Anda di halaman 1dari 64

BAB I PENDAHULUAN

Stomatitis Aptousa Rekuren (SAR) merupakan peradangan mukosa rongga mulut yang ditandai dengan adanya pembentukan ulkus yang berulang-ulang setelah suatu periode penurunan system imun tubuh. Peradangan ini disebabkan oleh faktorfaktor local maupun sistemik yang dapat melibatkan mukosa bukal, labial, palatum, lidah, dasar mulut serta gusi. Penyakit ini merupakan masalah klinis yang paling umum dan sering ditemukan pada penyakit-penyakit mukosa mulut. Berdasarkan bentuk ulsernya, SAR dibagi menjadi bagi menjadi 3 jenis yaitu : ulser minor, ulser mayor dan ulser herpetiformis. SAR dapat disebabkan oleh respon autoimun yang abnormal. Faktor-faktor presipitasinya antara lain : trauma local, ketidakseimbangan endokrin, stress, alergi, factor hereditter dan defisiensi nutrisi. Dalam menegakkan diagnose SAR dapat dilakukan pemeriksaan secara klinis dan laboratorium. Pemeriksaan klinis terdiri dari anamnesa, sifat lesi, dan lokasi lesi. Pemeriksaan laboratorium terdiri dari sitologi usapan, imunofluoresens usapan, kultur jaringan dan metoda serologi dengan mikroskop electron.

Gingivitis adalah bentuk paling ringan dari penyakit periodontal, dimana penyebab utama nya adalah penempelan plak pada permukaan gigi. Gingivitis juga memiliki beberapa faktor predisposisi diantaranya keadaan sistemik, hormonal, obatobatan dan malnutrisi.

Tanda-tanda serta gejala dari gingivitis diantaranya terjadi pembengkakan gingiva yang berwarna lebih merah dengan konsistensi yang kenyal serta permukaan yang halus, adanya bau mulut dan mudah berdarah ketika sikat gigi maupun ketika dilakukan flossing.

Resesi gingiva juga bisa dijadikan tanda utama dari periodontitis karena adanya resesi ini menunjukkan telah hilangnya perlekatan dari epitel ginggiva (loss of attachment). Kasus periodontitis menunjukkan adanya mobilitas gigi atau bahkan yang lebih parahnya gigi bisa lepas. Periodontitis juga bisa disebabkan karena adanya permukaan restorasi yang tidak halus (overhangs) sehingga lebih berpotensi untuk terjadi penumpukan plak yang akhirnya akan berakibat pada localized periodontitis.

BAB II REKAM MEDIS

Rekam

medis merupakan kumpulan data-data yang didapatkan dari

wawancara dengan pasien yang bertujuan untuk menggali keterangan mengenai penyakit yang diderita pasien tersebut. Rekam medis berisi identitas pasien, hasil anamnesis, pemeriksaan fisik (yang melipui tanda-tanda vital,pemeriksaan ekstra oral dan intra oral), riwayat penyakit, diagnose dan rencana perawatan atau rujukan serta hasil pemeriksaan radiografis beserta interpretasinya. Rekam medis merupakan pegangan dari seorang dokter untuk melakukan langkah-langkah selanjutnya dari perawatan. Jika pengisian rekam medis tidak tepat, dapat menyebabkan dokter salah mendiagnosis dan menentukan rencana perawatan bagi pasien tersebut. Jadi, pengisian rekam medis sangat penting untuk rencana perawatan dan administrasi pasien. Berikut ini adalah lampiran rekam medis pasien : telah terlampir .

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Reccurent Aphtous Stomatitis (RAS)

Recurrent Apthous Stomatitis (RAS) merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan ulkus berulang (rekuren) dan terbatas pada mukosa mulut pasien yang tidak memiliki tanda-tanda penyakit lainnya (Lynch dkk, 1994). Ulkus pada RAS biasanya berbentuk bulat atau ovoid, mempunyai daras nekrotik kekuningan dan dikelilingi oleh regio mukosa yang terinflamasi (Wood dan Gooz, 1997). Herediter, defisiensi Fe, B12, Asam folat, alergi, stres, trauma, gangguan hormonal, serta infeksi bakteri dan virus merupakan beberapa faktor etiologi dari RAS. Ulkus jenis ini dibagi menjadi 3 kelompok utama berdaraskan ukurannya, yaitu RAS minor, RAS mayor dan RAS herpetiform (Langlais dan Miller, 2003). RAS merupakan penyakit paling umum pada mukosa mulut sekitar 20% populasi (Sircus, 1984). Stomatitis aftosa rekuren dapat disbut juga sebagai recurrent oral aphtae, recurrent aphthous ulcer, cancer sores, stomatitis makulofibrinosa dan lain-lain.

Stomatitis aftosa rekuren diklasifikasikan sebagai berikut :

Minor Apthous Ulcer

Ulkus tipe ini merupakan jenis yang paling sering dijumpai. Ulkus kecil tunggal atau multipel pada mukosa bukal, mukosa labial, daras mulut atau lidah. Diameter lesi < 1 cm, sembuh dalam durasi 7 10 hari, sembuh tanpa diikuti pembentukan jaringan parut. Tanda klinis berupa daras ulkus berwarna abu-abu kuning, tepi kemerahan, berbentuk oval dan terasa sakit. Biasanya sembuh tanpa cacat.

Major Apthous Ulcer

Ulkus tipe ini terjadi pada 10-15% kasus. Tidak begitu umum terjadi namun lesinya bersifat destruktif dan dapat meniggalkan jaringan parut. Ulkus berukuran lebih beras dengan diameter > 1 cm sampai 5 cm, durasi penyembuhan 2 minggu 3 bulan, sembuh dengan jaringan parut dan berlokasi pada mukosa berkeratin dan non-keratin terutama pada palatum mole dan area tonsilar.

Herpetiform Apthous Ulcer

Ulkus ini terjadi pada 5-10% kasus, jarang terjadi. Berukuran kecil dengan diameter 1-2 mm, multipel, durasi 7-14 hari, sembuh tanpa jaringan parut, dapat terdiri dari 20-200 ulkus yang timbul simultan lokasi pada mukosa non keratin, terutama pada daras mulut dan ventral lidah. Daras ulkus berwarna abu-abu tanpa gambaran garis eritematus mirip dengan ulkus hasil infeksi Herpes Simplex Virus (HSV).

Etiologi

Hingga kini, penyebab dari RAS belum dipastikan, tetapi ada faktor-faktor yang diduga kuat menjadi pemicu atau pencetusnya. Beberapa diantaranya adalah:

Trauma pada jaringan lunak mulut (selain gigi), misalnya tergigit, atau ada gigi yang posisinya di luar lengkung rahang yang normal sehingga

menyebabkan

jaringan

lunak

selalu

tergesek/tergigit

pada

saat

makan/mengunyah Kekurangan nutrisi, terutama vitamin B12, asam folat dan zat besi. Stress Gangguan hormonal, seperti pada saat wanita akan memasuki masa menstruasi di mana terjadi perubahan hormonal sehingga lebih rentan terhadap iritasi Gangguan autoimun / kekebalan tubuh, pada beberapa kasus penderita memiliki respon imun yang abnormal terhadap jaringan mukosanya sendiri. Penggunaan gigi tiruan yang tidak pas atau ada bagian dari gigi tiruan yang mengiritasi jaringan lunak Pada beberapa orang, sariawan dapat disebabkan karena hipersensitivitas terhadap rangsangan antigenik tertentu terutama makanan. Ada pula teori yang menyebutkan bahwa penyebab utama dari RAS adalah keturunan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang orang tuanya menderita RAS lebih rentan untuk mengalami RAS juga.

Gambaran Klinis

Stadium Awal (sampai 24 jam)

Mula-mula timbul rasa menyengat, tegang, rasa terbakar dan pedih pada mukosa mulut selama 24 jam. Pada tahap ini belum tampak perubahan klinis. Stadium Preulserasi (18 jam 3 hari)

Tampak daerah kecil eritema yang terlokalisasi berupa tonjolan papula dengan puncaknya yang keputih-putihan. Mula-mula lesi tunggal kemudian bertambah dari dua samapi enam buah. Perlahan-lahan terbentuk membrane permukaan yang kekuning-kuningan atau abu-abu. Eritema berkembang menjadi cincin peradangan berwarna merah. Membran permukaan berbentuk lonjong, meluas dari diameter 2 mm sampai menjadi 20 mm.

