Anda di halaman 1dari 22

PERCOBAAN II

I. Judul Percobaan : Analisa Aliran Daya



II. Tujuan Percobaan
a) Untuk memeriksa tegangan-tegangan pada setiap bus yang ada dalam
sistem yang dipelajari, biasanya variasi yang diperbolehkan adalah 5%
b) Memeriksa kapasitas semua peralatan yang ada dalam sistem apakah
cukup besar untuk menyalurkan daya yang diinginkan.
c) Untuk memperoleh kondisi mula-mula untuk studi lanjutnya yaitu : studi
hubung singkat, studi stabilitas transient dan rugi-rugi transmisi.
d) Menganalisis pengaruh perubahan beban pada sistem yang telah ada
terhadap aliran beban/daya.

III. Peralatan
Untuk mengoperasikan dan melaksanakan percobaan-percobaan dalam
praktikum distribusi system tenaga sesuai dengan tujuan praktikum tersebut
di atas maka peralatan yang dibutuhkan antara lain :
a. Software program analisa sistem tenaga (ETAP)
b. Seperangkat PC yang kompetibel

IV. Dasar Teori
Dalam analisa aliran daya, persamaan jaringan biasanya dinyatakan dalam
daya, dan karenanya disebut persamaan aliran daya. Persamaan ini tidak linier
dan harus dipecahkan dengan teknik iterasi. Studi aliran daya, atau aliran beban
(load flow) merupakan tulang punggung dari dari analisa dan disain sistem tenaga
listrik. Studi aliran daya ini dibituhkan dalam perencanaan, operasi, dispatching,
dan pertukaran daya di antara 2 sistem atau lebih.
Analisis aliran daya adalah penentuan atau perhitungan tegangan, arus,
daya dan faktor daya atau daya reaktif yang terdapat pada berbagai titik dalam
suatu jaringan listrik pada keadaan normal. Dalam analisis sistem tenaga listrik,
variabel-variabel yang perlu diperhatikan adalah tegangan ( V ), sudut phasa ( ),
daya nyata ( P ), daya semu ( Q ).Variabel P dan Q bergantung pada V dan ,
dimana perubahan P bergantung pada dan Q bergantung pada V, demikian pula
sebaliknya. Adapun jenis-jenis variabel dalam sistem adalah ;
1. Variabel-variabel bebas ( variabel-variabel yang diatur ). Contoh : magnitude
dan sudut tegangan pada bus beban, sudut phasa tegangan dan daya reaktif pada
simpul / bus generator.
2. Variabel-variabel tidak bebas ( variabel-variabel yang mengatur ). Contoh :
daya nyata dan magnitude tegangan pada bus generator. bangkit atau saluran
transmisi.
Tujuan dari analisa aliran daya adalah (Hutauruk, 1983 ) :
1. Untuk mengetahui tegangan-tegangan pada setiap bus yang ada dalam sistem.
Biasanya variasi tegangan yang yang diperbolehkan adalah 5 %.
2. Untuk mengetahui semua peralatan apakah memenuhi batas-batas yang
ditentukan untuk menyalurkan daya yang diinginkan.
3. Untuk memperoleh kondisi awal untuk studi selanjutnya seperti studi analisa
hubung singkat, stabilitas dan pembebanan ekonomis.
Pada setiap bus terdapat 4 besaran penting yang digunakan di dalam analisa aliran
daya, yaitu :
1. Injeksi netto daya nyata ( net real power injected ), mempunyai simbul P
dengan satuan Megawatt ( MW ).
2. Injeksi netto daya semu ( net reactive power injected ) mempunyai simbol Q
dengan satuan Megavolt ampere reactive ( MVAR ).
3. Besaran ( magnitude ) tegangan, mempunyai simbol V dengan satuan
Kilovolt ( KV ).
4. Sudut phasa tegangan, mempunyai simbol dengan satuan radian. Nomor 1
dan 2 adalah daya yang dibangkitkan oleh generator yang mengalir ke bus, bila
bus sendiri mempunyai beban , daya ini adalah selisih daya yang dibangkitkan
generator dengan daya pada beban. Bila busnya tidak punya generator, beban pada
bus tersebut dianggap sebagai generator yang membangkitkan daya negatif yang
mengalir ke bus tersebut.
Dari 4 parameter tersebut diatas, untuk memperoleh penyelesaian aliran
daya, pada setipa bus perlu diketahui 2 buah parameter, sehingga tergantung pada
parameter yang diketahui. Pada busbus yang demikian daya kompleks diberikan
oleh :
( ) ( ) i i i Gi Di Gi Di S = P + jQ = P P + j Q Q
dengan :
= Gi P Daya aktif yang disuplai oleh generator pada
bus i
= Gi Q Daya reaktif yang disuplai oleh generator
pada bus i

