Anda di halaman 1dari 9

LO1 Prosedur Restoratif Sebelum dilakukan sementasi pasak, ruang pasak dibilas menggunakan air selama 30 detik kemudian

dikeringkan dengan semprotan udara selama 5 detik dan paper point. Kemudian, semua permukaan dentin dietsa menggunakan one step [Ultra-etch, asam fosfat 35%] selama 15 detik, dibilas dengan semprotan udara selama 5 detik dan paper point, sehingga permukaan sedikit lembab. Sistem adhesif dual-cure [Excite DSC, Ivoclar, Vivadent] dicampurkan dan diaplikasikan pada permukaan sampel selama 30 detik. Digunakan aliran udara lembut untuk menguapkan larutan disolusi. Pasak FRC dibersihkan menggunakan alkohol dan silanate [Monobond-S Ivoclar Vivadent] selama 60 detik. Bahan luting resin dual-cure [Multicore Flow, Ivoclar Vivadent] dicampurkan dan diinjeksikan ke dalam saluran akar yang telah dipreparasi menggunakan tip yang sesuai [C-R NeedleTubes, Centrix, Shelton, CT, AS]. Kemudian, pasak dimasukkan menggunakan tekanan jari selama 10 detik. Kelebihan semen diratakan menggunakan brush menjadi suatu lapisan tipis yang menutupi permukaan oklusal spesimen. Dilakukan light-curing semen [Optilux 500, Demetron/Kerr, Danburry, CT, AS] selama 40 detik dalam arah oklusal. Untuk merestorasi bagian koronal gigi, dibuat mahkota komposit secara direct menggunakan bahan yang sama [Multicore Flow]. Meskipun diameter servikal akar sedikit berbeda, dibuat mahkota standar [tinggi 4 mm] menggunakan cetakan transparan [Pella crowns, Odus, Dietikon, Swiss] yang sesuai dengan bentuk anatomis permukaan oklusal. Resin komposit diaplikasikan ke dalam cetakan, tanpa gelembung udara bebas, diadaptasikan pada permukaan gigi kemudian dilakukan light curing pada setiap sisi selama 40 detik. Terakhir, kelebihan resin komposit pada daerah servikal dibersihkan dan dilakukan finishing tepi-tepi restorasi menggunakan bur intan yang halus. Pada setiap spesimen, ujung pasak dilapisi dengan komposit resin setinggi kurang lebih 1,5 mm. Beban Mekanis Akar semua spesimen dilapisi dengan polyvinylsiloxane setebal 0,3 mm [President light body, Coltene-Whaledent AG, Altstatten, Swiss] untuk mensimulasi ligamentum periodontal [PDL]. Spesimen difiksasi menggunakan komposit light-curing pada holder logam custom-made [Provac, Balzers, Liechtenstein]. Kemudian, akar-akar tersebut ditanam dalam resin akrilik selfcuring [Demotec 20, Demotec Siegfried Demel, Nidderau, Jerman] sehingga CEJ terletak kurang lebih 1,5 mm di atas batas tinggi tulang simulasi [yaitu, batas atas medium tanam]. Setelah penanaman, sampel direndam dalam air sampai proses pemberian beban. Semua spesimen diberi beban mekanis pada bagian tengah permukaan oklusal menggunakan computer-controlled masticator [CoCoM 2, PPK, Zurich, Swiss]. Pemberian tekanan terdiri dari 1,2 juta beban sebesar 49 N pada 1,7 Hz yang dihasilkan oleh cusp manusia. Tekanan termal diaplikasikan secara simultan [3000 siklus termal antara 5/50oC]. Kondisi tersebut diduga mensimulasikan fungsi klinis selama 5 tahun [Krejet dkk, 1994]. Setelah pemberian beban termo-mekanis [TML], resistensi fraktur diuji menggunakan universal testing machine [Zwick, Ulm, Jerman]. Spesimen difiksasi pada suatu holder logam dimana sumbu panjang akar berada pada sudut 45o terhadap arah beban. Tin foil [ketebalan 0,5 mm] diletakkan di antara steel sphere dengan mahkota untuk menghindari puncak beban pada permukaan mahkota resin komposit. Beban kompresif linear diaplikasikan [kecepatan cross-head = 0,5 mm/menit] pada fissure sentralis permukaan oklusal dari arah cusp bukal sampai terjadi

