Anda di halaman 1dari 3

Patofisiologi Simtoma Alzheimer ditandai dengan perubahan-perubahan yang bersifat degeneratif pada sejumlah sistem neurotransmiter, termasuk perubahan

fungsi pada sistem neural monoaminergik yang melepaskan asam glutamat, noradrenalin, serotonin dan serangkaian sistem yang dikendalikan oleh neurotransmiter. Perubahan degeneratif juga terjadi pada beberapa area otak seperti lobus temporal dan lobus parietal, dan beberapa bagian di dalam korteks frontal dan girus singulat, menyusul dengan hilangnya sel saraf dan sinapsis. Sekretase- dan presenilin-1 merupakan enzim yang berfungsi untuk mengiris domain terminus-C pada molekul AAP dan melepaskan enzim kinesin dari gugus tersebut. Apoptosis terjadi pada sel saraf yang tertutup plak amiloid yang masih mengandung molekul terminus-C, dan tidak terjadi jika molekul tersebut telah teriris. Hal ini disimpulkan oleh tim dari Howard Hughes Institute yang dipimpin oleh Lawrence S. B. Goldstein, teriris, saat bahwa terikat terminus-C pada membawa sinyal apoptosis dan bagi neuron. Sinyal apoptosis juga diekspresikan oleh proNGF yang tidak pencerap neurotrofin p75NTR, distimulasi hormon sortilin. Penumpukan plak ditengarai karena induksi apolipoprotein-E yang bertindak kurangnya sebagai protein enzim yang kaperon, defiensi vitamin terbentuk dari B1 yang mengendalikan metabolisme glukosa serebral seperti O-GlkNAsilasi, dan senyawa tiamina seperti kompleks piruvat fosfatase kompleks ketoglutarat dehidrogenase-alfa,

dehidrogenase, transketolase, O-GlcNAc

transferase, protein

2A, dan beta-N-asetilglukosaminidase. Hal ini berakibat pada peningkatan tekanan zalir serebrospinal, menurunnya rasio hormon CRH, dan terpicunya simtoma hipoglisemia di hiperglisemia. Selain disfungsi enzim presenilin-1 yang memicu simtoma ataksia, masih terdapat enzim Cdk5 dan GSK3beta yang dalam otak walaupun tubuh mengalami

menyebabkan hiperfosforilasi proteintau, hingga terbentuk tumpukan PHF. Hiperfosforilasi juga menjadi penghalang terbentuknya ligasi antara protein S100beta dan tau, dan menyebabkan distrofi neurita, meskipun kelainanmetabolisme seng juga dapat menghalangi ligasi ini. Simtoma hiperinsulinemia dan hiperglisemia jugamenginduksi hiperfosforilasi protein tau, dan oligomerasi amiloid-beta yang berakibat pada penumpukan plak amiloid.Namun meski insulin menginduksi oligomerasi amiloid-beta, insulin juga menghambat enzim aktivitas enzim kaspase-9 dan kaspase-3 yang juga membawa sinyal apoptosis, dan menstimulasi sekresi Hsp70 oleh sel LAN5 untuk mengaktivasi program pertahanan sel. Terdapat kontroversi minor dengan dugaan bahwa hiperfosforilasi tersebut disebabkan oleh infeksi laten oleh virus campak, atau Borrelia. Tujuh dari 10 kasus Alzheimer yang diteliti oleh McLean Hospital Brain Bank of Harvard University, menunjukkan infeksi semacam ini. http://id.wikipedia.org/wiki/Alzheimer#Patofisiologi

Pathways