Anda di halaman 1dari 8

STUDI PENGARUH VARIABEL SUHU OPERASI DALAM PROSES HIDROLISA MINYAK JARAK Inggit Prillasari, Nadya Alfa Cahaya

Imani, Shafrizal, Yohan Ade Sugiharto Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik,Universitas Diponegoro, Semarang Jl. Prof. Soedarto 50239 Semarang, Telp./Fax. 024-7460058

ABSTRAK Lemak dan minyak adalah trigliserida yang berarti triester dari gliserol. Hidrolisa merupakan pengikatan gugus OH- oleh suatu senyawa, gugus OH- dapat diperoleh dari air. Pada hidrolisa minyak jarak air memecah gugus alkil dalam trigliserida minyak menjadi asam lemak dan gliserol. Faktor-faktor yang mempengaruhi hidrolisa minyak jarak adalah suhu, pengadukan, katalis, dan perbandingan reaktan. Tujuan percobaan adalah mempelajari pengaruh suhu terhadap konversi, konstanta laju reaksi, dan konstanta kesetimbangan reaksi. Variabel berubah yang digunakan adalah suhu (65C,75C). Dari percobaan dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi suhu operasi maka semakin besar konversinya, konstanta laju reaksinya, dan konstanta kesetimbangan reaksinya pula. Kata Kunci: hidrolisa, minyak jarak, suhu ABSTRACT Fats and oils are triglyceride which means triester of glycerol. Hydrolisis is a process of binding the OH- by a compound, the OH- can be obtained from water. On castor oil hydrolisis, the water will break an alkyl group in oils triglyceride into fatty acid and glycerol. Factors affecting the castor oil hydrolisis are temperature, stirring, the catalyst, and the reactant comparison. The purposes of this experiment are to study the effect of temperature on the conversion, the constant of reaction rate, and the constant of reaction equilibrium. The changing variabel used is the temperatures (65C,75C). From the experiment we can conclude that the higher the operation temperature, the conversion, the constant of reaction rate, and the constant of reaction equilibrium are also higher.

Keywords: hydrolisis, castor oil, temperature

PENDAHULUAN Latar Belakang Lemak dan minyak adalah trigliserida yang berarti triester (dari) gliserol. Perbedaan antara suatu lemak adalah pada temperatur kamar, lemak akan berbentuk padat dan minyak berbentuk cair. Sebagian besar gliserida pada hewan merupakan lemak yang biasa disebut lemak hewani. Sedangkan gliserida dalam tumbuhan cenderung berupa minyak dan disebut sebagai minyak nabati.

Pohon jarak (Ricinus communis) merupakan salah satu jenis tanaman penghasil nonedible oil. Hasil utama dari pohon jarak adalah bijinya, apabila dikeringkan biji jarak akan menghasilkan minyak jarak. Hidrolisis minyak jarak menjadi asam lemak dan gliserol dilakukan dengan cara memanaskan campuran minyak jarak dan sedikit asam sulfat. Asam lemak yang diperoleh dari hidrolisis suatu minyak atau lemak umumnya mempunyai rantai karbon panjang dan tidak bercabang.

Penggunaan langsung minyak jarak terbatas pada industri genteng, obat-obatan, minyak rem, dan minyak lincir. Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan yang dilakukan adalah agar mahasiswa mampu menjelaskan mengenai pengaruh waktu dan suhu operasi terhadap konversi hidrolisa (katalis HCl), pengaruh suhu terhadap konstanta kecepatan reaksi, serta pengaruh suhu terhadap konstanta kesetimbangan reaksi LANDASAN TEORI Hidrolisis Minyak secara Umum Hidrolisis merupakan pengikatan gugus hidroksil (-OH) oleh suatu senyawa. Gugus OH dapat diperoleh dari air. Hidrolisis dapat digolongkan menjadi hidrolisis murni, hidrolisis katalis asam, hidrolisis katalis basa, gabungan alkali dengan air, dan hidrolisis dengan katalis enzim. Berdasarkan fase reaksi hidrolisis dikelompokkan menjadi hidrolisis fase cair dan fase uap. Hidrolisis minyak nabati dapat dilakukan pada tekanan rendah tetapi reaksinya berlangsung lambat, sehingga memerlukan katalisator, misalnya H2SO4. Katalisator tidak diperlukan jika hidrolisis dilakukan pada tekanan sangat tinggi yaitu 700 psia dan 485oF (Groggins,1985) dan konversi yang dicapai lebih dari 90%. Pada proses hidrolisis, air memecah gugus alkil dalam trigliserida minyak menjadi asam lemak dan gliserol. Pada reaksi dengan air, reaksi dimungkinkan terjadi pada fase cair dan fase minyak, akan tetapi menurut Lascaray (1949), reaksi pada fase minyaklah yang dominan, sehingga kinetika reaksi ditentukan oleh kecepatan difusi air ke dalam fase minyak dan reaksi antara air dan minyak di fase minyak yang dapat disajikan ke dalam persamaan matematik.

