Anda di halaman 1dari 10

Tugas Tulisan Wajib, Yessi Arsurya, Kedokteran/Pendidikan Dokter/2010 KEMBALI KEPADA IDEALISME DAKWAH

Tashil Daawi artinya (orisinilitas dawah) adalah menjaga kemurnian atau keaslian dawah. Dalam pengembangan dawah, orisinilitas harus selalu terjaga dan terpelihara, sehingga memiliki landasan yang kuat dan kokoh untuk terus bergerak. Dan dawah sangat terkait dengan takwin, maka ketika kita bicara pada tataran konsep, kader dan aktivis harus berpegang teguh pada idealisme dawah. Karena seberat apapun ujian dalam dawah, selama kader memiliki pegangan yang kuat dalam melangkah, maka idealisme dawah akan tetap terjaga dan terpelihara. Karenanya kita harus memahami tentang Tashil Daawi (orisinilitas dalam dawah). Keberhasilan kader dan aktifis menjaga Tashil Ad Daawi akan memberikan kekuatan yang sangat penting dalam takwin (pengembangan) dan kemenangan dawah. Karenanya kader dan aktivis perlu memperhatikan hal hal yang prinsip dalam Tashil Daawi sehingga asholah dawah tetap menjaga.

Pertama, Tashil Syari (kemurnian syariat). Kader dan aktifis harus kembali kepada kemurnian dan keutuhan syariat. Tidak ada fiquh dawah tanpa fiquh syariah, karenanya ruang lingkup gerak dawah harus berada dalam bingkai syariat. Jadi, ketika kita bicara tentang syariat tidak lebih pada Ahkamul khomsah (hukum yang lima), yaitu halal, haram, wajib, makruh, dan sunnah. Setiap gerak para kader dan aktifis harus berada dalam frame Ahkamu syariah (hukum syariah) . Apakah hal tersebut wajib, sunnah, haram, makruh atau mubah. Ketika berbicara tentang tashil syari, tidak bisa lepas dari fiquh Aulawiyah Syariah (skala prioritas dalam syariah), dengan sikap yang haram (tinggalkan), mubah (pilih sesuai dengan kemaslahatan), makruh (hindari), sunnah (tingkatkan). Dengan skala prioritas ini kita tidak disibukkan oleh hal yang mubah dengan meremehkan kewajiban atau melaksanakan yang sunnah tanpa melakukan kewajiban. Artinya, sikap yang tepat dalam menjalankan syariat adalah, memulai dari yang wajib. Jika wajib ain harus diutamakan baru menjalankan kewajiban yang bersifat kifayyah, baru menjalankan sunnah. Sunnah muakkadah lebih didahulukan daripada sunnah mandubah, baru melakukan yang mubah sebagai pilihan terakhir.

