Anda di halaman 1dari 17

KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI SEBAGAI LEMBAGA NEGARA PENUNJANG DAN MANDIRI Oleh Rendy Ivaniar (0910110213)

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas BRawijaya BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Seiring berjalannya Reformasi di Indonesia muncul berbagai macam perubahan dalam sistem Ketatanegaraan, khususnya perubahan pada Konstitusi Negara Indonesia. Salah satu hasil dari Perubahan Konstitusi Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD Negara RI Tahun 1945) adalah beralihnya supremasi Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) menjadi supremasi konstitusi. Akibatnya, MPR bukan lagi lembaga tertinggi negara karena semua lembaga negara didudukkan sederajat dalam mekanisme checks and balances. Sementara itu, konstitusi diposisikan sebagai hukum tertinggi yang mengatur dan membatasi kekuasaan lembaga-lembaga negara. Perkembangan konsep trias politica juga turut memengaruhi perubahan struktur kelembagaan di Indonesia. Di banyak negara, konsep klasik mengenai pemisahan kekuasaan tersebut dianggap tidak lagi relevan karena tiga fungsi kekuasaan yang ada tidak mampu menanggung beban negara dalam menyelenggarakan pemerintahan. Untuk menjawab tuntutan tersebut, negara membentuk jenis lembaga negara baru yang diharapkan dapat lebih responsif dalam mengatasi persoalan aktual negara. Maka, berdirilah berbagai lembaga negara yang membantu tugas

lembaga-lembaga negara tersebut yang menurut Prof. Dr Jimly Asshidiqie, SH disebut sebagai Lembaga Negara Bantu dalam bentuk dewan, komisi, komite, badan, ataupun otorita, dengan masing-masing tugas dan wewenangnya.

Beberapa ahli tetap mengelompokkan lembaga negara bantu dalam lingkup eksekutif, namun ada pula sarjana yang menempatkannya tersendiri sebagai

cabang keempat kekuasaan pemerintahan.1 Dalam konteks Indonesia, kehadiran lembaga negara bantu menjamur pascaperubahan UUD Negara RI Tahun 1945. Berbagai lembaga negara bantu tersebut tidak dibentuk dengan dasar hukum yang seragam. Beberapa di antaranya berdiri atas amanat konstitusi, namun ada pula yang memperoleh legitimasi berdasarkan undang-undang ataupun keputusan presiden. Salah satu lembaga negara bantu yang dibentuk dengan undang-undang adalah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).KPK lahir dilatarbelakangi banyaknya korupsi yang merajalela dinegara Indonesia. Pada mulanya, kesulitan terbesar dalam memberantas korupsi adalah minimnya perangkat hukum beserta struktur penegakannya yang sudah demikian hancur. Berbagai peraturan yang telah ada tidak banyak membantu, alih-alih justru menyulitkan agenda pemberantasan korupsi. Demikian halnya dengan aparatur penegak hukum yang tidak cakap. Barangkali ketidakcakapan itu sebagian besarnya lahir karena mentalitas yang buruk. Hampir tidak ada cermin yang memantulkan integritas dan akuntabilitas atas kerja-kerja aparat penegak hukum dalam memberantas korupsi. Yang lebih mengerikan, upaya-upaya penegakan hukum justru digembosi oleh mereka sendiri. Tindak pidana Korupsi di Indonesia sudah meluas di masyarakat. Perkembangannya pun terus meningkat dari tahun ke tahun, baik dari jumlah kasus yang terjadi maupun jumlah kerugian keuangan negara. Kualitas tindak pidana korupsi yang dilakukan juga semakin sistematis dengan lingkup yang memasuki seluruh aspek kehidupan masyarakat. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor utama penghambat keberhasilan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Ketidakberhasilan Pemerintah dalam memberantas korupsi juga semakin memperburuk citra Pemerintah di mata masyarakat yang tercermin dalam bentuk ketidakpercayaan dan ketidakpatuhan masyarakat terhadap hukum. Apabila tidak ada perbaikan yang berarti, maka kondisi tersebut akan sangat membahayakan kelangsungan hidup bangsa.

