Anda di halaman 1dari 9

PERANAN SEKTOR PERTANIAN SEBAGAI PINTU PENJAWAB EKONOMI MASYARAKAT Oleh: Reny Sukmawani

ABSTRAK OTDA merupakan salah satu bentuk kepedulian masyarakat untuk turut serta berpatisipasi dalam membangun diri dan masyarakatnya. Di dalam era OTDA sekarang ini, peningkatan perekonomian masyarakat pedesaan harus ditingkatkan melalui pemberdayaan usaha taninya yang dapat dilakukan dengan cara pengalokasian sumber daya yang dikuasai oleh petani/masyarakat secara optimal pada tingkat harga dan peningkatan teknologi tepat guna, ramah lingkungan dengan mempertimbangkan kearifan lokal masyarakat setempat. Pertanian merupakan komponen utama yang menopang kehidupan pedesaan di Indonesia. Peranannya sangat penting dalam perekonomian. Sementara pembangunan yang berlangsung selama ini belum berhasil mengangkat petani dan pertanian kepada posisi yang seharusnya. Tertinggalnya sektor pertanian mengakibatkan pembangunan ekonomi dan pembangunan negara pada umumnya tidak memiliki landasan yang kokoh dan mudah runtuh saat terjadi perubahan keadaan Sejarah menunjukkan bahwa pembangunan pertanian merupakan prasyarat untuk adanya kemajuan dalam tahapantahapan pembangunan selanjutnya. Pengembangan pertanian dapat memperkokoh struktur perekonomian Indonesia dan dalam jangka pendek dan dapat membantu mengatasi krisis ekonomi atau membantu pemulihan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang. Kata Kunci: Pertanian, peran pertanian, ekonomi masyarakat Pendahuluan Sistem pemerintahan yang dulu terpusat kini telah berganti menjadi desentralisasi. Perubahan sistem pemerintahan ini terjadi karena banyaknya berbagai kekurangan pada sistem pemerintahan terpusat / sentralisasi yang menimbulkan berbagai krisis multi dimensial pada masyarakat. Sistem pemerintahan desentralisasi atau yang kemudian di kenal sebagai otonomi daerah (OTDA), sebenarnya merupakan peluang bagi seluruh potensi sumber daya daerah. Ditinjau dari aspek sosial, OTDA ini akan mendorong terjadinya interaksi sosial yang intens antara anggota masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya. Sedangkan ditinjau dari aspek ekonomi, OTDA merupakan bentuk penyelenggaraan

masyarakat yang lebih efisien dan produktif, dibandingkan dengan sistem layanan terpusat (Sentralistik) apabila dikelola secara benar. Di dalam era OTDA, sudah seharusnya peningkatan perekonomian masyarakat pedesaan, ditingkatkan melalui pemberdayaan usaha taninya yang dapat dilakukan dengan cara pengalokasian sumber daya yang dikuasai oleh petani/masyarakat secara optimal pada tingkat harga dan peningkatan teknologi tepat guna, ramah lingkungan dengan mempertimbangkan kearifan lokal masyarakat setempat. Karena kenyataan menunjukan bahwa kontribusi sektor pertanian yang cukup besar dalam menompang penciptaan PDRB pada satu sisi, sangat bertolak belakang dengan kondisi petani yang 80% jumlah penduduknya bergantung pada sektor pertanian. Berdasarkan hal tersebut maka penting untuk diketahui lebih dalam tentang peranan sektor pertanian dalam perekonomian.

