Anda di halaman 1dari 18

2.1.

CATU DAYA Rangkaian elektronik biasanya membutuhkan voltase DC dengan voltase yang lebih rendah dibanding dengan voltase sambungan listrik yang biasanya tersedia, yaitu sebesar 220 V AC. Sedangkan voltase yang dipakai dalam rangkaian elektronik biasanya hanya sekitar 3 V sampai 50 V DC. Voltase tersebut biasanya bisa diperoleh dari baterai, tetapi penggunaan baterai sebagai sumber daya listrik jauh lebih mahal dibanding dengan menggunakan daya listrik dari PLN. Untuk itu diperlukan satu alat yang dapat mengubah daya voltase 220V AC menjadi voltase DC sebesar voltase yang dibutuhkan, alat tersebut adalah power supply DC. Terdapat dua jenis power supply / sumber daya (atau bisa juga disebut catu daya ) yang memenuhi keperluan tersebut, yaitu sumber daya dengan regulasi linear dan sumber daya regulasi switching. Dalam bab ini akan dijelaskan sumber daya dengan regulasi linear. Sumber daya pada prinsipnya terdiri dari 4 bagian: transformator, penyearah, kondensator sebagai tapis lolos rendah (Filter) dan regulasi elektronik. Adapun blok diagram catu daya dapat digambarkan sebagai berikut : Input AC Output DC

Trafo

Penyearah Filter Regulasi Gambar 2.1 Blok diagram Catu Daya

Transformator dipergunakan untuk mentransformasikan voltase AC dari 220V menjadi lebih kecil sehingga bisa dikelola oleh rangkaian regulasi linear. Penyarah yang terdiri dari dioda dioda mengubah voltase bolak balik menjadi voltase searah tetapi hasil dari penyaarahan itu masih kurang konstan, artinya masih mengalami perubahan periodik yang besar. Sebab itu diperlukan kondensator sehingga voltase tersebut cukup rata untuk diregulasi oleh rangkaian regulasi yang bisa menghasilkan voltase DC yang baik dan konstan. Dalam bab berikut fungsi dari bagian bagian ini akan dijelaskan. 2.1.1 Transformator Transformator (trafo) adalah alat yang digunakan untuk menaikkan atau menurunkan tegangan bolak-balik (AC). Sebuah transformator pada dasarnya terdiri dari dua kumparan yang digulung diatas satu kern (bahan besi) yang dimiliki secara bersama sama. Kumparan yang pertama disebut kumparan primer dan kumparan kedua disebut kumparan sekunder. Perbandingan jumlah lilitan antara kedua kumparan menentukan perbandingan voltase antara kedua kumparan tersebut. Jumlah lilitan, tebal, bahan kawat

lilitan, serta besar, bentuk dan bahan kern menentukan sifat trafo ketika trafo di bebani, yaitu ketika ada arus yang keluar dari kumparan sekunder. Sifat dari trafo adalah berapa banyak arus bisa keluar tanpa trafo menjadi terlalu panas dan berapa besar resistivitas keluarannya. Karena setiap trafo memiliki resistivitas keluaran, maka kalau ada arus yang mengalir keluar dari kumparan sekunder, maka voltase akan berkurang.

2.2 Simbol Transformator Pada sebuah transformator berlaku persamaan berikut:


Vp Np = ............................................................................................(2.1) Vs Ns

Keterangan : VP : Tegangan Primer (Volt) Vs : Tegangan Sekunder (Volt) Np : Lilitan Primer Ns : Lilitan sekunder Transformator ideal apabila daya masukan pada gulungan primer sama dengan keluaran pada gulungan sekunder .
Pp = Ps .............................................................................................(2.2) Vp . Ip = Vs . Is ..................................................................................(2.3)

Vp Is = .............................................................................................(2.4) Is Ip
Keterangan :
Pp = Daya lilitan primer

Ps = Daya lilitan sekunder


Is = Arus lilitan sekunder
Ip = Arus lilitan primer

Dari persamaan (2.1) dan (2.4) dapat dinyatakan hubungan diantara ketiganya dengan persamaan : Vp Np Is = = ...................................................................................(2.5) Vs Ns Ip Berdasarkan persamaan (2.5) dapat disimpulkan bahwa besarnya tegangan yang muncul pada lilitan berbanding lurus dengan banyaknya lilitan sedangkan besarnya arus berbanding terbalik dengan besarnya lilitan. Dalam sebuah power supply tegangan rendah, sebelum tegangan AC tersebut diubah menjadi tegangan DC maka tegangan AC tersebut perlu diturunkan menggunakan transformator step down. Transformator Step Down Transformator step down yaitu transformator yang berfungsi untuk menurunkan tegangan, transformator ini mempunyai jumlah lilitan kumparan primer lebih banyak daripada jumlah lilitan sekunder (Np > Ns). Transformator jenis ini banyak ditemui terutama pada adaptor AC-DC.