http://www.scribd.com/document_downloads/direct/88793153?extension=doc&ft=1339288015& lt=1339291625&uahk=1+YawN2a9cslRUCT+jQciP3V1Ww (diakses 8 Juni 2012)

Oleh karena itu pada tahun 2002 dibentuk sebuah komisi yang mempunyai tugas utama memberantas tindak pidana korupsi yaitu KPK (Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi). Dalam perkembangannya hingga sekarang komisi ini telah banyak menunjukan prestasinya sehingga penting dan menarik kita untuk mengkajinya secara bersama-sama apas aja kendala yang dihadapi KPK selama ini. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana sejarah terbentuknya komisi pemberantasan tindak pidana korupsi di Indonesia? 2. Apa saja tugas dan kewenangan komisi pemberantasan korupsi yang ada dalam undang-undang nomor 30 tahun 2002? 3. Bagaimana kedudukan KPK sebagai Lembaga Negara Mandiri (state auxiliary agencies) dalam ketatanegaraan di Indonesia?

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mendeskripsikan sejarah terbentuknya komisi pemberantasan tindak pidana korupsi di Indonesia 2. Untuk menganalisis dan mendeskripsikan tugas dan kewenangan komisi pemberantasan korupsi yang ada dalam undang-undang nomor 30 tahun 2002. 4. Untuk menganalisis dan mendeskripsikan kedudukan KPK sebagai Lembaga Negara Mandiri (state auxiliary agencies) dalam ketatanegaraan di Indonesia?

D. Manfaat Penulisan 1 Masyarakat menyadari pentingnya keberadaan komisi pemberantasan korupsi dan mengetahui secara pasti fungsi dan kewenangan dari komisi pemberantasan korupsi ini. 2 Pemerintah bersungguh-sungguh dalam melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi dengan mengoptimalkan kinerja lembaga-lembaga anti korupsi dan menyinergiskan kerjanya. 3

Lembaga negara terkait, seperti Polri, Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Kejaksaan Negeri, dan sebagainya, agar dapat saling bekerjasama dengan Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

BAB II METODE PENULISAN

A. Metode Pendekatan Penelitian ini adalah penelitian hukum dengan pendekatan yuridis normatif atau penelitian hukum doktrinal yang mengkaji subtansi dari peraturan perundang-undangan.2 Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan perundang-undangan (statute-approach), yaitu dengan menelaah peraturan perundang-undangan3 yang berkaitan dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia, terutama mengenai peraturan pemberantasan korupsi dan pendekatan konsep (conseptual approach), dengan menelaah dan memahami konsep-konsep pemenuhan mekanisme pemberantasan korupsi di berbagai negara dan di Indonesia khususnya4.

B. Jenis Data Jenis data yang digunakan adalah data sekunder. Penelitian ini menggunakan bahan hukum5, yang terdiri dari: a. Bahan Hukum Primer, meliputi; Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi; Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

Soetandyo Wignjosoebroto, Hukum, Paradigma, Metode dan Dinamika Masalahnya. ELSAM-HUMA, Jakarta, 2002, h. 146-147.
3 4

Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana, Jakarta, 2007, h. 96.

Johnny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Bayumedia Publising, Malang, 2007, h. 391. CFG. Sunaryati Hartono, Penelitian Hukum Di Indonesia Pada Akhir Abad Ke-20, ALUMNI, Bandung, 1994, h. 36.
5

b. Bahan Hukum Sekunder, meliputi; Tap MPR RI No. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara yang bebas korupsi, kolusi dan nepotisme. c. Bahan Hukum Tersier6, yaitu bahan yang memberi petunjuk atau penjelasan terhadap bahan hukum primer maupun sekunder, yaitu Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Black`s Law Dictionary.

