Anda di halaman 1dari 12

I. II. III.

Nomor Percobaan Nama Percobaan Tujuan Percobaan

: IX : Penentuan Kadar Tirosin Dalam Kasein : Menentukan kadar tirosin dalam kasein serta dapat

membuat kurva kalibrasinya.

IV.

Landasan Teori Protein merupakan polipeptida yaitu hasil dari kondensasi dua molekul

asam amino. Asam amino mengandung gugus amino (-NH2) dan karboksil (COOH). Gugus karboksil bersifat asam karena dapat melepas proton (H+), sedangkan gugus amino bersifat basa karena dapat mengikat proton (H+) membentuk NH3+. Oleh karena itu, asam amino bersifat amfoter. Dalam larutan asam amino membentuk ion zwitter (bermuatan ganda). Denaturasi Protein Denaturasi protein merupakan perubahan struktur protein akibat pengaruh dari perubahan suhu, perubahan pH, radiasi, deterjen, dan perubahan jenis pelarut. Protein yang terdenaturasi hamper selalu mengalami kehilangan fungsi biologis. Hal ini paling mudah diperlihatkan oleh sifat protein. Jika larutan protein secara perlahan-lahan dipanaskan sampai kira-kira 60 atau 70oC, larutan tersebut lambat laun akan menjadi keruh dan membentuk koagulasi berbentuk seperti tali. Produk yang terjadi tidak akan melarut lagi dengan pendinginan dan tidak membentuk larutan jernih seperti semula sebelum dipanaskan. Pengaruh panas terjadi pada semua protein globular, tanpa memandang ukuran atau fungsi biologinya, walaupun suhu yang tepat bagi fenomena ini mungkin bervariasi . Protein dalam keadaan alamiahnya disebut protein asli (natif); setelah perubahan menjadi protein terdenaturasi. Denaturasi protein dapat diakibatkan bukan hanya oleh panas, tetapi juga pH ekstrim; oleh beberapa pelarut organic seperti alcohol atau aseton; oleh zat terlarut tertentu seperti urea; oleh detergen; atau hanya dengan pengguncangan intensif larutan protein dan bersingungan dengan udara sehingga berbentuk busa.

Protein Homolog dari Berbagai Spesies Mengandung Deret Homolog Protein homolog adalah protein yang menjalankan fungsi yang sama pada berbagai spesies; contohnya hemoglobin yang berfungsi melangsungkan transport oksigen pada berbagai jenis vertebrat. Protein homolog dari berbagai spesies biasanya mempunyai rantai polipeptida yang identik atau hamper identik panjangnya. Banyak posisi di dalam deret asam amino dari protein homolog yang ditempati oleh asam amino yang sama pada semua spesies, dan karenanya di sebut residu tetap. Pada posisi lain, terdapat variasi asam amino yang cukup besar dari spesies satu ke yang lain; asam amino ini disebut residu tak tetap. Serangkaian persamaan di dalam deret asam amino pada protein homolog seperti itu disebut homologi deret; hal ini menunjukkan bahwa hewan yang mengandung protein homolog tersebut mungkin mempunyai asal usul yang sama, tetapi mengalami perubahan pada saat spesies berkembang selama evolusi. Kesimpulan yang serupa diperoleh dari hasil penelitian spesifisitas antibody terhadap antigen dari spesies homolog. Protein Globular Dalam protein globular, rantai polipeptida berlipat menjadi suatu bentuk globular yang kompak. Konformasi globular lebih kompleks dibandingkan dengan golongan protein serat, fungsi biologinya lebih beragam, dan aktivitasnya pun tidak statis, tetapi bersifat dinamis. Hampir semua dari 2000 atau lebih enzim merupakan protein globular. Protein globular yang lain berfungsi di dalam transport oksigen, sari makanan dan ion inorganic di dalam darah; beberapa protein globular bekerja sebagai antibody, yang lain merupakan hormone dan yang lain lagi sebagai komponen membrane dan ribosom. Terdapat dua bukti penting yang menunjukkan bahwa rantai polipeptida protein globular berlipat-lipat dengan erat dan bahwa konformasi yang berlipatlipat itu penting bagi fungsi biologinya, yaitu: 1. Bahwa protein natif mengalami denaturasi dengan pemanasan, di dalam lingkungan pH yang ekstrim, atau dengan penambahan urea.

