Anda di halaman 1dari 11

CONTOH BEST PRACTICE

PENANGANAN DAN PENGELOLAAN SMP NEGERI 2 MALEBER MENJADI SEKOLAH EFEKTIF Oleh : DIDI MULYADI, S.Pd. NIP 19620724 198603 1 007 BAB I PERMASALAHAN Pendirian sebuah Sekolah sebagai Lembaga Pendidikan adalah niat luhur untuk mencerdaskan bangsa. Dalam pendirian tersebut lebih mengutamakan pada kepentingan masarakat dan prospek kedepan bagi keberlangsungan lembaga tersebut. Penyediaan akan sarana gedung, tenaga, anggaran, siswa peserta didik, dan fasilitas pembelajaran lainnya menjadi mutlak diperlukan. Demikian halnya dengan pendirian SMP Negeri 2 Maleber yang terletak di Jl. Desa Maleber Desa Mekarsari Kecamatan Maleber Kabupaten Kuningan. Semenjak dirintis tahun 2005 menumpang pada SD Negeri 1 Maleber dan pada tahun 2007 dapat menempati lokasi gedung baru. Sampai saat ini telah meluluskan 1 kali. Uniknya jika melihat keterlaksanaan layanan SMP Negeri 2 Maleber ini belum memiliki satu tenaga Pendidik dan Kependidikan berstatus PNS. Semuanya masih honorer dan dibantu dengan Guru dari SMP Negeri 1 Maleber. Upaya telah dilakukan namun sampai tim Bawasda datang pada bulan Juni 2009 permasalahan ketenagaan belum selesai. Adanya Pegawai Rangkap sangat menyulitkan pengelola khususnya Kepala Sekolah sebagai top manajer. Selain itu pula kondisi sekolah masih dua shift. Berdasarkan kondisi itu pula penulis yang ditugaskan sebagai Kepala Sekolah mencoba mulai kurun waktu pertengahan Juli 2009 sampai sekarang membenahi keadaan tersebut. Permasalahan yang diungkap di atas sampailah pada bagaimana mengelola sekolah agar lebih efektif dan efisien sesuai ketentuan berlaku dan kemampuan yang dimiliki pada fase pembangunan selanjutnya. Untuk itu penulis mencoba merefleksikan tindakan berkenaan dengan pemecahan masalah tersebut dimulai dengan Pembenahan Tenaga Pendidik dan Kependidikan di SMP Negeri 2 Maleber. BAB II STRATEGI YANG DITEMPUH Komunikasi adalah hal yang sangat diperlukan dalam pemecahan masalah ini. Hasil temuan Bawasda mengenai tenaga rangkap menjadi sorotan yang sempat menegang. Bagi tenaga Guru yang dipermasalahkan memiliki dasar historis yang kuat untuk merasa diperlakukan tidak adil. Mengingat mereka sejak rintisan pendirian dimohonkan langsung untuk menangani SK rintisan sekolah dari Instansi kedinasan. Ada kurang lebih 2 tenaga PNS yang dilibatkan dan 3 orang Guru DPK yang terkena oleh peraturan-peraturan. Untuk meluruskan keadaan tersebut maka penulis mencoba mengadakan pendekatann dengan Kepala Sekolah pertama ( PLH ) dan Kepala Sekolah SMP tempat merintis. Kesepakatanpun awal adalah tetap berlangsung seperti biasa dengan menyesuaikan jadual kegiatan pada dua Instansi Sekolah yang letaknya tidak begitu jauh ( SMP N 1 dan SMP N 2 MALEBER ). Selain itu pula penulis mencoba menelusuri pada Instansi terkait ( Dinas Pendidikan / Tendik , BKD )

