Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


ASI (Air Susu Ibu) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktose dan garam-garam organik yang disekresi oleh kedua belah kelenjar payudara ibu, sebagai makanan utama bagi bayi (Nugroho, 2011). WHO (World Health Organization), menganjurkan agar tidak memberikan susu formula pada bayi usia 0-6 bulan, karena dapat menimbulkan berbagai penyakit dan gangguan seperti infeksi saluran pencernaan (muntah, diare), infeksi saluran pernafasan, meningkatkan resiko alergi, resiko serangan asma, resiko kegemukan (obesitas), resiko kanker pada anak, kurang penyakit gizi, menahun, penyakit risiko telinga tengah, dan

meningkatkan

meningkatkan

kematian,

menurunkan perkembangan kecerdasan kognitif. Pemberian susu formula juga dapat mengurangi keyakinan ibu akan kemampuannya untuk menyusui sendiri (Graham, 2010). Menurut AAP (American Academy of Pediatrics), pemberian suplemen seperti air, glukosa, susu formula ataupun cairan lain seharusnya tidak diberikan pada bayi baru lahir kecuali ada indikasi

medis dari dokter. Karena pemberian cairan di luar ASI dapat memicu kontaminasi atau alergen. Jika Ibu merasa bayinya haus, segera susui.

Semakin sering Ibu menyusui, semakin banyak ASI yang diproduksi yang berarti semakin banyak air susu bagi bayinya (Auditya, 2011). Menurut Dwi Sunar (2009), secara normal produksi ASI yang efektif selama beberapa bulan berikutnya bayi yang sehat akan mengkonsumsi sekitar 700-800 ml ASI setiap 24 jam. Volume ASI yang dapat dikonsumsi bayi dalam satu kali menyusui selama sehari penuh sangat bervariasi. Ukuran payudara tidak ada hubungannya dengan volume air susu yang dapat diproduksi, meskipun umumnya payudara yang berukuran sangat kecil, terutama yang ukurannya tidak berubah selama masa kehamilan, hanya memproduksi sejumlah kecil ASI (Ratih, 2011). Data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2010 menunjukkan pemberian ASI di Indonesia saat ini masih memprihatinkan. Bayi yang menyusu eksklusif sampai 6 bulan hanya 15,3 %. Artinya, masih ada 84,7 % ibu yang masih memberikan susu formula pada bayi sebelum usia 6 bulan atau bahkan semenjak lahir. Dalam Riskesdas 2010 juga dikumpulkan data tentang pola pemberian ASI pada anak 0-23 bulan yang meliputi : proses mulai menyusui, pemberian kolostrum, pemberian makanan prelakteal,

menyusui eksklusif, dan pemberian

MP-ASI. Di Sumatera Utara

Persentase Anak Usia 0-23 Bulan yang Pernah Disusui 88,9 % dan Masih Disusui 74,9 %. Persentase proses mulai menyusui kurang dari satu jam (< 1 jam) setelah bayi lahir adalah 29,3%, tertinggi di Nusa Tenggara Timur 56,2% terendah di Maluku 13,0%. Sebagian besar proses mulai

menyusui dilakukan pada kisaran waktu 1-6 jam setelah lahir tetapi masih ada 11,1% proses mulai menyusui dilakukan setelah 48 jam. Menurut Riskesdes 2010, makanan prelakteal adalah makanan atau minuman yang diberikan kepada bayi baru lahir sebelum ASI keluar. Makanan prelakteal biasanya diberikan kepada bayi dengan proses mulai menyusui >1 jam setelah lahir dengan alasan ASI belum keluar atau

alasan tradisi. Pemberian makanan prelakteal dapat diberikan oleh penolong persalinan atau oleh orang tua dan keluarga bayi. Persentase pemberian makanan prelakteal kepada bayi baru lahir di Sumatera Utara adalah (53,7%), tertinggi di Gorontalo (74,3%) dan terendah di Papua (22,6%). Semakin tinggi usia bayi pemberian ASI ekslusif semakin rendah. Sebanyak 38,9 % bayi usia 0 bulan mendapatkan ASi ekslusif. Begitu halnya dengan pola menyusui predominan, semakin menurun

presentasenya seiring dengan meningkatnya usia bayi. Sebaliknya pada bayi dengan pola menyusui parsial semakin tinggi usia bayi maka semakin tinggi pula pola menyusui parsial. Bahkan pada kelompok bayi usia 0 bulan, 55,1 % di antaranya telah diberi makanan selain ASI. Berdasarkan survei pendahuluan yang dilakukan di klinik Lista terdapat 34 orang ibu menyusui, hanya 14 orang (41,18%) yang menyusui bayinya sedangkan 20 orang (58,82%) ibu menyusui secara parsial yaitu memberikan ASI dan susu formula yang akan diberikan pada bayinya yang berumur 0-6 bulan.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ibu Menyusui dalam memproduksi ASI di Klinik Lista Kecamatan. Hamparan Perak Tahun 2012.

