Anda di halaman 1dari 14

Pembahasan Berdasarkan laporan kasus, kelompok kami menetapkan beberapa masalah pada pasien yaitu : 1.

Nyeri saat berkemih (Disuria) 2. Kencing berdarah (Hematuria) 3. Sering kencing (Polakisuria) 4. Sukar menahan kencing (Urgency) 5. Tidak lampias/puas saat selesai berkemih (Sense of residual urine) 6. Kencing tersendat-sendat (Intermittency) 7. Sering kencing pada malam hari (Nokturia)

HIPOTESIS Berdasarkan masalah tersebut diatas, kelompok kami memikirkan beberapa hipotesis yang mungkin terjadi pada pasien, di antaranya adalah: 1. Hiperplasia Prostat 2. Karsinoma Prostat 3. Kelainan Vesica Urinaria 4.infeksi saluran kemih

Keluhan Utama

: Gangguan berkemih dengan nyeri 1 bulan. Makin berat hingga kencing berdarah.

hanya menetes dan

ANAMNESIS TAMBAHAN 1) Riwayat penyakit sekarang i. Apakah keluhan sering berkemih sudah cukup lama sebelum menetes dan sakit? ii. Apakah terasa nyeri pada bokong dan menjalar ke tungkai? iii. Apakah terasa nyeri dibagian suprapubik? 2) Riwayat penyakit dahulu i. Apakah sebelumnya penderita pernah mengalami keluhan ini? 3) Riwayat keluarga i. Apakah keluarga mempunyai riwayat Kencing manis ? 4) Riwayat pengobatan i. Pernah mengkomsumsi obat-obatan apa sebelumnya? ii. Pernah menjalani perawatan?

3.4 PEMERIKSAAN FISIK

Dari laporan kasus, didapatkan hasil pemeriksaan fisik dari pasien yaitu: a. Keadaan umum - Kesadaran b. Tanda Vital - Suhu badan - Pernafasan - Denyut nadi - Tekanan darah c. Inspeksi - Berjalan Pelan, agak membungkuk : Hal ini mengindikasikan pasien mengalami nyeri Kolik pada perut bagian bawah - Memakai pampers : Dapat disebabkan karena pasien sukar menahan kencing (urgency). d. Palpasi - Hepar/Lien - Ginjal : Tak teraba (normal). : Tidak terjadi pembesaran. Pemeriksaan dilakukan dengan palpasi bimanual di daerah pinggang kanan dan kiri. Ginjal yang normal adalah tidak teraba. - Vesica Urinaria : Teraba 3 jari diatas simfisis pubis dengan nyeri tekan . Hal ini menunjukkan vesica urinaria penuh, yang dapat mengindikasikan terjadinya retensi urin pada hiperplasia prostat. - Uretra : Tak teraba batu ataupun fibrosis. Hal ini dapat menyingkirkan kemungkinan adanya batu pada uretra. - Prostat : Teraba pembesaran 3x4 cm dengan nyeri tekan . Pembesaran pada prostat ini mengindikasikan terjadinya hiperplasia prostat. - Sulkus & tepi atas pada PCD: Tak teraba. Normalnya adalah teraba, sehingga hal ini mengindikasikan hiperplasia prostat yang menyebabkan pembesaran pada prostat sehingga menutupi daerah sulkus dan tepi atas saat perabaan. e. Perkusi - Perut bawah (Vesica urinaria) : Redup. Hal ini menunjukkan keadaan vesica urinaria yang penuh, dimana bunyi perkusi pada vesica urinaria yang kosong adalah timpani. f. Auskultasi - Abdomen : Bising : 36,5 C (Normal: 36,2oC-37.5oC) : Adekuat, regular, bersih, 24x/menit. Hal ini menunjukkan adanya pernapasan pada pasien dimana nilai normalnya adalah 16-20x/menit. : Isi cukup, regular, 80x/menit. (Normal: 60-100x/menit). : 150/90 mmHg. Hal ini menunjukkan bahwa pasien mengalami hipertensi grade 1, dimana nilai normalnya adalah <120/<80 mmHg. peningkatan frekuensi : Tampak agak menderita : Baik

3.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG Lab. Darah rutin Kimia darah : Hb. 12 g/dl (Anemia, N: 13-16 g/dl) ; Ht. 40% (Normal, N: < 40%) ; E. 4,3 juta/uL (Anemia, N: 4,55,5juta/uL) ; L. 8200/uL (Normal,N: 5000-10000/uL) ; Tr. 210000/uL (Normal, N: 150.000-350.000/uL) : Ureum 50 mg/dL (Tinggi, N:15-40 mg/dL) ; Kreatinin 1,8 mg/dL (Tinggi, N :0,5-1,5 mg/dL) ; Asam urat 8 mg/dL (Tinggi, N: 3,5-7,2mg/dL) ; Glukosa sewaktu 130 mg/dL (Tinggi, N : 70-125 mg/dL). Hasil Ureum kreatinin yang tinggi menandakan adanya tanda awal gagal ginjal.2 : Kuning agak keruh (menandakan adanya sedimen dalam urin) ; pH 6 (Normal, N: 4,5-8) ; BJ 1.020 (Normal, N:1.003-1.030 g/mL) ; Protein (Gromerulus bocor, N: negatif) ; Glukosa (Normal, N: Negatif) ; Bilirubin (Normal,N:negatif) ; Keton (Normal, N: negatif) ; Sed. E 25-20-30/LPB (+3, N: 0-3/LPB) ; L. 15-20-20/LPB (+3, N:2-4/LPB) Toraks (Normal,N:Negatif) ; Kristal oksalat ; Epitel (Adanya batu yg mengikis epitel, N: Negatif) ; Bakteri (Adanya infeksi, N: Negatif) : BNO tanpa persiapan ( didapatkan gambaran radioopaque di vesica urinaria)