mengenai status masalah ketenagaan pada sejumlah tenaga tersebut. Jalur birokrasipun ditempuh , dengan mengambil inisiatif mengusulkan kembali melalui hak individu pegawai. Tentunya hal ini dilakukan agar tidak menimbulkan perubahan yang terlalu menyulitkan bagi pihak Sekolah pertama tempat bertugas yang akan ditinggalkan. Penulispun memberikan arahan dan berdiskusi dengan tenaga tersebut untuk mengambil inisiatif sambil menunggu pembenahan SMP Negeri 2 Maleber. Disamping pembenahan tenaga untuk memperkuat kemudahan pembenahan proses kegiatan KBM yang masih dua shif , masalah lain muncul yakni fasilitas ruang belajar dan perlengkapannya. Penulis mencoba mendekati para pemegang keuangan dan sarana. Kesiapan akan anggaran mutlak diperlukan. Secara birokrasi telah ditempuh dengan mngusulkan kebutuhan akan kursi dan meja untuk 3 ruangan belajar. Hal ini didasari pula oleh tuntutan orang tua murid tingkat X yang merasa keberatan anaknya pulang sore ( rombel tingkat X masuk siang ) pada rapat komite awal tahun. Penulis memanfaatkan Aula yang dimiliki dengan membagi 2 ruangan dan ruangan lainnya yang sama ukurannya. Akibatnya berimbas pada sarana beribadat yang selama ini memakai Aula tersebut setiap hari Jumat. Pada masalah lain labolatorium restoran ( kitchen ) masih menyatu dengan dapur / pantri karyawan dan Guru. Desakan akan kebutuhan lab yang ideal muncul saat pembenahan sarana yang ada. Kemudian penulis mengadakan rapat kecil dengan ketua program studi, wakil sarana dan bendahara komite dan PKC. Tidak hanya itu sarana lapanganpun menjadi pembicaraan. Sebagian besar digunakan untuk parkir. SMP Negeri 2 Maleber termasuk salah satu titik pantau pelaksanaan dalam Lomba Desa di wilayah Mekarsari untuk fasilitas umum. Tahun lalu telah memberikan kontribusi cukup baik. Tahun ini kami telah melakukan beberapa persiapan sesuai temuan dari tim pemantau wilayah. Komunikasi terus dilakukan untuk membenahi taman dan penghijauan. Selain itu pada awal bulan Agustus telah dilakukan penilaian sekolah sehat tingkat kecamatan Maleber. Banyak masukan dari tim penilai karena secara fisik masih perlu dilakukan pembenahan disana-sini. BAB III HASIL YANG INGIN DICAPAI Dari uraian permasalahan dan strategi pemecahan penulis ingin mendapatkan beberapa perubahan. Adapun perubahan yang dinginkan adalah : 1. Mendapatkan kejelasan status tempat kerja bagi beberapa tenaga Guru yang selama ini berstatus PNS tetapi masih rangkap tempat mengajar. Dari upaya tersebut terhitung sampai saat ini telah terdapat 5 orang tenaga Guru PNS dan 1 orang tenaga DPK yang berpindah tugas ke SMP Negeri 2 Maleber berdasarkan surat Kepala Dinas. Selain itu pula tenaga PLH bendahara PKC yang selama ini Kepala TU di SMP Negeri 2 Maleber telah dilantik untuk menjadi Kepala TU di SMP Negeri 2 Maleber. Sehingga saat ini SMP Negeri 2 Maleber telah memiliki satu orang Kepala Sekolah dan satu orang kepala TU definitif. 2. Tersedianya sejumlah kursi-meja lipat untuk pemenuhan rasio kebutuhan belajar sebanyak 3 ruang. Alhamdulillah untuk kursi dan perangkat kelas telah tersedia walaupun ruang aula belum kami skat menunggu bangunan Musholla selesai. 3. Terbangunnya Mushola sebagai sarana beribadat bagi warga sekolah. Sampai saat ini untuk lantai bawah telah selesai dan telah digunakan untuk sholat jumat sebanyak 2 kali. Sedangkan lantai atas belum selesai ( 80 % ) menunggu atap dipasang. 4. Tersedianya sarana lapangan Olah Raga yang aman dan representatif untuk kegiatan KBM. Kami telah menyiapkan satu pasang ring basket dan seluruh halaman depan telah kami hotmik. Hal ini ditujukan agar bola dapat memantul dengan sempurna dan tidak rusak. Selama ini masih

