Anda di halaman 1dari 40

TUGAS MENGOREKSI KELOMPOK LAIN

(ANALISIS DAN PERBANDINGAN KONSEP WAHYU DAN AKAL MENURUT


ALIRAN-ALIRAN TEOLOGI ISLAM)
Makalah revisi ini disusun untuk memenuhi tugas UTS mata kuliah
Teologi Islam
Dosen Pengampu:
Sarkowi,M.pd







Di koreksi Oleh:
Indah Betaria Puspaningrum (07610015)
Lukman Hakim (10610080)
Wadatul Jannah (10610102)

JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2011
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 2

ANALISIS DAN PERBANDINGAN
KONSEP WAHYU DAN AKAL
MENURUT ALIRAN-ALIRAN TEOLOGI ISLAM
(Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Teologi Islam)




Dosen Pembimbing: Sarkowi, M.Pd

Tim Penyusun (kelompok 7):
Khoirul Umam (10610079)
Silvia Anggraini (10610086)
Fina Amalia Istiqomah (10610101)


UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
JURUSAN MATEMATIKA
2010-2011
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 3

KATA PENGANTAR

Kami panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT., karena berkat inayah-
Nyalah makalah ANALISIS DAN PERBANDINGAN KONSEP WAHYU DAN
AKAL MENURUT ALIRAN-ALIRAN TEOLOGI ISLAM ini dapat diselesaikan.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Teologi Islam dan untuk
lebih mengefektifkan perkuliahan Teologi Islam.
Kami menyadari makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu,
kami mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca, demi kesempurnaan makalah
ini pada revisi berikutnya.
Kami ingin mengucapkan terima kasih pada beberapa pihak yang telah berjasa
dalam penyusunan makalah ini. Pertama, kepada Bapak Sarkowi, M.Pd yang telah
memberikan bimbingan kepada kami. Kedua, kepada rekan-rekan kami yang telah
membantu kemudahan penyusunan makalah ini. Semoga Allah SWT. membalas
kebaikannya dengan balasan yang lebih banyak. Amiin.
Terlepas dari kekurangan-kekurangan makalah ini, kami berharap semoga
makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan menjadikan amal saleh bagi kami. Amiin,
yaa Rabbal aalamin



Malang, 20 April 2011 M
17 Jumadil Ula 1432 H



Penulis

Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 4

DAFTAR ISI

Hal
HALAMAN JUDUL 1
KATA PENGANTAR.. 2
DAFTAR ISI. 3

BAB I : PENDAHULUAN 5
A. Latar Belakang. 5
B. Rumusan Masalah 5
C. Tujuan.. 6
BAB II : PEMBAHASAN 7
A. Pengertian Wahyu 7
B. Cara Turunnya Wahyu. 8
C. Hubungan Wahyu dan Akal (rasio). 8
D. Perbandingan Konsep Wahyu dan Akal Menurut Aliran-
aliran Teologi Islam. 11
1. Aliran Syiah.. 11
2. Aliran Khawarij. 12
3. Aliran Mujiah... 12
4. Aliran Mutazilah... 13
5. Aliran Jabariyah. 13
6. Aliran Qadariyah... 14
7. Aliran Asyariyah.. 15
8. Aliran Maturidiyah 15
E. Fungsi Wahyu.. 16
F. Analisis Perbandingan Konsep Wahyu dan Akal Menurut
Aliran-aliran Teologi Islam. 16
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 5

BAB III : PENUTUPAN.. 18
Kesimpulan 18

Daftar Pustaka.. 20
























Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 6

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Teologi sebagai ilmu yang membahas soal ke-Tuhanan dan kewajiban-
kewajiban manusia terhadap Tuhan, memakai akal dan wahyu dalam memperoleh
pengetahuan tentang kedua soal tersebut. akal, sebagai daya berpikir yang ada dalam
diri manusia, berusaha keras untuk sampai kepada diri Tuhan. Dan wahyu sebagai
pedoman dari alam metafisika turun kepada manusia dengan keterangan-keterangan
tentang Tuhan dan kewajiban-kewajiban manusia terhadap Tuhan.
Pengaruh hawa nafsu yang mempengaruhi akal atau pikiran dan
kecenderungan tiap-tiap orang sesuai dengan yang disenanginya, serta perbedaan
kemampuan akal dalam menanggapi permasalahan tersebut, akan mengakibatkan
perbedaan dalam memandang kemampuan akal dan fungsi wahyu.
Dalam makalah kali ini, kami akan membahas perbedaan-perbedaan tersebut
menurut aliran-aliran teologi Islam.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang disebut dengan wahyu?
2. Bagaimanakah cara turunnya wahyu?
3. Bagaimanakah hubungan wahyu dan akal?
4. Bagaimanakah perbandingan konsep wahyu dan akal menurut aliran-aliran
teologi Islam?
5. Bagaimanakah fungsi wahyu?
6. Bagaimanakah analisa perbandingan konsep wahyu dan akal menurut aliran-
aliran teologi Islam?


Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 7

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian wahyu.
2. Untuk mengetahui cara turunnya wahyu.
3. Untuk mengetahui hubungan antara wahyu dengan akal.
4. Untuk membandingkan konsep wahyu dan akal menurut aliran-aliran teologi
Islam.
5. Untuk mengetahui fungsi wahyu.
6. Untuk menganalisis konsep wahyu dan akal menurut aliran-aliran teologi Islam.











Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 8

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Wahyu
Ayat al-Quran yang menjelaskan cara terjadinya komunikasi antara
Tuhan dengan Nabi-nabi di antaranya. Yang artinya sebagai berikut :


(:51)
Artinya : Tidak terjadi bahwa Allah berbicara kepada manusia kecuali
dengan wahyu, atau dari belakang tabir, atau dengan mengirim seorang
utusan, untuk mewahyukan apa yang ia kehendaki dengan seizing-Nya.
Sungguh ia maha Tinggi lagi maha Bijaksana. (Q.S. Asy-Syuura; 51)
Ayat di atas menjelaskan adanya komunikasi antara Tuhan dengan
manusia, baik cara penyampaian wahyu itu di belakang tabir maupun dengan
mengutus malaikat.
Wahyu yang dalam Islam bukanlah hanya isi tetapi juga teks Arab dari
ayat-ayat sebagai terkadang dalam al-Quran dalam teks Arabnya dari Tuhan
adalah bersifat absolute.
Namun pengertian Wahyu secara bahasa adalah isyarat yang cepat dan
tersembunyi bisikan buruk, ilham, perintah. Dan secara istilah adalah
hubungan antara para nabi dengan alam gaib, yang dengannya mereka dapat
menyingkapkan hakikat-hakikat Tuhan. Atau bisa disebut juga nama bagi
sesuatu yang disampaikan secara cepat dari Allah kepada Nabi-Nabi-Nya.
Dalam pengertian lain, wahyu berasal dari kata arab , dan al-wahy
adalah kata asli Arab dan bukan pinjaman dari bahasa asing, yang berarti
suara, api, dan kecepatan. Di samping itu juga mengandung arti bisikan,
isyarat, tulisan dan kitab. Selanjutnya mengandung arti pemberitahuan secara
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 9

sembunyi-sembunyi dan dengan cepat. Tentang penjelasan cara terjadinya
komunikasi antara Tuhan dan Nabi-Nabi, diberikan oleh al-Quran sendiri.
Para nabi melalui hubungan ini melihat secara langsung dan jelas
hakikat-hakikat eksistensi. Mereka menerima pengajaran dari Tuhan, yaitu
berupa risalah-risalah yang ditujukan kepada manusia. Mereka juga menerima
wahyu melalui kehadiran malaikat pada suatu waktu, dan pada waktu yang
lain melalui seruan, atau melalui cara yang lain.
Akan tetapi, hakikat wahyu tidaklah jelas secara sempurna bagi kita.
Sebab, fenomena wahyu sebagai sumber konsepsi masih samar karena ia
keluar dari sumber konsepsi yang bisa dikenal di dalam kehidupan manusia.
Dan dapat dipastikan bahwa fenomena wahyu mengharuskan ruh yang
bening, hati yang suci, dan jiwa yang mulia lagi luhur agar yang mendapat
wahyu senantiasa dalam kesiapan untuk menerima wahyu dari Tuhan.
Oleh karena itu, para nabi adalah orang-orang pilihan, baik sebelum
menerima wahyu maupun sesudahnya. Demikianlah kehendak Allah
berlangsung dalam memilih seseorang untuk menjadi nabi dan rasul-Nya.
Allah SWT berfirman, Allah lebih mengetahui dimana Dia menempatkan
tugas kerasulan (QS. Al-Anam [6]: 124).
W g~-.-U1NOEc 4 +O4-EcjOE^_
+^OEOU;N.- O .-c+OO)q4`uVg`
_O4u+^ /4EO}g`u-^-O7~ } O4C-47
_^>47.~E}-O)4
W4^gj pNO7;4C
-O+^~EE)CgE-
-EO4N4.-4gNO4=-ON`4O;_

Artinya : Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata:
"Kami tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa
dengan apa yang telah diberikan kepada utusan-utusan Allah". Allah
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 10

lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-
orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa
yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya.

