Anda di halaman 1dari 11

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1 Hasil IV.

1 Tabel A-1 Kondisi Hasil perhitungan fouling factor Uraian Satuan Tube Shell Neraca panas BTU/ jam 4.700.193,41 82.065.489,43 LMTD 0F 187,86 Calorik temperature 0F 389,5 578,3 Flow area Ft2 1,30 1,17 Kecepatan massa BTU/ jam ft2 0F 397.214,63 652.838,50 Viskositas lb/ ft jam 0,9086 2,6208 Diameter Ft Bilangan reynold 28.487,88 14.945,59 Koefisien heat BTU/ jam ft2 0F 199,8453 241,5762 exchanger Temperatur dindig tube 0F 156,2790 Koefisien perpindahan BTU/ jam ft2 0F panas terkoreksi Coefficient clean BTU/ jam ft2 0F 94,8920 overall Coefisien design BTU/ jam ft2 0F 21,5996 32,0132 Dirt factor BTU/ jam ft2 0F 0,0187 Coefisien overal BTU/ jam ft2 0F 34,1539 Dirt factor yang BTU/ jam ft2 0F 0,1835 diijinkan Pressure drope Psi 0,037 1,2536 Pressure drope ijin Psi 0,78 1,22

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

IV.1 Tabel A-2 Perbandingan kondisi desain terhadap kondisi aktual Item Disain Actual Shell side Tube side Shell side Tube side E-7A,B,C Q Kcal/hr 11.700.000 11.700.000 12.070.848,74 20.680.503,34 Rd Kcal/m2hr OC 0,002 0.002 0,0187 0,0909 P Kg/cm2 1,22 0,78 1,2536 0,0377 Temperatur keluar 251 249 227 262

IV.2 Pembahasan

Evaluasi yang dilakukan terhadap heat exchanger E-7 ini bertujuan untuk mengetahui performance dari heat exchanger (E-7) dengan menggunakan data aktual, kemudian membandingkan hasil perhitungan dengan data desain yang ada. Alat ini digunakan untuk memanaskan crude oil dengan menggunakan residu, dimana outlet residu dari E-7 akan digunakan pada Heavy Vacuum Unit ( HVU 110).untuk memisahkan umpan LSWR dari CDU berdasarkan perbedaan titik didih. Sedangkan Crude dari E-6 yang dipanaskan di E-7 dialirkan menuju Heater (H-2) untuk dilakukan pengolahan lanjutan pada T-1. Evaluasi yang dilakukan meliputi Q (heat duty), dirt factor, heat transfer coefficient overall, dan pressure drop dengan menggunakan data aktual.

Heat exchanger E-7 termasuk kepada tipe shell and tube, dengan tipe aliran counter current, dimana crude oil dilewatkan melalui bagian shell, dan residu pada bagian tube. Pemilihan ini berdasarkan pada tekanan, temperature, viskositas, mass flow, dan faktor korosi. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa fluida yang memiliki tekanan, temperatur, mass flow, viskositas, dan faktor korosi yang tinggi dialirkan melalui tube. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah hilangnya panas ke lingkungan, memperkecil luas permukaan perpindahan panas, mencegah terjadinya korosi dan fouling, serta memperkecil biaya pemeliharaan.

Hasil perhitungan yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara kondisi aktual dengan desain :

1. Heat Duty Perbedaan yang terdapat antara heat duty desain dengan aktual ini disebabkan oleh laju alir dari feed yang lebih kecil dari pada laju alir pada desain. Hubungan antara heat duty dengan besarnya laju alir dapat dilihat pada persamaan berikut : Q = M.Cp.T Dari persamaan tersebut, terlihat bahwa M berbanding lurus dengan Q (heat duty), sehingga semakin kecil laju alir umpan maka harga Q juga akan kecil, seperti pada kondisi aktual. Temperatur kalorik pada tube lebih rendah dari temperatur kalorik pada shell sehingga pada temperatur yang lebih rendah itu maka viscositasnya lebih tinggi. Koefisien perpindahan panas pada shell lebih tinggi daripada koefisien perpindahan panas pada tube, sehingga pada shell lebih cepat proses transfer panasnya. Sedang tube lebih lambat sehingga

memungkinkan terjadinya perpindahan panas kelingkungan. Dari hasil perhitungan panas yang diterima oleh crude oil adalah 12.070.848,74 Btu/jam sedangkan panas yang diberikan residu adalah 20.680.503,34 Btu/jam, jadi ada perpindahan panas ke lingkungan sebesar 8.609.654,6 Btu/jam.

2. Dirt factor Dengan melihat dirt factor aktual yang lebih besar dari nilai desain, ini menandakan bahwa kinerja HE tidak dapat maksimal, karena disebabkan adanya fouling. Besarnya nilai fouling mengindikasikan bahwa ketebalan kotoran/deposit dalam tube bertambah. Keadaan ini menyebabkan luas bidang kontak antara fluida panas dengan fluida dingin semakin berkurang, karena tertutupi oleh deposit tersebut. Deposit/kotoran ini dapat dihilangkan melalui proses cleaning/pembersihan.

