Anda di halaman 1dari 13

BAHAN KHOTBAH

Dari Tahta Ke Palungan


Dari Tahta Ke Palungan (From Throne To A Manger) (Luk 2: 9-14)

Semua manusia kalau diperhadapkan kepada pilihan Apakah mau turun level atau naik level pasti rata-rata akan menjawab semua mau naik level. Apalagi kalau selama ini hidupnya sering mengalami kesusahan ataupun juga mungkin ada di antara mereka yang sudah menikmati segala fasilitas atau kedudukan yang tinggi, nyaris dapat dipastikan bahwa orang tersebut tidak mau turun level. Salah satu sifat manusia bahwa sometimes manusia tidak mau kalau ada orang yang lebih hebat, pintar atau lebih kaya dari dia. Bahkan yang lebih ekstrim lagi bahwa manusia ingin selalu menjadi number one di setiap komunitas atau lingkungannya. Namun berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Tuhan ketika mengutus anak-Nya yang tunggal. Kalau kita melihat apa yang Malaikat Tuhan katakan kepada gembala-gembala bahwa Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan. Tentunya apa yang dikatakan Malaikat Tuhan merupakan isi hati Tuhan kepada manusia. Apabila kita kembali melihat dalam sejarah PL, berkali-kali Tuhan memberikan tanda kepada manusia sebagai symbol bahwa betapa Tuhan sangat mengasihi manusia. Tanda-tanda sangat diperlukan oleh manusia dalam mengalami atau merasakan keberadaan Tuhan. Namun ketika Tuhan memberikan tanda, bukanlah tanda yang sembarangan yang tidak punya makna, tetapi memiliki message yang sangat dalam. Apakah tanda yang diberikan kepada gembala-gembala? Tanda yang diberikan yaitu Kain lampin dan palungan. Mungkin kalau sepintas kita melihat bahwa sering kali kita mendengarkan khotbah bahwa tanda-tanda tersebut mengarah kepada kesederhanaan Yesus atau Tuhan mengasihi orangorang yang miskin. Saya merasa hal itu ada kebenarannya, tetapi tidak hanya sampai di situ. Kalau kita kembali mengingat peristiwa Adam dan Hawa, ketika mereka jatuh ke dalam dosa, mereka menyadari bahwa mereka telanjang. Sebenarnya ketika mereka belumjatuh ke dalam dosa, mereka juga dalam keadaan telanjang. Oleh sebab itu ketika mereka tahu bahwa mereka telanjang mereka mengambil daun pohon ara untuk menutupi rasa malu mereka (Kej 3:7). Oleh sebab itu antara rasa malu dan mulia di hadapan Tuhan sudah terbentang jarak yang begitu jauh. Adam dan Hawa melakukan berbagai cara untuk menutupi rasa malunya di hadapan Tuhan. Jadi manusia sudah mendefenisikan dirinya bahwa I am what I am wear. Oleh sebab itu dalam dunia modern sekarang ini tidak heran kalau harga diri atau martabat mereka ditentukan dengan pakaian apa yang mereka pakai. Mereka berpikir bahwa untuk menutupi rasa malu mereka dengan cara memakai pakaian yang mahal dan mewah. Tentunya apa yang saya maksudkan bukan berarti bahwa tidak boleh memakai baju yang mahal dan bermerk. Tetapi sadar atau tidak sadar kadang kala self-confidence kita datang dari apa yang kita pakai. Yesus memakai kain lampin yang mungkin dalam bahasa modernnya seperti kain yang tidak berbentuk dan memiliki nilai yang tidak mahal,tetapi mengapa Allah menggunakan tanda ini? Sesungguhnya kemuliaan Yesus bukan datang dari pakaian yang