fraktur. Apakah restorasi terbaik pasca perawatan saluran akar? drg. Anastasia Elsa Prahasti, SpKG Restorasi yang diberikan pada gigi dengan kavitas/lubang, dapat berupa restorasi direk (seperti tumpatan komposit, tumpatan amalgam maupun tumpatan semen ionomer kaca) dan indirek (seperti onlei, inlei, mahkota selubung). Setelah perawatan saluran akar, apakah ada perbedaan pertimbangan dalam memilih teknik restorasi yang akan dikerjakan untuk mendapat hasil yang maksimal? Setelah perawatan saluran akar, konsistensi air pada gigi berkurang sehingga gigi menjadi getas dan rapuh. Pada umumnya, gigi juga sudah kehilangan cukup banyak jaringan keras yang diakibatkan proses karies dan pembuatan arah masuk ke saluran akar. Restorasi direk terkadang menjadi pilihan karena lebih ekonomis (lebih murah) dan lebih sedikit kunjungan ke dokter gigi. Tetapi bila diaplikasikan pada gigi pasca PSA dengan kavitas luas, maka restorasi ini tidak menjadi pilihan utama, karena tekanan kunyah pada gigi tersebut akan bersifat membelah gigi seperti baji. Pada kasus seperti tersebut di atas, maka restorasi indirek menjadi pilihan utama. Restorasi indirek memungkinkan untuk mendapatkan kontur proksimal yang ideal (karena dikerjakan diluar mulut sehingga presisi dapat dicapai dengan lebih baik), dan untuk pencegahan fraktur pada gigi pasca PSA, maka pilihan lebih pada restorasi direk yang dapat memeluk lingkar gigi, seperti yang terjadi pada restorasi onlei dan mahkota selubung. LO 2 Mahkota (pasak) Mahkota adalah restorasi rigid sebagian/ seluruh mahkota yang disemenkan. Rekonstruksi kembali gigi yang kerusakannya lebih besar daripada gigi yang sehat. Indikasi: 1. Gigi vital/ non vital 2. Sudah tidak bisa ditambal lagi 3. Karies yang meluas sampai menghilangkan cusp gigi 4. Jaringan periodontal sehat 5. Tidak ada riwayat alergi pada bahan mahkota pasak 6. Gigi antagonisnya masih bagus sehingga tidak menjadi iritasi pada bagian mukosa palatal. 7. Retensi pada gigi yang akan diberi mahkota masih baik dalam artian masih mampu menerima beban mahkota pasak itu sendiri 8. Akar gigi masih bagus. Kontraindikasi: 1. Karies pada gigi masih belum meluas masih tergolong pit dan fissure 2. Jaringan pendukung tidak memungkinkan adanya mahkota karena adanya periodontitis kronis 3. Tidak adanya gigi antagonis sehingga menyebabkan mukosa palatal iritasi 4. Gigi yang akan dibuatkan mahkota masih vital artinya tidak sampai perforasi. 5. Kondisi gigi pada lengkung rahang tidak crowded. Indikasi dan Kontraindikasi Indikasi

Perubahan Gigi vital Perubahan Hilangnya Gigi yang

warna dan kemungkinan gigi fraktur setelah perawatan endodontik. di mana retensi untuk mahkota tidak cukup. diperlukan dalam posisi aksial lebih dari 1mm. mahkota asli pada gigi yang telah dirawat saluran akar. telah dirawat saluran akar yang akan digunakan sebagai penyangga jembatan.