P Daya aktif beban pada bus i
= Di Q Daya reaktif beban pada bus i
Untuk analisa aliran daya, bus-bus yang digunakan dapat diklasifikasikan dalam 3
kategori :
1. Load Bus atau Bus Beban
Biasanya disebut bus P.Q, parameter-parameter yang diketahui adalah P dan Q,
parameterparameter yang tidak diketahui adalah V dan .
2. Bus Kontrol ( Generator Bus )
Pada bus ini, parameter-parameter yang diketahui adalah P dan V, parameter-
parameter yang dihitung adalah Q dan .
3. Bus Referensi ( Slack Bus )
Pada bus ini parameter-parameter yang diketahui adalah V dan dan ( biasanya
= 0 ).
Sedangkan besaran P dan Q ditentukan setelah iterasi selesai. Biasanya slack bus
yang digunakan dalam analisa ini jumlahnya hanya satu dan dipilih bus pertama
atau terakhir, yang terhubung dengan generator yang berkapasitas paling besar.
Konsep slack bus ini diperlukan, karena aliran daya ke dalan sistem pada setiap
bus tidak dapat ditentukan sampai seluruh iterasi terselesaikan. Karena bus ini
berfungsi sebagai bus refrence, maka sudut fasa tegangan adalah sama dengan 0.
Titiktitik sambungan yang terhubung jika dua buah elemen murni (R, L, C atau
suatu sumber tegangan atau arus ideal) dihubungkan satu sama lain pada ujung
ujungnya dinamakan simpul simpul (nodes).

1. Metoda Newton Rhapson
Metode Newton-Raphson dikembangkan Deret Taylor dengan mengabaikan
derivatif pertama fungsi dengan satu variabel persamaan Deret Taylor berikut ini .
( ) ( )
( ) ( ) ( )
0 ) (
!
1
.... ) (
! 2
1
) (
! 1
1
0
2
0 2
0
2
0
2
0
0
0
= + + + =
n
n
x x
dx
x df
n
x x
dx
x df
x x
dx
x df
x f x f
Jika :
ik ik ik
k i ik
j
i i i i
jB G Y
e V V V V
i
+ =
=
= Z =
u u u
0


Maka persamaan menjadi :
( ) ( ) | |
( ) ( ) | |
k i ik k i ik k
n
k
i i
k i ik k i ik k
n
k
i i
B G V V Q
B G V V P
u u u u
u u u u
+ =
+ =

=
=
cos sin
sin cos
1
1

Untuk i, k = 1,2,3,....,n
G = kunduktansi
B = Suseptansi
Y = Admitansi
Daya pada bus ke-i adalah

=
n
k
k ik i i
V Y V S
1
* *
.
Untuk I, k = 1,2,3, ...,n
Besaran per unit (p.u) didefinisikan sebagai perbandingan harga yang sebanarnya
dengan harga dasar (base value) dengan persamaan berikut :
sama ensi Ber yang Dasar Besaran
ya sesungguhn Besaran
u p
dim
. =