menggunakan konblok. Adapun luas halaman adalah 650 m2. 5. Tersedianya ruang londri untuk kegiatan praktik perhotelan yang telah diidam-idamkan selama ini. 6. Tertatanya taman dan penghijauan di halaman depan dengan membuat batas lapangan dan di cat hitam putih untuk menambah citra dan penampilan. 7. Tersedianya lahan parkir. Kami telah merubah lahan tidur sebelah barat seluas 100 m2 menjadi tempat parkir khususnya kendaraan roda dua. Untuk roda empat kami gunakan sebelah pojok selatan dan tidak mengganggu kegiatan di lapangan. Lahan tersebut kami bentuk dengan menggunakan batu konblok dan pembatas kebun / lahan. 8. Tersedianya kantin sehat. Separuh lahan tidur yang belum digunakan sekitar 100 m2 kami jadikan areal kantin. 9. Terbangunnya dapur umum untuk Guru dan karyawan yang memenuhi syarat. Saat ini kami telah membangun dapur umum secara permanent dengan luas 8 m2 , dan terpisah dari bangunan utama. 10. Tersedianya ruang pos jaga untuk keamanan sekolah. Kami memiliki petugas keamanan 2 orang yang bertugas pada siang dan malam. 11. Penutup parit. Dari target keseluruhan telah terpasang penutup parit sepanjang 15 m . 12. Pembuatan kompossing. Saat ini kami telah memiliki bak untuk tempat pembuatan kompos. 13. Penghijauan dan lingkungan ASRI 14. Ruang UKS . Selama ini ruang UKS menjadi satu dengan ruang TU. Sekarang telah kami berikan ruang khusus sekitar 36 m2.

DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA KABUPATEN KUNINGAN 2010 LEMBAR PENGESAHAN PENINGKATAN PROGRAM PENGEMBANGAN DIRI SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN DI SMPN 2 CIBEUREUM KABUPATEN KUNINGAN

Penulis SUBAGIO,M.Pd. NIP 19650607 198903 1 008

Mengetahui/ Mengesahkan

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Kuningan

Drs. H. DADANG SUPARDAN,M.Si Pembina Tk.I NIP 19591218 198603 1 009 KATA PENGANTAR Alhamdulillah berkat rahmat Allah SWT, akhirnya penulis dapat menyusun Best Pragtice judul Peningkatan Program Pengembangan Diri Sebagai Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan di SMPN 2 Cibeureum Kabupaten Kuningan ini dengan lancar. Penulisan best practice ini diajukan sebagai salah satu syarat dalam penilaian lomba Kepala Sekolah Berprestasi Tahun 2010 dilingkungan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Kuningan. Dengan diselesaikannya best practice ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunanannya. Penulis menyadari bahwa best practice ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan. Akhir kata, penulis berharap best practice ini semoga bermanfaat bagi pembaca. Amin Cibeureum, Desember 2010 Penulis, Subagio,M.Pd NIP 19650607 198903 1 008 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL LEMBAR PENGESAHAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI Profil singkat kepala sekolah (penulis) Profil singkat sekolah BAB I PENDAHULUAN.. 1 BAB II PEMBAHASAN. 8 BAB III KESIMPULAN DAN REKOMENDASI OPERASIONAL.... 17