Gerak para kader dan aktifis harus terus berada dalam frame hukum syariah yang terikat dengan fiquh prioritas. Dalam konteks sekarang, kebiasaan menonton bola atau Film hukumnya bisa makruh karena menghabiskan waktu pada hal yang tidak berguna bahkan kita bisa terjebak pada haram. Dan dalam surat Al Mukminun Allah menggambarankan mengenai sifat orang mukmin yang mendapatkan kemenangan serta mewarisi surga Firdaus adalah salah satunya menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna. Ingat ikhwah fillah sibuk memperdebatkan hukum tentang celana di bawah mata kaki atau diatas mata kaki adalah pembahasan yang sia sia dan menghabiskan waktu jika di belahan bumi lain banyak saudara saudara kita dibantai, diblokade, dan terdholimi oleh musuh musuh islam. Kedua, Tashil Al Fikri (keaslian fikroh). Kader dan aktifis harus menjaga kemurnian dan orisinilitas fikroh, konsep atau manhaj. Jadi, ketika kader dan aktifis hendak berpikir, mengemukakan wacana, berpendapat, menelurkan ide serta gagasan, maka harus berlandaskan Al Quran dan sunnah Rasul, bukan sekedar beropini atau berbicara tanpa punya landasan yang jelas. Dan untuk memudahkan pemahaman terhadap manhaj berpikir sesuai Al Quran dan Sunnah, Imam Hasan Al Banna telah memudahkan kita dengan formulasi Ushul Isrin. Para kader dan aktifis dawah harus Istisab dan memiliki pendalaman tentang ushul isrin. Karena semua permasalahan yang kita hadapi dalam berbagai bidang kehidupan, solusinya ada dalam Ushul Isrin. Ikhwah fillah. Ushul isrin harus dikaji secara mendalam dan komperhensif lalu sebagai kader dan aktifis kita berusaha mengaplikasikan dalam kehidupan sehari hari. Karena dengan kaidah kaidah yang terangkum dalam dua puluh prinsip (intisari dari Al Quran dan Sunnah Rasul) adalah salah satu ijtihad abad yang ke-20 yang dilakukan oleh Imam Hasan Al Banna yang tidak dilakukan oleh ulama terdahulu. Di dalamnya terkait dengan berbagai macam permasalahan kehidupan termasuk mengenai jamaah, khilafiyah, pemikiran dan lainnya. Artinya kalau kita ingin menjaga konsep dawah ini, maka semuanya telah terangkum dalam ushul isrin. Bahkan seluruh tulisan atau karya ilmiah yang ditulis oleh para qiyadah dawah atau masyakhi dawah, semuanya mengambil rujukan dari ushul isrin. Kita dapat membaca buku yang ditulis oleh syeh Musthofa Masyhur semua rujukannya adalah ushul isrin. Dan ketika Yusuf Qardhawi menulis dalam konsep berpikir manhaj, rujukannya adalah ushul isrin. Jadi, bukan sekedar mengetahui 20 prinsip, tapi yang lebih penting bagaimana kita harus memahami dan mengaktualisasikan dalam kehidupan kita sehari hari. Masalah ini dapat diatasi dengan Tashil Al Fikri (internalisasi tentang fikroh).

Ketiga, Tashil Haroki (kemurnian berharoki). Berbicara tentang dawah adalah gerak aktifitas atau kerja. Bukan wacana apalagi gosip. Dawah adalah harok bekerja aktif. Maka tidak asholah dan tidak murni lagi (palsu) kalau masih ada kader dawah dan aktifis yang tidak aktif. Tidak Asholah lagi jika hanya pandai berwacana tapi tida ada kontribusi atau pastisipasi dalam dawah. Karena orisinilitas dawah di antaranya tashil haroki (bergerak dan terus bekerja), bukan banyak debat atau diskusi tapi tanpa berbuat dan berkarya untuk dawah. Yang harus selalu menjadi pertanya para kader dan aktifis adalah, Apa kontribusi saya dalam dawah? Bukti kalau kader dan aktifis masih asholah dalam dawah adalah memiliki peran atau kontribusi aktif serta terlibat penuh dalam partisipasi aktif. Jadi, kalau masih ada kader yang tidak terlibat, tidak aktif maka tashil harokinya tidak berjalan dengan baik.

