Anda di halaman 1dari 11

PENGARUH PENAMBAHAN SERAT IJUK PADA KUAT TARIK CAMPURAN SEMEN-PASIR DAN KEMUNGKINAN APLIKASINYA

Wiryawan Sarjono P Program Studi Teknik Sipil Universitas Atma Jaya Yogyakarta Jl. Babarsari 44 Yogyakarta email : wir@mail.uajy.ac.id

Agt. Wahjono Program Studi Teknik Sipil Universitas Atma Jaya Yogyakarta email : wahjono@mail.uajy.ac.id

ABSTRAKSI
Penambahan serat dalam adukan beton terbukti mampu meningkatkan kuat tarik beton. Untuk keperluan non struktur, secara terbatas material serat dapat digunakan dari bahan-bahan alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan serat ijuk pada adukan semen-pasir terhadap peningkatan kuat tarik belah, desak dan impact resistance-nya. Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi industri bahan bangunan, khususnya untuk diaplikasikan sebagai bahan susun adukan paving block. Benda uji yang digunakan dalam penelitian ini, untuk masing-masing jenis adukan berupa 5 silinder uji tekan, 5 silinder uji tarik belah dan 3 benda uji impact. Perbandingan (volume) adukan adalah 1 : 11 (semen : pasir) sedang serat ijuk yang digunakan dengan panjang 2,5 cm. Penambahan serat ijuk masingmasing jenis adukan sebanyak (1 5) % dari berat semen. Kode yang digunakan pada benda uji adalah BI-0 untuk adukan tanpa ijuk, BI-1 untuk adukan dengan ijuk 1%, BI-2 untuk adukan dengan ijuk 2%, BI-3 untuk adukan dengan ijuk 3%, BI-4 untuk adukan dengan ijuk 4% dan BI-5 untuk adukan dengan ijuk 5%. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan serat ijuk sebanyak (1 5)% pada campuran semen-pasir mampu meningkatkan: (1) kuat tarik belah, dengan peningkatan kuat tarik tertinggi dicapai oleh penambahan ijuk sebanyak 4% yaitu sebesar 34,81 %. (2) kuat desak, dengan peningkatan kuat desak teringgi dicapai oleh penambahan ijuk sebanyak 4% sebesar 9,86 %. (3) ketahanan kejut. Kata Kunci : kuat tarik, kuat desak, Impact Resistance

ABSTRACT
Increasing tensile strength of concrete can be obtained by adding fiber to the fresh concrete mix. In limited applications of non structural element, the natural fiber (mineral or organic) can be used. This research is conducted to know the influence of palm fiber addition in cement-sand mix to increase the tensile, compresive strength and impact resistance. This result will be applicated in building material industries, especially for paving block production. Five cylinders for every Pengaruh Penambahan Serat Ijuk Pada Kuat Tarik Campuran Semen-Pasir dan Kemungkinan Aplikasinya (Wiryawan Sarjono P, Agt. Wajono)

159

mix are used to test the compressive, splitting and impact resistance. Volume fraction of mix are 1 : 11 (cement : sand) whereas 2.5 cm length of palm fibers are used with percentage about 1 5 % of cement weight. The sample codes are BI-0 for cement-sand mix only, BI-1 for cement-sand mix and 1 % palm fiber, BI-2 for cement-sand mix and 2 % palm fiber, BI-3 for cement-sand mix and 3 % palm fiber, BI-4 for cement-sand mix and 4 % palm fiber and BI-5 for cement-sand mix and 5 % palm fiber. The result of this research shows that the addition of 1-5 % palm fiber on cement-sand mix can increase : (1) the tensile strength, and the maximum increasing is 34.81% by adding 4% palm fiber. (2) the compressive strength, and the maximum increasing is 9.86% by adding 4% palm fiber. (3) the impact resistance. Keywords : compressive strength, splitting test, impact resistance