1.2. Perumusan Masalah


Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah Faktor-Faktor apa sajakah yang mempengaruhi ibu menyusui dalam meningkatkan produksi ASI di Klinik Lista Kecamatan. Hamparan Perak Tahun 2012 ?

1.3. Tujuan Penelitian


1.3.1. Tujuan Umum Untuk mengetahui Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ibu Menyusui dalam meningkatkan produksi ASI di Klinik Lista Kecamatan. Hamparan Perak Tahun 2012.

1.3.2. Tujuan Khusus 1.3.2.1. Untuk mengetahui distribusi pengetahuan ibu menyusui dalam meningkatkan produksi ASI berdasarkan tingkat pengetahuan di Klinik Lista Tahun 2012 1.3.2.2. Untuk mengetahui distribusi pengetahuan Ibu menyusui dalam meningkatkan produksi ASI berdasarkan pendidikan ibu di Klinik Lista Tahun 2012

1.3.2.3.

Untuk mengetahui distribusi pengetahuan ibu menyusui dalam meningkatkan produksi ASI berdasarkan umur di Klinik Lista Tahun 2012

1.3.2.4.

Untuk mengetahui distribusi pengetahuan ibu menyusui dalam meningkatkan ASI berdasarkan sumber informasi di Klinik

Lista Tahun 2012

1.4. Manfaat Penelitian


1.4.1. Bagi Penulis Untuk menambah wawasan dan pengetahuan penulis dalam menerapkan ilmu yang di dapat selama mengikuti perkuliahan khususnya metodologi penelitian. 1.4.2. Bagi Bidan Penelitian ini akan menjadi informasi dan masukan bagi bidan di klinik tentang Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ibu Menyusui dalam meningkatkan produksi ASI untuk dapat diambil tindakan selanjutnya. 1.4.3. Bagi Instansi Pendidikan Penelitian ini dapat menjadi bahan referensi atau sumber informasi untuk penelitian berikutnya dan sebagai bahan bacaan di perpustakaan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Pengetahuan
2.1.1. Pengertian Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia yakni : indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2007). 2.1.2. Tingkat pengetahuan Pengetahuan mempunyai 6 tingkatan : 1. Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya termasuk mengingat kembali terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. 2. Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat

menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah

memahami objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, meyimpulkan, meramalkan terhadap objek yang dipelajari. 3. Aplikasi (aplication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya) dan mampu menggunakan hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya. 4. Analisis (analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. 5. Sintesis (syntesis) Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk

meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyususn formasi baru dari formasi-formasi yang ada. 6. Evaluasi (evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau suatu objek. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari

subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita krtahui atau kita ukur dapat disesuaikan dengan tingkat tersebut di atas (Notoatmodjo, 2007).

2.1.3 Cara Memperoleh Pengetahuan Ada beberapa cara untuk memperoleh pengetahuan yaitu : 1. Cara Tradisional untuk Memperoleh Pengetahuan Cara-cara penemuan pengetahuan pada periode ini, antara lain meliputi : 1. Cara coba salah (trial and eror) Cara coba-coba ini dilakukan memecahkan dengan masalah menggunakan dan apabila

kemungkinan

dalam

kemungkinan tersebut tidak berhasil, dicoba kemungkinan yang lain. 2. Cara kekuasaan atau otoritas Dimana pengetahuan diperoleh berdasarkan pada kekuasaan atau otoritas, baik tradisi, otoritas pimpinan agama, maupun ahli ilmu pengetahuan. 3. Berdasarkan pengalaman pribadi Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang

dihadapi pada masa lalu. 4. Melalui cara fikir

Yaitu manusia telah mampu menggunakan penalaran dalam memperoleh pengetahuan. 2. Cara modern dalam memperoleh pengetahuan Cara modern dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih sistematis, logis, dan ilmiah. Cara ini disebut metode penelitian ilmiah (Notoatmodjo, 2007).

