Anda di halaman 1dari 15

A. Topik Praktikum Isolasi DNA dengan teknik manual B. Hari/Tanggal Senin/5 Desember 2011 C.

Tujuan Untuk mengetahui teknik isolasi DNA dan metode Elektroforesis untuk mendeteksi keberhasilan hasil isolasi. D. Alat dan Bahan Alat. 1. Tabung Eppendorf. 2. Tabung polypropylene. 3. Mikropipet. 4. Rak tabung. 5. Botol ampul. 6. Blue tip. 7. Yellow tip. 8. Vortex. 9. Sentrifuge. 10. Alat elektroforesis. 11. Alat pewarnaan gel dengan EtBr, dan gell doc (UV). Bahan. 1. Sampel darah. 2. Tris HCl. 3. EDTA. 4. NaCl. 5. Kloroform. 6. MgCl2. 7. KCl. 8. SDS. 9. Etanol absolut. 10. EtBr. 11. Loading dye.

12. Agarose. 13. Aquadest. E. Cara Kerja. a. Isolasi DNA 1. Memasukkan 500 l darah ke dalam tabung Eppendorf dengan menggunakan mikropipet dan memakai blue tip. 2. Menambahkan 500 l larutan 1 dan mencampurnya hingga homogen. 3. Menambahkan 12 l NP40 dan mencamputkannya hingga homogen. 4. Mensentrifuge campuran pada kecepatan 2500 rpm selama 10 menit pada suhu 4 0C. 5. Membuang supernatant yang terbentuk dan menambahkan 200 l larutan 2, kemudian mencampurnya hingga pelet larut. 6. Menambahkan fenol sebanyak 40 l kemudian memvortex dan dilanjutkan mensentrifuge selama 3 menit pada kecepatan 13.000 rpm. 7. Mengambil supernatan dan memasukkannya pada Eppendorf yang baru dan dilanjutkan dengan menambahkan 20 l kloroform: isoamil alcohol kemudian memvortex campuran. 8. Mensentrifuge selama 2 menit pada kecepatan 13.000 rpm. 9. Mengambil supernatant dan memasukkannya ke dalam tube yang baru. 10. Menambahkan 40 l kloroform: isoamil alkohol kemudian memvortex campuran tersebut. 11. Mensentrifuge pada kecepatan 13.000 rpm selama 3 menit. 12. Mengambil supernatan dan menambahkannya dengan 2 kali volume etanol absolute 96% dingin. 13. Meletakkan pada freezer selama 5 menit kemudian mensentrifuge selama 5 menit pada kecepatan 13.000 rpm. 14. Membuang supernatant kemudian mencuci pellet DNA dengan 100 l etanol 70%. 15. Mensentrifuge campuran pada kecepatan 13.000 rpm selama 5 menit kemudian membuang supernatan yang ada. 16. Mengeringkan pelet DNA dengan vacuum/aspirator atau bisa dengan dianginkan selama 1 hari.

17. Menambahkan 15 l TE. 18. DNA hasil isolasi dapat disimpan pada suhu -20 0C. b. Elektroforesis dengan gel agarose 1. Membuat gel agarose dengan konsentrasi 0,8 %. Caranya dengan menimbang 0,8 gram agarose kemudian melarutkannya dengan TBE Buffer 1x sebanyak 100 ml, dan kemudian memanaskan dalam microwave selama 2 menit. 2. Menuangkan gel yang masih panas ke dalam cetakan yang telah disiapkan dan diberi sisiran untuk membuat sumuran. 3. Menunggu hingga gel menjadi dingin. 4. Setelah gel dingin, kemudian memindahakn gel tersebut ke dalam elektroforesis chamber dan menuangkan TBE Buffer. 5. Setelah itu mencampurkan Loading dye dengan sampel DNA kemudian memasukkannya ke dalam sumuran-sumuran yang telah dibuat di gel agarose. 6. Menjalankan alat elektroforesis dan menjalankannya sekitar 45 menit hingga terlihat loading dye yang berwarna biru bergerak. 7. Setelah running selesai maka dilakukan pewarnaan dengan EtBr dalam alat shaker. 8. Mengamati gel di gell doc yang di dalamnya terdapat lampu UV, kemudian memotret hasilnya. F. Dasar Teori 1. Isolasi DNA Isolasi DNA diawali dengan perusakan dan atau pembuangan dinding sel, yang dapat dilakukan baik dengan cara mekanis seperti sonikasi, tekanan tinggi, beku-leleh maupun dengan cara enzimatis seperti pemberian lisozim,dilanjutkan langkah berikutnya adalah lisis sel. Isolasi DNA merupakan langkah mempelajari DNA. Salah satu prinsisp isolasi DNA yaitu dengan sentrifugasi. Sentrifugasi merupakan teknik untuk memisahkan campuran berdasarkan berat molekul komponennya. Molekul yang mempunyai berat molekul besar akan berada di bagian bawah tabung dan molekul ringan akan berada pada bagian atas tabung (Mader 1993 dalam asris07, 2010). Hasil sentrifugasi akan menunjukkan dua macam fraksi yang terpisah, yaitu supernatan pada bagian atas dan pelet pada bagian bawah (Campbell 2002).