Kontra Indikasi Kelainan periapikal yang menetap. Pengisian saluran akar yang kurang sempurna. Kebersihan mulut yang buruk Dukungan gigi posterior yang kurang mantap. Mahkota transulen sangat tipis, sulit disesuaikan dengan gigi-gigi sebelahnya. Mahkota asli masih memiliki estetik yang cukup baik dengan hanya sedikit perubahan warn a atau sedikit struktur gigi yang hilang. Indikasi: - Gigi vital dengan dengan keadaan retensi untuk mahkota tidak cukup, dberi perlakuan devitalisasiperawatan endodontic - Adanya perubahan warna gigi dan kemungkinan gigi fraktur - Gigi yang telah dirawat endodontik dan akan dipergunakan sebagai penyangga jembatan Kontraindikasi: - pada gigi yang mengalami inflamasi - jaringan pendukung tidak sehat LO 3 PREPARASI RUANG PULPA DAN GIGI Pemilihan desain pasak System pasak yang digunakan harus sesuai dengan saluran akar maupun restorasinya. Dokter gigi harus mempunyai ketrampilan untuk menentukan indikasi dan penggunakan pasak pada gigi yang dirawat. Preparasi pasak Kamar pulpa maupun saluran akar memberi retensi pada restorasinya. Pasak yang disemen pada saluran akar akan memneri retensi pada restorasi (inti) namun tidak memperkuat akar gigi, bahkan sering kali memeperlemah akar gigi bila bentuk pasak tidak sesuai dengan bentuk saluran akarnya (lebih besar). Karena itu buatlah preparasi pasak yang minimal sesuai dengan kebutuhan retensi inti. Preparasi pasak dimulai dari pengambilan gutta percha dari saluran akar sesuai dengan panjang yang diperlukan dilanjutkan dengan memperbesar dan membentuk saluran akar untuk ditempati pasak. Pengambilan gutta percha harus hati-hati. Pengambilan yang terlalu banyak akan mengakibatkan tendensi fraktur akar. Perforasi akar juga bias terjadi apabila preparasi saluran akar menyimpang dari saluran akarnya. Radiograf tidak dapat menentukan secara pasti mengenai lengkung dan diameter saluran akar. Radiograf mungkin tidak bisa menunjukkan konkavitas dan lengkung labio-lingual. Sebagai patokan umum, diameter pasak tidak boleh lebih dari sepertiga diameter akar. Preparasi pasak yang menyempit ke arah apikal mencegah terjadinya step di daerah apeks; tidak adanya step merupakan predisposisi terjadinya wedging (peregangan) dan fraktur akar.

