Anda di halaman 1dari 19

Diktat DINAMIKA

Oleh : Ir. Endi Sutikno Ir. Erwin Sulistyo

Bab II

ANALISA GAYA STATIS MEKANISME


Gaya -gaya yang dibebankan pada batang (link) terjadi akibat beberapa sumber yang berbeda, antara lain : a. berat batang sendiri b. gaya-gaya gesek c. gaya-gaya akibat perubahan temperatur operasional d. gaya-gaya asembling (ketika dirakit) e. gaya-gaya pembebebanan f. gaya-gaya akibat energi yang ditransmisikan g. gaya akibat tumbukan h. gaya-gaya pegas, dan i. suatu gaya-gaya inersia. dari permesinan. Masing-masing gaya dapat Gaya-gaya di atas hendaknya ditunjukkan ketika akan merencanakan mekanisme diklasifikasikan menjadi gaya statis dan gaya dinamis. 2.1 Gaya Statis. Gaya-gaya yang dikenakan kepada btang-batang mekanisme mesin selalu dikalikan dengan operasional mesin. Berarti gaya tersebut berada dalam domain operasional spesifik yaitu domain waktu. Sehingga gaya -gaya selalu berhubungan dengan waktu ketika mesin beroperasi. Bila gaya selama domain waktu tertentu besar (magnitude) dan arah vektornya tetap konstan adalah gaya-gaya statis, sebaliknya bila besar dan atau arah vektunya berubah terhadap waktu merupakan gayagaya dinamis. Berat batang adalah contoh dari gaya statis, umum selain itu sebagai gaya-gaya dinamis.

Program Semi Que IV Fakultas Teknik Jurusan Mesin Universitas Brawijaya

11

Diktat DINAMIKA
Oleh : Ir. Endi Sutikno Ir. Erwin Sulistyo

Gaya,F(t)

Gaya,F(t) F2

F 1=F 2 F1 t (waktu)
Gambar 2.1. Grafik gaya statis.

t (waktu)
Gambar 2.2. Grafik gaya dinamis. Besarnya bertambah arah tetap ( ke atas )

Gaya statis terjadi memang beban yang dikenakan besarnya tetap sepanjang waktu. Dari hukum Newton II, yang menyatakan hubungan antara gaya luar dan gaya aibat inersia (kelembaman) massa karena percepatan, adalah :

dF ( t ) = d {m.a ( t )}

( 2 1 )

dalam hal ini massa konstan, dan percepatan a adalah merupakan gradien kecepatan terhadap waktu. Untuk kondisi statis berari diam, atau kecepatannya nol. Kondisi statis juga bisa diartikan batang bergerak dengan kecepatan konstan, maka: a = (dv/dt) = 0, persamaan 2-1 menjadi : dF(t) = 0 gayanya tetap, , gambar-2.1, setelah diintegralkan, : F2(t) = F 1(t) 2.2 Gaya Dinamis Dari persamaan 2-1, untuk harga a yang konstan, maka gaya saat akhir domain waktu : F2(t) = F 1(t) + m.a ( 2 4 ) maka F2(t) F1(t), berarti berbeda besar gaya mengakibatkan adanya percepatan pada batang. Gambar 2-2, untuk a positif, arah vektor gaya tetap, besar gaya berubah, makin besar, dan sebaliknya. 2.3 Gaya Statis Komponen ( 2 3 ) ( 2 2 ) maka sepanjang waktu kondisi awal dan kondisi akhir opersaional besar

Program Semi Que IV Fakultas Teknik Jurusan Mesin Universitas Brawijaya

12

Diktat DINAMIKA
Oleh : Ir. Endi Sutikno Ir. Erwin Sulistyo

Beban gaya diberikan atau ditransmisikan melalui pena, batang luncur (slidder), roda gigi dab bermacam-macam yang membentu mekanisme permesinan. 2.3.1 Gaya pena. Bila berat pena dan gesekan tidak ada, atau diabaikan, maka gaya -gaya yang bekerja