Barangkali sebagian orang membayangkan bahwa fenomena wahyu
bertentangan dengan hukum-hukum alam; sebagian orang yang lain
menggambarkan bahwa fenomena ini berlawanan dengan ilmu pengetahuan
manusia. Akan tetapi, kedua gambaran ini sangat jauh dari kebenaran. Sebab,
sesungguhnya akal menjadikan fenomena wahyu ini masih dalam ruang
lingkup kemampuan filsafat dan ilmu pengetahuan.
Dari sini, maka bagaimana kita membatasi posisi kita dihadapan
fenomena wahyu? Pada hakikatnya, tidak terdapat alasan ilmiah yang
mengingkari fenomena wahyu ini. Dan ketika ilmu pengetahuan tidak mampu
menafsirkan fenomena wahyu ini, maka sangatlah tidak logis menganggapnya
sebagai hal yang bertentangan denga ilmu pengetahuan.
Menurut ajaran tassawuf, komunikasi dengan Tuhan dapat dilakukan
melalui daya rasa manusia yang berpusat di hati sanubari. Dalam tassawuf
dikenal tingkatan marifat, dimana seorang sufi dapat melihat Tuhan dengan
kalbunya dan dapat pula berdialog dengan Tuhan. Adanya komunikasi antara
orang-orang tertentu dengan Tuhan bukanlah hal yang ganjil. Oleh karena itu
adanya dalam Islam wahyu dari Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW,
bukanlah pula suatu hal yang tidak dapat diterima akal. Maka yang
diwahyukan dalam Islam bukanlah hanya isi tetapi juga teks Arab dari ayat-
ayat sebagai terkandung dalam al-Quran.
Dengan lain kata yang diakui wahyu dalam Islam adalah teks Arab di
rubah susunan kata / diganti kata sinonimnya, itu tidak lagi wahyu. Soal akal
dan wahyu, yang menjadi pegangan bagi ulama-ulama adalah teks wahyu
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 11

dalam bahasa Arab dan bukan penafsiran atau terjemahan, yang
diperbandingkan adalah pendapat akal dengan teks Arab dari al-Quran.

B. Pengertian akal.
Kata akal berasal dari kata Arab al-Aql yang dalam bentuk kata benda
tidak terdapat dalam al-Quran hanya membawa bentuk kata kerjanya aqaluh
dalam 1 ayat, taqilun 24 ayat, naqil 1 ayat, yaqiluha 1 ayat dan yaqilun 22
ayat. Kata-kata itu dalam arti paham dan mengerti.
Sebagai contoh dapat disebutkan ayat-ayat berikut yang artinya :
4pONE;C4- p
W-ONLg`uNC 7 ;~4
4p~E -C@O _u4g)`
4pONEOEC =U *.- O
+O4^O@OO47 }g` gu4
4` +OU4N -4
]OU;4C ^_)
Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu,
padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka
mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui.
(Q.S. Al-Baqarah : 75).
Akal dalam bahasa arab bermakna mencegah dan menahan, dan ketika
akal dihubungkan dengan manusia maka bermakna orang yang mencegah dan
menahan hawa nafsunya. Selain itu akal juga digunakan dengan makna
pemahaman dan tadabbur. Jadi akal dari segi leksikalnya bisa bermakna
menahan hawa nafsu sehingga dapat membedakan antara benar dan salah,
juga bisa bermakna memahami dan bertadabbur sehingga memperoleh
pengetahuan.
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 12

Akal dalam istilah mempunyai makna yang bermacam-macam dan
banyak digunakan dalam kalimat majemuk, dibawah ini macam-macam akal,
antara lain:
a. Akal instink: Akal manusia di awal penciptaannya, yakni akal ini
masih bersifat potensi dalam berpikir dan berargumen.
b. Akal teoritis: Akal yang memiliki kemampuan untuk mengetahui
sesuatu yang ada dan tiada (berkaitan dengan ilmu ontology), serta
dalam hal tindakan dan etika mengetahui mana perbuatan yang
mesti dikerjakannya dan mana yang tak pantas dilakukannya
(berhubungan dengan ilmu fiqih dan akhlak).
c. Akal praktis: Kemampuan jiwa manusia dalam bertindak, beramal
dan beretika sesuai dengan ilmu dan pengetahuan teoritis yang telah
dicerapnya .
d. Akal dalam istilah teologi bermakna proposisi-proposisi yang
dikenal dan niscaya diterima oleh semua orang karena logis dan riil.
e. Juga akal dalam istilah teologi bermakna proposisi-proposisi yang
pasti dalam membentuk premis-premis argumen dimana meliputi
proposisi badihi (jelas, gamblang) dan teoritis.
f. Akal substansi: sesuatu yang non materi dimana memiliki zat dan
perbuatan.
Tentu yang kita maksudkan dalam pembahasan agama dan akal disini
adalah akal yang berfungsi dalam argumentasi dan burhan dimana didasarkan
atas proposisi-proposisi yang pasti dan jelas, sehingga nantinya dapat
diketahui bahwa pengetahuan-pengetahuan yang bersifat pasti dan filosofis
(argumentasi filsafat) tidak memiliki kontradiksi dengan doktrin-doktrin suci
agama.

C. Cara Turunnya Wahyu
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 13

Dalam Islam wahyu atau sabda Tuhan yang disampaikan kepada Nabi
Muhammad SAW terkumpul semuanya dalam al-Quran. Salah satu ayat
menjelaskan :


(:51)
Artinya : Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-
kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang
tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan
kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya
Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (Q.S al-Syura : 51)
Melalui ayat diatas, kita mengetahui adanya tiga cara dalam
penyampaian wahyu kepada para nabi.
Pertama, wahyu secara langsung; berupa penyampaian
pengetahuan dan hukum dengan penghunjaman langsung ke dalam hati,
bukan melalui indera pendengaran, atau indera yang lainnya.
Kedua, wahyu dari belakang tabir dan di dalam bentuk mendengarkan
secara langsung.
Ketiga, wahyu melalui perantara malaikat, yaitu malaikat mendatangi
nabi dan menyampaikan wahyu kepadanya dengan cara memperdengarkan
kepada nabi itu. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa malaikat pernah
mendatangi nabi dalm wujud yang sebenarnya atau menjelma menjadi
seorang manusia.


Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 14

D. Hubungan Wahyu dan Akal (rasio)
Al-Quran kecuali sebagai wahyu, pedoman, atau petunjuk bagi umat
Islam juga menganjurkan pemakaian akal pikiran dan memperhatikan alam
semesta dengan perenungan yang mendalam, serta mencela terhadap taqlid
buta (dalam masalah agama) terutama dalam bidang kepercayaan kepada
Tuhan.
Al-Quran juga membawakan ayat-ayat mutasyabihat yang mendorong
kaum muslimin untuk mengadakan pembahasan dan penafsiran yang sudah
barang tentu bisa menyebabkan perselisihan pendapat diantara sesama kaum
muslimin dengan saling mengemukakan alasan-alasan kebenaran ajaran
agamanya, disamping menunjukkan kesalahan-kesalahan golongan-golongan
yang menentang kepercayaannya.
Sekiranya umat Islam tetap berpegang teguh kepada Al-Quran dan As-
Sunnah secara sempurna, tentunya tidak akan terjadi perpecahan dikalangan
umat Islam. Akan tetapi sebagaimana diketahui bahwa manusia secara
naluriah sudah membawa perbedaan-perbedaan watak, kecenderungan,
perbedaan lapangan ilmu pengetahuan yang dimiliki dan perbedaan
kemampuan akal mereka dalam menanggapi problematika kehidupan yang
bermacam-macam, sehingga hal-hal semacam ini menyebabkan terjadinya
perbedaan pendapat atau perpecahan dikalangan umat Islam antara lain:
1. Pengaruh hawa nafsu yang mempengaruhi akal atau pikiran dan
kecenderungan tiap-tiap orang sesuai dengan yang disenanginya.
2. Perbedaan kemampuan akal dalam menanggapi permasalahan hidup
yang beraneka macam coraknya.
3. Keterlibatan dalam pembahasan masalah yang rumit/pelik yang sukar
dipahami oleh akal.
4. Tumbuh berkembangnya faham yang datang dari luar Islam
dikalangan umat Islam.
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 15