digunakan melainkan kemuliaan-Nya datang dari Bapa-Nya sendiri melalui bala tentara surga(ay.13). Bukankah banyak orang kristen ketika merayakan Natal selalu mencari atau meminta pengakuan dari manusia sesuai dengan pakaian apa yang dia pakai, mungkin acara natalnya bagus, ornament natal yang bagus atau paduan suara yang begitu merdu atau dekorasi yang begitu bagus. Apabila kita mengklaim bahwa kemuliaan datang dari itu, maka sia-sialah Natal kita karena kemuliaan yang sesungguhnya datangnya dari Tuhan bukan dari apa yang kita pakai. Menutupi kejahatan dan keberdosaan atau rasa malu kita bukan datang dari apa yang kita pakai tetapi datangnya dari Bapa di surga melalui Putra Natal itu. Tanda yang kedua yang diberikan kepada gembala-gembala yaitu palungan. Palungan menunjukkan kepada tempat(place) atau posisi. Tentunya menjadi pertanyaan perenungan bagi kita, mengapa Tuhan menempatkan di palungan? Dalam Surat Fil dikatakan bahwa Ia rela mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba(Fil.2:7). Saya yakin tanda yang diberikan oleh Tuhan memiliki kedalaman makna yang begitu luar biasa. Bagaimana mungkin Tuhan yang menjadi Pemilik segalanya merelakan diri-Nya untuk turun ke dalam dunia yang berdosa. Sebenarnya Tuhan tidak punya kewajiban atau hutang kepada manusia untuk menyelamatkan manusia, tetapi hanya karena anugerah dan belas kasihan Tuhan sehingga Dia merelakan Diri-Nya dikenal oleh kita manusia berdosa. Namun ironis sekali pola atau model ini acapkali dilupakan oleh banyak orang kristen ketika merayakan Natal. Kadang kala posisi itu terbalik, kita yang di tempat tinggi dan Tuhan yang dibawa kita. Hal ini kadang kala terlihat dalam kegiatan natal, semuanya mau menjadi bos dan tidak ada yang mau menjadi hamba. Apalagi kalau sudah merasa memberikan sumbangan natal yang banyak atau memiliki posisi yang tinggi. Berapa banyak dari kita sebagai hamba-hamba Tuhan, majelis, aktivis gereja karena disibukkan dengan kegiatan natal akhirnya melupakan waktu-waktu pribadi bersama dengan Tuhan. Berapa banyak di antara kita sebagai pemimpin ketika sudah waktunya untuk memberikan tongkat estafet pelayanan itu, tetapi kita tidak rela melepaskannya. Biarlah melalui tanda palungan itu memberikan ingatan dan kesadaran bagi kita bahwa sesungguhnya kedudukan atau posisi kita seharusnya lebih rendah dari palungan itu sendiri. Tetapi yang menjadi pertanyaan siapkah atau relakah kita turun ke tempat tersebut ? Amen! (By: Jaffray) Posted by Jaffray Sandang at 18:39

UNDANGAN KAIN LAMPIN


Bacaan : Lukas 2:8-20

Seorang sutradara film pendek dari Jakarta mendapatkan penghargaan dari sebuah festival film di Eropa. Panitia mengundangnya, tetapi hanya akan menanggung akomodasinya selama ia di sana. Ia harus membiayai sendiri seluruh perjalanannya. Karena tidak berhasil mendapatkan dukungan sponsor, terpaksa ia batal pergi. Penghargaan pun diserahkan tanpa kehadirannya. Ya, ada undangan yang malah membuat kita termangu karena tidak mampu memenuhinya. Ini sangat berbeda dengan undangan Yesus Kristus. Bayangkan seandainya malaikat berkata: "Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan kain lenan halus dan terbaring di kamar anak raja di istana." Tentulah para gembala akan

menggelengkan kepala. "Ini bukan undangan untuk kita. Bagaimana kita bisa ke sana? Baru mau masuk ke gerbang istana saja pasti sudah diusir. Memangnya siapa kita ini?" Syukurlah, malaikat menggunakan kata sandi lampin dan palungan. Ah, wajah para gembala itu tentu terangkat sumringah. "Ah, Dia sama dengan kita. Kita bisa datang menjenguk-Nya. Yuk, kita pergi ke sana." Dan, begitulah, mereka menjadi orang-orang pertama yang berkesempatan menyambut kedatangan Mesias. Yesus Kristus masih mengedarkan "undangan kain lampin" sampai saat ini. Dia membuka pintu selebar-lebarnya. Tidak ada tembok penghalang. Tidak ada dress code yang membatasi. Bagaimanapun keadaan kita, di mana pun kita berada, kita bisa datang kepada-Nya dengan keseluruhan diri kita. Apa adanya. Tanpa embel-embel. Tanpa riasan. Dia pasti menyambut kita dengan tangan terbuka --ARS
YESUS KRISTUS MENJADI ANAK MANUSIA AGAR KITA DAPAT MENDATANGI DAN MENGENAL-NYA

Ada kisah nyata yang melatarbelakangi lukisan "Perjamuan Terakhir" Yesus dan muridmurid. Leonardo da Vinci, sang pelukisnya ... ternyata membutuhkan waktu bertahun-tahun (katanya) untuk menyelesaikan mahakaryanya itu. Bagi da Vinci, tak sulit menemukan model untuk melukis wajah para murid ... Akan tetapi, untuk menemukan model untuk melukis gambar diri Yesus .. hmmm ... bukan perkara mudah! Lama da Vinci mencari, akhirnya dia bertemu dengan seseorang yang bernama Pietri Bandinelli, "Ini dia model Yesus .. cocok!" Namun, ada satu model lagi yang harus dia temukan untuk menyelesaikan lukisannya itu ... dan ini tampaknya jauh lebih sulit menemukannya dibanding model bagi gambar Yesus .. yups, benar sekali ... da Vinci kesulitan untuk menemukan model wajah Yudas Iskariot! Dicari kemana-mana model buat Yudas, tapi hasilnya nol besar. Sampai satu ketika ... dia bertemu dengan satu orang yang menurut dia orang ini mampu memberikan gambaran tentang karakter Yudas yang tentunya sangat berbeda sama sekali dengan karakter muridmurid, apalagi karakter Yesus.