Bentuk lesi tergantung pada tempat terjadinya. Pada mukosa bukal dan labial, membundar atau agak memanjang. Sedangkan pada vestibula dan daras mulut biasanya memanjang atau berupa garis. Rasa nyeri merupakan gejala yang

menonjol, tetapi keparahannya bervariasi. Biasanya lesi jarang terdapat pada satu lokasi.

Stadium Ulserasi (1-6 hari)

Bagian tengah membran mengalami nekrose yang memucat. Ketika bagian ini mengelupas, tinggallah suatu ulkus yang dangkal dangan tepi tidak beraturan. Pengelupasan ini memakan waktu satu sampai tiga hari. Bekuan fibrin yang berwarna putih abu-abu atau kekuning-kuningan terbentuk pada dasar ulkus. Ulkus tampak seperti kawah yang dikelilingi warna merah.

Ulkus ini dapat memberas dalam waktu empat sampai enam hari hingga mencapai rasa sakit sampai ketidaknyamanan. Hal ini mungkin berkaitan dengan pembesaran lesi yang mencapai ukuran maksimal, penghentian perluasan lesi lebih lanjut dan pembentukan bekuan fibrin untuk menutupi ulkus yang apabila tidak mengganggu cukup melekat dan tebal untuk melindungi jaringan di bawahnya terhadapa iritasi.

Stadium Penyembuhan

Setelah empat sampai 35 hari (umumnya kurang dari 21 hari) ulkus sembuh tanpa cacat secara klinis. Hanya sebagian kecil ulkus kronis yang meninggalkan cacat. Ulkus-ulkus yang terjadi pada ikatan fibrosa otot, misalnya frenulum dan lidah, berlangsung paling lama dan paling sakit.

Patogenesis

Bentuk L Streptokokus alfa hemolitikus tampak dalam saluran kelenjar mukosa mulut. Pada kondisi tertentu bakteri ini mengadakan transisi menjadi bentuk yang matang. Selama masa transisi ini bakteri menghasilkan kapsul

mukopolisakarida. Kemudian terjadi respon alergi tipe delayed hypersensitive terhadap mukopolisakarida tersebut. Oleh sebab itu ulkus aftosa biasanya timbul di sekitar kelenjar mukosa. Keadaan ini kadang-kadang diikuti demam yang ringan dengan limfadenopati regional.

Umumnya lesi ini sembuh spontan dalam waktu satu atau dua minggu. Sedangkan lesi yang lebih parah penyembuhannya lebih lama (tiga sampai enam minggu). Apabila lesi meninggalkan cacat, dapat mengurangi pergerakan uvula dan lidah serta mengakibatkan obstruksi mukosa usus. Pada saat satu lesi sembuh maka yang lainnya akan muncul pada lokasi lain.

RAS paling sering dimulai pada dekade kedua kehidupan seseorang. Pada wanita, rekurensi terjadinya pada dekade ketiga dan tetap tinggi pada dekade kedelapan. Sedangkan rekurensi pada pria segera turun setelah dekade kelima dan hilang total pada dekade ketujuh. Perbandingan rekurensi pada wanita dengan pria, yaitu 3:2 dan prevalensi terberas terjadi selama musim dingin dan musim semi.

10

Frekuensi kemunculan aftosa sangat bervariasi antara satu pasien dengan pasien yang lain. Seseorang dapat terkena satu sampai dua kali serangan setiap tahun, sedangkan yang lainnya mengalami rekurensi setiap bulan selama bertahun-tahun. Rekurensi aftosa ini lebih sering terjadi dibandingkan dengan rekurensi lesi herpetik maupun cold sore. 3.2 Agresif Periodontitis Aggressive Periodontitis umumnya menyerang secara sistemik pada individu sehat yang berumur kurang dari 30 tahun, meskipun kadang menyerang pasien yang lebih muda. Periodontitis agresif secara umum dibedakan dengan periodontitis kronis oleh usia onset, laju kecepatan progresi penyakit, sifat dan komposisi kumpulan microflora gingiva, perubahan respon imun host dan agregasi famili dari penyakit individu. Periodontitis agresif menggambarkan tiga penyakit yang dulunya diklasifikasikan sebagai early onset periodontitis. Localized aggressive periodontitis dulunya diklasifikasikan sebagai localized juvenile periodontitis (LJP). Generalized aggressive priodontitis mencakup penyakit yang sebelumnya diklasifikasikan sebagai generalized juvenile periodontitis (GJP) dan rapidly progressive periodontitis (RPP).

3.2.1 Localized Aggresive Periodontitis Tanda-tanda Klinis Localized aggresive periodontitis (LPJ) biasanya mempunyai onset

11

pada usia masa pubertas atau remaja. Tanda-tanda klinisnya yaitu terlokalisasi pada gigi molar pertama atau incisivus dan hilangnya perlekatan interproksimal paling sedikit pada dua gigi permanen, satu pada gigi molar pertama dan satunya pada gigi selain molar pertama dan incisivus. Karakteristik yang mencolok dari LAP adalah tidak adanya inflamasi klinis meskipun terdapat poket periodontal yang dalam dan adanya kehilangan tulang yang cepat. Bukti yang telah dilaporkan bahwa laju hilangnya tulang sekitar 3-4 kali lebih cepat daripada periodontitis kronik.

Gambaran Radiografik Hilangnya tulang alveolar secara vertikal disekeliling gigi molar pertama dan incisivus, pada permulaan masa pubertas pada remaja sehat. Kerusakan tulang biasanya lebih luas daripada periodontitis kronik.

12

3.2.2

Generalized Agressive Periodontitis

Tanda-tanda klinis Generalize Aggressive Periodontitis (GAP) biasanya menyerang individu dibawah umur 30 tahun, namun pasien yang lebih tua juga dapat terserang. Berbeda dengan LAP, pada GAP terbukti bahwa individu yang terserang GAP menghasilkan respon antibodi yang rendah terhadap adanya organisme pathogen. Secara klinis, GAP mempunyai karakteristik yaitu hilangnya perlekatan interproksimal secara menyeluruh, sedikitnya pada tiga gigi permanen selain molar pertama dan incisivus. Jaringan yang terinflamasi akut, sering terproliferasi, terulserasi dan

13

berwarna merah terang. Pendarahan dapat terjadi secara spontan atau dengan stimulasi ringan. Supurasi dapat menjadi suatu karakteristik penting. Pada beberapa kasus, jaringan gingiva dapat terlihat berwarna pink, bebas inflamasi, poket yang dalam.

Gambaran Radiografik Hilangnya tulang yang berhubungan dengan gigi secara drastis

3.3 Acute Herpetic Gingivostomatitis

14

3.3.1

Etiologi Acute herpetic gingivostomatitis adalah infeksi primer yang terjadi

pada kavitas oral yang disebabkan oleh herpes simplex virus (HSV) tipe I. ini banyak terjadi pada terjadi bayi dan anak usia kurang dari 6 tahun, tapi ini juga terlihat pada anak remaja dan orang dewasa. Ini terjadi sebanding antara pria dan wanita. Pada kebanyakan orang infeksi primer ini bersifat asimptomatik. Setelah infeksi primer, virus masuk ke saraf sensorik atau autonom dan terus berlangsung di neuronal ganglia yang menginervasi tempat selama HSV tersembunyi. Kira-kira sepertiga populasi di dunia, manifestasi sekunder terjadi melalui hasil beberapa stimuli yang bervariasi seperti sinar matahari, trauma, demam, dan stress. Manifestasi sekunder ini termasuk herpes labialis berulang, herpes genitalis, ocular herpes, dan herpes encephalitis. 3.3.2 Gambaran klinis

Oral signs Acute herpetic gingivostomatitis tampak seperti difus, erithema, licin pada gingival dan mukosa oral yang berdekatan, dengan derajat edema dan pendarahan gingival yang bermacam-macam. Pada tahap inisial, ini digolongkan melalui kehadirannya yang memiliki ciri tersendiri, vesikel spherical yang keabuan, yang terjadi pada gingival, mukosa labial dan buccal,