5. Banyaknya orang-orang masuk Islam dari penganut-penganut agama
lain yang pura-pura beragama Islam.
6. Banyaknya penerjemahan buku-buku filsafat Yunani kedalam Bahasa
Arab pada masa akhir Bani Umayyah dan atau permulaan masa
Abbasiyah ssehingga banyak mempengaruhi pemikiran-pemikiran
ulama Islam.
7. Pengistinbatan hukum syari.
Teologi sebagai ilmu yang membahas soal ke-Tuhanandan kewajiban-
kewajiban manusia terhadap Tuhan, memakai akal dan wahyu dalam
memperoleh pengetahuan tentang kedua soal tersebut. Akal, sebagai daya
berpikir yang ada dalam diri manusia, berusaha keras untuk sampai kepada
diri Tuhan, dan wahyu sebagai pedoman dari Tuhan kepada manusia dengan
keterangan-keterangan tentang Tuhan dan kewajiban-kewajiban manusia
terhadap Tuhan.yang menjadi persoalan selanjutnya ialah sampai dimanakah
kemampuan akal manusia dapat mengetahui Tuhan dan kewajiban-kewajiban
manusia? Dan juga sampai manakah besarnya fungsi wahyu dalam kedua hal
ini?
Persoalan kekuasaan akal dan fungsi wahyu ini dihubungkan dengan
dua masalah pokok yang masing-masing bercabang dua. Masalah pertama
ialah soal mengetahui Tuhan dan masalah kedua ialah soal baik dan jahat.
Masalah pertama bercabang dua menjadi mengetahui Tuhan dan kewajiban
mengetahui Tuhan. Cabang dari masalah kedua ialah mengetahui baik dan
jahat, dan kewajiban mengerjakan perbuatan baik dan kewajiban menjauhi
perbuatan jahat.
Polemik yang terjadi antara aliran-aliran teologi Islam yang
bersangkutan ialah yang manakah diantara keempat masalah itu yang dapat
diperoleh melalui akal dan mana yang melalui wahyu.
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 16

Perbedaan metode berpikir secara garis besar dapat dikategorikan
menjadi dua macam, yaitu metode berpikir rasional dan metode berpikir
tradisional.
Metode berpikir rasional memiliki prinsip-prinsip berikut ini:
1. Hanya terikat pada ajaran-ajaran yang dengan tegas dan jelas disebut
dalam Al-Quran dan As-Sunnah, yakni ayat yang qathI (teks yang
tidak diinterpretasi lagi kepada arti lain, selain arti harfinya).
2. Memberikan kebebasan kepada manusia dalam berbuat dan
berkehendak.
3. Memberikan daya yang kuat kepada akal.

Adapun metode berpikir tradisional memiliki prinsip-prinsip berikut
ini:
1. Terikat pada ajaran-ajaran dan ayat-ayat yang mengandung arti dzanni
(teks yang boleh mengandung arti lain selain dari arti harfinya).
2. Tidak memberikan kebebasan kepada manusia dalam berkehendak dan
berbuat.
3. Memberikan daya yang kecil kepada akal.
Metode berpikir kedua macam diatas menyangkut peranan akal dan
wahyu. Teologi rasional memberikan peranan yang besar terhadap akal.
Dalam pandangan teologi ini, akal dapat mengetahui Tuhan, kewajiban
mengenai Tuhan, baik dan jahat, kewajiban mengerjakan yang baik dan
menjauhi yang jahat. Teologi tradisional memberikan peranan yang kecil
terhadap akal. Dari empat hal yang telah disebutkan diatas, hanya mengetahui
Tuhanlah yang dapat dijangkau akal. Selebihnya diketahui setelah turunnya
wahyu.
Dalam teologi Islam juga ada konsep tentang kebaikan dan keburukan
dalam timbangan akal (husn wa qubh al-aql), artinya akal dapat menetapkan
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 17

dan menilai berbagai perbuatan dan tindakan, serta menghukumi baik dan
buruknya atau benar dan salahnya. Akal menetapkan perbuatan baik Seperti
keadilan, kejujuran, balas budi, menolong orang-orang yang dalam kesulitan
dan kemiskinan, dan juga menilai perbuatan buruk seperti kezaliman,
menganiaya dan merampas hak dan milik orang lain. Dalam konteks ini, akal
dengan tanpa bantuan wahyu dapat menunjukkan kepada manusia mana
keadilan dan kezaliman, kejujuran dan kebohongan. Dalam hal ini juga syariat
Tuhan menegaskan dan memberi hidayah manusia supaya tidak mengingkari
keputusan akal. Oleh sebab itu, jika husn wa qubh al-aql ini dinafikan, maka
syariat tidak dapat ditetapkan. Nasiruddin Thusi berkata, Baik dan buruk
dalam mizan akal (husn wa qubh al-aql) secara mutlak tertegaskan, karena
keduanya berkaitan erat dalam keberadaan dan keabsahan syariat. Artinya
jika akal tidak dapat menetapkan kebaikan dan keburukan, maka syariat juga
tak dapat ditetapkan, karena bohong misalnya jika menurut akal hal iut
tidaklah buruk, maka manusia tidak bisa menilai perkataan jujur para Nabi-
nabi as adalah baik. Manusia juga tak dapat mengetahui bahwa para Nabi dan
Rasul as pasti tidak bohong. Jika manusia mengetahui dari syariat bahwa para
nabi pasti berkata jujur dan kejujuran adalah sifat yang mulia, maka muncul
masalah bahwa syariat yang belum diketahui apakah hasil dari perkataan jujur
atau bohong, sehingga dipercayai kejujuran dan kebenarannya. Yang pasti jika
baik dan buruk dalam pandangan akal dinafikan, maka sangat banyak hal dan
masalah yang dipertanyakan keabsahan dan kebenarannya, hatta syariat itu
sendiri.
Dari tinjauan , tidak bisa dikatakan bahwa akal dan syariat di alam
realitas saling berlawanan dan kontradiksi. Para ulama ushul fiqih mazhab
Syiah Itsna Asyariyah (dua belas imam) memiliki konsep dan pandangan
dalam bentuk sebagai berikut: Tuhan adalah pencipta akal dan pemimpin
masyarakat berakal serta Tuhan pulalah yang menganugrahkan wahyu dan
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 18

agama untuk manusia, maka tak mungkin wahyu dan agama tak sesuai
dengan akal, dan jika tak ada kesesuaian maka akan terjadi inner kontradiksi
dalam ilmu Tuhan. Oleh karena itu, kita meyakini bahwa tidak terdapat
kontradiksi antara akal dan wahyu, dan antara rasionalitas dan agama.
Menurut pandangan Mulla Sadra, salah seorang filosof besar Islam dan
pendiri hikmah mutaaliyah, dimana Filsafatnya mencerminkan pengaruh
timbal balik akal dan wahyu. Dia berusaha semaksimal mungkin membangun
filsafatnya dari kekuatan akal dan kesucian wahyu.
Jika kita tinjau hubungan antara muatan wahyu dan proposisi akal,
maka hubungan tersebut bisa dibagi menjadi tiga bagian:
1. Muatan wahyu sesuai dengan akal;
2. Muatan wahyu lebih tinggi dari akal;
3. Muatan wahyu kontradiksi dengan akal.
Menurut keyakinan Mulla Sadra, wahyu hakiki dan pesan hakiki
Tuhan tidak kontradiksi dengan proposisi akal (bagian ketiga). Dalam tinjauan
tersebut, dia berkata, Maka kami bawakan dalil kuat yang berkaitan dengan
topik ini, sehingga diketahui bahwa syariat dan akal memiliki kesesuaian
sebagaimana dalam hikmah-hikmah lainnya, dan mustahil syariat Tuhan yang
benar dan hukum-hukum-Nya berbenturan dan bertentangan dengan makrifat-
makrifat akal dan argumentasi rasional, dan binasa bagi filsafat yang teori-
teorinya tak sesuai dengan kitab suci Tuhan dan sunnah Nabi-Nya.
Menurut Mulla Sadra, hukum-hukum agama yang penuh dengan
cahaya suci Tuhan mustahil bertentangan dan bertolak belakang dengan
pengetahuan-pengetahuan universal akal, filsafat yang benar tak mungkin
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 19