(a)

(b) Gambar 2.3. Gaya-gaya pada pena

(c)

pada pena harus melalui titik pusat pena. Gaya tersebut merupakan resultan dari gaya-gaya yang mengarah radial pada permukaan kontak antara permukaan pena dan permukaan lubang batang, gambar 2.3a, dan gambar-2.3b. Bila terdapat gesekan gaya tersebut tidak akan melalui pusat pena, gambar-2.3c. Demikian pula arah gaya pena dipengaruhi oleh gaya -gaya yang bekerja pada batang. Bila gaya yang bekerja pada batang hanya pada sambungan -sambuangan (joint) di ujung-ujung batang, dan tidak ada gaya luar yang bekerja pada badan batang, maka arah gaya pena melalui pusat pena dan berimpit dengan sumbu batang, gambar 2.3a. Untuk batang yang dikenai gaya luar pada badan batang, maka gaya -gaya pada pena dan sambungan batang tidak mengarah aksial, artinya arah gaya pada sambungan ujung batang belum diketahui. Sehingga gaya ujung batang tersebut harus diuraikan menjadi normal Fn dan gaya tangensial Ft . 2.3.2 Gaya batang luncur (slidder). P P

FS=N N
(a) (b) Gambar 2.4. Gaya-gaya pada batang luncur.

Program Semi Que IV Fakultas Teknik Jurusan Mesin Universitas Brawijaya

13

Diktat DINAMIKA
Oleh : Ir. Endi Sutikno Ir. Erwin Sulistyo

Gambar-2.4a, menunjukkan batang luncur (slidder) atau torak (piston), atau kepala silang (sross-head), bila tidak ada gesekan maka gaya normal, N, merupakan reaksi dari gaya beban P. Arah dari gaya normal selalu tegak lurus terhadap arah gerak translasi batang luncur. Dalam keseimbangan statis besar gaya normal sama dengan gaya beban, untuk sistem dua gaya. F = 0 N = P N =-P (25) (26)

Bila terjadi gesekan antara permukaan batang luncur dan permukaan lantai luncur maka reaksi dari batang luncur merupakan resultan dari gaya normal, N, dan gaya gesek, FS, gambar-2.4b. R = N + FS Besar gaya resultan : ( 2 7) ( 2 8)

R = N 2 + FS 2

Untuk keseimbangan statis sistem dua gaya berimpit pada batang luncur, maka P=R P = -R Arah gaya resultan membentuk sudut, yang ditinjau terhadap sumbu yang tegak lurus lintasan gerak batang luncur, yaitu : ( 2 9)

tg =

FS .N = = N N
( 2 10 )

= arctg

Program Semi Que IV Fakultas Teknik Jurusan Mesin Universitas Brawijaya

14

Diktat DINAMIKA
Oleh : Ir. Endi Sutikno Ir. Erwin Sulistyo

2.3.3. Gaya statis roda gigi.

Gambar 2.5. Sistem gaya statis roda gigi .

Roda gigi yang dibahas disini adalah roda gigi lurus ddengan profil gigi involut, dan tanpa gesekan, sehingga gaya -gaya yang bekerja pada permukaan kontak gigi roda gigi terletak pada garis normal, yang disebut garis tekan. Umumnya garis ini mempunyai arah menurut sudut tekan gaya,, sebesar 14 1/ 2 dan 20. Gambar-2.5a, menunjukkan dua buah roda gigi A dan B, roda gigi A sebagai penggerak (driver), sedang roda gigi B yang digerakkan (driven). Gambar-2.5b, merupakan diagram benda bebas, artinya diagram yang memperlihatkan masing-masing komponen roda gigi. Dalam diagram benda bebas harus digambarkan arah gerak dan beban yang diberikan.
Program Semi Que IV Fakultas Teknik Jurusan Mesin Universitas Brawijaya

