Anda di halaman 1dari 7

PERGESERAN PARADIGMA EPISTEMOLOGI DALAM POLEMIK PEMIKIRAN KONTEMPORER

Oleh: Fuad Ramly,S.Ag,M.Hum (Dosen Fak. Usuluddin IAIN Ar-Raniry Banda Aceh & Kandidat Doktor Ilmu Filsafat UGM Yogyakarta) ABSTRAK Salah satu persoalan aktual dalam spektrum pemikiran kontemporer adalah munculnya polemik dalam memahami wacana epistemologi yang memicu lahirnya pergeseran paradigma epistemologi. Polemik tersebut dapat ditelusuri secara dialektik melalui triade paradigma. Paradigma cartesian. Paradigma rortian, dan paradigma gadamerian, yang terlibat dengan berbagai persoalan tentang pengetahuan manusia. Polemik tersebut berakar dari epistemologi modern yang tercermin dari paradigma cartesian. Paradigma cartesian memunculkan klaim keterukuran pengetahuan secara universal, yang berakses pada penolakan terhadap modernismo dan epistemologi modern dengan lahirnya postmodernismo. Penolakan postmodernismo terhadap epistemologi modern melahirkan pertentangan antara epistemologi dan hermeneutika. Epistemologi dipandang sebagai antitesis dari hermeneutika, sebagaimana tercermin dari paradigma rortian. Akan tetapi model pemahaman versi paradigma rortian tidaklah berlaku bagi pemahaman epistemologi secara keseluruhan kecuali terhadap epistemologi modern karena hermeneutika itu sendiri juga merupakan bagian dari epistemologi, pemahaman ini tercermin dari paradigma gadamerian yang mengembangkan epistemologi hermeneutika bertumpu pada penafsiran pengatauanm, sebagai sintesi pemahaman sekaligus sebagai paradigma baru epistemologi kontemporer. Pengantar Postmodernisme dapat diartikan sebagai kecendrungan filosofis yang turut serta mempengaruhi corak pemikiran kontemporer. Sebagai intellectual movement yang berakar dari filsafat, postmodernisme berupaya mendobrak kemapanan sistem pemikiran modernisme dalam berbagai aspeknya, tidak terkecuali dalam aspek pemikiran kefilsafatan. Kendati Postmodernisme berakar dari filsafat, kelahiran dan perkembangannya ternyata justru menimbulkan berbagai anomali di lingkungan filsafat itu sendiri lantaran kapasitas karakteristiknya yang dekonstruktif dan deskruktif. Jika Eksistensialisme, misalnya, dapat mereduksi otoritas Ontologi ke dalam Eksistensialisme, misalnya, dapat mereduksi otoritas ontologi ke dalam Epistemologi, Postmodernisme bahakan dapat memunculkan dekonstruksi dan destruksi terhadap reputasi dan prestasi Logika, Aksiologi, Ontologi, dan juga Epistemologi yang telah berhasil mengantarkan kemajuan intelektualitas manusia pada jaman Modernisme juga melahirkan sejumlah skeptisisme terhadap Modernisme, sekaligus menyiratkan ketidak berdayaan filsafat jaman Modern dalam memahami berbagai bentuk ralitas yang dihadapkan kepada manusia. Fenomena tersebut memunculkan polemik dalam wacana pemikiran kontemporer yang, di antaranya, berimplikasi pada perbedaan pemahaman tentang epistemologi. Persoalan ini juga dipicu oleh berkembangnya kecendrungan hermeneutika kontemporer yang telah membawa persoalan-persoalan baru dalam wacana epistemologi. Inilah fokus persoalan yang akan ditelaah di dalam artikel ini, dan penelaahan ini didasarkan pada pendekatan dialektik1