teori-teorinya bertentangan dengan kitab suci Tuhan dan sunnah Nabi-Nya.
Dia berkeyakinan bahwa filsafat yang benar dan hakiki adalah filsafat yang
memiliki korelasi dengan wahyu suci Tuhan. Secara prinsipil, para filosof
yang perkataannya menyalahi agama bukanlah filosof hakiki. Dia berkata,
Dan barang siapa yang agamanya bukan agama yang dianut oleh para Nabi
as, maka pada dasarnya dia tidak mendapatkan sedikitpun bagian dari hikmah
(filsafat hakiki). Artinya, para filosof yang agamanya bukan agama para Nabi
as, maka dia tidak mengambil manfaat sama sekali dari filsafat.
Dari perkataan Mulla Sadra di atas, dapat disimpulkan bahwa dia
berusaha - dengan pandangan-pandangan argumentatif - membela gagasan
kebersesuaian akal dan wahyu, filsafat dan syariat, dan menolak adanya
kontradiksi diantara keduanya.
E. Perbandingan Konsep Wahyu dan Akal Menurut Aliran-aliran Teologi
Islam
1. Aliran Syiah
Berkaitan dengan teologi, mereka mempunyai doktrin-doktrin
tersendiri, yakni tauhid (kepercayaan kepada keesaan Allah), nubuwwah
(kepercayaan kepada kenabian), maad (kepercayaan akan adanya hidup
di akhirat), imamah (kepercayaan terhadap adanya imamah yang
merupakan hak ahlul bait), dan adl (keadilan Ilahi).
Melalui doktrin adl, mereka meyakini bahwa Tuhan memberikan
akal kepada manusia untuk mengetahui perkara yang benar atau salah
melalui perasaan. Manusia dapat menggunakan penglihatan,
pendengaran, dan indera lainnya untuk melakukan perbuatan, baik
perbuatan baik maupun perbuatan buruk. Jadi, manusia dapat
memanfaatkan potensi berkehendak sebagai anugerah Tuhan untuk
mewujudkan dan bertanggung jawab atas perbuatannya.
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 20

Melalui dokrin nubuwwah, mereka mengakui bahwa setiap manusia
sekalipun telah diberi insting, masih membutuhkan petunjuk dari Tuhan.
Rasul merupakan petunjuk hakiki utusan Tuhanuntuk memberikan acuan
dalam membedakan antara yang baik dan yang buruk di alam semesta.
Jadi, mereka juga meyakini wahyu yang diberikan kepada Rasulullah
untuk disampaikan kepada umat manusia. Melalui wahyu ini, mereka
dapat mengetahui kewajiban-kewajibannya.
Dari uraian tersebut, dapat diartikan bahwa aliran ini tidak
mengedepankan akal dalam dalam segala sesuatu, tetapi tidak juga
mengedepankan wahyu. Aliran ini menganggap bahwa keduanya,
mempunyai peran yang penting dalam kehidupan, dan saling berkaitan.
Wahyu tanpa akal, hanya akan menjadi sesuatu yang tidak berarti karena
tidak ada alat yang mampu menafsirkannya. Sedangkan akal tanpa
wahyu, tidak akan dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang
salah karena tidak adanya petunjuk.
2. Aliran Khawarij
Kaum Khawarij pada umumnya terdiri dari orang-orang Arab
Badawi. Hidup di padang pasir yang serba tandus membuat mereka
bersifat sederhana dalam cara hidup dan pemikiran, tetapi keras hati, serta
berani, dan bersikap merdeka, tidak bergantung pada orang lain. Sebagai
orang Badawi, mereka tetap jauh dari ilmu pengetahuan. Ajaran-ajaran
Islam dalam Al-Quran dan As-Sunnah mereka artikan secara harfi dan
harus dilaksanakan sepenuhnya. Mereka menolak untuk dipimpin orang
yang dianggap tidak pantas. Jalan pintas yang ditempuhnya adalah
membunuhnya. Termasuk orang yang mengusahakannya menjadi
khalifah. Mereka membuat doktrin yang menentang pemerintah.
Dari penjelasan mengenai aliran ini, dapat disimpulkan bahwa
metode berpikir yang digunakan Khawarij adalah metode berikir rasional.
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 21

Mereka memberi kebebasan manusia untuk berbuat/bertingkah laku
sesuai dengan akal pikiran mereka.
3. Aliran Murjiah
Aliran ini berpendapat bahwa orang Islam yang melakukan dosa
besar bukanlah kafir tetapi tetap mukmin dan tidak akan kekal dalam
neraka. Mereka memberi harapan bagi yang berbuat dosa besar untuk
mendapat rahmat Allah. Mereka menyerahkan hukuman bagi yang
berbuat dosa besar kepada Allah kelak.
Melalui keterangan tersebut, dapat kita simpulkan bahwa aliran ini
menggunakan metode berpikir tradisional dalam pemikirannya. Mereka
tidak memberikan kebebasan kepada manusia untuk berpikir dalam
menentukan hukum yang sebenarnya dapat mereka ambil dari Al-Quran
dan As-Sunnah. Jadi, mereka tidak menggunakan wahyu dengan
sebaiknya, dan tidak pula memberi daya yang kuat kepada akal.
4. Aliran Mutazilah
Mutazilah adalah aliran teologi yang bersifat tradisional dan
liberal, dan dikenal juga dengan nama Kaum Rasionalisme Islam.
Bagi Mutazilah akal maupun mengetahui keempat persoalan pokok di
atas, berterima kasih kepada Tuhan sebelum turunnya wahyu wajib,
mengerjakan yang baik dan menjahui yang jahat adalah wajib.
Aliran ini menjunjung tinggi filsafat Yunani dan menempatkannya
pada tingkatan yang mendekati tingkatan nabi-nabi, kemudian
mempercayai kebenaran pendapat-pendapatnya, bahkan dianggapnya
melengkapi ajaran-ajaran agama Islam.
Apa yang dimaksud dengan filsafat tersebut adalah pikiran. Karena
orang-orang Mutazilah asyik mempelajari filsafat dan banyak pula
terpengaruh oleh pikiran-pikirannya, maka mereka percaya akan kekuatan
dan kesanggupan otak manusia untuk mengetahui segala sesuatu dan
memperbandingkannya satu sama lain. Mereka memiliki pedoman bahwa
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 22

akal pikira harus didahulukan daripada syara. Karena itu, semua aliran
Mutazilah sepakat pendapatnya bahwa sebelum datang syara, orang
yang berakal dengan akalnya semata-mata bisa membedakan antara
perbuatan baik dan perbuatan buruk, dan lebih dari itu lagi akal bisa
mengetahui Tuhan. Kalau ia tidak sungguh-sungguh mengetahui, maka ia
akan mendapat siksa selama-lamanya.
Menurut golongan mutazilah bahwa mereka dapat menyimpulkan
bahwa mengetahui Tuhan dan kewajiban mengetahui Tuhan (khusul
marifah Allah dan wujud marifat Allah). Mengetahui baik dan jahat, dan
kewajiban mengerjakan perbuatan baik dan kewajiban menjauhi
perbuatan jahat (marifah al-husn wa al-Qubh dan wujud itinaq al-hasan
wa ijtinab al-qabih yang juga disebut al-tahsin wa al-tawbih)., semuanya
dapat diketahui oleh akal.
Mutazilah merupakan salah satu aliran kalam yang sangat rasional.
Makanya tidak heran ketika memberikan pandangan pemikirannya
mengenai akal dan wahyu, maka Mutazilah lebih mengutamakan akal
ketimbang wahyu. Sumber pengetahuan yang paling utama bagi
Mutazilah adalah akal. Dalam memahami sesuatu, maka orang-orang
Mutazilah menggunakan wahyu terlebih dahulu kemudian
mencocokannya dengan wahyu untuk mendukung kebenaran. Mereka
akan terus mengeksplor akal mereka kendatipun wahyu bertentangan
dengan akal. Sebagaimana Drs. Sudarsono, SH. M. Si. menjelaskan.
Menurut kaum Mutazilah sumber pengetahuan yang paling utama
adalah akal, sedangkan wahyu berfungsi mendukung kebenaran akal.
Menurut mereka apabila terjadi pertentangan antara ketetapan akal
dan ketentuan wahyu, maka yang diutamakan adalah ketetapan akal.
Adapun ketentuan wahyu kemudian ditakwilkan sedemikian rupa
supaya sesuai dengan ketetapan akal.
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 23