C. Tahapan Penelitian Penelitian hukum ini, dilakukan melalui tahap-tahap berikut; (a) mencari dan mengklasifikasikan fakta;(b) mengadakan klasifikasi tentang masalah hukum yang diteliti; (c) mengadakan analisis hukum atau/dan analisis interdisipliner dan multidisipliner; (d) menguji hipotesis; (e) menarik kesimpulan; serta (f) mengajukan saran.

D. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui studi dokumen di perpustakaan Mahasiswa Universitas Brawiaya dan di Pusat Dokumentasi dan Informasi Hukum Universitas Brawijaya.

E. Teknik Analisis Data Analisis bahan hukum dilakukan dengan teknik analisis isi (content analysis).7 Analisis isi adalah teknik penelitian yang bertujuan untuk mencandra suatu pesan yang tersirat maupun tersurat. Dalam analisis isi, kandungan asas dan pasal-pasal relevan telah dipaparkan dan selanjutnya diinterpretasi8 dengan metode otentik9, komparatif, teleologis dan gramatikal.

6 7

Ibrahim R, Sinopsis Penelitian Ilmu Hukum. Raja Grafindo Persada, 1995, h. 41-43.

Valerine J.L. Kriekhoff, Analisis Konten dalam Penelitian Hukum: Suatu Telaah Awal, Kumpulan Bahan Bacaan dalam Penataran Metode Penelitian Hukum yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Cimanggis, 20-30 Juli 1997, h. 85. Sudikno Mertokusumo, Penemuan Hukum, Sebuah Pengantar, Penerbit Liberty, Yogyakarta, 2001, h. 11. Yudha Bhakti Ardhiwisastra, Penafsiran dan Konstruksi Hukum, ALUMNI, Bandung, 2000, h. 11.
9 8

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Sejarah Terbentuknya Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Di Indonesia Bila kita mau melihat kebelakang dan mau membuka kembali lembaran sejarah indonesia, ternyata berbagai peraturan telah dikeluarkan dan berbagai lembaga telah dibentuk oleh pemerintah untuk memberantas korupsi, seperti tabel dibawah ini10 :
Tahun 1957 Produk Hukum Lembaga Keterangan Peraturan Penguasa Militer No. PRT/PM/061957 Peraturan pemberantasan Korupsi Penguasa Perang Pusat No. PRT/Peperpu/013/1958 UU NO.24/Prp 1960 tentang Pemberantasan Korupsi Keppres N0.228/1967 Tim Pemberantas Membantu pemerintah Korupsi memebrantas korupsi dengan penindakan dan pencegahan Keppres No.12/1970 Komisi Empat Menghubungi pejabat/instansi guna memeriksa dokumen pemerintah dan swasta Komite Anti Tugas diskusi dengan Korupsi pemimpin partai dan bertemu presiden UU No. 3 Tahun 1971 Tindak Pidana Korupsi Inpres No.9/1977 Operasi Pembersihan pungutan liar, Penertiban penertiban aparat nakal dll Tim Pemberantas TPK dihidupkan tanpa Korupsi dikeluarkannya Kepres Tap MPR No. xi/mpr/1998 tentang pemerintahan yang

1958

1860

1967

1970

1971 1977 1982 1998

10

Arya Maheka. KPK. Mengenali dan Memberantas Korupsi.

1999

2000

2002

bersih dan bebas kkn UU No.28/ 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi UU No.31/1999 Tentang Perubahan UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Kepres No.27/1999 Komisi Pemeriksaan Kekayaan Penyelenggara Negara PP 19/2000 Tim Gabungan Pemberantasan Korupsi UU no.30/ 2002 KPK

Pemeriksaan kekayaan pejabat tinggi Negara.