2.1.4. Pengukuran Pengetahuan Untuk mengukur pengetahuan adalah dengan cara

mengajukan pertanyaan secara langsung (wawancara) atau melalui pertanyaan-pertanyaan yang tertulis atau angket yang menanyakan tentang materi yang ingin diukur dari subjek atau responden. Ke dalam pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur yang dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan di atas

(Notoatmodjo, 2007).

2.2. Ibu Menyusui


2.2.1. Defenisi Ibu Menyusui Kata ibu adalah sebuah gelar kehormatan yang diberikan seorang anak kepada wanita yang telah melahirkannya ke dunia. Kata ibu merupakan kata yang paling disukai oleh sang anak, dan selalu dicari-cari ketika si pemilik gelar tidak ada disisi mereka. Bahkan bisa saja kata ibu ini mengusir segala bentuk

kepengecutan maupun kegundahan yang menyelimuti diri sang buah hati (Ilham, 2010).

2.2.2. Gizi Seimbang Bagi Ibu Menyusui Gizi pada Ibu menyusui sangat erat kaitannya dengan produksi air susu, yang sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang bayi. Bila pemberian ASI berhasil baik, maka berat badan bayi akan meningkat, integritas kulit baik, tonus otot serta kebiasaan makan yang memuaskan. Adapun kebutuhan Zat gizi ibu menyusui adalah sebagai berikut : 1. Kebutuhan Kalori Rata-rata kandungan kalori ASI yang dihasilkan ibu dengan nutrisi baik adalah 70 kalori/ 100 ml, dan kira-kira 85 kalori diperlukan oleh ibu untuk tiap 100 ml yang dihasilkan. 2. Protein Ibu memerlukan tambahan 20 gram protein dari kebutuhan normal ketika menyusui. 3. Cairan Ibu menyusui dianjurkan minum 2 3 liter per hari, dalam bentuk air putih, susu, dan jus buah. 4. Vitamin dan Mineral Kebutuhan vitamin pada ibu menyusui 350 RE dan 400 mg untuk kebutuhan mineral (Nugroho, 2011).

10

2.2.3. Teknik Menyusui Yang Benar Menurut Soetjiningsih, langkah-langkah menyusui yang benar adalah sebagai berikut : 1. Sebelum menyusui ASI dikeluarkan sedikit, kemudian dioleskan pada puting dan di sekitar areola payudara. 2. Posisi Menyusui. Ada berbagai macam posisi menyusui yang biasa dilakukan adalah dengan duduk, berdiri, atau berbaring. Ada posisi khusus yang berkaitan dengan situasi tertentu seperti ibu pasca operasi Caesar, bayi diletakkan di samping kepala ibu dengan kaki di atas. 3. Bayi diletakkan menghadap perut dan payudara ibu. 4. Payudara dipegang dengan ibu jari di atas dan jari yang lain menopang di bawah, jangan menekan puting susu atau areola payudaranya saja. 5. Bayi diberi rangsangan agar membuka mulut (rooting refleks) dengan cara menyentuh pipi dengan puting susu dan menyentuh sisi mulut bayi. 6. Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi didekatkan ke payudara ibu dan puting serta areola payudara dimasukkan ke mulut bayi. 7. Usahakan sebagian areola payudara dapat masuk ke mulut bayi sehingga puting susu berada di langit-langit dan lidah bayi akan

11

menekan ASI keluar dari tempat penampungan ASI yang terletak di bawah areola payudara. 8. Setelah bayi mulai menghisap payudara, tidak perlu dipegang atau disanggah lagi. 9. Melepas isapan bayi setelah menyusui pada satu payudara sampai terasa kosong, sebaiknya diganti dengan payudara yang satunya. Cara melepas isapan bayi : a. Jari kelingking ibu dimasukkan ke mulut bayi melalui sudut mulut. b. Dagu bayi ditekan ke bawah. c. Setelah selesai menyusui ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada puting susu dan di sekitar kalang payudara, biarkan kering dengan sendirinya. 10 Menyendawakan bayi Cara menyendawakan bayi : a. Bayi digendong tegak dengan bersandar pada bahu ibu, kemudian punggungnya ditepuk perlahan-lahan. b. Bayi tidur tengkurap di pangkuan ibu kemudian punggungnya ditepuk perlahan (H. Arini, 2009).