Jika suatu protein globular mengalami denaturasi, struktur kerangka kovalen tetap utuh, tetapi rantai polipeptidanya membuka membentuk acak, tidak teratur, dan mengalami perubahan konformasi dalam ruang. 2. Berlipatnya protein globular dating dari perbandingan panjang rantai polipeptida dengan ukuran makromolekular sebenarnya seperti diperlihatkan oleh pengukuran fisiokimia.

Beberapa Protein Mengandung Gugus Kimia Lain Disamping Asam Amino. Banyak protein, seperi enzim ribonuklease dan khimotripsinogen hanya mengandung asam amino, dan tidak gugus kimia lain; senyawa ini disebut protein sederhana. Akan tetapi, protein lain menghasilkan komponen kimia lain di samping asam amino setelah hidrolisis; senyawa-senyawa ini disebut protein konyugasi. Bagian yang buakn asam amino dari jenis protein ini disebut gugus prostetik. Protein konyugasi digolongkan berdasarkan sifat kimia gugus prostetiknya. Lipoprotein mengandung lipida, glikoprotein mengandung gula, dan metaloprotein mengandung satu atau lebih metal spesifik, seperti tembaga, atau seng. Biasanya gugus prostetik pada protein memegang peranan penting di dalam fungsi biologi.

Contoh protein Konjugasi : Golongan Lipoprotein Glikoprotein Fosfoprotein Hemoprotein Flavoprotein Metaloprotein Gugus Prostetik Lipid Karbohidrat Gugus Fosfat Heme (Forfirin besi) Flavin Nukleotida Besi,seng Contoh

- Liproperoten darah

- Globulin darah
Kasein susu Hemoglobin Suksinat dehidrogenase Feritin, alkohol dehidrogenase

Beberapa Sifat Molekul Protein Protein Merupakan Molekul Berukuran Besar Polipepetida berbagai protein mungkin mempunyai kira-kira 100 sampai sebanyak 1800 atau lebih residu asam amino. Protein bukan hanya merupakan campuran sejumlah polipeptida dengan panjang, komposisi atau deret yang berbeda-beda. Semua molekul dari setiap jenis protein tertentu mempunyai komposisi, dan deret asam amino, serta panjang rantai polipeptida yang sama. Beberapa protein hanya mengandung rantai tunggal polipeptida, tetapi yang lain, yang disebut protein oligomer, mempunyai dua atau lebih rantai polipeptida. Sebagai contoh, enzim ribonuklease mempunyai satu rantai polipeptida, sedangkan hemoglobin mempunyai empat. Berat molekul yang dapat ditentukan dengan berbagai metoda fisikokimia mungkin berkisar dari kira-kira 12000 bagi protein kecil seperti sitokhrom c, yang hanya mempunyai 104 residu, sampai berat molekul setinggi 106 atau lebih, pada protein dengan rantai polipeptida yang panjang, atau protein yang mempunyai beberapa rantai polipeptida. Kita dapat menghitung dugaan jumlah residu asam amino di dalam protein sederhana yang tidak mengandung gugus prostetik dengan membagi berat molekulnya dengan 110. Walaupun rata-rata berta molekul ke 20 jenis asam amino di dalam protein kira-kira 138, asam amino yang paling kecil merupakan jenis utama di dalam hampair semua protein, sehingga rata-rata berat molekul berada di sekitar 128. karena molekul air (BM = 18,0) dikeluarkan untuk membentuk setiap ikatan peptida, rata-rata berat residu asam amino kira-kira 128 18 = 110.

Protein Dapat Dipisahkan dan Dimurnikan Sel mengandung ratusan, jika tidak ribuan berbagai jenis protein. Jelaslah, penting sekali memperoleh preparat murni protein tertentu sebelum kita dapat menentukan komposisi dan deret asam amino. Pertama-tama, protein dapat dipisahkan dari senyawa dengan berat molekul rendah yang ada di dalam ekstrak sel atau jaringan dengan proses dialisis.