2004

Keppres 59/2004

2005

Keppres 11/2005

Mengungkap kasus-kasus korupsi yang sulit ditangani oleh Kejagung Menyelidiki kasus korupsi yang nilainya lebih dari 1 miliar, melakukan koordinasi supervise penegak hukum Pengadilan Memeriksa dan memutus Tipikor kasus korupsi yang diajukan KPK Tim Koordinasi Koordinasikan proses Pemberantasan penyidikan, penuntutan Tipikor yang ditangani kejaksaan

Ketetapan MPR RI No. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme mengamanatkan pentingnya memfungsikan lembaga-lembaga negara secara proporsional dan tepat, sehingga penyelenggaraan negara dapat berlangsung sesuai dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Ketetapan MPR tersebut juga mengamanatkan bahwa untuk menghindarkan praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme, setiap Penyelenggara Negara harus bersedia mengumumkan dan diperiksa kekayaannya sebelum dan setelah menjabat. Selanjutnya diamanatkan pula bahwa penindakan terhadap pelaku korupsi, kolusi dan nepotisme harus dilakukan secara tegas terhadap siapapun juga. Sebagai tindak lanjut dari TAP MPR RI No. XI/MPR/1998, maka telah disahkan dan diundangkan beberapa peraturan perundang-undangan sebagai landasan hukum untuk melakukan pencegahan dan penindakan tindak

pidana korupsi. Upaya tersebut diawali dengan diberlakukannya UndangUndang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme. Konsideran undang-undang tersebut menjelaskan bahwa praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme tidak hanya dilakukan antar-Penyelenggara Negara melainkan juga antara Penyelenggara Negara dan pihak lain. Hal tersebut dapat merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara serta membahayakan eksistensi negara, sehingga diperlukan landasan hukum untuk pencegahannya. Perbaikan di bidang legislasi juga diikuti dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagai penyempurnaan atas Undangundang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TPK). Konsideran undang-undang tersebut secara tegas menyebutkan bahwa tindak pidana korupsi sangat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara dan menghambat pembangunan nasional, sehingga harus diberantas dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pada tahun 2001, Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 disempurnakan kembali dan diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001. Penyempurnaan ini dimaksudkan untuk lebih menjamin kepastian hukum, menghindari keragaman penafsiran hukum dan memberikan perlindungan terhadap hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat, serta perlakuan secara adil dalam memberantas tindak pidana korupsi. Dengan pertimbangan bahwa sampai akhir tahun 2002 pemberantasan tindak pidana korupsi belum dapat dilaksanakan secara optimal dan lembaga pemerintah yang menangani perkara tindak pidana korupsi belum berfungsi secara efektif dan efisien, maka ditetapkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 yang menjadi dasar pembentukan Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang disingkat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). KPK merupakan lembaga negara yang bersifat independen yang dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya bebas dari pengaruh

kekuasaan manapun. Berdasarkan Pasal 6 Undang Undang Nomor 30 Tahun 2002, maka tugas dari KPK ini meliputi: melakukan koordinasi dan supervisi terhadap upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh lembaga-lembaga yang berwenang, melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi, melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi, dan melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan negara.

3.2 Tugas Dan Kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi Yang Ada Dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002

Berdasarkan ketentuan Pasal 6 Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002, badan khusus tersebut yang selanjutnya disebut Komisi Pemberantasan Korupsi, memiliki Tugas dan Wewenang11 : Tugas (Pasal 6 UU 30 Tahun 2002): 1. koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi; 2. supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi; 3. melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi; 4. melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi; dan 5. melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan negara. Wewenang: 1. Mengkoordinasikan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi; 2. menetapkan sistem pelaporan dalam kegiatan pemberantasan tindak pidana korupsi;
11

http://www.kpk.go.id/modules/edito/content.php?id=2 (diakses tgl 9 juni 2012)