Gambar 2.3 Kumparan Transfomator Step Down 2.1.2 Penyearah Penyearah gelombang (rectifier) adalah bagian dari power supply / catu daya yang berfungsi mengubah sinyal tegangan AC menjadi tegangan DC. Komponen utama dalam penyearah gelombang adalah diode yang dikonfigurasikan secara forward bias. Pada dasarnya konsep penyearah gelombang dibagi dalam 2 jenis yaitu, Penyearah setengah gelombang dan penyearah gelombang penuh.

2.1.2.1 Penyearah setengah gelombang

Gambar 2.4 Rangkaian Penyearah setengah gelombang Penyearah setengah gelombang hanya menggunakan 1 buah diode sebagai komponen utama dalam menyearahkan gelombang AC. Prinsip kerja dari penyearah setengah gelombang ini adalah mengambil sisi sinyal positif dari gelombang AC dari transformator. Pada saat transformator memberikan output sisi positif dari gelombang AC tersebut dilewatkan dan pada saat transformator memberikan sinyal sisi negatif gelombang AC maka dioda dalam posisi reverse bias, sehingga sinyal sisi negatif tegangen AC tersebut ditahan atau tidak dilewatkan seperti terlihat pada gambar sinyal output penyearah setengah gelombang berikut.

Gambar 2.5 Gelombang pada penyearah setengah gelombang Formulasi yang digunakan pada penyearah setengah gelombang sebagai berikut :
V avg = Vm ........................................................................(2.6) R

Keterangan : V avg : Tegangan rata rata (Volt) Vm : Tegangan maksimum (Volt) : 3,14

: Hambatan beban ()

2.1.2.2 Penyearah Gelombang penuh Penyearah gelombang penuh dapat dibuat dengan 2 macam yaitu, menggunakan 4 diode dan 2 diode. Untuk membuat penyearah gelombang penuh dengan 4 diode menggunakan transformator non-CT seperti terlihat pada gambar berikut :

Gambar 2.6 Rangkaian penyearah gelombang penuh 4 diode Prinsip kerja dari penyearah gelombang penuh dengan 4 diode diatas dimulai pada saat output transformator memberikan tegangan level sisi positif, maka D1, D4 pada posisi forward bias dan D2, D3 pada posisi reverse bias sehingga level tegangan sisi puncak positif tersebut akan dilewatkan melalui D1 ke D4, Kemudian pada saat output transformator memberikan level tegangan sisi puncak negatif maka D2, D4 pada posisi forward bias dan D1, D2 pada posisi reverse bias sehingga level tegangan sisi negatif tersebut dialirkan melalui D2, D4. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik output berikut.

Gambar 2.7 Gelombang pada penyearah gelombang penuh 4 diode

Penyearah gelombang dengan 2 diode menggunakan transformator dengan CT (Center Tap). Rangkaian penyearah gelombang penuh dengan 2 diode dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 2.8 Rangkaian penyearah gelombang penuh 2 diode Penyearah gelombang dengan 2 diode ini dapat bekerja karena menggunakan transformator dengan CT. Transformator dengan CT seperti gambar di atas dapat memberikan output tegangan AC pada kedua terminal output sekunder terhadap terminal CT dengan level tegangan yang berbeda fasa 180. Pada saat terminal output transformator pada D1 memberikan sinyal puncak positif maka terminal output pada D2 memberikan sinyal puncak negatif, pada kondisi ini D1 pada posisi forward dan D2 pada posisi reverse. Sehingga sisi puncak positif dilewatkan melalui D1. Kemudian pada saat terminal output transformator pada D1 memberikan sinyal puncak negatif maka terminal output pada D2 memberikan sinyal puncak positif, pada kondisi ini D1 posisi reverse dan D2 pada posisi forward. Sehingga posisi sinyal puncak positif dilewatkan melalui D2. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar output penyearah gelombang penuh berikut.

