Anda di halaman 1dari 4

V.

PEMBAHASAN Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan obat antiinflamasi dengan tujuan akan mempelajari daya inflamasi obat pada hewan . Hewan uji yang digunakan adalah tikus, karena tikus berukuran lebih besar daripada mencit sehingga lebih mudah untuk mengukur volume udema pada kaki kanan belakang. Obat anti inflamasi terbagi menjadi 2 yaitu kortikosteroid dan (anti radang) non steroid. Obat non steroid atau yang lebih dikenal dengan sebutan NSAID (Non Steroidal Antiinflammatory Drugs) adalah suatu golongan obat yang memiliki khasiat analgesik (pereda nyeri), antipiretik (penurun panas), dan antiinflamasi (anti radang). Istilah non steroid digunakan untuk membedakan jenis obat-obatan ini dengan steroid, yang juga memiliki khasiat serupa. NSAID bukan tergolong obat-obatan jenis narkotika. Mekanisme kerja NSAID didasarkan atas penghambatan isoenzim COX-1

(cyclooxygenase-1) dan COX-2 (cyclooxygenase-2). Enzim cyclooxygenase ini berperan dalam memacu pembentukan prostaglandin dan tromboksan dari asam arakidonat.Prostaglandin merupakan molekul pembawa pesan pada proses inflamasi (radang). Ada 3 jenis obat golongan NSAID:
a. COX-1 selective inhibitor. Yaitu obat golongan NSAID yang cenderung menghambat

aktivitas COX-1, contohnya asam mefenamat untuk menghilangkan nyeri di persendian karena terkilir.
b. COX-2 selective inhibitor. Golongan obat NSAID yang punya kecenderungan menghambat

aktivitas COX-2, contohnya celecoxib. c. Non-selective COX inhibitor. Obat NSAID golongan ini menghambat aktivitas COX-1 dan COX-2, contohnya aspirin dan parasetamol. Prostaglandin merupakan molekul pembawa pesan pada proses inflamasi (radang). Rangsangan yang ditimbulkan menyebabkan lepasnya mediator inflamasi seperti histamin, serotonin, bradikinin, prostaglandin dan lainnya yang menimbulkan reaksi radang berupa panas, nyeri, merah, bengkak, dan disertai gangguan fungsi. Kebanyakan OAINS lebih dimanfaatkan

pada pengobatan muskuloskeletal seperti artritis rheumatoid, osteoartritis, dan spondilitis ankilosa. Namun, obat non steroid hanya meringankan gejala nyeri dan inflamasi yang berkaitan dengan penyakitnya secara simtomatik, tidak menghentikan, memperbaiki, atau mencegah kerusakan jaringan pada kelainan muskuloskeletal. Obat-obat NSAID yang non-selektif dan tradisional dapat menyebabkan kerusakan pada mukosa lambung. NSAID dapat menyebabkan kerusakan pada sel dan jaringan akibat inhibisi pada prostaglandin, berhubungan dengan inhibisi proses fosforilasi oksidatif di mitokondria, inhibisi pada enzim fosforilase, dan /atau aktivasi dari proses apoptosis. Adanya prostaglandin dapat menghambat sekresi asam, merangsang sekresi mukus, bikarbonat, dan sekresi fosfolipid, meningkatkan aliran darah mukosa, dan mempercepat pembentukan epitel dan penyembuhan mukosa lambung. Contoh obat non steroid yang digunakan dalam percobaan kali ini yaitu Ibuprofen yang merupakan Antirematik nonsteroid dan analgetik serta Na diklofenak yang merupakan Asam heteroaryl asetat. Sedangkan obat kortikosteroid yang digunakan adalah Dexametason dan metal prednisolon yang dapat menekan timbulnya radang dan alergi. Obat anti inflamasi ini diberikan secara per oral setengah jam sebelum obat karagenin yang merupakan penyebab bengkak diberikan. Karagenin ini diberikan secara injeksi sublantar yaitu di telapak kaki sebelah kanan tikus sebanyak 0,1 ml. Kemudian, setiap setengah jamnya diukur volume udem kaki tikus dengan menggunakan alat plestimograf. Dari hasil pengamatan diperoleh, dihitung volume udem, kenaikan volume udem, AUC (Area Under Curve), dan % daya anti inflamasi. Setelah itu dihitung dengan statistika anava satu arah nilai AUC dan % DAI. Dari hasil statistika diperoleh data yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada nilai AUC antara kontrol vs ibu profen dan metil prednisolon vs ibuprofen karena Fhitungnya 25,3513 dan 15,4928 lebih besar dari Ftabel yaitu 12,72. Sedangkan pada kelompok lain tidak ada perbedaan yang signifikan. Setelah dilakukan uji anava terhadap % daya anti inflamasi didapatkan nilai %rata-rata daya anti inflamasi yang paling besar dari obat yang digunakan adalah ibuprofen yaitu 83,08%, sedangkan yang paling kecil adalah metil prednisolon yaitu dengan daya anti inflamasi sebesar 33,04%. Dalam percobaan terdapat sedikit kesalahan sehingga didapatkan hasil % daya anti inflamasi metil prednisolon pada tikus ketiga

-22,37%, namun dalam uji statistika digunakan harga mutlak sehingga % daya anti inflamasinya menjadi 22,37%. Hal ini mungkin dikarenakan obat anti inflamasi yang diberikan secara per oral memberikan efek yang lebih lama daripada karagenin yang diberikan secara injeksi sublantar. Daya anti inflamasi pada Na diklofenak dan dexamethason secara berturut-turut sebesar 54,08% dan 54,83%. Namun secara teori metil prednisolon dan dexamethason-lah yang mempunyai daya anti inflamasi paling kuat, karena merupakan obat anti inflamasi golongan kortikosteroid yang cara kerjanya menghambat enzim fosfolipase, sehingga fosfolipida tidak bisa berubah menjadi asam arakhidonat penghasil prostaglandin. VI. KESIMPULAN Dari percobaan yang dilakukan didapatkan kesimpulan yaitu : 1. 2. Beberapa gejala inflamasi antara lain bengkak (udem), panas, radang Obat anti inflamasi terdiri dari 2 golongan yaitu kortikosteroid yang kerjanya menghambat enzim fosfolipase dan nonsteroid yang menghambat enzim siklooksigenase (COX-I dan COX-II) 3. Daya anti inflamasi yang paling kuat dari hasil percobaan adalah ibuprofen 83,08 %.

VII. DAFTAR PUSTAKA Katzung, bertram G. 2002. Farmakologi Dasar dan Klinik. Jakarta : Salemba Medika Mycek, Mary J. 2001. Farmakologi Ulasan Bergambar edisi 2. Jakarta : Widya Medika Tjay, Tan Hoang. 2007. Obat-Obat Penting. Jakarta : PT ELEX MEDIA KOMPUTINDO

Mengetahui Dosen Pembimbing

Semarang, 13 April 2011 Praktikan

Yustisia Dian A., S. Farm., Apt.

Hesti Karyati

(1040911068)

Lathifah Fibria M. (1040911082)

Marisa Hadi

(1040911090)

Novi Syarifatul I.

(1040911110)

Oktalia Chaesary

(1040911118)