15

soft palate, pharynx, mukosa sublingual, dan lidah. Setelah kira-kira 24 jam, vesikel akan pecah dan berbentuk ulcer kecil yang sangat sakit disertai merah, tinggi, lingkaran seperti garis dengan bagian tengah muram berwarna kekuning-kuningan atau putih keabuan. Ini terjadi secara luas dalam area yang terpisah atau kelompok-kelompok kecil yang bertemu. Kadang-kadang, acute herpetic gingivostomatitis dapat terjadi tanpa adanya vesikulasi yang jelas. Difus, erythematous, shiny discolorasi dan pembesaran edema pada gingiva cenderung menyebabkan bleeding. Rangkaian penyakit ini terjadi selama 7-10 hari. Difus gingival erythema dan edema yang muncul lebih dulu pada penyakit ini bertahan selama beberapa hari setelah lesi ulcerative dihilangkan. Tidak terdapat bekas luka pada daerah yang telah bebas dari ulcerative. Oral symptoms Penyakit ini disertai rasa sakit dari kavitas oral yang menganggu proses makan dan minum. Vesikel yang pecah merupakan bagian focal yang sakit dan pada umumnya sensitive terhadap sentuhan, perubahan panas, makanan seperti bumbu atau rempah-rempah dan jus buah, dan makan makanan kasar. Pada penyakit ini ditandai dengan sifat yang suka marah dan menolak untuk makan. Tanda dan gejala sistemik dan intraoral

16

Servikal adenitis, demam tinggi antara 101F sampai 105F (38,340,6 C), dan biasana terjadi malaise. Sejarah Infeksi akut ini merupakan ciri umum pada pasien yang memiliki sejarah acute herpetic gingivostomatitis. Kondisi ini sering kali terjadi selama dan sesaat sesudah peristiwa febrile disease seperti pneumonia,

meningitis,influenza, dan typhoid. Ini juga cenderung terjadi selama masa kegelisahan, ketegangan, keletihan, dan selama menstruasi. Acute herpetic gingivostomatitis sering terjadi pada tahap awal dari infeksi mononucleosis. 3.3.3 Histopatologi Ciri tersendiri dari ulserasi herpetic gingivostomatitis bahwa hasil dari rupture vesikel yang memiliki bagian sentral dari inflamasi akut, dengan ulserasi dan tingkat purulent eksudat yang bervariasi, dikelilingi oleh suatu zona kaya sel dan engorged blood vessels. Gambaran mikroskopis dari vesikel ditandai edema ekstraseluler dan intraseluler dan degenerasi dari sel epitel. Sitoplasme sel tampak mencair dan bersih, membrane sel dan nucleus berada di luar relief. Selanjutnya nucleus berdegenerasi, kehilangan daya tarikmenarik terhadap zat warna, dan akhirnya disintegrasi. Formasi vesikel hasil dari fragmentasi terhadap sel epitel yang degenerasi.

17

Perkembangan sepenuhnya dari vesikel adalah suatu kavitas pada sel eptelial yang kadang dengan PMNs. Dasar vesikel dibentuk dari edema sel epithelial basal dan lapisan sel yang prickle. Permukaan superficial dari vesikel dibentuk oleh lapisan atas ang tertekan oleh sel prickle dari stratum granulosum dan stratum corneum. Kadang-kadang potongan eosinofil inclusion bodies ditemukan di inti sel epithelial berbatasan vesikel. Inclusion odies mungkin merupakan koloni partikel virus, sisa denegerasi protoplasma dari sel yang terpapar, atau kombinasi dari keduanya.

3.3.4

Diagnosis Diagnosis biasanya ditentukan dari sejarah pasien dan penemuan klinis. Bahan mungkin didapatkan dari lesi dan diserahkan ke laboratorium untuk tes penegasan, termasuk kultur virus dan tes immunologic menggunakan antibody monoclonal atau teknik hibridisasi DNA.

3.3.5

Penularan Acute herpetic gingivostomatitis merupakan penyakit menular. Umumnya pada orang dewasa ditemukan kekebalan terhadap HSV sebagai hasil dari infeksi selama masa kanak-kanak. Untuk alasan ini acute herpetic gingivostomatitis sering terjadi pada bayi dan anak-anak. Meskipun herpetic gingivostomatitis berulang telah dilaporkan, ini umumnya tidak akan terjadi

18

kecuali jika kekebalan dirusak oleh penyakit debilitasi sistemik. Infeksi herpetic pada kulit seperti herpes labialis juga bersifat berulang. 3.3.6 Perawatan Herpetic gingivostomatitis tidak merespon dengan baik pada perawatan aktif. Istirahat dan diet direkomendasikan selama tahap demam dan anak-anak harus dijaga kondisi cairan tubuhnya dengan baik. Pyrexia berkurang menggunakan suspensi paracetamol dan infeksi kedua dari ulcer dapat dicegah menggunakan chlorhexidine. Obat kumur (0.2%, 2-3 kali sehari) dapat digunakan untuk anak usia lebih tua yang sudah dapat meludah, tetapi anak usia muda (di bawah 6 tahun) dapat menggunakan spray

chlorhexidine (2x 1 hari) atau solution menggunakan sponge swab. Pada kasus herpes simplex yang berat, aciclovir secara sistemik dapat diresepkan sebagai suspensi (200mg) dan di telan 5x 1 hari selama 5 hari. Untuk anakanak berusia dibawah 2 tahun dosisnya adalah setengah dari dosis semula. Aciclovir secara aktif melawan herpes virus tetapi tidak dapat membasmi secara lengkap. Obat lebih efektif jika diberikan pada saat onset dari infeksi. Terapi Herpetic gingivostomatitis : Symptomatic istirahat dan soft diet paracetamol suspension acyclovir

19

3.4 Abses Periodontal Abses periodontal adalah daerah inflamasi yang terlokalisir pada jaringan periodontal yang disertai terbentuknya pus. Abses ini disebabkan oleh

mikroorganisme piogenik endogen atau factor toksik yang terkandung pada plak dan atau menurunnya resistensi. Mikroorganisme yang umum terdapat dalam Abses Periodontal adalah: P. Intermedia, E. Nucleatum, P.Gingivalis. Sedangkan periodontal pathogen lainnya adalah B. Forsythus, P. Micros, Prevotella Melaninogenica, dan C. Rectus. Penyebab radang yang utama pada abses akut adalah polymorphonuclear leukocyte dan pada abses kronis adalah lymphosyte. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan abses adalah plak , kalkulus, invasi bakteri, impaksi makanan atau trauma jaringan obstruksiorifisium poket, kerusakan gusi akibat benda asing scalling dan root planning yang kurang bersih, infeksi pada jaringan yang rusak. Keadaan ini dapat menyebabkan kerusakan tulang alveolar sehingga terjadi gigi goyang.

Gambaran Klinis Secara klinis Abses Periodontal ditandai dengan sakit sampai berdenyut, gigi terasa memanjang dan goyang, gingiva membesar, merah, edema, dengan permukaan yang lembut dan mengkilat, serta terjadi poket yang dalam. Gigi sensitive bila

20

diperkusi. Eksudat purulent bisa dikeluarkan dengan pembukaan pocket. Efek sistemik termasuk malaise, demam, dan pembengkakan kelenjar limph regional

Gambaran Radioghrapy Gambaran Radioghrapy pada periodontal abses pada umumnya tampak radio luncent pada samping permukaan gigi, secara khas nampak di apex dari akar. Kerusakan tulang yang luas dapat terlihat. Namun gambaran radiography tidak bisa digunakan sebagai satu-satunya pembantu diagnose periodontal abses karena variasi lokasi dan langkah-langkah perkembangan dari abses.

21

Perawatan Langkah pertama yang dilakukan untuk memperbaiki kerusakan jaringan periodontal dan meningkatkan kebersihan mulut dapat dilakukan dengan pembersihan plaque dan kalkulus. Kemudian prinsip terapi pada periodontal abses yaitu menstabilkan drainase inflamasi. Drainase dapat menggunakan sonde tumpul. Sonde tumpul dimasukkan perlahan pada ruang periodontal gigi sampai ke tempat abses. Pada saat memasukkan sonde tumpul dibutuhkan anestesi untuk menghilangkan rasa sakit selama menjalani prosedur tersebut. Tindakan bedah dapat dilakukan dengan menginsisi gusi pada daerah periodontal untuk mempermudah drainase. Tindakan bedah ini harus dilakukan hati-hati dan menghindari kerusakan dari jaringan periodontal yang lain. Hal ini harus diperhatikan karena jaringan periodontal berfungsi sebagai penahan agar gigi tetap tertanam pada tulang rahang. Jadi

diusahakan insisi pada daerah periodontal tidak dilakukan secara sembarangan.