2.3. Pengertian Produksi ASI


Pilar utama dalam proses menyusui adalah inisiasi menyusu dini atau lebih dikenal dengan IMD. IMD sangat penting tidak hanya untuk bayi, namun juga bagi si ibu. Dengan demikian, sekitar 22%

12

angka kematian bayi stelah lahir pada 1 bulan pertama dapat ditekan. Bayi disusui selama 1 jam atau lebih di dada ibunya segera setelah lahir. Hal tersebut juga penting dalam menjaga produktivitas ASI. Isapan bayi penting dalam meningkatkan kadar hormone prolaktin, yaitu hormone yang merangsang kelenjar susu untuk memproduksi ASI. Isapan itu akan meningkatkan produksi susu 2 kali lipat (Yuliarti, 2010).

2.3.1. Pembentukan ASI Pembentukan air susu dipengaruhi hormon prolaktin dan kontrol laktasi serta penekanan fungsi laktasi. Dalam pembentukan dan pengeluaran air susu dipengaruhi 2 refleks yaitu :

a. Refleks Prolaktin Setelah partus berhubung lepasnya plasenta dan kurang berfungsinya korpus luteum maka estrogen dan progesterone sangat berkurang, ditambah lagi dengan adanya isapan bayi yang merangsang putting susu dan kalang payudara, akan merangsang ujung-ujung saraf sensoris yang berfungsi sebagai reseptor mekanik. Rangsangan ini dilanjutkan ke hipotalamus melalui medulla spinalis dan mesensephalon. Hipotalamus akan menekan pengeluaran faktor-faktor yang menghambat sekresi prolaktin dan sebaliknya merangsang pengeluaran faktor-faktor yang memacu

13

sekresi prolaktin. Faktor-faktor yang memacu sekresi prolaktin akan merangsang hipofise anterior sehingga keluar prolaktin. Hormon ini merangsang sel-sel alveoli untuk membuat air susu.

b. Refleks let down Bersamaan dengan pembentukan prolaktin oleh hipofise anterior, rangsangan yang berasal dari isapan bayi ada yang

dilanjutkan ke hipofise posterior yang kemudian dikeluarkan oksitosin. Melalui aliran darah, hormone ini diangkut menuju uterus yang dapat menimbulkan kontraksi uterus sehingga terjadi involusi dari organ tersebut. Oksitosin yang sampai pada alveoli akan memengaruhi sel mioepitelium. Kontraksi dari sel akan memeras air susu yang telah terbuat dari alveoli dan masuk ke sistem duktulus yang untuk selanjutnya mengalir melalui duktus laktiferus masuk ke mulut bayi (Nugroho, 2011).

2.3.2. Proses Pembentukan Laktogen Proses pembentukan laktogen melalui tahapan-tahapan berikut : a. Laktogenesis I Merupakan fase penambahan dan pembesaran lobulesalveolus. Terjadi pada fase terakhir kehamilan. Pada fase ini, payudara memproduksi kolostrum, yaitu berupa cairan kental

14

kekuningan dan tingkat progesteron tinggi sehingga mencegah produksi ASI. Pengeluaran kolostrum pada saat hamil atau sebelum bayi lahir, tidak menjadikan masalah medis. Hal ini juga bukan merupakan indikasi sedikit atau banyaknya produksi ASI.

b. Laktogenesis II Pengeluaran plasenta saat melahirkan menyebabkan

menurunnya kadar hormon progesterone, estrogen dan HPL. Akan tetapi kadar hormon prolaktin tetap tinggi. Hal ini menyebabkan produksi ASI besar-besaran. Level prolaktin dalam susu lebih tinggi apabila produksi ASI lebih banyak, yaitu sekitar pukul 2 pagi hingga 6 pagi, namun level prolaktin rendah saat payudara terasa penuh. Hormone lainnya, seperti insulin, tiroksin, dan kortisol, juga terdapat dalam proses ini, namun peran hormone tersebut belum diketahui. Penanda

biokimiawai mengindikasikan bahwa proses laktogenesis II dimulai sekitar 30-40 jam setelah melahirkan, tetapi biasanya para ibu baru merasakan payudara penuh sekitar 50-73 jam (2-3 hari) setelah melahirkan. Artinya, memang produksi ASI sebenarnya tidak langsung keluar setelah melahirkan.