Walaupun demikian, Mutazilah tidak meninggalkan wahyu.
Sebagaimana Drs. Abuddin Nata, M. A. menjelaskan, sungguhpun
kaum Mutazilah banyak mempergunakan rasio, namun mereka tidak
meninggalkan wahyu. Dalam pemikiran-pemikirannya, mereka selalu
terikat kepada wahyu yang ada dalam Islam.1[2]
Jadi, penghargaan mereka terhadap kekuatan akal sangat tinggi,
sehingga menurutnya sebelum datang syara, seseorang yang berakal
dapat mencapai atau mengetahui Tuhan dengan penyelidikan akal,
artinya sesudah melalui proses pemikiran dan perenungan.
Namum Tokoh Mutazilah yang lain seperti al-Nazaam juga
mengatakan sedemikian sebelum wahyu datang akal wajib mengetahui
Allah, mengetahui yang baik dan yang jahat. Golongan al-Murdar yang
dipelopori oleh Isa ibn Sabih lebih jauh lagi menurut mereka akal wajib
mengetahui Allah, mengetahui hukum-hukum dan sifat Tuhan, walaupun
wahyu belum dating orang yang tidak berterima kasih kepada Tuhan
mendapat hukuman kekal dalam neraka.
Dengan demikian, bagi kaum Mutazilah daya akal kuat tetapi
fungsi wahyu penting yaitu memperkuat apa yang telah diketahui oleh
akal. Memang akal dapat mengetahui yang baik dan yang jahat. Tetapi
tidak semua yang baik itu baik dan yang jahat itu jahat seperti apa yang
diketahui oleh akal. Jadi hanya sebagian saja yang diketahui oleh akal.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bagi kaum Mutazilah akal
cukup mampu mengetahui keempat persoalan pokok tersebut, akan tetapi

1[2] Abuddin Nata, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1998), hlm.
22.
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 24

persoalan baik dan jahat yang dapat diketahui akal secara garis besarnya
saja. Sedangkan secara terperinci ditetapkan oleh wahyu. Oleh sebab itu,
bagi kaum Mutazilah fungsi wahyu lebih banyak bersifat konfirmasi
daripada informasi.
5. Aliran Jabariyah
Masyarakat Arab sebelum Islam kelihatannya dipengaruhi oleh
aliran jabariyah ini. Bangsa Arab, yang pada waktu itu bersifat serba
sederhana dan jauh dari pengetahuan, terpaksa menyesuaikan hidup
mereka dengan suasana padang pasir, dengan panasnya yang terik serta
tanah dan gunungnya yang gundul. Dalam dunia yang demikian, mereka
tidak banyak melihat jalan untuk merubah keadaan sekeliling mereka
sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Mereka merasa dirinya lemah
dan tak berkuasa dalam menghadapi kesukaran-kesukaran hidup yang
ditimbulkan suasana padang pasir. Dalam kehidupan sehari-hari mereka
banyak tergantung pada kehendak natur. Hal ini membawa mereka pada
sikap fatalistik.
Aliran ini berpendapat bahwa Tuhan menciptakan perbuatan
manusia, tetapi manusia mengambil bagian atau peran dalam
mewujudkan perbuatan-perbuatan itu. Dengan demikian, manusia dalam
pandangan Jabariyah tidak seperti wayang yang gerakannya bergantung
pada dalang, sebab tenaga yang diciptakan Tuhan dalam diri manusia
mempuyai efek untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya.
Jadi, aliran ini memberikan daya yang kecil kepada akal dan tidak
memberikan kebebasan kepada manusia dalam berkehendak dan berbuat.
Secara tidak langsung, aliran ini menggunakan metode berpikir
tradisional.
6. Aliran Qadariyah
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 25

Seringkali orang menamakan Qadariyah dengan Mutazilah karena
kedua aliran ini sama-sama percaya bahwa manusia mempunyai
kemampuan untuk mewujudkan tindakan tanpa campur tangan Tuhan.
Harun Nasution menjelaskan tentang doktrin Qadariyah bahwa
manusia berkuasa atas perbuatan-perbuatannya. Manusia sendirilah yang
melakukan baik atas kehendak dan kekuasaan sendiri dan manusia sendiri
pulayang melakukan atau menjauhi perbuatan-perbuatan jahat atas
kemauan dan dayanya sendiri. Salah seorang pemuka Qadariyah
mengemukakan bahwa manusia hidup mempunyai daya. Selagi hidup
manusia mempunyai daya, ia berkuasa atas segala perbuatannya.
Uraian tersebut diatas telah menjelaskan bahwa aliran ini
menempatkan akal diatas segalanya. Sehingga metode berpikir yang
dipakai aliran ini adalah metode berpikir rasional, sama dengan
Mutazilah.
7. Aliran Asyariyah
Menurut Asyariyah, akal dan wahyu memiliki fungsi yang berbeda
Fungsi akal sangat kontradiksi dengan fungsi wahyu.
Fungsi akal adalah untuk mengetahui hal-hal yang konkrit/masalah
fisika saja. Ia tidak berkuasa mengetahui hal-hal yang bersifat abstrak
atau metafisik. Terutama dalam hal ketuhanan; akal tidak mampu untuk
mengetahui tugas-tugas kewajiban manusia kepada Tuhannya. Ia tidak
mampu mengetahui hukum-hukum yang baik serta yang buruk, juga
tentang mana yang wajib dikerjakan dan mana yang mesti ditinggalkan.
Sedang fungsi wahyu sangat luas dan tidak terbatas. Ia pemberi
informasi kepada manusia tentang hal-hal yang bersifat metafisik,
menyingkap rahasia yang bersifat abstrak dan gaib bagi manusia.2[3]

2[3] Sudarsono, Filsafat Islamhlm. 11.
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 26

Al-Asyari kelihatannya ingin memakai wahyu dan akal secara
seimbang dalam membahas soal-soal agama, namun wahyu namapak
lebih diutamakan daripada akal. Akal hanya berfungsi sebagai alat untuk
memperkuat terhadap apa yang ditegaskan oleh wahyu.3[4]
Al-Asyari menolak sebagian besar dari pendapat kaum Mutazilah.
Dalam pendapatnya, segala kewajiban manusia hanya dapat diketahui
melalui wahyu. Akal tak dapat membuat sesuatu menjadi wajib dan tak
dapat mengetahui bahwa mengerjakan yang baik dan menjauhi yang
buruk adalah wajib bagi manusia. Betul akal dapat mengetahui Tuhan,
tetapi wahyulah yang mewajibkan orang mengetahui Tuhan dan berterima
kasih kepada-Nya. Juga dengan wahyulah dapat diketahui bahwa yang
patuh kepada Tuhan akan memperoleh upah dan yang tidak patuh kepada-
Nya akan mendapat hukuman.
Dari kutipan diatas, dapat disimpulkan bahwa menurut pendapat Al-
Asyari akal tak mampu untuk mengetahui kewajiban-kewajiban manusia.
Untuk itulah wahyu diperlukan. Jadi menurut aliran ini, kewajiban-
kewajiban diketahui dengan wahyu dan pengetahuan diperoleh dengan
akal. Akal tidak dapat menentukan bahwa mengerjakan yang baik dan
menjauhi yang jahat adalah wajib, karena akal tidak membuat sesuatu
menjadi harus atau wajib. Wahyu sebaliknya, tidak pula mewujudkan
pengetahuan. Wahyu membawa kewajiban-kewajiban.
Namun Golongan Asyariyah tidak sependapat dengan mutazilah.
Dan mengatakan bahwa betul akal dapat mengetahui Tuhan, tetapi
wahyulah yang mewajibkan orang mengetahui Tuhan dan berterima
kasih kepadanya. Juga dengan wahyulah dapat diketahui bahwa yang

3[4] Abuddin Nata, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawufhlm. 75.
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 27

patuh kepada Tuhan akan memperoleh upah dan yang tidak patuh
memperoleh hukuman.
Menurut al-Baghdadi akal dapat mengetahui Tuhan, tetapi tidak
dapat mengetahui kewajiban berterima kasih kepada Tuhan, karena
segala kewajiban dapat diketahui hanya melalui wahyu. Al-Ghazali,
seperti al-Asyari dan al-Baghdadi juga berpendapat bahwa akal tak dapat
membawa kewajiban-kewajiban bagi manusia, kewajiban-kewajiban
ditentukan oleh wahyu.

