Anda di halaman 1dari 3

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Diare merupakan penyebab utama kematian pada anak-anak (Tanchoco, 2006). Di Amerika Serikat, diperkirakan 21 juta sampai 37 juta kasus diare sekitar 16,5 juta dialami oleh anak-anak usia kurang dari 5 tahun (Niel, 2002). 4 milyar kasus terjadi di dunia pada tahun 2000 dan 2,2 juta diantaranya meninggal, sebagian besar anak-anak di bawah umur 5 tahun (WHO, 2005) Di Indonesia, diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat utama. Hal ini disebabkan masih tingginya angka kesakitan dan menimbulkan banyak kematian terutama pada bayi dan balita, serta sering menimbulkan Kejadian Luar Biasa (Adisasmito,2007). Angka kesakitannya adalah sekitar 200-400 kejadian diare diantara 1000 penduduk setiap tahunnya. Dengan demikian di Indonesia diperkirakan ditemukan penderita diare sekitar 60 juta kejadian setiap tahunnya, sebagian besar (70%-80%) dari penderita ini adalah anak di bawah usia 5 tahun (Suraatmaja, 2007). Provinsi Sumatera Utara

mencatat penderita diare pada tahun 2005 sebanyak 168.072 orang. Penderita terbanyak pada tahun 2005 terdapat di Kota Medan dengan jumlah 38.012 orang (Depkes. R.I. 2005). Sedangkan di Kecamatan Medan Sunggal pada tahun 2008 ditemukan kasus diare sebanyak 1801 orang (Dinkes, 2008). Diare adalah suatu keadaan dimana frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali per hari disertai perubahan konsistensi tinja. Umumnya terjadi pada anakanak, terutama antara umur 6 bulan sampai 2 tahun (WHO,2005). Rotavirus merupakan agen paling penting yang menyebabkan penyakit diare disertai dehidrasi pada anak-anak kecil di seluruh dunia (Wong, 2009). Infeksi Rotavirus menyebabkan sebagian besar perawatan rumah sakit karena diare berat pada anak-anak kecil dan merupakan infeksi nosokomial (infeksi yang di dapat di rumah sakit) yang signifikan oleh mikroorganisme

Universitas Sumatera Utara

patogen.

Mikroorganisme Giardia lamblia dan Cryptosporidium merupakan

parasit yang paling sering menimbulkan diare infeksius akut (Wong, 2009). Diare diklasifikasikan sebagai diare akut dan kronis (Wong, 2009). Diare akut didefenisikan sebagai peningkatan frekuensi buang air besar (3 atau lebih per hari atau sekurang-kurangnya 200 g tinja per hari ), berlangsung dalam 14 hari dan dapat disertai mual, muntah, kram perut, gejala sistemik yang signifikan secara klinis atau pun malnutrisi (Thielman, 2004). Sedangkan diare dikatakan kronis jika frekuensi defekasi dengan perubahan konsistensi tinja berlangsung lebih dari 14 hari (Pickering, 2000). Sebagai akibat diare baik akut maupun kronik akan terjadi dehidrasi, gangguan keseimbangan asam basa (metabolik asidosis), hipoglikemia, gangguan sirkulasi serta gangguan gizi (Suraatmaja, 2007). Tinggi rendahnya angka kejadian diare ini dalam masyarakat ditentukan antara lain oleh faktor lingkungan dan faktor perilaku masyarakat. Dalam hal ini perlu peran serta masyarakat, khususnya ibu untuk usaha penatalaksanaan serta pencegahannya. Tujuan utama dalam penatalaksanaan diare meliputi pengkajian terhadap gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, rehidrasi, terapi cairan rumatan dan tindakan memulai kembali diet yang memadai. Tindakan pertama yang harus dilakukan pada bayi yang menderita diare akut dan dehidrasi adalah terapi rehidrasi oral (ORT) atau pemberian oralit. Pemakaian oralit merupakan salah satu kemajuan dalam pelayanan kesehatan di dunia (Wong, 2009). Pada aspek pengetahuan ibu, rendahnya pengetahuan ibu mengenai hidup sehat merupakan faktor resiko yang menyebabkan penyakit diare pada anak dan balita, sehingga rasa ingin tahu masih kurang, khususnya dalam tatalaksana diare(Adisasmito, 2007). Oleh sebab itu, peneliti tertarik melakukan penelitian mengenai seberapa jauh pengetahuan masyarakat terutama ibu mengenai gambaran tatalaksana diare pada balita.

Universitas Sumatera Utara

1.2.

Rumusan Masalah Bagaimanakah gambaran pengetahuan ibu tentang tatalaksana diare pada balita?

1.3.

Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum Untuk mengetahui seberapa jauh gambaran pengetahuan ibu tentang tatalaksana diare pada balita di Kecamatan Medan Sunggal.

1.3.2. Tujuan Khusus Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang tatalaksana diare pada balita di Kecamatan Medan Sunggal.

1.4.

Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk : 1. Memberi informasi pada masyarakat terutama ibu tentang pengetahuan diare pada balita. 2. Sebagai bahan masukan dan motivator bagi pemerintah dalam upaya mengurangi angka kejadian diare pada balita. 3. Sebagai bahan masukan bagi penelitian berikutnya.

Universitas Sumatera Utara