Ikhwah fillah dawah adalah haroki. Hal ini terbukti dalam sejarah kehidupan nabi dan para sahabatnya. Rasulullah saw selama di Madinah bersama para sahabat melakukan peperangan selama 100x. Di Madinah 10 tahun. Mulai perang tahun ke-2. Seratus kali antara yang dipimpin oleh Rasul dan dipimpin oleh sabahabat, antara yang terjadi perang dan yang tidak terjadi perang, dan antara perang yang besar dan yang kecil. Hal ini menunjukkan adanya mobilitas yang luar biasa, dan tanpa ada kesempatan untuk istirahat, bersantai santai bagi kader dawah. Untuk kondisi kita saat ini, tidak ada lagi kesempatan untuk nonton bola, nonton Film, berdebat mengenai hal yang remeh, dan berpikir yang aneh aneh tapi semuanya dalam kondisi siaga penuh dalam menjalankan tugas dawah. Ikhwah fillah. Kalau kita perhatikan dengan baik bahasa bahasa Al Quran, sebetulnya tidak mengenal istilah uzur. Dalam dawah ini berangkat ke medan perang dalam keadaan ringan, berat, susah, atau mudah. Semua mukmin harus berangkat semua, sehingga ketika ada sebagian sahabat yang uzur (berhalangan) dalam arti tidak dapat memenuhi panggilan dawah karena tidak punya dana, kendaraan, sarana, atau fasilitas, mereka tidak kemudian santai mengatakan Alhamdulillah. Hal ini berbeda dengan kondisi sebagian kader dan aktifis kita yang malah bersyukur, dan mengucapkan Al hamdulillah ketika mendengar liqo diliburkan. Para sahabat yang tidak dapat andil dalam perjuangan (tidak hadir), dan tidak punya kontribusi mengalami kesedihan yang luar biasa meski secara hukum syari tidak ada beban dosa. Tapi secara moral (psikologi) sebagai kader dawah (aktifis dawah), ketika tidak terlibat atau tidak berkontribusi tetap ada beban moral walau tidak berdosa. Karenanya pada prinsipnya keterlibatan dalam dawah adalah pastisipasi aktif dan terlibat secara nyata dan punya kontribusi terus sehingga mereka bersedih Dan tiada pula berdosa orang orang yang datang kepadamu, supaya engkau bawa mereka (pergi berperang), lalu engkau berkata kepadanya: Aku tiada memperoleh belanja untuk

membawa kamu Beberapa orang sahabat datang kepada Rasulullah meminta untuk difasilitasi untuk diangkut, diberi kendaraan untuk pergi ke medan perang, tapi kata Rasul mengatakan, Saya tidak bisa lagi menfasilitasi kalian karena sudah sangat terbatas. Sudah tidak ada lagi dana, kendaraan, atau fasilitas. Kalian tinggal saja di rumah kalian, karena kalian tidak ada uzur (dosa) bagi kalian. Dan ketika Rasulullah mengatakan hal tersebut, air mata mereka mengalir sedih. mengapa demikian? Karena mereka tidak bisa bergabung atau tidak berkontribusi. Adalah kerugian yang sangat besar ketika kita sebagai kader dawah kemudian kita tidak punya kontribusi, tidak terlibat secara aktif. Karena orang lain mendapatkan pahala, atau kesempatan untuk bersejajar dengan para nabi, masuk surga, kemudian kita tertinggal. Ini yang harus dipahami betul oleh para kader dan aktifis. Bahwa kita harus bergerak atau sibuk untuk bekerja urusan urusan dawah.

Sebagai contoh, Abu Dzar Al Ghifari secara moral ada beban moral ketika tidak hadir, tidak berangkat, tidak terlibat, dan tidak punya peran walau dalam keadaan uzur. Karena ketika sudah mengikrarkan diri sebagai kader dawah, maka harus berangkat. Artinya ketika sudah menyatakan diri sebagai kader dawah, maka harus berangkat atau terlibat dalam setiap aktifitas dawah. Selama ada modal iman, ada modal motivasi, akal sehat, pikiran sehat, harus berangkat walaupun harus jalan kaki 700 meter dari Madinah ke Syam. Abu Dzar Al Ghifari berjalan sendirian, di bawah panas terik matahari. Kenapa? Karena beliau memahami betul, bahwa sebagai aktifis dawah dituntut untuk memberikan loyalitas keterlibatan aktif dalam perjuangan.