8. Aliran Maturudiyah
Al-Maturidiyah terbagi menjadi dua, yaitu Maturidiyah Bukhara
dan Maturidiyah Samarkand. Keduanya berbeda pendapat dalam
memahami akal dan wahyu. Jika Maturidi Samarkand mewajibkan
mengetahui Tuhan dengan akal, sedangkan Maturidi Bukhara tidak
demikian.4[5] Wahyu bagi golongan pertama perlu hanya untuk
mengetahui kewajiban tentang baik dan buruk, sedang menurut pendapat
golongan kedua wahyu perlu untuk mengetahui kewajiban-kewajiban
manusia.5[6]
Maturidiyah samarkand dengan tokohnya Abu Mansur al-Maturidi
dan Maturidiyah Bukhara dengan tokohnya al-Bazdawi. Maturidiyah
Samarkand berpendapat hanya satu yang tidak dapat diketahui akal yaitu
butir empat. Untuk itu, diperlukan wahyu. Ketiga butir lainnya dapat
diketahui akal.
Dalam hal yang demikian Maturidiyah Samarkand sependapat
dengan Mutazilah yang mengatakan akal manusia mampu mengetahui

4[5] Ibid., hlm. 77.
5[6] Abuddin Nata, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawufhlm. 77.
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 28

Tuhan, kewajiban mengetahui Tuhan dan mengetahui yang baik dan yang
jahat. Namun, kewajiban mengerjakan yang baik dan menjauhi yang jahat
bagi Mutazilah dapat diketahui akal tetapi bagi Maturidiyah Samarkand
diketahui dengan wahyu. Sebagaimana penjelasan al-Bazdawi, Percaya
kepada Tuhan dan berterimakasih kepada-Nya sebelum adanya wahyu
adalah wajib dalam paham Mutazilah Al-Syaikh Abu Mansur al-
Maturidi dalam hal ini sepaham dengan Mutazilah. Demikian jugalah
umumnya Ulama Samarkand dan sebahagian dari alim ulama Irak.
Menyangkut masalah pengetahuan perbuatan manusia tentang
keburukannya menurut Maturidiyah Samarkand ini ialah : bagi seluruh
(al-Asyya) itu terhadap keburukan yang sebenarnya (zati). Sementara itu
akal mampu mengetahui sebahagian dari keburukan perbuatan itu.
Maturidi membagi sesuatu (al-assya) itu kepada tiga bagian.
Pertama : Sesuatu yang dapat diketahui kebaikannya dengan akal
Kedua : Sesuatu yang tidak jelas kebaikan dan keburukannya untuk
diketahui oleh akal.
Ketiga : Bagian terakhir ini tidak dapat diketahui kecuali melalui
petunjuk syariat.
Akal, kata Al-Maturidi, mengetahui sifat baik yang terdapat dalam
yang baik dan sifat buruk yang terdapat dalam yang buruk. Dengan
demikian, akal juga tahu bahwa berbuat buruk adalah buruk dan berbuat
baik adalah baik, dan pengetahuan inilah yang memastikan adanya
perintah dan larangan. Akal selanjutnya memerintah manusia
mengerjakan perbuatan-perbuatan yang akan mempertinggi kemuliaan
dan melarang manusia mengerjakan perbuatan-perbuatan yang membawa
pada kerendahan.
Jelaslah bahwa dalam pendapat Al-Maturidi, akal dapat mengetahui
tiga persoalan pokok, sedang yang satu lagi yaitu kewajiban berbuat baik
dan menjauhi yang buruk dapat diketahui hanya melalui wahyu.
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 29

Namum Argument yang lain dari al-Maturidi tentang akal ini adalah
akal mengetahui bahwa bersikap adil dan lurus adalah baik dan bahwa
bersikap tak lurus adalah buruk. Oleh karena itu, akal memang mulia
terhadap orang yang adil serta lurus, dan memandang rendah terhadap
orang yang bersikap tak adil dan tak lurus. Akal selanjutnya memerintah
manusia mengerjakan perbuatan-perbuatan yang akan mempertinggi
kemuliaan dan melarang manusia mengerjakan perbuatan-perbuatan yang
akan mempertinggi kemuliaan dan melarang manusia mengerjakan
perbuatan-perbuatan yang membawa kepada kerendahan. Perintah dan
larangan itu dengan demikian menjadi wajib dengan kemestian akal (fa
yajib al-amr wa al-nahy bi marifah al-aql).
Diisyaratkan dari kutipan di atas yang diwajibkan akal adalah
adanya perintah dan larangan bukan mengerjakan yang baik dan buruk.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa bagi Maturidiyah
Samarkand akal manusia mampu mengetahui tiga butir persoalan pokok
tersebut. Tentang kewajiban menjalankan yang baik dan menjauhi yang
jahat diketahi dengan wahyu. Kalau dibandingkan dengan Asyariyah,
daya akal bagi Maturidiyah Samarkand lebih tinggi, baginya tiga yang
diketahui akal, tetapi bagi Asyariyah hanya satu. Adapun maturidiyah
Bukhara, baginya hanya dua saja yang dapat diketahui akal, yaitu adanya
Tuhan dan kebaikan serta kejahatan. Akibat dari pendapat ini ialah
mengetahui Tuhan dalam arti berterima kasih kepada Tuhan sebelum
turunnya wahyu tidaklah wajib bagi manusia. Dan ini memang
merupakan pendapat golongan Bukhara, alim ulama Bukhara kata Abu
Uzbah sebelum adanya rasul-rasul, percaya kepada Tuhan bukanlah
merupakan dosa.
Karena kewajiban mengetahui Tuhan dan kewajiban berbuat baik
dan meninggalkan yang buruk hanya diketahui sesudah adanya rasul.
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 30

Fungsi akal bagi Maturidiyah Bukhara adalah untuk pengetahuan, dan
kewajiban diterima manusia dari wahyu.
Dibandingkan dengan Maturidiyah Samarkand, daya akal bagi
Maturidiyah Bukhara ini lebih kecil, karena Maturidiyah Samarkand, akal
baginya mampu mengetahui tiga persoalan pokok bagi Maturidiyah
Bukhara hanya dua saja, tetapi kalau dibanginakan dengan Asyariyah,
daya akal tinggi yaitu dua banding satu.
Namun Al-Maturidi, bertentangan dengan pendapat Asyariyah
tetapi sepaham dengan Mutazilah. Bahwa yang diwajibkan akal ialah
perintah dan larangan bukan mengetahui mengerjakan yang baik dan
menjauhi yang buruk, yang pada intinya bahwa akal hanyalah dapat
mengetahui tiga persoalan pokok. Sedang yang satu lagi yaitu kewajiban
berbuat baik dan menjauhi yang buruk dapat diketahui hanya melalui
wahyu. Ini juga sependapat dengan golongan Samarkand dan Bukhara.
Walaupun demikian, sebagian dari golongan Bukhara berpendapat bahwa
akal tidak dapat mengetahui baik dan buruk dan sebenarnya mereka
masuk dalam aliran Asyariyah dan Muturidiah.

F. Fungsi Wahyu
Jika untuk mengetahui Tuhan dan sifat-sifat-Nya, wahyu, dalam
pendapat aliran teologi rasional, tak mempunyai fungsi apa-apa, untuk
mengetahui cara memuja dan menyembah Tuhan, wahyu diperlukan. Akal
betul dapat mengetahui kewajiban berterima kasih kepada Tuhan, tetapi
wahyulah yang menerangkan kepada manusia cara yang tepat menyembah
Tuhan.
Selanjtnya bagi kaum Mutazilah, wahyu mempunyai fungsi memberi
penjelasan tentang perincian hukuman dan upah yang akan diterima manusia
di akhirat.
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 31

Fungsi selanjutnya dari wahyu adalah sebagai pengingat manusia akan
kelalaian mereka dan memperpendek jalan untuk mengetahui Tuhan.
Bagi kaum Asyariyah, wahyu mempunyai fungsi yang banyak sekali.
Sekiranya wahyu tidak ada, manusia akan bebas berbuat apa saja yang
dikehendakinya, dan sebagai akibatnya masyarakat akan berada dalam
kekacauan. Wahyu perlu untuk mengatur masyarakat dan memberi tuntutan
kepada manusia untuk mengatur hidupnya di dunia.
Mengenai fungsi ini dikatakan bahwa wahyu mempunyai kedudukan
terpenting dalam aliran Asyariyah dan fungsi terkecil dalam faham
mutazilah. Bertambah besar fungsi diberikan kepada wahyu dalam suatu
aliran, bertambah kecil daya akal dalam aliran itu. Sebaliknya bertambah
sedikit fungsi wahyu dalam suatu aliran, bertambah besar daya akal pada
aliran itu. Akal, dalam usaha memperoleh pengetahuan, bertindak atas usaha
dan daya sendiri dan dengan demikian menggambarkan kemerdekaan dan
kekuasaan manusia. Wahyu sebaliknya, menggambarkan kelemahan manusia,
karena wahyu diturunkan Tuhan untuk menolong manusia memperoleh
pengetahuan-pengetahuan.