15

Diktat DINAMIKA
Oleh : Ir. Endi Sutikno Ir. Erwin Sulistyo

Pada roda gigi A, bergerak dengan putaran A searah jarum jam, dan beban kopel T A A juga searah jarum jam. Supaya dalam keseimbangan, maka gaya reaksi R arahnya melawan arah T A. Pada roda gigi B, gaya R sebagai beban gaya yang diberikan kepada sistem, yang merupakan gaya aksi, sehingga gaya ini menimbulkan kopel berlawanan jarum jam. Kopel lawan TB sebagai reaksi, berarah searah jarum jam, dan terjadilah keseimbangan. Gaya reaksi R merupakan resultan dari gaya tangensial FT dan gaya radial FR, dimana R harus teletak pada garis tekan, yang mengarah sebesar sudut tekan , terhadap garis radia di titik kontaknya. 2.4 Prosedur Penyelesaian Analisa Gaya Statis Mekanisme Prosedur penyelesaian grafis analisa gaya statis mengikuti di permukaan kontak gigi, sedemikian menimbulkan momen terhadap titik putar roda gigi A yang

tahapan-tahapan sebagai berikut : 1. Gambar kembali setiap soal mekanisme, dengan skala gambar yang benar. 2. Gambarkan diagram benda bebas masing-masing batang. 3. Carilah 2.3.1). 4. Selanjutnya perlihatkan perkiran arah-arah vektor gaya pada sambungan-sambungan setiap batang, dan gaya beban yang sudah diketahui. 5. Hitunglah jumlah variabel vektor gaya yang belum tahu atau yang dicari untuk setiap batang, termasuk gaya beban yang dikenakan pada setap batang. 6. Pilih batang yang mempunyai jumlah variabel vektor gaya yang belum diketahui, yaitu dua buah, biasanya adalah besar (magnitude) atau skalar dari gaya -gaya batang, untuk mengawali analisa cara grafis, sehingga menghasilkan lukisan batang yang sifatnya sebagai batang penerus/pemindah gaya aksial. (lihat pada ketentuan subbab

Program Semi Que IV Fakultas Teknik Jurusan Mesin Universitas Brawijaya

16

Diktat DINAMIKA
Oleh : Ir. Endi Sutikno Ir. Erwin Sulistyo

keseimbangan

gaya

(poligon

gaya),

yang

membentuk

segibanyak vektor tertutup (biasanya segitiga vektor tertutup). 7. Bila setiap batang jumlah variabel vektor gaya lebih dari dua buah, maka bisa men ggabungkan dua batang atau lebih, untuk mendapatkan analisa seperti prosedur urutan 6. 8. Bila urutan 7 tidak mungkin dilaksanakan, biasanya untuk setiap batang, salah satu dari arah vektor gaya yang belum diketahui atau dicari, diuraikan menjadi komponen tangensial dan komponen normal. 9. Gunakankan keseimbangan rotasi untuk mencari komponen tangensial dari urutan 8.

Gambar 2.6 Analisa gaya statis mekanisme luncur tanpa beban luar.

Program Semi Que IV Fakultas Teknik Jurusan Mesin Universitas Brawijaya

17

Diktat DINAMIKA
Oleh : Ir. Endi Sutikno Ir. Erwin Sulistyo

10. Setelah itu besar gaya yang didapatkan merupakan beban gaya dengan arah berlawanan terhadap batang berikutnya, dan memenuhi urutan 6, atau 7, atau 8, begitu seterusnya. 11. Setiap batang akan memenuhi dua keseimbangan, translasi lurus dan rotasi. 12. Bila telah diadpatkan keseimbangan dari semua batang batang mekanisme, lukis poligon gaya totalnya. 2.5 Analisa Gaya Statis Mekanisme Luncur Penyelesaian grafis gaya statis dalam analisa ini untuk mekanime luncur ada dua kasus, yang pertama, bila pada batang hubung yang sifatnya sebaga pemindah gaya aksial tidak dikenai gaya luar, yang kedua, bila batang tersebut dikenai gaya luar, sebagai beban. 2.5.1 Mekanisme luncur tanpa beban gaya luar pada batang hubung. Gambar-2.6a adalah gambar permasalahan, dari mekanisme luncur, dengan skala gambar 1 : 10. Ukuran masing-masing batang:

O2 A = 20cm, AB = 60cm, 2 = 60o . Beban gaya pada batang-4 P =


30kN ke kiri. Akan ditentukan besar dan arah vektor gaya -gaya sambungan, serta Torsi lawan agar dihasilkan keseimbangan. Penyelesaian permasalahan (soal), dengan menggambarkan diagram benda bebas serta ilustrasi arah vektor gaya untuk masing , masing batang, gambar-2.6b, dimana penenentuan arah vektor lebih dahulu dari batang-3.[ urutan 2,3,dan 4 ] Menentukan jumlah variabel vektor yang belum diketahui : a. batang-2, 4 variabel : 1) besar F 12, 2) besar F32, 3) besar T 2, dan 4) arah T 2. Arah F12 dan arah F32 sudah didapatkan, yaitu // batang -3.

Program Semi Que IV Fakultas Teknik Jurusan Mesin Universitas Brawijaya

18

Diktat DINAMIKA
Oleh : Ir. Endi Sutikno Ir. Erwin Sulistyo

b. batang-3, 2 variabel : 1) besar F23, 2) besar F43. Arah F23 dan arah F43 sudah didapatkan, yaitu berimpit dengan batang-3 [ ketentuan pada subbab 2.3.1 ] c. batang-4, 2 variabel : 1) besar F14, 2) besar F34, dimana arah F14 diketahui lintasan geraknya, dan arah F34 sudah didapatkan, yaitu // batang-3. Mulai mengerjakan dari batang yang mana ? Yaitu dari batang-4, karena mempunyai dua variabel yang tidak diketahui, termasuk beban gaya luar P. Batang-3 juga 2 variabel, tetapi tidak mempunyai gaya luar. Jadi urutan batangnya adalah : 1) batang-4, 2) batang-3, dan batang-2. Urutan analisa grafis keseimbangan 1) Pada batang-4, dengan arah gaya-gaya pada gambar 2.6c. Tentukan skala gaya, dalam hal ini misalnya 1cm = 20kN, mulai dari P sepanjang 1,5cm, pindahkan arah F14 di pangkal P, dan arah F34 di ujung P, sehingga arah F34 dan arah F14 berpotongan, dan terbentuklah poligon gaya keseimbangan batang-4, gambar-2.6d. Jadi gaya-gaya yang bekerja pada batang-4 seperti gambar 2.6e. Dari lukisan (setelah diukur dengan penggaris) : F34 = 1,6cm = 1,6cm 20kN/cm = 32kN F14 = 0,55cm = 0,55cm 20kN/cm = 11kN. 2) Pada batang-3, merupakan sist em dua gaya sejajar berimpit. Dari pena B batang-4, yang berpasangan dengan batang-3, maka didapat gambar-2.6f. 3) Batang-2, merupakan sistem dua gaya sejajar tak berimpit, maka terjadi kopel. Berasal dari pena A, batang-3 yang berpasangan dengan batang-2, dihasilkan F32 = - F23 dan F32=F 23=32kN. Keseimbangan translasi batang-2, mendapatkan F43 = - F 34, dimana F43 = F34 = 32kN. Dari keseimbangan batang-3 didapat F23 = - F43 dan F23 = F43 = 32kN.