Pengambilan gutta percha Pengambilan gutta percha sebaiknya dilakukan pada saat obturasi karena dokter gigi masih ingat betul bentuk, diameter, panjang dan lengkung saluran akar. Pengambilan gutta percha juga bisa dilakukan pada kunjungan berikutnya. Pengambilan gutta percha lebih baik menggunakan alat yang panas sedikit demi sedikit sampai panjang yang ditentukan. Gutta percha diambil sampai tersisa sedikitnya 4 mm dari apeks. Semua alat bisa digunakan asal bisa dipanaskan. Gunakan instrumen yang rotatif seperti pisau reamer. Namun penggunaannya harus hati-hati karena kecenderungannya untuk menyimpang dan menimbulakan perforasi atau paling sedikit mengakibatkan kerusakan yang berat pada saluran akar. Alternatif lain yaitu menggunakan pelarut seperti kloroform, xylene atau eucaliptol adalah kotor dan sulit mengambil gutta percha sampai panjang yang dikehendaki. Penyelesaian ruang pasak Setelah gutta percha diambil, dilakukan pembentukan saluran akar sesuai dengan tipe pasak yang akan digunakan. Dapat menggunakan instrumen putar dalam pembentukannya. Yang penting adalah bahwa pasak yang disemenkan, apapun desain dan bentuk preparasinya, tidak mungkin rapat dengan saluran akar. Pasak tidak akan rapat benar-benar dan semen juga tidak dapat mengisi seluruh interfase. Saliva dan bakteri juga dapat mencapai daerah apeks bila sudah berkontak dengan pasak. RETENSI DAN SISTEM INTI Gigi anterior Gigi anterior harus dapat menahan gaya lateral dari pergerakan ekskursif mandibula. Apabila gaya ini diteruskan oleh pasak, akan menyebabkan akar terbelah. Untuk itu harus dipertimbangkan pada daerah oklusal gigi anterior, sebaiknya dikurangi bebannya dengan mengalihkan pada gigi tetangganya dan struktur gigi yang lebih baik. Rancangan obturasi yang optimal adalah menggunakan pasak inti tuang yang menjadi satu. Bagian pasak memberikan kekuatan dan retensi dan bagian inti tidak dapat terlepas dari pasak. pasak inti tuang memungkinkan pengambilan jaringan dentin yang minimal dari mahkota dan saluran akar gigi. Inti dan preparasinya harus meninggalkan sebanyak mungkin dentin di daerah mahkota sehingga memungkinkan pengikatan sisa jaringan mahkota. Pasak jadi dengan inti yang dibuat langsung merupakan pilihan terakhir bagi gigi anterior. Banyak jenis pasak yang dipasarkan dengan mengklain kebihannya masing-masing. Bila menggunakan pasak jadi, sangat penting untuk menggunakan jenis fiksasi pasif yang tidak menimbulkan efek peregangan. Selain itu pasak pasif juga mudah diangkat bila perlu perawatan ulang. Pasak berulir bukan fiksasi pasif sehingga tekanan yang berlanjut merupakan predisposisi fraktur akar. Gigi posterior Indikasi pasak inti : premolar yang telah banyak kehilangan jaringan mahkota. Lebar mesiodistal akar gigi premolar tidak memungkinkan dilakukannya pemasangan pasak jadi. Pada premolar dengan 2 saluran akar, akr terbesar dan lurus digunakan untuk tempat pasak, pasak yang lebih pendek 2-3 mm dipasang pada saluran akar yang lainnya untuk menambah retensi dan mencegah rotasi. Molar dengan kamar pulpa yang besar memungkinkan pemasangan pasak langsung; besar dan bentuk kamar pulpa sudah memberi retensi. Banyak molar yang dibuatkan inti secara langsung (amalcore) tanpa pembuatan pasak. System pasak inti tuang jarang digunakan, hanya digunakan bila tidak ada sisa jaringan mahkota yang tertinggal. Bila menggunakan pasak, retensi bisa dibuat di satu saluran akar yaitu saluran akar yang pamjamg dan lurus. Sedangkan retensi tambahan