3. Heat Transfer Coefficient Overall Heat transfer coefficient overall pada hasil perhitungan untuk unit 701/702 lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai pada desain. Heat transfer coefficient overall dipengaruhi oleh adanya fouling, dimana semakin besar fouling yang terjadi pada suatu HE maka nilai tahanan panas juga akan meningkat. Dengan meningkatnya nilai tahanan panas, besarnya nilai heat transfer coefficient overall akan menjadi kecil. Coefisien clean overal sebesar 5,93 Btu/jam.ft2oF. hal ini menunjukkan bahwa hantaran perpindahan panas dalam keadaan bersih lebih tinggi bila dibandingkan hantaran perpindahan panas jika sudah ada endapan atau sudah beroperasi yaitu sebesar 5,87 Btu/jam.ft2oF.

4. Pressure Drop Perbedaan pressure drop bagian tube pada kondisi desain dengan hasil perhitungan dari kondisi aktual disebabkan oleh adanya prop, yang dapat meningkatkan hambatan yang diterima oleh laju alir yang melewati tube. Dimana, tambalan atau prop ini berfungsi untuk menutupi kebocoran yang diakibatkan oleh korosi yang tejadi pada bagian tube. Selain itu, kenaikan pressure drop pada tube juga dipengaruhi oleh jenis tube pitch yang digunakan, yaitu jenis triangular pitch, dimana jenis ini cenderung dapat menyebabkan kenaikan pressure drop yang cukup besar, dan nilai friction factor yang cukup besar. Sedangkan perbedaan pressure drop bagian shell pada kondisi desain dengan hasil perhitungan disebabkan oleh besarnya fouling yang terjadi pada bagian shell, sehingga memperkecil luas penampang aliran. Adanya kotorankotoran ini mengakibatkan faktor gesekan meningkat dan menaikkan nilai pressure drop. Terlihat bahwa hasil dirt factor hasil perhitungan lebih rendah dari dirt factor yang diizinkan, dengan demikian Heat exchanger masih dalam

keadaan baik dan layak operasi. Terlihat bahwa pressure drope hasil perhitungan jauh lebih kecil dari

pressure drope izin maka heat exchanger masih layak pakai dan waktu pembersihan masih bisa ditunda

Hubungan antara pressure drop dengan luas penampang dapat dilihat pada persamaan berikut : f x Gt2 x L x n Pt = 2 x 5,22 x1010x ID x s x t

f x Gs2x IDs (N+1) PS = 5.22 x1010x De x s x s

Besarnya nilai Gt dan Gs dipengaruhi oleh besarnya luas penampang (A), seperti pada persamaan berikut : m Gs = as

M Gt = at Semakin kecil luas penampang pada HE akan menyebabkan naiknya nilai Gt dan Gs, sehingga pressure drop juga naik.

Dengan adanya perbedaan kondisi aktual ini dengan kondisi desain, dapat mempengaruhi performance heat exchanger itu sendiri. Perbedaan temperatur

outlet pada shell dan tube aktual dengan desain dapat mempengaruhi kondisi desulfurizer, steam reformer dan HTSC yang menerima produk dari heat exchanger E-5. Desulfurizer yang menggunakan feed gas outlet sebagai umpan, memiliki katalis zinc oksida yang digunakan sebagai penghilang senyawa sulfur, dimana katalis ini bekerja optimum pada temperatur 340
o

C. Sedangkan

temperatur inlet desulfurizer yang berasal dari E-5 sebesar 302 oC untuk unit 701, dan 308 oC untuk unit 702. Pada kondisi ini, katalis tidak dapat berkerja optimum untuk proses penghilangan sulfur. Kandungan sulfur yang terdapat pada feed gas E-5 harus dihilangkan, sebab sulfur bersifat merusak dan dapat meracuni katalis reformer.

VI.2. 2

Kenaikan biaya operasi CDU akibat penurunan performance Preheater

Dari perhitungan nilai ekonomis maka Pertamina mengalami penambahan biaya produksi jika terjadi penurunan performance preheater. Penurunan performance preheater akan mengakibatkan panas yang dibutuhkan heater 100 H-1 untuk menaikkan temperatur hingga 330 oC akan semakin besar, akibatnya konsumsi fuel pada heater 100 H-1 akan semakin besar dan membutuhkan penambahan biaya produksi.

Konsumsi fuel di heater 100 H-1 pada kondisi actual saat ini (rata rata 1-17 April 2010) dibandingkan dengan kebutuhan setelah TA (Rata-rata September 2009)

mengalami peningkatan sebesar 1.17558 BSRF ($US. 50.56/jam) untuk fuel oil dan 1.9593 BSRF ($US. 84.27/jam) untuk konsumsi fuel gas, artinya Pertamina membutuhkan tambahan biaya operasional pada 100 H-1 sebesar $US. 134.831/jam atau sebesar $US. 3235.95/hari.