- Kecepatan difusi air ke fase minyak: -rA = k1a (CA* - CA1) mgrek/gminyak/menit (1) Dengan : CA = konsentrasi air di fase minyak yang seimbang dengan konsentrasi air pada fase air atau CA* = k CA2 CA1 = konsentrasi air di fase minyak , mgrek / g minyak CA2 = konsentrasi air di fase air k1a = konstanta kecepatan difusi air ke fase minyak, menit-1 - Kecepatan reaksi di fase minyak: rA = rB = kr CA1 CB (2) Dengan : CA1 = konsentrasi air pada fase minyak CB = konsentrasi minyak / trigliserida

Untuk mencari langkah yang mengontrol pada kinetika reaksi, disusun neraca massa air dan neraca massa minyak di fase minyak sebagai berikut : Neraca massa air dalam fase minyak : = k1a (CA* - CA1) kr CA1 CB (3)

Asumsi : dengan adanya pengadukan, kecepatan transfer massa pada persamaan di atas [k1a (CA* - CA1)] dianggap jauh lebih besar daripada kecepatan reaksi kimia [kr CA1 CB] maka dianggap hanya kecepatan reaksi kimia saja yang menentukan kecepatan reaksi keseluruhan. Neraca massa minyak dalam fase minyak : = kr CA1 CB (4)

Bila jumlah air berlebihan dan transfer massa air ke fase minyak sangat cepat, maka fase minyak dianggap selalu jenuh dengan air, maka CA1 = CA* yang

bernilai konstan pada suhu tertentu, k1 CA1 = k sehingga :

R Ea

= tetapan gas = energi aktivasi

-rB = -k CB = ln -k CB = - k = - k t (5) (6)

Minyak Jarak Minyak jarak merupakan minyak nabati yang diperoleh dengan cara pemerasan dari tanaman Ricinus communis, kegunaan langsung minyak jarak terbatas pada industri genteng, obat obatan , minyak rem, minyak lincir. Sifat fisik dari minyak jarak adalah cairan tidak berwarna atau berwarna kuning pucat, bau lemak, rasa sedikit menggigit, viskositas tinggi dan bilangan asam akan tinggi sesuai dengan waktu yang ditandai dengan biji rusak dan cara pemerasan yang tidak baik. Sifat kimia dari minyak jarak adalah mengandung 46 53% minyak. Minyak jarak mengandung 80% gliserida, asam asinolat, stearat isoresinolat, dihidroksi stearat dan palmiat. Minyak jarak juga mengandung 20% protein, 0,2 alkaloid piridin beracun, risinin serta enzim lipase minyak jarak mengandung zat toksin risin.

Dengan: CB0 = banyaknya trigliserida mula mula , mgrek/gr minyak CB = banyaknya trigliserida suatu saat = CB0 banyaknya asam lemak bebas yang terjadi, mgrek/gr minyak

Bila X = maka X= = ln (1-X) = - k t Dengan: k t = (1 X) (7) (8) (9)

Hidrolisis Minyak Jarak Hidrolisis minyak jarak menjadi asam asam lemak dan gliserol dilakukan dengan cara memanaskan campuran minyak jarak dan sedikit asam sulfat di dalam sebuah labu leher tiga. Pemanasan dilangsungkan sampai suhu yang diinginkan sebelum air panas dimasukkan. Contohnya diambil setiap waktu tertentu (10 menit) untuk dianalisis asam bebasnya, kecepatan hidrolisis terutama ditentukan oleh kecepatan reaksi antara air dan trigliserida di fase minyak. Penggunaan air yang berlebihan memungkinkan fase minyak selalu jenuh dengan air sehingga reaksi hidrolisis bertingkat satu semu terhadap konsentrasi gliserida.