1. PENDAHULUAN Dewasa ini adukan semen-pasir banyak digunakan untuk pembuatan paving block (conblock) perkerasan jalan. Dalam keadaan baru, perkerasan jalan dengan menggunakan paving block nampak sangat baik, namun setelah beberapa waktu kemudian, banyak paving block yang pecah sehingga tidak rapi lagi. Pecahnya paving block ini disebabkan oleh tegangan tarik dan desak yang terjadi, akibat beban lalu lintas melebihi kemampuannya. Randing (1995) Penambahan serat ijuk pada pembuatan genteng beton telah terbukti mampu memperbaiki sifat fisis mekanis yang dimiliki, seperti meningkatkan kekuatan lentur dan mengurangi sifat regasnya. Hasil penelitian Yuwono, S. (1994) juga membuktikan bahwa penambahan ijuk menyebabkan benda uji (genteng dan panel dinding) tidak mengalami patah kejut saat dibebani. Penelitian ini mencoba mengaplikasikan konsep penggunaan serat dalam campuran semen-pasir. Untuk memperbaiki kemampuan tarik paving block, akan diteliti pengaruh penambahan sejumlah ijuk pada adukan semen-pasir. Pemilihan ijuk sebagai serat dikarenakan bahan ini mudah didapat, awet, tidak mudah busuk serta mempunyai nilai ekonomis. Sementara untuk memperbaiki kemampuan desaknya dapat dilakukan dengan penambahan semen atau mengevaluasi faktor air semennya. Ijuk merupakan serat alami pada pangkal pelepah enau (arenga pinnata) yang mempunyai kemampuan tarik yang cukup sehingga diharapkan dapat mengurangi retak dini maupun akibat beban. Apabila retak yang terjadi dapat dicegah maka persoalan yang berkaitan dengan kualitas paving block diatas bisa diatasi.

2. PERUMUSAN MASALAH Dengan menambahkan serat ijuk pada adukan semen-pasir diharapkan akan berpengaruh terhadap sifat-sifat mekanik campuran tersebut. Apabila dipergunakan untuk perkerasan jalan, maka sifat-sifat adukan semen-pasir yang perlu diperbaiki adalah kemampuannya menahan tarik dan ketahanan terhadap kejut. Secara garis besar perumusan masalah yang akan diselesaikan dalam penelitian ini adalah : a. Berapa besar peningkatan kuat tarik belah adukan semen-pasir akibat penambahan serat ijuk ? b. Berapa besar peningkatan kuat desak adukan semen-pasir akibat penambahan serat ijuk ? c. Berapa besar peningkatan ketahanan terhadap beban kejut dari adukan semen-pasir akibat penambahan serat ijuk ? 160

Volume 8 No. 2, Pebruari 2008 : 159 - 169

d. Dengan mempertimbangkan peningkatan kuat tarik, kuat desak dan ketahanan terhadap kejut akan ditentukan jumlah ijuk yang optimal, bila capuran semen-pasirijuk akan diaplikasikan dalam pembuatan paving block. Peningkatan kuat tarik dan ketahanan terhadap beban kejut dari campuran semen-pasir yang dicampur dengan serat ijuk dikaji kemungkinan pemanfaatannya pada pembuatan paving block.

