Anda di halaman 1dari 8

ACARA I EFISIENSI SALURAN IRIGASI

A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Data primer sangat dibutuhkan dalam berbagai pengamatan maupun penelitian. Pemanfaatan alat ukur merupakan cara yang paling utama dalam memperoleh data primer tersebut. Alat ukur yang tersedia semakin berkembang dengan adanya kemajuan teknologi. Perkembangan alat ukur sesuai dengan kebutuhan semakin banyak dibutuhkan dalam berbagai bidang penelitian. Dalam suatu pengelolaan sumber daya air dengan perancangan bangunan air diperlukan suatu informasi yang menunjukan jumlah air yang akan masuk ke bangunan tersebut dalam satuan waktu yang dikenal sebagai debit aliran. Informasi mengenai besarnya debit aliran sungai membantu dalam merancang bangunan dengan memperhatikan besarnya debit puncak ( banjir) yang diperlukan untuk perancangan bangunan pengendalian banjir dan juga dilihat dari data debit minimum yang diperlukan untuk pemanfaatan air terutama pada musim kemarau.Sehingga dengan adanya data debit tersebut pengendalian air baik dalam keadaan berlebih atau kurang sudah dapat diperhitungkan sebagai usaha untuk mengurangi dampak banjir pada saat debit maksimum dan kekeringan atau defisit air pada saat musim kemarau panjang.Oleh karena itu, dalam praktikum ini belajar melakukan pengukuran debit sungai untuk mendapatkan informasi besarnya air yang mengalir pada suatu sungai pada saat waktu tertentu. 2. Tujuan Tujuan dari praktikum efisiensi saluran irigasi ini, diharapkan mahasiswa terampil menghitung efisiensi pnyaluran air irgasi.

3. Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum pengelolahan air ini dilakukan 9 Juni 2012. Praktikum dilakukan di dekat desa Palur, Mojolaban. Lokasi praktikum terbagi menjadi 3 irigasi, yaitu primer, sekunder dan tersier. B. TINJAUAN PUSTAKA 1. Pengukuran dengan current meter Debit aliran adalah laju air ( dalam bentuk volume air ) yang melewati suatu penampang melintang sungai per satuan waktu.Dalam system SI besarnya debti dinyatakan dalam satuan meter kubik per detik ( m3/dt).Sedangkan dalam laporan-laporan teknis, debit aliran biasanya ditunjukan dalam bentuk hidrograf aliran.Hidrograf aliranadalah suatu perilaku debit sebagai respon adanya perubahan karakteristik biogeofisik yang berlangsung dalam suatu DAS oleh adanya kegiatan pengelolaan DAS dan / atau adanya perubahan (fluktuasi musiman atau tahunan) iklim local. (Anonim 2011) Pada katagori pengukuran debit yang kedua, yaitu pengukuran debit dengan bantuan alat ukur current meter atau sering dikenal sebagai pengukuran debit melalui pendekatan velocity-area method yang paling banyak digunakan dan berlaku untuk kebanyakan aliran sungai. Current meter berupa alat yang berbentuk propeller dihubungkan dengan kotak pencatat ( monitor yang akan mencatat jumlah putaran selama propeller tersebut berada dalam air) kemudian dimasukan ke dalam sungai yang akan diukur kecepatan alirannya.Bagian ekor alat tersebut yang berbentuk seperti sirip akan berputar karena gerakan lairan air sunagi.Kecepatan lairan air akan ditentukan dengan jumlah putaran per detik yang kemudian dihitung akan disajikan dalam monitor kecepatan rata-rata aliran air selama selang waktu tetentu..Pengukuran dilakukan dengan membagi kedalaman sungai menjadi beberapa bagian dengan leber permukaan yang berbeda.Kecepatan aliran sungai pada setiap bagian diukur sesuai dengan kedalaman. (Prjitno, 1994)