G. Batasan Akal dan Wahyu
Tak dapat diragukan dan dipungkiri bahwa akal memiliki kedudukan
dalam wilayah agama, yang penting dalam hal ini menentukan dan
menjelaskan batasan-batasan akal, sebab kita meyakini bahwa hampir semua
kaum muslimin berupaya dan berusaha mengambil manfaat akal dalam
pengajaran agama dan penjelasan keyakinan agama secara argumentatif. Para
filosof Islam dalam hal ini juga berusaha menjelaskan batasan antara akal dan
syariat (hukum-hukum agama). Al-Kindi (lahir 185 H), filosof Islam pertama
yang mendalami filsafat dan terlibat dalam penerjemahan karya-karya filsafat
adalah tokoh yang sangat memperhatikan masalah tersebut. Dia berupaya
menerangkan kesesuaian akal dan wahyu, antara filsafat dan syariat. Menurut
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 32

keyakinan dia, jika filsafat adalah ilmu yang mendalami hakikat-hakikat
realitas sesuatu, maka mengingkari filsafat identik mengingkari hakikat
sesuatu, yang pada akhirnya menyebabkan ketidaksempurnaan pengetahuan.
Oleh sebab itu, tidak ada kontradiksi antara agama dan filsafat. Dan jika
terdapat kontradiksi secara lahiriah antara wahyu dan pandangan-pandangan
filsafat, maka cara pemecahannya adalah melakukan penafsiran dan tawil
terhadap teks-teks suci agama. Metode ini dilanjutkan dan diteruskan oleh Al-
Farabi.
Al-Farabi juga berpandangan bahwa agama dan filsafat sebagai dua
sumber pengetahuan yang memiliki satu hakikat. Dia menafsirkan kedudukan
seorang Nabi dan filosof, berdasarkan empat tingkatan akal teoritis, dimana
Nabi adalah akal musthafa (akal yang paling tinggi) dan seorang filosof
adalah akal fal (akal aktif), jadi perbedaan nabi dan filosof sama dengan
perbedaan kedua akal tersebut, akal musthafa lebih tinggi dari akal aktif. Perlu
kita ketahui, dikalangan filosof Islam akal aktif tersebut ditafsirkan sebagai
malaikat Jibril as atau ruhul qudus dalam agama Islam.
Ibnu Sina membagi dua filsafat yaitu filsafat teoritis dan filsafat
praktis. Poin penting dalam pandangan Ibnu Sina tentang hubungan akal dan
wahyu adalah pandangannya tentang dasar pembagian filsafat praktis dimana
berpijak pada syariat Ilahi. Ibnu Sina berkata, maka filsafat praktis dibagi
menjadi (al-hikmah al amaliyyah) yaitu pengaturan negara (al-hikmah al-
madaniyyah), pengaturan keluarga (al-hikmah al-manziliyyah), dan akhlak
dan etika (al-hikmah al-khulqiyyah), ketiga bagian ini didasarkan pada syariat
Tuhan dan kesempurnaan batasan-batasannya dijelaskan dengan syariat serta
pengamalannya sesudah manusia memperoleh pengetahuan teoritisnya
terhadap undang-undang dan rincian pengamalannya.
Sebagaimana kita saksikan dalam perkataan Ibnu Sina tersebut bahwa
dia memandang sumber dan dasar pembagian-pembagian filsafat praktis
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 33

berpijak pada syariat Tuhan dan dia juga memandang bahwa batas-batas
kesempurnaan pembagian tersebut ditentukan oleh syariat.
Pandangan-pandangan para filosof Islam tersebut menjelaskan tentang
wilayah dan batasan akal terhadap wahyu, dimana akal menentukan dan
mendefenisikan hal-hal universal yang berhubungan dengan pandangan dunia
agama, dan adapun hal-hal yang bersifat terperinci dan pengamalannya
ditentukan oleh agama itu sendiri. Tujuan agama dan kemestian manusia
untuk beragama serta penentuan agama yang benar dibebankan pada
kemampuan akal. Akal tidak memahami masalah-masalah seperti dari mana
manusia datang, tujuan hakiki kehadiran dia, cara dia berterima kasih kepada
Pencipta, kemana manusia setelah meninggal, dan bagaimana bertemu
Tuhannya, tetapi akal manusia memahami bahwa pertanyaan-pertanyaan ini
hanya dapat dijawab oleh agama (dalam pengertian khusus) dan bukan
tanggung jawab serta diluar kemampuan akal pikiran manusia.
Oleh karena itu, secara umum manusia menyaksikan bahwa masalah-
masalah tersebut merupakan batasan dan wilayah agama, dan hanya agama
yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Secara rinci, akal tak
mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dengan demikian, untuk
memperoleh jawaban secara mendetail dan terperinci dari pertanyaan-
pertanyaan tersebut tak ada cara lain selain merujuk kepada agama dan syariat
suci Tuhan.
Konklusi dari pembahasan ini adalah akal memiliki kemampuan dalam
membangun argumentasi yang kokoh tentang pandangan dunia agama, tetapi
akal tak mampu memahami secara partikular dan mendetail batasan dan
tujuan hakiki agama. Oleh sebab itu, manusia harus merujuk kepada agama
dan syariat yang diturunkan Tuhan lewat Nabi-Nya.

Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 34

H. Analisis Perbandingan Konsep Wahyu dan Akal Menurut Aliran-aliran
Teologi Islam
Masalah yang menjadi pokok dalam kekuatan akal dan fungsi wahyu
ini ada empat, yaitu mengetahui Tuhan, kewajiban mengetahui Tuhan,
mengetahui baik dan jahat, serta kewajiban mengerjakan yang baik dan
menjauhi yang jahat.
Berdasarkan perbandingan diatas, jelaslah bahwa dalam konsep wahyu
dan akal terdapat perbedaan pendapat diantara aliran-aliran teologi Islam.
Perbedaan itu menurut Harun Nasution, sedikit banyak dipengaruhi oleh teori
kekuatan akal dan fungsi wahyu.
Aliran-aliran yang berpendapat bahwa akal mencapai kewajiban
mengetahui Tuhan (KMT) adalah aliran-aliran yang menggunakan metode
pemikiran rasional. Aliran-aliran ini memberi daya yang kuat kepada akal
untuk sampai kepada pengetahuan tentang KMT. Aliran-aliran tersebut adalah
Khawarij, Mutazilah, Qadariyah, dan Maturidiyah.
Sebaliknya, aliran-aliran yang berpendapat bahwa akal tidak dapat
mencapai kewajiban mengenai Tuhan adalah aliran-aliran yang menggunakan
metode pemikiran tradisional. Aliran-aliran ini terikat pada wahyu dan
memberi daya yang kecil kepada akal. Aliran-aliran tersebut adalah Syiah,
Murjiah, Asyariyah, dan Jabariyah.
Walaupun kebenaran wahyu itu mutlak, tetapi sebagai bukti kebijakan Allah,
nabi dan rasul tidak diperbolehkan memaksakan ajarannya (kebenaran) kepada orang
lain.6
Demikian pula yang menjadi kebiasaan para mujtahid, mereka tidak pernah
memaksakan hasil ijtihadnya kepada orang lain untuk mengikutinya, bahkan
mempersilahkan meninggalkannya ketika didapatkan hasil ijtihad yang lebih valid.

6 Nurcholish Madjid, Masyarakat Religius, (Jakarta: Paramadina, 2004), hal. 74.
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 35

Pada zaman modern, Islam berada dalam ujian yang sangat berat, khususnya
ujian epistemologis. Ilmu ushul fiqh yang mestinya dapat berperan sebagai
metodologi baku bagi seluruh pemikiran intelektual Islam, dipersempit wilayah
kerjanya hanya terbatas dalam bidang hukum Islam. Oleh karenanya sangat beralasan
jika dikatakan bahwa kemunduran fiqh Islam dikarenakan kurang relevannya
perangkat teoritik ilmu ushul fiqh untuk memecahkan masalah-masalah kontemporer.
Hal inilah yang kemudian menjadikan pekerjaan besar bagi para pemikir Islam untuk
merumuskan dan memberikan solusi intelektual terhadap permasalahan tersebut. Al-
Jabiri misalnya melihat ada tiga tipologi dalam wacana pemikiran Islam, yaitu
modernis (asraniyyun, hadathiyyun), tradisionalis (salafiyyun), dan eklektis
(taufiqiyyun).7
Kaum modernis (asraniyyun, hadathiyyun) menawarkan adopsi
modernitas dari Barat sebagai model paradigma peradaban modern untuk
masa kini dan masa depan. Sebaliknya, kaum tradisionalis (salafiyyun)
berupaya mengembalikan kejayaan Islam masa lalu, sehingga selalu
mempertahankan refrensi masa lalu sebagai hal yang masih relevan untuk
menjawab masa kini. Sedangkan kaum eklektis (taufuqiyyun) berupaya
mengadopsi unsur-unsur terbaik yang terdapat dalam model Barat modern
maupun Islam (masa lalu) serta mempersatukan diantara keduanya dalam
bentuk yang dianggap memenuhi kedua model tersebut.
Menurut al-Jabiri, bahwa tipologi itu terjadi karena terdapat relasi signifikan
pada titik tertentu antara satu konstruksi pemikiran dengan realitas sosial sebagai
respon dan dialektika pemikiran terhadap fenomena yang sedang terjadi dan
berkembang di masyarakat.8