Akhirnya proses penyelesaian lukisan "Perjamuan Terakhir" pun dilanjutkan ... "Pak da Vinci ..." kata laki-laki yang menjadi model Yudas itu ... "Apakah bapak sudah tidak mengenali saya lagi? Beberapa tahun yang lalu, saya duduk di kursi ini, juga untuk menjadi model lukisan bapak ini ... ini saya pak ..." kata orang itu dengan nada berat. "Saya Pietri Bandinelli ... dulu saya menjadi model bagi wajah Yesus ... ahhh ... ternyata perjalanan hidup saya membawa saya sekarang ini menjadi model yang menggambarkan wajah Yudas." Bukankah apa yang dialami oleh Bandinelli juga merupakan tantangan terbesar kita sebagai orang percaya dalam memasuki kehidupan di tahun baru ini ... Dalam beberapa waktu seseorang bisa menjadi "mirip Kristus", namun seiring dengan perjalanan kehidupan yang semakin berat ... bukan tidak mungkin seseorang berubah drastis menjadi lebih "mirip Yudas".

Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuh sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah yang sia-siadan pengertiannya yang gelap, jauh dari dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam kedegilan hati mereka.Perasaan mereka telah tumpu

Hal inilah rupanya juga menjadi titik perhatian firman Tuhan kepada jemaat di Efesus waktu itu ... Jangan sampai berbagai pergumulan yang mereka hadapi kala itu .. ketika mereka bertemu dengan: "mereka yang tidak mengenal Allah" (ayat 17), "mereka yang jauh dari Allah" (ayat 18), "mereka yang tunduk pada hawa nafsu" (ayat 19), "mereka yang suka berdusta" (ayat 25), "mereka yang suka mencuri" (ayat 20), "mereka yang suka memendam dendam, marah, bertikai, memfitnah" (ayat 31) ... itu semua membuat jemaat Efesus sebagai orang percaya betul-betul diuji "kemiripannya dengan Kristus". Atau dengan bahasa firman Tuhan kita dalam perikop ini ... "mereka sebagai orang percaya yang telah dibaharui oleh roh dan pikirannya (ayat 23), sudah mengenakan manusia baru" .. jangan sampai menanggalkan manusia barunya itu dan kembali lagi menggunakan kehidupan 'manusia lama' mereka yang sia-sia itu! Terbalik! "Ah teori! saya sudah bosan tetap menjadi manusia baru kalau ternyata kayak gini: dikadalin (baca: dicurangin) orang terus-terusan, 'dikerjain' terus sama mereka yang katanya sudah mengenakan 'manusia baru', tapi kelakukannya ternyata masih 'manusia lama'!" "Jadi mengapa harus bertahan?? Pengalaman tahun kemarin rasanya cukup .. tahun ini saatnya beraksi!! Gerah jadi orang jujur terus, sesak dada ini di fitnah melulu ... tahun baru ini, lupakan cita-cita menjadi anak yang manis ... Maafkan aku Tuhan ... tapi aku betul-betul gak tahan dengan semua ini!!" "... tanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan" (ayat 23c) Stttstttt ... tenangkan hati sesaat .. lihat, mengapa Tuhan dengan jelas memerintahkan untuk menanggalkan - meninggalkan pikiran tentang "mengenakan kembali kehidupan manusia yang lama" itu ... Sebab Dia tahu ujungnya sia-sia! Ada pepatah dari Afrika yang berkata: "Setan menolong pencuri setiap hari, tapi ada waktunya Tuhan gantian menolong pak Polisi untuk menangkap para pencuri itu". Pepatah yang terbukti kebenarannya .. Firman Tuhan yang teruji keabsahannya! "Janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memateraikan kamu menjelang hari penyelamatan"

(ayat 30) Menjawab pertanyaan "mengapa harus bertahan menjadi manusia baru?" Jawabannya tentu: Harus! Karena Allah yang menjamin dan memberikan apa yang perlu di dalam kehidupan kita ini ... Tugas kita sebagai orang yang telah dimateraikan oleh Allah - yang telah dijamin keselamatannya - adalah tetap menjaga keselamatan yang telah ada di dalam hidup kita itu agar tidak hilang dinodai "kehidupan manusia lama yang sia-sia". Satu lagu penutup ... Selamat menjalani hidup baru di tahun yang baru ini ... Selamat menjadi model-model yang semakin mirip dengan Kristus.