diletakkan 2-3 mm ke orifis saluran akar yang lain. Biasanya saluran akar palatal olar atas dan saluran akar distal molar bawah adalah tempat pemasangan pasak. Berbagai jenis pasak jadi terdapat di pasaran. Pasak sejajar memberikan retensi yang lebih besar daripada pasak meruncing dan tidak memberikan efek meregang. PERTIMBANGAN UNTUK MEMBUAT RESTORASI 1. gigi yang telah dirawat PSA mungkin lebih getas dan mudah patah. Hal ini dikarenakan kandungan air pada jarinagn keras lebih sedikit disbanding dengan gigi dengan pulpa vital. 2. sesudah jaringan keras diangkat dan perawatan endodontik, dindind email tidak mendapat dukungan yang baik dank arena preparasi ruang pulpa. 3. sedikit tidaknya jarinagan gigi pada mahkota sehingga dipilihlah perencanaan restorasi dengan retensi intraradikuler (pasak). PREPARASI UNTUK PASAK 1. ukuran preparasi pasak sebaiknya sepanjang mungkin dan tidak mengganggu penutupan daerah apeks 2. ruangan di saluran akar harus dipreparasi dengan hati-hati supaya bahab pengisi di daerah apeks tidak terlepas; bahan pengisi disisakan 3-5 mm dari apeks. Idealnya 4 mm. 3. hindari pemakaian bor atau reamer yang dapat memenbus dan mengait dentin serta akan mengakibatkan preparasi undercut vertical yang tudak diinginkan, atau lebih parah lagi terjadi perforasi akar. 4. jika memungkinkan, preparasi pada datarn oklusal dibuat bevel circumferensial atau collar yang memungkinkan tumpatan tuangnya melingkupi gigi. BEBERAPA PERTIMBANGAN UNTUK RANCANGAN PASAK DAN PREPARASINYA Tujuan pasak intraradikuler adalah menyediakan retensi dan kekuatan bagi restorasi mahkota. 1. jika preparasi pasak terlalu pendek maka akan meyebabkan kemungkinan patah akar. Tekanan yang ada akan diterima mahkota dan pasak didesak ke akar. 2. jika preparasi pasak cukup panjang (idealnya 1-1,5 kali panjang mahkota) tekanan yang diterima akan tersebar ke seluruh akar yang berkontak dengan pasak. 3. jika preparasi pasak terlalu lebar, kar akan menjadi lemah dan fraktur. Preparasi yang terlalu lebar mungkin akan menyebabkan perforasi akar. Pasak yang pendek dan lebar sering mengakibatkan fraktur akar. 4. jika preparasi dan pasak sempit, kesukaran mungkin akan dijumpai untuk mencetaknya dank arena fleksibilitas pasaknya, gigi tidak akan menjadi lebih kuat. TEKNIK 1. angkat gutta percha dengan pemampat atau reamer yang dipanaskan dan tinggalkan sisanya kira-kira 3-5 mm di apeks 2. sediakan reamer ukuran 60-110 dan 4-5 mm lebih pendek dari saluran akar yang telah dipreparasi.masukkan reamer dari ukuran terkecil sesuai dengan panjang yang telah ditentukan. Digerakkan memutar utuk menghilangkan sisa gutta percha dan menghaluskan dinding saluran akar. 3. ukuran preparasi tergantung dari ukuran asli saluran akar dan akarnya, tetapi jika mungkin preparasi dilebarkan sampai reamer ukuran 80 untuk memudahkan prosedur restorasi dan mendapatkan pasak yang cukup kaku. BAHAN-BAHAN YANG DAPAT DIGUNAKAN UNTUK MEMBUAT PASAK