Pengenalan isolasi DNA sangatlah penting, mengingat bioteknologi pada akhir-akhir ini sangat maju. Terlebih untuk bidang biologi molekuler. Beberapa bakteri telah berhasil diintroduksi ke dalam tanaman padi, kapas, dan kedelai. Pentingnya bioteknologi untuk perkembangan keanekaragaman hayati dimasa mendatang memerlukan sebuah keterampilan dan pemikiran. Melalui isolasi DNA tersebut paling tidak akan menjadi pembelajaran bagi mahasiswa mengenai cara pengumpulan DNA dari darah sapi. Pengetahuan DNA lebih ditekankan untuk hewan, sapi perbedaan garis pada foto menunujukkan perbedaan bangsa, tampilan fisik, dan mungkin akan mengarah kepada tampilan produksi. Praktikum isolasi DNA darah sapi memang tergolong memerlukan waktu yang relatif lama, namun sebanding dengan ilmu yang diperoleh. Deteksi DNA melalui elektroforesis dapat dilakukan dengan gel agarose dan gel polyacrilamide. Namun, pada praktikum kali ini menggunakan gel agarose. Karena jumlah DNA yang hanya mencapai 10 ng mampu terdeteksi oleh gel agarose. Proses elektroforesis gagal dilakukan, waktu dan arus yang terlalu tinggi ditengarahi menjadi faktor utama kegagalan tersebut. (Prafitdhin, 2009) DNA adalah asam nukleat yang mengandung materi genetik dan berfungsi untuk mengatur perkembangan biologis seluruh bentuk kehidupan secara seluler. DNA terdapat pada nukleus, mitokondria dan kloroplas. Perbedaan di antara ketiganya adalah: DNA nukleus berbentuk linear dan berasosiasi sangat erat dengan protein histon, sedangkan DNA mitokondria dan kloroplas berbentuk sirkular dan tidak berasosiasi dengan protein histon. Selain itu, DNA mitokondria dan kloroplas memiliki ciri khas, yaitu hanya mewariskan sifat-sifat yang berasal dari garis ibu. Hal ini sangat berbeda dengan DNA nukleus yang memiliki pola pewarisan sifat dari kedua orangtua. Dilihat dari organismenya, struktur DNA prokariot berbeda dengan struktur DNA eukariot. DNA prokariot tidak memiliki protein histon dan berbentuk sirkular, sedangkan DNA eukariot berbentuk linear dan memiliki protein histon (Klug & Cummings 1994: 315--316; Raven & Johnson 2002: 94). DNA memiliki struktur pilinan utas ganda yang antiparalel dengan komponen-komponennya, yaitu gula pentosa (deoksiribosa), gugus fosfat, dan