3. TINJAUAN PUSTAKA Sorousian & Bayasi (1987), bahwa upaya untuk memperbaiki sifat-sifat yang kurang baik dari beton (misalnya kuat tariknya kurang dan sifatnya yang getas) dapat dilakukan dengan cara menambah serat pada adukannya. Pemikiran dasarnya adalah menulangi beton dengan serat secara merata, dan orientasi penyebarannya secara acak, sehingga dapat mencegah terjadinya retakan-retakan dini, baik akibat panas hidrasi maupun akibat pembebanan. Dengan adanya pencegahan retakan-retakan dini maka kemampuan bahan untuk mendukung tegangan-tegangan dalam seperti aksial, lentur dan geser akan meningkat. Beberapa jenis bahan serat yang dapat digunakan untuk memperbaiki sifat-sifat beton adalah baja, plastik, kaca dan karbon. Untuk keperluan non-struktural dapat digunakan serat dari bahan alamiah, seperti bambu, ijuk atau serat tumbuhan lainnya. Beberapa hasil penelitian juga menunjukkan bahwa beton fiber mampu memperbaiki sifat-sifat beton, yaitu : (a) daktilitas, (b) ketahanan terhadap kejut, (c) kemampuan menahan tarik dan momen lentur, (d) ketahanan terhadap kelelahan/fatigue life, (e) ketahanan terhadap pengaruh susutan (shrikage) dan ketahanan terhadap ausan, fragmentasi dan spalling. Ijuk merupakan bahan alami yang dihasilkan oleh pangkal pelepah enau (arenga pinnata) yaitu sejenis tumbuhan bangsa palma. Serabut ijuk biasa dipintal sebagai tali (tali ijuk), sapu atau dijadikan atap, selain itu dalam kontruksi bangunan ijuk digunakan sebagai lapisan penyaring (filter) pada sumur resapan. Ijuk mempunyai sifat awet dan tidak mudah busuk baik dalam keadaan terbuka (tahan terhadap cuaca) maupun tertanam dalam tanah. Penggunaan beton serat baja untuk perkerasan kaku (rigid pavement) jalan raya dan struktur lantai, yang juga harus menahan beban kejut (impact) yang cukup besar telah dilaporkan oleh Schrader (1987). Dalam pengujiannya beton serat memiliki kuat lentur yang tinggi serta kemampuan menahan fatigue, sehingga dapat mengurangi tebal perkerasan serta memiliki performance yang lebih baik. Penelitian yang dilakukan oleh Suhendro (1991) dengan menambahkan fiber lokal (berupa potongan kawat bendrat, panjang 60 mm) sebanyak 50 kg untuk setiap meter kubik dengan perbandingan bahan susun beton 1 : 0,85 : 2,14 (semen : pasir : kerikil) diperoleh suatu beton yang mempunyai ketahanan beban impak (impact resistance) yang relatif tinggi bila dibandingkan dengan beton biasa maupun beton granolitic grade-A. Penambahan fiber juga meningkatkan ketahanan terhadap susutan (shrinkage) yang mencapai 1,5 kali lebih besar dibandingkan dengan beton biasa. Yuwono, S. (1994) dalam penelitiannya memanfaatkan limbah lumpur sedimentasi air bersih yang dicampur serat ijuk untuk membuat genteng dan panel dinding. Hasil yang diperoleh pada pengujian beban patah pada genting limbah dan kuat lentur panel limbah menunjukkan bahwa penambahan serat ijuk mengakibatkan penurunan kekuatan, namun keuntungannya pada saat menerima beban uji beban tidak mengalami patah kejut. Penambahan serat ijuk juga dilakukan oleh Randing (1995) dalam penelitiannya. Randing (1995) menambahkan serat ijuk sebanyak 1 2 % dari berat semen. Hasil penelitian pada pembuatan genting beton, membuktikan bahwa penambahan ijuk sebanyak 1 2 % dari
Pengaruh Penambahan Serat Ijuk Pada Kuat Tarik Campuran Semen-Pasir dan Kemungkinan Aplikasinya (Wiryawan Sarjono P, Agt. Wajono)

161

berat semen dapat mengatasi sifat regasnya serta meningkatkan kekuatan lentur sebesar 12 16 %. Kekuatan lentur dari hasil penelitian ini memenuhi syarat mutu tingkat II menurut SK SNI S 04-1989-F spesifikasi bahan bangunan bagian A.

4. HASIL DAN PEMBAHASAN Adukan semen-pasir untuk pembuatan elemen non struktur, biasa dilakukan dengan perbandingan semen : pasir (volume) sebesar 1 : (7 8) dengan kuat desak antara 2,7 5 MPa, tergantung jenis semen yang digunakan. Dalam praktek dilapangan para pengusaha paving block menggunakan perbandingan (volume) campuran semen : pasir, 1 : (10 12). Untuk penelitian ini perbandingan campuran ditentukan berdasarkan pada kondisi yang terjadi di lapangan, perbandingan (volume) semen : pasir ditetapkan sebesar 1 : 11. Serat ijuk diperoleh dengan mengurai pangkal pelepah enau sehingga berwujud serat, dan selanjutnya serat ini dipotong-potong sepanjang 2,50 cm. 4.1. Kuat Tarik Belah Benda uji silinder sebanyak 5 buah bagi masing-masing jenis campuran dipersiapkan untuk pengujian tarik belah. Hasil pengujian Kuat tarik belah (splitting test) benda uji silinder pada umur 28 hari diperlihatkan pada Tabel 1 berikut : Tabel 1. Kuat Tarik Belah Campuran Semen-Pasir-Ijuk No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Keterangan : BI-0 BI-1 BI-2 BI-3 BI-4 BI-5 Kode Campuran BI-0 BI-1 BI-2 BI-3 BI-4 BI-5 Kuat Tarik Mpa 0.807 0.865 0.932 1.048 1.088 0.850 Peningkatan % 7.18 % 15.49 % 29.80 % 34.81 % 5.31 %