10

3. meminta informasi tentang kegiatan pemberantasan tindak pidana korupsi kepada instansi yang terkait; 4. melaksanakan dengar pendapat atau pertemuan dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi; dan 5. meminta laporan instansi terkait mengenai pencegahan tindak pidana korupsi. Peraturan ini dibentuk berdasarkan ketentuan yang dimuat dalam Undang-Undang tersebut di atas. Pada saat sekarang pemberantasan tindak pidana korupsi sudah dilaksanakan oleh berbagai institusi seperti kejaksaan dan kepolisian dan badan-badan lain yang berkaitan dengan pemberantasan tindak pidana korupsi, oleh karena itu pengaturan kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi dalam Undang-Undang ini dilakukan secara berhatihati agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan dengan berbagai instansi tersebut. Kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi dalam melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi meliputi tindak pidana korupsi yang : a. melibatkan aparat penegak hukum, penyelenggara negara, dan orang lai yang ada kaitannya dengan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh aparat penegak hukum atau penyelenggara negara; b. mendapat perhatian yang meresahkan masyarakat; dan/atau c. menyangkut kerugian negara paling sedikit Rp.1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah). Tugas dan wewenang KPK sebagaimana diatur dalam pasal 6 sampai dengan pasal 14 UU nomor 30 tahun 2002 yaitu (1) Koordinasi, (2) Supervisi, (3) Penyelidikan, penyidikan, penuntutan, (4) Pencegahan, dan (5) Memonitor Penyelenggaran pemerintah. Sebagaimana mengkoordinasikan tugas penyelidikan, mengkoordinasikan, penyidikan dan KPK penuntutan bewenang korupsi,

menetapkan sistem pelaporan dalam kegiatan pemberantasan korupsi, meminta

11

informasi tentang kegiatan pemberantasan korupsi kepada instansi terkait, melaksanakan dengar pendapat dari instansi lain mengena pencegahan korupsi. Sedangkan untuk tugas supervisi, KPK berwenang mengawasi, meneliti menelaah instansi dalam menjalankan tugasnya untuk memberantas korupsi. Dalam kewenangan supervisinya, KPK dapat mengambil alih penyidikan atau penuntutan terhadap pelaku korupsi yang sedang ditangani kepolisian atau kejaksaan. Alasan pengambilalihan dapat dikarenakan laporan dari masyarakat tidak ditindaklanjuti, penanganan kasus korupsi yang berlarut-larut tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, penanganan perkara potensi mafia hukum, terdapat campur tangan dari eksekutif, yudikatif atau legislatif. Dalam proses penyelidikan, penyidikan dan penuntutan, KPK dalap melakukan penyadapan, meekam pembicaraan, melarang seseorang untuk pergi keluar negeri,meminta keterangan dari Bank, meminta instansi keuangan untuk memblokir rekening yang diduga hasil korupsi, meminta bantuan

kepolisian/instansi lain untuk melakukan penangkapan dan meminta bantuan interpol untuk menyita barang bukti di luar negeri. Untuk bidang pencegahan KPK dapat mrlakukan pendaftaran dan pemeriksaan terhadap laporan harta kekayaan penyelenggara negara, menerima laporan gratifikasi, menyelenggarakan pendidikan anti korupsi pada setiap jenjang, melakukan kampanye anti korupsi dan melakukan kerjasama bilateral maupun multilateral dalam pemberantasan korupsi. Visi "Mewujudkan Lembaga yang Mampu Mewujudkan Indonesia yang Bebas dari Korupsi"12 Visi tersebut merupakan suatu visi yang cukup sederhana namun mengandung pengertian yang mendalam. Visi ini menunjukkan suatu tekad kuat dari KPK untuk segera dapat menuntaskan segala permasalahan yang menyangkut KKN. Pemberantasan korupsi memerlukan waktu yang tidak sedikit mengingat
12

http://www.kpk.go.id/modules/edito/content.php?id=1 (diakses tgl 9 juni 2012)