paradigma yang berbasis trade paradigma: Paradigma Cartesian, Paradigma Rortian, dan Paradigma Gadamerian. Epistemologi Modern : Paradigma Cartesian Secara histori embrio polemik seputar wacana epistemologi pada dasarnya sudah tercermin dari kontroversi pemikiran antara Herakleitos yang menekankan perubahan sebagai esensi realitas dan Parmenides yang menekankan ketetapan (Yang-Ada) sebagai esensi realitas. Pertentangan pemahaman Ontologis berimplikasi pada persoalan Epistemologis. Bagi Herakleitos setiap perubahan hanya dapat diketahui melalui pengenalan inderawi, sedangkan menurut Parmenides segala Yang-Ada hanya dapat dipahami dengan mengandalkan otoritas akal. Persoalan tersebut selanjutnya, secara definitif, melahirkan akses polemik yang lebih sengit dalam lapangan kajian Epistemologi dengna munculnya perseteruan antara Plato yang berhaluan Idealisme-rasional dan Aristoteles yang berhaluan Ralisme-Empiris. Perseteruan ini senantiasa mewarnai dan mempengaruhi perkembangan wacana Epistemologi hingga lahirnya jaman modern yang berlangsung sampai sekarang. Di dalam spektrum pemikiran jaman Modern. Epistemologi merupakan komponen utama dari sistem pemikiran Modernisme pada umumnya karena Epistemologi merupakan titik sentral filsafat Modern. Kendati Epistemologi Modern, di satu sisi, masih tetap mewarisi dan menindaklanjuti tema-tema wacana Epistemologi Klasik versi Platonik dan Aristotelian, Epistemologi Modern juga memiliki karakter khasnya sendiri yang berbeda dengan Epistemologi Klasik dan Epistemologi Skolastik versi jaman pertengahan. Karakter khas Epistemologi Modern, terutama, adalaah fondasionalisme dan representasionalisme. Epistemologi modern berupaya meletakkan kerangka dasar (Fondasi) bagi segala bentuk pengetahuan, dimana peran subjek dalam hal ini merepresentasikan kenyataan, dimana peran subjek dalam hal ini merepresentasikan kenyataan objektif. Epistemologi modern hanya bertugas merumuskan klaim-klaim pengetahuan (kepastian, keterukuran, totalitas, finakitas, definit, dst) sebagi representasi subjektif yang dipandagn memiliki validitas (keabsahan) objektif. Jika ditelusuri dan dipahami berdasarkan pendekatan paradigmatik, karakter Fondasionlisme dan representasionalisme tersebut sesungguhnya berakar dari pemikiran Rene Descartes (Paradigma Cartesian). Descartes telah meletakkan fonsasi bagi setiap bentuk pengetahuan, cogito ergo sum, yang dipandang sebagai satu-satunya dasar (single base) yang pasti dan tidak tergoyahkan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan (Episteme/Wissenschaft) tentang esensis (ta onta) ralitas secara akurat dengan berpankal dari subjek itu sendiri. Upaya ini bertujuan untuk mendapatkan suatu representasi yang benar atau perseturupaan tentang ralitas secara objektif. Di suatu sisi, konsekuensi dari karakter fondasionalisme dan representasionalisme tersebut melahirkan dualisme titik-tolak dalam kajian Epistemologi modern. Epistemologi Modern berstandar pada gagasan tentang objektivitas murni sebagaimana Empirisme dan Positivismo, dan berpangkal pada subjektivitas murni sebagaimana idealisme. Yagn memandang kedudukan subjek dan objek saling terpisah satu sama lain. Di sisi lain, implikasi karakter fondasionalisme dan representasionalisme tersebut ternyata bukan sekedar melandasi kemajuan Modernismo pada umumnya, tetapi juga mempengaruhi perkembangan corak epistemologi abad ke 20 (epistemologi kontemporer). Dasar bagi
2