LAMPIRAN

Profil singkat kepala sekolah (penulis) NAMA DAN BIODATA KEPALA SMP N 2 CIBEUREUM a. Nama : Subagio,M.Pd. b. Tempat dan Tanggal Lahir : Cirebon, 7 Juni 1965 c. Agama : Islam d. Pangkat / Gol. / NIP : Pembina Tk. I/IVB/19650607 198903 1 008 e. Jabatan : Kepala Sekolah f. Unit Kerja : SMPN 2 CIBEUREUM g. Alamat Kantor : Jl. Raya Cibeureum No 02 Cibeureum E_mail smpnduacibeureum@rocketmail.com i. Alamat Rumah : j. Email / Hand Phone : subagio_2009@yahoo.co.id / PENELITIAN : 1. Pengaruh Pendekatan Mengajar dengan Peta Konsep terhadap Hasil Belajar Matematika. 2. Pengajaran Matematika dengan Pendekatan Konstektual pada Pokok Bahasan Bangun Ruang Siswa Kelas IX di SMP Negeri 2 Cigugur Kabupaten Kuningan. 3. Studi mengenai Sikap SMP Negeri 2 Cigugur terhadap Pembelajaran Berbasis Masalah, Pokok bahasan Lingkaran di kelas VIII. 4. Peningkatan Kinerja Guru melalui Supervisi Edukatif Kolaboratif Secara Periodik di SMP N 2 Cibeureum Kabupaten Kuningan. KARYA TULIS : 1. Kepala Sekolah sebagai Pemimpin. 2. Mengubah Sekolah Membangun Pendidikan. 3. Peningkatan Mutu Pembelajaran di Sekolah. 4. Profesionalitas Guru dan Profil Guru Yang Memikat Hati ( 1 ) 5. Implementasi Pendekatan Konstruktivisme Dalam Pembelajaran 6. Profesionalitas Guru dan Profil Guru Yang Memikat Hati ( 2 ) 7. Peran Kepala Sekolah dalam Pemberdayaan Guru. 8. Peran Pemimpin Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan. 9. Menumbuhkan Motivasi Belajar Siswa. 10. Lima Peran Kepala Sekolah di abad 21 PESERTA PELATIHAN/SEMINAR/LOKAKARYA 1. Peserta Seminar Sehari Pendidikan Matematika, tahun 1996, Kuningan. 2. Peserta Seminar Sehari Pendidikan Matematika, tahun 1996, Cirebon. 3. Peserta Seminar Prospek Pendidikan Di Era Otonomi Daerah, tahun 2001, Cirebon. 4. Peserta Seminar Pendidikan, tahun 2002 5. Peserta Seminar Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Akreditasi sekolah tahun ,Kuningan. 6. Peserta Seminar Starategi Implementasi Kurikulum 2004 , tahun 2004.