2. Studi Aliran Beban Metode Fast Decoupled
Metode fast decoupled Newton-Raphson merupakan penyatuan dari beberapa ide
dari metoda-metoda lain seperti Gauss-Seidel, Newton-Raphson dan Decoupled
Newton-Raphson. Dengan mengkombinasikan metode sebelumnya, metode Fast
Decoupled dibentuk sedemikian sehingga memiliki algoritma yang lebih
sederhana. Sehingga proses komputasinya lebih cepat dan andal. Metode Fast
Decoupled ini dikembangkan berdasarkan prinsip keterkaitan antara daya nyata
sudut fasa tegangan (P-) dan daya reaktif magnitudo tegangan (Q-V).
Kemudian dengan melakukan studi numerik secara ekstensif maka diperoleh
bentuk algoritma yang tepat melalui beberapa penyederhanaan pada metode
Decoupled Newton Raphson, seperti yang diuraikan berikut.
Beberapa asumsi yang berlaku pada sistem tenaga pada umumnya yaitu [4] :
1. Sistem tenaga memliki rasio X/R yang tinggi.
Sehingga, ij ij ij G sin B
2. Perbedaan sudut phasa tegangan antara bus-bus yang berhubungan sangat kecil
dan tidak signifikan, sehingga :
0 , 1 ) ( cos cos
) ( sin sin
~ =
= ~ =
j i ij
ij j i j i ij
o o o
o o o o o o

3. Dan juga
2
1 i ij
V B Q <<
Dengan adanya asumsi tersebut maka submatriks Jacobi H dan L menjadi :
ii j i ii
ij j i ij
ii j i ii
ij j i ij
B V V L
i j B V V L
B V V H
i j B V V H
=
= =
=
= =

Dalam bentuk matriks sebagai berikut :
| | | || |
| | | |
(
(

A
= A
A = A
V
V
V x B x V Q
V x B x V P o

Juika diubah dalam bentuk matriks B1 dan B2 maka persamaan diatas akan
menjadi :
| | | || |
| | | |
(
(

A
= A
A = A
V
V
V x B x V Q
V x B x V P
2
1 o

dimana elemen-elemen matriks B1 merupakan elemen-elemen negatif dari
matriks B tanpa bus referensi/slack bus. Dan elemen-elemen matriks B2
merupakan elemen-elemen negatif dari matriks B tanpa bus referensi/slack bus
dan bus generator (hanya bus beban). Dalam membentuk matriks B1 dan B2 maka
dilakukan penerapan prinsip decoupled (keterkaitan antara P- dan Q-V) sehingga
persamaan di atas menjadi dua persamaan yang saling terpisah. Prosedur
pembentukan matriks B1 dan B2 adalah sebagai berikut [6] :
1. Dalam membentuk matriks B1, elemen sistem tenaga yang mempengaruhi daya
reaktif (yang menyebabkan perubahan tegangan) diabaikan, yaitu : reaktansi
shunt, transformator tap offnominal.
2. Dalam membentuk matriks B1, resistansi saluran diabaikan.
3. Dalam membentuk matriks B2, elemen sistem tenaga yang mempengaruhi daya
aktif (yang menyebabkan perubahan sudut fasa tegangan) diabaikan, yaitu :
transformator penggeser fasa. Dengan adanya modifikasi di atas maka persamaan
aliran daya fast decoupled mempunyaibentuk akhir matriks sebagai berikut :
| || |
| || | V B
V
Q
B
V
P
A =
(

A
A =
(

A
2
1 o

Di mana :
= =
= =
= = =

=
j B B
X
B B
i j
X
B B
ij ij
n
j ij
ij ij
ij
ij ij
2
1
1
1
1
1
1

=
= =
1
1
2
n
j
ij ij ij
B B B
Bij : bagian imajiner elemen admitansi bus (admitansi bersama)
Bii : bagian imajiner elemen admitansi bus (admitansi sendiri)
Xij : reaktansi saluran i j
n : jumlah bus yang ada di dalam sistem
p : jumlah bus generator yang ada di dalam sistem
q : jumlah bus beban yang ada di dalam sistem
dimensi matriks B1 = (n-1) x (n-1)
dimensi matriks B2 = (n-p-1) x (n-p-1) atau (q) x (q)
Dengan adanya pengabaian-pengabaian di atas maka matriks B1 dan B2 menjadi
riil, simetris (Bij = Bji), dan konstan dan umumnya banyak yang tidak terisi
(sparse). Maka dalam proses perhitungan matriks B1 dan B2 hanya dihitung dan
diinversi (faktorisasi) sekali pada saat sebelum proses iterasi dimulai untuk
seluruh proses perhitungan [4]. Meskipun matriks B1 dan B2 hanya merupakan
pendekatan dari matriks Jacobi tetapi selisih daya nyata dan daya reaktif hasil
perhitungan memiliki nilai yang eksak, sehingga ketelitiannya bisa sama dengan
metode Newton- Raphson.