Penggunaan antibiotik untuk indikasi dimana demam atau lymphadenopathy servical terjadi.dan antibiotic yang biasa diberikan meliputi: - Penicillin VK: dengan dosis awal 1000 mg dilanjutkan dengan 500 mg diminum 4 kali selama tujuh hari. - Amoxicillin (Augmentin): 250 mg diminum 3 kali sehari untuk sepuluh hari. sehari

22

- Erythromycin: 1000 mg sebagai dosis awal dilanjutkan dengan 500 mg diminum 4 kali selama 7 hari (diberikan pada pasien yang alergi terhadap penicillin). sehari

Untuk yang bersifat kronis atau infeksi dengan respon kecil terhadap penicillin, klindamisin dapat diberikan (300 mg sehari untuk 7 hari). Selain itu dapat dilakukan pencucian dengan air garam hangat terhadap jaringan gusi untuk membantu penyembuhan dan dapat diberikan asetaminophen (mengurang panas dan nyeri) dan obat antiinflamasi seperti ibuprofen. Edodontic diperlukan untuk berlangsungnya penyembuhan. Prognosis gigi pada periodontal abses tergantung pada jumlah dan jenis kerusakan tulang, posisi gigi,abses, dan mobilitas dari gigi. Prognosis untuk regenerasi tulang yang mengalami infeksi akut adalah lebih baik dari pada regenerasi tulang yang mengalami lesi kronis. 3.5 Periodontitis Kronis Periodontitis kronis dikenal sebagai periodontitis dewasa atau periodontitis kronis dewasa adalah bentuk yang paling umum dari penyakit periodontitis. Ini adalah jenis penyakit yang berjalan dengan lambat. Walaupun periodontitis kronis banyak terjadi pada orang dewasa, ini juga dapat terjadi pada anak-anak dan remaja sebagai reaksi dari plak kronik dan akumulasi kalkulus.

23

Penyakit infeksi yang menyebabkan inflamasi

pada jaringan pendukung gigi,

peningkatan hilangnya perlekatan dan kerusakan tulang Definisi dan etiologi: Formasi mikrobial plak Inflamasi periodontal Kehilangan perlekatan dan tulang alveolar

Karakteristik umum Karakteristik yang ditemukan pada pasien periodontitis kronis yang belum ditangani meliputi akumulasi plak pada supragingival dan subgingival, inflamasi gingiva, bentuk poket, kehilangan periodontal attachment, kehilangan tulang alveolar, dan kadang-kadang muncul supurasi. Pada pasien dengan oral hygiene yang buruk, gingiva membengkak dan warnanya antara merah pucat hingga magenta. Hilangnya gingival stippling dan adanya perubahan topografi pada permukaannya seperti menjadi tumpul dan rata (cratered papila). Pada banyak pasien karakteristik umum seringkali tidak terdeteksi, dan inflamasi hanya terdeteksi dengan adanya pendarahan pada gingiva sebagai respon dari pemeriksaan poket periodontal dengan periodontal probe.

24

Gbr. Cratered papillae

Gbr. Periodontal probe

Pendarahan gingival (baik yang spontan maupun pada respon dalam pemeriksaan) dan inflamasi yang berhubungan dengan eksudat pada cervikular fluid dan supurasi dari poket juga dapat ditemukan. Kedalaman poket bervariasi, dan pada kehilangan tulang secara vertikal maupun horizontal dapat ditemukan. Kegoyangan gigi terkadang muncul pada kasus yang lanjut dengan adanya perluasan hilangnya attachment dan hilangnya tulang. Periodontitis kronis dapat didiagnosa dengan terdeteksinya perubahan inflamasi kronis pada marginal gingiva, adanya periodontal poket, dan hilangnya attachment secara klinis. Secara radiografis terlihat adanya kehilangan tulang. hal ini terlihat sama dengan pada penyakit akut.
25

Diagnosis yang membedakan didasari atas umur pasien, kecepatan progres dari penyakit, riwayat keluarga pada penyakit akut, dan ketidakhadiran faktor lokal pada penyakit akut yang dibandingkan dengan adanya plak yang berlebihan dan kalkulus pada periodontitis kronis. Distribusi Penyakit Periodontitis kronis adalah penyakit dengan tempat spesifik. Tanda-tanda klinis dari periodontitis kronis, inflamasi, hillangnya perlekatan, dan hilangnya tulang, dipercaya disebabkan secara langsung, efek tempat spesifik dari penumpukan plak subgingival. Periodontitis Lokal : kurang dari 30% bagian dari mulut menunjukkan kehilangan perlekatan dan kehilangan tulang Periodontitis General: 30% atau lebih bagian dari mulut menunjukkan hilangnya perlekatan dan kehilangan tulang Pola kehilangan tulang yang diteliti pada periodontitis kronis dapat vertikal, saat hilangnya perlekatan dan tulang pada satu permukaan gigi lebih besar dari permukaan gigi sebelahnya atau horizontal saat kehilangan perlekatan dan tulang dimulai pada tingkat yang beragam pada sebagian besar permukaan gigi. Kehilangan tulang vertikal sering dihubungkan dengan defek tulang angular dan formasi tulang intrabony. Kehilangan tulang horizontal biasanya dihubungkan supraboni. dengan poket

26

Keparahan Penyakit Keparahan kerusakan periodontium yang terjadi sebagai hasil dari periodontitis kronis umumnya berhubungan dengan waktu. Dengan bertambahnya umur, kehilangan perlekatan dan tulang menjadi semakin umum dan semakin parah karena penumpukan kerusakan. Keparahan penyakit dapat dikelompokkan menjadi periodontitis ringan, periodontitis moderat, dan periodontitis parah.

Periodontitis ringan : kurang dari 1 atau 2 mm dari kehilangan perlekatan klinis terjadi

Periodontitis moderat : 3 4 mm kehilangan perlekatan klinis terjadi Periodontitis parah : 5 mm atau lebih kehilangan perlekatan klinis terjadi

27

normal probing periodontitis Gejala Klinis

early periodontitis

moderate periodontitis advanced

Pertama kali pasien merasa dia terkena periodontitis kronis dengan tanda gusi berdarah pada saat makan atau ketika menyikat gigi; ada jarak antara gigi yang menyebabkan gigi goyang; atau tanggalnya gigi. Karena periodontitis kronis ini pasien tidak ada gejala nyeri, pasien sama sekali tidak merasa bahwa dia terkena penyakit sehingga kemungkinan besar sedikit untuk mau di rawat dan menerika rekomendasi perawatan. Rasa nyeri kemungkinan muncul pada gigi tanpa karies yang disebabkan oleh akar yang sensitif pada panas, dingin, atau keduanya. Area atau tempat yang terlokalisir sedikit nyeri, kadang-kadang merambat jauh pada rahang, biasanya dihubungkan dengan periodontitis. Adanya area yang terimpaksi oleh makanan

28

menambah ketidaknyamanan pada pasien. Adanya rasa gatal pada gingival mungkin juga ditemukan. Prevalensi Penyakit Prevalensi dan keganasan periodontitis kronis meningkat berdasarkan umur, sama pada gender. Periodontitis merupakan age-associated, bukan age-related. Dengan kata lain, bukan usia seseorang yang menyebabkan peningkatan prevalensi penyakit, tapi panjangnya waktu jaringan periodontal yang berubah oleh akumulasi dari plak kronis. Faktor faktor resiko dari penyakit 1. Riwayat periodontitis terdahulu Meskipun bukan sebagai faktor sebenarnya, namun riwayat

periodontitis terdahulu lebih sebagai prediktor dari penyakit ini, riwayat periodontitis terdahulu menempatkan pasien pada resiko yang lebih besar untuk perkembangan kehilangan attachment dan tulang secara lanjut. Hal ini berarti pada pasien yang memiliki poket periodontal, kehilangan attachment, dan kehilangan tulang akan berlanjut pada kehilangan periodontal support jika tidak dirawat secara tuntas. Sebagai tambahan, pasien periodontitis kronik yang dirawat secara tuntas dan berhasil perkembangan penyakit akan tetap berlanjut apabila plak tetap terakumulasi. Hal ini menekankan bahwa perlunya