Program Semi Que IV Fakultas Teknik Jurusan Mesin Universitas Brawijaya

19

Diktat DINAMIKA
Oleh : Ir. Endi Sutikno Ir. Erwin Sulistyo

F12 = - F 32 dan F12 = F32 = 32N, dan dari keseimbangan rotasi terhadap O2, didapatkan torsi lawan atau torsi reaksi batang-2 : MO2 = 0 : arah momen positif adalah searah jarum jam. -F32.h + T2 = 0 dimana h didapat dari lukisan = 1,9cm , harga sebenarnya dikalikan lagi dengan skala gambar pada gambar s oal, jadi h = 1,9 10cm = 19 cm = 0,19m Jadi, T2 = F32 . h = 32kN . 0,19m = 6,08kNm, s.j.j, gambar-2.6g. 4) Pada batang-1, di O 2, berasal dari batang-2, sebagai crank, maka didapat beban gaya F21 = - F 12, F21 = F12 = 32kN, dan beban torsi sebesar T2 = 6,08kNm, b.j.j, gambar-2.6h. 5) Batang-1, sebagai landasan gerak batang-4 dihasilkan F41 = - F 14 dan F21 = F 12 = 11kN, gambar-2.6i. 6) Poligon seluruh batang mekanisme luncur seperti pada gambar-2.6j. 2.5.2 Mekanisme luncur dengan gaya luar. Seperti pada subbab 2.5.1. pada permasalahan ini batang-3, sebagai batang penerus gaya dikenai gaya luar S = 40kN, AC = 30cm , gambar-2.7a; data ukuran batang sama dengan permasalahan 2.5.1. Penyelesaian permasalahan : mulai dari gambar-2.7a, mekanisme digambar dengan skala 1:10. Gambar-2.7b, adalah diagram benda bebasnya. Jumlah variabel vektor gaya yang tidak diketahui setiap batang : a. Batang-2, 6 variabel: 1) besar F12, 2) arah F12, 3) besar F32, 4) arah F32, 5) besar torsi lawan T2, 2) arah torsi lawan T 2.

Program Semi Que IV Fakultas Teknik Jurusan Mesin Universitas Brawijaya

20

Diktat DINAMIKA
Oleh : Ir. Endi Sutikno Ir. Erwin Sulistyo

Gambar 2.7 Analisa gaya statis mekanisme luncur dengan beban luar.

b. Batang-3, 4 veriabel: 1) besar F23, 2) arah F23, 3) besar F43, 4) arah F43 c. Batang-4, 3 variabel: 1) besar F34, 2) arah F34, 3) besar F14, sedang arah F14 lintasa n gerak batang-4. Ternyata setiap batang tidak memenuhi untuk melukis keseimbangan vektor gaya, yaitu 2 variabel yang belum diketahui. Maka urutan pertama adalah pada batang-3. 1) Pada batang-3, gaya di titik B diuraikan menjadi komponen tangensial dan komponen normal, dari F43 : yaitu F t43 dan F n . Kemudian dari keseimbangan rotasi 43 (momen) dari titik A, gambar-2.7c.
Program Semi Que IV Fakultas Teknik Jurusan Mesin Universitas Brawijaya

21

Diktat DINAMIKA
Oleh : Ir. Endi Sutikno Ir. Erwin Sulistyo

MA = 0 : - ( S . h ) + ( F t43 . AB ) = 0 sehingga bisa disusun perbandingan gaya -gaya terhadap perbandingan jarak:

S F t43

AB h

( 2 11 )

dimana: AB = 60cm , dan S = 40 kN., sedang h didapat dari lukisan, kemudian dikalikan dengan skala gambar. maka: h = 2,6cm = 2,6 10 = 26cm. persamaan (2-11) dilukis menjadi Kemudian

perbandingan garis proposional, seperti pada gambar 2.7d. dengan skala gaya 1cm=20kN, jadi S digambar sepanjang 2cm . Dari lukisan didapatkan :

F t43 = 0,87cm = 0,87cm 20kN/cm = 17,4 kN.