Gambar 2.9 Gelombang pada penyearah gelombang penuh

2 diode Formulasi penyearah gelombang penuh sebagai berikut:


V m = 2 .Vrms .....................................................................(2.7)

Keterangan : V rms : Tegangan rata rata Vm : Tegangan maksimum 2.1.3 Filter Capasitor Agar tegangan penyearah gelombang AC lebih rata dan menjadi tegangan DC maka dipasang filter kapasitor pada bagian output rangkaian penyearah seperti terlihat pada gambar berikut.

Gambar 2.10 Rangkaian Penyearah dengan Filter Capasitor

Gambar 2.11 Gelombang pada Penyearah dengan Filter Capasitor Fungsi Kapasitor pada rangkaian diatas untuk menekan ripple yang terjadi dari proses penyearah gelombang AC. Setelah dipasang filter kapasitor maka output dari rangkaian penyearah gelombang penuh ini akan menjadi tegangan DC yang dapat diformulasikan sebagai berikut: Vdc = Vm Keterangan :
Vrpp ............................................................................(2.8) 2

V dc

: Tegangan DC (Volt) : Tegangan maksimal (Volt)

Vrpp : Tegangan ripple (Volt) Vm

Kemudian nilai ripple tegangan yang ada dapat dirumuskan sebagai berikut :
V rpp = I dc ....................................................................................(2.9) 2fC

Keterangan : V rpp : Tegangan ripple (Volt) I dc f C : Arus DC (Ampere) : Frekuensi (Hz) : Kapasitansi (F)

2.1.4 Regulasi dengan Regulasi IC Rangkaian penyearah sudah cukup bagus jika tegangan rippel-nya kecil, namun ada masalah stabilitas. Jika tegangan PLN naik / turun, maka tegangan outputnya juga akan naik / turun. Untuk beberapa aplikasi perubahan tegangan ini cukup mengganggu, sehingga diperlukan komponen aktif yang dapat meregulasi tegangan keluaran ini menjadi stabil. Karena regulasi voltase untuk catu daya seringkali dibutuhkan, maka tersedia berbagai jenis IC yang memenuhi kebutuhan ini. Salah satu IC adalah seri 78xx, dimana xx menunjukkan voltase keluaran dari IC tersebut. Terdapat xx=05 untuk 5V , xx=75 untuk 7.5V, xx=09 untuk 9V, xx=12 untuk 12V, xx=15 untuk 15V dan juga terdapat voltase yang lebih tinggi. IC 78xx mempunyai tiga kaki, satu untuk Vin, satu untuk Vout dan satu untuk GND. Sambungan tersebut diperlihatkan dalam gambar . Dalam IC ini selain rangkaian regulasi voltase juga sudah terdapat rangkaian pengaman yang melindungi Ic dari arus daya yang terlalu tinggi. Terdapat pembatasan arus yang mengurangi voltase keluaran kalau batas arus terlampaui. Besar dari batas arus ini tergantung dari voltase pada IC sehingga arus maksimal lebih kecil kalau selisih voltase antara Vin dan Vout lebih besar. Juga terdapat pengukuran suhu yang mengurangi arus maksimal kalau suhu IC menjadi terlalu tinggi. Dengan rangkaian rangkaian pengaman ini IC terlindungi dari kerusakan sebagai akibat beban yang terlalu besar.

Gambar 2.12 Rangkaian Catu Daya Dengan IC Regulator EasyVR EasyVR merupakan module voice recognition multi-fungsi. Dapat digunakan pada banyak aplikasi pengontrolan yang membutuhkan pendeteksian bukan hanya suara melainkan percakapan. EasyVR merupakan generasi penerus setelah kesuksesan generasi pertamanya di pasaran yaitu VRBot. Module ini dapat digunakan/dihubungkan dengan board mikrokontroler Arduino. Sangat cocok digunakan untuk beragam aplikasi, seperti home automation (dimana kita dapat mengontrol nyala lampu, kunci pintu, televisi, atau perangkat lainnya hanya dengan perintah Anda) atau sebagai module pelengkap sensor pendengaran robot yang Anda buat sebagaimana robot-robot canggih yang dijual di pasaran yang harganya luar biasa mahal.

