Anda di halaman 1dari 8

PERKEMBANGAN PERCUTANEOUS BALLOON MITRAL VALVULOPLASTY ( PBMV ) RACIKAN UTAMA - Edisi Februari 2008 (Vol.7 No.

7) Farmacia Mitral stenosis masih tergolong masalah kesehatan besar di negara-negara berkembang, seperti Indonesia. Dalam tiga puluh tahun terakhir, terapi MS sudah diarahkan ke percutaneous balloon mitral valvuloplasty Indonesia boleh bangga memiliki ilmuwan jantung kelas dunia, terutama dalam bidang penyakit jantung katup. Pasalnya, meski insiden dan tingkat keparahan mitral stenosis (MS) sudah jauh menurun di negara-negara maju, penyakit ini masih menyumbang angka prevalensi yang tinggi di negara yang lebih miskin dengan penduduk yang padat. Isu ini menjadi masalah tersendiri dalam kesehatan global dan mencerminkan tingkat sosioekonomi kawasan tersebut. Dalam tiga puluh tahun terakhir, terapi MS sudah diarahkan ke percutaneous balloon mitral valvuloplasty (PBMV). Artikel berikut akan membahas perkembangan terapi dilatasi MS dalam pelbagai aspek, dari teknik tradisional, inovasi teknik, kasus-kasus penting di dunia, analisis prosedur, serta manifestasi klinis yang muncul dalam waktu cepat dan lambat. Pembahasan berikut ini telah dibahas di Journal of Invasive Cardiology sejak tahun 2005 dan disesuaikan dengan penerapan di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita (PJNHK) hingga simposium terkini, Weekend Course of Cardiology, awal Desember 2007 lalu. Bermula dari Jepang Seperti artikel sebelumnya tentang MS, penyebab utama MS ialah reaksi progresif dari luka yang disebabkan salah satu manifestasi (kriteria mayor) demam rheuma, yakni karditis rheumatik. Katup mitral merupakan komponen utama yang sangat rentan dengan proses rheumatik. Karena lebih dari 60% MS disebabkan oleh demam rheuma, maka insiden MS merefleksikan taraf kesehatan di kawasan tersebut. Di negara maju insiden MS sudah jauh menurun hingga pernah mencapai 0.5 kasus per 100.000 penduduk tahun 1980-an namun sedikit naik saat infeksi Streptococcus sempat merajalela di tahun 1990-an. Di negara miskin dan padat seperti Indonesia, insiden demam rheuma relatif konstan, belum terlihat penurunan yang bermakna hingga kini, yakni sekitar 10 kali lebih banyak dibanding negara maju. Bahkan progresivitas penyakit ini lebih parah di negara berkembang, mengingat rendahnya tingkat kesehatan dan minimnya kesadaran masyarakat. Dengan demikian MS masih tergolong masalah kesehatan besar di negara-negara berkembang. Intervensi dini dibarengi terapi mutakhir telah mengubah skenario pasien MS sejak 30 tahun belakangan. Sejak awalnya berupa open surgery commisurotomy hingga prosedur PBMV yang minim invasi. Pemahaman bedah yang mendalam merupakan dasar teknik PBMV saat ini. Awalnya, commisurotomy mulai digeser oleh teknik kateterisasi transeptal oleh Brockenbrough, kemudian diikuti dengan balloon atrial septostomy oleh Rashkind dan Miller. Inovasi Rashkind dan Miller ini menjadi inspirasi Inoue, ahli bedah toraks dari Jepang yang mendesain kateter lumen ganda koaksial untuk menciptakan komunikasi interatrial pada pasien transposition of great artery (TGA), atresia trikuspid, dan kardiopati kongenital lainnya. Akhirnya Inoue mencoba balon ini untuk memisahkan komisura yang menyatu pada katup mitral sebagai prosedur adjuvan open surgery. Pada Juni 1982, lewat percutaneous balloon Inoue akhirnya berhasil melebarkan katup mitral pada pasiennya. Sejak saat itu dimulailah era PBMV. Ironisnya, meski berasal dari Asia, PBMV awalnya malah dilarang di negara-negara Asia dengan alasan keamanan. Justru di negara-negara barat PBMV sangat berkembang hingga didesain pula