Peran Sektor Pertanian Apa yang akan terjadi apabila sektor pertanian ditinggalkan oleh sebagian besar para pelaku pertanian di negara kita ? sementara pertanian merupakan komponen utama yang menopang kehidupan sebagian besar masyarakat di Indonesia khususnya di pedesaan. Pertanian juga menjadi tumpuan hidup hampir semua masyarakat di

Indonesia bahkan mungkin dunia. Karena semua manusia di dunia ini membutuhkan produk pertanian baik sebagai bahan makanan maupun sebagai bahan industri. Melihat begitu pentingnya pertanian, maka tidaklah mengherankan apa yang terjadi di pertanian akan secara langsung berpengaruh pada perkembangan pembangunan perekonomian dan juga sebaliknya. Pertanian sebagai penghasil produk primer yang terbarukan (termasuk di

dalamnya adalah pertanian tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan, peternakan,

perikanan, dan kehutanan) memiliki peranan sangat penting dalam perekonomian, antara lain adalah : (1) Sebagai penyedia kebutuhan bahan pangan untuk menjamin ketahanan pangan yang diperlukan oleh masyarakat (2) (3) (4) Sebagai penyedia bahan baku bagi industri, Sebagai pasar potensial bagi produk-produk yang dihasilkan oleh industri, Sebagai sumber tenaga kerja dan pembentukan modal yang diperlukan bagi pembangunan sektor lain (5) (6) Berperan dalam mengurangi kemiskinan dan peningkatan ketahanan pangan. Sebagai penyumbang nyata bagi pembangunan pedesaan dan pelestarian lingkungan hidup. (7) (8) (9) Sebagai penyumbang pendapatan nasional terbesar Memiliki kandungan impor dalam usaha pertanian yang rendah Sebagai sumber devisa, karena sebagian besar devisa dari non migas berasal dari pertanian (10) Lebih bersifat ramah terhadap lingkungan (11) Merupakan indunstri yang lebih mudah diakses oleh petani dalam rangka trasformasi struktural (12) Merupakan kegiatan usaha penghasil makanan pokok dan kebutuhan lainnya. (13) Mempunyai efek multiplier yang tinggi. (14) Merupakan tumpuan utama dalam pemulihan ekonomi Sektor pertanian juga berperan penting melalui beberapa cara: 1. sektor pertanian yang tumbuh cepat akan mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan penduduk di pedesaan yang pada gilirannya dapat meningkatkan permintaan terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor non-pertanian.

2.

Pertumbuhan sektor pertanian akan mendorong pembangunan agroindustri. Agroindustri yang ikut berkembang adalah industri yang mengolah bahan baku primer yang dihasilkan pertanian, seperti industri pangan, tekstil, minuman, obatobatan, dan juga sekarang industri bahan bakar nabati. Di bagian hulu, agroindustri yang ikut tumbuh adalah industri yang menyediakan input penting bagi pertanian, seperti industri pupuk, obat dan pestisida, maupun industri mesin pertanian.

3.

Kemajuan teknologi di sektor pertanian yang diwujudkan dalam peningkatan produktivitas tenaga kerja, menjadikan sektor ini dapat menjadi sumber tanaga kerja yang relatif murah bagi sektor non-pertanian (Timmer, 1988).

4.

Pertumbuhan sektor pertanian yang diikuti oleh naiknya pendapatan penduduk pedesaan akan meningkatkan tabungan. Tabungan tersebut merupakan sumber modal untuk membiayai pembangunan sektor non-pertanian (Mellor, 1973).

5.

Sektor pertanian yang tumbuh cepat dapat menjadi sumber penerimaan devisa. Kontribusi devisa pertanian ini diperoleh melalui peningkatan ekspor dan peningkatan produk pertanian substitusi impor. Satu hal yang perlu diamati adalah peranan pertanian dalam menyerap

angkatan kerja. Pangsa sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja ternyata masih yang paling besar. Dari kenyataan itu dapat dilihat bahwa ada ketimpangan dalam struktur ekonomi Indonesia, di mana sektor yang sudah mulai menyusut peranannya dalam menyumbang PDB ternyata harus tetap menampung jumlah tenaga kerja yang jauh lebih banyak daripada yang sewajarnya terjadi. Pembangunan yang berlangsung selama ini ternyata memang belum berhasil mengangkat petani dan pertanian kepada posisi yang seharusnya.