15

c. Laktogenesis III Sistem kontrol hormon endokrin mengatur produksi ASI selama kehamilan dan beberapa hari pertama setelah melahirkan. Ketika produksi ASI mulai stabil, sistem kontrol autokrin dimulai. Pada tahap ini, apabila ASI banyak dikeluarkan, payudara akan memproduksi ASI banyak. Apabila payudara dikosongkan secara menyeluruh juga akan meningkatkan taraf produksi ASI. Dengan demikian, produksi ASI sangat dipengaruhi seberapa sering dan seberapa baik bayi menghisap, dan juga seberapa sering payudara dikosongkan (Nugroho, 2011).

2.3.3. Kandungan ASI ASI mengandung nutrien-nutrien khusus dan zatiperlukan protektif yang diperlukan untuk otak bayi agar tumbuh optimal, antara lain : a. Lemak Sumber kalori utama dalam ASI adalah lemak. Kadar lemak dalam ASI antara 3,5% - 4,5%. Walaupun kadar lemak dalam ASI tinggi, tetapi mudah diserap oleh bayi karena trigliserida dalam ASI lebih dulu dipecahkan menjadi asam lemak dan gliserol oleh enzim lipase yang terdapat dalam ASI. b. Karbohidrat

16

Karbohidrat utama dalam ASI adalah lactose, yang kadarnya paling tinggi disbanding susu mamalia lain (7%). Lactose mudah dipecah menjadi glucose dan galaktose dengan bantuan enzim lactase yang sudah ada dalam mukosa saluran pencernaan sjak lahir. c. Protein Protein dalam susu adalah kasein dan whey. Kadar protein ASI sebesar 0,9% - 60% di ataranya adalah whey yang lebih mudah dicerna dibanding kasein (protein utama susu sapi). Selain mudah dicerna, dalam ASI terdapat dua macam asam amino yang tidak terdapat dalam susu sapi yaitu sistin dan taurin. d. Garam dan mineral ASI mengandung garam dan mineral lebih rendah dibanding susu sapi. ASI dan susu sapi mengandung zat besi dalam kadar yang tidak terlalu tinggi, tetapi zat besi dalam ASI mudah diserap. e. Vitamin ASI cukup untuk mengandung vitamin yang diperlukan bayi. Vitamin K yang berfungsi sebagai katalisator pada proses pembentukan darah terdapat dalam ASI dengan jumlah cukup dan mudah diserap. Dalam ASI juga terdapat vitamin D dan E terutama kolostrum. f. Mineral ASI mengandung mineral yang lengkap. Walaupun kadarnya relatif rendah, tetapi cukup untuk bayi sampai berumur 6 bulan.

17

g. Lactobacillus Bifidus Lactobacillus Bifidus berfungsi mengubah laktose menjadi asam laktat dan asam asetat. Kedua asam ini menjadikan saluran pencernaan bersifat asam sehingga dapat menghambat

pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri E-Coli yang sering menyebabkan diare pada bayi, shigela, dan jamur. h. Laktoferin Laktoferin adalah protein yang berkaitan dengan zat besi. Konsentrasinya dalam ASI sebesar 100 mg/100 ml tertinggi di antara semua cairan biologis. Dengan mengikat zat besi maka laktoferin bermanfaat untuk menghambat pertumbuhan kuman tertentu, yaitu stafilokokus dan E-Coli yang juga memerlukan zat besi untuk pertumbuhannya. i. Lisozim Lisozim adalah enzim yang dapat memecah dinding bakteri. Konsentrasinya dalam ASI sebesar 29 39 mg/100 ml, lisozim merupakan konsentrasi terbesar dalam cairan ekstraselular. Lisozim stabil di dalam cairan dengan pH rendah seperti cairan lambung sehingga masih banyak dijumpai dalam tinja bayi. j. Antibodi ASI terutama kolostrum mengandung immunoglobulin, yaitu secretory IgA (SigA), IgE, IgM, dan IgG. Antibodi dalam ASI dapat bertahan di dalam saluran pencernaan bayi karena tahan terhadap

18

asam dan enzim preteolitik saluran pencernaan dan membuat lapisan pada mukosanya sehingga mencegah bakteri patogen dan entero virus masuk ke dalam mukosa usus (H, Arini. 2009).