percutaneous balloon pulmonary valvuloplasty (entah mengapa singkatan PBPV tidak terlalu populer) dengan adaptasi yang nyaris sama dengan katup mitral. Hingga mendekati tahun 1990 barulah PBMV diperbolehkan di India, Saudi Arabia, termasuk Indonesia. Itu pun harus menggunakan teknik double-balloon (DB) yang mahal dan kurang efisien, hingga akhirnya tahun 1994 Inoue Balloon (IB) sudah diakui FDA sebagai metode yang simpel, lebih murah, cepat, dengan komplikasi yang lebih rendah. Siapakah kandidat PBMV? Berdasarkan konsensus dunia, PBMV diindikasikan pada pasien dengan gejala NYHA functional class? II dengan MS moderate atau severe (mitral valve area (MVA) ? 1.5 cm2 dengan morfologi yang memungkinkan untuk insersi balon, tidak ada trombus di atrium kiri, serta tidak ada moderate atau severe mitral regurgitation (MR). Meskipun prosedur ini diakui aman dan efektif, bukan berarti semua pasien MS wajib mendapatkan PBMV. Mereka yang tidak masuk kandidat ialah pasien severe MS yang membutuhkan operasi selain jantung, wanita muda yang akan hamil, dan pasien dengan risiko tromboemboli yang tinggi (riwayat fenomena tromboemboli, kontras padat spontan di atrium kiri pada echo, atau AF berulang). PBMV pun tidak perlu dilakukan pada pasien yang sudah memberikan respon yang baik pada pengobatan klinis. Metode diagnosis MS yang memerlukan PBMV pun relatif sudah sangat memasyarakat, yakni dengan menggunakan ekhokardiografi Doppler 2D yang dinamis dan fungsional, bahkan hingga memperkirakan tekanan pulmoner yang masuk ke atrium kiri. Ekho ini menjadi sangat penting mengingat keberhasilan commisurotomy sebelumnya sangat bergantung dari morfologi katup. Karenanya, Wilkins et. al. Mengemukakan bahwa prediktor keberhasilan PBMV tergantung dari empat hal, yakni mobilitas leaflet, ketebalan leaflet, kalsifikasi katup, dan keterlibatan komponen subvalvular. Empat hal ini diringkas dalam skor katup 0-4 yang telah dibuktikan dengan sensifitas dan spesifisitas 72% dan 73%. Skor Wilkins ini menjadi sangat populer dan standar dipakai (termasuk di Indonesia) karena menjadi prediktor langsung keberhasilan PBMV. Harus diakui bahwa skor ini tidak sempurna, proses patologis keempat komponen tersebut sebenarnya berjalan berbarengan sehingga rusak satu umumnya akan rusak semua, namun biasanya terdapat komponen yang lebih mayor rusak. Satu-satunya indikator keberhasilan PBMV ialah melebarnya MVA pascavalvuloplasty sehingga komponen yang sebenarnya sangat berkaitan dengan hal tersebut ialah penebalan katup. Skor ini juga tidak memperhitungkan fusi komisura yang asimetris, tingkat kalsifikasi organ tersebut, serta gagal memprediksikan severe MR. Namun demikian skor ini tetap dipakai sebagai acuan sebelum prosedur dengan penekanan pokok ialah apa yang dilihat pada gambaran anatomi ekho. Teknik yang digunakan Akses konvensional yang saat ini digunakan ialah pungsi transseptal antegrad (dipakai dengan metode Inoue, DB, metallic commisurotome, single-balloon, atau sistem Multi-Track). Sebenarnya terdapat beberapa cara mencapai katup mitral secara retrograde, namun semuanya dengan aplikasi yang sangat terbatas. Cara-cara ini hanya dipakai jika terdapat deformitas anatomi atau terapi alternatif jika tidak dapat dilakukan prosedur normal secara antegrad. Selain itu cara retrograde juga tidak terlalu mudah mengingat adanya kemungkinan melukai korda tendinae dan vena pulmonalis. Selain itu cara ini juga tidak bisa digunakan pada pasien dengan katup aorta buatan.

