Anda di halaman 1dari 9

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Kritik sastra di dalamnya terdapat kritik puisi, merupakan suatu bidang kajian yang tidak hanya melibatkan sisi praktis dan teoritis akan tetapi mempunyai ragam definisi dan pengertian karena menyangkut berbagai aspek, seperti aspek estetika, ilmiah dan historis. Munculnya perbedaan definisi juga disebabkan karena setiap kata yang dipakai untuk mengartikan kritik sastra juga mempunyai sejarahnya sendiri-sendiri. KeritikSaatra tidak terbatas pada dasardasar pengkajian, kata kritik sastra sendiri juga mengalami evolusi, yakni pergeseran makna, perubahan dan bisa juga penguatan. Sebagai contoh, kata naqd dalam sastra Arab yang mempunyai beragam arti secara etimologis, dianggap mulai terfokus pada pengertian kritik sastra setelah munculnya Naqd asy-Syir karya Qudmah bin Jafar pada awal abad IV H. Di samping mempunyai beragam definisi, kritik sastra juga merupakan salah satu bidang kajian yang bisa ditelusuri dari aspek histories, terutama jika sastra dilihat dari segi masa lalu dan perkembangannya. Pada kritik sastra Arab, aspek historis ini bisa dilihat mulai dari pertumbuhannya pada masa pra-Islam hingga saat ini dengan berbagai catatan tentang dasar-dasar yang dijadikan para kritikus sebagai pegangan, baik dari segi lafal, makna, maupun faktor-faktor yang berpengaruh dalam memberi penilaian terhadap karya sastra terutama puisi. Kritik sastra yang sejak dulu dipahami sebagai sebuah bentuk kerja interpretasi (menjelaskan maksud) untuk karya imajinatif (atau karya sastra) ternyata sudah mulai bergeser fungsinya dengan tuntutan menjadikan kritik sastra sebagai sebuah bentuk karya sastra sekelas dengan seni yang lain. sastra juga dimaksudkan untuk menjelaskan pada masyarakat bahwa karya sastra adalah hasil interpretasi pengarang terhadap suatu fenomena sehingga terkadang berbeda dan mengacuhkan kenyataan yang diakui masyarakat, untuk hal ini karya sastra perlu dilindungi karena karya tersebut perlu dipandang terlepas dari

pengarangnya sebagai konstruksi yang otonom/berdiri sendiri. Melalui Kritik sastra hasil karya seseorang sastrawan bisa akan terus berkembang, serta hal tersebut harus juga didukung oleh kreativitas masyarakat memaknai hasil karya sastra tersebut. Untuk lebih jelasnya dalam bab pembahasan akan dipaparkan secara jelas. B. Rumusan Masalah Dari paparan yang tertulis dalam latar belakang di atas maka, kami merumuskan beberapa rumusan masalah untuk mengetahui lebih dalam pengertian, jenis-jenis serta fungsi dari Kritik Sastra itu sendiri. 1. Apa definisi dari Kritik Sastra? 2. Jenis-jenis Kritik Sastra 3. Fungsi Kritik Sastra C. Tujuan Makalah 1. Untuk mengetahui pengertian dari kritik Sastra. 2. Agar bisa memahami lebih dalam lagi tentang berbagai jenis Kritik sastra. 3. Supaya bisa menggunakan fungsi Kritik Sastra dengan sewajarnya.

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Kritik Sastra Secara bahasa, naqd atau kritik berarti penelitian, analisis, pengecekan, pembedaan yang baik dan yang buruk, penampakan hal yang buruk dan diskusi. Dalam bahasa Yunani, kata naqd atau kritik yang berasal dari kata krites (hakim) berarti menghakimi, membandingkan atau menimbang. Berdasarkan arti leksikal itulah, kata naqd atau kritik biasanya didefinisikan sebagai proses meneliti apa saja, membedakan antara karakternya yang baik dan yang buruk, dan menilainya sesuai dengan ukuran-ukuran tertentu. Kata kritik, karena itu, mengandung objek dengan memujinya dan menjelekkannya. Kata ini berbeda dalam bahasa keseharian (bahasa lisan) Indonesia popular yang mengalami penyempitan makna, yaitu makna menjelekkan suatu objek tertentu, walaupun makna ini juga menjadi bagian dari makna leksikal kritis. Sementara kata adab atau sastra adalah berasal dari kata sas (sanksakerta) berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk atau intruksi. Akhiran tra berarti alat, sarana.jadi sastra berarti kumpulan alat untuk mengajar, buku pengajaran yang baik. Secara istilah sastra adalah karya fiksi yang merupakan hasil kreasi berdasarkan luapan emosi yang spontan yang mampu mengungkapkan kemampuan aspek keindahan yang baik yang didasarkan aspek kebahasaan maupun aspek makna. Berdasarkan penjelasan dua kata di atas, naqd adab atau kritik sastra berarti pengkajian terhadap karya sastra yang menganalisis dan menjelaskannya agar bisa dipahami dan dinikmati pembaca dan kemudian menilainya secara objektif. Kritik sastra merupakan kajian yang memperbincangkan tentang pemahaman, penghayatan, penafsiran dan penilaian terhadap karya sastra.