Dampak Negatif Terpuruknya Pertanian Sepanjang sejarah, kesejahteraan petani dari masa ke masa tidak menunjukkan peningkatan yang drastis apabila dibandingkan dengan pekerja di sektor lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa petani senantiasa identrik dengan kemiskinan. Padahal apabila sumberdaya pertanian dikelola dengan baik maka akan memberikan sumbangan yang besar bagi peningkatan kesejahteraan petani. Demikian pula halnya dengan Produk-produk pertanian

produktivitas usahatani dan kualitas produk pertanian.

semakin berkurang daya saingnya dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Tertinggalnya sektor pertanian mengakibatkan pembangunan ekonomi dan

pembangunan negara pada umumnya tidak memiliki landasan yang kokoh. negatif nyata dari terpuruknya pertanian adalah: (2) (3) (4) (5) Meningkatnya tingkat kemiskinan Menurunnya ketahanan pangan Tingginya tingkat ketergantungan pada pangan luar negeri

Dampak

Tinnginya tingkat ketergantungan industri terhadap faktor produksi atau bahan baku impor

(6) (7) (8) (9)

Meningkatnya pengangguran di pedesaan Menurunnya stabilitas keamanan Menurunnya mutu kehidupan di pedesaan Menurunnya kualitas sumberdaya manusia

(10) Menurunnya kualitas lingkungan dan sumberdaya alam merosot (11) Rendahnya kemampuan atau daya saing bangsa Permasalahan yang dihadapi Pertanian di Indonesia berbeda-beda kondisinya baik antar tempat maupun antar komoditas. Demikian pula dengan motif petani yang menjalankan usahatani juga berbeda-beda. Ada petani yang menjalankan usahataninya dengan tujuan utama untuk pemenuhan pangan keluarga (subsisten), namun ada juga

petani yang mengelola usahataninya dengan sepenuhnya bermotif

keuntungan

finansial (komersial). Kondisi yang beragam ini tentunya merupakan suatu dinamika dalam pertanian dan memiliki implikasi penting bagi perumusan strategi, kebijakan, dan program pembangunan pertanian ke depan.

Pembangunan Pertanian dan Pedesaan Pembangunan pertanian dengan pedesaan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena pertanian pada umumnya berada di pedesaan. Berkenaan dengan hal itu maka pembangunan pertanian dan pedesaan perlu dilakukan secara simultan, bersinergi satu sama lainnya dan terintegrasi. Oleh karena itu setiap komponen yang menjadi

landasan pertanian perlu dikembangkan secara optimal. Komponen-komponen pertanian pokok terdiri dari : (a) (b) (c) (d) petani dan keluarganya, sumberdaya alam, teknologi, lingkungan sosial dan budaya Keempat unsur ini menjadi satu kesatuan yang terkait dan saling mempengaruhi. Petani dan keluarga petani serta generasi penerusnya tentunya perlu diletakkan sebagai unsur sentral yang seharusnya memperoleh manfaat terbesar dari pembangunan pertanian. Kualitas petani dan keluarganya perlu memperoleh prioritas agar mampu melakukan penyesuaian-penyesuaian dan perbaikan terhadap

kehidupannya. Para pemikir ekonomi pembangunan telah lama menyadari bahwa sektor pertanian memiliki peranan yang besar dalam perekonomian, terutama di tahap-tahap awal pembangunan (Lewis, 1954; Johnston dan Mellor, 1961; Kuznets, 1964). Sektor pertanian yang tumbuh dan menghasilkan surplus yang besar merupakan prasyarat