Teknik apapun yang dipakai, sejak Inoue pertama kali mencoba, semuanya memiliki prinsip yang relatif sama. Ketika dilakukan open surgery katup mitral hal pertama yang dilakukan ialah mencoba meregangkan sendiri komisura yang telah menyatu. Hal ini juga nantinya menjadi prinsip pertama dalam melakukan otopsi dan pemeriksaan ekho. Pada katup yang telah mengalami kalsifikasi, kalsium yang telah kaku dapat diregangkan hingga fraktur dan terlepasnya deposit kalsium nodular. Semuanya dilakukan dengan meregangkan katup melalui balon. Cara ini memang sangat mekanis dan tidak menyebabkan emboli akibat pelepasan fragmen jaringan. Prinsip peregangan ini merupakan hal mendasar untuk mencapai tujuan utama, meningkatkan MVA. Meskipun relatif sulit untuk mengendalikan arah balon silindris melalui orifisium yang elips, metode Inoue merupakan prosedur yang standar digunakan di hampir semua institusi kardiologi dunia, termasuk di PJNHK. Tidak seperti teknik lainnya, metode Inoue tidak membutuhkan floating balloon atau guide wire untuk masuk ke ventrikel kiri, sehingga prosedur ini relatif aman dan minim risiko perforasi ventrikel. Balon yang digunakan pada metode ini juga termasuk tipis, pendek, mudah diarahkan, dan relatif stabil ketika dilakukan dilatasi melalui orifisium, mungkin sisi negatif balon ini hanyalah harganya yang selangit. Metode DB terbukti efisien namun sudah tidak banyak digunakan karena relatif sulit dengan morbiditas yang tinggi. Sistem Multi-Track, yang dipopulerkan Bonhoeffer tahun 1995 menyederhanakan metode DB dengan cara membuat salah satu balon (DB) menjadi lebih fleksibel. Cara ini termasuk efisien dan murah karena balonnya dapat dipakai ulang setelah sterilisasi ulang dengan etilen oksida. Meski demikian, banyak institusi yang tak mau ambil repot, tetap digunakan PBMV dengan balon tunggal berdiameter 25-30 mm. Tahun 1995 pula teknik commisurotome (komisurotomi) diperkenalkan. Prinsip teknik ini relatif sama dengan dilator Tubbs yang digunakan untuk closed mitral commisurotomy (CMC) yang balonnya dapat dipakai beberapa kali. Cara ini juga tidak membuat obstruksi total ketika melakukan dilatasi dengan balon, ketika dilatasi pun tidak ada 'pemaksaan' khusus pada leaflet dan komponen subvalvular. Cara ini memang sedikit lebih sulit daripada Inoue, namun sangat efisien dan murah sehingga banyak dipakai di negara berkembang. Hasil dan prediktor Tergantung dari karakteristik populasi dan berbagai teknik yang digunakan, tingkat kesuksesan PBMV berkisar antara 80-95%. Kegagalan teknik PBMV berkisar antara 0.8-2.3% akibat sulitnya pungsi transseptal ketika melalui katup mitral. Pada prosedur yang berhasil, MVA biasanya akan melebar hingga dua kali dan gradient transvalvar menurut drastis hingga 50-60% dari angka semula. Perbaikan fungsi katup terlihat baik jika terdapat penurunan tekanan pada katup dan resistensi vaskular pulmonal yang disertai peningkatan indeks kardiak dan volume diastolik ventrikel kiri. Fungsi ventrikel kanan juga meningkat dengan meningkatnya indeks volume sistolik. Terdapat perbaikan fraksi ejeksi ventrikel kiri, terutama pada pasien dengan fraksi ejeksi ? 0.55.58-60. Dapat ditemukan pula peningkatan kecepatan Doppler seiring dengan penurunan atau regresi kontras ekho spontan pada atrium kiri. Hal-hal tersebut merupakan hasilhasil PBMV.