Pencetakan saluran akar yang telah dipreparasi sangat sulit dilakukan karena ukurannnya yang panjang dan sempit. Untunglah sekarang didapat 2 macam bahan yang memungkinkan dilakukannya pencetakan saluran akar dengan panjang yang maksimum dan tepat. 1. endopost campuran logam yang bertitik lebur tinggi dan dibuat dengan standar endodontik dari ukuran 70-140; dapat dituang dengan emas atau logam tuang lainnya. 2. endowel pin plastic berukuran standar 80-140. jika telah pas dengan preparasi pasak dan dibuat pada malam atau pola resin, akan menguap keluar dari investment dan meninggalkan cetakan yang dapat dituang dengan logam. RESTORASI GIGI ANTERIOR Tipe restorasi tergantung sisa jarinagn gigi yang tertinggal. 1. restorasi di daerah lingual jika gigi utuh sebaiknya hanya dipreparasi bagian kamar pulpa dan kavitasnya saja. Jika gigi telah ditumpat pada daerah proksimal dan telah dirawat endodontik, mahkota akan lebih mudah patah daripada gigi tanpa tumpatan. Untuk pencegahannya pasak dan inti ditutup dengan veveer atau mahkota jaket. 2. restorasi mahkota ( tanpa pasak dan inti) perlu dipertanyakan apakah gigi setelah PSA dapat direstorasi tanpa pasak meski sisa jaringan gigi masih kuat menahan kekuatan yang dapat mengakibatkan fraktur. 3. restorasi dengan pasak dan inti untuk memberikan kekuatan pada gigi yang telah dirawat PSA dari fraktur, diperlukan beberapa tipe stabilisasi yang melekatkan restorasi tersebut pada sisa jaringan gigi. Ini didapat dengan memberi pasak dan inti dan mahkota sebgai struktur penunjang sehingga didapatkan stabilisasi mahkota-akar. PEMBUATAN MAHKOTA SEMENTARA UNTUK GIGI ANTERIOR 1. pilih mahkota akrilik yang sudah jadi dengan ukuran,bentuk dan warna yang sesuai dengan gigi aslinya dan dicobakan untuk mengecek ketepatan kontaknya di daerah gingival. 2. setelah selesai cpba suatu endopost atau file terakhir untuk preparasi guna ruang pasaknya. Ujung korona dipotong sehingga ada bagian yang dapat masuk ke dalam mahkota buatan. Jika digunakan endopost harus ditakik untuk membuat undercut dan terjadi ikatan mekanis dengan akrilik. 3. sediakan adukan akrilik yang cepat mengeras, dimasukkan kedalam mahkota buatan dan tekan ke dalam pasak dan gigi ditekan dengan tekanan ringan. 4. pada waktu akrilik dalam proses setting, buang kelebihan akrilik selagi lunak dengan sonde. 5. jika telah setting, lepaskan mahkota dan pasaknya secara bersama-sama, dibentuk dan mahkota dipoles 6. coba mahkota dan pasak ke dalam gigi dan sesuaikan dengan oklusi gigi antagonisnnya 7. pasang mahkota sementara dengan semen sementara. Metode untuk membentuk inti pada gigi insisiv atas sebelum membuat mahkota pasak a. Inti komposit yang ditahan dengan pasak dentin pada gigi masih vital b. Pasak cor dan inti c. Pasak kawat wiptam dan inti cor

d. Pasak dan inti siap pakai tipe Charlton e. Pasak ulir dan inti siap pakai tipe kurer Catatan : pada b,c,d dan e pengisian akar sudah dilakukan sebelum pemasangan mahkota. Gambar 1.2 (a dan b permukaan mesio distal, c permukaan buko lingual) Preparasi gigi untuk pasak cord mahkota jaket porselen dengan inti pada gigi yang sudah dirawat saluran akar: A preparasi saluran akar B preparasi permukaan akar C mahkota jaket porselen yang sudah selesai dengan pasak cor dan inti Syarat gigi yang dapat dipasang mahkota pasak - Telah dirawat endodontic - Giginya non vital - Tidak ada kelainan pada jaringan pendukung - Tidak ada inflamasi yng aktif - Tidak ada penyakit periodontal Syarat bahan yang dipakai mahkota pasak - Tidak toksik - Tidak larut dalam saliva - biocompatible Prinsip2 pembuatan pasak dan inti - Dari bentuknya sesuai dgn mahkota - Inti harus cukup kuat untuk menahan mahkota permanen - Prinsip pasak konsepatik untuk saluran - Ukuran diameter pasak harus sesuai Letak retensi dan resistensi pasak dan inti -Bentuk preparasi saluran akarnya lonjong ke arah buccal dan lingual - yang dilabial preparasi kemiringan 90 derjat,yg lingual bentuknya chamfer - panjang pasak ideal 1-1,5 mahkota - dindingnya halus Faktor yang mempengaruhi retensi dan resistensi Retensi: panjang akar, dlll..... Resistensi : kekuatan Cara penempatan pasak buat gigi posterior - Ada 2 : pada akar yang paling besar, dipilih akar yg lebih lurus - Untuk molar atas akar palatal, untuk molar bawah di distal Karakterisitik gigi yang telah dirawat endodontic - Gigi lebih pucat dripada gigi vital - Gigi sifatnya mudah rapuh - Email menggantung