Kelahiran Bayi Yesus

Aku melihat Yosef keesokan harinya sedang mempersiapkan tempat istirahat dan pembaringan bagi Maria dalam gua yang disebut Gua Menyusu Abraham, yang adalah juga makam Maraha, inang Abraham. Gua itu lebih luas dari Gua Palungan. Maria tinggal di sana beberapa jam lamanya, sementara Yosef mempersiapkan Gua Palungan agar lebih layak dihuni. Yosef membawa juga dari kota beraneka macam bejana kecil serta buah-buahan kering. Maria mengatakan kepadanya bahwa saat kelahiran Sang Bayi akan tiba malam itu. Waktu itu sembilan bulan sejak ia mengandung dari Roh Kudus. Maria mohon kepada Yosef untuk berusaha sekuat tenaga agar mereka dapat menyambut sehormat mungkin Bayi yang dijanjikan Allah, Bayi yang dikandung secara adikodrati ini. Maria meminta Yosef untuk bersatu dengannya dalam doa bagi mereka yang keras hati, yang tak hendak memberi-Nya tempat berteduh. Yosef bermaksud mengundang beberapa perempuan saleh yang dikenalnya di Betlehem guna membantu persalinan; tetapi Maria menolak, mengatakan

bahwa ia tak membutuhkan pertolongan siapa pun. Kira-kira pukul lima sore ketika Yosef membawa Maria kembali ke Gua Palungan. Yosef menggantungkan beberapa lentera lagi, dan menyiapkan suatu tempat di bawah tempat bernaung di depan pintu bagi keledai betina kecil yang berlarilari gembira dari padang menghampiri mereka. Ketika Maria mengatakan kepada Yosef bahwa waktunya sudah dekat dan bahwa sebaiknya sekarang Yosef pergi berdoa, maka Yosef meninggalkan Maria dan berjalan menuju tempat pembaringan guna memenuhi permintaannya. Sebelum naik ke tempat peristirahatannya yang kecil, sekali lagi Yosef menengok ke belakang, ke bagian gua di mana Maria berlutut dalam doa di atas pembaringan, dengan punggungnya menghadap Yosef, sementara wajahnya menghadap ke timur. Yosef melihat gua dipenuhi sinar yang memancar dari Maria, sebab Maria sepenuhnya seolah dilingkupi nyala api. Seakan-akan Yosef, bagaikan Musa, melihat semak yang menyala terbakar api. Ia rebah prostratio ke tanah dalam sembah sujud dan tak menengok kembali. Kemuliaan sekeliling Maria semakin dan semakin cemerlang, hingga terang lentera-lentera yang dinyalakan Yosef tak nampak lagi. Maria berlutut, bagian bawah gaunnya yang putih panjang terhampar sekelilingnya. Pukul duabelas, doanya mencapai ekstasi, dan aku melihat Maria terangkat begitu tinggi dari tanah hingga orang dapat melihat bagian bawahnya. Kedua tangannya tersilang di dada, dan terang sekelilingnya bahkan semakin gemilang. Aku tak lagi melihat atap gua. Di atas Maria terbentang suatu jalan terang menuju surga; di jalan itu tampak seolah suatu sinar muncul dari ujung yang lain, seolah suatu figur lebur ke yang lainnya, dan dari berkas-berkas sinar yang berbeda ini suatu figur surgawi yang lain muncul. Maria terus berdoa, matanya mengarah dalam-dalam ke tanah. Saat itu ia melahirkan Bayi Yesus. Aku melihat-Nya sebagai seorang bayi kecil mungil yang bercahaya, terbaring di atas selimut di pangkuan Maria; Bayi itu jauh lebih gilang-gemilang dari segala kecemerlangan lainnya. Tampaknya Ia tumbuh di hadapan mataku. Tetapi, silau oleh kemilau dan cahaya gemerlap, aku tidak tahu apakah aku sungguh melihatnya, atau bagaimana aku melihatnya. Bahkan alam raya yang mati seolah gempar. Bebatuan di lantai dan dinding-dinding gua memancarkan kemilau cahaya, seolah dirasuki kehidupan. Ekstasi Maria masih berlangsung beberapa waktu lamanya. Lalu, aku melihat Maria membentangkan selimut ke atas sang Bayi, namun ia belum menggendong-Nya, bahkan belum menyentuh-Nya. Lama berselang, aku melihat sang Bayi bangun dan menangis, barulah kemudian Maria tampak tersadar kembali sepenuhnya. Ia mengangkat Bayi bersama dengan selimut yang ia hamparkan ke atas-Nya, mendekapkan-Nya ke dada dan duduk berselubung; ia dan Bayinya tampak terbungkus rapat. Aku pikir ia sedang menyusui-Nya. Aku melihat malaikat-malaikat sekelilingnya dalam rupa manusia rebah prostratio dengan wajah mencium tanah. Mungkin, satu jam telah berlalu sejak kelahiran Yesus kala Maria memanggil St Yosef, yang masih rebah prostratio dalam doa. Ketika Yosef datang mendekat, ia jatuh berlutut dengan wajahnya mencium tanah, dalam luapan sukacita, sembah sujud dan kerendahan hati. Lagi, Maria mendesaknya untuk menerima Anugerah Kudus dari Surga, dan barulah Yosef mengambil Bayi Yesus dan menggendong-Nya dalam pelukan. Sekarang Santa Perawan membedung sang Bayi dengan