7 Lihat M. Abid al-Jabiri, Post-Tradisionalisme Islam, terj. Ahmad Basso, (Yogyakarta: LKiS, 2000),
h. 186.
8 Muhammad Abid al-Jabiri, Isykaliyat al-Fikr al-Arabi al-Muasir, (Beirut: Markaz
Dirasah a-Wihdah al-Arabiyyah, 1089), h. 13.
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 36

Doktrin ideal yang bersumber dari wahyu Tuhan, ternyata tidak mampu
berhadapan dengan ujian yang satu ini, sehingga wahyu menjadi tidak dapat
difungsikan dan dirasakan sebagai mana mestinya.9 Demikian, agar wahyu ini
dapat difungsikan dan dirasakan sebagai mana mestinya, manusia harus mengerti
dan memahami substansi nilai yang terkandung di dalamnya. Manusia harus
melakukan apresiasi intelektuil atas doktrin ideal tersebut yang ditopang dengan
kerangka metodologi yang tepat. Prasarat yang harus ditepati adalah harus ada
kesepakatan untuk melakukan pemahaman intelektual bahwa agama adalah sistem
simbolik yang tidak cukup difahami sebagai formula-formula abstrak tentang
kepercayaan dan nilai saja.10
Apresiasi atas agama harus dilakukan pengungkapan makna dibalik teks
kemudian dilakukan penafsiran. Dari sana akan tergambarkan bahwa Islam adalah
ajaran yang dinamis. Dinamisme itu berada di antara Islam Ideal dan Islam Sejarah.
Kedinamisan itu terletak dalam ajarannya yang menganjurkan agar akal dapat
memahami ayat atau tanda yang terdapat dalam ayat. Di situlah Islam mengenal
konsep ijtihad yang digunakan sebagai metode untuk merekonstruksi pemikiran
Islam.11 Melalui cara seperti ini seorang mujtahid dapat memastikan posisi akal
pikirannya dalam mencampuri hukum Allah. Ini berarti, antara akal dan wahyu harus
ditempatkan pada posisi yang proporsional dalam artian bahwa wahyu tidak akan
mengebiri akal tetapi akal dalam perannya tidak boleh melampaui wahyu karena,
kebenaran wahyu bersifat mutlak dan kebenaran akal manusia bersifat relatif
(nisbi).12 Keduanya tidak boleh saling menegasikan tetapi harus berkelindan untuk
memberikan solusi terhadap problematika kehidupan. Karena wahyu sebagai teks

9 Mastuhu & Deden Ridwan, Tradisi Penelitian Agama Islam, (Bandung : Penerbit
NUANSA PUSJARLIT, 1998), h. iii.
10 Ibid, h. iv.
11 Ibid.
12 Said Husain al-Munawwar, Op. Cit., h. 27.
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 37

suci dan problematika sebagai realita pada hekekatnya berasal dari sumber yang
sama. Oleh karenanya dalam memahami teks harus tidak boleh terlepas dari konteks.
Hal itu penting, karena kalau kita mencoba mengkontekkan antara nash (teks
suci) dan al-Waqi (kenyataan) maka prasarat yang harus dipahami adalah bahwa
keduanya merupakan dua wilayah yang jika dapat dikawinkan maka akan
memunculkan pemahaman yang komprehensip. Corak dalam membaca teks menurut
asy-Syatibi ada tiga yaitu qiraah salafiyyah, qiraah tawiliyyah, dan qiraah
maqashidiyyah.13 Sementara dalam wilayah al-Waqi ada beberapa disiplin ilmu
yang digunakan dalam memahami fenomena-fenomena sosial, politik dan sebagainya
misalnya sosiologi, antropologi, dan seterusnya. Pada wilayah inilah metode ilmiah
cukup baik untuk menjadi komandan kajian. Dengan demikian idealnya adalah ketika
melakukan pembacaan teks kemudian dikontekkan pada fenomena sosial seharusnya
tidak boleh meninggalkan disiplin ilmu dengan segala perangkat metode ilmiah yang
ada pada wilayah al-Waqi. Jika tidak maka pemahaman atas teks tersebut akan out
of date, sehingga tidak applicable.








13 Lebih jelas lihat asy-Syatibi, Loc. Cit.
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 38

BAB III
PENUTUPAN

Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, kami dapat menyimpulkan
beberapa hal, yaitu:
1. Wahyu adalah hubungan antara para nabi dengan alam gaib, yang dengannya
mereka dapat menyingkapkan hakikat-hakikat Tuhan.
Dalam pengertian lain, wahyu berasal dari kata arab , dan al-wahy adalah
kata asli Arab dan bukan pinjaman dari bahasa asing, yang berarti suara, api, dan
kecepatan.
2. Penyampaian wahyu kepada nabi dapat dibedakan ke dalam 3 cara, yaitu:
Wahyu secara langsung
Wahyu dari belakang tabir dan dalam bentuk mendengarkan secara langsung
Wahyu dalam bentuk malaikat
3. Hubungan antara kemampuan akal dan fungsi wahyu melahirkan empat
permasalahan, yaitu mengetahui Tuhan, kewajiban mengetahui Tuhan,
mengetahui baik dan jahat, serta kewajiban mengerjakan yang baik dan menjauhi
yang jahat.
4. Aliran-aliran teologi Islam mempunyai pendapat yang berbeda-beda mengenai
kemampuan akal dan fungsi wahyu. Hal ini dapat dilihat dari metode pemikiran
tiap aliran.
Syiah : Metode berpikir tradisional
Khawarij : Metode berpikir rasional
Murjiah : Metode berpikir tradisional
Mutazilah : Metode berpikir rasional
Jabariyah : Metode berpikir tradisional
Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 39

Qadariyah : Metode berpikir rasional
Asyariyah : Metode berpikir tradisional
Maturidiyah : Metode berpikir rasional
5. Semakin besar fungsi diberikan wahyu dalam suatu aliran, semakin kecil
kemampuan akal dalam aliran tersebut.
6. Sebaliknya, semakin kecil fungsi diberikan wahyu dalam suatu aliran, semakin
besar kemampuan akal dalam aliran tersebut.
7. Aliran-aliran yang berpendapat bahwa akal mencapai kewajiban mengetahui
Tuhan adalah aliran yang menggunakan metode pemikiran rasional, yaitu
Khawarij, Mutazilah, Qadariyah, dan Maturidiyah.
8. Aliran-aliran yang berpendapat bahwa akal tidak dapat mencapai kewajiban
mengetahui Tuhan adalah aliran yang menggunakan metode pemikiran
tradisional, yaitu Syiah, Murjiah, Jabariyah, dan Asyariyah.















Kelompok 7 (C Class)
Teologi Islam 40


DAFTAR PUSTAKA
Abuddin,Nata. 1998. Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf.Jakarta. PT RajaGrafindo
Persada
Bashori, 2001, Ilmu Tauhid, Malang: Universitas Islam Negeri Malang.
Hanafi, 2001, Pengantar Theology Islam, Jakarta: PT. Al Husna Zikra.
Hanafiy, Ahmad Mahmud. 1987.Pengantar Teologi Islam. Jakarta Bulan Bintang.
Lari, Mojtaba Musawi, 2005, Teologi Islam Syiah Aqidah Alternatif, Jakarta: Al
Huda.
Nasution, Harun, 1983, Teologi Islam Aliran Aliran Sejarah Analisa Perbandingan,
Jakarta: UI Press.
Nasution, Harun, Akal dan Wahyu dalam Islam, UI Press, Jakarta, cetakan kedua,
1986.
Nasution, Harun. 1986. Teologi Islam (Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan).
Jakarta .UI Press.
Rozak, Abdul, dan Rosihon Anwar, 2006, Ilmu Kalam, Bandung: Pustaka Setia.
Sudarsono.2004.Filsafat Islam .Jakarta. PT Rineka Cipta.
Syukur, Amin, Prof. Dr. H.M MA., Pengantar Studi Islam, CV. Bima Sejati, Sema
Shubhi. 1982.Fi Ilm al-Kalam al-Asyariyah, Tsaqafah, Iskandariyah,