VI.2.3 Prediksi Re-Cleaning Preheater

Jika trend temperatur outlet dan flow yang terjadi sejak bulan September 2009 sampai tanggal 17 April 2010, terlihat bahwa temperatur outlet preheater mengalami hanya sedikit fluktuasi. Bahkan sebelum di adakan TA terlihat adanya penyimpangan dari trend sebelumnya dimana temperatur outlet E7

meningkat.Berdasarkan

Literatur dan informasi-informasi

yang diperoleh

dilapangan fenomena di atas dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Thermal Shocking Thermal shocking merupakan peristiwa perpindahan panas yang terjadi pada dua aliran fluida secara tiba-tiba karena perbedaan temperatur yang cukup tinggi. Thermal shocking terjadi karena adanya penurunan feed (fluida dingin) ke CDU, sementara produk CDU (fluida panas) tetap pada kondisi operasi normal. Sehingga terjadi peningkatan temperatur feed yang cukup tajam, diharapkan peningkatan temperatur ini dapat memecah kerak yang terdapat pada dinding preheater dan pada saat feed kembali normal

kerak tersebut akan terdorong keluar preheater. Thermal shocking dapat menaikkan temperatur outlet preheater sebesar 1-2 oC.

2. Pelarutan Fouling saat Sirkulasi Start-up Start-up merupakan proses awal pengopersian kembali unit produksi setelah mengalami stop unit. Start-Up terbagi dalam tiga tahap yaitu: o Sirkulasi dingin, yang bertujuan untuk mengecek sambungan alat jika terjadi kebocoran, biasanya sirkulasi dingin memakan waktu sekitar 1 jam. o Sirkulasi panas, yang bertujuan untuk menaikkan temperatur feed secara bertahap dan untuk mengurangi kadar air feed pada temperatur tertentu. o On Stream, yaitu awal produk sudah dapat diambil. Proses ini merupakan prosedur umum yang terjadi pada setiap pengoperasian kembali unit produksi dan merupakan kondisi normal, dan biasanya start-up memakan waktu sekitar 8-10 jam. Ditinjau dari sifatnya, Minyak bumi dapat digunakan sebagai pelarut. Pada saat dilakukan sirkulasi aliran saat start-up CDU setelah unit stop, fraksi ringan yang terkandung dalam minyak bumi akan melarutkan fraksi berat yang ada pada dinding preheater, sehingga fouling akan berkurang dan dengan sendirinya akan memperbaiki performance preheater yang terlihat dari kenaikan temperatur outlet. VI.2.3 Effek Pelaksanaan Cleaning Prehater

Untuk menghilangkan endapan kerak yang terjadi pada preheater, dibutuhkan pembersihan (cleaning). Terdapat dua cara pelaksanaan cleaning yaitu Chemical cleaning dan Mechanical cleaning. Chemical cleaning dilakukan dengan mengalirkan zat kimia selain minyak bumi kedalam preheater sehingga dapat melarutkan kerak pada dinding preheater dan membawanya keluar, namun cara ini tidak lagi dilaksanakan oleh Pertamina RU II Dumai mengingat efek samping yang ditimbulkan oleh bahan kimia itu sendiri terhadap material alat. Cleaning yang dilaksanakan oleh Pertamina saat ini adalah mechanical cleaning dengan melaksanakan pembongkaran preheater dan dibersihkan secara mechanis. Mechanical cleaning dengan sendirinya akan menyebabkan stop produksi.

Pelaksanaan cleaning preheater yang selama 6 hari dalam satu tahun akan berpotensi mengurangi distribusi BBM.Fouling pada heat exchanger dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain endapan lumpur yang terbawa oleh air di crude, kristalisasi garam yang terkandung di crude, fraksi berat minyak yang tertahan dalam sheell dan tube heat exchanger dan lain-lain. Dari beberapa faktor diatas yang dominan menyebabkan fouling pada preheater adalah kandungan lumpur yang terikut oleh air pada crude. Untuk menjaga kebersihan crude dari impurities yang terbawa oleh crude dapat dilaksanakan dengan strategi sebagai berikut: 1. Meningkatkan standar mutu penerimaan crude Chevron, terutama water content yang selama ini max. 1% untuk dapat lebih diperkecil.

2. Monitoring terhadap steam coil, agar bila terjadi kebocoran dapat segera diantisipasi. 3. Melaksanakan cleaning tangki sesuai jadwal yang telah ditentukan, untuk menghindari penumpukan sludge pada tangki. 4. Membersihkan aliran pembuangan air dan sludge dari tangki, terutama valve agar pembuangan air dan sludge tidak terhambat.