Selanjutnya gaya-gaya di batang-3, seperti gambar 2.7e. 2) Pada batang-4, dari pena A didapat F t34 =- F t43 , dan F t34 = F t43 = 17,4 kN, sehingga gaya-gaya pada batang: F t43 // batang-3, F14 lintasan batang-4, P = 30 kN dan F t43 = 17,4 kN, gambar-2.7f , adalah sistem empat gaya tak sejajar dengan dua variabel tidak tahu, maka bisa dilukis keseimbangan gayanya secara grafis, gambar 2.7g, hasilnya pada 2.7h. maka : F14 = 1,4cm = 1,4cm 20 kN/cm = 28 kN.
n F 34 = 1,8cm = 1,8cm 20 kN/cm = 36 kN.

F 34 =

(F t34 )2 + (F n )2 34

= 45 ,61kN

3) Kembali ke batang-3, dari pena B didapatkan F43 = -F 34 dan F43 = F34. Jadi gaya-gaya pada batang-3, adalah sistem tiga gaya t k sejajar dengan satu variabel besar a
Program Semi Que IV Fakultas Teknik Jurusan Mesin Universitas Brawijaya

22

Diktat DINAMIKA
Oleh : Ir. Endi Sutikno Ir. Erwin Sulistyo

F23, gambar-2.7i, arah gaya merupakan vektor penutup dalam segitiga gaya vektor, dan ketiganya harus bisa melalui satu titik tangkap, hasilnya pada gambar-2.7j. F23 = 2,85cm = 2,85cm 20 kN/cm = 57 kN/cm. 4) Batang-2, sebagai crank, yaitu batang berputar, jadi sebagai sistem dua gaya tidak berimpit, mengakibatkan kopel. Dari pena A, F32 = -F 23, dan F32 = F 23 = 57 kN., seperti 2.5.2 didapatkan torsi lawan T2, T 2 = F 32 . h , h = 1,7cm = 1,7 10 = 17cm = 0,17 m T 2 = 57kN 0,17m = 9,69 kNm, s.j.j. Di pena O2 dihasilkan F12 = -F 32, dan F12 = F 32 = 57 kN., gbr.-2.7k. Poligon gaya total gambar-2.7l. 2.6 Analisa Gaya Statis Rocker Crank Mechanism Rocker crank mechanism adalah mekanisme empat batang dimana mempunyai sebuah batang yang berputar penuh dab sebuah batang berayun. Gambar-2.8 adalah bentuk dari rocker crank mechanism, panjang < panjang-2 4 < panjang-3 < panjang-1. Syarat terbentuknya mekanisme ini adalah : panjang-1 + panjan g-2 < panjang-3 + pan-jang-4. Penyelesaian keseimbangan berdasarkan perkiraan arah vektor gaya pada pena-pena batang. Dimulai dari araharah vektor gaya pada connecting link, yaitu batang penerus/pemindah gaya, dalam hal ini batang-3, pada mekanisme ini, adalah batang-3. Bila batang dikenai beban gaya luar atau tidak. Di bawah ini beberapa tahap penyelesaian dalam kedua kasus, akibat beban luar pada batang-3.

Program Semi Que IV Fakultas Teknik Jurusan Mesin Universitas Brawijaya

23

Diktat DINAMIKA
Oleh : Ir. Endi Sutikno Ir. Erwin Sulistyo

2.6.1 Rocker crank mechanism tanpa gaya luar. Gambar-2.9a, adalah rocker crank mech anism, yang menerima beban gaya P = 40 kN di batang-4. Data -data mekanisme

: O2 A = 40cm, AB = O4 B = 70 cm,O2 O4 = 120cm , 2 = 45, dan BC = 34 cm. Akan ditentukan gaya -gaya pada ujung-ujung batang, dan torsi lawan di batang-2, supaya dicapai keseimbangan. Penyelesaiannya :

Gambar 2.9. Rocker Crank Mechanism tanpa gaya di batang-3.