Prediktor-prediktor keberhasilan PBMV meliputi, anatomi katup. Berdasarkan skor ekho dapat dinilai keberhasilan PBMV, meskipun sangat relatif. Selain morfologi katup, prediktor yang cukup menentukan ialah usia pasien, functional class NYHA, commisurotomy surgery sebelumnya, kalsifikasi pada fluoroskopi, MVA sebelumnya, MR sebelumnya, fusi komisura yang simetris, dan variabel-variabel yang berhubungan dengan prosedur, misalnya ukuran balon atau kemampuan ekstensi ketika digunakan. Seluruh prediktor tersebut memegang peranan penting dalam hasil pascaintervensi. Dari karakteristik tersebut dapat diprediksikan kemungkinan terjadinya MR sesudah PBMV, meskipun tidak sepenuhnya akurat. Komplikasi Berdasarkan The National Heart, Lung, and Blood Institute komplikasi PBMV dapat diklasifikasikan sebagai komplikasi mayor (kematian, syok, MR berat, emboli sistemik, tamponade kordis, bedah emergensi, serta infark miokard akut) serta komplikasi minor (reaksi vasovagal, hipotensi berkepanjangan, aritmia, ASD signifikan, perikardiosentesis, transfusi darah) dengan angka kejadian komplikasi sekitar 12% di dunia. Umumnya komplikasi ini berlangsung cepat dan kadang tidak terdeteksi. Dari seluruh kasus di dunia mortalitas PBMV berkisar 0-3%, umumnya selalu di angka terendah hampir 0%. Penyebab utama kematian adalah tamponade kordis, MR berat, dan penurunan kondisi klinis pasien. Angka ini juga berkaitan erat dengan kriteria seleksi pasien yang akan menerima tindakan PBMV. Kadang terjadi pula hemoperikardium akibat perforasi pungsi transseptal atau perforasi apeks ventrikel kiri akibat pemasangan guide wire atau bahkan karena balon itu sendiri! Kejadian ini berhubungan dengan usia pasien dan kemampuan operator. Kalau perforasi itu terjadi di atrium kanan sebenarnya tidak terlalu masalah, tinggal dilakukan perikardiosentesis dan pemberian protamine. Namun jika perforasi terjadi di ventrikel kiri dapat menyebabkan perubahan hemodinamik dan secara umum membutuhkan tindahkan bedah koreksi emergensi. Operasi tersebut dilakukan jika terjadi hemoperikardium yang masif, kadang akibat MR berat hingga menyebabkan edema pulmoner refrakter. Terkadang operasi koreksi pun sudah direncanakan pasca PBMV jika ternyata ditemukan deformitas katup berbentuk seperti terowongan (tunnel-shaped). Komplikasi emboli sistemeik termasuk yang sangat jarang terjadi, berkisar antara 0.5-3% dan sangat mengancam nyawa. Awalnya emboli ini biasanya berasal dari trombus arteri atau trombus yang terbentuk ketika terjadi ruptur balon dan terlepasnya fragmen jaringan. Hampir semua emboli mempengaruhi otak, sementara yang lainnya bisa meliputi tungkai bawah, ginjal, dan arteri koroner. Metode Inoue yang tidak banyak melakukan manipulasi atrium kiri dan penggunaan ekho transesofagus untuk mendeteksi trombus arteri telah banyak menurunkan angka kejadian emboli sistemik. Dua efek jangka panjang yang sebisa mungkin dihindari ialah mitral regurgitation (MR) dan restenosis. MR terjadi karena pelebaran anulus katup, pemisahan komisura yang berlebih, edema muskulus papiler, atau penutupan cuping katup yang abnormal. Tempat terjadinya MR ialah daerah dibukanya komisura. MR ini juga menyebabkan menurunnya MVA dan sebenarnya bisa sembuh dengan mekanisme alamiah dari tubuh, namun pada kasus MR berat dengan gejala klinis yang buruk, tindakan operasi koreksi akan dilakukan.