paham-paham yang berkembang Sejak Descartes hingga Positivismo dan Filsafat Analitika bahasa abad ke 20. Kendati demikian, konsekuensi dari karakter Epistemologi modern yang diilhami Paradigma Cartesian juga memunculkan persoalan baru dalam wacana epistemologi kontemporer dengan lahirnya counter paradigma yang tercermin dari Paradigma Rortian. Epistemologi Versus Hermeneutika : Paradigma Rortian Dampak dari kemajuan Jaman Modern dan Modernismo dalam berbagai aspeknya berbias pada munculnya kontroversi pemikiran secara revolusioner yang dipicu oleh lahirnya Postmodernismo. Kontoversi ini terutama menyangkut penolakan Postmodernisme. Kontroversi ini terutama menyangkut penolakan Postmodernismo terhadap Epistemologi Modern yang berkarakter Fondasionalisme dan Representasionalisme. Penolakan ini berkisar pada persoalan subjektivitas dan dunia objektif, dunia yang seolah sepenuhnya mandiri dan hanya menanti subjek yang akan membuat representasi mental tentangnya. Postmodernismo tidak sekedar memproklamirkan penolakan terhadap Epistemologi Modern yang diwarisi dari Descartes, John Locke, dan Immanuel Kant yang diabaikan hingga abad ke 20. tetapi sekaligus mengklaimnya sebagai suatu kesalahan yang Sangay mendasar. Penolakan Postmodernismo tersebut berakses pada pertentangan antara Epistemologi dan Hermeneutika sebagaimana yang tercermin dari wacana pemikiran Richard Rorty (Paradigma Rortian). Rorty, filsuf Kontemporer Amerika, di dalam karyanya yang berjudul Philosophy And The Mirror Of Nature, menggambarkan kecendrungan Hermeneutika yang berkembang di dalam filsafat kontemporer sebagai antitesis dari Epistemologi. Akar persoalan tersebut juga dapat ditelusuri melalui konsekuensi karakter Epistemologi Modern (fondasionalisme dan representasionalisme) yang diilhami Paradigma Cartesiana yang pada gilirannya melahirkan Determinismo Epistemologis. Seluruh bentuk pengetahuan dipandang sebagai produk (bukan proses) yang berstruktur secara definitif, total, dan final, yang dihasilkan berdasarkan fondasi epistemik tertentu dalam rangka representasi realitas objektif. Pandangan semacam ini pada gilirannya melahirkan klaim keterukuran pengetahuan secara universal (universal commensurability) yang berimplikasi pada klaim kebenaran universal dalam epistemologi. Rorty secara tegas menyatakan bahwa jika epistemologi dipandang hanya bertugas menciptakan klaim-klaim keterukuran pengetahuan, maka Epistemologi bertentangan dengan Hermeneutika. Hermeneutika bukanlah disiplin sebagaimana episteme Modern yang bertugas merumuskan representasi tepat kenyataan objektif. Hermeneutika juga bukan disiplin teoritis yang kerjanya menentukan syarat-syarat epistemik yang harus dipenuhi oleh tiap-tiap disiplin ilmu untuk menciptakan klaim-klaim tentang kebenaran yang sah. Hermeutika merupakan penelaahan reflektif yang menyadari keterbatasan setiap klaim tentang pengetahuan dan pemahaman, baik terhadap relativitas historis maupun cultural dari segala bentuk wacana manusia. Karenanya hermeneutika adalah sekaligus penolakan atas ide tentang keterukuran pengetahuan. Persoalan tersebut berimplikasi pada dualisme pemahaman dalam wacana epistemologi kontemporer. Di satu sisi, pertentangan antara Epistemologi dan hermeneutika versi paradigma rortian memang beralasan, lantaran Epistemologi merupakan inti utama Modernisme pada umumnya dan otoritas serta dominasi modernisme masih tetap dipandang