29

monitoring dan pemeliharaan pada pasien periodontitis untuk mencegah terjangkitnya kembali penyakit. 2. Faktor lokal Akumulasi plak pada permukaan gigi dan gingiva pada perbatasan dentogingival diketahui sebagai agen penyebab utama pada etiologi periodontitis. Kehilangan perlekatan dan tulang dihubungkan dengan meningkatnya proporsi organisme gram negatif pada biofilm plak subgingival dengan peningkatan spesifik pada organisme dikenal sangat patogen dan virulen. Bacteriodes gingivalis, bacteroides forsythus dan treponema denticola selain dikenal sebagai red complex sering dihubungkan dengan kehilangan perlekaan dan kehilangan tlang pada periodontitis kronis. Faktor faktor retensi plak penting untuk perkembangan periodontitis kronis. Kalkulus dianggap faktor retensi plak yang paling penting karena kemampuannya untuk menahan dan menyembunyikan bakteri plak pada daerah kasaranya. Sebagai hasilnya, penghilangan kalkulus sangat penting untuk pemeliharaan periodontium yang sehat. Restorasi subgingival dan/atau margin overhang: lesi karies yang terdapat subgingival; furkasi yang terbuka akibat kehilangan perlekatan perlekatan dan tulang; gigi berjejal dan groove dan kecekungan akar.

30

3. Faktor sistemik Progres pembentukan plak pada periodontitis kronis biasanya berjalan lambat. Namun pada pasien dengan penyakit sistemik, pembentukan plak meningkat secara signifikan. Diabetes merupakan penyakit sistemik yang dapat meningkatkan keganasan dan perluasan penyakit periodontal pada pasiennya. Diabetes tipe 2, atau non-insulin-dependent diabetes mellitus (NIDDM), merupakan prevalensi terbanyak dari diabetes dan dari 90% pasien diabetes. Diabetes tipe 2 paling sering berkembang pada populasi dewasa yang pada waktu yang sama dengan periodontitis kronis. Peningkatan tipe 2 pada remaja dan dewasa muda telah diobservasi dan kemungkinan berhubungan dengan peningkatan juvenile-obesity. Di samping itu, diabetes tipe 1, atau insulin-dependent diabetes mellitus (IDDM), diobservasi pada anak-anak, remaja, dan dewasa muda dan kemungkinan secara mudah meningkatkan kerusakan periodontal ketika hal itu tidak terkontrol. 4. Faktor lingkungan dan kebiasaan Merokok telah diketahui dapat meningkatkan keganasan dan perluasan penyakit periodontal. Ketika dikombinasikan dengan adanya akumulasi plak pada periodontitis kronis, akan meningkatkan kecepatan kerusakan

periodontal. Sebagai hasil, perokok dengan periodontitis kronis memiliki lebih

31

banyak kehilangan attachment dan tulang, lebih banyak furkasi yang terlibat, dan poket yang lebih dalam. Sebagai tambahan, mereka nampak sebagai bentuk kalkulus lebih banyak pada supragingiva dan sedikit pada subgingival dan memperlihatkan sedikit perdarahan pada probing dibandingkan bukan pada perokok. Emotional stress sebelumnya telah diasosiasikan dengan penyakit necrotizing ulcerative, kemungkinan karena efek stress pada fungsi imun. Emotional stress mempengaruhi perluasan dan keganasan periodontitis kronis, dengan kesamaan mekanisme pada penyakit necrotizing ulcerative. 5. Faktor genetik Periodontitis dipertimbangkan sebagai penyakit multifaktor, dimana terganggunya keseimbangan normal antara mikrobial plaque dan respon host. Gangguan ini dapat terjadi akibat perubahan komposisi plak, perubahan respon host, atau pengaruh lingkungan dan tingkah laku pada respon plak dan respon host. Sebagai tambahan, kerusakan periodontal seringkali terlihat diantara anggota keluarga dan generasi silang yang berbeda dalam keluarga.

32

BAB IV PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN

4.1.Pembahasan Kasus Oral Medicine 4.1.1. Pasien dengan Kasus Stomatitis Aphtous Rekuren 4.1.1.1 Keluhan utama pasien

Pasien merupakan seorang laki-laki berumur 40 tahun. Mengeluh merasakan nyeri dalam mulut yang sangat mengganggu. Selama hampir 20 tahun sering

mengalami nyeri di dalam rongga mulutnya. Pasien secara umum dalam keadaan sehat dan tidak mempunyai riwayat penyakit sistemik.

4.1.1.2 Rekam Medis Nyeri sembuh dengan sendirinya dalam waktu 7 - 10 hari Terdapat bermacam-macam ulser yaitu :

1. Ulser berbentuk bulat, berdiameter 2 mm, dengan karakteristik dangkal dengan tepi yang tidak beraturan, terletak pada daerah mukosa bukal rahang atas kanan dan daerah sekitar mukosa terlihat sedikit mengalami eritema di sekeliling ulser tersebut. 2. Ulser berbentuk bulat, berdiameter 2 mm, terletak pada sulcus labialis dekat dengan gigi kaninus rahang bawah kanan. 3. Ulser berbentuk oval, berdiameter 3 mm, terletak pada mukosa bukal kiri dekat dengan duktus stensen.
33

Status Umum Secara umum dalam keadaan sehat Pemeriksaan Intra Oral

4.1.1.3 Diagnosis Berdasarkan hasil pemeriksaan subjektif melalui anamnesis dan pemeriksaan objektif dapat diambil kesimpulan bahwa diagnosis dari kasus ini adalah Multiple Recurrent Aphthous Stomatitis (RAS) tipe minor. Diagnosis ini dicapai berdasarkan pada karakteristik penyakit yang terjadi pada pasien yaitu terdapatnya ulcer berdiameter 2 mm 3 mm dengan bentuk dangkal dan irreguler selama kurang lebih 20 tahun, terjadi secara berulang-ulang (rekuren) dan berjumlah lebih dari satu ulcer (multiple). RAS minor biasanya terjadi pada mukosa non-keratinisasi meski tidak tertutup kemungkinan ulkus terjadi pada mukosa mulut yang berkeratinisasi. Lesi menimbulkan rasa sakit yang menyebabkan gangguan fungsi bicara dan makan, seperti yang dialami oleh pasien tersebut. Serta adanya keluhan pendarahan ketika menyikat gigi

34

dan adanya lesi yang berukuran sekitar 2 mm 3 mm yang merupakan ciriciri dari rekuren apthous ulcer minor. RAS minor dapat dipicu oleh stress, trauma lokal, menstruasi dan dapat pula marker untuk defisiensi besi, vitamin B12 ataupun folat. 4.1.1.4 Diagnosis Banding

Diagnosis Banding dari Stomatitis Aptousa Rekuren yaitu Stomatitis Herpetic Rekuren (SHR). Dimana ulser pada SHR hampir sama dengan SAR herpetiformis. Terdapat perbedaan diantara keduanya yaitu pada ulcer SHR biasanya terjadi pada bagian yang terkeratinisasi seperti palatum keras maupun bagian yang dasarnya terdiri atas tulang keras sedangkan pada rekuren apthous stomatitis, ulcer jarang terlihat pada bagian mukosa yang terkeratinasi. Pada penderita SAR , tidak terjadi gejala-gejala seperti demam, malaise, pusing, mual akibat penyakit sistemik, dan artritis seperti pada penderita SHR. Kejadian rekuren pada SAR terjadi sekitar 2-3 kali sebulan, sedangkan pada SHR bisa sampai bertahun-tahun.

4.1.1.5 Prognosis

Stomatitis aptosa rekuren menunjukan prognosa yang baik. Hal ini disebabkan oleh beberapa factor, antara lain :

a. Penyakit ini jarang diikuti oleh tanda dan gejala umum (sistemik).