EasyVr mempunyai fitur-fitur untuk mendukung pemrogramannya. EasyVR juga mempunyai kelebihan dibanding dengan keluaran sebelumnya, yaitu vrbot. Berikut fitur-fitur dan kelebihan Easyvr : a. Fitur-fitur EasyVR

Mendukung beberapa bahasa English(US), Italian, German, French, Spanish, Japanese Mendukung hingga 32 custom Speaker Dependet (SD) trigger atau perintah, bahkan dapat digunakan pada bahasa apapun. GUI yang mudah digunakan. Dapat dihubungkan dengan mikrokontroler dengan koneksi UART (tegangan 3.3 - 5 V) Mudah diaplikasikan dan didukung oleh dokumentasi yang sederhana 3 x GPIO (IO1, IO2, IO3) dapat dikontrol dengan perintah protokol baru PWM audio output mendukung speaker 8 ohm Sound playback Kompatible dengan Robonova dan Robozak MR-C3024 controller board

b. Kelebihan EasyVR

Dua tambahan bahasa : Spanish and French 3 x GPIO (IO1, IO2, IO3) dapat dikontrol dengan perintah protokol baru PWM audio output mendukung speaker 8 ohm Kemampuan mengupdate firmware Sound playback Pengguna dapat membuat bahasa sendiri menggunakan Sensory's Quick Synthesis 4 GUI EasyVR terbaru mengandung perintah untuk mengolah custom sound

Arduino Arduino adalah sebuah board mikrokontroller yang berbasis ATmega328. Arduino memiliki 14 pin input/output yang mana 6 pin dapat digunakan sebagai output PWM, 6 analog input, crystal osilator 16 MHz, koneksi USB, jack power, kepala ICSP, dan tombol reset. Arduino mampu mensupport mikrokontroller; dapat dikoneksikan dengan komputer menggunakan kabel USB.

Berikut ini adalah konfigurasi dari arduino duemilanove 328 : Mikronkontroler ATmega328 Beroperasi pada tegangan 5V Tegangan input (rekomendasi) 7 - 12V Batas tegangan input 6 - 20V Pin digital input/output 14 (6 mendukung output PWM) Pin analog input 6 Arus pin per input/output 40 mA Arus untuk pin 3.3V adalah 50 mA Flash Memory 32 KB (ATmega328) yang mana 2 KB digunakan oleh bootloader SRAM 2 KB (ATmega328) EEPROM 1KB (ATmega328) Kecepatan clock 16 MHz

Power Arduino dapat diberikan power melalui koneksi USB atau power supply. Powernya diselek secara otomatis. Power supply dapat menggunakan adaptor DC atau baterai. Adaptor dapat dikoneksikan dengan mencolok jack adaptor pada koneksi port input supply. Board arduino dapat dioperasikan menggunakan supply dari luar sebesar 6 - 20 volt. Jika supply kurang dari 7V, kadangkala pin 5V

akan menyuplai kurang dari 5 volt dan board bisa menjadi tidak stabil. Jika menggunakan lebih dari 12 V,tegangan di regulator bisa menjadi sangat panas dan menyebabkan kerusakan pada board. Rekomendasi tegangan ada pada 7 sampai 12 volt. Penjelasan pada pin power adalah sebagai berikut : Vin Tegangan input ke board arduino ketika menggunakan tegangan dari luar (seperti yang disebutkan 5 volt dari koneksi USB atau tegangan yang diregulasikan). Pengguna dapat memberikan tegangan melalui pin ini, atau jika tegangan suplai menggunakan power jack, aksesnya menggunakan pin ini. 5V Regulasi power supply digunakan untuk power mikrokontroller dan komponen lainnya pada board. 5V dapat melalui Vin menggunakan regulator pada board, atau supply oleh USB atau supply regulasi 5V lainnya. 3V3. Suplai 3.3 volt didapat oleh FTDI chip yang ada di board. Arus maximumnya adalah 50mA Pin Ground berfungsi sebagai jalur ground pada arduino Memori ATmega328 memiliki 32 KB flash memori untuk menyimpan kode, juga 2 KB yang digunakan untuk bootloader. ATmega328 memiliki 2 KB untuk SRAM dan 1 KB untuk EEPROM. Input dan Output Setiap 14 pin digital pada arduino dapat digunakan sebagai input atau output, menggunakan fungsi pinMode(), digitalWrite(), dan digitalRead(). Input/output dioperasikan pada 5 volt. Setiap pin dapat menghasilkan atau menerima maximum 40 mA dan memiliki internal pull-up resistor (disconnected oleh default) 20-50 KOhms. Beberapa pin memiliki fungsi sebagai berikut : Serial : 0 (RX) dan 1 (TX). Digunakan untuk menerima (RX) dan mengirim (TX) TTL data serial. Pin ini terhubung pada pin yang koresponding dari USB FTDI ke TTL chip serial. Interupt eksternal : 2 dan 3. Pin ini dapat dikonfigurasikan untuk trigger sebuah interap pada low value, rising atau falling edge, atau perubahan nilai.