2.3.4. Komposisi ASI 1. Kolostrum Kolostrum merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar payudara, mengandung tissue debris dan residual material yang terdapat dalam alveoli dan duktus dari kelenjar payudara sebelum dan setelah masa puerpurium. Kolostrum merupakan cairan dengan viskositas kental, lengket dan berwarna kekuningan. Kolostrum mengandung tinggi protein, mineral, garam, vitamin A, nitrogen, sel darah putih, rendah lemak, laktosa dan antibodi yang tinggi daripada ASI matur. Protein utama pada kolostrum adalah immunoglobulin (IgG, IgA, dan IgM), yang digunakan sebagai antibodi untuk mencegah dan menetralisir bakteri, virus, jamur, dan parasit. Volume kolostrum antara 150-300 ml/24 jam. Kolostrum juga pencahar ideal untuk membersihkan zat yang tidak terpakai dari usus bayi yang baru lahir.

19

2. Air Susu Masa Peralihan Air susu masa peralihan merupakan ASI peralihan dari kolostrum sampai menjadi ASI yang matur. ASI yang keluar setelah kolostrum sampai sebelum ASI matang, yaitu sejak hari ke-4 sampai hari ke-10. Selama 2 minggu, volume air susu bertambah banyak dan berubah warna serta komposisinya. Kadar immunoglobulin dan protein menurun, sedangkan lemak dan laktosa meningkat.

3. Air Susu Matur Air Susu Matur adalah ASI yang disekresi pada hari ke -10 dan seterusnya, komposisi relatif konstan. Air susu yang mengalir pertama kali atau saat lima menit pertama disebut foremilk. Foremilk lebih encer. Foremilk mempunyai kandungan rendah lemak dan tinggi laktosa, gula, protein, mineral dan air. Selanjutnya, air susu berubah menjadi hindmilk. Hindmilk kaya akan lemak dan nutrisi. Hindmilk membuat bayi akan lebih cepat kenyang. BAyi membutuhkan keduanya, baik foremilk dan hindmilk (Nugroho, 2011).

2.3.5. Manfaat ASI Manfaat ASI antara lain : a. Bayi mendapatkan nutrisi dan enzim terbaik yang dibutuhkan.

20

b. Bayi mendapatkan zat-zat imun, serta perlindungan dan kehangatan melalui kontak dari kulit ke kulit dengan ibunya. c. Meningkatkan sensitivitas ibu akan kebutuhan bayinya. d. Mengurangi pendarahan, serta konsevasi zat besi, protein, dan zat lainnya, mengingat ibu tidak haid sehingga menghemat zat yang terbuang. e. Penghematan karena tidak perlu membeli susu. f. ASI ekslusif dapat menurunkan angka kejadian alergi,

terganggunya pernafasan, diare, dan obesitas pada anak (Yuliarti, 2010).

2.4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi ASI


2.4.1. Pengetahuan Pengetahuan merupakan dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengertian terjadi melalui pancaindera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2007). Pengetahuan Ibu dapat diketahui dan dinilai dari jawaban terhadap pertanyaan yang dilakukan dalam kuesioner. Sehingga dapat

dikategorikan tingkat pengetahuan responden sebagai berikut : a. Tingkat pengetahuan baik bila skor atau nilai (>75%-100%). b. Tingkat pengetahuan cukup bila skor atau nilai (>60%-75%).

21

c. Tingkat pengetahuan kurang bila skor atau nilai (<60%).

2.4.2. Pendidikan Menurut UU No. 20 Tahun 2003 dalam Sudrajat (2010) Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasanabelajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya diri, untuk memiliki kekuatan kecerdasan, spiritual akhlak keagamaan, mulia, serta

pengendalian

kepribadian,

keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Konsep dasar pendidikan adalah suatu proses belajar yang berarti dalam pendidikan itu terjadi proses pertumbuhan, perkembangan, atau perubahan ke arah yang lebih dewasa, lebih baik, dan lebih matang pada diri individu, kelompok atau masyarakat (Notoatmodjo, 2007). a. Pendidikan dasar : SD, SMP, sederajat

b. Pendidikan menengah : SMU, SMK, sederajat c. Pendidikan tinggi : Diploma, Perguruan Tinggi