3. Metode Gauss-Seidel
Perhatikan penyelesaian persamaan nonlinier berikut ini :
f ( x ) = 0
Fungsi di atas dapat dituliskan lagi sebagai :
x = g ( x )
Jika x(k) adalah nilai perkiraan awal dari x, akan terbentuk urutan iterasi sebagai
berikut :
x
(k+1)
= g(x
(k)
)
Penyelesaian dari kasus ini tercapai bila selisih antara nilai mutlak iterasi lbih
kecil dari suatu nilai yang telah ditentukan, atau
x x
(k) 1) (k
s
+
; dimana adalah tingkat akurasi yang diinginkan.
V. Data Hasil Percobaan
A. Data Percobaan
Data percobaan adalah sebagai berikut :


Generator 1 (Swing Bus)
200 MVA, 40KV

Generator 2 (Voltage Control)
100 MVA, 40KV

Bus 1 : nominal KV, 40KV
Bus 2 : nominal KV, 40KV
Bus 3 : nominal KV, 40KV

L1 : 20 MW, 85%
L2 : P = 30 MW, Q = 40MVAR, pf = 85%

Metode Newton Raphson
Maksimal Iterasi : 3
Presisi : 0,001

B. Hasil Percobaan
Gambar setelah percobaan:














C. Pengolahan Data
Perhitungan Analisa Aliran Daya Secara Manual :
Matrik Admitansi bus :
y
12
= 1,2 1,6 36,87 2
36,87 0,5
1
3 , 0 4 , 0
1
j
j
= Z =
Z
=
+

y
13
= 707 , 0 707 , 0 45 1
45 1
1
707 , 0 707 , 0
1
j
j
= Z =
Z
=
+

y
23
= 866 , 0 5 , 0 60 1
60 1
1
866 , 0 5 , 0
1
j
j
= Z =
Z
=
+

Y
11
= y
12 +
y
13
= 2,307 j1,907
Y
22
= y
12 +
y
23
= 2,1 j2,066
Y
33
= y
13 +
y
23
= 1,107 j1,573
Y
12
= Y
21
= -y
12
= - 1,6 + j1,2
Y
13
= Y
31
=

-

y
13
= -0,707 + j0,707
Y
23
= Y
32
= - y
23 =
- 0,5 + j0,866

Data kawat transmisi :
Kode Bus Impedansi Admitansi Shunt
p-q Zpq

1 2 0,4 + j 0,3 0
1 3 0,707 + j 0,707 0
2 3 0,5 + 0,j 866 0

Data pembangkitan beban dan tegangan bus permulaan
Kode P
Tegangan Generator Beban
Keterangan
Bus
Permulaan MW MVAR MW MVAR
1 1,05 + j 0,00 0 0 Slack Bus
2 1,00 + j 0,00 85 30 40 Load Bus
3 1,00 + j 0,00 0 0 17 10,536 Load Bus

2
pq
Y
Perhitungan KLp :
KLp =
Ypp
jQp Pp

KL
2
=
22
2 2
Y
jQ P
= 034 , 0 228 , 0 5 , 8 231 , 0
53 , 44 946 , 2
03 , 36 68 , 0
j2,066 2,1
4 , 0 55 , 0
j
j
+ = Z =
Z
Z
=


KL
3
=
33
3 3
Y
jQ P
=
104 , 0 006 , 0 44 , 93 104 , 0
86 , 54 923 , 1
30 , 148 20 , 0
j1,573 1,107
105 , 0 17 , 0
j
j
= Z =
Z
Z
=