PWM : 3, 5, 6, 9, 10, dan 11. Mendukung 8-bit output PWM dengan fungsi analogWrite(). SPI : 10 (SS), 11 (MOSI), 12 (MISO), 13 (SCK). Pin ini mensuport komunikasi SPI, yang mana masih mendukung hardware, yang tidak termasuk pada bahasa arduino. LED : 13. Ini adalah dibuat untuk koneksi LED ke digital pin 13. Ketika pin bernilai HIGH, LED hidup, ketika pin LOW, LED mati. Interupt yang terjadi ketika ada penerimaan data dari komunikasi serial 2.2.1 Fitur AVR ATMega328 ATMega328 adalah mikrokontroller keluaran dari atmel yang mempunyai arsitektur RISC (Reduce Instruction Set Computer) yang dimana setiap proses eksekusi data lebih cepat dari pada arsitektur CISC (Completed Instruction Set Computer).

Mikrokontroller ini memiliki beberapa fitur antara lain : 130 macam instruksi yang hampir semuanya dieksekusi dalam satu siklus clock. 32 x 8-bit register serba guna. Kecepatan mencapai 16 MIPS dengan clock 16 MHz. 32 KB Flash memory dan pada arduino memiliki bootloader yang menggunakan 2 KB dari flash memori sebagai bootloader. Memiliki EEPROM (Electrically Erasable Programmable Read Only Memory) sebesar 1KB sebagai tempat penyimpanan data semi permanent karena EEPROM tetap dapat menyimpan data meskipun catu daya dimatikan.

Memiliki SRAM (Static Random Access Memory) sebesar 2KB. Memiliki pin I/O digital sebanyak 14 pin 6 diantaranya PWM (Pulse Width Modulation) output. Master / Slave SPI Serial interface. Mikrokontroller ATmega 328 memiliki arsitektur Harvard, yaitu memisahkan memori untuk kode program dan memori untuk data sehingga dapat memaksimalkan kerja dan parallelism. Instruksi instruksi dalam memori program dieksekusi dalam satu alur tunggal, dimana pada saat satu instruksi dikerjakan instruksi berikutnya sudah diambil dari memori program. Konsep inilah yang memungkinkan instruksi instruksi dapat dieksekusi dalam setiap satu siklus clock. 32 x 8-bit register serba guna digunakan untuk mendukung operasi pada ALU ( Arithmatic Logic unit ) yang dapat dilakukan dalam satu siklus. 6 dari register serbaguna ini dapat digunakan sebagai 3 buah register pointer 16-bit pada mode

pengalamatan tak langsung untuk mengambil data pada ruang memori data. Ketiga register pointer 16-bit ini disebut dengan register X ( gabungan R26 dan R27 ), register Y ( gabungan R28 dan R29 ), dan register Z ( gabungan R30 dan R31 ). Hampir semua instruksi AVR memiliki format 16-bit. Setiap alamat memori program terdiri dari instruksi 16-bit atau 32-bit. Selain register serba guna di atas, terdapat register lain yang terpetakan dengan teknik memory mapped I/O selebar 64 byte. Beberapa register ini digunakan untuk fungsi khusus antara lain sebagai register control Timer/ Counter, Interupsi, ADC, USART, SPI, EEPROM, dan fungsi I/O lainnya. Register register ini menempati memori pada alamat 0x20h 0x5Fh.
-

Berikut ini adalah tampilan architecture ATmega 328 :

SSR ( Solid State Relay)

