Anda di halaman 1dari 11

PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP FUNGSI ORGAN SIRKULASI

Oleh : Nama NIM Rombongan Kelompok Asisten : Luluk Fuadah : B1J010018 : III :2 : Widhita Purwandari

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN I

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2011

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Ikan gurami (Oshpronemus gouramy Lac.) merupakan ikan asli Indonesia. Ikan ini merupakan salah satu komoditi perikanan air tawar yang penting dilihat dari permintaannya yang besar dan harganya yang relatif tinggi dan merupakan salah satu sumber protein yang cukup tinggi, oleh sebab itu tidak mengherankan apabila ikan gurami menjadi salah satu komoditi unggulan di sektor perikanan air tawar (Sunandar, 2005). Pada ikan gurami diketahui pertumbuhan ikan jantan lebih cepat dibandingkan ikan betina, jantan berumur 10-12 bulan dapat mencapai berat ratarata 250 gr/ekor, sedangkan betina hanya 200 gr/ekor. Ini berarti

pertumbuhan gurami jantan 20% lebih cepat dibandingkan gurami betina. Sehingga dengan hanya memproduksi ikan gurami jantan saja dapat

meningkatkan produksi dari pembesaran ikan gurami (Sunandar, 2005). Sex reversal adalah proses memproduksi ikan monosex atau memproduksi ikan dengan satu jenis kelamin yaitu jantan atau betina saja. Sex reversal dengan pemberian metiltestosteron dikenal cukup efektif untuk memproduksi populasi jantan. Pemberian metiltestosteron melalui kurang efisien karena memerlukan dosis oral (pakan) dianggap

tinggi dan waktu pemberiannya

relatif lebih lama walaupun tingkat keberhasilan merubah kelamin jantan dapat mencapai 96100%, sedangkan pemberian metiltestosteron melalui metode

perendaman (dipping) lebih efisien karena dosis yang diberikan relatif kecil dan waktu kontaknya lebih singkat walaupun tingkat keberhasilan merubah

kelamin jantan dibawah 96% (Zairin, 2002).

B. Tujuan Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mempelajari pengaruh temperatur lingkungan dan zat kimia terhadap denyut jantung hewan percobaan larva ikan gurami (Oshpronemus gouramy).

II. MATERI DAN METODE

A. Materi

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah Larva ikan Gurami (Oshpronemus gouramy), es batu, air panas, kertas grafik, dan kertas tissue. Alat-alat yang digunakan adalah handtally counter, helas beaker, stopwatch, termometer (celcius), pipet tetes, slide mikroskop berlekuk (cavity slide), mikroskop stereo.

B. Metode 1. Larva ikan gurami diletakkan ke dalam lekukan pada gelas slide dengan menggunakan pipet tetes. Air yang berlebih dikeringkan dengan tissue, air pada lekukan dijaga agar hanya sedikit air, sehingga daphnia pada slide tadi akan cenderung pada posisi miring dan memungkinkan kita untuk melihat jantung dengan jelas. 2. Denyut jantung diperhatikan baik-baik di bawah mikroskop stereo. Jangan terkecoh dengan gerakan kakinya yang juga bergerak bergerak dengan ritmis. 3. Larva ikan gurami dikembalikan ke dalam gelas beaker. 4. Prosedur selanjutnya dibaca baik-baik dan dirumuskan hipotesis yang sesuai. 5. Temperatur diukur pada media larva ikan gurami. Kemudian daphnia diletakkan pada slide seperti cara kerja sebelumnya. 6. Dalam kelompok , satu orang menjadi pengatur waktu dan yang satunya mengamati aktivitas ikan larva gurami di bawah mikroskop. 7. Pengamat harus familiar/terlatih menggunakan handy tally counter dan memijitnya setiap kali jantung ikan gurami berdenyut. 8. Jika pengamat telah siap, pengamat diberitahu oleh pengatur untuk segera memulai menghitung denyut jantung dan memberhentikannya setelah 15 detik. Jumlah denyut jantung yang dihitung dicatat dan dikalikan 4 agar diperoleh denyut jantung per menit. Hasil yang diperoleh dicatat.

9. Pengamatan dilakukan sekurang-kurangnya 3 kali ulangan dan masing-masing anggota kelompok menjadi pengamat dan pengatur waktu. 10. 11. Larva ikan gurami dikembalikan ke gelas beaker. Gelas beaker berisi Larva ikan gurami diletakkan ke dalam wadah yang

lebih besar dan berisi air dan bongkahan es. Temperatur air dibiarkan turun sampai temperatur air pada suhu tertentu. 12. Jika temperature air media Larva ikan gurami mencapai temperature

tertentu, segera diletakkan di bawah mikroskop dan diamati sesuai prosedur sebelumnya. Data yang diperoleh dicatat.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Tabel 1. Pengaruh Faktor Lingkungan Jumlah Denyut Jantung Kelompo k Jenis Ikan Normal denyu t 1 Ikan Guram i 2 Ikan Guram i 3 Ikan Guram i 4 Ikan Guram i 5 Ikan Guram i 6 Ikan Guram i Waktu = 15 menit denyut jantung x 4 = denyut jantung per menit 136 29 oc 176 23 oc 148 47 oc 156 76 29 oc 64 23 oc 64 47 oc 80 156 29 oc 136 23 oc 212 48 oc 172 132 27 oc 112 23 oc 228 48 oc 156 136 29 oc 160 23 oc 144 46 oc 140 116 Suh u 29 oc Dingin denyu t 72 Suh u 23 oc Panas denyu t 84 Suh u 48 oc 116