Tashil Haroki (kemurnian dalam berharaki), kader dan aktifis harus terus bergerak aktif dan produktif. Apalagi kita dituntut untuk lebih cepat atau agresif untuk kemenangan dawah. Tidak mungkin kita akan meraih 20% menjadi 3 besar, kalau kita sendiri masih berat untuk melangkah. Untuk melangkah cepat saja belum tentu bisa memenangkan dawah apalagi lambat. Kader dawah harus melompat cepat dan agresif untuk melakukan ekspansi jika memiliki cita cita mulia yaitu memenangkan dawah.. Ikhwah fillah. Ingatlah baik baik pesan Imam Hasan Al Banna. Beliau mengatakan, Tidak layak untuk dawah ini kecuali orang yang siap membela dawah dengan segala potensi yang ia miliki. Artinya sebagai kader dan aktifis kita harus siap berkorban dengan waktu, tenaga, pikiran, harta benda, istirahat, darah, nyawa, dan lainnya. Karena dawah adalah darah daging bagi kaderkader dawah yang layak mendapat kemenangan dari Allah. Karenanya keterlibatan dalam dawah adalah kerja. Apalagi ketika kita di hadapkan pada banyak fitnah, banyak godaan, cobaan, huru hara, dan gelap gulita. Kita

hidup dalam kondisi zaman yang rusak, yang bisa jadi bertambah kerusakannya jika eksistensi dawah terancam karena sikap pasif para kader dan aktifis. Banyaknya fitnah, huru hara dan kegelapan bisa menjadikan seseorang pagi hari dalam keadaan mukmin sore hari ia menjadi kafir, sore masih mukmin pagi hari menjadi kafir. Apa yang Rasulullah gambarkan kini benar benar mulai menunjukkan gejala atau indikasi kerusakan yang hebat, dimana kita menghadapi kekacauan yang luar biasa. Pertanyaannya, apa yang harus dilakukan oleh kader kader terbaik dawah untuk mengantisipasi hal ini? Tidak ada pilihan untuk menghindari hal tersebut agar selamat kecuali dengan amal. Segera berbuat atau beramal sebelum datangkan kekacauan yang luar biasa dan lebih besar lagi. Karena saat itu umat akan sulit untuk membedakan yang hak dan yang batil. Rasulullah menjelaskan bahwa beramal di saat saat terjadinya kekacauan, banyak cobaan, ujian, nilainya sama dengan amal 50 orang sahabat. Ketika sahabat bertanya, lima puluh orang kami atau puluh orang mereka? puluh orang kalian jawab Nabi. Yang akan menyelamatkan kita adalah amal. Walaupun kita tidak pernah bertemu dengan Nabi, Abu Bakar, Umar, dan Bila kita memiliki kesempatan untuk beramal yang mendekatkan kedudukan kita dengan mereka. Tashil daawi adalah tashil haroki. Itulah yang dapat meloloskan kita dari fitnah besar yang akan menimpa umat. Ikhwah Fillah, Haroki harus terorganisir karena dawah akan produktif dan haroki dapat berjalan efektif jika ia bergerak dalam struktur. Para kader dan aktivis harus menghindari melakukan amal amal yang liar. Amalnya bagus, baik, tapi liar karena tidak masuk dalam struktur organisasi, dan amal ini tidak banyak manfaatnya karena program program yang sifatnya liar. Dan kita sering kali bersikap melakukan pembenaran terhadap amal amal liar dengan beragumen, Ini kan dawah juga, sebagai kader dawah kita harus ingat, cara cara yang liar hanya berdampak sekejap dan berbahaya bagi dawah. Padahal yang kita inginkan adalah dawah yang terstruktur dan teorganisir dalam bingkai kebijakan umum atau strategi umum. Bukan hanya sekedar bergerak liar di luar struktur. Tapi yang teratur, dan tertib dalam aturan yang dibuat oleh system. Kalau sekedar bergerak, maka akan lebih banyak mudharotnya bagi dawah.