Molekul besar seperti protein ditahan di dalam kantong terbuat dari senyawa berpori amat halus, seperti selopan,. Jadi, jika kantong yang mengandung ekstrak sel atau jaringan dimasukkan ke dalam air, molekul kecil di dalam ekstak jaringan, seperti garam, akan melalui pori-pori tetapi protein dengan berat molekul tinggi akan tertahan di dalam kantong. Protein juga dapat dipisahkan satu dari yang lain oleh elektroferosis, berdasarkan tanda dan jumlah muatan listrik pada gugus R dan gugus terminal amino dan terminal karboksil yang bermuatan. Seperti peptida sederhana, rantai polipeptida protein mempunyai titik isoelektrik yang khas, yang mencerminkan jumlah relatif gugus R asam dan basa. Sedangkan jika kita menginginkan protein yang terpisah dari senyawa dapat dilakukan dengan pelarutan protein dalam pelarut seperti etanol dan eter.

V.

Alat dan Bahan 1. Alat: a. Rak tabung reaksi b. Pipet tetes c. Erlenmeyer d. Beaker gelas e. Gelas ukur f. Pengaduk g. Refluks Kondensor h. Penangas air i. Spektrofotometri UV-VIS B. Bahan: a. Kasein b. NaOH 6 N c. H2SO4 7 N d. Hg2SO4 5% dalam H2SO4 5 N e. Larutan tirosin 1% - 10%

f. CuSO4 g. NaNO2 0,2 ml h. Air

VI.

Prosedur percobaan Hidrolisa 1,0 gram kasein dengan 20,0 ml NaOH 6 N pada refluks

kondensor dalam penangas air selama 4 jam. Tambahkan hati-hati 30 ml H2SO4 7 N. Campurkan. Tempatkan 1,0 ml hidrolisat ke dalam tabung yang bersih dan kering. Pada tabung-tabung lain pipet masing-masing 1,0 ml larutan tirosina standar dengan lima macam kadar yang berbeda. Tambahkan 3 ml Hg2SO4 5% dalam H2SO4 5 N pada semua tabung. Panaskan dalam penangas air yang mendidih selama 10 menit. Dinginkan dan tambahkan ke dalam masing-masing tabung 2 ml H H2SO4 7 N dan 2 ml NaNO2 0,2%. Campur dan tambahkan 12 ml air ke dalam masing-masing tabung. Baca ekstingsinya pada spektrofotometer dengan maks= 470 nm

VII.

Hasil Pengamatan Konsentrasi (mg/ml) 0,01 0,02 0,03 0,04 0,05 0,06 0,07 0,08 0,09 0,1 Hasil hidrolisa 1,603 2,065 2,137 2,343 2,433 2,454 2,527 2,792 2,895 3,274 0,036 Absorban

VIII.

Persamaan Reaksi

Hidrolisis Protein
R1 H2N NH .
+

-O O H3N R1

-O

O
+

H3N R2

R2 Protein

Asam amino

Asam amino

Dalam suasana Asam


-O O
+

HO CH 3COOH O
+

H3N R

H3N R

Asam amino

Asam amino dalam asam

Penambahan Etanol 95%


HO O
+

HO C2H5OH H2N R R O

H3 N

IX.

Analisa Data

Perhitungan regresi linier konsentrasi terhadap adsorbannya : X = konsentrasi Y = Adsorban X 0,01 0,02 Y 1,603 2,065 XY 1,603 0,041 X2 0,0001 0,0004

0,03 0,04 0,05 0,06 0,07 0,08 0,09 0,1 0,55

2,137 2,343 2,433 2,454 2,527 2,792 2,895 3,274 24,523

0,064 0,093 0,121 0,147 0,176 0,223 0,260 0,3274 3,0554

0,0009 0,0016 0,0025 0,0036 0.0049 0,0064 0,0081 0,01 0,0385

Slope = A =

n(xy ) (x )( y ) n ( x 2 ) ( x ) 2 10 (3,0554 ) (0,55 )( 24 ,523 ) 10 (0,0385 ) (0,55 ) 2


(30 ,554 ) (13,487 ) 0,385 0,3025

= =

= 206,87

Intersept = B =

(x 2 )(y) (x)(xy) n(x 2 ) (x) 2


(0,0385 )( 24 ,523 ) (0,55 )(3,0554 ) 10 (0,0385 ) (0,55 ) 2
0,944 1,68047 0,385 0,3025