lampin merah dan di atasnya dengan lampin putih dari bawah hingga ke bawah ketiak-Nya yang kecil, dan bagian atas tubuh dari ketiak hingga kepala, dibedungnya dengan kain lenan yang lain. Hanya ada empat kain lampin padanya. Maria membaringkan Bayinya dalam Palungan yang telah diisi dengan jerami dan lelumutan yang baik, dan diatasnya telah dibentangkan selimut yang ujung-ujungnya tergantung di kedua sisinya. Tempat tidur bayi terletak di atas palungan batu; di tempat ini tanah terletak pada bidang yang rata dan tingginya sejajar dengan jalanan yang terbentang lebar ke selatan. Tanah di bagian gua ini agak lebih rendah dari tempat di mana sang Bayi dilahirkan, di bagian bawahnya dibentuk anak-anak tangga di tanah. Setelah Maria membaringkan Bayi Yesus dalam Palungan, keduanya - Maria dan Yosef - berdiri di sisi-Nya dengan berlinangan airmata sambil memadahkan pujipujian kepada Allah. Tempat istirahat dan pembaringan Santa Perawan dekat dengan Palungan. Aku melihat Maria pada hari pertama duduk tegak dan juga beristirahat dengan bertumpu pada sisi tubuhnya, walau aku mengamati padanya tak tampak tanda-tanda khusus yang mengisyaratkan kelelahan ataupun kurang sehat. Baik sebelum maupun sesudah melahirkan, Maria mengenakan gaun putih. Apabila para tamu datang, Maria biasa duduk dekat Palungan dengan berbalut kerudung lebih rapat. Pada malam kelahiran Yesus memancarlah suatu mataair yang indah di gua lain yang terletak di sebelah kanan. Airnya mengalir; keesokan harinya Yosef menggali suatu alur baginya dan menjadikannya suatu sumber mataair. Dalam penampakan-penampakan di mana peristiwa itu sendiri muncul, dan bukan dalam perayaan Gereja, aku melihat, sungguh, tak ada suasana riang-ria gemerlap seperti yang terkadang aku jumpai dalam perayaan Natal yang kudus. Karenanya, sukacita itu memiliki makna batin. Namun demikian, aku melihat kegembiraan yang luar biasa; dan di berbagai tempat, bahkan di bagian-bagian dunia yang paling jauh, sesuatu yang menakjubkan terjadi malam itu. Dengan kelahiran Yesus, mereka yang baik diliputi kerinduan penuh sukacita, sementara mereka yang jahat diliputi kengerian. Aku juga melihat banyak hewan-hewan bergerak-gerik gembira. Aku melihat sumber-sumber mataair membualkan air yang beriak-ria, bunga-bunga bermekaran di banyak tempat, pepohonan dan tanam-tanaman menyembulkan tunas-tunas kehidupan baru, dan semuanya menebarkan keharuman masing-masing. Di Betlehem suasana berkabut, cakrawala di atas sana memancarkan cahaya suram kemerahan. Tetapi, di atas lembah para gembala, di sekitar Palungan, dan di Lembah Gua Menyusu awan cerah berarak membawa serta titik-titik embun yang menyegarkan. Aku melihat kawanan ternak yang dijaga tiga gembala tua dekat bukit di bawah tempat bernaung; tetapi ternak yang lebih jauh, dekat menara gembala, sebagian berada di udara terbuka. Ketiga gembala tua bangkit berdiri terpesona oleh keajaiban malam; aku melihat mereka berdiri bersama di depan gubuk, menatap sekeliling dan menunjuk terang benderang yang bersinar di