2.4.3. Umur Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik.

22

Pada usia muda, individu akan lebih berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan sosial serta lebih banyak melakukan persiapan demi suksesnya upaya menyesuaikan diri menuju usia tua, selain itu usia muda akan lebih banyak menggunakan banyak waktu untuk membaca. Semakin tua semakin bijaksana, semakin banyak informasi yang dijumpai dan semakin banyak hal yang dikerjakan sehingga menambah pengetahuan. Sulit mengajarkan kepandaian baru kepada orang yang sudah tua karena mengalami kemunduran baik fisik maupun mental. Dapat diperkirakan bahwa IQ akan menurun sejalan dengan bertambahnya usia, khususnya pada beberapa kemampuan yang lain seperti kosa kata dan pengetahuan umum (Pro-Health, 2009). Umur atau lamanya hidup dalam tahun yang dihitung sejak dilahirkan sampai ulang tahun yang terakhir. Secara umum mereka tergolong dewasa dini (young adulthood) ialah mereka yang berusia 18 sampai 40 tahun. Umur ibu mempengaruhi bagaimana mengambil keputusan dalam pemeliharaan kesehatannya (Notoatmodjo, 2007).

2.4.4. Sumber Informasi Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediate impact) sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan. Majunya teknologi akan tersedia bermacam-macam media massa yang dapat mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru.

23

Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan opini dan kepercayan orang. Dalam penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa pula pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya pengetahuan terhadap hal tersebut (Pro-Health, 2009). Menurut Notoatmodjo (2007) informasi dapat diperoleh dari berbagai sumber yaitu : 1. Media Massa Media massa merupakan salah satu perantara yang digunakan oleh sumber untuk mengirim pesan kepada penerima pesan. 2. Petugas Kesehatan Informasi tentang kesehatan dapat diperoleh dari petugas kesehatan pada saat ibu datang ke pelayanan kesehatan. 3. Teman dan keluarga Informasi juga biasa di dapat dari teman atau keluarga.

24

BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Kerangka Konsep


Adapun kerangka konsep penelitian tentang Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ibu Menyusui Dalam Meningkatkan Produksi ASI di Klinik Lista Tahun 2012 adalah sebagai berikut : Kerangka Konsep Variabel Independen Variabel Dependen

Pengetahuan

Produksi ASI Faktor Karakteristik : Pengetahuan Pendididkan Umur Sumber Informasi

Variabel

penelitian

yaitu

variabel

independen

dan

variabel

dependen. Variabel

independen yaitu pengetahuan, pendidikan, umur,

dan sumber informasi, sedangkan variabel dependen yaitu produksi ASI.

25

3.2. Defenisi Operasional


3.2.1. Variabel Dependen 3.2.1.1. Produksi ASI Produksi ASI adalah kemampuan payudara ibu dalam

memproduksi ASI yang dipengaruhi oleh hisapan mulut bayi dengan kategori : a. Memproduksi ASI b. Tidak dapat memproduksi ASI Skala ukur Alat ukur : Nominal : Kuesioner

3.2.2. Variabel Independen 3.2.2.1. Pengetahuan Pengetahuan adalah kemampuan ibu menjawab dengan benar tentang pertanyaan yang berkaitan dengan produksi ASI yang diajukan. Sehingga dapat dikategorikan tingkat pengetahuan responden sebagai berikut : a. Baik, apabila responden dapat menjawab benar sebanyak 16-20 pertanyaan dari 20 soal yang diberikan (>75%-100%). b. Cukup, apabila responden dapat menjawab benar sebanyak 12-15 pertanyaan dari 20 soal yang diberikan (>60%-75%). c. Kurang, apabila responden dapat menjawab benar < 12 pertanyaan dari 20 soal yang diberikan (<60%).