7. Peserta Seminar Pendidikan Nasional Psikologi Pendidikan , tahun 2006, Cirebon. 8. Peserta Seminar Nasional Reaksentuasi Kekuatan Diplomasi, tahun 2006, Kuningan. 9. Peserta Seminar Nasional Pengusulan KH. Hasan Maolani Sebagai Pahlawan Nasional, tahun 2007,Kuningan. 10. Peserta Seminar Nasional Peningkatan Kualifikasi, Kompetensi Dan Sertifikasi PTK, tahun 2007. 11. Peserta Seminar Nasional Strategi Penyusunan Portofolio Dalam rangka Pelaksanaan Sertifikasi Guru. Tahun 2007, Cirebon. 12. Peserta Seminar Nasional Peningkatan PTK Melalui Pemaham Standar Pengelolaan Pendidikan, Tahun 2007. 13. Peserta Seminar Nasional Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Pengembangan Bahan Ajar Dan Rancangan Penilaian Hasil Belajar, tahun 2007. 14. Peserta Seminar Nasional Pengembangan Profesi Guru, tahun 2007. 15. Peserta Seminar Reposisi Guru Dalam Pembangunan Nasional, tahun 2007. 16. Peserta Seminar Pendidikan Nasional Membangun Pendidikan Berkualitas Melalui Peningakatan Kualifikasi, Kualifikasi Dan Sertifikasi Pendidikan, tahun 2008. 17. Peserta Seminar Pendidikan Strategi Terpadu Dan Harmonisasi Anatar Sekolah Dan Orang Tua Untuk Keberhasilan UAN Bersama, tahun 2008, Kuningan. 18. Peserta Seminar Nasional Pengembangan Potensi Diri Kiat Menjadi Pendidik Profesional, tahun 2008. 19. Peserta Seminar Strategi Menembus Profesionalisme Guru, tahun 2008. 20. Peserta Seminar Nasional Pendidikan Pengembangan Profesionalisme Guru Dalam Menjawab Tantangan Global, tahun 2008. 21. Peserta Seminar Pendidikan Sehari Sosialisasi Pelayanan Prima Pembelajaran Untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan Dalam rangka Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Di Era Globalisasi, tahun 2008. 22. Peserta Seminar Nasional Pendidikan Peluang Profesionalitas dan Kesejahteraan Guru, tahun 2009. 23. Peserta Seminar Nasional Pendidikan Mengubah Paradigma Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Dalam Upaya Mengimplementasikan 8 Standar Nasional pendidikan, tahun 2009. 24. Peserta Seminar Nasional Pendidikan Optimalisasi Profesionalisme Guru melalui Pendekatan Organisasi dan Teknologi Informasi, tahun 2009. 25. Peserta Seminar of Teaching Cretivity in teacher Profesionalism, tahun 2010, Kuningan. Profil singkat sekolah Nama Sekolah : SMP Negeri 2 Cibeuruem Alamat : Jalan / Desa : Raya Cibeureum Cibingbin Kecamatan / Kab. / Kota. : Kec.Cibeureum Kab. Kuningan No. Telp / HP : 1. Nama Yayasan ( bagi swasta ) : alamat Yayasan 7 No. Telp : 2. NSS / NSM/NDS : 20.21.3015 3. Jenang Akreditasi : Negeri 4. Tahun didirikan : 1996

5. Tahun Beroprasi : 1997 6. Kepemilikan Tanah : Pemerintah a. Status tanah : Akte-Jual Beli ( Hak Milik ) b. Luas tanah : 3650 m2 7. Status Bangunan milik : Pemerintah 8. Luas seluruh Bangunan : 1836 m2 9. No. Rekening Rutin Sekolah : ..........................Nama bank...............................Cabang ................. 10. Data siswa dalam 2 ( dua ) tahun terakhir

Tahun 2008/ 2009 121 org 121 org 4 Rbl 132 org 3 Rbl 130 org 3 Rbl 383 org 10 Rbl Tahun 2009/ 2010 168 org 168 org 4 Rbl 122 org 4 Rbl 124 org 4 Rbl 416 org 12 Rbl Tahun 2010/ 2011 Org - org - Rbl - org - Rbl - org - Rbl - org - Rbl 11. a) Data Ruang Kelas Jumlah ruang kelas asli (d) Jumlah ruang lain yangdigunakan untuk r. Kelas (e) Jumlah ruang yang digunakan u R.. Kelas (f) = (d+e) Ukuran 7x9 m2 (a) Ukuran >63 m2 (b) Ukuran <63 m2 (c) Jumlah (d) =(a+c+d) Ruang Kelas 12 - - 12 ........ruang Yaitu : .......... 12

b) Data Ruang Lain Jenis Ruang Jumlah (buah) Ukuran (m2) Jenis Ruang Jumlah (buah) Ukuran (m2) 1. Perpustakaan 1 9 x 9 4. Lab. Bahasa - - x 2. Lab.IPA 1 9 x 9 5. Asrama Guru - - x 3. Ketrampilan - - x - 6. Lab. Komputer - - x -

11. Data Tenaga Pendidik dan Tata UsahaGuru : Jumlah Guru / Staf SMP Negeri Jumlah Guru / Staf SMP Negeri Keterangan Guru Tetap (PNS) 19 Tata Usaha PNS 4 Guru CPNS - Tata Usaha CPNS 1 Guru GBS - Tata Usaha Kontrak Guru Kontrak - Tata Usaha Sukwan 2 Guru Honor 2 Penjaga Sukwan 2