Program Semi Que IV Fakultas Teknik Jurusan Mesin Universitas Brawijaya

24

Diktat DINAMIKA
Oleh : Ir. Endi Sutikno Ir. Erwin Sulistyo

1. Gambar soal, seperti gambar 2.9a dilukis dengan skala gambar 1:20 ( 1cm = 20cm panjang batang ). 2. Gambar-2.9b, adalah diagram benda bebasnya, dengan jumlah variabel vector gaya yang belum diketahui pada masing-masing batang : a. Batang-2: 6 variabel : 1) arah F32, 2) besar F32, 3) arah F12, 4) besar F12, 5) arah T2, dan 6) besar T2. b. Batang-2: 2 variabel : 1) besar F23, 2) besar F43. c. Batang-4: 3 variabel : 1) arah F14, 2) besar F14, 3) besar F34. Dari batang yang mana memulai menyelesaikan ?. 1. Dari batang-4, lihat kembali ketentuan subbab 1.41. kasus-3. Untuk mereduksi jumlah variabel yang belum diketahui dari 3 menjadi 2 variabel, yaitu dengan memotongkan garis gaya P dan F34, b erpotongan di n. Sehingga arah F14 di tentukan oleh garis O2 n , gambar 2.9c. Poligon gaya batang-4, dengan skala gaya 1cm = 20 kN, seperti gambar-2.9d dan 2.9e, dan didapatkan dari pengukuran adalah : F14 = 1,55cm = 1,55cm 20 kN/cm = 31 kN F34 = 0,75cm = 0,75cm 20 kN/cm = 15 kN 2. Pada batang 3, sistem dua gaya berimpit, gambar-2.9f, dari pena B, didapatkan F34 = - F 34, dan F43 = F34 = 15 kN, gambar-2.9g. 3. Pada batang-2, gambar-2.9h pada pena didapatkan : F32 = - F 23, dan F32 = F23 = 15 kN h didapat dari lukisan : h = 0,75cm = 0,75cm F34 = - F34, dan F43 = F34 = 15 kN 20 = 15cm = 0,15 m . dari keseimbangan translasi ( F = 0 ): F12 = - F 32, dan F12 = F32 = 15 kN Dari keseimbangan momen (rotasi) dari titik O2 didapatkan torsi lawan batang-2, T 2 :

Program Semi Que IV Fakultas Teknik Jurusan Mesin Universitas Brawijaya

25

Diktat DINAMIKA
Oleh : Ir. Endi Sutikno Ir. Erwin Sulistyo

T 2 = F 32 . h = 15 kN 0,15 m = 2,25 kNm, s.j.j. 4. Pada batang-1 (fixed link), di pena O 2, gambar-2.9i didapatkan beban dari batang-2: F21 = - F 12, dan F21 = F12 = 15 kN T 2 = 2,25 kNm, b.j.j. Di pena O4, gambar-2.9j : F41 = - F 14, dan F41 = F14 = 31 kN 5. Poligon untuk semua batang mekanisme ini, seperti gambar-2.9k. 2.6.2. Rocker crank mechanism tanpa gaya luar.

Gambar 2.10. Rocker Crank Mechanisme dengan gaya luar di batang-3.

Program Semi Que IV Fakultas Teknik Jurusan Mesin Universitas Brawijaya

26

Diktat DINAMIKA
Oleh : Ir. Endi Sutikno Ir. Erwin Sulistyo

Gambar-2.10a, adalah rocker crank mechanism, yang menerima beban gaya P = 40 kN di batang-4. Kemudian pada batang-3, sebagai batang peimndah/penerus gaya (connecting link) mendapat beban luar di titik C, S = 30 kN , arah 45 o, terhadap batang-3. Data-data mekanisme : O2 A = 40cm, AB = O4 B = 70 cm,O2 O4 = 120cm , 2 =45, dan

BD = 34cm.