12

masalah korupsi ini tidak akan dapat ditangani secara instan, namun diperlukan suatu penanganan yang komprehensif dan sistematis. Misi 1 2 Pendobrak dan Pendorong Indonesia yang Bebas dari Korupsi" Menjadi Pemimpin dan Penggerak Perubahan untuk Mewujudkan Indonesia yang Bebas dari Korupsi Dengan misi tersebut diharapkan bahwa komisi ini nantinya merupakan suatu lembaga yang dapat "membudayakan" anti korupsi di masyarakat, pemerintah dan swasta di Indonesia. Komisi sadar bahwa tanpa adanya keikutsertaan komponen masyarakat, pemerintah dan swasta secara menyeluruh maka upaya untuk memberantas korupsi akan kandas ditengah jalan. Diharapkan dengan partisipasi seluruh lapisan masyarakat tersebut, dalam beberapa tahun mendatang Indonesia akan bebas dari KKN.

Struktur Organisasi (Berdasar Lampiran Peraturan Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi No. PER-08/XII/2008 Tanggal Desember 2008)13

13

http://www.kpk.go.id/modules/edito/content.php?id=13 (diakses tgl 9 juni 2012)

13

3.3 Kedudukan KPK sebagai Lembaga Negara Mandiri (state auxiliary agencies) dalam ketatanegaraan di Indonesia

Berdirinya lembaga negara bantu dan bersifat mandiri merupakan perkembangan baru dalam sistem pemerintahan. Teori klasik trias politica sudah tidak dapat lagi digunakan untuk menganalisis relasi kekuasaan antarlembaga negara. Pembentukan lembaga negaa baru dapat disebabkan oleh tekanan dari Internal dan External. Tekanan internal disebabkan gejolak dalam struktur politik dan social masyarakat Negara, yaitu berupa kuatnya tuntutan reformasi politik, hukum dan system kemasyarakatan yang secara politis dan hukum telah menyebabkan tuntutan terhadap dekonsentrasi kekuasaan Negara dan reposisi system ketatanegaraan.14 Adapun tekanan external berasal dari fenomena gerakan aus global kebebasan, demokratisasi, dan gerakan hak asasi manusia Internasional. Hal ini yang juga melatarbelakangi lahirnya lembaga baru ini adalah indikasi munculnya kekuatan baru dalam struktur ketatanegaraan yang berasal dari konsep demokrasi dan hak asasi manusia. Pembentukan lembaga-lembag baru yang independent ini seperti mencangkokan suatu lembaga berdasarkan konsep demokrasi dengan harapan lembaga cangkokan itu dapat memberi pengaruh positif terhadap system lembaga induknya. 15 Pembentukan komisi-komisi Negara tersebut belum didasarkan pada konsepsi yang utuh untuk sebuah system ketatanegaraan yang ideal, sehingga selama ini masih terjadi tumpang tindih kewenangan dengan lembaga-lembaga yang lain. Kewenangan yang diberikan kepada komisi-komisi sangat beragam, meskipun secara umum wewenangnya merupakan penegasan atau perpanjangan tangan dari konsepsi tria politika yang membagi kekuasaan negaa atas kekuasaan legislative, eksekutif dan yudikatif. Kekurangan saat ini terkait lembaga Negara adalah tidak ada definisi yang pasti terkait lemabag Negara dan diperlukan

14

Dr. Lukman Hakim. 2010. Kado Untuk Mukhtie Fadjar, Parameter Untuk Melembagakan Komisi Negara Sebagai Lembaga Negara.:I nTrans. Malang hlm 39 15 Ibid hlm 38