Alkoho l

B. Pembahasan Ikan gurami adalah ikan peliharaan yang berasal dari rawa. Badannya pipih memanjang dan berwarna kecokelatan dengan bintik hitam pada dasar sirip dada. Sirip perut berubah menjadi semacam benang panjang yang berfungsi sebagai alat peraba. Ikan ini merupakan ikan labirin dan sebagai ikan omnivora yang menyukai tumbuh-tumbuhan. Berat badannya bisa mencapai 6-8 kg/ekor meskipun ikan tersebut pertumbuhannya relatif lambat. Ikan gurami berbiak pada musim kemarau, hidup pada ketinggian 800 m dan dapat berbiak sepanjang tahun. Perbedaan ikan gurami jantan dan betina adalah pada kepala, dasar sirip dada, operculum dan sirip ekor (Sumantadinata, 1981). Frekuensi denyut jantung larva ikan gurami (Oshpronemus gouramy) yang normal tanpa adanya perlakuan apapun dan dalam keadaan aktivitas biasa ratarata 120 denyut/menit (Barnes, 1996). Masing-masing kelompok pada rombongan III menghasilkan frekuensi denyut jantung normal larva ikan gurami pada suhu 29C berbeda-beda. Kelompok 1 memperoleh hasil 116 denyut/menit; kelompok 2 = 136 denyut/menit; kelompok 3 = 132 denyut/menit pada suhu 27oc; kelompok 4 = 156 denyut/menit, kelompok 5 = 76 denyut/menit; dan kelompok 6 = 136 denyut/menit. Perbedaan data rombongan yang dihasilkan mungkin dipengaruhi oleh umur, ukuran tubuh, dan aktivitas larva ikan gurami yang pada praktikum kali ini tidak diamati. Keadaan dingin atau pada suhu rendah menyebabkan denyut jantung larva ikan lambat. Suhu rendah mempengaruhi aktivitas kerja jantung. Hal ini

disebabkan karena suhu yang rendah maka laju metabolismenya rendah. Denyut jantung larva ikan gurami (Oshpronemus gouramy) pada lingkungan air dingin dengan suhu 23C didapatkan didapatkan data yang berbeda-bada. Kelompok 1 = 72 denyut/menit, kelompok 2 = 160 denyut/menit, kelompok 3 = 112 denyut/menit, kelompok 4 = 136 denyut/menit, kelompok 5 = 64 denyut/menit, dan kelompok 6 = 176 denyut/menit. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Whaley (1964), menyatakan bahwa laju metabolisme yang rendah menyebabkan kerja jantung lambat karena suplai energi dan hasil-hasil metabolisme rendah sehingga denyut jantung menjadi turun dibawah keadaan normal.

Data denyut jantung larva ikan gurami (O. gouramy) pada lingkungan air panas dengan suhu 48C didapatkan pada praktikum kali ini berbeda-beda tiap kelompoknya. Kelompok 1 = 84 denyut/menit, kelompok 2 = 144 denyut/menit pada suhu 46oc, kelompok 3 = 228 denyut/menit, kelompok 4 = 212 denyut/menit, kelompok 5 = 64 denyut/menit pada suhu 47oc, dan kelompok 6 = 148 denyut/menit pada suhu 47oC. Denyut jantung larva ikan gurami (O. gouramy) mengalami penurunan pada semua kelompok. yang diangkut darah lebih banyak dibandingkan pada kondisi normal. Data yang diperoleh dari praktikum sesuai dengan pernyataan Waterman (1960) bahwa penambahan air panas dapat menyebabkan kenaikan denyut jantung larva ikan gurami (O. gouramy). Karena adanya kenaikan temperatur dalam jangka lingkungan normal. Peningkatan suhu menyebabkan metabolisme berjalan lebih cepat sehingga kebutuhan oksigen. Perlakuan alkohol 5 % menghasilkan data denyut jantung larva ikan gurami (O. gouramy) yang berbeda-beda. Kelompok 1 = 116 denyut/menit; kelompok 2 = 140 denyut/menit; kelompok 3 = 156 denyut/menit; kelompok 4 = 172 denyut/menit, kelompok 5 = 80 denyut/menit; dan kelompok 6 = 156 denyut/menit. Tidak semua kelompok menunjukkan adanya kenaikan frekuensi denyut jantung daripada pada keadaan normal. Tjitrosoepomo dan Sugiri (1988) menyatakan bahwa penambahan larutan alkohol pada larva ikan menyebabkan jantung tidak berfungsi dalam arti bahwa penambahan alkohol menyebabkan larva ikan bersifat lethal (mati). Adanya zat kimia tersebut membuat denyut jantung akan melemah karena terganggunya proses metabolisme dalam tubuh sehingga mengakibatkan suplai darah ke jantung kecil atau kontraksi jantung melemah. Frekuensi denyut jantung yang menurun mungkin juga terjadi karena saat perlakuan dengan alkohol terlalu lama, sehingga menyebabkan kerusakan pada otak dan berakibat pada detak jantung yang menurun (Kimball, 1993). Ketidaksesuaian ini terjadi karena larva ikan gurami baru saja diberikan perlakuan pada kondisi panas sehingga yang menjadi patokan para praktikan adalah perpindahan kondisi dari panas menjadi ketika diberi zat kimia berupa alkohol. Denyut jantung larva ikan gurami (Oshpronemus gouramy) dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor tersebut adalah aktivitas, nutrisi, ukuran, umur, cahaya, temperatur, dan zat kimia (Waterman, 1960). Soetrisno (1989)