Ikhwah fillah. ilustrasi amal liar yang berada di luar struktur diibaratkan dengan Air. Air kalau tidak mengalir ke kanal kanal yang telah dipersiapkan, ia akan merusak jalanan. Aspal berlubang, lalu akan menimbulkan kemacetan akibat banjir bahkan dapat menjebolkan tambul. Begitu juga ketika kita

berharokah yang tidak terorganisir, tidak tertib. Cenderung hal ini akan merusak. Seperti aliran air yang tidak mengalir pada kanalnya. Karena itu, gerak yang kita lakukan harus mengacu pada konsep tarbiyah. Artinya jangan karena kita aktif lalu lupa pada tarbiyah Ada sebagian ikhwah kita yang aktif di berbagai lembaga, instansi non pemerintah seperti Ormas, LSM, Yayasan dan organisasi lainnya, tapi dia lupa mentarbiyah dirinya sendiri. Padahal amal haroki baru akan banyak faedah manakala berangkat dari tarbiyah. Karena dengan tarbiyah kita selalu diingatkan tentang keikhlasan, kesabaran, istiqomah agar hati tetap terjaga. Yang sangat disayangkan, sebagian ikhwah kita yang aktif luar biasa terkadang tidak mencerminkan harokah. Artinya mengajak orang melakukan perubahan, berbuat baik, sementara perilaku hidupnya jauh dari nilai - nilai yang dia emban. Yakni bertolak belakang dengan apa yang disampaikan kepada masyarakat. Dia membicarakan tentang tarbiyah, sementara dia sendiri tidak tertarbiyah dengan baik. Mengajak kepada dawah tapi lalai untuk mengimplementasikan nilai dawah dalam kepribadiannya sebagai kader dawah. Karena itu haroki harus ada dalam kendali tarbiyah.

Ikhwah fillah, ingatkan bagaimana dialog sahabat Anshor dengan Rasulullah, Ya Rasulullah, jika engkau kehendaki, kami siap dengan pedang pedang kami untuk menghadapi kaum musyrikin saat ini juga. Ketika rahasia pertemuan Rasulullah dengan para sahabat Anshor diketahui atau dibocorkan, maka Rasulullah mengatakan, Lebih baik kamu pulang ke kampung kamu masingmasing menyebarkan dawah, memperbanyak kader, memperluas dawah dan kita belum waktunya untuk melakukan ini dan pada saatnya tiba kita akan melakukan ini. Ikhwah fillah bila Tashil Ad Daawi kita pahami dengan baik, Insya Allah kita akan menjadi kader dan aktifis yang terdepan untuk selalu menjaga kemurnian dawah. Dalam kerja dawah yang berat ini tentu sangat diperlukan pemahaman yang utuh mengenai At Tashil Ad Daawi sehingga kita dapat mengembalikan umat ini kepada kemurnian dawah yang memiliki landasan yang kuat, dan kokoh. Sebab mustahil kita akan memenangkan dawah sementara kita tidak segera kembali kepada orisinilitas dawah.

Tugas Tulisan Pilihan, Yessi Arsurya, Kedokteran/Pendidikan Dokter/2010 MURNIKAN DAKWAH DENGAN AL-QURAN DAN AS-SUNNAH