= konstanta kecepatan reaksi tingkat satu, j-1 = waktu reaksi, j

Nilai konstanta kecepatan reaksi kimia sebagai fungsi suhu dapat dinyatakan dengan persamaan Arrhenius : k = Ae-Ea/RT Dengan : k T = konstanta kecepatan reaksi, j-1 = suhu oK

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hidrolisis Minyak Jarak 1. Suhu Kenaikan suhu akan memperbesar nilai konstanta kecepatan reaksi. Suhu yang semakin tinggi akan memperbesar kelarutan air di dalam fase minyak, sehingga makin banyak pula trigliserida yang bereaksi. Menurut Rahayu (1999) hubungan antara konstanta kecepatan reaksi dengan suhu dapat dinyatakan dengan persamaan : k = 1,2515 . 108 e-8022/T = 1,2515 e-15939/RT Dengan: k = konstanta kecepatan reaksi T = suhu absolut oK R = tetapan gas = 1,987 cal/gmol oK 2. Katalisator Katalisator yang dipakai dapat berupa enzim atau asam. Katalisator pada percobaan ini dipilih katalisator asam. Semakin banyak katalis asam yang ditambahkan, konversi akan semakin besar demikian juga terhadap konstanta kecepatan reaksinya. Bila katalisator makin banyak, makin banyak pula molekul molekul trigliserida yang teraktifkan. Menurut Rahayu (1999) hubungan antara konstanta kecepatan reaksi (Kc) dengan konsentrasi asam (c) mgmol H2SO4/ gr minyak dapat dinyatakan dengan persamaan : Kc = 0,14525 c13 Dengan c = mgmol H2SO4/ grminyak 3. Pencampuran Agar zat dapat saling bertumbukan dengan baik, perlu adanya pencampuran. Untuk proses batch, hal ini dapat dicapai dengan bantuan pengaduk. Apabila prosesnya kontinyu, pengadukan dilakukan dengan cara mengatur aliran dalam reaktor agar terjadi olakan.

4. Perbandingan Zat Pereaksi Bila salah satu zat pereaksi berlebihan jumlahnya, kesetimbangan dapat bergeser ke sebelah kanan dengan baik. Begitu pula sebaliknya, jika produk diambil, reaksi akan bergeser ke kanan. Reaksi kimia hidrolisa minyak jarak dan rumus bangunnya

(Khairat;Syamsu Herman. 2004. Kinetika Reaksi Hidrolisis Minyak Sawit dengan Katalisator Asam Klorida. Jurnal Natur Indonesia 6(2): 118-121 (2004)ISSN 1410-9379) Emulsifier atau zat pengelmusi adalah zat untuk membantu menjaga kestabilan emulsi minyak dan air. Cara kerja emulsifier : Gugus non polar emulsifier akan mengikat minyak (partikel minyak dikelilingi) sedangkan air akan terikat kuat oleh gugus polar pengelmusi tersebut Bagian polar kemudian akan terionisasi menjadi muatan negatif, hal ini menyebabkan minyak juga menjadi bermuatan negatif Partikel minyak kemudian akan tolak menolak sehingga dua zat yang pada awalnya tidak dapat larut tersebut menjadi stabil http://id.wikipedia.org/wiki/Emulsifier

METODOLOGI PERCOBAAN Bahan dan Alat yang Digunakan 1. Bahan yang Digunakan Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah minyak jarak, aquadest, katalis HCl (25%/Merck), NaOH teknis (PT. BRATACO CHEMIKA), alkohol (96%), surfaktan Sunlight (PT. UNILEVER Tbk) dan indikator titrasi yaitu PP. 2. Alat Percobaan Adapun alat yang dipakai adalah labu leher tiga, statif, klem, buret, heater, magnetic stirrer, thermometer, pendingin balik, waterbath, dan erlenmeyer. Densitas Katalis Timbang picnometer kosong (m1), masukkan HCl teknis dilaboratorium kedalam picnometer yang telah diketahui volumenya (V), timbang beratnya (m2). Hitung densitas katalis HCl. B. Analisa Kadar Asam Lemak dalam Bahan Baku Masukkan 5 mL minyak jarak ke dalam Erlenmeyer. Tambahkan 15 mL alkohol 96% dan panaskan sambil diaduk pada suhu 60oC. Tambahkan 3 tetes indikator PP dan titrasi dengan NaOH sampai warna berubah menjadi merah muda. Catat kebutuhan titran. C. Hidrolisa Minyak Jarak Masukkan minyak jarak ke dalam labu leher tiga. Masukkan katalis HCl 0,2 N ke dalam labu leher tiga. Alirkan air pendingin selama proses hidrolisa. Panaskan campuran tersebut sampai suhu 75 dan 65oC kemudian menambahkan aquadest yang telah dipanaskan ke dalam labu leher tiga dan emulsifier (sabun) 5 ml. Ambil sampel dalam selang waktu 5 menit untuk dianalisa asam lemak dan asam total selama 25 menit.