Perhitungan YLpq :
Ylpq =
Ypp
Ypq

YL
12
= 032 , 0 667 , 0 71 , 182 668 , 0
39,58 - 2,993
13 , 143 2
j1,907 - 2,307
j1,2 1,6 -
11
12
j
Y
Y
= Z =
Z
Z
=
+
=
YL
13
= 032 , 0 332 , 0 58 , 174 334 , 0
39,58 - 2,993
135 1
j1,907 - 2,307
j0,707 0,707 -
11
13
j
Y
Y
+ = Z =
Z
Z
=
+
=
YL
21
= 091 , 0 673 , 0 66 , 187 679 , 0
44,53 - 2,946
13 , 143 2
j2,066 - 2,1
j1,2 1,6 -
22
21
j
Y
Y
= Z =
Z
Z
=
+
=
YL
23
= 09 , 0 327 , 0 53 , 164 339 , 0
44,53 - 2,946
120 1
j2,066 - 2,1
j0,866 0,5 -
22
23
j
Y
Y
+ = Z =
Z
Z
=
+
=
YL
31
= 089 , 0 512 , 0 86 , 189 52 , 0
54,86 - 1,923
135 1
j1,573 - 1,107
j0,707 0,707 -
33
31
j
Y
Y
= Z =
Z
Z
=
+
=
YL
32
= 046 , 0 518 , 0 86 , 174 52 , 0
54,86 - 1,923
120 1
j1,573 - 1,107
j0,866 0,5 -
33
32
j
Y
Y
+ = Z =
Z
Z
=
+
=

Iterasi Gauss-Seidel :
* Iterasi 1
E
2
1
=
0
3 23
1
1 21
* 0
2
2
) (
E YL E YL
E
KL

E
2
1
= ) 0 0 , 1 )( 09 , 0 327 , 0 ( ) 0 05 , 1 )( 091 , 0 673 , 0 (
) 00 , 0 0 , 1 (
034 , 0 228 , 0
j j j j
j
j
+ + +

+

= 034 , 0 228 , 0 j + - (-0,707-j0,096)- (-0,327+j0,09)
E
2
1
= 1,262 + j 0,04

E
2
1
= E
2
1
E
2
0
E
2
1
= E
2
0
+ (E
2
1
)
E
2
1

= (1,262 + j 0,04) (1,0+j0) E
2
1
= (1,0+j0) + (1,5)(0,262 + j 0,04)
E
2
1

= 0,262 + j 0,04 E
2
1
(acc)

= 1,393 + j 0,06

E
3
1
=
1
2 32
1
1 31
*
0
3
3
) (
E YL E YL
E
KL


E
3
1
=
) 0,06 j 1,393 )( 046 , 0 518 , 0 ( ) 0 05 , 1 )( 089 , 0 512 , 0 (
) 0 0 , 1 (
104 , 0 006 , 0
+ + +


j j j
j
j

= 104 , 0 006 , 0 j -(- 0,538-j0,089)-(-0,722+j0,064-j0,031-0,003)
E
3
1
= 1,257 - j0,048
E
3
1
= E
3
1
E
3
0
E
3
1
= E
3
0
+ E
3
1

E
3
1

= (1,257 - j0,048) (1+j0) E
3
1
= (1,0+j0) + (1,5)(0,257 - j0,048)
E
3
1

= 0,257 - j0,048 E
3
1
(acc)

= 1,386 - j0,072

*Iterasi 2
E
2
2
=
1
3 23
2
1 21
* 1
2
2
) (
E YL E YL
E
KL

E
2
2
= ) j0,072 - 1,386 )( 09 , 0 327 , 0 ( ) 0 05 , 1 )( 091 , 0 673 , 0 (
) 0,06 j 1,393 (
034 , 0 228 , 0
j j j
j
+ +

+

= 0,230<8,48: 1,394<-2,47 = 0,165<10,95 = 0,162 +j0,031
=0,162 +j0,031- (-0,707 - j 0,096) (-0,453+j0,125+j0,023+0,006)
E
2
2
= 1,316 - j0,021

E
2
2
= E
2
2
E
2
1

E
2
2

= (1,316 - j0,021)-( 1,393 + j 0,06)
E
2
2

= -0,077 - j0,081

E
2
2
= E
2
1
+ E
2
2

E
2
2
= (1,393 + j 0,06) + (1,5) (-0,077 - j0,081)
E
2
2
(acc)
= 1,277 - j0,061

E
3
2
=
2
2 32
2
1 31
* 1
3
3
) (
E YL E YL
E
KL

E
3
2
=
) j0,061 - 1,277 )( 046 , 0 518 , 0 ( ) 0 05 , 1 )( 089 , 0 512 , 0 (
) j0,072 1,386 (
104 , 0 006 , 0
j j j
j
+ +
+