Cibeureum, Desember 2010 Kepala Sekolah

SUBAGIO, M.Pd.. NIP. 19650607 198903 1 008

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Sistem dan program pendidikan di seluruh tingkatan, secara umum sudah membutuhkan revolusi alias perlu diubah total. Di berbagai jenis dan jenjang pendidikan, kini sekolah cenderung tidak terarah karena kurikulum yang tidak serasi. Proses pembelajaran pun tidak kreatif dan tidak mendorong kreativitas anak didik. Di sisi lain, pengelolaan dalam materi pembelajaran kerap tumpang tindih sehingga mematikan prakarsa pelajar. Kemampuan guru-guru di bidang pedagogik, didaktik dan metodik juga sangat kurang, sehingga acapkali guru sama sekali tidak mempedulikan pengembangan kepribadian dan watak anak didiknya. Ada tiga persepsi yang kurang benar tentang pendidikan. Pertama, pendidikan hanya terjadi di sekolah. Kedua, tugas sekolah ialah mengajarkan pengetahuan. Ketiga, sekolah harus membuat siswa menjadi manusia siap pakai.Akibat negatif dari kesalahan pertama, pengetahuan tentang pendidikan keluarga tidak berkembang. Sistem pendidikan nonformal tidak berkembang dan kemampuan bangsa untuk belajar dari situasi pendidikan nonformal menjadi rendah. Sedangkan dampak kesalahan kedua, kemampuan siswa yang rendah untuk mempergunakan pengetahuan sebagai alat berpikir dan alat untuk memahami serta memecahkan masalah. Kepekaan siswa terhadap nilai-nilai terhadap norma juga sangat rendah, baik norma estetis maupun norma synnoetis (norma kehidupan sosial), atau pun norma etis. Kesalahan ketiga berakibat lulusan sekolah tidak cukup menguasai konsep-konsep dasar. Mereka terpaku kepada keterampilan yang bersifat terapan. Selain itu, tenaga kerja menjadi kurang retrainable. Persepsi yang sebaiknya, adalah bahwa pendidikan terjadi sebelum anak masuk sekolah dan sesudah