= =

= -8,926 Jadi, persamaan regresi liniernya adalah y = 206,87 x 8,926

X Y

1 197,944

404,814 611,684 818,554 1025,424

Kurva Kalibrasi Tirosin


1200 1000 800 600 400 200 0 1 2 3 4 5

Untuk Larutan Hidrolisat Nilai absorbansi (y) = 0,036 Dari persamaan regresi linier, dapat ditentukan konsentrasi sampel yaitu : y = 206,87 x 8,926 0,036 = 206,87 x 8,926 8,962 = 206,87 x X = 0,043

Jadi, konsentrasi sampel = 0,043

X.

Pembahasan Percobaan dalam pembuatan tirosin dalam kasein ini adalah untuk

menghitung kadar tirosin yang berada dalam kasein susu. Setelah mendapat kadar tirosin maka kita juga akan mendapatkan adsorban pada masing-masing konsentrasi. Perhitungan adsorban didapat dari serapan dalam spectrophotometer. Pertama-tama larutan kasein dilarutkan dalam larutan NaOH, dengan begitu, larutan protein dilarutkan ke dalam larutan basa kuat. Sehingga asam amino yang ada dalam protein tersebut akan terdapat dalam bentuk dibawah ini :

NH2 CH R

COO

Hal ini disebabkan karena konsentrasi (OH-) yang tinggi mampu mengikat ion-ion H+ yang terdapat pada gugus NH3+. Kemudian digunakan refluks pada penangas air yaitu pada titik didih air. Refluks dilakukan pada suhu awal sebesar 24,5oC dan suhu akhir adalah 82oC. Selama refluks larutan kasein ditambahkan dengan larutan H2SO4 untuk mengikat basa oleh asam dari kasein. Tepat pada 1 jam 40 menit kasein yang semula berwarna putih kekuningan tepat menjadi endapan yang sebelumnya menggumpal menjadi warna putih. Refluks dilakukan selama 4 jam. Dari hasil refluks didapatkan larutan yang berwarna kuning dan berbau. Kemudian larutan tersebut dijadikan larutan sample yang kemudian akan diukur adsorbannya dan dibandingkan dengan larutan standarnya. Dari larutan standar Tirosin dilarutkan dengan HgSO4 dengan kadar yang berbeda pada 10 tabung. Hal ini bertujuan untuk mengendapkan protein dengan ion logam positif yaitu Hg++. Penambahan H2SO4 pada larutan protein akan menyebabkan struktur molekul asam amino menjadi :
H3 N
+ CH R COOH

Ini terjadi karena konsentrasi H+ yang tinggi mampu berikatan dengan ion COO-, sehingga membentuk gugus COOH. Sedangkan penambahan NaNO2 pada larutan tirosin bertujuan untuk memberikan warna. Warna yang terjadi akibat penambahan NaNO2 yaitu terjadinya warna merah pada larutan protein. Adanya warna pada larutan protein karena kita akan menghitung adsorban pada larutan protein dengan menggunakan spektrofotometer. Karena alat ini menggunakan cahaya UV-Vis menggunakan warna dalam penganalisisannya.

XI.

Kesimpulan 1. Tirosin ini memiliki gugus Fenol dan bersifat asam lemah.

2. Penambahan asam pada asam amino akan menyebabkan konsentrasi H+ berikatan dengan ion COO- membentuk gugus COOH. 3. Penambahan basa pada asam amino menyebabkan konsentrasi OHmengikat ion-ion H+yang terdapat pada gugus NH3+. XII. Daftar Pustaka

Lehninger, Albert. 1995. Dasar-dasar Biokimia Jilid 1. Jakarta: Erlangga. Wirahadikusumah, Muhammad. 1985. Biokimia Protein, Enzim, dan Asam Nukleat. Bandung: ITB. Fessenden dan Fessenden. 1999. Kimia Organik Edisi ketiga Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

XIII.

Gambar Alat

Pipet Tetes

Penangas air

Beker gelas Statif dan Klem

Gelas Ukur

Corong Pemisah

Erlenmeyer