= 0,104<-93,30 : 1,388<2,97 = 0,075<-96,27 = -0,008 j0,075
=-0,008 j0,075 (-0,538-j0,093)- (-0,661 + j0,059 + j0,032 + 0,003)
E
3
2
= 1,188 j0,073

E
3
2
= E
3
2
- E
3
1

E
3
2

= (1,188 j0,073) (1,386 - j0,072)
E
3
2

= -0,198 - j0,001

E
3
2
= E
3
1
+ E
3
2

E
3
2
= (1,386 - j0,072) + (1,5) (-0,198 - j0,001)
E
3
2
(acc)
= 1,089 - j0,073

*Iterasi 3
E
2
3
=
2
3 23
3
1 21
* 2
2
2
) (
E YL E YL
E
KL

E
2
3
= ) j0,073 - 1,089 )( 09 , 0 327 , 0 ( ) 0 05 , 1 )( 091 , 0 673 , 0 (
) j0,061 1,277 (
034 , 0 228 , 0
j j j
j
+ +
+
+

= 0,230<8,48 : 1,278<2,73 = 0,180<5,75 = 0,179 + 0,018
= 0,179 + 0,018 (-0,707-j0,096) - (-0,356 + j0,098 + j0,024 + 0,007)
E
2
3
= 1,235 + j0,008

E
2
3
= E
2
3
E
2
2

E
2
3

= (1,235 + j0,008) - (1,277 - j0,061)
E
2
3

= -0,042 + j 0,069

E
2
3
= E
2
2
+ E
2
3

E
2
3
= (1,277 - j0,061) + (1,5) (-0,042 + j 0,069)
E
2
3
(acc)
= 1,214 + j0,043

E
3
3
=
3
2 32
3
1 31
* 2
3
3
) (
E YL E YL
E
KL


E
3
3
=
) j0,043 1,214 )( 046 , 0 518 , 0 ( ) 0 05 , 1 )( 089 , 0 512 , 0 (
) j0,073 1,089 (
104 , 0 006 , 0
+ + +
+

j j j
j

= 0,104<-93,30 : 1,091<3,83 = 0,095<-97,13 = -0,012 j0,094
= -0,012 j0,094- (-0,538 j0,093) (-0,659 +j0,056 j0,022 0,002)
E
3
3
= 1,187 - j0,035

E
3
3
= E
3
3
- E
3
2

E
3
3

= (1,187 - j0,035) (1,089 - j0,073)
E
3
3

= 0,098 + j0,038

E
3
3
= E
3
2
+ E
3
3

E
3
3
= (1,089 - j0,073) + (1,5) (0,098 + j0,038)
E
3
3
(acc)
= 1,236 j0,016

Perhitungan Aliran Daya :
Ppq jQpq = Ep* (Ep Eq) Ypq
Bus 12 :
P
12
JQ
12
= E
1
* (E
1
E
2
) y
12

= (1,05j0,0) ((1,05 + j0,0) (1,214 + j0,043)) ( 1,2 1,6 j )
1,05<0 . 0,169<-165,31 . 2<-36,87 = 0,355 <-202,18
= -0,329 + j0,134
Sehingga : P
12
= -0,329 x 100 = -32,9 MW
Q
12
= 0,134 x 100 = 13,4 MVAR

Bus 21 :
P
21
JQ
21
= E
2
* (E
2
E
1
) y
21

= (1,214 - j0,043) ((1,214 + j0,043) (1,05+j0,0)) ( 1,2 1,6 j )
= 1,215<-2,03. 0.169<14,69 . 2<-36,87 = 0,411<-24,21
= 0,375 j0,169
Sehingga : P
21
= 0,375 x 100 = 37,5 MW
Q
21
= -0,169 x 100 = -16,9 MVAR