B. Jenis Kritik Sastra

1. Menurut bentuknya a. Kritik Teoritis Kritik sastra yang berusaha (bekerja) atas dasar prinsip-prinsip umum untuk menetapkan seperangkat istilah yang berhubungan, pembedaan-pembedaan, dan kategori-kategori, untuk diterapkan pada pertimbangan-pertimbangan dan interpretasi-interpretasi karya sastra maupun penerapan kriteria (standar atau norma) untuk menilai karya sastra dan pengarangnya. b. Kritik Terapan Merupakan diskusi karya sastra tertentu dan penulis-penulisnya. Misalnya buku Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei Jilid II (1962) dikritik sastrawan-sastrawan, diantaranya Mohammad Ali, Nugroho Notosusanto, Subagio Sastrowardoyo, dan lain sebagainya 2. Berdasarkan Pelaksanaannya a. Kritik Judisial Adalah menerangkan kritik sastra yang berusaha menganalisis dan efek-efek karya sastra berdasarkan pokoknya,

organisasinya, teknik, serta gayanya, dan mendasarkan pertimbanganpertimbangan individu kritikus atas dasar standar-standar umum tentang kehebatan dan keluarbiasaan sastra b. Kritik Induktif Kritik sastra yang menguraikan bagian-bagian karya sastra berdasarkan fenomena-fenomena yang ada secara objektif. Kritik induktif meneliti karya sastra sebagaimana halnya ahli ilmu alam meneliti gejala-gejala alam secara objektif, tanpa menggunakan standarstandar yang tetap yang berasal dari luar dirinya c. Kritik Impresionistik Adalah kritik sastra yang berusaha menggambarkan dengan kata-kata, sifat-sifat yang terasa dalam bagian-bagian khusus atau dalam sebuah karya sastra dan menyatakan tanggapan-tanggapan (impresi)

kritikus yang ditimbulkan secara langsung oleh karya sastra 3. Berdasarkan Orientasi Terhadap Karya Sastra a. Kritik Mimetik Kritik yang bertolak pada pandangan bahwa karya sastra merupakan tiruan atau penggambaran dunia dan kehidupan manusia. Kritik ini cenderung mengukur kemampuan suatu karya sastra dalam menangkap gambaran kehidupan yang dijadikan suatu objek b. Kritik Pragmatik Kritik yang disusun berdasrkan pandangan bahwa sebuah karya sastra disusun untuk mencapai efek-efek tertentu kepada pembaca, seperti efek kesenangan, estetika, pendidikan, dan sebagainya. Model kritik ini cenderung memberikan penilaian terhadap suatu karya berdasarkan ukuran keberhasilannya dalam mencapai tujuan tersebut. c. Kritik Expresif Kritik yang menekankan kepada kebolehan pengarang dalam mengekspresikan atau mencurahkan idenya ke dalam wujud sastra. Kritik ini cenderung menimbang karya sastra dengan memperlihatkan kemampuan pencurahan, kesejatian, atau visi penyair yang secara sadar atau tidak tercermin pada karya tersebut. d. Kritik Objektif Suatu kritik sastra yang menggunakan pendekatan bahwa suatu karya sastra adalah karya yang mandiri. Kritik ini menekankan pada unsur intrinsik. C. Fungsi Kritik Sastra 1. Pembinaan dan Pengembangan Sastra Dengan kritikan yang ada, sastrawan dapat belajar untuk dapat meningkatkan kecakapannya ataupun mempertimbangkan untuk memperluas daerah garapannya. Dengan begitu, kesusastraan akan dapat berkembang, baik corak, gaya, maupun mutunya. 2. Pembinaan Kebudayaan dan Apresiasi Seni