: Campuran semen-pasir dengan ijuk 0 % : Campuran semen-pasir dengan ijuk 1 % : Campuran semen-pasir dengan ijuk 2 % : Campuran semen-pasir dengan ijuk 3 % : Campuran semen-pasir dengan ijuk 4 % : Campuran semen-pasir dengan ijuk 5 %

Hasil pengujian menunjukkan campuran BI-0 mempunyai kuat tarik sebesar 0,807 MPa. Campuran BI-1 mempunyai kuat tarik sebesar 0,865 MPa. Peningkatan kuat tarik untuk campuran semen-pasir dengan penambahan ijuk 1 % (BI-1) adalah sebesar 7,18 %. Campuran BI-2 dengan penambahan ijuk 2 % mempunyai kuat tarik sebesar 0,932 MPa dan peningkatan kuat tarik sebesar 15,49 %. Campuran BI-3 dengan penambahan ijuk 3 % mempunyai kuat tarik sebesar 1,048 MPa dengan peningkatan kuat tarik sebesar 29,80 %. Campuran BI-4 dengan penambahan ijuk 4 %, mempunyai kuat tarik sebesar 1,088 MPa dan peningkatan kuat 162

Volume 8 No. 2, Pebruari 2008 : 159 - 169

tarik sebesar 34,81 %. Campuran BI-5 dengan penambahan ijuk 5 % mempunyai kuat tarik sebesar 0,850 MPa dan peningkatan kuat tarik sebesar 5,31 %. Dari hasil pengujian dapat disimpulkan bahwa penambahan serat ijuk dalam campuran semen-pasir mampu meningkatkan kuat tarik. Peningkatan kuat tarik tertinggi dicapai oleh campuran semen-pasir dengan ijuk 4 % (BI-4) yaitu sebesar 34,81 %. Untuk penambahan serat ijuk 1 sampai 4 % peningkatan kuat tarik yang terjadi seiring dengan bertambahnya kandungan ijuk dalam campuran. Hal ini sesuai dengan hasil yang diperoleh Randing (1995). Perbedaan jumlah persentase semen terjadi karena perbedaan proporsi bahan susun yang digunakan peneliti. Secara teoritis, meningkatnya jumlah serat akan meningkatkan kuat tarik (Sorousian & Bayasi, 1987). Peningkatan kuat tarik pada campuran BI-5 tidak mencerminkan hal tersebut. Kejadian ini salah satu kemungkinan penyebabnya ada pada faktor pembuatan benda uji, yaitu tidak meratanya serat ijuk yang dicampurkan (balling effect). Secara visual dapat dilihat dari bongkahan silinder sisa pengujian yang dipecah (gambar 2 dan 3). Karena prosesnya bersamaan kejadian ini juga dialami pada pebuatan benda uji untuk keperluan pengujian kuat desak.
KUAT TARIK S EMEN-P ASIR-IJUK
1.200 Kuat Tarik (MPa) 1.100 1.000 0.900 0.800 0.700 0.600 0 1 2 3 Jumlah Ijuk (%) 4 5 6

Gambar 1. Grafik hubungan kuat tarik campuran semen-pasir-ijuk dengan persentase penambahan ijuk