3

sebagai represntasi dari world view kontemporer pada umunya, maka epistemologi Modern juga dpandagn sebagai representasi dari epistemologi kontemporer. Di sisi lain, dengan hanya mengandalkan paradigma rortian daam memahami wacana epistemologi daam ruang lingkup yang lebih luas, tidaklah representatif. Alasan ini diperkuat oleh asumsi dasar bahwa berbivcara tentang wacana manapun juga pada prinsipnya melibatkan pembicaraan tentang epistmologinya sepanjang berkenaan dengan aspek pengetahuan manusia. Justru itu diperlukan paradigma alternatif untuk memahami persoalan epistemologi pada umumnya, terutama terhadap korelasinya dengnahermeneutika dalam rangka mengkaji aspek epistemologis hermeutika itu sendiri. Persoalan ini dapat dipahami melalui wacana yang tercermin dari paradigma gadamerian. Epistemologi Hermeneutika : Paradigma Gadamerian Penolakan Postmodernismo terhadap Epistemologi pada dasarnya tidaklah dimaksudkan secara keseluruhan. Postmodernismo masih menyisakan suatu segi epistemologi lain, yaitu penafsiran atau pemahaman tentang pengetahuan versi Hermeneutika Heideggrian ( yang berpangkal dari pemikiran Martin Heidegger ). Hermeneutika Heideggerian berperan dalam penafsiran esensi Sang-Ada (being) sebagai proses aktualisasi eksistensi manusia, yang memunculkan persoalan-peroalanbaru tentang ada, kebenaran, filsafat pada umumnya, dan epistemologi pada khususnya. Persoalan epistemologi versi Hermeneutika Heideggerian selanjutnya dikembangkan oleh muridnya sendiri Hansgeorg Gadamer (paradigma gadamerian) yang sama sekali berbeda dengna paradigma Cartesian dan Paradigma Rortian. Gadamer, filsuf kontemporer Jerman, mengembangkan dan mengiterpretasikan kembali Hermeneutika Dasein Heidegger menjadi Hermeneutika Linguistik yang berpangkal dari aspek ontologis bahasa. Keseluruhan filsafat Gadamer merupakan hermeneutika yang bersifat serba kebahasaan. Hermeneutika merupakan peristiwa pembahasan realitas tentang Ada sekaligus sebagai peritiwa eksistensial manusia. Bahasa mengandung seluruh pengertian tentang pemahaman, pemikiran, pengalaman, dan pengetahuan manusia. Tetapi bahasa bukanlah data final yang mengandung seluruh pengertian tentang ralitas karena bahasa memiliki relevansi ontologis dan karakter spekulatif. Pemahaman tentang pengetahuan di dalam Hermeneutika Gadamer mesti diletakkan di dalam kerangka ontologis dan spekulatif bahasa. Karena peristiwa pembahasan esensi realitas tidak pernah terselesaikan secara sempurna, maka pemahaman tentang esensi pengetahuan juga tidak dapat terungkap secara definitif, total, dan final. Justru itu hermeneutika gadamer bukanlah bentuk epistemologi particular yang mengandalakn determinasi objek-objek secara ideal atau kemampuan menentukan (decidability) pengetahuan terdalam tentang objek-objek secara universal. Hermenutika Gadamer bertujuan menyikap pengetahuan universal sebagai esensi pengetahuan terdalam. Pengetahuan ini mesti ditempatkan ke dalam wacana ontologi pemahaman Hermeneutika. Hermeneutika bukanlah suatu prosedur atau metode pemahaman, yang melaluinya pengetahuan universal dapat ditangkap secara definitif. Hermeneutika merupakan prastruktur pemahaman, yang berusaha menjernihkan kondisi-kondisi terjadinya setiap bentuk pemahaman, dan melaluinya proses penyingkapan terjadinya universal berlansung.