Sebuah relay elektromekanik mempunyai banyak keterbatasan, dimana relay memerlukan biaya yang cukup besar untuk membuatnya, mempunyai waktu pakai yang cukup singkat, memerlukan banyak ruang, dan proses switch kontaknya relatif pelan jika dibandingkan dengan perangkat semikonduktor modern. Keterbatasan ini terutama berlaku untuk relay kontraktor dengan daya yang besar. Untuk mengatasi keterbatasan ini, banyak produsen relay menawarkan solid-state relay, yang menggunakan SCR, TRIAC, atau output bukan transistor dengan kontak mekanik untuk switch atau memindahkan control power. Perangkat output(SCR, TRIAC, atau transistor) secara optic digabungkan ke sumber cahaya LED di dalam relay. Relay dihidupkan oleh energy LED ini, biasanya dengan tegangan DC daya rendah. Sejauh ini optic isolasi antara input ke output degan menggunakan SSR merupakan pilihan yang terbaik dari jenis relay elektromekanik. Solid State Relay dan relay semikonduktor keduanya adalah nama perangakat yang bekerja seperti relay biasa. Biasanya disebut dengan SSR. SSR adalah sebuah perangkat semikonduktor yang digunakan untuk menggantikan relay mekanik untuk menghubugkan arus listrik ke beban dalam banyak aplikasi. Artinya Solid State Relay adalah sebuah saklar elektronik yang tidak memiliki bagian yang bergerak. Contohnya: foto-coupled SSR, transformer-coupled SSR, dan hybrida SSR. Solid State Relay merupakan elektronik murni, biasanya terdiri dari sisi control yang rendah/ low current control side( setara dengan kumparan relay elektromekanik)dan high-current load side( setara dengan kontak pada realay konvensional). SSR biasanya mempunyai kemampuan mengisolasi listrik beberapa ribu volt antara kontrol dan beban. Karena isolasi ini, beban sendiri hanya diberi power dari switch line sendiri dan hanya kan terhubung apabila ada kontrol sinyal yang mengoperasikan relay. SSR berisi satu atau lebih LED di input (drive). Input ini menyediakan kopling optik sebuah phototransistor atau photodiode array, yang pada gilirannya menghubungkan ke sirkuit driver yang ada pada sebuah interface ke perangkat switching atau perangkat pada output. Perangkat swithing biasanya MOS-FET atau TRIAC. Dalam sebuah perangkat solid-state relay, tidak ada perangkat yang akan menjadi aus karena pergerakan kontak/gesekan , dan mereka mampu menghidupkan dan mematikan jauh lebih cepat daripada angker relay mekanik. Tidak ada memicu antara kontak, dan tidak ada masalah dengan korosi kontak yang ada. Namun demikian, solid-state relay masih terlalu mahal untuk dibuat dalam sebuah rangkaian dengan high current ratings, dan kontaktor elektromekanis terus mendominasi dalam aplikasi industri saat ini. Satu keuntungan Solid state relay adalah komponen ini dibangun oleh isolator sebuah MOC untuk memisahkan bagian input dan bagian saklar. Dengan Solid state

relay kita dapat menghindari terjadinya percikan api seperti yang terjadi pada relay konvensional juga dapat menghindari terjadinya sambungan tidak sempurna karena kontaktor keropos seperti pada relay konvensional. 2.3.1 Jenis-Jenis SSR

Reed-Relay-Coupled SSR's di mana sinyal kontrol diterapkan (secara langsung, atau melalui Preamplifier) ke kumparan relay yang buluh. Penutupan buluh lalu mengaktifkan sirkuit yang tepat dengan saklar memicu thyristor. Jelas, input-output isolasi dicapai adalah bahwa dari buluh relay, yang biasanya sangat baik.

Gambar 1.2 Reed-Relay-Coupled SSR's

Transformer-Coupled SSR's, di mana sinyal kontrol diterapkan (melalui DC-AC converter, jika sudah DC, atau secara langsung, jika itu AC) ke domain utama trafo berdaya rendah, dan sekunder yang dihasilkan dari eksitasi primer yang digunakan (dengan atau tanpa rektifikasi, amplifikasi, atau lainnya modifikasi) untuk memicu thyristor saklar. Dalam jenis ini, tingkat isolasi input-output tergantung pada desain transformator.