Gambar 2. Sisa Hasil Uji Tarik Untuk Campuran Tanpa Ijuk


Pengaruh Penambahan Serat Ijuk Pada Kuat Tarik Campuran Semen-Pasir dan Kemungkinan Aplikasinya (Wiryawan Sarjono P, Agt. Wajono)

163

Gambar 3. Sisa Hasil Uji Tarik Untuk Campuran Dengan Ijuk 4.2. Kuat Desak Hasil pengujian Kuat desak benda uji bentuk silinder dapat dilihat pada tabel 2 Pengujian dilakukan pada waktu benda uji silinder berumur 28 hari. Untuk setiap jenis campuran dilakukan pengujian terhadap 5 buah benda uji silinder. Campuran semen-pasir, BI0 mempunyai kuat desak sebesar 7,440 MPa, sedang campuran dengan penambahan ijuk sebesar 1 %, BI-1 mempunyai kuat desak sebesar 8,073 MPa atau mengalami peningkatan kuat desak sebesar 8,51 %. Campuran semen-pasir dengan ijuk 2 %, BI-2 mempunyai kuat desak sebesar 8,094 MPa atau meningkat sebesar 8,79 %. Campuran semen-pasir dengan ijuk 3 %, BI-3 mempunyai kuat desak sebesar 8,104 MPa dan mengalami peningkatan kuat desak sebesar 8,93 %. Campuran semen-pasir dengan ijuk 4 %, BI-4 mempunyai kuat desak sebesar 8,174 MPa dengan peningkatan kuat desak sebesar 9,86 %. Campuran semen-pasir dengan ijuk 5 %, BI-5 mempunyai kuat desak sebesar 7,584 MPa sebesar 1,93 %. Peningkatan kuat desak tertinggi dicapai oleh campuran semen-pasir dengan ijuk 4 % (BI-4) yaitu sebesar 9,86 %. Tabel 2. Kuat Desak Campuran Semen-Pasir-Ijuk No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Keterangan : BI-0 BI-1 BI-2 BI-3 BI-4 BI-5 164 Kode Campuran BI-0 BI-1 BI-2 BI-3 BI-4 BI-5 Kuat Desak Mpa 7.440 8.073 8.094 8.104 8.174 7.584 Peningkatan % 8.51 % 8.79 % 8.93 % 9.86 % 1.93 %

: Campuran semen-pasir dengan ijuk 0 % : Campuran semen-pasir dengan ijuk 1 % : Campuran semen-pasir dengan ijuk 2 % : Campuran semen-pasir dengan ijuk 3 % : Campuran semen-pasir dengan ijuk 4 % : Campuran semen-pasir dengan ijuk 5 %
Volume 8 No. 2, Pebruari 2008 : 159 - 169