Urinalisa

Radiologi

Terdapat dua pemeriksaan yang penting, yaitu darah dan urin. Pemeriksaan darah yang perlu dilakukan khusus untuk prostat adalah kreatinin serum, elektrolit (Natrium dan Kalium), dan PSA (Prostate Spesific Antigen). Pemeriksaan urin yang perlu dilakukan adalah sedimen urin dan kultur. Pemeriksaan urin dilakukan dengan pengukuran sisa urin, tekanan aliran urin dengan urodinamik, pencitraan prostat dengan ultrasonografi (USG) atau transabdominal ultrasound (TAUS) dan transectal ultrasound (TRUS), serta pencitraan organ lain yang terkait seperti ginjal dan ureter dengan USG dan foto rontgen. Diikuti teropong saluran kencing bagian bawah dengan teknik endoskopi.3 3.6 DIAGNOSIS Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang dari laporan kasus, didapatkan diagnosis kerja pada pasien yaitu Hiperplasia Prostat Derajat 3 dengan komplikasi Adapun diagnosis banding yang pada kelompok kami adalah: 1. Karsinoma Prostat Karsinoma prostat merupakan suatu tumor ganas yang tumbuh di dalam kelenjar prostat. Penyebabnya belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab timbulnya adenokarsinoma prostat, yaitu predisposisi genetik, pengaruh hormonal, diet, pengaruh lingkungan dan infeksi. Adapun keluhan obstruksi aliran kemih antara lain , disuria (nyeri saat miksi), dan kadang gejalanya menyerupai BPH (Beningn Prostate Hypertrophy) yaitu berupa kesulitan dalam berkemih dan sering berkemih di mana segera setelah berkemih, biasanya air kemih masih menetes-netes. Gejala tersebut timbul karena kanker menyebabkan penyumbatan parsial pada aliran kemih melalui uretra. Kanker prostat juga menyebabkan air kemih berwarna merah (hematuri) yang menandakan bahwa kanker telah menekan uretra. Selain itu, kanker prostat juga menyebabkan terjadinya penahanan air kemih mendadak. Gejala lainnya adalah nyeri punggung bagian bawah, nyeri ketika buang air besar, nokturia, inkontinensia uri, nyeri perut dan penurunan berat badan. Pemeriksaan fisis yang penting adalah pemeriksaan dengan melakukan colok dubur (rectal toucher). Pada karsinoma prostat, prostat teraba keras atau teraba benjolan yang konsistensinya lebih keras dari sekitarnya atau ada prostat yang asimetri dengan bagian yang lebih keras dan bentuknya tidak beraturan.4 2. Kelainan pada vesica urinaria Tumor kandung kemih lebih banyak dijumpai pada pria daripada wanita. Faktor yang mempengaruhi terjadinya tumor adalah adanya bahan karsinogen yang mempengaruhi karsinoma epitel transisional. Merokok juga diduga dapat menyebabkan tumor kandung kemih. Gejala klinis yang sering ditemukan pada pasien tumor kandung kemih adalah Hematuria, kapasitas kandung kemih yang berkurang, obstruksi uretra/infeksi yang dapat menyebabkan disuria dan polakisuria. Pemeriksaan fisik yang dilakukan meliputi pemeriksaan bimanual untuk menemukan penyebaran tumor local. Pada pemeriksaan lab ditemukan adanya hematuria dan sel-sel tumor.5 3.7 PENATALAKSANAAN Pada pemeriksaan fisik dan laboratorium Tn.Juki beliau di diagnose dengan BPH stadium 3 dengan urolithiasis,cystitis,retensio urin dan hipertensi. Tatalaksana yang dapat dilakukan di puskesmas adalah :

1)

BPH : Diberikan Obat penghambat alpha adrenergik tamzulosin dengan dosis 0,2-0,4 mg/hari. Penggunaan antagonis alpha 1 adrenergik untuk mengurangi obstruksi pada vesica tanpa merusak kontraktilitas detrusor. Obat-obatan golongan ini memberikan perbaikan laju pancaran urine, menurunkan sisa urine dan mengurangi keluhan. Dapat juga diberikan finasterid (proskar) dengan dosis 1x5 mg/hari. Obat golongan ini dapat menghambat pembentukan dehidrotestosteron sehingga prostat yang membesar dapat mengecil.

2)
3) 4)

5)

Vesicolithiasis : Dapat diberikan analgesik untuk menghilangkan rasa nyeri (kolik) pasien dan disarankan untuk meminum lebih banyak air sebelum dirujuk ke RS besar untuk tindakan operatif Cystitis : Dapat diberikan antibiotik seperti Trimethoprim-sulfametoxazol 6mg/kg selama (3-5hari) , Nitrofurantoin (5-7 mg/kg) atau amoxicillin (50mg/kg) Retensio Urin : Pasien dapat dipasang kateter untuk mengeluarkan sisa urin di dalam vesica urinaria . Jenis kateter yang digunakan dapat digunakan kateter plastik atau kateter balon untuk melebarkan uretra pars prostatica yang menyempit. Hipertensi : Pasien dapat diberikan obat hipertensi yang paling sesuai dengan keadaan pasien. Obat obat hipertensi antara lain adalah Hidroklorotiazid (diuretic) , Klonidin dan Reserpin (Penghambat simpatetik), Propranolol (betabloker) ,Prazozin (Vasodilator) ,Captopril (Penghambat enzim konversi Angiotensin).

Setelah itu pasien bisa dirujuk ke dokter spesialis urologi untuk pemeriksaan lebih lanjut dan tindakan operatif. Pemeriksaan lanjutan yang dapat dilakukan adalah : 1. USG secara transrektal (Transrectal Ultrasonography = TURS) 2. 3. Pemeriksaan Sistografi Uroflowmetri

Setelah mendapatkan hasil pemeriksaan dapat dilakukan tindakan operatif berdasarkan derajat penyakit pasien. Pada kasus pasien sudah mencapai derajat 3 maka tindakan yg dilakukan untuk Derajat tiga adalah : Trans Uretral Resection (TUR) masih dapat dikerjakan oleh ahli urologi yang cukup berpengalaman biasanya pada derajat tiga ini besar prostat sudah lebih dari 60 gram. Apabila diperkirakan prostat sudah cukup besar sehingga reseksi tidak akan selesai dalam satu jam maka sebaiknya dilakukan operasi terbuka.6