pasangan basa. Pasangan basa pada DNA terdiri atas dua macam, yaitu basa purin dan pirimidin. 'Basa purin terdiri atas adenin (A) dan guanin (G) yang memiliki struktur cincin-ganda, sedangkan basa pirimidin terdiri atas sitosin (C) dan timin (T) yang memiliki struktur cincin-tunggal. Ketika Guanin berikatan dengan Sitosin, maka akan terbentuk tiga ikatan hidrogen, sedangkan ketika Adenin berikatan dengan Timin maka hanya akan terbentuk dua ikatan hidrogen. Satu komponen pembangun (building block) DNA terdiri atas satu gula pentosa, satu gugus fosfat dan satu pasang basa yang disebut nukleotida (Lewis 2003: 176-178). Sebuah sel memiliki DNA yang merupakan materi genetik dan bersifat herediter pada seluruh sistem kehidupan. Genom adalah set lengkap materi genetik (DNA) yang dimiliki suatu organisme dan terorganisasi menjadi kromosom. (Human Genome Project 2005: 1) DNA juga dapat diisolasi, baik pada manusia maupun pada tumbuhan. DNA manusia dapat diisolasi melalui darah. Darah manusia terdiri atas plasma darah, globulus lemak, substansi kimia (karbohidrat, protein dan hormon), dan gas (oksigen, nitrogen dan karbon dioksida). Plasma darah terdiri atas eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih) dan trombosit (platelet). Komponen darah yang diisolasi yaitu sel darah putih. Sel darah putih dijadikan pilihan karena memiliki nukleus, di mana terdapat DNA di dalamnya. DNA pada tumbuhan juga dapat diisolasi, contohnya pada tumbuhan bawang merah (Allium cepa) dan pada pisang (Musa sp.) (Kimball 2005: 8; Kent & Carr 2001: 317). Prinsip-prinsip dalam melakukan isolasi DNA ada 2, yaitu sentrifugasi dan presipitasi. Prinsip utama sentrifugasi adalah memisahkan substansi berdasarkan berat jenis molekul dengan cara memberikan gaya sentrifugal sehingga substansi yang lebih berat akan berada di dasar, sedangkan substansi yang lebih ringan akan terletak di atas. Teknik sentrifugasi tersebut dilakukan di dalam sebuah mesin yang bernama mesin sentrifugasi dengan kecepatan yang bervariasi, contohnya 2500 rpm (rotation per minute) atau 3000 rpm (Kimball 2005: 4; Lewiston 2002:1--3; LPCH 2005: 2).

Ada 5 tahap untuk melakukan isolasi DNA, yaitu: isolasi jaringan, pelisisan dinding dan membran sel, pengekstraksian dalam larutan, purifikasi, dan presipitasi, yaitu. 1. Mengisolasi jaringan yang ingin digunakan, yaitu darah. 2. Melisiskan dinding dan membran sel dengan larutan pelisis sel darah merah. Setelah dilakukan inkubasi, darah yang telah bercampur dengan pelisis sel darah merah tersebut lalu disentrifugasi selama 10 menit dengan kecepatan 2500 rpm. Selanjutnya supernatan yang terbentuk dibuang dan kemudian dilakukan ekstraksi di dalam larutan. Hal tersebut bertujuan agar didapat ekstrak nukleus sel darah putih. 3. Tahap berikutnya adalah purifikasi. Tahap ini bertujuan untuk membersihkan sel darah putih dari zat-zat lainnya, dan tahap terakhir, yaitu presipitasi bertujuan untuk mengendapkan protein histon, sehingga untai-untai DNA tidak lagi menggulung (coiling) dan berikatan dengan protein histon, yang menyebabkan DNA menjadi terlihat (Kimball 2005: 4; Lewiston 2002:1--3; LPCH 2005: 2). 4. Tahap isolasi jaringan; untuk mengisolasi jaringan sel darah putih, maka darah yang masih memiliki komponen-komponen lengkap perlu dipisahkan satu dengan lainnya sehingga yang tersisa hanya sel darah putih. Karena itu ke dalam tabung yang berisi darah diberikan larutan pelisis sel darah merah yang merupakan larutan hipotonis. Karena larutan tersebut hipotonis, maka akan terjadi hemolisis. Larutan pelisis sel darah merah terdiri atas EDTA (ethylenediamine tetraacetic acid) yang akan membentuk kompleks (chelate) dengan ion logam, seperti Mg2+ yang merupakan kofaktor DNAse. Selanjutnya tabung dibolak-balik denan gerakan memutar yang membentuk angka 8 agar larutan dapat menyatu dengan sempurna selama 10 menit. Darah yang telah bercampur dengan pelisis sel darah merah tersebut lalu disentrifugasi selama 10 menit dengan kecepatan 2500 rpm. Selanjutnya supernatan yang terbentuk dibuang. Untuk melisiskan membran sel dan membran nukleus sel darah putih yang terisolasi tadi, diberikan larutan pelisis sel darah putih yang terdiri atas EDTA dan SDS (Sodium Dodecyl Sulfate)