atas Palungan. Para gembala di menara kejauhan juga mulai bergerak. Mereka memanjat menara dan memandang ke arah Palungan, di mana mereka juga melihat terang di atas sana. Aku melihat sesuatu seperti awan kemuliaan turun ke atas ketiga gembala. Aku melihat dalam awan figur-figur yang bergerak kian-kemari, dan mendengar alunan suara yang jernih merdu sedang memadahkan pujian dengan lembut. Pada mulanya, para gembala ketakutan. Segera di hadapan mereka berdiri lima atau tujuh figur bercahaya yang menawan dengan tangan-tangan mereka membawa sesuatu seperti gulungan yang panjang, yang di atasnya tertulis kata-kata dalam huruf-huruf yang tingginya sepanjang tangan. Para malaikat memadahkan Gloria. Para malaikat menampakkan diri juga kepada para gembala di menara dan di tempat lain, yang aku tidak ingat sekarang. Aku tidak melihat para gembala itu segera bergegas pergi ke gua. Ketiga gembala yang pertama satu setengah jam perjalanan jauhnya dari sana, sementara mereka yang di menara lebih jauh lagi. Tetapi, aku melihat mereka seketika itu juga mulai memikirkan hadiah apa yang akan mereka persembahkan bagi Juruselamat yang baru dilahirkan dan mempersiapkannya sesegera mungkin. Ketiga gembala pergi ke Palungan pagi-pagi benar keesokan harinya. Aku melihat Anna di Nazaret, Elisabet di Yuta, Noemi, Hana dan Simeon di Bait Allah - mereka semua pada malam ini mendapat penglihatan yang membuat mereka mengerti bahwa Juruselamat telah dilahirkan. Kanak-kanak Yohanes dikuasai sukacita yang tak terkatakan. Tetapi, hanya Anna yang tahu di mana Bayi yang baru dilahirkan itu berada; sementara yang lain, dan bahkan Elisabet, yang mengenal baik Maria dan melihatnya dalam penglihatan, tak tahu-menahu mengenai Betlehem. Aku melihat suatu peristiwa yang amat mencengangkan terjadi di Bait Allah. Lebih dari sekali, tulisan-tulisan kaum Saduki dicampakkan oleh suatu kekuatan yang tak kelihatan dari tempat-tempat di mana tulisan-tulisan itu disimpan; kejadian ini menimbulkan kengerian yang luar biasa. Peristiwa ini dianggap berasal dari kuasa sihir dan sejumlah besar uang dibayarkan guna menutupinya. Aku melihat di Roma, di seberang sungai di mana banyak orang Yahudi tinggal, suatu sumber minyak tiba-tiba menyembur, membuat semua yang menyaksikannya terperanjat. Dan ketika Yesus dilahirkan, patung indah dewa Yupiter tumbang dengan berdebum hebat dari tempatnya. Semua orang dicekam ketakutan. Kurban-kurban dipersembahkan, dan kepada suatu berhala lain, aku pikir Venus, ditanyakan penyebab kejadian tersebut. Roh jahat dipaksa mengatakan dengan mulutnya, dan ia memaklumkan bahwa peristiwa ini terjadi karena seorang perempuan muda yang masih perawan telah mengandung dan melahirkan seorang putera. Ia juga memberitahukan kepada mereka perihal keajaiban sumur minyak. Sekarang, di tempat di mana peristiwa ini terjadi, berdiri sebuah gereja yang dipersembahkan kepada Bunda Allah. Aku melihat bahwa imam-imam kafir menjadi sangat bingung dan kacau atas segala perkara ini. Mereka memeriksa tulisan-tulisan mereka dan menemukan sejarah berikut. Sekitar tujuhpuluh tahun yang silam, berhala ini (Yupiter) sangat dihormati. Ia dihiasi indah dengan emas dan batu-batu

permata; upacara-upacara besar dilangsungkan demi menghormatinya, banyak kurban dipersembahkan. Pada masa itu di Roma tinggallah seorang perempuan yang luar biasa saleh, yang hidup dengan caranya sendiri. Aku tak tahu pasti apakah ia seorang Yahudi atau bukan, tetapi ia mendapatkan penglihatan-penglihatan, mengucapkan nubuat-nubuat, dan memberitahu banyak orang penyebab kemandulan mereka. Perempuan ini memperingatkan agar jangan mereka menghormati berhala dengan menghamburkan begitu banyak uang, sebab suatu hari nanti mereka akan melihatnya hancur berkeping-keping di tengah mereka. Perkataannya dianggap sebagai penghinaan besar hingga perempuan itu dijebloskan ke dalam penjara dan disiksa sampai, lewat doa-doanya, ia mendapatkan keterangan dari Allah bilamana bencana itu akan terjadi. Imam-imam kafir menuntut agar perempuan itu mengatakan apa yang dinyatakan Allah kepadanya; akhirnya ia pun menjawab, Berhala ini akan hancur berkeping-keping bilamana seorang Perawan Yang Tak Bercela melahirkan seorang Putra. Mereka tertawa mengejek, lalu membebaskan perempuan itu karena menganggapnya seorang gila. Teringatlah mereka sekarang akan peristiwa itu dan mengakui bahwa perempuan itu telah berkata benar. Aku juga melihat seorang penasehat Romawi yang bernama Lentulus, teman St Petrus dan leluhur imam martir bernama Musa, membuat catatan mengenai kejadian ini, juga mengenai menyemburnya sumur minyak. Pada malam ini, aku melihat Kaisar Agustus di gedung majelis di mana ia mendapat penglihatan akan pelangi, di atas pelangi duduk Perawan dan Bayi. Dari orang pandai yang ditanyai perihal penglihatannya, ia menerima jawaban ini, Seorang Bayi telah dilahirkan, dan di hadapan-Nya kita semua harus bersembah sujud! Kaisar segera mendirikan sebuah mezbah dan mempersembahkan kurban kepada Putra sang Perawan, sebagai Yang Lahir Sulung dari Allah. Aku juga mendapat penglihatan akan Mesir, lebih jauh dari Matarea, Heliopolis dan Memphis. Di wilayah itu terdapat sebuah patung berhala besar yang biasa memberikan jawab atas berbagai macam pertanyaan. Tiba-tiba berhala itu menjadi bisu. Raja memerintahkan agar kurban-kurban besar dipersembahkan di seluruh wilayah kekuasaannya. Lalu roh jahat, atas perintah Allah, dipaksa mengatakan, Aku telah menjadi bungkam; aku harus menyerahkan tempatku kepada yang lain. Putra sang Perawan telah dilahirkan, dan sebuah bait akan didirikan di sini guna menghormati-Nya. Begitu mendengar ini, raja hendak mendirikan suatu bait bagi Bayi yang baru dilahirkan, di sebelah mezbah berhala, tetapi aku tak ingat jelas kisahnya. Tetapi, aku tahu bahwa berhala itu kemudian disingkirkan dan bahwa sebuah bait didirikan bagi sang Perawan dan Bayi seperti yang dimaklumkan, dan yang sesudahnya dihormati dengan upacara-upacara kafir. Aku melihat suatu keajaiban menakjubkan di negeri Tiga Raja. Terdapat suatu menara di sebuah bukit di mana para raja undur diri secara bergantian bersama serombongan imam guna mengamati bintang-bintang. Apa yang mereka amati, mereka catat dan diskusikan satu sama lain. Pada malam ini, dua dari ketiga raja ada di sana, Mensor dan Seir. Yang ketiga, yang tinggal di sebelah sisi timur Laut Caspian, bernama Theokeno. Ia tidak ada di sana. Ada