KRITERIA DESAIN Semua sistem pasak, baik pasak buatan pabrik (pasak jadi) atau pasak yang dibuat sendiri olehdokter gigi (pasak individual) harus sedapat mungkin memenuhi prinsip-prinsip desain sebagaiberikut : 1. Pasak harus dibuat sepanjang mungkin 2. Dinding-dinding pasak harus se-sejajar mungkin 3. Bentuk pasak mengikuti bentuk saluran akar 4. Pasak harus terletak sesuai dengan sumbu panjang akar meskipun bagian inti pasak dapatmenyimpang ke arah lain untuk kepentingan estetik 5. Pemakaian prinsip ferulle 6. Penggunaan bentuk-bentuk antirotasi seperti grooves, pins atau bentuk kunci (keyways). 7. Hindarkan garis sudut tajam yang akan memulai garis fraktur di dalam akar pada waktu gigimendapatkan daya 8. Sebaiknya dipisahkan pasak inti dan mahkota 9. Buat dudukan oklusal atau kontrabevel pada bagian inti untuk mencegah wedging action dankemungkinan fraktur akar pada waktu gigi terkena daya oklusal 10. Buat saluran vent pada pasak untuk menyalurkan tekanan hidrostatik yang terjadi saatpenyemenan Kornfeld menyatakan bahwa pasak yang dipasang pada saluran akar setelah perawatan endodontikadalah pilihan yang baik karena dapat mencegah fraktur akar pada batas gusi. Sebagian besar frakturakar pada gigi yang telah dirawat endodontik tanpa diberi pasak, terjadi pada batas gusi karena akaryang didukung oleh tulang dapat menahan daya yang mengenai mahkota. Integritas mahkota-akarlebih baik bila pasak digunakan.

LO 4 LO5 Faktor Penyebab Kegagalan Pasca Perawatan Kejadian pasca perawatan dapat menyebabkan kegagalan perawatan secara langsung atau tidak langsung, misalnya. 1. Restorasi yang kurang baik atau desain restorasi yang buruk. Restorasi yang baik akan melindungi sisa gigi dan mencegah kebocoran dari rongga mulut kedalam sistem saluran akar. Restorasi pasca perawatan saluran akar yang kurang baik akan menyebabkan terbukanya semen dan menyebabkan terkontaminasinya kamar pulpa dan saluran akar oleh saliva dan bakteri, sehingga mengakibatkan kegagalan perawatan saluran akar. 2. Trauma dan fraktur Kesalahan preparasi pada waktu pembuatan pasak dapat menyebabkan kegagalan perawatan. Pengambilan dentin saluran akar yang terlalu banyak akan melemahkan akar gigi, sehingga dapat menyebabkan terjadinya fraktur vertikal. 3. Terkenanya jaringan periodontal Kegagalan bisa disebabkan karena non endodontik, walaupun perawatan saluran akar dilakukan dengan baik. Hal ini dapat disebabkan karena efek merusak dari perawatan ortodontik atau penyakit periodontium. Syarat2 keberhasilan mahkota pasak : - Pada akar yang tidak boleh ada peradangan periapikal - Jaringan pendukungx sehat- Jaringan akarnya masih padat dan sehat - Jaringan saluran akarnya masih cukup tebal

- Pengisian saluran akar yang lengkap hingga ujung akar - Posisi gigi lawan menyediakan tempat bagi inti dan mahkota yang cukup Komplikasi - Peradangan gusi - Inflamasi pada rongga mulut- Kemungkinan terjadi ulkus Kegagalan yang sering terjadi -Desainnya tidak tepat , ex: preparasi dinding terlalu tipis, desain pasaknya kurang kuat sesuai dgnpanjang akarnya. - Kontak premature - Perawatan endodontiknya tidak tepat - Terjadi komplikasi pada pasien