KUAT DES AK SEME N-PASIR-IJUK


10.000 Kuat Desak (MPa) 9.000 8.000 7.000 6.000 5.000 0 1 2 3 Jumlah Ijuk (%) 4 5 6

Gambar 4. Grafik hubungan kuat desak campuran semen-pasir-ijuk dengan persentase penambahan ijuk Dari hasil pengujian yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa penambahan serat ijuk dalam campuran mampu meningkatkan kuat desak. Untuk penambahan serat ijuk 1 - 4 % peningkatan kuat desak yang terjadi seiring dengan bertambahnya kandungan ijuk dalam campuran. Persentase peningkatan kuat desak tidak sebesar pada peningkatan kuat tarik. Peningkatan kuat desak sebesar 9,86 % sesuai dengan temuan Soroushian dan Bayasi (1987) yaitu antara 0 sampai dengan 15 %. Meski demikian, peningkatan kuat desak pada campuran BI-5 sebesar 1,93 %, tidak sesuai dengan yang dilaporkan Soroushian dan Bayasi (1987) bahwa penambahan serat akan meningkatkan kuat desak campuran. Salah satu penyebab kejadian ini, yang dapat dijelaskan adalah faktor pelaksanaan benda uji, yaitu tidak meratanya serat ijuk yang dicampurkan (balling effect). Secara visual dapat dilihat dari bongkahan silinder sisa pengujian yang dipecah, dimana terdapat beberapa bagian campuran dengan gumpalan ijuk di dalamnya. 4.3.Ketahanan Kejut Ketahanan terhadap beban kejut benda uji campuran semen-pasir-ijuk dengan berbagai variasi jumlah ijuk, memberikan hasil seperti tabel 3. Ketahanan kejut dapat dinyatakan sebagai rasio antara beban pada saat benda uji patah dengan beban pada saat retak pertama. Gambar 5 memperlihatkan diagram hubungan antara jenis campuran dengan nilai impact resistance-nya, yang dinyatakan sebagai jumlah pukulan (blows) yang diperlukan untuk membuat benda uji mengalami retak yang pertama kali (first crack) dan untuk membuat benda uji tersebut pecah (failure). Dari gambar 5 juga dapat ditunjukkan bahwa campuran tanpa penambahan ijuk langsung retak saat diberikan pukulan yang pertama kali. Hasil ini mengindikasikan bahwa campuran semen-pasir (tanpa ijuk) bersifat getas (brittle). Campuran BI-1 dengan penambahan ijuk sebanyak 1 % juga mengalami retak pertama pada pukulan pertama. Ini menunjukkan bahwa keruntuhan yang terjadi juga bersifat getas (brittle). Penambahan ijuk yang terlalu sedikit tidak berpengaruh pada sifat keruntuhannya. Disisi lain dengan penambahan serat ijuk sebanyak 2 5 % pada campuran semen-pasir diperoleh peningkatan impact resistance yang cukup besar. Untuk campuran BI-2 dengan penambahan ijuk sebesar 2 % diperlukan 4 pukulan untuk mencapai retak pertama (first crack) dan 5 pukulan untuk mencapai kondisi pecah (failure). Fakta ini menunjukkan bahwa untuk mencapai kondisi pecah dari kondisi retak pertama diperlukan 1 pukulan.
Pengaruh Penambahan Serat Ijuk Pada Kuat Tarik Campuran Semen-Pasir dan Kemungkinan Aplikasinya (Wiryawan Sarjono P, Agt. Wajono)

165

Tabel 3. Ketahanan Kejut No. 1. 2. 3. 4. 5. Kode Campuran BI-0 BI-1 BI-2 BI-3 BI-4 Rerata Jumlah Pukulan Retak * * 4 6 13 Pecah 5 11 19 Ketahanan Kejut (Impact Resistance) 4/5 6/11 13/19 11/17

BI-5 11 17 6. Keterangan : * : retak pada pemberian pukulan pertama BI-0 : Campuran semen-pasir dengan ijuk 0 % BI-1 : Campuran semen-pasir dengan ijuk 1 % BI-2 : Campuran semen-pasir dengan ijuk 2 % BI-3 : Campuran semen-pasir dengan ijuk 3 % BI-4 : Campuran semen-pasir dengan ijuk 4 % BI-5 : Campuran semen-pasir dengan ijuk 5 %
HASIL PENGUJIAN KETAHANAN KEJUT
20 Jumlah Pukulan 19 15 10 5 0 0 1 2 3 4
pecah retak

17 11

11 5 4 6

13

Jumlah Penambahan Ijuk (%)

Gambar 5. Grafik hubungan jumlah pukulan yang mengakibatkan kerusakan dengan persentase penambahan ijuk Campuran BI-3 memiliki kandungan serat ijuk sebesar 3 % dari berat semen, mengalami retak pertama setelah mendapat 6 pukulan dan pecah pada pukulan ke 11. Jumlah tambahan pukulan yang diperlukan untuk kondisi retak pertama (first crack) sampai kondisi pecah adalah 5 pukulan. Ini berarti keruntuhan yang terjadi juga bersifat daktail. Campuran BI-4, dengan penambahan serat ijuk sebanyak 4 % memerlukan 13 pukulan untuk mencapai kondisi retak pertama (first crack), dan sebanyak 19 pukulan untuk kondisi pecah (failure). Ini berarti dibutuhkan 6 pukulan lagi dari kondisi retak pertama sampai mencapai pecah. Sesuai data ini keruntuhan yang terjadi dari campuran BI-4 bersifat liat 166