suatu gugusan bintang tertentu yang selalu mereka amati, dan yang variasi gerakannya mereka catat. Dalam gugusan bintang itu mereka menyaksikan penglihatan dan gambar-gambar. Malam ini juga, mereka menyaksikan berbagai macam penglihatan. Tak hanya dalam satu bintang saja mereka menyaksikan penglihatan-penglihatan, melainkan dalam beberapa bintang yang membentuk suatu figur, dan tampaknya ada pergerakan di dalamnya. Mereka menyaksikan penglihatan tentang bulan; di atas bulan muncul suatu lengkungan indah berwarna pelangi, di atas lengkungan duduk seorang Perawan. Kaki kirinya terlipat dalam posisi duduk, sementara kaki kanan tergantung sedikit ke bawah dan bertumpu pada bulan. Di sebelah kiri sang Perawan, di atas lengkungan, terdapat seberkas anggur; di sebelah kanan sang Perawan terdapat seberkas gandum. Di depan sang Perawan terdapat sebuah piala seperti yang dipergunakan pada Perjamuan Malam Terakhir. Piala tampak muncul dari cahaya gemilang yang memancar dari sang Perawan, tetapi jauh lebih terang dan kemilau. Dari dalam piala muncul seorang Kanakkanak, dan di atas Kanak-kanak bersinarlah suatu lempengan bercahaya seperti ostensorium kosong. Benda pipih ini dikelilingi cahaya yang memancar; mengingatkanku akan Sakramen Mahakudus. Di sebelah kanan sang Perawan terdapat sebuah Gereja segidelapan dengan sebuah gerbang emas dan dua pintu samping yang kecil. Dengan tangan kanannya, sang Perawan menempatkan Kanak-kanak dan Hosti ke dalam Gereja, yang, sementara itu, bertambah dan bertambah besar, dan yang di dalamnya aku melihat Tritunggal Mahakudus. Di atas Gereja muncul sebuah menara. Theokeno, raja ketiga juga mendapat penglihatan serupa di rumahnya. Di atas kepala sang Perawan yang duduk di atas lengkungan, bersinar sebuah bintang, yang sekonyong-konyong terlempar dari tempatnya dan meluncur di langit di hadapan para raja. Terdengar oleh mereka suatu suara yang memaklumkan bahwa Kanak-kanak, yang begitu lama dinantikan oleh mereka dan oleh para leluhur mereka, akhirnya telah dilahirkan di Yudea, dan bahwa mereka hendaknya mengikuti bintang itu. Beberapa malam tepat sebelum malam terberkati, dari menara mereka menyaksikan berbagai macam penglihatan di langit: para raja mengadakan perjalanan kepada Kanak-kanak dan menyampaikan sembah sujud kepada-Nya. Jadi, sekarang mereka bergegas mengumpulkan harta benda mereka dan dengan membawa hadiahhadiah serta persembahan-persembahan, lalu memulai perjalanan, sebab mereka tak hendak menjadi yang terakhir. Aku melihat ketiga raja, setelah beberapa hari, saling bertemu dalam perjalanan. sumber : The Lowly Life And Bitter Passion Of Our Lord Jesus Christ And His Blessed Mother Together With The Mysteries Of The Old Testament: from the visions of Blessed Anne Catherine Emmerich; diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net