TINJAUAN PUSTAKA

4.1 BENIGN PROSTATE HPERPLASIA Definisi Pembesaran Prostat Jinak (PPJ) disebut juga Benigna Prostate Hyperplasia (BPH) adalah hiperplasia kelenjar periuretral prostat yang akan mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai bedah.7 Etiologi Penyebab dari BPH sampai sekarang belum dapat dipahami dengan jelas. Tidak ada informasi yang jelas tentang faktor resiko terjadinya BPH. Beberapa penelitian menunjukan bahwa BPH banyak terjadi pada orang tua dan tidak berkembang pada pria yang testisnya diambil sebelum usia pubertas. Karena alasan ini, beberapa peneliti percaya bahwa faktor yang berhubungan dengan usia dan testis pria sangat berpengaruh dengan perkembangan BPH. Pria memproduksi hormon terpenting pada sistem reproduksi yaitu testosteron dan sebagian kecil adalah hormon estrogen. Pada saat pria mulai berumur maka jumlah testosteron yang aktif di dalam darah menurun dan kadar estrogen lebih tinggi. Walaupun prostat terus membesar selama lebih dari separuh hidup manusia, pembesarannya tidak selalu menimbulkan masalah sampai pada usia terakhir manusia. Dengan bertambahnya usia akan terjadi keseimbangan testosteron estrogen, karena produksi testosteron menurun dan terjadi konversi testosteron menjadi estrogen pada jaringan adiposa di perifer. Berdasarkan angka autopsi perubahan mikroskopik pada prostat dapat ditemukan pada usia 30-40 tahun. Bila perubahan mikroskopiuk ini terus berkembang akan terjadi perubahan patologik anatomik. Penelitian lain mengatakan BPH lebih banyak disebabkan karena dehidrotestoteron (DHT), yaitu substansi yang merupakan derivat dari testoteron dalam prostat yang membantu mengatur pertumbuhan kelenjar prostat. Walau demikian, beberapa penelitian menyatakan bahwa walaupun kadar testoteron dalam darah menurun tetapi DHT terkumpul dalam jumlah besar di dalam prostat. Akumulasi DHT ini mengakibatkan pertumbuhan sel. Jadi para peneliti tersebut menitikberatkan bahwa pria yang tidak memproduksi DHT tidak terjadi pembesaran kelenjar prostat.. Beberapa teori telah dikemukakan berdasarkan faktor histologi, hormon, dan faktor perubahan usia, di antaranya: 1. Teori DHT (dihidrotestosteron): testosteron dengan bantuan enzim 5-a reduktase dikonversi menjadi DHT yang merangsang pertumbuhan kelenjar prostat. 2.Teori Reawakening. Teori ini berdasarkan kemampuan stroma untuk merangsang pertumbuhan epitel. Menurut Mc Neal, seperti pada embrio, lesi primer BPH adalah penonjolan kelenjar yang kemudian bercabang menghasilkan kelenjarkelenjar baru di sekitar prostat. Ia menyimpulkan bahwa hal ini merupakan reawakening dari induksi stroma yang terjadi pada usia dewasa. 3.Teori stem cell hypotesis. Isaac dan Coffey mengajukan teori ini berdasarkan asumsi bahwa pada kelenjar prostat, selain ada hubungannya dengan stroma dan epitel, juga ada hubungan antara jenis-jenis sel epitel yang ada di dalam jaringan prostat. Stem sel akan berkembang menjadi sel aplifying. Keduanya tidak tergantung pada androgen. Sel aplifying akan berkembang menjadi sel transit yang tergantung secara mutlak pada androgen, sehingga dengan adanya androgen sel ini akan berproliferasi dan menghasilkan pertumbuhan prostat yang normal. 4.Teori growth factors. Teori ini berdasarkan adanya hubungan interaksi antara unsur stroma dan unsur epitel prostat yang berakibat BPH. Faktor pertumbuhan ini dibuat oleh sel-sel stroma di bawah pengaruh androgen. Adanya ekspresi berlebihan dari epidermis growth factor (EGF) dan atau fibroblast growth factor (FGF) dan atau adanya penurunan ekspresi transforming growth factor- b, akan menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan pertumbuhan prostat dan menghasilkan pembesaran prostat. Namun demikian, diyakini ada 2 faktor penting untuk terjadinya BPH, yaitu adanya dihidrotestosteron (DHT) dan proses penuaan. Pada pasien dengan kelainan kongenital berupa defisiensi 5-a reduktase, yaitu enzim yang mengkonversi testosteron ke DHT, kadar serum DHT-nya rendah, sehingga prostat tidak membesar. Sedangkan pada proses penuaan, kadar testosteron serum menurun disertai meningkatnya konversi testosteron menjadi estrogen pada jaringan periperal. Peran androgen dan estrogen dalam BPH adalah kompleks dan belum jelas benar. Pasien dengan kelainan genetik pada fungsi androgen juga mempunyai gangguan pertumbuhan prostat. Dalam hal ini, barangkali androgen diperlukan untuk memulai proses PPJ, tetapi tidak dalam hal proses pemeliharaan. Estrogen berperan dalam proses hiperplasia stroma yang selanjutnya merangsang hiperlpasia epitel Patofisiologi Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra pars prostatika dan akan menghambat aliran urine. Keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan intravesikal. Untuk dapat mengeluarkan urin, buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna

melawan tahanan itu. Kontraksi yang terus-menerus ini menyebabkan perubahan anatomik dari buli-buli berupa hipertrofi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula, dan divertikel buli-buli. Fase penebalan otot detrusor ini disebut fase kompensasi. Dengan semakin meningkatnya resistensi uretra, otot detrusor masuk ke dalam fase dekompensasi. Apabila vesika menjadi dekompensasi, akan terjadi retensi urin sehingga pada akhir miksi masih ditemukan sisa urin di dalam kandung kemih, dan timbul rasa tidak puas pada akhir miksi. Jika keadaan ini berlanjut, pada suatu saat akan terjadi kemacetan total sehingga penderita tidak mampu lagi mikisi, karena produksi urin terus terjadi, pada suatu saat vesika tidak mampu lagi menampung urin sehingga tekanan intra vesika terus meningkat. Apabila tekanan vesika menjadi lebih tinggi daripada tekanan sfingter dan obstruksi, akan terjadi inkontinenia paradoks. Retensi kronik menyebabkan refluks vesiko-ureter, hidroureter, hidronefrosis, dan gagal ginjal. Proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi. Pada waktu miksi, penderita harus selalu mengedan sehingga lama-kelamaan menyebabkan hernia atau hemoroid. Karena selalu terdapat sisa urin, dapat terbentuk batu endapan di dalam kandung kemih. Batu ini dapat menambah keluhan iritasi dan menimbulkan hematuria. Batu tersebut dapat pula menyebabkan sistitis dan bila terjadi refluks, dapat terjadi pielonefritis. Gejala dan tanda obstruksi saluran kemih berarti penderita harus menunggu pada permulaan miksi, miksi terputus, meneter pada akhir miksi, pancaran miksi menjadi lemah, dan rasa belum puas sehabis miksi. Gejala iritasi disebabkan hiperensitivitas otot detrusor berarti bertambahnya frekuensi miksi, nokturia, miksi sulit ditahan dan disuria. Gejala iritasi dapat juga terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna pada saat miksi atau pembesaran prostat menyebabkan rangangan pada kandung kemih sehingga vesika sering berkontraksi meskipun belum penuh. Gejala obstruksi terjadi karena detrusor gagal berkontraksi cukup lama sehingga kontraksi terputus-putus. Gambaran Klinis Kumpulan gejala yang ditimbulkan oleh BPH disebut sebagai sindroma prostatisme. Walaupun begitu sindroma ini tidak patogomonik untuk BPH. Obstruksi intra vesikal yang lain dapat pula memberikan gejala klinis seperti sindroma prostatisme ini. Oleh karena itu istilah ini belakangan sering diganti dengan Lower Urinary Tract Symptom (LUTS). Sindroma prostatisme ini dibagi menjadi dua, yaitu gejala obstruktif dan gejala iritatif. Gejala obstruksi, terdiri dari pancaran melemah, akhir buang air kecil belum terasa kosong (Incomplete emptying), menunggu lama pada permulaan buang air kecil (hesitancy), harus mengedan saat buang air kecil (straining), buang air kecil terputus-putus (intermittency), dan waktu buang air kecil memanjang yang akhirnya menjadi retensi urin dan terjadi inkontinen karena overflow. Kedua, gejala iritatif terdiri dari sering buang air kecil (frequency), tergesa-gesa untuk buang air kecil (urgency), buang air kecil malam hari lebih dari satu kali (nocturia), dan sulit menahan buang air kecil (urge incontinence). Dari kedua macam gejala tersebut, gejala obstruktif biasanya lebih menonjol. Bila terjadi gejala iritasi lebihmenonjol harus dipikirkan penyebab lain selain BPH.