Rugi-rugi Daya Aktif : P
12
+ P
21
= (-32,9 + 37,5) MW = 4,6 MW
Rugi-rugi Daya Reaktif: Q
23
+ Q
32
= (13,4 - 16,9) Mvar = -3,5 Mvar

Bus 13 :
P
13
JQ
13
= E
1
* (E
1
E
3
) y
13

= (1,05j0,0) (1,05+j0,0 (1,236 j0,016)) ( 707 , 0 707 , 0 j )
= 1,05<0 . 0,187<175,08 . 1<-45 = 0,196<130,08
= -0,126 + j0,150
Sehingga : P
13
= -0,126 x 100 = -12,6 MW
Q
13
= 0,150x 100 = 15,0 Mvar

Bus 31 :
P
31
JQ
31
= E
3
* (E
3
E
1
) y
31
= (1,236 + j0,016) (1,236 j0,016 (1,05+j0,0)) ( 707 , 0 707 , 0 j )
= 1,236<0,74 . 0,187<-4,92 . 1<-45 = 0,231<-49,18
= 0,151 - j 0,175
Sehingga : P
13
= -0,151 x 100 = -15,1 MW
Q
13
= 0,175 x 100 = 17,5 Mvar

Rugi-rugi Daya Aktif : P
13
+ P
31
= ( -12,6 + 15,1) MW = 2,5 MW
Rugi-rugi Daya Reaktif: Q
13
+ Q
31
= (15,0 - 17,5 ) Mvar = -2,5 Mvar

Bus 23 :
P
23
JQ
23
= E
2
* (E
2
E
3
) y
23
= (1,214 - j0,043) (1,214 + j0,043(1,236 j0,016)) ( 866 , 0 5 , 0 j )
= 1,215<-2,03 . 0,063<110,45 . 1<-60 = 0,076<48,42
= 0,050 j0,057
Sehingga : P
23
= 0,050 x 100 = 5 MW
Q
23
= -0,057 x 100 = -5,7 Mvar

Bus 32 :
P
32
JQ
32
= E
3
* (E
3
E
2
) y
32
= (1,236 +j0,016) (1,236 j0,016 (1,214 + j0,043)) ( 866 , 0 5 , 0 j )
= 1,236<0,74. 0,063<-69,55 . 1<-60 = 0,078<-128,81
= -0,049 j0,061
Sehingga : P
32
= -0,049 x 100 = -4,9 MW
Q
32
= -0,061 x 100 = -6,1 Mvar

Rugi-rugi Daya Aktif : P
23
+ P
32
= ( 5 4,9) MW = 0,1 MW
Rugi-rugi Daya Reaktif: Q
23
+ Q
32
= (-5,7 6,1) Mvar = 0,4 Mvar

VI. Tugas dan Jawaban Percobaan
Tugas modul :
1. Diketahui : Sistem dengan 3 bus seperti gambar dibawah ;
6 , 0
_
j a Z = , 2 , 0
_
j b Z = dan 25 , 0
_
j c Z =



Ditanya : Matriks admitansi ?
Jawab :
667 , 1 90 667 , 1
90 6 , 0
1
6 . 0
1 1
0
0
12
j
j Za
y
= Z =
Z
= = =
5 90 5
90 2 , 0
1
2 . 0
1 1
0
0
13
j
j Zb
y
= Z =
Z
= = =

4 90 4
90 25 , 0
1
25 . 0
1 1
0
0
23
j
j Zc
y
= Z =
Z
= = =


667 , 6 5 667 , 1
13 12 11
j j j Y Y Y = = + =
667 , 5 4 667 , 1
23 21 22
j j j Y Y Y = = + =
9 4 5
32 31 33
j j j Y Y Y = = + =