LUKAS 2:9-16

9 Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. 10 Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: 11 Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. 12 Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan." 13 Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: 14 "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya." 15 Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita." 16 Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Kedatangan Yesus Kristus, Firman menjadi daging, yaitu kedatangan dengan tubuh Ia hadir di dalam dunia ini. Kehadiran-Nya dengan tubuh memerlukan tempat. Tempat pertama kehadiran-Nya adalah rahim (womb) anak dara. Inilah tempat pertama kehadiran Anak Allah di dalam dunia ini. Namun kita tidak berhenti pada rahim anak dara yang bernama Maria, kita dihantar memahami keajaiban karya Roh Kudus menaungi rahim itu. Lukas 1:35 The Holy Spirit will come upon you, and the power of the Most High will overshadow you. Tempat kedua dicatat oleh Lukas adalah palungan (manger). Bayi itu dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan (Lukas 2:12). Bayi dan palungan. Bagaimana kita memahaminya? Bagaimana pendapat kita ketika menyaksikan ada bayi dalam palungan? Kita dengan mudah menyatakan keprihatinan kita karena palungan menyatakan kemiskinan dan kepapaan. Palungan melukiskan kerendahan dan ketidak berdayaan. Lalu bagaimana kita memahami bayi itu? Apakah kita memahami bayi terbaring dalam palungan sebagai bayi yang hina? Bayi yang patit dikasihani? Kita perlu bersabar sebelum mengambil kesimpulan demikian. Pertama-tama kita perlu memahami rangkaian peristiwa Lukas 2:9-16. Malaikat memberitahukan kepada para gembala akan bayi yang terbaring dalam palungan. Setelah mendengar berita itu, para gembala pergi ke Bethlehem untuk melihat (hora) bayi yang diberitakan itu terbaring dalam palungan. Berita ini berasal dari para malaikat. Jelaslah peristiwa ini bukan peristiwa sehari-hari yang kita dengar dari kata orang, ataupun dari media massa. Peristiwa bayi terbaring dalam palungan perlu dipahami dalam rangkaian peristiwanya. 1. Peristiwa kelahiran seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan (2:12) merupakan tanda (semeion). 2. Ketika berita itu disampaikan kepada para gembala, kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka (2:9). Peristiwa kelahiran bayi Yesus terbaring dalam palungan, dinyatakan dalam dua tema penting, yaitu tanda dan kemuliaan Tuhan. Bagaimana kita memahaminya?

Bayi terbaring dalam palungan merupakan tanda. Tanda yang dimulai dengan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi para gembala. Kemuliaan Tuhan berasal dari Tuhan. Ia berkenan menyatakan kemuliaan-Nya bahkan meliputi para gembala. Kemuliaan bukan berasal dari manusia. Apakah makna tanda itu? Tubuh-Nya dibungkus dengan lampin dan dibaringkan dalam palungan. Menurut Meredith G. Kline dari Westmineter Seminary California, tanda itu adalah pakaian-Nya dan posisinya dibaringkan di palungan. Inilah kerelaan-Nya untuk menanggalkan jubah kemuliaan-Nya dan tempat-Nya di Surga. Menarik disimak, Kline mengaitkan lampin dan palungan menyatakan kerelaan-Nya untuk menanggalkan kemulianNya. Ketika Adam dan Hawa diciptakan, mereka tidak mengenakan pakaian, dan tidak merasa malu. Ketika mereka berdosa, mereka merasa malu. Malu ada kaitannya dengan mulia. Sebelum berdosa, tubuh Adam dan Hawa bersalutkan kemuliaan yang TUHAN berikan. Itulah yang membuat mereka tidak merasa malu, karena ada mulia. Dosa, tegas Paulus, membuat manusia hilang kemuliaan Allah (Roma 3:23). Pakaian bagi tubuh berkenaan dengan kemuliaan. Setelah manusia berdosa, manusia menggunakan pakaian untuk menggantikan kemuliaan Allah yang hilang. Dengan kemuliaan itulah manusia tidak akan merasa malu. Sepanjang sejarah peradaban, manusia berusaha mendisain kemegahan dengan pakaian, kebesaran, kehormatan, keagungan. Jubah maha indah yang dipakai Yusuf membuat cemburu saudara-saudaranya oleh karena jubah itu menandai kemuliaan Yusuf melebihi mereka. Pakaian kini menjadi kemuliaan bagi manusia. Peristiwa kelahiran bayi Yesus mengingatkan kita bahwa kemuliaan ada kaitan dengan pakaian namun kemuliaan bukan berasal dari pakaian. Kemuliaan berasal dari TUHAN Allah. Kemuliaan bukan berasal dari jubah putih. Kemuliaan tidak dapat digantikan dengan jubah maha indah. Maka bayi itu dibungkus dengan lampin, namun kemuliaan Allah meliputi para gembala yang mendengar berita sederhana itu. Bagaimana dengan tubuh kita? Kita acap kali menggemakan seruan apa yang hendak aku makan dan minum, dan apa yang hendak aku pakai,. (Matius 6:25). Perkataan itu membawa kita kepada kekuatiran. Makan, minum dan pakaian kini menjadi kemuliaan kita. Kita menjadi apa yang kita makan, minum atau pakai. Kita lupa kemuliaan yang sejati datangnya dari TUHAN Allah. Kemuliaan itulah yang kita perlukan untuk meliputi kita oleh kasih karunia-Nya. Bagaimana dengan kemuliaan tubuh kita ketika kita menghampiri bayi yang dibungkus dengan lampin dan terbaring dalam palungan? Adakah tubuh kita menyatakan kemuliaanNya karena kita berjalan dalam kebenaran-Nya? Makan, minum dan pakaian kita menyatakan kemuliaan Allah bukan pada makan, minum dan pakaiannya, melainkan merupakan pancaran dari hati yang terus menerus diperbarui oleh Roh kebenaran. (bersambung: Kecukupan)