35

b. Tingkat keparahan penyakit tidak begitu berat serta lesi akan sembuh spontan tanpa meniggalkan cacat, kecuali pada aptosa mayor. c. Penderita umumnya orang dewasa muda sampai dewasa yang daya tahan tubuhnya tinggi, kecuali pada orang yang mudah terkena penyakit (sensitif). 4.1.1.6 Perawatan

Pada umumnya RAS bisa sembuh dengan sendiri atau bersifat self limiting. Namun pada beberapa kasus bisa diberikan beberapa obat seperti topikal anestesi, antiinflamatory, kortikosteroid, pemberian vitamin b 12. Obat-obatan untuk mengatasi SAR diberikan sesuai dengan tingkat keparahan lesi. Anestesi lokal Obat topikal adalah obat yang diberikan langsung pada daerah yang terkena (bersifat lokal). Untuk kasus ringan, jenisnya bisa berupa obat salep yang berfungsi sebagai topical coating agent yang melindungi lesi dari gesekan dalam rongga mulut saat berfungsi dan melindungi agar tidak berkontak langsung dengan makanan yang asam atau pedas. Selain itu ada juga salep yang berisi anestesi topikal untuk mengurangi rasa perih. Biasanya banyak digunakan lidocaine topikal gel 2% atau semprot, perekat pasta gigi polidocanol, atau lozenges benzokain . selain itu bisa juga diberikan solusi kental lidocaine 2%, dapat diterapkan dengan hati-hati pada lesi.

Anti - inflamatory

36

Klorheksidin bisa digunakan sbg mouthwash mengurangi rasa sakit ulsernya. Tidak diberikan dalam jumlah banyak karena bisa memicu terjadinya candidiasis, gigi menjadi coklat. Ini bersifat mempercepat proses penyembuhan RAS. Klorheksidin Antiseptikum terbaik dengan khasiat bakterisid (gram positif dan negatif) dan fungisid yang spektrumnya luas seperti iod. Jenis klorheksidin yang digunakan sebagai obat kumur adalah chlorhexidine gluconat . Indikasinya adalah mengontrol infeksi, mengatasi gingivitis(gusi memerah, berdarah), mukositis, tidak bersifat mengobati infeksi jamur pada mulut seperti sariawan tetapi hanya mengurangi rasa tidak enak . Cara penggunaan : bilas mulut dengan klorheksidin setelah setiap kali menyikat gigi atau menggunakan benang gigi Kumur obat dalam mulut kurang lebih 30 detik lalu keluarkan Jangan sampai tertelan

Perlu diperhatikan dalam pemakaian klorheksidin ini adalah Jangan digunakan sebelum makan, minum dan menyikat gigi , hindari makan, minum dan menyikat gigi

37

setelah menggunakan klorheksidin. Efek samping yang bisa ditimbulkannya antara lain : pembengkakan kelenjar ludah, candidiasis, patch putih pada mukosa, iritasi pada mulut, xerostomia.

Vitamin B 12 Salah satu penyebab dari RAS sendiri adalah defisiensi vitamin khususnya b 12 dan asam folat. Sehingga dalam beberapa penelitian, perawatan dengan vitamin B12 dapat efektif untuk pasien-pasien yang menderita RAS, tanpa melihat level serum vitamin B12. Untuk pemberian medikasi , harus melihat derajat keparahan dari penyakit. Untuk kasus ringan dengan dua atau tiga lesi kecil, dapat menggunakan protective emollient / covering agent seperti Triamcinolone Orabase. Cara pemakaiannya adalah oleskan pada lesi sampai terbentuk lapisan film tipis. Jangan di gosok. Oleskan sebelum tidur. Oleskan 2-3 x / hr, tergantung derajat keparahan. Dikenal dengan merek dagang Kenalog dari produsen Bristol-Myers Squibb , berbentuk salep 0,1% x 5 gram seharga Rp. 47.050,00.

38

Gambar Kenalog Untuk mengatasi rasa sakit akibat lesi minor dari RAS, dapat menggunakan Benzydamine HCl, obat anti inflamasi non-steroid dengan local analgesic dan anaestetik. Obat ini biasanya berbentuk obat kumur atau mouth rinse dan tidak boleh ditelan. Cara penggunaanya yaitu dengan menuangkan 15 ml cairan benzydamine kemudian berkumur dan membuat kontak pada lesi sekitar 30 detik sebelum dibuang. Digunakan setiap 1-3 jam. Benzydamine juga tersedia dalam bentuk spray dan digunakan setiap 1 - 3 jam. Merk dagangnya adalah Difflam, diproduksi oleh Meda Pharmaceutical.

39

Gambar Difflam Obat lainnya yang dapat digunakan untuk mengatasi RAS adalah pasta Amlexanox. Obat ini mempercepat masa penyembuhan ulser dan mengurangi rasa sakit. Pasta ini berwarna krem-coklat (beige). Digunakan 4 kali sehari setelah

sarapan, makan siang, makan malam, dan sebelum tidur, tentunya setelah menggosok gigi. Keluarkan inci atau 0,6 cm pasta pada jari, kemudian dengan lembut tekankan pada ulser. Obat ini hanya digunakan sampai ulser sembuh, maksimal 10 hari. Nama dagangnya Aphthasol yang mengandung 5% amlexanox. Diproduksi oleh GlaxoSmith Kline.

4.2 4.2.1

Pembahasan Kasus Periodonsia Keluhaan Utama Pasien dating ke klinik RSGM dengan keluhan gigi terasa goyang sejak 2 bulan yang lalu terutama gigi depan rahang bawah dan gigi belakang kiri rahang atas dan bawah. Terasa sakit dan mengganggu terutama pada saat makan.

40

4.2.2 Diagnosa

Dari pemeriksaan anamnesis, klinis dan berdasarkan interpretasi radiologis didapatkan diagnosis yaitu Periodontitis Marginalis Kronis Generalisata dan dan Periodontal abses.

4.2.3 Diagnosa Banding

Diagnosa banding untuk periodontitis marginalis adalah Aggressive Peridontitis

4.2.4 Perawatan

1. Scaling Scaling adalah pembersihan plak, kalkulus, dan stain secara mekanik dari permukaan mahkota dan akar gigi. Instrumen yang dapat digunakan adalah scaler ultrasonic, air scaler, positive-rake instrument, negative-rake

instrument, dan rotary instrument.

41

Scaler ultrasonic adalah alat pembersih yang bekerja melepaskan plak, kalkulus, dan stain dengan memanfaatkan getaran ultrasonic, sedangkan pada air scaler memanfaatkan getaran yang dihasilkan putaran sirip-sirip pada badan scaler. Alat ini efektif untuk membersihkan plak, kalkulus, atau stain yang terlihat tetapi tidak efektif untuk membersihkan daerah subgingiva. Untuk efektifitas gunakan mata scaler yang sesuai, kemudian pastikan saluran air pada mata scaler keluar dengan baik pada saat scaler digunakan.

42

Gambar: Ultrasonic scaler Air scaler

Positive-rake instrument adalah alat pembersih manual seperti sickle, jaquetes, heavy duty scalers, dan beberapa kuret. Alat ini efektif untuk membuang deposit yang mudah dijangkau dengan alat manual.

43

Negative-rake instrument adalah alat manual yang lebih tipis daripada positive-rake instrument. Digunakan untuk menjangkau daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh positive-rake instrument. Rotary instrument adalah alat berputar yang digunakan untuk

membersihkan daerah furkasi atau developmental groove, di mana instrument lain tidak dapat bekerja efektif di daerah tersebut bila perlu. 2. Root Planning Root planning adalah suatu prosedur perawatan definitive untuk membersihkan sementum atau permukaan dentin yang kasar, mengandung kalkulus, atau terkontaminasi toksin atau mikroorganisme. Prosedur ini dilakukan bila terdapat deposit yang berpenetrasi ke dalam gusi dan tidak dapat dibersihkan dengan scaling, dilakukan juga pada sulkus gusi kronis yang menyebabkan melunaknya permukaan akar, serta pada akar yang

permukaannya kasar sehingga menjadi tempat berkembangbiaknya bakteri plak. Gunakan anastesi local bila sedang membersihkan permukaan akar untuk menghindari rasa sakit, gunakan lampu transluminasi untuk melihat objek sesuai dengan warna aslinya.