Restenosis pasca PBMV hanya bisa diagnosis dengan tiga kali ekho sekuensial (berturut-turut) setelah pemeriksaan hemodinamik. Pertama, sebelum dilakukan intervensi, kedua, segera sesudah intervensi, dan ketiga, ketika kontrol saat melihat bukaan orifisium. Berdasarkan gejala yang timbul, tingkat restenosis sangat bervariasi, mulai dari 2% hingga 60%. Restenosis ini bisa terjadi jika tidak dilakukan follow-up yang kurang baik pascaintervensi karena hal ini bisa saja terjadi akibat penyakit lain di luar katup mitral, misalnya penyakit jantung koroner atau penyakit katup aorta. Restenosis pasca PBMV bisa terjadi jika hasil dilatasi kurang optimal, terjadi penyatuan kembali komisura, terdapat penebalan leaflet secara progresif, serta kalsifikasi dan penyakit subvalvular lain. Satu hal lagi yang perlu dibahas ialah prosedur PBMV pada wanita hamil. Ironis bahwa di negara berkembang, MS banyak terjadi pada wanita muda yang notabene usia produktif, mengingat insiden penyakit jantung rheumatik banyak terjadi di kalangan usia ini. MS akan mengganggu kestabilan hemodinamik, terutama saat hamil yang dapat berefek pada gejala klinis yang abnormal. Meski kehamilan tidak meningkatkan risiko sang ibu untuk dlakukan commisurotomy, namun fetus memiliki risiko yang besar. Setelah dilakukan CMC, 10-37% ibu akan mengalami kelahiran prematur, bahkan 5-15% mengalami kematian fetus. Akibat sirkulasi ekstrakorporeal yang kurang baik, kematian fetus ini bisa meningkat hinga 6-33%. (Farid) KATUP JANTUNG Klep-klep jantung anda letaknya di pintu-pintu keluar dari keempat ruangan jantung anda dan mempertahankan satu arah aliran darah didalam jantung. Keempat klep jantung memastikan bahwa darah mengalir dengan bebas pada satu arah aliran dan tidak adanya aliran balik yang bocor. Darah mengalir dari atria(serambi) kanan dan atria kiri menuju ventricles(bilik) melalui klep tricuspid dan klep mitral yang terbuka. Ketika ventricles penuh, maka klep tricuspid dan klep mitral menutup. Ini mencegah darah mengalir balik ke atria ketika ventricles berkontraksi. Ketika ventricles mulai berkontraksi, maka klep pulmonic dan klep aortic dipaksa buka dan darah dipompa keluar dari ventricles melalui klep-kep yang terbuka masuk kedalam arteri pulmonary menuju ke paru-paru, ke aorta dan keseluruh tubuh. Ketika ventricles selesai dengan kontraksi dan mulai relax, klep-klep aortic dan pulmonary menutup. Klep-klep ini mencegah darah mengalir balik ke ventricles. Pola ini diulangi terus menerus, menyebabkan darah mengalir terus menerus ke jantung, paru-paru dan tubuh. Jenis Penyakit Klep Jantung Ada beberapa jenis penyakit klep jantung. - Valvular stenosis. Ini terjadi ketika keterbukaan klep lebih kecil dari normal karena kelopak klep menjadi kaku(stiff). Pembukaan yang menyempit dapat menyebabkan jantung harus bekerja berat untuk memompa darah melaluinya. Ini dapat menuju ke gagal jantung atau gejala lainnya. Semua keempat klep dapat stenotic(mengeras, membatasi aliran darah). Kondisi-kondisi ini disebut tricuspid stenosis, pulmonic stenosis, mitral stenosis atau aortic stenosis. - Valvular insufficiency. Juga disebut regurgitation, incompetence atau "leaky valve"(klep bocor). Ini terjadi karen suatu klep tidak menutup dengan rapat. Jika klep tidak tertutup rapat, maka ada bagian darah yang mengalir balik melalui klep. Ketika kebocoran ini menjadi parah, maka jantung harus bekerja keras untun mengatasi kebocoran klep ini dan lebih sedikit darah

yang mengalir ke sisa tubuh lainnya. Tergantung dari klep mana yang terkena, maka kondisi ini disebut tricuspid regurgitation, pulmonary regurgitation, mitral regurgitation atau aortic regurgitation. Sumber: Total Kesehatan Anda.com

Last edited by gitahafas on Mon Jun 13, 2011 12:16 pm; edited 3 times in total

gitahafas Moderator

Number of posts: 12494 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30

Subject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs Wed Jan 26, 2011 10:29 am PENYEBAB PENYAKIT KATUP JANTUNG Penyakit klep dapat berkembang sebelum kelahiran (Genital) atau didapat suatu ketika semasa hidup seseorang. Kadang penyebab penyakitnya tidak diketahui. Penyakit Klep Kelahiran. Kebanyakan mempengaruhi klep aortic atau klep pulmonic. Klep-klep mungkin ukurannya salah, mempunyai bentuk kelopak yang aneh atau mempunyai kelopak yang tidak secara benar menempel di annulus. Bicuspid aortic valve disease. Adalah penyakit klep bawaan (genital) yang mempengaruhi klep aortic. Bukannya tiga kelopak yang normal atau cusps, tapi bicuspid aortic valve hanya mempunyai dua saja. Tanpa kelopak yang ketiga, klepnya mungkin jadi kaku (tidak membuka dan menutup secara baik) atau bocor (tidak dapat menutup dengan rapat) Penyakit Klep Yang Didapat. Ini termasuk persoalan yang berkembang dengan klep-klep yang sebelumnya pernah normal. Ini dapat melibatkan perubahan struktur klep disebabkan oleh penyakit atau infeksi yang beragam, termasuk demam rematik (rheumatic fever) atau endocarditis. - Demam Rematik disebabkan oleh infeksi bakteri yang tidak diobati (biasanya leher). Untungnya pengenalan dari antibiotik untuk mengobati infeksi ini telah mengurangi secara drastis jumlah infeksi ini. Infeksi permulaan umumnya terjadi pada anak-anak, namun persoalan jantung yang berhubungan dengan infeksi tidak akan terlihat 20 sampai 40 tahun kemudian. Pada