Volume 8 No. 2, Pebruari 2008 : 159 - 169

(daktail). Bahkan pukulan yang diperlukan untuk kondisi pecah merupakan yang terbanyak dibanding jenis campuran yang lain. Campuran BI-5, dengan penambahan serat ijuk sebanyak 5 % memerlukan 11 pukulan untuk mencapai kondisi retak pertama (first crack), sebanyak 17 pukulan untuk kondisi pecah (failure). Sama seperti campuran BI-4, dibutuhkan 6 pukulan lagi dari kondisi retak pertama sampai mencapai pecah. Dari data ini, dapat disimpulkan keruntuhan yang terjadi dari campuran BI-4 bersifat liat (daktail). Dari temuan diatas membuktikan bahwa penambahan serat ijuk dalam campuran semen-pasir mampu memperbaiki sifat campuran yang sebelumnya getas (brittle) menjadi liat (ductile). Hasil ini sesuai dengan temuan yang diperoleh oleh Yuwono, S. (1994) bahwa penambahan serat ijuk pada pembuatan genting dan panel limbah, dalam pengujiannya tidak mengalami patah kejut. Hasil yang senada juga dilaporkan oleh Suhendro (1991) dalam penelitiannya yang menggunakan serat lokal (kawat bendrat) dalam campuran beton. Campuran semen-pasir yang digunakan dalam pembuatan paving block (seperti pada kasus BI-0), berdasar temuan diatas tentu akan bersifat getas dan tidak tahan terhadap beban kejut sehingga memunculkan retak-retak dini maupun akibat beban luar. Hal ini nantinya akan dapat diperbaiki dengan menambahkan serat ijuk dalam campuran semen-pasir. 4.4. Aplikasi Penggunaan Serat Ijuk Seperti telah diuraikan sebelumnya penambahan serat ijuk pada campuran semen-pasir mempu meningkatkan kuat tarik, kuat desak dan mempunyai ketahanan terhadap kejut (meningkatkan daktilitas). Disisi lain pembuatan paving block untuk perkerasan jalan dituntut mempunyai kekuatan terhadap tegangan tarik, desak dan ketahanan terhadap kejut. Dengan kenyataan tersebut sangat beralasan apabila hasil penelitian ini dapat diaplikasikan dalam pembuatan paving block, terutama untuk keperluan perkerasan jalan. Bila campuran semen-pasir-ijuk akan dijadikan sebagai bahan susun pembuatan paving block, dan mengingat penanganan adukan serat ini agak lain dari pembuatan adukan biasa maka perlu diperhatikan beberapa hal berikut : a. Ketersediaan ijuk Ijuk merupakan produk pertanian sehingga ketersediaannya di alam selalu dapat diperbaharui, yang berarti proses penyediaannya tidak merusak lingkungan. Disamping itu ijuk hanya merupakan produk sampingan dari pohon enau sehingga memiliki nilai ekonomis. Kendala yang dihadapi apabila ijuk akan dijadikan serat adalah proses pabrikasinya yang masih dikerjakan secara manual dan memakan waktu. b. Teknik pencampuran Dari penelitian terdahulu dapat dikatakan bahwa makin banyak jumlah serat yang ditambahkan dalam adukan beton, akan menurunkan kelecakan (workability) dari adukan tersebut. Dilain pihak penambahan serat dalam adukan beton akan mampu memperbaiki beberapa sifat mekanik beton. Hal ini tentunya juga berlaku bagi penambahan ijuk ke dalam campuran semen-pasir. Penelitian ini juga telah menunjukkan bahwa penambahan ijuk sampai 4 % (dari berat semen) mampu memperbaiki performance campuran semen-pasir. Peningkatan performance campuran lebih lanjut, dapat dilakukan dengan menambah jumlah semen namun akan berdampak pada biaya produksi.
Pengaruh Penambahan Serat Ijuk Pada Kuat Tarik Campuran Semen-Pasir dan Kemungkinan Aplikasinya (Wiryawan Sarjono P, Agt. Wajono)