Cara pengukuran lainnya selain dengan menggunakan alat Current meter, dalam pengukuran kecepatan aliran sungai juga dapat dilakukan dengan metode apung (floating method).Caranya dengan menempatkan benda yang tidak dapat tenggelam di permukaan aliran sungai untuk jarak tertentu dan mencatat waktu yang diperlukan oleh benda apung tersebut bergerak dari satu titik pengamatan ke titik pengamatan lain yang telah ditentukan.Benda apung yang digunakan dalam pengukuran ini pada dasarnya adalah benda apa saja sapanjang dapat terapung dalam aliran sungai.Pemilihan tempat pengukuran sebaiknya pada bagian sungai yang relatiflurus dengan tidak banyak arus tidak beraturan.Jarak antara dua titik pengamatan yang diperlukan ditentukan sekurang-sekurangnya yang memberikan waktu perjalanan selama 20 detik (Sosrodarsono, 1999) 2. Pengukuran dengan pelampung Terdapat dua tipe pelampung yang digunakan yaitu: (i) pelampung permukaan, dan (ii) pelampung tangkai. Tipe pelampung tangkai lebih teliti dibandingkan tipe pelampung permukaan. Pada permukaan debit dengan pelampung dipilih bagian sungai yang lurus dan seragam, kondisi aliran seragam dengan pergolakannya seminim mungkin. Pengukuran dilakukan pada saat tidak ada angin. Pada bentang terpilih (jarak tergantung pada kecepatan aliran, waktu yang ditempuh pelampunh untuk jarak tersebut tidak boleh lebih dari 20 detik) paling sedikit lebih panjang dibanding lebar aliran. Kecepatan aliran permukaan ditentukan berdasarkan rata rata yang diperlukan pelampung menempuh jarak tersebut. Sedang kecepatan rata rata didekati dengan pengukuran kecepatan permukaan dengan suatu koefisien yang besarnya tergantung dari perbandingan antara lebar dan kedalaman air. (Harsoyo, 1997) Dalam pelepasan pelampung harus diingat bahwa pada waktu pelepasannya, pelampung tidak stabil oleh karena itu perhitungan kecepatan tidak dapat dilakukan pada saat pelampung baru dilepaskan, keadaan stabil akan dicapai 5 detik sesudah pelepasannya. Pada keadaan pelampung stabil baru dapat dimulai pengukuran kecepatannya. Debit

aliran diperhitungkan berdasarkan kecepatan rata rata kali luas penampang. Pada pengukuran dengan pelampung, dibutuhkan paling sedikit 2 penampang melintang. Dari 2 pengukuran penampang melintang ini dicari penampang melintang rata ratanya, dengan jangka garis tengah lebar permukaan air kedua penampang melintang yang diukur pada waktu bersama sama disusun berimpitan, penampang lintang rata-rata didapat dengan menentukan titik titik pertengahan garis garis horizontal dan vertikal dari penampang itu, jika terdapat tiga penampang melintang, maka mula mula dibuat penampang melintang rata rata antara penampang melintang rata rata yang diperoleh dari penampang lintang teratas dan terbawah. (Purnomo 2008) Pengukuran dengan pelampung prinsip pengukurannya dengan metode kecepatan aliran diukur dengan menggunakan pelampung, luas penampang basah (A) ditetapkan berdasarkan pengukuran lebar

permukaan air dan kedalaman air. Persamaan debit yang diperoleh adalah Q=AxkxU Keterangan : Q A U K = debit aliran (m3/dt) = luas penampang basah (m2) = kecepatan pelampung (m/dt) = koefisien pelampung Nilai k tergantung dari jenis pelampung yang digunakan, nilai tersebut dapat dihitung dengan menggunakan rumus (Y.B. Francis) sebagai berikut: k = 1 0,116 ( 1 - - 0,1) Keterangan : = kedalaman tangkai (h) per kedalaman air (d), yaitu kedalaman bagian pelampung yang tenggelam dibagi kedalaman air (Richards, 1998)