waktu itu, klep jantung meradang, kelopak-kelopaknya menempel satu sama lain dan menjadi kaku, menebal, memendek dan mempunai bekas luka. Ini menyebabkan mitral regurgitation (kebocoran mitral). - Endocarditis terjadi ketika germs, terutama bakteri, masuk kedalam aliran darah dan menyerang klep-klep jantung, menyebabkan penumbuhan dan lubang-lubang di klep-klep dan bekas luka. Ini menyebabkan klep-klep yang bocor. Germs yang menyebabkan endocarditis masuk kedalam aliran darah sewaktu prosedur perawatan gigi, operasi, pemakaian obat atau dengan infeksi yang parah. Orang-orang dengan penyakit klep (kecuali mitral valve prolapse tanpa penebalan atau kebocoran) menghadapi risiko yang meningkat untuk mengembangkan infeksi yang mengancam nyawa ini. Begitu banyak perubahan yang dapat terjadi pada klep-klep jantung. Chordae tendinea atau papillary muscles dapat memuai(memanjang) atau robek; annulus dari klep dapat membesar(melebar) atau kelopak klep dapat menjadi fibrotic (stiff) dan kalsifikasi. Mitral valve prolapse (MVP) adalah suatu kondisi yang sangat umum dan mempengaruhi sekitar 1 sampai 2 % populasi. MVP menyebabkan kelopak-kelopak dari klep mitral jatuh kembali (flop back) kedalam atrium kiri waktu jantung sedang berkontraksi. MPV juga menyebabkan jaringan klep menjadi abormal dan tertarik (stretchy), menyebabkan klep menjadi bocor. Kondisi ini jarang menyebabkan gejala-gejala dan umumnya tidak memerlukan perawatan. Penyebab-penyebab lainnya dari penyakit klep termasuk: penyakit jantung koroner, serangan jantung, kardiomiopati, syphilis, hipertensi, aneurisme aorta. Penyebab penyakit klep yang lebih jarang termasuk tumor, beberapa tipe dari obat-obatan dan radiasi. Sumber: Total Kesehatan Anda.com

Last edited by gitahafas on Mon Jun 13, 2011 12:17 pm; edited 3 times in total

gitahafas Moderator

Number of posts: 12494 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30

Subject: Re: Heart Attack Symptoms and Early Warning Signs Wed Jan 26, 2011 10:31 am GEJALA GEJALA PENYAKIT KATUP JANTUNG - Sesak Napas. Sesak napas yang paling anda perhatikan ketika waktu anda sedang aktif(melakukan pekerjaan sehari-hari) atau ketika anda sedang berbaring rata diatas ranjang. Mungkin anda perlutidur diatas tumpukan bantal untuk bernapas lega. - Lesu atau pusing. Anda mungkin merasa terlalu lemah untuk mengerjakan pekerjaan harian anda. Pusing juga dapat terjadi dan pada beberapa kasus, kehilangan kesadaran mungkin merupakan suatu gejala. - Perasaan tidak enak di dada. Anda mungkin merasakan suatu tekanan atau beban diatas dada anda waktu suatu aktivitas atau waktu berjalan keluar di udara yang dingin. - Palpitasi. Ini rasanya seperti denyut jantung yang cepat, denyut jantung tidak beraturan, denyutan yang terlewat(skipped) atau perasaan flip-flop didada anda. - Pembengkakan pergelangan, kaki atau abdomen. Ini disebut edema. Pembengkakan dapat terjadi di perut yang dapat menyebabkan anda merasa kembung. - Penambahan berat yang cepat. Penambahan berat badan dari 1 sampai 3 pound dapat terjadi dalam satu hari. Gejala-gejala tidak selalu berhubungan dengan tingkat keparahan penyakit klep jantung anda. Anda mungkin sama sekali tidak mempunyai gejala, tapi mempunyai penyakit klep yang parah, memerlukan penanganan segera. Atau seperti dengan mitral valve prolapse, anda mungkin mempunyai gejala yang berat, bagaimanapun tes menunjukan kebocoran klep anda tidak signifikan.