Murni artinya tidak bercampur dengan unsur lain, tidak ternoda, suci dan sejati. Memurnikan berarti membersihkan, meluruskan, menjernihkan. Dakwah yang kita kibarkan panjinya di Harakah penuh berkah ini adalah dakwah kemurnian. Dakwah yang berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah yang murni.Murni dan suci dalam bertauhid, Murni dan suci dalam beribadah, berakhlak, bermu`amalah dan berdakwah. Tidak ada kompromi dengan segala noda dalam upaya menegakkan agama Alloh. Tidak ada persatuan di atas genangan rawa penuh noda. Walaupun persatuan penting, tetapi harus berlandaskan tauhid dan sunnah yang murni. Tidak mungkin istana berdiri menjulang, bila dasar bangunannya kubangan rawa yang dalam. Istilah lain dari upaya pemurnian sering disebut tajdid. Secara bahasa, kata tajdd berasal dari bahasa Arab, jaddayajiddu artinya memperbaharui sesuatu sebagaimana semula. Dalam bahasa Arab sesuatu dikatakan jadd(baru) apabila bagian-bagiannya masih jelas dan masih erat menyatu. Maka, upaya tajddadalah upaya mengembalikan keutuhan dan kemurnian Islam. Tajdid berarti kembali kepada pokok atau keaslian Islam, menghidupkan apa yang dulu pernah ada tetapi ditinggalkan, membersihkan Islam dari noda-noda yang menutupinya. Mengembalikan orbit kehidupan pada orbit ittiba sunnah kenabian. Menurut Ibn Asyir, tajdid (pemurnian) agamadirealisasikan dengan mereformasi kehidupan manusia di dunia. Pertama, sisi pemikirannya, berupaya mengembalikan pemahaman yang benar terhadap agama sebagaimana mestinya (agama yang dibawa Rasulullah dan para sahabatnya). Kedua, sisi pengamalannya dengan meluruskan kembali amalan-amalannya. Ketiga, sisi upaya menguatkan kekuasaan agama. (Ibn Asyir,Tahqiqat wa Anzhar f al-Qurn wa as-Sunnah) Sejarah telah memberi banyak pelajaran. Apabila ittiba tidak dikawal, maka jadilah awal kehancuran. Kaum Nuh, ketika tidak lagi berittiba, tenggelam. Khilafah yang berdiri ratusan tahun, ketika lepas dari prinsip ittiba, runtuh. Perluasan wilayah yang seharusnya menebar benih tauhid, hanya menjadi perluasan kesyirikan. Kita harus waspada dengan para pemalsu kemurnian. Yaitu orang-orang yang mengaku-ngaku, mengusung jargon kembali kepada al-Quran dan as-Sunnah akan tetapi jauh panggang dari api. Di antara ciri-ciri golongan ini antara lain; Menafsirkan al-Quran secara asal, kadang berdasarkan pikirannya semata, kadang mentok pada pendapat tokoh organisasainya. Standar keselamatan

seseorang ikut organisasinya, bukan pada kemurnian manhaj. Sibuk menebar cap kafir pada orang per orang, bukannya sibuk menjadikan orang agar beriman. Dakwah yang tidak di bangun di atas kemurnian adalah dakwah kepalsuan. Mengobral cita-cita palsu. Penipuan besar terhadap umat. Menebar iming-iming sebatas dunia. Semisal perkataan, bila khilafah tegak, niscaya BBM tidak akan naik. Atau bila partai dakwah berkuasa, rakyat akan makmur sejahtera. Atau dakwah kekuasaan yang melupakan kemurnian, sibuk mengotori diri demi peraihan maslahat duniawi, sementara maslahat dien dibenamkan dalam-dalam. Ini adalah maslahat mulgho, syad (tercela). Atau dakwah yang berusaha menjadikan Indonesia layaknya Iraq dan Afghanistan. Ini semua dakwah apa? Syarat mutlak dakwah yang benar adalah harus berdiri kokoh di atas kemurnian. Serasi sejalan dengan dakwah Rasulullah SAW. Dakwah yang berittiba. Selain pemalsu kemurnian, ada juga penoda kemurnian, dan ini jauh lebih busuk. Tidak ada sedikitpun kebaikan yang bisa diharapkan. Para ulama sampai-sampai menyebut para penoda ini bukan lagi bagian dari kaum muslimin alias keluar dari Islam. Diantaranya adalah kaum liberal, syiah dan ghullatus suffiyah. Para duat di jalan Allah tidak cukup berkoar-koar tentang dawah, namun pada sisi lain mencair dalam masyarakat jahiliyyah. Atau hanyut dalam setting hiburan, tertawa tak jelas maksudnya, dan ujungnya tidak memberikan bekas apa-apa pada umat kecuali sebuah kesimpulan, sang ustad lucu. Dawah seperti itu tidak bermanfaat dan tidak bernilai. Mereka mestinya tampil beda, tampil mencerahkan. Benar-benar yang disampaikan adalah permasalahan mendasar. Kokoh, kukuh, teguh memegang kemurnian. Sejak permulaan sejarahnya,Islam telah memiliki tradisi menjaga kemurnian. Kemurnian adalah adat umat Islam sepanjang zaman. Semua nabi dan pengikut para nabi mendakwahkan kemurnian. Semua sibuk menjaga kemurnian. Pejuang kemurnian dikenal seluruh alam. Seluruh penduduk langit memuji dan mendoakan. Sesungguhnya Allah akan mengutus kepada ummat ini di setiappenghujung 100 tahun seseorang yang akan melakukan tajdd (memperbaharui, memurnikan) agamanya.(HR. Abu Dawud) Ibnul Qayyim rahimahullh memberi penjelasan: Di setiap awal atauakhir dari periode 100 tahun kehidupan manusia, yakni ketika ilmu dan sunnah menjadi sedikit, kebodohan serta perbuatan bidah merajalela, Allah SWT akan mengutus kepada ummat ini seseorang yang akan menjelaskan