44

Gambar: Universal curets for root planing Kuret Gracey

45

nomor 1, 2 dan 3, 4 gigi anterior nomor 5, 6 gigi anterior dan premolar nomor 7, 8 dan 9, 10 permukaan fasial dan lingual gigi posterior nomor 11, 12 permukaan fasial gigi posterior nomor 13, 14 permukaan distal gigi posterior

Perawatan Kontrol gula darah secara rutin karena kondisi gula darah yang baik, akan memperbaiki penyakit jaringan pendukung gigi Cek gusi/jaringan penyangga gigi dan bersihkan karang gigi secara teratur minimal 3-6 bulan sekali. Banyak penelitian 10 tahun terakhir ini

46

memperlihatkan kondisi jaringan penyangga gigi yang baik akan memperbaiki kondisi gula darah pasien Diabetes mellitus. Perbaiki pola hidup, jauhkan dari penyebab stres. Gunakan sikat gigi yang baik dan lakukan cara menyikat gigi yang benar. Bila ada karies (lubang gigi) harus segera diatasi. Bila ada gigi yang tanggal harus segera ''diganti''. Kebanyakan perawatan gigi seharusnya sejalan dengan kontrol kesehatan secara umum dari penderita diabetes. Walaupun, pembedahan dentoalveolar, infeksi orofacial dan stress dari perawatan dental dapat meningkatkan serum glukosa dan kebutuhan metabilsme insulin. Oleh karena itu, dokter gigi harus memikirkan jenis perawatan yang akan dilakukan dengan berkonsultasi dengan dokter umum. Komunikasi yang teratur adalah bagian penting dalam hal menciptakan pearawatan yang kondusif dengan penderita. Komunikasi harus dua arah: dokter harus memberitahukan manifestasi dalam rongga mulut dari penyakit ini untuk membantu mengatur tingkat gula darah, serta dokter gigi membantu mengkontrol gula darah untuk menjaga kesehatan mulut pasien. Dokter gigi harus menyadari berbagai macam metode dalam hal perwatan yang efektif untuk manifestasi yang ditimbulkan dari diabetes mellitus.

47

Penggunaan obat-obatan metformin, acarbose, orlistat dan rosiglitazone juga telah menunjukkan pengurangan insiden penderita diabetes. Akan tetapi penggunaan dari obat-obatan ini dapat menyebabkan efek samping lain. Terapi obat-obatan bisa menjadi sangat mahal (kecuali metformin, obat generic) dan efek samping yang ditimbulkan dapat menghasilkan keadaan yang serius dari kardiovaskular. Karena berpotensial efek samping dan harga yang mahal, terapi obat-obatan menjadi jarang diterapkan, dan lebih diutamakan kepada upaya mengubah gaya hidup sebagai pencegahan diabetes Perubahan gaya hidup yang dikendalikan termasuk usaha penting yang sederhana untuk mencapai berat badan normal seperti berolahraga, dan terbukti berhasil untuk mengurangi insiden diabetes. Merubah gaya hidup menimbulkan efek yang bermanfaat, tetapi terkadang sangat susah dipertahankan. Gaya hidup masih menjadi cara yang efektif dibandingkan dengan beberapa perawatan obat-obatan. Splinting Merupakan alat stabilisasi dan immobilisasi gigi goyah karena suatu lesi, trauma atau penyakit periodontal. Perlunya splinting untuk menstabilisasi gigi goyang sebagai upaya terapeutik penyakit periodontal sebenarnya masih dipertanyakan, meskipun pengalaman klinik splinting diperlukan. Apakah ada indikasi

48

melakukan splinting, harus dipertimbangkan penyebab dan goyangnya gigi antara lain: Besarnya kehilangan jaringan pendukung Perubahan kualitas jaringan pendukung yang disebabkan karena oklusi traumatik Trauma jangka pendek karena perawatan periodontitis Kombinasi dan ketiga butir di atas. Gigi goyang yang derajat kegoyangannya tidak meningkat pada umumnya tidak memerlukan splinting. Sedangkan gigi goyang karena berkaitan dengan oklusi traumatik harus dirawat dengan penyesuaian oklusi bukan dengan splinting. Dalam pembuatan splint harus diperhatikan: Jaringan pendukung gigi sekurang-kurangnga 1/3 gigi estetis tidak terganggu oklusi tidak terganggu tidak mengiritasi jaringan gingiva mudah dibersihkan Indikasi splint:

49

Jaringan pendukung gigi sekurang-kurangnya 1/3 akar merupakan jaringan yang masih sehat.

Estetika memuaskan Tidak mengganggu oklusi Stabil dan efisien Tidak menyebabkan iritasi dan mudah dibersihkan

Fungsi splint berdasarkan klasifikasinya: I.Temporari splint: Mengurangi kegoyahan gigi dan mempercepat proses penyembuhan gigi goyah Perawatan kerusakan tulang alveolar atau soket akibat kuretasepengisian tulang dan jaringan ikat sempurna Penyembuhan acute periodontitis gigi extruden Pengobatan gigi giyah yang kronis Sebagai gigi pegangan splint permanen

II. Permanen splint:

50

digunakan untuk mempertahankan kegoyahan gigi atau gigi secara permanen

Contoh Splint Periodontal Tahap Pembedahan

Pembedahan periodontal akan direkomendasikan untuk meningkatkan stabilitas jangka panjang dari kondisi gusi. Bedah ditunjukkan ketika poket ini harus dikurangi. Operasi itu sendiri memungkinkan:

akses untuk membersihkan lebih lanjut dari permukaan akar pengangkatan jaringan yang sakit reposisi dan pembentukan gusi, tulang, dan jaringan pendukung gigi.

51

Prosedur bedah bervariasi tergantung pada diagnosis individu dan kebutuhan pasien. Secara umum, lima langkah prosedur:

1. Membentuk jaringan gusi 2. Mengangkat gusi dari gigi dan tulang sekitar 3. Membersihkan dan menghilangkan permukaan akar berpenyakit 4. Contouring tulang yang tersisa dan berusaha untuk regenerasi tulang hilang dan attach gingiva melalui cangkok tulang dan regenerasi jaringan. 5. Menggantikan jaringan gusi sehingga ada kedalaman soket minimal.

Tujuan fase bedah:

1. 2. 3.

Mengangkat plak Koreksi kelainan gingiva dan tulang Mengurangi atau menghilangkan residual poket untuk perawatan di rumah yang efisien

4.

Untuk regenerasi dukungan tulang jika memungkinkan

Dua pendekatan bedah yang mungkin:

1 - Resective Treatment

Dilakukan pengurangan kedalaman soket dengan mengurangi ketebalan gingiva.

52

Sebelum fase bedah.

Setelah pembedahan resective treatment.

2 Regenerative Treatment

Dilakukan regenerasi dukungan tulang terhadap gigi dan perlekatan gusi terhadap gigi. Meskipun teknik ini lebih baik daripada pendekatan restrictive,

53

teknik ini memerlukan beberapa prasyarat yang jarang tersedia. Selain itu, hasilnya kurang dapat diprediksi.

Sebelum fase bedah.

Pada saat pembedahan, berbagai bahan dapat ditempatkan dalam defek tulang untuk meningkatkan regenerasi tulang.

54

Hasil

ideal

dari

perawatan

bedah

regeneratif.

Karena keterbatasan bahan saat ini dan variasi di lokal dan host faktor,

regenerasi lengkap jarang tercapai.

Walaupun manfaat pengobatan bedah lebih besar daripada efek samping, ini mungkin termasuk:

Resesi gingiva Ruang antara gigi sekunder dengan hilangnya tulang Perubahan estetika dan peningkataan sensitivitas dingin yang biasanya berdurasi pendek.

Fase Pemeliharaan

Dalam rangka memelihara tingkat kesehatan periodontal yang diperoleh dengan perlakuan yang diberikan sejauh ini, sangat penting untuk mengikuti instruksi perawatan rumah harian yang direkomendasikan.

55

Frekuensi pemeliharaan recalling akan direkomendasikan, tergantung pada kebutuhan kita. Pemeliharaan preventif memungkinkan kita untuk menentukan stabilitas kesehatan periodontal kita dan mencegah setiap masalah kecil sebelum menjadi besar. Ketika dirawat dan dijaga dengan baik, hasilnya dapat diprediksi lebih baik. Kontrol tersebut dilakukan 3 bu;lan sekali dan 6 bulan sekali.