C. METODE PRAKTIKUM 1. Alat a. Current meter b. Sepatu boot c. Tali d. Meteran e. Stopwatch f. Pelampung 2. Bahan a. Air 3. Cara kerja a. Memilih 2 saluran terbuka, masing-masing pada saluran sekunder dan tersier. b. Mengukur kecepatan air (V dalam m/det) menggunakan current meter di titik awal (Qin) dan debit di titik berikutnya yang diasumsikan sebagai titik akhir (Qout), pada masing-masing saluran sekunder dan tersier. Ukur dan catat jaraknya. c. Mengukut kecepatan aliran pada saluran tersier dapat menggunakan metode pelampung, apabila tinggi aliran tidak lebih dari 15 cm. d. Mengukur kecepatan aliran pada tiga titik (tengah, dan 2 pada pinggir saluran), lakukan sebannyak tiga kali ulangan, hitung rata-ratanya. e. Mencatat ketinggian penampang melintang (d rata-rata) dan lebar saluran (w). Luas penampang basah saluran (A) dihitung dengan rumus : A (m2) = d rata-rata x w Dimana : d rata-rata (m) = (d1 + d2 + d3)/3

D. HASIL PENGAMATAN DAN ANALISIS DATA 1. Hasil Pengamatan Tabel 2.1. Debit awal saluran irigasi sekunder Ulangan Lokasi Ketinggian Q in titik penampang (d) (cm) I Tepi 1 27 365 Tengah 37 356 Tepi 2 36 478 II Tepi 1 27 328 Tengah 37 401 Tepi 2 36 438 III Tepi 1 27 389 Tengah 37 397 Tepi 2 36 459 Sumber: Laporan sementara Tabel 2.2. Debit akhir saluran irigasi sekunder Ulangan Lokasi titik Ketinggian Q out penampang (d) (cm) I Tepi 1 40 345 Tengah 50 318 Tepi 2 45 366 II Tepi 1 40 297 Tengah 50 287 Tepi 2 45 341 III Tepi 1 40 337 Tengah 50 255 Tepi 2 45 331 Sumber: Laporan sementara Tabel 2.3. Debit awal saluran irigasi tersier Ulangan Waktu Ketinggian penampang Luas (t) (s) (cm) penampang (A) (m2) d1 d2 d3 1 12 20 21 19 0,114 2 11 20 21 19 0,114 3 11 20 21 19 0,114 Sumber: Lpaoran sementara

Kecepatan aliran air (V) (m/s) 0,44 0,44 0,44

Q in

0,05 0,05 0,05

Tabel 2.4. Debit akhir saluran irigasi tersier


Ulangan Waktu (t) (s) Ketinggian penampang (cm)

d1

d2 13 13 13

d3 11 11 11

d4 12 12 12 4 4 4

d5

Luas penamp ang (A) (m2)

Kecepata n aliran air (V) (m/s)

Q in

1 17,84 4 2 20,72 4 3 18,22 4 Sumber: Laporan sementara

0,128 0.128 0,128

0,26 0,26 0,26

0,033 0,033 0,033

Tabel 2.5. Efisiensi saluran irigasi Saluran Lokasi Q in titik Sekunder Tepi 1 365 Tengah 328 Tepi 2 389 Tepi 1 356 Tengah 401 Tepi 2 397 Tepi 1 478 Tengah 438 Tepi 2 459 Tersier 0,05 Sumber: Laporan Sementara

Q out 345 297 337 318 287 255 366 341 331 0,033

Water loss (%) 5,48 9,45 13,36 10,67 28,42 35,77 23,43 22,15 29,22 34

Efisiensi (%) 94,52 90,55 86,64 89,33 71,58 64,23 76,57 77,85 70,78 66

DAFTAR PUSTAKA

Anonim 2011. www.seba.de/product/water current meter.html. Diakses tanggal 13 Juni 2012 Harsoyo, Bangun 1977. Pengelolaan Air Irigasi. Dinas Pertanian Jawa Timur. Prjitno, Santoso S 1994. Digital Current Meter, Alat Pengukur Aliran Air untuk Sungai Tangerang: Puslitbang KIM LIPI. ISSN 0852-002 X Purnomo, Edi 2008. Global Positioning System. www.inigis.info Diakses tanggal 13 Juni 2012 Richards. P.R 1998 Manual of Standard Operating Procedures for Hydrometric Surveys in British Columbia Resources Inventory Committee. BC-Canada Sosrodarsono, Ir. Suyono, Cs 1999. Hidrologi Untuk Pengairan. Penerbit Pradnya Paramita. Jakarta.