Pemeriksaan Fisik Tanda-tanda vital seperti tensi, nadi, respirasi biasanya cukup baik kecuali bila BPH nya telah disertai berbagai penyulit. Karena usia penderita yang cukup lanjut, pemeriksaan keadaan umum penderita harus dikerjakan dengan teliti, tidak jarang terdapat penyakit-penyakit lain seperti hipertensi, obstruksi jalan nafas kronis, penyakit parkinson, diabetes melitus, bekas stroke dan lainlain. Pemeriksaan abdomen juga harus diteliti. Daerah pinggang kanan dan kiri harus diperiksa dengan teknik palpasi bimanual. Bila ginjal teraba, patut dicurigai adanya hidronefrosis karena stasis urin. Bila penderita merasakan nyeri pada saat ditekan agak kuat, mungkin terdapat pyelonefritis. Pada inspeksi daerah suprasimfisis, bila penderita dalam keadaan retensio urine, akan kelihatan menonjol. Penonjolan ini bila dipalpasi akan terasa adanya balottement dan penderita akan tersa ingin kencing. Kemudian dengan cara perkusi dapat diperkirakan ada tidaknya residual urine Penting juga memeriksa penis dan uretra untuk mendeteksi kemungkinan penyebab yang lain dari keluhannya misalnya adanya stenosis meatus, striktur uretra, batu uretra, karsinoma ataupun fimosis. Scrotum bisa juga diperiksa untuk menentukan ada tidaknya hernia, orchitis maupun epidiymitis Sebelum dilakukan Rectal Toucher, penderita harus diminta miksi lebih dulu dan bila penderita dalam keadaan retentio urin, RT dikerjakan setelah buli-buli dikosongkan dengan kateter. Pemeriksaan colok dubur dapat memberikan gambaran tentang keadaan tonus spingter ani, reflek bulbo cavernosus, mukosa rektum, adanya kelainan lain seperti benjolan di dalam rektum dan tentu saja teraba prostat. Colok dubur pada hiperplasia prostat menunjukkan prostat teraba membesar, konsistensi prostat kenyal seperti meraba ujung hidung, permukaan rata, lobus kanan dan kiri simetris, tidak didapatkan nodul, dan menonjol ke dalam rektum. Semakin berat derajat hiperplasia prostat, batas atas semakin sulit untuk diraba.

Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan laboratorium berperan dalam menentukan ada tidaknya komplikasi. a. Darah : - Ureum dan Kreatinin

Elektrolit


b.

Blood urea nitrogen Prostate Specific Antigen (PSA) Gula darah

Urin : - Kultur urin + sensitifitas test

Urinalisis dan pemeriksaan mikroskopik Sedimen

Sedimen urin diperiksa untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau inflamasi pada saluran kemih. Pemeriksaan kultur urine berguna dalam mencari jenis kuman yang menyebabkan infeksi dan sekaligus menentukan sensitifitas kuman terhadap beberapa antimikroba yang diujikan. Faal ginjal diperiksa untuk mengetahui kemungkinan adanya penyulit yang mengenai saluran kemih bagian atas. Sedangkan gula darah dimaksudkan untuk mencari kemungkinan adanya penyakit diabetes mellitus yang dapat menimbulkan kelainan persarafan pada vesica urinaria. 2. Foto polos abdomen (BNO) BNO berguna untuk mencari adanya batu opak di saluran kemih, adanya batu/kalkulosa prostat dan kadangkala dapat menunjukkan bayangan vesica urinaria yang penuh terisi urin, yang merupakan tanda dari suatu retensi urine. Selain itu juga bisa menunjukkan adanya hidronefrosis, divertikel kandung kemih atau adanya metastasis ke tulang dari carsinoma prostat. 3. Pielografi Intravena (IVP) Pemeriksaan IVP dapat menerangkan kemungkinan adanya kelainan pada ginjal maupun ureter berupa hidroureter atau hidronefrosis, memperkirakan besarnya kelenjar prostat yang ditunjukkan oleh adanya indentasi prostat (pendesakan vesica urinaria oleh kelenjar prostat) atau ureter di sebelah distal yang berbentuk seperti mata kail atau hooked fish, foto setelah miksi (dapat dilihat adanya residu urin). 4. Sistogram retrograd Apabila penderita sudah dipasang kateter oleh karena retensi urin, maka sistogram retrograd dapat pula memberi gambaran indentasi. 5. USG secara transrektal (Transrectal Ultrasonography = TURS) Untuk mengetahui besar atau volume kelenjar prostat, adanya kemungkinan pembesaran prostat maligna, sebagai petunjuk untuk melakukan biopsi aspirasi prostat, menentukan volume vesica urinaria dan jumlah residual urine, serta mencari kelainan lain yang mungkin ada di dalam vesica urinaria seperti batu, tumor, dan divertikel. 6. Pemeriksaan Sistografi Dilakukan apabila pada anamnesis ditemukan hematuria atau pada pemeriksaan urine ditemukan mikrohematuria. Sistografi dapat memberikan gambaran kemungkinan tumor di dalam vesica urinaria atau sumber perdarahan dari atas bila darah datang dari muara ureter, atau batu radiolusen di dalam vesica. Selain itu juga memberi keterangan mengenai basar prostat dengan mengukur panjang uretra pars prostatika dan melihat penonjolan prostat ke dalam uretra. 7. Uroflowmetri Untuk mengukur laju pancaran urin miksi. Laju pancaran urin ditentukan oleh daya kontraksi otot detrusor, tekanan intravesica dan resistensi uretra. Angka normal laju pancaran urin ialah 10-12 ml/detik dengan puncak laju pancaran mendekati 20 ml/detik. Pada obstruksi ringan, laju pancaran melemah menjadi 6 8 ml/detik dengan puncaknya sekitar 11 15 ml/detik. Semakin berat derajat obstruksi semakin lemah pancaran urin yang dihasilkan.

Penatalaksanaan Untuk memberikan terapi pada pasien BPH, perlu diketahui dahulu mengenai derajat yang diderita. Derajat berat gejala klinik dibagi menjadi empat gradasi berdasarkan penemuan pada colok dubur dan sisa volume urin, yaitu: - Derajat satu: Ditemukan keluhan prostatismus, pada colok dubur ditemukan penonjolan prostat, batas atas mudah diraba dan sisa urin kurang dari 50 ml. - Derajat dua: Ditemukan tanda dan gejala sama seperti pada derajat satu, prostat lebih menonjol, batas atas masih dapat teraba dan sisa urin lebih dari 50 ml tetapi kurang dari 100 ml. - Derajat tiga: Seperti derajat dua, hanya batas atas prostat tidak teraba lagi dan sisa urin lebih dari 100 ml

- Derajat empat, apabila sudah terjadi retensi urin total. Organisasi kesehatan dunia (WHO) menganjurkan klasifikasi untuk menentukan berat gangguan miksi yang disebut WHO PSS (WHO Prostate Symptom Score). Skor ini berdasarkan jawaban penderita atas delapan pertanyaan mengenai miksi. Terapi non bedah dianjurkan bila WHO PSS tetap dibawah 15. Untuk itu dianjurkan melakukan kontrol dengan menentukan WHO PSS. Terapi bedah dianjurkan bila WHO PSS 25 ke atas atau bila timbul obstruksi. Pembagian derajat beratnya hiperplasia prostat derajat I-IV digunakan untuk menentukan cara penanganan.