Akan ditentukan gaya-gaya pada ujung-ujung batang, dan gaya lawan Q yang batang-2, supaya dicapai keseimbangan. Penyelesaiannya : Gambar soal, seperti gambar 2.10a dilukis dengan skala gambar 1:20 ( 1cm = 20cm panjang batang ). 1. Gambar-2.10b, adalah diagram benda bebasnya, dengan jumlah variabel vector gaya yang belum diketahui pada masing-masing batang : a. Batang-2: 5 variabel : 1) arah F32, 2) besar F32, 3) arah F12, 4) besar F12, dan 5) besar Q. b. Batang-2: 4 variabel : 1) besar F23, 2) arah F23, 3) besar F43, 4) arah F43. c. Batang-4: 4 variabel : 1) arah F14, 2) besar F14, 3) besar F34, 4) arah F34. Dari batang yang mana memulai menyelesaikan ?. Bisa dari batang-3 atau batang-4, karena sistem gaya yang bekerja pada ba tang sifatnya sama 1. Batang-3, untuk meroduksi jumlah variable yang belum diketahui, maka pada pena B, F43 diuraikan menjadi :

F t43 dan F n , 43
besarnya

gambar-2.10c.

Kemudian

menentu kan

dari titik A berdasarkan keseimbangan

momen, dengan skala gaya 1cm = 20 kN , [lihat subbab 2.6.1.], gambar-2.10d, didapatkan :
t F 43 = 0,45cm = 0,45cm 20 kN/cm = 9 kN.

Sekarang sistem gaya batang-3 sepert pada gambar-2.10e.


Program Semi Que IV Fakultas Teknik Jurusan Mesin Universitas Brawijaya

27

Diktat DINAMIKA
Oleh : Ir. Endi Sutikno Ir. Erwin Sulistyo

2. Batang-4, sekarang menjadi 3 variabel yang belum diketahui: 1) arah F14, 2) besar F14, 3) besar

Fn . 43

Selanjutnya dua buah gaya, P dan F t digabung 34 menjadi sebuah gaya resultan R, R = P + Ft 34 Ft34 = - F t 43, dan Ft 34 = Ft43 = 31 kN Hasilnya didapatkan perpotongan garis gaya R dan
n F 43 dititik n, gambar 2.10f. sehingga variabel yang

( 2 12 )

belum diketahui adalah 2 buah, 1) besar F14, 2) besar


n F 43 , arah mengikuti O4 n , gambar-2.10g, sehingga bisa

dilukis poligon gaya keseimbangannya, gambar-2.10h, hasilnya pada gambar 2.10i dan 2.10j, didapatkan dari lukisan :
n F 34 = 0,65cm = 0,65cm 20 kN/cm = 13 kN.

F34 = 0,85cm = 0,85cm 20 kN/cm = 17 kN. F 14 = 1,45cm = 1,45cm 20 kN/cm = 29 kN. Jadi gaya-gaya pada batang-4 dalam keseimbangan seperti gambar 2.10k, ketiga gaya tersebut harus melalui satu titik tangkap n. 3. Kembali ke batang-3, ada 2 variabel yang tidak diketahui: 1) arah F23, 2) besar F23, gambar-2.10l, gaya F23 sebagai vektor penutup, gambar 2.10m., didapatkan dari lukisan : F43 = - F 34, dan F43 = F 34 = 17 kN F23 = 0,7cm = 0,7cm 20 kN/cm = 14 kN 4. Batang-2, dari pena A didapatkan : F32 = - F 23, dan F32 = F 23 = 14 kN Sistem 3 gaya, merupakan kasus-3, gambar2.10n, pada subbab 1.4.1, sehinga didapatkan keseimbangannya seperti gambar-2.10o, dan

Program Semi Que IV Fakultas Teknik Jurusan Mesin Universitas Brawijaya

28

Diktat DINAMIKA
Oleh : Ir. Endi Sutikno Ir. Erwin Sulistyo

keseluruhan

poligon

bisa

disusun

seperti

gambar-2.10p. F12 = 0,25cm = 0,25cm 20 kN/cm = 5 kN Q = 0,95cm = 0,95cm 20 kN/cm = 19 kN

Program Semi Que IV Fakultas Teknik Jurusan Mesin Universitas Brawijaya

29

Anda mungkin juga menyukai