untuk memulai proses transformasi ekonomi. Pertanian pertama-tama harus mampu mengatasi kendala pangan yang sering dihadapi negara-negara berkembang. Selama kendala pangan ini masih ada, maka pembangunan sektor non-pertanian akan terhambat. Setiap ada kenaikan di sektor non-pertanian, maka permintaan pangan akan meningkat. Penawaran pangan yang relatif inelastis akan menyebabkan harga pangan meningkat yang pada gilirannya akan mendorong naiknya upah di sektor nonpertanian Sejarah menunjukkan bahwa pembangunan pertanian merupakan prasyarat untuk adanya kemajuan dalam tahapan-tahapan pembangunan selanjutnya. Karena pertanian memiliki keterkaitan dengan berbagai aspek dalam perekonomian, maka pembangunan pertanian merupakan penentu utama dalam pertumbuhan ekonomi pedesaan, termasuk di dalamnya non-pertanian di pedesaan. Dengan demikian, pembangunan pertanian menjadi bagian yang esensial bagi upaya-upaya pengurangan kemiskinan di pedesaan maupun di perkotaan. Untuk melihat prospek pertanian dapat dilihat dari kecenderungan permitaan produk pertanian dan kemampuan menghasilkan produk tersebut. Permintaan produk pertanian dapat dilihat dari pasar domestik dan internasional. Sebagai negara dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta, Indonesia merupakan pasar potensial produk pertanian. Jumlah penduduk ini akan semakin besar lagi karena pertumbuhan penduduk yang relatif masih tinggi. Sebagai negara yang berpenghasilan rendah, sebagian besar konsumsinya adalah makanan. Disamping itu setelah mengalami krisis beberapa tahun terakhir ini, Indonesia mulai bangkit lagi dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang sudah positif. Dengan demikian akan terjadi kenaikan pendapatan per kapita. Kenaikan pendapatan ini akan meningkatkan permintaan produk pertanian. Dari sisi kemampuan menghasilkan produk pertanian, Indonesia mempunyai sumberdaya yang tinggi. Hal ini dapat dilihat dari lahan yang luas dan subur, sumber daya perairan dan kelautan yang potensial, sumberdaya manusia (SDM) yang

jumlahnya cukup besar dan mempunyai pengalaman dalam mengembangkan pertanian, keadaan iklim yang cocok untuk pertanian dalam mendukung kegiatan pertanian. Ditambah lagi dengan banyaknya lembaga-lembaga penelitian pertanian. Untuk

memanfaatkan kesempatan atau peluang pertanian tersebut diperlukan sumberdaya manusia (SDM) yang handal. Pelaku pertanian termasuk petani harus ditingkatkan kemempuan SDM-nya. Pelaku pertanian perlu ditingkatkan kewirausahaannya, kemampuan manajerialnya dan kemampuan pengusahaan teknologi. Berdasarkan hal tersebut diperlukan SDM-SDM yang profesional dan berkualitas, siap kerja dan siap menciptakan lapangan kerja.

Kesimpulan Pertanian merupakan kegiatan ekonomi yang paling dominan di Indonesia dan memiliki strategis. Pengembangan pertanian dapat memperkokoh struktur

perekonomian Indonesia dan dalam jangka pendek dapat membantu mengatasi krisis ekonomi atau membantu pemulihan ekonomi Indonesia. Dilihat dari permintaan maupun kemampuan sumberdayanya, pertanian mempunyai peluang yang baik. Kalau SDM nya dipersiapkan dengan baik, maka peluang tersebut dapat direalisasikan sehingga pertanian dapat berkembang.

Daftar Pustaka Hazell, P. and Haggblade, S. 1991. Rural-Urban Growth Linkages in India. Indian Journal of Agricultural Economics. 46 (4): 515-529. Johnston, B.F. and Mellor, J.W. 1961. The Role of Agriculture in Economic Development. American Economic Review. 51 (4): 566-593. Kuznets, S. 1964. Economic Growth and Contribution of Agriculture. Lewis, W.A. 1954. Economic Development with Unlimited Supplies of Labour. Manchester School of Economic and Social Studies. 22: 139-91.

Martin,W. and Warr, P.G. 1992. The Declining Economic Importance of Agriculture: A Supply Side Analysis of Thailand. Working Paper in Trade and Development No. 92/1.

Anda mungkin juga menyukai