Variabel Operasi a. Variabel tetap Variabel tetap yang digunakan adalah basis campuran total sebanyak 300 ml, volume emulsifier 5 ml, interval waktu pengambilan sampel 5 menit, NaOH 0,1 N sebanyak 100 ml, alkohol, katalis HCl 0,2 N, perbandingan minyak:air = 1:3 b. Variabel berubah Sedangkan variabel berubahnya adalah suhu operasi yaitu T1= 650C dan T2=750C. Respon Uji Hasil Respon yang diambil berupa kadar asam lemak bebas yang terbentuk sebagai hasil dari hidrolisa minyak jarak, sehingga besarnya konversi dan konstanta kecepatan reaksi dapat ditentukan. Prosedur Percobaan A. Menghitung densitas Densitas Minyak Jarak Timbang picnometer kosong (m1), masukkan minyak jarak kedalam picnometer yang telah diketahui volumenya (V), timbang beratnya (m2). Hitung densitas minyak jarak.

D. Penentuan Kadar Asam Lemak Bebas Masukkan 5 mL minyak jarak yang telah dihidrolisa ke dalam Erlenmeyer. Tambahkan alkohol 96% 15 mL dan dipanaskan sambil diaduk pada suhu 60oC.Titrasi dengan NaOH: tambahkan 3 tetes indicator PP, kemudian dititrasi sampai warna merah muda. Mencatat kebutuhan titran

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Waktu dan Suhu terhadap konversi Hidrolisa


0.12 0.1
konvers i (X )

maka

0.08 0.06 0.04 0.02 0 0 5 10 15 20 25 suhu (T ) = 75C suhu (T ) = 65C

waktu (menit)

Gambar 4.2.a Grafik Konversi(x) vs Waktu

Dari persamaan di atas bila t makin besar maka nilai x juga makin besar. Dengan kata lain bila semakin lama maka nilai konversi makin besar sampai seluruh minyak jarak habis bereaksi (karena air dibuat berlebih) Dari grafik 4.2.a juga dapat dilihat bahwa nilai konversi pada T = 750C lebih besar dibanding dengan T = 650C. Hal ini sesuai dengan teori bahwa kenaikan suhu akan menaikkan konstanta kecepatan reaksi, sehingga reaksi yang lebih cepat akan menaikkan nilai konversinya, sesuai dengan persamaan berikut: k = A eE/RT.................(2) Dimana: k = konstanta kecepatan reaksi

Dari grafik 4. 2. a dapat dilihat bahwa secara keseluruhan nilai konversi (X) naik seiring dengan bertambahnya waktu, maka kemungkinan kontak antar reaktan semakin besar sehingga semakin banyak jumlah trigliserida yang bereaksi menjadi asam lemak bebas dan meningkatkan nilai konversinya. Hal ini dapat dijelaskan dengan persamaan: Neraca massa air dalam fase minyak dCA dt = kLa CA* - CA1 - kr. CAi. CB Asumsi: dengan adanya pengadukan maka kecepatan transfer massa [kLA CA*CA1] dianggap jauh lebihbesar daripada kecepatan reaksi kimia (kr.CAi.CB) maka dianggap hanya kecepatan reaksi kimia saja yang menentukan kecepatan reaksi keseluruhan. Persamaan menjadi dCAdt =kr.CAi.CB . Bila jumlah air berlebih dan transfer massa air ke fase minyak sangat cepat maka fase minyak dianggap selalu jenuh air. Maka CA1=CA* yang bernilai konstan pada suhu tertentu, k1CA1=k* , maka: dimana,

A = faktor tumbukan E = energi R = ketetapan gas T = suhu Dapat disimpulkan bawa kenaikan suhu akan memperbesar nilai konstanta kecepatan reaksi dan bila dihubungkan dengan persamaan (1) semakin besar harga k maka nilai konversi makin besar.

