik dengan cara oksidasi dapat dilakukan dalam suasana asam atau basa. Diketahui bahwa air yang digunakan mengandung ion Cl

< 300 ppm sehingga menggunakan metode asam. Pada prinsipnya untuk penentuan zat organik menggunakan metode asam, zat organik didalam sampel dioksidasi oleh KMnO4 berlebih dalam keadaan asam dan panas. Sisa KMnO4 direduksi dengan larutan asam oksalat berlebih sebanyak 15 ml hingga larutan berubah warna menjadi bening dari yang awalnya berwarna ungu pekat. Kelebihan asam oksalat dititrasi kembali dengan KMnO4 atau kalium permanganat sebanyak 2,5 ml dan menjadi warna orange dengan reaksi : 2 KMnO4 + 5H2C2O4 + 3H2SO4 2MnSO4 + 10CO2 + K2SO4 Kalium permanganat merupakan zat pengoksidasi yang sangat kuat. Pereaksi ini dapat dipakai tanpa penambahan indikator, karena mampu bertindak sebagai indikator. Oleh karena itu pada larutan ini tidak ditambahkan indikator apapun dan langsung ditambahkan dengan larutan asam oksalat yang merupakan standar yang baik untuk standarisasi permanganat dalam suasana asam. Larutan ini mudah diperoleh dengan derajat kemurnian yang tinggi. Reaksi ini berjalan lambat pada temperatur kamar dan biasanya diperlukan pemanasan hingga 60OC. bahkan bila pada temperatur yang lebih tinggi reaksi akan berjalan makin lambat dan bertambah cepat setelah terbentuknya ion mangan (II). Hasil perhitungan untuk kandungan zat organik pada sampel air sumur landasan ulin didapatkan sebesar 21,014 mg/l KMnO4. Artinya yang dihitung adalah banyaknya tiap nilai kandungan zat organik dalam mg/l KMnO4 yang dibutuhkan untuk mengoksidasi senyawa organik dalam 1 liter air. Menurut peraturan menteri kesehatan (Permenkes) Nomor: 416/MenKes/Per/IX/1990 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air menyatakan bahwa untuk parameter zat organik (KMnO4) kadar maksimum yang diperbolehkan yaitu 10 mg/l. Dari sini dapat diketahui bahwa ternyata kandungan zat organik pada sampel air sumur landasan ulin sangatlah tinggi, karena kandungan zat organiknya jauh diatas standar baku mutu yang diperbolehkan. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh kondisi lingkungan dimana sampel air yang diambil. 3. Penentuan Faktor Ketelitian KMnO4 Zat Organik

Faktor ketelitian KMnO4 zat organik diperlukan agar hasil perhitungan yang didapat dalam mencari kandungan zat organik pada sampel air sumur landasan ulin menjadi akurat. Dimana volume titrasi KMnO4 yang dibutuhkan sebanyak 4,5 ml untuk mereaksikan larutan asam oksalat 5 ml menjadi berwarna merah muda. Dari volume KMnO4 yang didapatkan, maka diperoleh hasil perhitungan untuk faktor ketelitian KMnO4 zat organik sebesar 1,11.

VI.

KESIMPULAN Kesimpulan dari percobaan ini adalah : 1. Pengujian kandungan zat organik menggunakan metode titrasi permanganometri dengan prinsip metode asam. 2. Hasil perhitungan faktor ketelitian KMnO4 zat organik sebesar 1,11 . 3. Hasil perhitungan untuk kandungan zat organik pada sampel air sumur landasan ulin didapatkan sebesar 21,014 mg/l KMnO4.