Derajat satu: Biasanya belum memerlukan tindakan operatif, melainkan dapat diberikan pengobatan secara konservatif. Derajat dua: Sudah ada indikasi untuk melakukan intervensi operatif, dan yang sampai sekarang masih dianggap sebagai cara terpilih ialah trans uretral resection (TUR). Kadang-kadang derajat dua penderita masih belum mau dilakukan operasi, dalam keadaan seperti ini masih bisa dicoba dengan pengobatan konservatif. Derajat tiga: TUR masih dapat dikerjakan oleh ahli urologi yang cukup berpengalaman biasanya pada derajat tiga ini besar prostat sudah lebih dari 60 gram. Apabila diperkirakan prostat sudah cukup besar sehingga reseksi tidak akan selesai dalam satu jam maka sebaiknya dilakukan operasi terbuka. Derajat empat: Tindakan pertama yang harus segera dikerjakan ialah membebaskan penderita dari retensi urin total, dengan jalan memasang kateter atau memasang sistostomi setelah itu baru dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk melengkapi diagnostik, kemudian terapi definitif dapat dengan TURP atau operasi terbuka. Adapun beberapa terapi untuk Hiperplasia prostate yaitu:

1. Observasi (Watchful waiting) Biasanya dilakukan pada pasien dengan keluhan ringan. Nasihat yang diberikan adalah mengurangi minum setelah makan malam untuk mengurangi nokturia, menghindari obat-obatan dekongestal (parasimpatolitik), mengurangi minum kopi, dan tidak diperbolehkan minuman alkohol agar tidak sering miksi. Setiap 3 bulan lakukan kontrol keluhan (sistem skor), sisa kencing dan pemeriksaan colok dubur. 2. Medikamentosa a. Obat Penghambat adrenergik Dasar pengobatan ini adalah mengusahakan agar tonus otot polos di dalam prostat dan leher vesica berkurang dengan menghambat rangsangan alpha adrenergik. Seperti diketahui di dalam otot polos prostat dan leher vesica banyak terdapat reseptor alpha adrenergik. Obat-obatan yang sering digunakan prazosin, terazosin, doksazosin, dan alfuzosin. Obat penghambat alpha adrenergik yang lebih selektif terhadap otot polos prostat yaitu 1a (tamsulosin), sehingga efek sistemik yang tak diinginkan dari pemakai obat ini dapat dikurangi. Dosis dimulai 1 mg/hari sedangkan dosis tamzulosin 0,2-0,4 mg/hari. Penggunaan antagonis alpha 1 adrenergik untuk mengurangi obstruksi pada vesica tanpa merusak kontraktilitas detrusor. Obat-obatan golongan ini memberikan perbaikan laju pancaran urine, menurunkan sisa urine dan mengurangi keluhan. b. Obat Penghambat Enzim 5 Alpha Reduktase Obat yang dipakai adalah finasterid (proskar) dengan dosis 1x5 mg/hari. Obat golongan ini dapat menghambat pembentukan dehidrotestosteron sehingga prostat yang membesar dapat mengecil. Namun obat ini bekerja lebih lambat daripada golongan alpha blocker dan manfaatnya hanya jelas pada prostat yang sangat besar. Salah satu efek samping obat ini adalah melemahkan libido dan ginekomastia.

3. Terapi Operatif Tindakan operasi ditujukan pada hiperplasi prostat yang sudah menimbulkan penyulit tertentu, antara lain: retensi urin, batu saluran kemih, hematuri, infeksi saluran kemih, kelainan pada saluran kemih bagian atas, atau keluhan LUTS yang tidak menunjukkan perbaikan setelah menjalani pengobatan medikamentosa. Tindakan operasi yang dilakukan adalah operasi terbuka atau operasi endourologi transuretra. a. Prostatektomi terbuka Retropubic infravesica (Terence Millin)

Baik untuk adenoma yang besar pada subservikal. Tanpa membuka vesika sehingga pemasangan kateter tidak perlu selama bila membuka vesika. Langsung melihat fossa prostat. Tetapi Tidak bisa untuk BPH dengan penyulit intravesikal. Suprapubic Transvesica/TVP (Freeyer) Baik untuk kelenjar besar sehingga banyak dikerjakan untuk semua jenis pembesaran prostate. Operasi banyak dipergunakan pada hiperplasia prostat dengan penyulit : batu buli, batu ureter distal, divertikel, uretrokel, adanya sistostomi, retropubik sulit karena kelainan os pubis, kerusakan sphingter eksterna minimal. Transperineal Dapat langsung pada fossa prostat dan mudah untuk pinggul sempit. Operasi langsung biopsi untuk karsinoma. Dapat mengakibatkan impotensi dan inkontinensia. b. Prostatektomi Endourologi Trans Urethral Resection of the Prostate (TURP) Yaitu reseksi endoskopik malalui uretra. Jaringan yang direseksi hampir seluruhnya terdiri dari jaringan kelenjar sentralis. Jaringan perifer ditinggalkan bersama kapsulnya. Metode ini cukup aman, efektif dan berhasil guna, bisa terjadi ejakulasi retrograd dan pada sebagaian kecil dapat mengalami impotensi. Evaluasi urodinamik sangat berguna untuk membedakan pasien dengan obstruksi dari pasien non-obstruksi. Evaluasi ini berperan selektif dalam penentuan perlu tidaknya dilakukan TUR. Saat ini tindakan TURP merupakan tindakan operasi paling banyak dikerjakan di seluruh dunia. Reseksi kelenjar prostat dilakukan trans-uretra dengan mempergunakan cairan irigan (pembilas) agar supaya daerah yang akan direseksi tetap terang dan tidak tertutup oleh darah. Cairan yang dipergunakan adalah berupa larutan non ionik, yang dimaksudkan agar tidak terjadi hantaran listrik pada saat operasi. Cairan yang sering dipakai dan harganya cukup murah adalah H2O steril (aquades). Trans Urethral Incision of Prostate (TUIP) Metode ini di indikasikan untuk pasien dengan gejala obstruktif, tetapi ukuran prostatnya mendekati normal. Pada hiperplasia prostat yang tidak begitu besar dan pada pasien yang umurnya masih muda umumnya dilakukan metode tersebut. Kelebihan dari metode ini adalah lebih cepat daripada TUR dan menurunnya kejadian ejakulasi retrograde dibandingkan dengan cara TUR. Trans Urethral Laser of the Prostate (Laser prostatectomy) Waktu yang diperlukan untuk melaser prostat biasanya sekitar 2-4 menit untuk masing-masing lobus prostat (lobus lateralis kanan, kiri dan medius). Pada waktu ablasi akan ditemukan pop corn effect sehingga tampak melalui sistoskop terjadi ablasi pada permukaan prostat, sehingga uretra pars prostatika akan segera menjadi lebih lebar, yang kemudian masih akan diikuti efek ablasi ikutan yang akan menyebabkan laser nekrosis lebih dalam setelah 4-24 minggu sehingga hasil akhir nanti akan terjadi rongga didalam prostat menyerupai rongga yang terjadi sehabis TUR. Salah satu keuntungan dari teknik operasi ini adalah tidak menyebabkan perdarahan sehingga tidak mungkin terjadi retensi akibat bekuan darah dan tidak memerlukan transfusi. Namun kerugiannya, masih diperlukan anestesi (regional). Komplikasi Dilihat dari sudut pandang perjalanan penyakitnya, hiperplasia prostat dapat menimbulkan komplikasi yaitu inkontinensia paradoks, vesicolithiasis, hematuria, sistitis, pielonefritis, retensi urin, refluks vesiko-ureter, hidroureter, hidronefrosis dan gagal ginjal

4.2 SISTITIS Definisi

Sistitis adalah inflamasi kendung kemih yang paling sering disebabkan oleh menyebarnya infeksi dari uretra. (Brunner & Suddarth, 2002). Inflamasi (peradangan) akut pada mukosa buli-buli (kandung kemih) yang sering disebabkan oleh infeksi bakteri.8

Etiologi Beberapa penyebab sistitis diantaranya adalah : 1. 2. 3. Aliran balik urine dari uretra ke dalam kandung kemih ( Refluks Uretrovesikal) Adanya kontaminasi fekal pada meatus uretra Pemakaian kateter atau sistoskop