Dalam mengeritik, para kritikus menunjukkan daerah-daerah gelap yang terdapat dalam suatu karya sastra secara lebih baik dan lebih bermakna, yang akhirnya dapat meningkatkan kemampuan apresiasi sastra ke tingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya. Hal ini dimungkinkan karena kritikus menganalisis struktur sastra, memberi komentar dan interpretasi, menerangkan unsur-unsurnya, serta menunjukkan hal-hal yang tersirat dari semua yang tersurat. 3. Menunjang Ilmu Sastra Analisis yang dilakukan kritikus dalam mengkritik tentulah didasarkan pada referensi-referensi, teori-teori yang akurat. Tidak jarang pula, perkembangan teori sastra lebih lambat dibandingkan dengan kemajuan proses kreatif pengarang. Untuk itu, dalam melakukan kritik, kritikus seringkali harus meramu teori-teori baru. Teori-teori sastra yang baru inilah yang justru akan semakin memperkembangkan ilmu sastra itu sendiri. 4. Memberi Sumbangan Pendapat untuk Menyusun Sejarah Sastra Dalam melakukan kritik, kritikus tentu akan menunjukkan ciri-ciri karya sastra yang dikritik secara struktural (ciri-ciri intrinsik). Tidak jarang pula kritikus akan mencoba mengelompokkan karya sastra yang dikritik ke dalam karya sastra yang berciri sama. Kenyataan inilah yang dapat disimpulkan bahwa kritik sastra sungguh membantu penyusunan sejarah sastra. D. Kesimpulan Setelah kami memaparkan penjelasan di atas maka dapat dimabil kesimpulan bahwa: Pengertian dari Kritik Sastra adalah pengkajian terhadap karya sastra yang menganalisis dan menjelaskannya agar bisa dipahami dan dinikmati pembaca dan kemudian menilainya secara objektif. Jenis-jenis Kritik Sastra dapat deibedakan sebagai berikut:

1. Menurut bentuknya a. Kritik Teoritis. b. Kritik Terapan. 2. Berdasarkan Pelaksanaannya a. Kritik Judisial. b. Kritik Induktif. c. Kritik Impresionistik. 3. Berdasarkan Orientasi Terhadap Karya Sastra a. Kritik Mimetik. b. Kritik Pragmatik. c. Kritik Expresif. d. Kritik Objektif. Fungsi Kritik Sastra 1. Pembinaan dan Pengembangan Sastra. 2. Pembinaan Kebudayaan dan Apresiasi Seni. 3. Menunjang Ilmu Sastra. 4. Memberi sumbangan pendapat untuk menyusun sejarah sastra. E. Penutup Demikianlah makalah yang seadanya ini kami buat dengan kemampuan yang sangat minim sekali untuk memenuhi tugas mata kuliah, yang sudah barang tentu banyak kesalahan dan kekurangan yang terdapat di dalamnya. Namun walaupun demikian, mudah-mudahan ini dapat memberikan pemahaman sumbangsih terhadap kita semua dan membuka cakrawala

pengetahuan yang selama ini menjadi kebudayaan dialektika sebuah kehidupan serta bisa menumbuhkan sikap yang terhadap sejarah sastra itu sendiri. Kritik dan saran merupakan bahan evaluasi yang kami harapkan, dengan adanya proses transformasi pengetahuan yang lebih progresif.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Shayib, Ahmad, Usul Al-Naqd Al-Adaby, Kairo: Maktabah Al-Shakkshiah AlMisriyah, 1964. Al-Jayyar, Midhat, Al-Naqd Al-Araby Baina Al-Qadim wa Al-Hadist, Kairo: Dar Al-Wafa, 2001. Kamil, Sukron. Teori Kritik Sastra Arab. Jakarta: PT. Grafindo Persada. 2009. Mandub, Muhammad, Al-Naqd Al-Manhaji Indal Arab, Kairo: Maktabah AlShakkshiah Al-Misriyah, 1964. Marshall G.S. Hogdoson, The Venture of Islam, Chicago: The University Of Chicago Press, 1974. Ratna, Nyoman Khuta, Penelitiaan Sastra, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004. Suroso, Puji Santosa, Pardi Suratno, Kritik Sastra, Yogyakarta: Elmatera Publishing, 2009.

Kritik adalah analisis untuk menilai suatu karya sastra. Tujuan kritik sebenarnya bukan menunjukkan keunggulan, kelemahan, benar/salah sebuah karya sastra dipandang dari sudut tertentu, tetapi tujuan akhirnya mendorong sastrawan untuk mencapai penciptaan sastra setinggi mungkin dan mendorong pembaca untuk mengapresiasi karya sastra secara lebih baik. Ada 2 jenis kritik sastra: 1. Kritik sastra intrinsik -> fokusnya pada karya sastra itu sendiri dan menganalisa unsur-unsur karya sastra itu. 2. Kritik sastra ekstrinsik -> Menghubungkan karya sastra dengan hal-hal diluar karya sastra. Misal: menghubungkan karya sastra dengan pengarangnya, karya sastra dihubungkan dengan ilmu psikologi, agama, sejarah, filsafat. Peran Kritikus Sastra Menjalankan disiplin pribadinya sebagai jawaban terhadap karya sastra tertentu. Berbeda dengan seorang estetikus, karena kritikus adalah orang yang terlatih kemampuannya dalam memisahkan hal-hal yang bersifat emosional dengan hal-hal yang rasional. Bertindak sebagai pendidik yang berupaya membina dan mengembangkan kejiwaan suatu masyarakat. Bertindak sebagai hakim yang bijaksana, yang dapat membangkitkan kesadaran serta menghidupkan suara hati nurani, pembinaan akal budi, ketajaman pikiran, dan kehalusan cita rasa. .