anak tamat sekolah. Sekolah hanya suatu mata rantai dari suatu kegiatan nyata pendidikan yang luas, dinamis dan saling bersambungan. Tugas sekolah ialah mempersiapkan anak untuk mengarungi kehidupan, bukan hanya membuat siswa menjadi siap pakai. Untuk itu, tugas pokok sekolah bukan sekadar mengajarkan pengetahuan, melainkan memupuk kepekaan terhadap nilai-nilai. Konsekuensinya, sekolah harus tahu jenis pendidikan yang telah dilalui anak di keluarga dan menilainya sejauh mana pendidikan keluarga itu dapat dipergunakan sebagai landasan untuk menyusun program pendidikan sekolah. Sekolah juga harus membimbing anak untuk menguasai kemampuan belajar, baik untuk situasi pendidikan formal, maupun situasi pendidikan nonformal dan informal. Tugas sekolah adalah melahirkan generasi yang menjadi bagian dari bangsa yang pandaibelajar. 2. Permasalahan Para guru sebenarnya menyadari bahwa pelajaran yang memberi kesempatan mengembangkan kreativitas, sangat dibutuhkan anak. Akan tetapi mereka umumnya tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana mengatasi keadaan itu. Kesulitan mereka terutama karena padatnya kurikulum pendidikan sehingga kreativitas anak terabaikan. Fakta menunjukkan minimnya waktu dan pelajaran yang bersifat untuk mengembangkan kreativitas pada sekolah formal, padahal di sisi lain menurut upaya memunculkan pribadi kreatif sangat dibutuhkan bagi anak dalam kehidupannya. Dengan demikian, para guru memiliki kesulitan bagaimana menanamkan dan menumbuhkan jiwa kreativitas kepada anak. Untuk bisa menanamkan kreativitas pada siswa, mestinya kurikulum memfokuskan pada hal dasar dan esensial, sehingga cukup waktu untuk mengasah kreativitas. Di luar itu harus pula diperhatikan, harus ada kurikulum yang berbeda karena anak memiliki perbedaan bakat dan minat. Sekolah yang berdiri tahun 1997 ini pernah hasil pelulusan siswa kelas 9 hanya mencapai 47,01 persen dari jumlah peserta UN 135 siswa yang lulus hanya 63 siswa orang dan yang tidak lulus 72 siswa yaitu pada tahun pelajaran 2007/2008. . Berdasarkan kondisi itu pula penulis yang ditugaskan sebagai Kepala Sekolah mencoba mulai kurun waktu pertengahan April 2009 sampai sekarang membenahi keadaan tersebut. Permasalahan yang diungkap di atas sampailah pada bagaimana mengelola sekolah agar lebih efektif dan efisien sesuai ketentuan berlaku dan kemampuan yang dimiliki pada fase pengembangan selanjutnya supaya bias mendapat kepercayaan lagi dari masyarakat. Untuk itu penulis mencoba merefleksikan tindakan berkenaan dengan pemecahan masalah tersebut dimulai dengan Peningkatan Program Pengembangan Diri Sebagai Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikan di SMP Negeri 2 Cibeureum Kabupaten Kuningan. 3. Strategi Pemecahan Masalah Setiap pengembangan kurikulum, selain harus berpijak pada sejumlah landasan, juga harus menerapkan atau menggunakan prinsip-prinsip tertentu. Dengan adanya prinsip tersebut, setiap pengembangan kurikulum diikat oleh ketentuan atau hukum sehingga dalam pengembangannya mempunyai arah yang jelas sesuai dengan prinsip yang telah disepakati. Secara umum prinsip-prinsip pengembangan kurikulum meliputi prinsip relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, serta efisiensi dan efektivitas. Prinsip relevansi berkenaan dengan kesesuaian antara komponen tujuan, isi, strategi, dan evaluasi. Prinsip fleksibilitas berkenaan dengan kebebasan/keluwesan yang dimiliki guru dalam mengimplementasikan kurikulum dan adanya alternatif pilihan program pendidikan bagi siswa sesuai dengan minat dan bakatnya. Prinsip kontinuitas berkenaan dengan adanya kesinambungan materi pelajaran antarberbagai jenis dan jenjang sekolah serta antartingkatan kelas. Prinsip efisiensi dan