26

Skala Ukur Alat Ukur

: Ordinal : Kuesioner

3.2.2.2. Pendidikan Pendidikan adalah pendidikan ibu terakhir secara formal yang diperoleh ibu atau pendidikan tertinggi yang pernah diselesaikan ibu sesuai dengan jawaban responden pada kuesioner, dengan kategori : a. Pendidikan dasar b. Pendidikan menengah c. Pendidikan Tinggi Skala Ukur Alat ukur : SD, SMP, sederajat : SMU, SMK, sederajat : Diploma, Perguruan tinggi : Ordinal : Kuesioner

3.2.2.3. Umur Umur adalah lamanya hidup dalam tahun yang dihitung sejak dilahirkan sampai penelitian dilakukan, dengan kategori : a. <20 tahun b. 20-35 tahun c. >35 tahun Skala Ukur Alat ukur : Ordinal : Kuesioner

27

3.2.2.4. Sumber Informasi Sumber Informasi adalah suatu data yang di dapat ibu tentang ASI atau produksi ASI dengan kategori : a. Petugas Kesehatan b. Media massa c. Lingkungan Skala Ukur Alat Ukur : Nominal : Kuesioner : Perawat, bidan, dokter : Cetak dan elektronik : Tetangga, keluarga, teman

3.3. Hipotesis Penelitian


1. Ada pengaruh yang signifikan antara tingkat pengetahuan ibu dengan produksi ASI. 2. Ada pengaruh yang signifikan antara pendidikan ibu dengan produksi ASI. 3. Ada pengaruh yang signifikan antara umur ibu dengan produksi ASI. 4. Ada pengaruh yang signifikan antara sumber informasi dengan produksi ASI.

3.4. Jenis Penelitian


Jenis penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan data primer yaitu pembagian kuesioner kepada responden untuk

28

mengetahui Faktor-faktor yang mempengaruhi ibu menyusui dalam memproduksi ASI di Klinik Lista Tahun 2012.

3.5. Lokasi dan Waktu Penelitian


3.5.1. Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan di Klinik Lista dengan pertimbangan yaitu : 1. Klinik ini merupakan lahan praktek mahasiswa dan merupakan tempat dimana peneliti pernah praktek. 2. Belum pernah dilakukan penelitian tentang Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ibu Menyusui Dalam Memproduksi ASI di Klinik Lista ini.

3.5.2. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan mulai dari pengajuan judul pada bulan Maret 2012 sampai dengan bulan Juni 2012.

3.6. Populasi dan Sampel


3.6.1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah ibu menyusui di klinik Lista Kecamatan Hamparan Perak Tahun 2012 sebanyak 34 orang.

29

3.6.2. Sampel Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan total sampling yaitu seluruh ibu menyusui yang ada di Klinik Lista Kecamatan Hamparan Perak seluruhnya dijadikan sampel.

3.7. Jenis dan Cara Pengumpulan Data


3.7.1. Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dari pengisian kuesioner secara langsung oleh ibu menyusui.

3.7.2. Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengisian

kuesioner oleh responden. Responden dikumpulkan di Klinik Lista. Sebelumnya responden diberikan penjelasan tentang cara

pengisian kuesioner pada responden dan menanyakan bila ada halhal yang tidak dimengerti oleh responden. Setelah itu kuesioner dikumpul lalu dilakukan pengolahan data.

30

3.8. Pengolahan dan Analisa Data


3.8.1. Pengolahan data Data yang telah terkumpul diolah dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut : a. Editing Memeriksa kelengkapan data-data yang telah terkumpul.

Berdasarkan hasil pengecekan seluruh kuesioner telah dijawab responden dengan lengkap sehingga tidak dilakukan data ulang. b. Coding Merubah data yang sudah di edit ke dalam bentuk angka, dimana nama responden diubah menjadi kode responden sehingga lebih mudah dan sederhana. c. Scoring Skor dilakukan pada setiap jawaban responden, selanjutnya dihitung nilai yang diperoleh responden keseluruhannya, kemudian dikelompokkan dengan aspek pengukuran. d. Tabulating Untuk mempermudah dalam pengolahan data serta pengambilan kesimpulan, maka seluruh data ditabulasikan ke dalam tabel distribusi frekuensi.

31

3.8.2. Analisis Data Analisis data yang dilakukan adalah sebagai berikut : a. Analisis data univariat Analisis data univariat ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran distribusi frekuensi atau besarnya populasi atau variabel

independen dan variabel dependen sehingga dapat diketahui variasi dari masing-masing variabel. b. Analisis data bivariat Analisis data bivariat ini digunakan untuk melihat pengaruh pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, dan informasi dengan

produksi ASI dengan menggunakan uji statistic chi-square.

Adapun rumus chi-square yang digunakan adalah sebagai berikut : ( )

Keterangan :

x = Chi square
0 = Nilai hasil observasi E = Nilai yang diharapkan

32