14

kembali penataan ketatanegaraan apakah lembaga Negara cukup efektif atau tidak. Selain itu untuk menentukan institusi mana saja yang disebut sebagai lembaga negara bantu dalam struktur ketatanegaraan RI terlebih dahulu harus dilakukan pemilahan terhadap lembaga-lembaga negara berdasarkan dasar pembentukannya. Pasca perubahan konstitusi, Indonesia membagi lembagalembaga negara ke dalam tiga kelompok. Pertama, lembaga negara yang dibentuk berdasar atas perintah UUD Negara RI Tahun 1945 (constitutionally entrusted power). Kedua, lembaga negara yang dibentuk berdasarkan perintah undang-undang (legislatively entrusted power). Ketiga, lembaga negara yang dibentuk atas dasar perintah keputusan presiden.16 Lembaga negara pada kelompok pertama adalah lembaga-lembaga negara yang kewenangannya diberikan secara langsung oleh UUD Negara RI Tahun 1945, yaitu Presiden dan Wakil Presiden, MPR, DPR, DPD, BPK, MA, MK, dan KY. Selain delapan lembaga tersebut, masih terdapat beberapa lembaga yang juga disebut dalam UUD Negara RI Tahun 1945 namun kewenangannya tidak disebutkan secara eksplisit oleh konstitusi. Lembaga-lembaga yang dimaksud adalah Kementerian Negara, Pemerintah Daerah, komisi pemilihan umum, bank sentral, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), dan dewan pertimbangan presiden. Satu hal yang perlu ditegaskan adalah kedelapan lembaga negara yang sumber kewenangannya berasal langsung dari konstitusi tersebut merupakan pelaksana kedaulatan rakyat dan berada dalam suasana yang setara, seimbang, serta independen satu sama lain. Berikutnya, lembaga negaa yang pembentukan melalui undang-undang paling tidak terdapat sebelas lembaga negara yang dibentuk atas dasar perintah undang-undang. Lembaga-lembaga tersebut adalah Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Komisi Ombudsman, Komisi Pemberantasan
16

Jimly Asshidiqie. Perkembangan Ketatanegaraan Pasca Perubahan UUD 1945 dan tantangan Pembaruan Pendidikan Hukum di Indonesia. 2004. Hlm 7

15

Korupsi (KPK), Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) 17, Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (Komnas Perlindungan Anak), Komisi Kepolisian Nasional, Komisi Kejaksaan, dan Dewan Pers. Jumlah ini kemungkinan dapat bertambah atau berkurang mengingat lembaga negara dalam kelompok ini tidak bersifat permanen melainkan bergantung pada kebutuhan negara. Misalnya, KPK dibentuk karena dorongan kenyataan bahwa fungsi lembaga-lembaga yang sudah ada sebelumnya, seperti kepolisian dan kejaksaan, dianggap tidak maksimal atau tidak efektif dalam melakukan pemberantasan korupsi. Apabila kelak, korupsi dapat diberantas dengan efektif oleh kepolisian dan kejaksaan, maka keberadaan KPK dapat ditinjau kembali.

17

Sudah dibatalkan oleh Keputusan MK

16

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Jika kita melihat kebelakang, sejarah pemberantasan tindak pidana korupsi sudah dimulai sejak tahun 1957 melahirkan empat belas (14) peraturan. Hingga saat ini telah melakukan banyak pembaharuan dan evaluasi, sehingga peraturan yang dikeluarkanpun semakin sempurna dan lembaga yang diciptakan juga semakin optimal. 2. Pembentukan komisi-komisi negara ini dibentuk karena lembaga negara yang ada belum dapat memberikan jalan keluar dan menyelesaikan persoalan yang ada ketika tuntutan perubahan dan perbaikan semakin mengemuka seiring dengan munculnya era demokrasi. 3. Apabila lembaga utama sudah dapat mejalankan tugasnya dengan baik maka keberadaan lembaga penunjang dapat ditinjau kembali.

B. Saran

Seyogyanya

Masyarakat

menyadari

pentingnya

keberadaan

komisi

pemberantasan korupsi dan mengetahui secara pasti fungsi dan kewenangan dari komisi pemberantasan korupsi ini. 2 Seyogyanya Pemerintah bersungguh-sungguh dalam melakukan

pemberantasan tindak pidana korupsi dengan mengoptimalkan kinerja lembaga-lembaga anti korupsi dan menyinergiskan kerjanya. 3 Seyogyanya Lembaga negara terkait, seperti Polri, Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Kejaksaan Negeri, dan sebagainya, agar dapat saling bekerjasama dengan Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

17