667 , 1
12 21 12
j y Y Y = = =
5
13 31 13
j y Y Y = = =
4
23 32 23
j y Y Y = = =

Maka Matriks Admitansi nya adalah :
| |
(
(
(

=
9 4 5
4 667 , 5 667 , 1
5 667 , 1 667 , 6
j j j
j j j
j j j
Y

VII. Analisa Hasil Percobaan
Pada percobaan ini saya membandingkan hasil yang didapat dari
simulasi ETAP dan perhitungan manual. Saya mendapatkan hasil yang
berbeda antara simulasi ETAP dengan perhitungan manual. Hal ini
dikarenakan adanya komponen yang tidak diketahui, seperti faktor
akselerasi, dan tegangan permukaan pada generator. Sehingga
menyebabkan saya bingung untuk melakukan perhitungan secara manual,
jadi saya menentukan komponen tersebut sendiri.
Analisa aliran daya juga menentukan rugi-rugi yang ada pada
setiap bus. Tidak rugi-rugi pada slack bus, karena slack bus bertugas untuk
memasok daya sebesar-besar yang diperlukan pada beban, sehingga tidak
ada daya pada generator bus 1. Dari hasil perhitungan dan simulasi ETAP
rugi-rugi paling besar terjadi pada bus yang menuju ke load 2, sedangkan
rugi-rugi paling kecil terjadi pada bus yang menuju ke load 1. Rugi-rugi
pada beban yang menuju ke load 1 kecil karena pada load 1 terdapat
generator yaitu generator 2 sehingga sumber dayanya berasal dari dua
generator yang menyebabkan kontinyuitasnya terjaga dan mengurangi
rugi-rugi karena jarak ke generatornya dekat. Dari hasil tersebut kami
menyimpulkan besarnya beban yang dipasok menyebabkan adanya rugi-
rugi.

VIII. Kesimpulan
1. Analisis aliran daya adalah penentuan atau perhitungan tegangan, arus,
daya dan faktor daya atau daya reaktif yang terdapat pada berbagai titik
dalam suatu jaringan listrik pada keadaan normal.
2. Studi aliran daya merupakan salah satu analisa sistem tenaga listrik pada
keadaan steady state. Besaran yang dihasilkan dari perhitungan studi aliran
daya adalah daya nyata (real power), daya reaktif (reactive power),
besaran (magnitude), dan sudut beban (phase angle) tegangan pada setiap
bus.
3. Pada setiap bus terdapat 4 besaran penting yang digunakan di dalam
analisa aliran daya, yaitu :
a) Injeksi netto daya nyata ( net real power injected ), mempunyai simbul
P dengan satuan Megawatt ( MW ).
b) Injeksi netto daya semu ( net reactive power injected ) mempunyai
simbol Q dengan satuan Megavolt ampere reactive ( MVAR ).
c) Besaran ( magnitude ) tegangan, mempunyai simbol V dengan
satuan Kilovolt ( KV ).
d) Sudut phasa tegangan
4. Terdapatl tiga tipe bus, yaitu:
a) Load Bus atau Bus Beban (PQ Bus)
b) Bus Referensi (Slack Bus)
c) Bus Kontrol atau Generator Bus (PV Bus)
5. Perhitungan aliran daya digunakan menggunakan metode:
a) metode Newton Raphson
b) Metode Accelerasi Gauss-Seidel
c) Metode Fast Decoupled
6. Semakin besar beban, semakin besar pula daya yang dialirkan ke beban
tersebut.
7. Rugi-rugi daya reaktif lebih besar dibandingkan rugi-rugi pada daya aktif.
8. Daya akan mengalir ke masing-masing bus dan akan diteruskan ke beban

Daftar Pustaka

_____.darwito.files.wordpress.com/2008/05/asd8.doc


_____.http://ft-elektro.usk.ac.id/rekayasa/2005/423_2005.pdf

_____.http://ft-elektro.usk.ac.id/rekayasa/2006/526_2006.pdf

_____.http://matakulastl.files.wordpress.com/2008/06/analisis-aliran-daya.pdf

_____.images.jlitheng1371.multiply.com/attachment/0/R@yOrgoKCsoAAHfJEL
M1/bpk%20menum.doc?nmid=88422089

_____.http://www.elektro.undip.ac.id/transmisi/jun06/4_nad_sat.pdf

_____.http://www.elektro.undip.ac.id/transmisi/des05/yuningdes05.PDF

_____.www.hotlinkfiles.com/files/1948365_462pk/Modul_Praktikum_TTL_2008
.doc%5DModul_Praktikum_TTL_2008.doc


Hamdadi, A. Ir. MS.2002.Analisa Sistem Tenaga. Jurusan Teknik Elektro.