4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

Mikroorganisme : E.coli, Enterococci, Proteus, Staphylococcus aureus. Bahan kimia : Detergent yang dicampurkan ke dalam air untuk rendam duduk, deodorant yang disemprotkan pada vulva, obat-obatan (misalnya: siklofosfamid) yang dimasukkan intravesika untuk terapi kanker buli-buli. Infeksi ginjal Prostat hipertrofi karena adanya urine sisa Infeksi usus Infeksi kronis dari traktus bagian atas Adanya sisa urine Stenosis dari traktus bagian bawah

Manifestasi Klinik Pasien mengalami urgensi, sering berkemih, rasa panas dan nyeri pada saat berkemih, nokturia, dan nyeri atau spasme pada area kandung kemih dan supra pubis. Piuria (adanya sel darah putih dalam urine), hematuria (adanya sel darah merah pada pemeriksaan urine). Pasien mengalami demam, mual, muntah, badan lemah, kondisi umum menurun. Jika ada demam dan nyeri pinggang, perlu dipikirkan adanya penjalaran infeksi ke saluran kemih bagian atas. Infeksi kandung kemih biasanya menyebabkan desakan untuk berkemih dan rasa terbakar atau nyeri selama berkemih. Nyeri biasanya dirasakan diatas tulang kemaluan dan sering juga dirasakan di punggung sebelah bawah. Gejala lainnya adalah nokturia(sering berkemih di malam hari). Air kemih tampak berawan dan mengandung darah. Kadang infeksi kandung kemih tidak menimbulkan gejala dan diketahui pada saat pemeriksaan air kemih (urinalisis untuk alasan lain). Sistitis tanpa gejala terutama sering terjadi pada usia lanjut, yang bisa menderita inkontinensia urin sebagai akibatnya. Inkontenensia urine adalah eliminasi urine dari kandung kemih yang tidak terkendali atau terjadi di luar keinginan. Pemeriksaan Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejalanya yang khas. Diambil contoh air kemih aliran tengah (midstream), agar air kemih tidak tercemar oleh bakteri dari vagina atau ujung penis. Air kemih kemudian diperiksa dibawah mikroskop untuk melihat adanya sel darah merah atau sel darah putih atau zat lainnya. Dilakukan penghitungan bakteri dan dibuat biakan untuk menentukan jenis bakterinya. Jika terjadi infeksi, maka biasanya satu jenis bakteri ditemukan dalam jumlah yang banyak. Pada pria, air kemih aliran tengah biasanya cukup untuk menegakkan diagnosis. Pada wanita, contoh air kemih ini kadang dicemari oleh bakteri dari vagina, sehingga perlu diambil contoh air kemih langsung dari kandung kemih dengan menggunakan kateter. Pemeriksaan lainnya yang dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis sistitis adalah: - Rontgen - Sistouretrografi - Uretrogram retrograd - Sistoskopi : Untuk menggambarkan ginjal, ureter dan kandung kemih. : Untuk mengetahui adanya arus balik air kemih dari kandung kemih (Refluks Vesiko-Ureter) dan penyempitan uretra : Untuk mengetahui adanya penyempitan, divertikula atau fistula. : Untuk melihat kandung kemih secara langsung dengan serat optik.

4.3 VESICOLITHIASIS Batu Buli-buli atau Batu Kandung Kemih (vesicolithiasis) adalah batu yang terdapat di dalam saluran kemih yang mengandung komponen kristal dan matriks organik tepatnya pada vesika urinari atau kandung kemih. Batu kandung kemih sebagian besar mengandung batu kalsium oksalat atau fosfat. 9 Batu vesika urinaria terutama mengandung kalsium atau magnesium dalam kombinasinya dengan fosfat, oksalat, dan zat-zat lainnya. Etiologi Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan batu kandung kemih adalah :

Faktor Endogen, Faktor genetik, familial, pada hypersistinuria, hyperkalsiuria dan hiperoksalouria. Faktor Eksogen, Faktor lingkungan, pekerjaan, makanan, infeksi dan kejenuhan mineral dalam air minum. Faktor lainnya, Infeksi, stasis dan obstruksi urine, keturunan, air minum, pekerjaan, makanan atau penduduk yang vegetarian lebih sering menderita batu buli-buli.

Penyebab lainnya adalah:

Obstruksi kelenjar prostat yang membesar Striktur uretra (penyempitan lumen dari uretra) Neurogenik bladder (lumpuh kandung kemih karena lesi pada neuron yang menginervasi bladder) Benda asing, misalnya kateter Divertikula,urin dapat tertampung pada suatu kantung didinding vesika urinaria Shistomiasis, terutama oleh Shistoma haemotobium,lesi mengarah keganasan

10

Hal-hal yang disebutkan di atas dapat menimbulkan retensi urin, infeksi, maupun radang. Statis, lithiasis, dan sistitis adalah peristiwa yang saling mempengaruhi. Statis menyebabkan bakteri berkembang,sistitis; urin semakin basa,memberi suasana yang tepat untuk terbentuknya batu MgNH4PO4 (batu infeksi/struvit). Batu yang terbentuk bisa tunggal ataupun banyak. Batu kandung kemih dapat disebabkan oleh kalsium oksalat atau agak jarang sebagai kalsium fosfat. Batu vesika urinaria kemungkinan akan terbentuk apabila dijumpai satu atau beberapa faktor pembentuk kristal kalsium dan menimbulkan agregasi pembentukan batu proses pembentukan batu kemungkinan akibat kecenderungan ekskresi agregat kristal yang lebih besar dan kemungkinan sebagai kristal kalsium oksalat dalam urine. Tanda dan gejala Dapat tanpa keluhan Sakit berhubungan dengan kencing (terutama diakhir kencing) Lokasi sakit terdapat di pangkal penis atau suprapubis kemudian dijalarkan ke ujung penis (pada laki-laki) dan klitoris (pada wanita). Terdapat hematuri pada akhir kencing Disuria (sakit ketika kencing) dan frequensi (sering kebelet kencing walaupun VU belum penuh). Aliran urin berhenti mendadak bila batu menutup orificium uretra interna. Bila batu mneyumbat muara ureter dapat terjadi hidrouereter hidronefrosis gagal ginjal.

Pemeriksaan Diagnostik Urinalisa : warna kuning, coklat atau gelap Laboratorium Darah : ureum/kreatinin, elektrolit, Ca, Phospat anorganik. Alkali Phospate, Asam urat, Protein, Hb Urin : rutin (Midstream urin) Radiologis Foto polos/BNO : tampak opak (90%), lebih baik dilanjutkan dengan IVP untuk mengetahui ada atau tidak kerusakan pada ginjal

IVP( intra venous pylografi) : Dapat untuk melihat batu di lain tempat, anatomi saluran kencing bagian atas, menunjukan perlambatan pengosongan kandung kemih,membedakan derajat obstruksi kandung kemih divertikuli kandung kemih dan penebalan abnormal otot kandung kemih. PV (Pem Postvoid) : mengetahui pengosongan kandung kemih USG : Gambaran acustic shadow Sistokopi : Untuk menegakkan diagnosis batu kandung kencing. Endoskopi ginjal : Menentukan pelvis ginjal, mengeluarkan batu yang kecil. Pielogram retrograde, menunjukan abnormalitas pelvis saluran ureter dan kandung kemih. Fisik : Kurang berarti, kecuali jika batu cukup besar Diagnosis ditegakan dengan studi ginjal, ureter, kandung kemih, urografi intravena atau pielografi retrograde. Uji kimia darah dengan urine dalam 24 jam untuk mengukur kalsium, asam urat, kreatinin, natrium, dan volume total merupakan upaya dari diagnostik. Riwayat diet dan medikasi serta adanya riwayat batu ginjal, ureter, dan kandung kemih dalam keluarga di dapatkan untuk mengidentifikasi faktor yang mencetuskan terbentuknya batu kandung kemih.