4

Setiap bentuk pengetahuan yan telah terungkap. Menurut Gadamer, selalu merupakan prasangka (prasuposisi) yang sangat peting dan bermakna bagi pengetahuan yang belum tersingkap, karena setiap prasangka merupakan jembatan yang senantiasa harus dilalui di dalam proses penyingkapan pengetahuan. Proses penyingkapan ini mesti berlangsung secara dalektik (berketerusan) di dalam lingkaran hermeneutika (lingkaran ontologis pemahaman), sebagai mediator utama bagi wahana keterlibatan pengalaman eksistensial manusia di dalam dialog interpretatif universal. Hanya melalui dialog interpretatif universal, pegetahuan universal akan tercapai sebagai indikasi pemahaman epistemologi universal. Justru itu Gadamer tidak menolak sepenuhnya otoritas setiap bentuk epistemologi parikular seperti Epistmologi Modern, Epistemologi Klasik, dan sebagainya. Bentuk-bentuk Epistemologi tersebut merupakan prasangka yang mesti dilibatkan di dalam dialog interpretatif universal, sebagai jembatan menuj pemahaman epistemologi universal (Epistemologi Hermeneutika). Hermeneutika Gadamer pada prinsipnya bertujuan menghalau segala bentuk imanensi pengetahuan manusia seperti muculna klaim-klaim keterukuran pengetahuan secara total, final, dan definitif. Upaya tersebut adalah dalam rangka trasendensi setiap bentuk pengetahuan manusia, menyikap pengetahuan universal sebagai pengetahuan esencial, sebagai bentuk apresiasi terhadap keagungan, kebenaran, dan ketidak terbatasan ralitas ontologis Sang-Ada. Gadamer bukanlah relativis atau nihilis kontemporer, karena Gadamer yang dalam hal ini mirip Kart Popper percaya pada adanya kebenaran universal yang bersifat absolut meskipun kebenaran tersebut mesti ditempatkan diluar cakrawala Determinismo Epistemologis. Sebagai upaya pendekatan pemahaman, pandangan Gadamer juga dapat dipahami melalui pengadaian Epistemologis yang diajarkan Scrates bahwa esensi pengetahuan meti dipahami dalam kerangka Docta Ignorantia (ketidaktauan yang arif). Manusia yang mengetahui suatu pada dasarnya adalah manusia yang tidak mengetahui. Setiap bentuk pengetahuan selalu diandaikan sebagai ketidaktahuan.Proses ini terjadi di dalam dialog yang berkesinambungan manakala manusia mencari pengetahuan-pengetahuan, sebagai upaya trasendensi pengetahuan manusia yang berkembang secara dialektif dalam rangka menyingkap esensi pengetahuan, menuju unibersalitasnya. Dengan demikian, Paradigma Gadamerian merupakan paradigma baru epistemologi kontemporer. Yang mengembangkan epistemologi hermeneutika yang beroriaentasi pada penafsiran pengetahuan, sekaligus sebagai sntesis dari setiap bentuk epistemologi secara keseluruhan. Kesimpulan

Pergeserana paradigma epistemologi dalam polemik pemikiran kontemporer dapat dipahami secara dialektik melalui wacana yang berakar dari Paradigma Cartesian (tesis) yang memicu lahirnya Paradigma Rortian (antitesis) hingga kemudian memunculkan Paradigma Gadamerian (sntesis). Paradigma Cartesian memunculkan klaim keterukuran pengetahuan secara universal dalam Epistemologi Modern. Paradigma Rortian memperkenalkan Epistemologi (yang bergelut dengan keterukuran pengetahuan universal) dengan Hermeneutika (yang terlibat dengan dunia penafsiran). Sebagai antitesisnya. Paradigma
5