167

5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Setelah mengevaluasi hasil penelitian serta pembahasan dalam bab sebelumnya, maka dengan menambahkan serat ijuk dengan panjang 2,5 cm sejumlah 1 - 5 % (dari berat semen) ke dalam campuran dengan perbandingan (volume) bahan susunnya adalah 1 : 11 dan nilai faktor air semen 0,64 diperoleh beberapa kesimpulan berikut ini. a. Penambahan serat ijuk pada campuran semen-pasir mampu meningkatkan kuat tarik campuran. Peningkatan kuat tarik tertinggi dicapai dengan penambahan ijuk sebanyak 4 % dari berat semen (BI-4), yaitu sebesar 34,81 %. b. Penambahan serat ijuk pada campuran semen-pasir mampu meningkatkan kuat desak campuran. Peningkatan kuat desak tertinggi dicapai oleh penambahan ijuk sebanyak 4 % dari berat semen (BI-4), yaitu sebesar 9,86 %. c. Penambahan serat ijuk sebanyak 2 sampai 5 % pada campuran semen-pasir mampu meningkatkan daktilitas. Keruntuhan akibat beban kejut tertinggi dicapai oleh campuran dengan jumlah ijuk 4 %, dimana untuk retak pertama diperlukan 13 pukulan, dan untuk pecah diperlukan 16 pukulan. d. Ditinjau dari hasil pengujian kuat tarik, kuat desak serta ketahanan terhadap beban kejut, campuran dengan penambahan ijuk 4 % merupakan campuran dengan performa terbaik. 5.2. Saran Hasil-hasil pengujian di laboratorium yang telah dikaji sebelumnya masih harus dibuktikan di dalam praktek. Untuk itu perlu mengaplikasikan hasil penelitian ini terutama untuk pembuatan paving block. Studi perbandingan dapat dilakukan terhadap penggunaan paving block yang bahan susunnya menggunakan ijuk dan yang tanpa ijuk. Selanjutnya evaluasi dapat dilakukan secara periodik untuk memperoleh gambaran yang sesungguhnya. Perlu dikembangkan teknik pencampuran dan pabrikasi serat ijuk agar hasil yang sudah diperoleh dapat ditingkatkan. Teknik pencampuran yang baik akan mampu membuat penyebaran serat ijuk merata secara acak, sedang pabrikasi akan sangat membantu penyediaan serat ijuk secara lebih efisien.

DAFTAR PUSTAKA Randing, 1995, Penelitian Pengaruh Penambahan Serat Ijuk Pada Pembuatan Genteng Beton, Jurnal Penelitian Permukiman Vol 11-1/1995, Puslitbangkim, Bandung. Schrader, E.K., 1987, State of The Art Fiber Renforced Concrete Pavements and Slabs, Proceding of The International Seminar on Fiber Reinforced Concrete, Michigan State University, Michigan. Suhendro, B., 1991, Ketahanan Kejut (Impact Resistance) Beton Fiber Lokal dan Kemungkinan Aplikasinya Pada Struktur-struktur Sabo Untuk Penanggulangan Bahaya Gunung Merapi, Pusat Antar Universitas Ilmu Teknik UGM, Ditjen DIKTI, Yogyakarta. Soroushian and Bayasi, Z., 1987, Concept of Fiber Reinforced Concrete, Proceding of The International Seminar on Fiber Reinforced Concrete, Michigan State University, Michigan.

168

Volume 8 No. 2, Pebruari 2008 : 159 - 169

Soroushian and Bayasi, Z., 1987, Fiber Reinforced Concrete : Theoretical, Concept and Structural Design, Proceding of The International Seminar on Fiber Reinforced Concrete, Michigan State University, Michigan. Yuwono, S., 1994, Penelitian Pengaruh Penambahan Serat Ijuk Dan Serabut Kelapa Pada Bahan Bangunan Genteng Dan Panel Limbah PDAM, Jurnal Penelitian Permukiman Vol 10-6/1994, Puslitbangkim, Bandung.

Pengaruh Penambahan Serat Ijuk Pada Kuat Tarik Campuran Semen-Pasir dan Kemungkinan Aplikasinya (Wiryawan Sarjono P, Agt. Wajono)

169