4.3 Interpretasi Gambaran Radiografi Interpretasi Radiografi Panoramic Kepada Yth. TS No. Radigrafi Nama Pasien Alamat Diagnosis Klinis Tanggal Pemotretan Usia : DSP 6/2010/ DATA / C6 : Bapak John : Jl. Setia No. 10 : Peridontitis Kronis Generalisata : : 40 tahun

Data Interpretasi

56

Area 1 (gigi-geligi) Missing Teeth/ Agenesis Persistensi Impaksi Kondisi Mahkota-Akar : Gigi 3.8 dan 4.7 :: Gigi 1.8 dan 2.8 :

Gigi 3.3 = gambaran radiolusen pada proksimal distal Gigi 4.8 = gambaran radioopak pada oklusal mesial :

Kondisi Alveolar Crest-Furkasi

Gigi 1.1 = resorpsi horizontal Gigi 1.2 = resorpsi horizontal Gigi 1.3 = resorpsi horizontal Gigi 1.4 = resorpsi horizontal Gigi 1.5 = resorpsi horizontal Gigi 1.6 = resorpsi horizontal Gigi 1.7 = resorpsi horizontal Gigi 1.8 = resorpsi horizontal Gigi 2.1 = resorpsi horizontal Gigi 2.2 = resorpsi horizontal Gigi 2.3 = resorpsi vertical dan horizontal
57

Gigi 2.4 = resorpsi vertical dan horizontal Gigi 2.5 = resorpsi vertical dan horizontal Gigi 2.6 = resorpsi horizontal Gigi 2.7 = resorpsi vertical dan horizontal Gigi 3.1 = resorpsi horizontal Gigi 3.2 = resorpsi horizontal Gigi 3.3 = resorpsi horizontal Gigi 3.4 = resorpsi vertical Gigi 3.5 = resorpsi vertical Gigi 3.6 = resorpsi vertical Gigi 3.7 = resorpsi vertical Gigi 4.1 = resorpsi horizontal Gigi 4.2 = resorpsi horizontal Gigi 4.3 = resorpsi horizontal Gigi 4.4 = resorpsi horizontal Gigi 4.5 = resorpsi horizontal Gigi 4.6 = resorpsi horizontal Gigi 4.8 = resorpsi horizontal

Kondisi periapikal :

58

Gigi 1.1 = lamina dura menghilang di sepanjang akar Gigi 1.2 = lamina dura menghilang di sepanjang akar

Gigi 1.3 = lamina dura menghilang di sepanjang distal akar Gigi 1.4 = lamina dura menghilang di sepanjang akar

Gigi 1.5 = lamina dura menghilang di sepanjang akar Gigi 1.6 = lamina dura menghilang di sepanjang akar Gigi 1.7 = lamina dura menghilang di sepanjang akar

Gigi 1.8 = lamina dura menghilang di sepanjang akar

Gigi 2.1 = lamina dura menghilang di sepanjang mesial akar Gigi 2.2 = lamina dura menghilang di sepanjang akar Gigi 2.3 = lamina dura menghilang di sepanjang akar Gigi 2.4 = lamina dura menghilang di sepanjang akar Gigi 2.5 = pelebaran membrane periodontal pada 1/3 akar, lamina dura menghilang di sepanjang 1/3 apikal

Gigi 2.6 = lamina dura menghilang di sepanjang akar Gigi 3.1 = lamina dura menghilang di sepanjang akar Gigi 3.2 = lamina dura menghilang di sepanjang akar Gigi 3.3 = lamina dura menghilang di sepanjang akar
59

Gigi 3.4 = lamina dura menghilang di sepanjang akar Gigi 3.5 = lamina dura menghilang di sepanjang akar Gigi 3.6 = pelebaran membrane periodontal di sepanjang akar Gigi 3.7 = lamina dura menghilang, apeks akar mesial resorpsi hingga 2/3 akar

Gigi 4.1 = lamina dura menghilang di sepanjang akar Gigi 4.2 = lamina dura menghilang di sepanjang akar Gigi 4.3 = lamina dura menghilang di sepanjang akar Gigi 4.4 = lamina dura menghilang di sepanjang akar Gigi 4.6 = membrane periodontal melebar di sepanjang akar Gigi 4.8 = lamina dura menghilang di sepanjang akar

Area 2 (Maksila-Sinus-Nasal) Area 3 (Mandibula) Area 4 (TMJ)

: dalam batas normal

: dalam batas normal :

Bentuk kondilus- fossa- eminensia artikularis : dalam batas normal Posisi kondilus : dalam batas normal : dalam batas normal

Area 5 (Ramus-Os. Vertebrae) Kesan :

60

Terjadi resorpsi alveolar crest di sepanjang rahang atas rahang bawah Gigi 2.7 = terdapat gambaran radiolusen pada alveolar crest sampai periapikal Gigi 3.7 = periapikal terdapat gambaran radiolusen pada alveolar crest sampai

Gigi 4.8 = terdapat gambaran radiolusen pada alveolar crest sampai periapikal :

Suspek radiologis

Pada gigi 2.7 , 3.7 , 4.8 terdapat abses periodontal . Dan pasien menderita periodontitis marginalis generalisata.

Salam Sejawat, NIP

61

KESIMPULAN

Pada kasus pertama pasien didiagnosa mengalami Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR) tipe minor. Diagnosa ini dicapai berdasarkan pada karakteristik penyakit yang terjadi pada pasien yaitu terdapatnya ulcer berdiameter 2mm-3mm dengan bentuk dangkal dan irreguler selama kurang lebih 20 tahun, terjadi secara berulang-ulang. Dimana lesi ini dapat menimbulkan rasa sakit yang menyebabkan gangguan fungsi bicara dan makan, seperti yang dialami oleh pasien tersebut. Serta adanya keluhan pendarahan ketika menyikat gigi dan adanya lesi yang berukuran sekitar 2mm-3mm yang merupakan ciri-ciri dari rekuren apthous ulcer minor.

Pada kasus kedua, pasien didiagnosa mengalami Periodontitis marginalis kronis generalisata dan abses periodontal . Diagnosa ini ditegakkan karena kondisi pasien yang mengeluhkan gusi, terasa bengkak, terasa tidak nyaman, berwarna merah terang, konsistensi lunak , papilla interdental membulat, gigi terasa goyang dan terdapat gambaran resorpsi alveolar crest pada dahang atas dan rahang bawah. Serta terdapatnya gambaran radiolusen dengan batas difuse pada alveolar crets hingga periapikal pada gigi 2.7 dan 3.7

62

Daftar Pustaka Burket LW. 1971. Oral Medicine ; Diagnosis and Treatment. 6th ed, Philadelphia, Toronto : J.B.Lippincott Co. Carranza, F.A. 1990. Glickman's clinical Periodontology. 7th Ed. Philadelphia: W.B Saunders Company. Fedi, F.J., Vernino, A.R., Gray, J. L. 2004. Silabus Periodonti. Edisi 4. Jakarta: EGC. Manson, J.D and B.M Eley. 1993. Buku Ajar Periodonti. 2nd Ed. Jakarta : Hipokrates. Maultriana,, Nenden. 1986. Skripsi; Ulserasi Stomatitis Rekuren Diagnosa dan Terapinya. Bandung : Fakultas Kedokteran Gigi Unpad. Rateitschak, K.H, Rateitschak., E.M, Wolf, H.F., Hassell, T.M. 1985. Color Atlas of Periodontology. New York: Georg Thieme Verlag Sturrgart. Suproyo, H. 2007. Bahan Ajar Penatalaksanaan Penyakit Jaringan

Periodontal. Yogyakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada. Usri, Kosterman, dkk. Diagnosis dan Terapi Penyakit Gigi dan Mulut. 2006. Bandung: LSKI. Hal 55 http://www.detikhealth.com/read/2009/07/15/141107/1165471/770/absesperiodontal

63

http://www.scribd.com/doc/13081270/Abses-Gigi http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:Kyc0SzYl2Y4J:dewis uminar.blogspot.com/+diagnosa+abses+periodontal&cd=5&hl=id&ct=clnk&gl=id

64