Gadamerian lebih mengutamakan penafsiran pengetahuan sebagai bentuk pemahaman Epistemologi Hermeneutika yang merupakan sntesis keseluruhan. Sebagai konsekuensinya, Paradigma Cartesian berbias pada Determinismo Epistemologis, Paradigma Rortian terjebak ke dalam Skeptitisme Epistemologis untuk tidak mengatakan nililisme, dan Paradigma Gadamerian berakses pada universalismo epitemologis. Catatan Akhir Selengkapnya lihat Fuad Ramly, Pstmoderisme: Kecenderungan Filosofis yang Ambisiius, Dalam Substantia, Vol. 3 No. 1. Edisi April, 2001. Eksistensialisme telah menciptakan pembalikan titik-pangkal filsafat dari esensi kepada eksistensi. Pengetahuan filosofis mesti berpangkal dari eksitensi manusia bukan dari esensi realitas, maka pehaman ontologi mesti diletakkan di dala kerangka epistemologi. David Ingram, hermeneutics dan truth, dalam robert hollinger (ed.). hermeneutics and praxis. University of Notre dame press, Indiana, 1985. hal. 32. David ingram, Hermeneutics,hal. 32; 1. Bambang Sugiharto, Postmodernisme: Tantangan Bagi Filsafat, Kanisius, Yogyakarta, 1996, hal, 33. B. Madison, The Hermeneutics of Postmodernity: Figures and Themes, Indiana University Press, Indianapolis, 1988, hal. X. A. M. W. Pranarka, Epistemology Dasar: Suatu Pengantar, CSIS, Jakarta, 1987, hal. 38. K. Bertens (ed.), Fenomenologi Eksistensial, PT. Gramedia, jakarta, 1987, hal. 7; bandingkan dengan eksistensialisme yang menolak pola dikatomi subjek-objek. Eksistensialisme mengajarkan bahwa pengetahuan mesti bersumber dari pola korelasi antara subjek (manusia) dan objek (realitas) di dalam kerangka eksistensial manusia. I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme,hal. 33; G.B. Madison, the Hermeneutics...., hal. X. I. Bambang Sugiharto, postmodernisme, hal. 33, 68. Richard Rorty, Philosophy and The Mirror of Nature, Princeton University Press, Princeton, New Jersey, 1979. I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme, hal. 315-316. I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme, hal. 40. I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme, hal. 38, 69, 74. Richard E. Palmer, Hermeneutics: Interpretation Theory In Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, And Gadamer, Northwestern University Press, Evanston, 1996, hal. 42; Wasito Poespoprodjo, Interpretasi: Beberapa Catatan Pendekatan Filsafatinya, Cet. I, Remadja Rosda Karya, Bandung, 1987, hal. 83; Rodney R.Coltman, Gadamer, Hegel, And The Middle Of Language, dalam Philosophy Today, Vol. 40. No. . 1996, hal. 151.
6

Hans-Georg Gadamer. Truth and Method. Trans, bay Shed and Ward Ltd., The Seabury Press. New York, 1975, hal. 141. J.M Conolly and T. Keutner (trans. And ed), Hermenerutics Versus Science?. Iniversity of Notre Dame Press, Notre Dame, Indiana, 1988. hal. 27; Epistemology particular dalam kaitan ini dipahami sebagai bentuk-bentuk epistemology yang mengandalkan klaim keterukuran pengeahuna universal (kemampuan mengetahui secara definitive objek-objek secara keseluruhan) yang pada dasarnya mengidentifikasikan pengetahuan particular (hanya bagian tertentu dari objek-objek yang dapat diketahui yang sifatnya non-esensia) karena pengetahuan universal (esensi pengetahuan) pada prinsipnya tidak mungkin dapat ditangkap secara definitive, total, dan dinal. J. M. Conolly and T. Keutner (trans, and ed.) Hermeneutics.hal. 27. Hans-Georg Gadamer, truth,hal. 263. Bandingkan dengan metode skeptis ajaran Cartesian yang meragukan dan menolak prasangka (segala bentuk pengetahuan) pra kepastian rasional (sebelum dicapai kepastian yang hanya bersumber dari otoritas rasio manusia). Secara eksplisit selengkapnya lihat Fuad, kebenaran eksistensial dalam epistemology hermeneutika hans-georg gadamer, tesis S2 pada PPS UGM. Yogyakarta. 2000. l Lakatos and A. Musgrave. Criticism and The Growth of Knowledge. Cambridge University Press, Cambridge, 1970, hal. 56. Richard E, Palmer, Hermeneutics, hal, 198. Samuel E. Stumpf, Socrates to Sartre: A History of Philosophy, 2 Edition, Mc Graw-Hill Book Co,. New York, 1975, hal, 40.