Factor resiko penyebab batu Lebih dari 85% batu pada laki-laki dan 70% pada perempuan mengandung kalsium terutama kasium oksalat. Predisposisi kejadian batu khususnya batu kalsium oksalat dapat terjadi karena : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Riwayat batu kandung kemih dan saluran kemih Usia dan jenis kelamin Kelainan morfologi Pernah mengalami infeksi saluran kemih Adanya kelainan pada ginjal dan saluran kemih Profesi sebagai pekerja keras Penggunaan obat antasid, aspirin dosis tinggi dan vitamin D terlalu lama. Hiperkasiuria Hiperkalsiuria absortif ditandai oleh kenaikan absorbs kalsium dari lumen usus Hiperkalsiuria Puasa ditandai adanya kelebihan kalsium, diduga berasal dari tulang. Hiperkalsiuria Ginjal yang diakibatkan kelainan reabsobsi kalsium di tubulus ginjal HipositraturiaMerupakan suatu penurunan ekskresi inhibitor pembentukan Kristal dalam air kemih yaitu sitrat.

9. Hiperikosuria Merupakan suatu peningkatan asam urat yang dapat memacu pembentuka batu kalsium, minimal sebagian oleh Kristal asam urat dengan membentuk nidus untuk prespitasi kalsium oksalat atau prespitasikalsium pospat. Pada kebanyakan pasien dengan diet purin yag tinggi.

11

10.Penurunan jumlah air kemih Keadaan ini apat disebabkan masukkya cairan sedikit. Selanjutnya akan menimbulkan pembentukan batu dengan peningkatan reaktan dan pengurangan aliran kemih. 11.Hiperoksaluria Merupakan kenaikan ekskresi oksalat diatas normal(45 mg/hari atau 0,5 mmol/hari). Peningkatan ini dapat menyebabkan perubahan cukup besar dan memacu prepitasi kalsium oksalat dengan derajat yang lebih besar dibandingkan kenaikan ekskresi kalsium. 12.Factor diet dapat disebabkan oleh - Natrium klorida yang tinggi dapat meningkatkan ekskresi kalsium - Diet protein tinggi umumnya dihubungkan dengn peningkatan insiden penyakit batu. Hal ini disebabkan peningkatan kalsium dan asam urat, fospat dan penurunan ekskresi sitrat. - Peningkatan masukan kalsium, sekitar 8% diabsorbsi dan kemudiaan di ekskresi dan pada pasien hiperkalsiuria sebesar 20%. - Diet tinggi kalium mengurangi resiko pembentukan batu dengan menurunkan ekskresi kalsium dan meningkatkan ekskresi sitrat dalam air kemih. - Sukrosa meningkatkan ekskresi kalsium tetapi mekanismenya belum diketahui. - Vitamin. Vitamin C asam askorbat dalam dosisi besar merupakan resiko pembentukan batu. Proses pembentukan batu ginjal dipengaruhi oleh beberapa faktor yang kemudian dijadikan dalam beberapa teori :

Teori Supersaturasi Tingkat kejenuhan komponen-komponen pembentuk batu ginjal mendukung terjadinya kristalisasi. Kristal yang banyak menetap menyebabkan terjadinya agregasi kristal dan kemudian menjadi batu. Teori Matriks Matriks merupakan mikroprotein yang terdiri dari 65 % protein, 10 % hexose, 3-5 hexosamin dan 10 % air. Adanya matriks menyebabkan penempelan kristal-kristal sehingga menjadi batu. Teori Kurangnya Inhibitor Pada individu normal kalsium dan fosfor hadir dalam jumlah yang melampaui daya kelarutan, sehingga membutuhkan zat penghambat pengendapan. fosfat mukopolisakarida dan fosfat merupakan penghambat pembentukan kristal. Bila terjadi kekurangan zat ini maka akan mudah terjadi pengendapan. Teori Epistaxy Merupakan pembentuk batu oleh beberapa zat secara bersama-sama. Salah satu jenis batu merupakan inti dari batu yang lain yang merupakan pembentuk pada lapisan luarnya. Contoh ekskresi asam urat yang berlebih dalam urin akan mendukung pembentukan batu kalsium dengan bahan urat sebagai inti pengendapan kalsium. Teori Kombinasi Batu terbentuk karena kombinasi dari bermacam-macam teori diatas

DAFTAR PUSTAKA 1. Guyton, Arthur C, 1997, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Editor, Irawati. S, Edisi : 9, EGC ; Jakarta Mayo clinic.Kidney Failure .Updated August 2 2011 . Availble at http://www.mayoclinic.com/health/kidneyfailure/DS00280/DSECTION=treatments%2Dand%2Ddrugs . Accessed October 21,2011 Purnomo, Basuki B., Dasar-Dasar Urologi, edisi kedua, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang, 2003 : 140-145, 186 Emedicine.Carcinoma Prostate .Updated April 1 2009. Available at http://emedicine.medscape.com/article/777386overview. Accessed October 10,2011 Emedicine. Bladder Cancer. Updated July 11 2010. Available at http://emedicine.medscape.com/article/445876medication#showall . Accessed at October 20,2011

2.
3.

4. 5.

12

6.

Mayo clinic. Benign Prostate Hyperplasia. Updated May 25 2011 . Available at http://www.mayoclinic.com/health/Benign-Prostate-Hyperplasia/DS00100/DSECTION=treatments-and-drugs . Accessed October 20,2011 McConnel JD. Epidemiology, etiology, pathophysiology and diagnosis of benign prostatic hyperplasia. In : Wals PC, Retik AB, Vaughan ED, Wein AJ. Campbells Urology. 7th ed. Philadelphia : WB Saunders Company ; 1998.p.1429-52 Mayo clinic.Cystitis.Updated March 6 2010. Available at http://www.mayoclinic.com/health/cystitis/DS00285 Accessed October 21, 2011 Emedicine.Vesicolithiasis.Updated June 16 2011 . Available at http://emedicine.medscape.com/article/437096medication#showall. Accessed October 21,2011

7. 8. 9.