Gambar 1.3 Transformer-Coupled SSR's

Photo-coupled SSR's, di mana sinyal kontrol diterapkan pada sebuah sumber cahaya atau inframerah (biasanya, sebuah dioda pemancar cahaya atau LED), dan dari sumber yang terdeteksi dalam foto - sensitive semi-conductor (misalnya, sebuah dioda fotosensitif,

sebuah foto-sensitif transistor, atau foto-sensitif thyristor). Output dari foto-perangkat sensitif kemudian digunakan untuk memicu (gerbang) yang TRIAC atau SCR itu aktifkan arus beban. Jelas, satu-satunya yang signifikan "coupling path" antara input dan output adalah cahaya atau sinar infra - radiasi merah, dan isolasi listrik yang sangat baik. optically coupled or SSR yang juga disebut sebagai "optikal yang digabungkan" atau Foto terisolasi.

Gambar 1.4 Photo-coupled SSR's 2.3.2 Karakteristik Input pada SSR Dari kekuatan dielektrik , dinilai dalam hal rusaknya tegangan minimum dari rangkaian Kontrol baik pada SSR dan output(beban) rangkaian. Tipikal rating untuk control output adalah 1500 volt AC (RMS). Dari Insulation Resistance, rangkaian control untuk kedua kasus dan rangkaian output. Selisih resistensi dari 10 M sampai 100.000 M untuk transformator dan desain hibrida. Untuk optic terisolasi SSR, tipikal kisaran resensi isolasi dari 1000 M sampai 1 juta M. Dari kapasitansi Stray, rangkaian control untuk kedua kasus dan output rangkaian. Kapasitansi ke kasus jarang signifikan, tetapi kapasitansi ke rangkaian output mungkin control pasangan ac dan transien kembali ke kontrol sensitif sirkuit, dan bahkan lebih jauh lagi, ke-sinyal kontrol sumber. Untungnya, di SSR dirancang dengan baik itu, ini kapasitansi jarang cukup besar untuk menyebabkan interaksi. Kapasitansi tipikal berkisar dari 1 sampai 10 picofarad. Kecepatan respon dari SSR untuk penerapan kontrol tegangan akan dijelaskan nanti pada bagian ini. Dari rangkaian kontrol untuk kedua kasus dan output rangkaian. Kapasitansi ke kasus jarang signifikan, tetapi kapasitansi ke rangkaian output mungkin control pasangan ac dan transien kembali ke kontrol sensitif sirkuit, dan bahkan lebih jauh lagi, ke-sinyal kontrol sumber. Untungnya, di SSR dirancang dengan baik itu, ini kapasitansi jarang cukup besar untuk

menyebabkan interaksi. Kapasitansi tipikal berkisar dari 1 sampai 10 picofarad. Kecepatan respon dari SSR untuk penerapan kontrol tegangan akan dijelaskan nanti pada bagian ini. Mic Condensor Mic condenser merupakan komponen elektronik yang menyimpan energi dalam medan elektrostatik, microphone jenis ini juga merupakan transducer yang menggunakan bahan dasar kapasitor yang berfungsi mengubah energi akustik menjadi energi listrik. Jenis microphone ini bayak banyak digunakan baik untuk keperluan live maupun recording. Dalam pengoperasian mic condenser, jenis mic ini memerlukan suber daya baterai atau sumber daya eksternal agar microphone bisa beroperasi. 2.4.1 Cara Kerja Mic Condensor Dalam mic ini terdapat kapasitor yang terdiri dari dua keping plat atau piringan yang keduanya mempunyai voltage atau tegangan. Salah satu dari plat tersebut terbuat dari materi yang sangat ringan yang bertindak sebagai diafragma dan sensitif dengan gelombang suara. Diafragma tersebut akan bergetar jika ada gelombag suara yang datang. Fungsinya adalah dengan merubah jarak antara dua plat tersebut maka akan merubah kapasitinya, jadi disaat plat bergetar maka hal yang terjadi adalah mula-mula plat akan berdekatan yang mengakibatkan kapasitas akan meningkat dan merubah voltasi muatan arus, kemudian sebaliknya plat akan menjauh yang mengakibatkan kapasitasnya menurun yang mengakibatkan voltasi juga berubah.

Gambar 1.5 Cara kerja Mic Condensor