sunnah dari perbuatan bidah dan akan memperbanyak ilmu serta ikut menolong para ahli ilmu dan mengecilkan posisi ahli bidah serta menyelisihinya. (Ibnu Qayyim Al Jauziyyah,Aun al-Mabd Syarah Sunan Ab Dwud) Kita di zaman yang sangat membutuhkan para pejuang kemurnian. Sebanyak-banyaknya pejuang. Sebab, semakin waktu berlalu, kebutuhan itu semakin melonjak. Rasulullah SAW memberi isyarat: Tidaklah datang kepada kalian suatu hari atau suatu zaman melainkan sesudahnya lebih buruk dari sebelumnya, hingga kalian berjumpa dengan Rabb kalian.(HR. Ibnu Hiban, sanadnya sahih). Umat hari ini telah lama terkapar dalam ketidakmurnian. Mungkin karena sudah kelamaan enjoy hidup di belantara lumpur noda. Selanjutnya pandai beradaptasi, lalu terbius dan meyakini bahwa memang sudah semestinya mereka nrimo hidup tanpa pernah lagi berusaha menyucikan diri dan umat. Awalnya hanya terpaksa menjadi gelandangan berlumur kotoran, lama kelamaan sukarela meyakini dan tumbuh mentalitas gelandangan di dalam jiwa. Berjalan ke sana sini tidak tentu tujuannya. Padahal, muslim sejati adalah mereka yang tidak sedikitpun berkompromi dengan nilai-nilai dan sistem jahiliyyah yang mendominasi. Sibuk menjalankan program berdasarkan arahan dan bimbingan wahyu Allah dan supervisi Nabi Muhammad. Lurus, kencang penuh semangat lagi tak mudah terlemahkan. Saudaraku, marilah kita pastikan diri ikut dalam program menjemput datangnya periode cerah di atas kemurnian. Berjalan berdasarkan petuah wahyu, mengikuti jejak Nabi dan para sahabatnya. Jangan malah terlibat dalam program-program tawaran manusia yang sedang terlena dengan nodanoda sambil menyangka dan meyakini bahwa itulah jalan yang bisa mendatangkan kejayaan Islam. Tegaknya Khilafah di atas kemurnian tidak mungkin mengandalkan negosiasi di meja perundingan dengan kaum kuffar yang sedang menguasai dunia dewasa ini. Atau mengharapkan perjuangan ini laksana melewati taman-taman bunga indah, apalagi sekedar mengandalkan judi "permainan kotak suara".

Saudaraku, kembalinya kejayaan Islam menuntut pengorbanan luar biasa. Boleh jadi mengakibatkan tetesan air mata bahkan kucuran darah karena harus menempuh jalan yang telah ditempuh Nabi dan para sahabatnya. Yaitu ad-Dawah al-Islamiyyah, yang murni dengan al-Quran dan as-Sunnah. Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang terdaftar sebagai pasukan pejuang kemurnian. Ya Allah, berilah kami salah satu dari dua kebaikanisy kariiman (hidup mulia di atas kemurnian) atau mati syahiidan (mati syahid dengan penuh hormat dalam menegakkan kemurnian). Amin. Rujukan: http://www.google.com search Kembali ke Kemurnian Dakwah