menambahkan bahwa ion-ion, adrenalin dan karbondioksida juga mempengaruhi kerja jantung daphnia. Hewan kecil mempunyai frekuensi denyut jantung lebih cepat daripada hewan yang berukuran lebih besar. Umur hewan yang lebih muda memiliki frekuensi denyut jantung yang lebih cepat dari hewan yang lebih tua karena hewan muda penharuh hambatannya belum berkembang. Lingkungan dapat mempengaruhi denyut jantung yaitu ketika temperatur tinggi menyebabkan kerja jantung lebih cepat, sehingga laju metabolisme tubuh meningkat. Meningkatnya laju metabolisme tubuh harus mensuplai banyak oksigen, untuk mencukupi suplai oksigen tersebut maka jantung harus memompa darah lebih cepat. Temperatur rendah menyebabkan kerja jantung menurun dan penambahan alkohol akan merangsang saraf simpatik sehingga kerja jantung menjadi terpacu dan menjadi lebih cepat. Penambahan alkohol juga dapat meningkatkan metabolisme tubuh, tetapi dalam batas-batas konsentrasi tertentu. Keadaan lingkumgan larva ikan gurami lebih suka dalam air jernih dan tidak ada aliran deras (Ariens, 1986). Menurut Villee et al.,(1988), faktor-faktor yang mempengaruhi denyut jantung selain faktor lingkungan yaitu : 1. Laju metabolisme 2. Kondisi fisiologis larva gurami 3. Umur larva gurami 4. Besar-kecilnya ukuran tubuh larva gurami 5. Zat kimia 6. Kemampuan beradaptasi pada lingkungan baru 7. Aktivitas larva gurami 8. pH

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa : 1. Denyut jantung ikan gurami (O. gouramy) pada keadaan normal suhu 28o C adalah 204 denyut/menit, pada suhu dingin 9o C adalah 168 denyut/menit, pada suhu 92o C adalah 212 denyut/menit, dan ketika diberi alkohol 5% adalah 212 denyut/menit. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi denyut jantung daphnia adalah aktivitas, nutrisi, ukuran, umur, cahaya, temperatur, dan zat kimia. 3. Denyut jantung larva ikan gurame pada saat diberi alkohol 5% tidak sesuai pustaka, sedangkan faktor lain sesuai pustaka dikarenakan larva ikan banyak melakukan gerakanj sehingga membuat kerja jantung menjadi cepat.

DAFTAR REFERENSI

Ariens, E. J. 1986. Toksilogi Umum. Gajah Mada University Press, Yogyakarta Sumantadinata, K. 1981. Pengembangbiakan Ikan-Ikan Peliharaan di Indonesia. P.T. Sastra Hudaya, Bogor. Barnes, R.P. 1996. Invertebrata Zoology. Press W. B. Saunders Company, London. Kimball, J.W. 1993. Biologi. Erlangga, Jakarta. Soetrisno. 1989. Fisiologi Hewan. Fakultas Peternakan Unsoed, Purwokerto. Suarez, Y.R. dan Miguel P. 2007. Environmental factors predicting fish community structure in two neotropical rivers in Brazil. Neotropical Ichthyology, 5(1):61-68, 2007. Sociedade Brasileira de Ictiologia Sunandar, Arifin Tri Makmun, dan Tjitrosoepomo Nunik Yuliani. 2005. Perendaman Benih Ikan Gurami (Osphronemus gouramy Lac.) Terhadap Keberhasilan Pembentukkan Kelamin Jantan. Jurusan Perikanan, Universitas Muhammadiyah Malang, Malang. Sugiri. 1988. Zoologi Umum. Erlangga, Jakarta Waterman, T. H. 1960. Animal Physiology Adaptation and Environment. Lambridge University Press, London. Whaley. 1964. Principle of Biology. Harper & Row Publisher, New York. Ville, C. A, W. F Walker dan R. D. Barners. 1988. Zoologi Umum. Gramedia, Jakarta. Zairin, M. (2002). Sex Reversal: Memproduksi Benih Ikan Jantan atau Betina. Penebar Swadaya. Jakarta.