efektivitas berkenaan dengan pendayagunaan semua sumber secara optimal untuk mencapai hasil yang optimal. Sementara itu, prinsip khusus yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kurikulum berbasis kompetensi, antara lain: prinsip keimanan, nilai dan budi pekerti luhur, penguasaan integrasi nasional, keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinetika, kesamaan memperoleh kesempatan, abad pengetahuan dan teknologi informasi, pengembangan keterampilan hidup, berpusat pada anak, serta pendekatan menyeluruh dan kemitraan. Apabila dianalisis secara mendalam beberapa prinsip khusus yang diterapkan dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, pada dasarnya merupakan penjabaran dari empat prinsip umum pengembangan kurikulum. Ada dua pendekatan dalam pengembangan kurikulum, yaitu pendekatan administratif dan akar rumput. Pendekatan administratif adalah suatu pendekatan dalam pengembangan kurikulum di mana ide atau inisiatif pengembangan muncul dari para pejabat atau pengembang kebijakan seperti Menteri Pendidikan, Kepala Dinas dan lain-lain. Sedangkan pendekatan akar rumput, ide pengembangan muncul dari keresahan para guru-guru yang mengimplementasikan kurikulum di sekolah di mana mereka menginginkan perubahan atau penyempurnaan sesuai dengan kebutuhan di sekolah. Ada beberapa langkah dalam pengembangan kurikulum, yaitu analisis dan diagnosis kebutuhan, perumusan tujuan, pemilihan dan pengorganisasian materi, pemilihan dan pengorganisasian pengalaman belajar, dan pengembangan alat evaluasi. Analisis dan diagnosis kebutuhan dilakukan dengan mempelajari tiga hal, yaitu: kebutuhan siswa, tuntutan masyarakat, dan harapan-harapan dari pemerintah. Adapun caranya dapat dilakukan melalui survei kebutuhan, studi kompetensi, dan analisis tugas. Langkah pengembangan kurikulum selanjutnya setelah seperangkat kebutuhan tersusun adalah perumusan tujuan, pemilihan dan pengorganisasian materi, pemilihan dan pengorganisasian pengalaman belajar, serta pengembangan alat evaluasi. Komunikasi adalah hal yang sangat diperlukan dalam pemecahan masalah ini. Di SMPN 2 Cibeureum langkah pertama yang ditempuh yakni melakukan dialog persuasif dengan para siswa. Munculah pemikiran untuk mengoptimalkan kegiatan pengembangan diri dan dilaksanakan hampir setiap hari, dengan maksud untuk mengembangkan potensi diri para siswa dibidang olah raga dan kesenian dengan jadwal ekskul mulai Senin dan Rabu kegiatan Basket Ball, Selasa Paskibra, Kamis Futsal, Jumat Pramuka dan Sabtu Marching Band. Yang cukup membanggakan ternyata siswa sangat respon dengan Marching Band. Terbukti dalam waktu tiga bulan, April-Juni 2009, mereka sudah bisa membawakan musik dan lagu. Mereka mampu mempersiapkan diri untuk tampil pada peringatan HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus lalu. Pada awalnya Marching Band ini mendapat reaksi negative dari rekan-rekan guru, karena peminatnya kebanyakan anak-anak yang dianggap bermasalah di kelasnya. Namun mereka yang semula dinilai kurang, mengalami perubahan karena mereka diakui dan mampu menunjukkan kemampuannya. Ternyata bila diberikan kesempatan mereka pun mampu. Bukankah pendidikan itu salah satunya untuk merubah sikap siswa dari kurang baik menjadi lebih baik, dan dari kurang cerdas mernjadi cerdas. Pelaksanaan kegiatan dalam program ini dibagi dalam beberapa bulan pelaksanaan, dimana tiap bulan dibagi dalam beberapa minggu dan di setiap minggu ada beberapa kali pelaksanaan sesuai dengan jadwal. Namun, pelaksanaan ini disesuaikan dengan situasi atau kondisi yang ada di lapangan. Secara

umum pelaksanaan kegiatan dalam program ini meliputi: Pendekatan personal, Identifikasi masalah, perencanaan program, pelaksanaan program, dan evaluasi pelaksanaan program.(a). Pendekatan Personal dilakukan dengan melakukan serangkai pertemuan, diskusi, dan pertukaran informasi dengan pihak anak jalanan agar menciptakan hubungan yang nyaman. (b). Identifikasi Masalah dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi yang akurat mengenai kecerdasan emosi pada anak jalanan. dilakukan melalui assessment terhadap siswa dengan memberi test minat dan bakat. (c). Perencanaan Program dimulai dari kegiatan analisis tingkat kesiapan setiap fungsi dari keseluruhan fungsi yang diperlukan untuk peningkatan keerdasan emosi pada siswa. adapun tahapannya meliputi : - perumusan kegiatan yang akan dilakukan - menyusun time-schedule pelaksanaan program - menetapkan tenaga-tenaga yang akan menangani pelaksanaan program(d). Pelaksanaan Program Dan Evaluasi Program, setiap pelaksanaan program dilakukan monitoring untuk mengoreksi dan membenahi serta menindak lanjuti program yang dilaksanakan.(e) TujuanProgram Jangka Pendek : untuk mengembangkan potensi diri para siswa dibidang olah raga dan kesenian. Jangka panjang : meningkatkan kecerdasan emosional, sehingga anak dapat memecahkan masalah secara mandiri, dan secara lebih baik