Analisa masalah Sindrom Prostatismus tersebut terjadi oleh karena adanya ketidaklancaran atau hambatan aliran urin di saluran kemih bagian bawah. Hambatan tersebut kemungkinan dikarenakan adanya pembesaran dari prostat sehingga menyebabkan uretra pars prostatika menyempit dan terjadi resistensi di bagian leher kandung kemih. Gejala obstruksi terjadi karena kegagalan m.detrusor untuk berkontraksi cukup lama dan adekuat sehingga kontraksinya terputus-putus. Akibat dari gejala obstruksi adalah masih tersisanya volume urin di dalam kandung kemih atau pengosongan kandung kemih tidak sempurna. Pengosongan kandung kemih yang tidak sempurna ini yang menyebabkan timbulnya gejala iritasi. M.detrusor terangsang menyebabkan vesica sering berkontraksi meskipun belum penuh. Fisiologi berkemih pada pria lanjut usia Pada dasarnya proses berkemih dapat dibagi menjadi 2 fase, yaitu fase penyimpanan dan fase p engosongan. Fase penyimpanan ialah fase di mana kandung kemih terisi oleh urin h ingga mencapai nilai ambang batas. Setelah nilai ambang tersebut dicapai, maka akan masuk ke dalamfase kedua yaitu fase pengosongan atau disebut dengan refleks mikturisi. Refleks ini dikendalikan oleh sistem saraf otonom tetap i dapat dih ambat atau difasilitasi oleh pusatpusatsaraf di korteks serebri atau batang otak. Kedua p roses tersebut melibatkan struktur dan fungsikomponen saluran kemih bawah, kognitif, fisik, motivasi dan lingkungan. Persarafan kandung kemih dikendalikan oleh saraf-saraf p elv is, berhubungan dengan pleksus sakralis terutama segmen S-2 dan S-3. Perjalanan impuls melalui dua jalur, sensorik danmotorik. Peregangan yang terjadi pada dinding kandung kemih akan dibawa oleh saraf sensorik kemudian diteruskan ke pusat saraf kortikal dan subkortikal. Pusat saraf subkortikalmenyebabkan dinding kandung kemih semakin meregang seh ingga menunda desakan untuk segera berkemih. Sedangkan, pusat saraf kortikal akan memperlambat produksi urin. Sehingga,p roses berkemih dapat ditunda. Gangguan p ada pusat saraf tersebut menurunkan kemampuanseseorang untuk menunda berkemih.Proses berkemih akan terjadi bila otot destrusor kandung kemih berkontraksi. Kontraksi ini disebabkan oleh aktiv itas saraf parasimp atis yang dibawa oleh saraf-saraf motorik p elv is. Sedangkan pada fase pengisian, saraf simpatis akan menghambat kerja parasimpatis dan dinding kandung kemih. Mekanisme berkemih p ada usia dewasa dan usia lanjut tidak jauh berbeda. Hanya saja, akibat proses p enuaan, fungsi dan fisiologis berkemih mengalami p enurunan. Pada usia tua terjadi penurunan kadar hormon estrogen pada wanita dan androgen pada pria. Akibatnya, terjadi perubahan anatomis dan fisiologis termasuk p ada struktur saluran kemih. Misalnya, p enurunan elastisitas pada otot polos uretra seh ingga menurunkan tekanan p enutup an uretra dan tekanan o u t f l o w . Melemahnya otot dasar panggul yang berperan dalam mempertahankan tekanan abdomen d a n d i n a m i k a m i k s i m e n y e b a b k a n p r o l a p s n y a k a n d u n g k e m i h d a n m e l e m a h n y a tekanan akhiran pengeluaran urin. Faktor penyebab terjadinya gangguan berkemih : Kapasitas vesica urinaria berkurang Adanya penurunan hormone androgen Kontraksi involunter meningkat Kemampuan menahan kencing menurun Volume residu meningkat Tekanan penutupan & akhiran uretra menurun Prostat mengalami pembesaran Otot yang menyokong dasar panggul melemah

D.

Infeksi traktus urinarius (4)

Infeksi traktus urinarius dapat terjadi pada ginjal, ureter, vesika urinaria, dan uretra, tetapi infeksi lebih sering terjadi pada traktus urinarius bawah, yaitu vesika urinaria dan uretra. Wanita memiliki risiko lebih besar untuk terkena infeksi karena anatomi uretra yang pendek. Etiologi Infeksi traktus urinarius bisanya disebabkan karena bakteri E. coli, merupakan bakteri normal yang ada pada kolon. Bakteri tersebut dapat sampai ke uretra dan jika memperbanyak diri, dapat terjadi infeksi. Infeksi yang terjadi di uretra disebut uretritis, jika terjadi di vesika urinaria disebut sistitis. Apabila tidak cepat diobati, bateri dapat sampai ke ureter kemudian memeprbanyak diri dan menyerang ginjal sehingga menyebabkan pielonefritis. Chlamydia dan Mycoplasma juga dapat menyebabkan infeksi traktus

13

urinarius baik pada wanita maupun pria, tetapi infeksi ini biasanya menyerang uretra dan system reproduksi. Tidak seperti E. coli, Chlamydia dan Mycoplasma dapat ditularkan secara seksual. Tanda dan gejala klinis a. b. c. d. e. f. g. h. Diagnosis a. b. Urinalisis. Pemeriksaa eritrosit, leukosit, dan bakteri. Kemudian dilakukan kultur bakteri untuk mengetahui jenis bakteri dan menentukan antibiotik yang tepat. IVP (Intravenous Pyelogram). Dapat melihat keadaan ginjal, ureter, dan vesika urinaria. Persiapan yang harus dilakukan oleh pasien diantaranya: tes alergi kontras, puasa 12 jam, usus kosong dari feses/gas, dan vesika urinaria harus dikosongkan. Ultrasound. Jika terjadi infeksi berulang Polakisuria Disuria Nyeri pada saat tidak berkemih Nyeri pada suprapubik Urin yang keluar sedikit Urin terlihat keruh Hematuria Demam, nyeri di pinggang, mual dan muntah jika infeksi sampai ke ginjal.

c.

(National Kidney and Urologic Diseases Information Clearinghouse (NKUCID). Urinary Tract Infection in Adult. Available at: http://www.kidney.niddk.nih.gov/kudiseases/pubs/utiadult. up date: December 2006. Accessed: October 15, 2011)

Batu kandung kemih (vesikolitiasis) (3) Batu kandung kemih diperkirakan dapat terjadi karena kuranguya higiene pada saluran kemih dan kurangnya nilai gizi. PATOFISIOLOGI

Bata kandung kemih pada anak terutama karena faktor gizi yang kurang baik, sehingga dapat mengakibatkan malnutrisi yang dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah timbul infeksi. Pada infeksi saluran kemih bakteri dapat mengakibatkan sel-sel epitel terlepas dan menjadi modus, kemudian mengendapkan zat-zat organik dan terbentuk batu. PEMBAGIAN BATU KANDUNG KEMIH Batu buli-bull Pada anak-anak. Tanda dan gejala berupa rasa nyeri sekali pada waktu miksi, anak menangis keras, mengejan, pada anak laki-laki menarik penisnya sambil berlari ke sana ke maxi karena menahan sakit. Kadang-kadang disertai prolaps ani. Tindakan pengobatan dilakukan dengan pemberian antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder, pemberian antispasmodik, dilakukan ketok batu dengan jalan mengosongkan kandung kemih, kemudian masukkan bongie ke dalam kandung kemih, bila hasilnya positif berarti ada batu. Tindakan operatif opositif vesiko liotkotomi (sectio alto). Tindak lanjut opeasi batu buli-buli dilakukan 3 bulan untuk mencegah terbentuknya batu kembali. Batu kandung kemih pada orang dewasa. Tanda dan gejala biasa disebut sebagai trias batu kandung kemih (buli-buli), yaitu hematuria, disuria, dan urine keruh (pancaran urine terganggu dan menjadi lancar kembali, bila dilakukan perubahan posisi). Pemeriksaan diagnostik dilakukan dengan foto BNO/IVP dan analisis urine. (Tanagho EA, McAninch JW. Smiths General Urologi. 17th ed. New York: McGraw-Hill; 2008. p. 272, 348-350, 576-577)

14