Reff : Khairat dan Herman S. 2004. Kinetika Reaksi Hidrolisis Minyak Sawit dengan Katalisator Asam Klorida.

Pengaruh Suhu dengan Konstanta Kecepatan Reaksi


0.12 0.1 R = 0.6223
2

=
Jika HR bisa dianggap tidak dipengaruhi oleh suhu (perubahan sangat kecil), maka

R = 0.959
0.08

-ln (1-X )

0.06 0.04 0.02 0 0 5 10 15 20 25 suhu (T ) = 75C suhu (T ) = 65C

HR dianggap konstan

waktu (menit)

Gambar 4.2.b Grafik ln(1-X) vs Waktu Dari grafik dapat dilihat bahwa pada variable suhu 750C nilai konstanta kecepatan reaksinya adalah sebesaer k = 5,983 x 10-3, lebih besar daripada variabel suhu 650C yang hanya sebesar k = 5,119 x 10-3. Hal ini sesuai dengan teori di mana kenaikan suhu akan memperbesar nilai konstanta kecepatan reaksi. Suhu yang semakin tinggi akan memperbesar kelarutan air di fase minyak, sehingga semakin banyak pula trigliserida yang bereaksi. Menurut Rahayu (1999) hubungan antara konstanta kecepatan reaksi dengan suhu dapat dinyatakan dengan persamaan: k = 1,2515 x 108 e-8022/T = 1,2515 e-15939/RT Dengan, k = konstanta kecepatan reaksi T = suhu absolute K R = tetapan gas = 1,987 cal/gmol0K

0

Dengan : k1 = konstanta kesetimbangan pada suhu T1 k0 = konstanta kesetimbangan pada suhu T0 T1 = suhu reaksi T0 = suhu standart HR = Perubahan enthalpy reaksi

Jika HR mengalami perubahan cukup besar terhadap suhu, maka HR tidak bisa dianggap konstan, maka:

Reff: Khairat, S. H. 2003. Kinetika Reaksi Hidrolisis Minyak Sawit dengan Katalisator Asam Klorida

Nilai k sebanding dengan T, semakin besar Pengaruh Suhu terhadap Konstanta Kesetimbangan Reaksi Nilai konstanta kesetimbangan (K) besarnya dipengaruhi oleh suhu. Pengaruh suhu terhadap konstanta keseimbangan dapat dinyatakan dengan persamaan: suhu maka nilai k juga semakin besar.

Reff: Levenspiel, O. 1999. Chemical Reaction Engineering 3rd ed. Pg 211-212)

KESIMPULAN Dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa semakin lama hidrolisa maka konversi akan semakin besar. Semakin tinggi suhu operasi maka konversi semakin besar, begitu juga nilai konstanta kecepatan reaksi dan konstanta kesetimbangan reaksi juga semakin besar. Ucapan Terima Kasih Terima kasih disampaikan kepada Dr. Istadi, S.T., M.T. selaku dosen pembimbing dan asisten Laboratorium Proses Kimia, Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Semarang. Referensi Agra, S. B. dan Warnijati S. 1972. Hidrolisa Minyak Kelapa dengan Katalisator Asam. Forum Teknik. 2(1). Hal 31-40

Griflin, R. C. 1927. Technical Method of Analysis. 2nd ed. P. 307-311. Mc Graw Hill Book Company. Inc. New York. Khairat, S. H. 2003. Kinetika Reaksi Hidrolisis Minyak Sawit dengan Katalisator Asam Klorida. Jurnal Nature Indonesia. Levenspiel, O. 1991. Chemical Reaction Engineerting 3rd edition. John Wiley and Sons Inc. New York, USA. Pp 211-213 Rahayu, S. 1999. Hidrolisis Minyak Jarak dengan Katalisator Asam Sulfat. Prosiding Seminar Nasional Rekayasa dan Proses. Sven, Tj and Chien, T. P. 1991. Reaction Mechanism of The Acid Hydrolisis of Fatty Oils. Ind. Eng. Chem, 33.1893