yang berfungsi untuk merusak lipid pada membran sel sehingga leukosit hancur (Rybicki & Purves 2005: 1; Harley 2005: 410). 5. Tahap selanjutnya yaitu purifikasi. Purifikasi bertujuan untuk membersihkan sel darah putih dari zat-zat lainnya; Ke dalam larutan tadi kemudian diberikan RNAse dan diinkubasi selama 15 menit pada suhu 37C. Hal tersebut bertujuan untuk mengoptimalkan kerja enzim yang sangat dipengaruhi oleh temperatur. Tahap berikutnya yaitu presipitasi; Tahap presipitasi dilakukan dengan cara meneteskan larutan presipitasi protein dan kemudian divortex yang bertujuan untuk menghomogenkan larutan. Larutan presipitasi protein terdiri atas amonium asetat yang jika berikatan dengan protein mengakibatkan terbentuknya senyawa baru yang memiliki kelarutan yang lebih rendah, sehingga menyebabkan protein mengendap. Larutan tersebut kemudian disentrifugasi kembali selama 15 menit dengan kecepatan 3000 rpm. Supernatan yang berisi DNA kemudian dituangkan ke dalam tabung berisi isopropanol dingin dan tabung dibolak-balik kembali dengan gerakan angka 8. Pemberian isopropanol bertujuan untuk visualisasi DNA. Selanjutnya tabung disentrifugasi kembali selama 5 menit dengan kecepatan 3000 rpm. Hasil dari sentrifugasi adalah terdapatnya pelet DNA pada dasar tabung yang kemudian ditambahkan etanol 70% dan dibolak-balik kembali. Pemberian etanol bertujuan untuk membersihkan DNA dari pengotor-pengotornya. Setelah tercampur, tabung kemudian disentrifugasi kembali selama 5 menit dengan kecepatan 3000 rpm. Hasil akhirnya adalah DNA yang berada pada tepi dasar tabung. Langkah akhirnya adalah dengan pemberian Tris-EDTA yang bertujuan untuk melarutkan kembali DNA untuk dipreservasi (Harley 2005: 409--410; Lewiston 2002: 1--2). Isolasi DNA genom tanaman memiliki prinsip yang sama dengan isolasi DNA sel darah putih. Langkah pertama adalah dengan memasukkan sampel tanaman ke dalam blender dan blender selama 5 menit. Hasil blender kemudian ditambahkan air dengan perbandingan 1:1 dan garam lalu diaduk selama 15 menit. Garam memiliki fungsi yang sama dengan SDS pada isolasi DNA genom sel darah putih, yaitu untuk memberikan kondisi ionik, sehingga reaksi berjalan lebih stabil. Campuran tersebut kemudian disaring dengan corong dan ditambahkan

isopropanol yang berfungsi untuk memvisualisasikan DNA dan menetralkan (desalted) sebab isopropanol tidak memiliki muatan, sedangkan DNA bermuatan negatif (-). Kemudian tabung dibolak-balik untuk mendapatkan DNA. Akan tetapi, setelah diberikan Tris-EDTA, yang didapat oleh praktikan hanyalah pengotor yang tidak larut di dalamnya. Hal ini dapat terjadi karena kurang teliti dalam mengerjakan proses isolasi tersebut (Harley 2005: 410). 2. Elektroforesis Elektroforesis gel merupakan suatu teknik analisis penting dan sangat sering dipakai dalam bidang biokimia dan biologi molekular. Secara prinsip, teknik ini mirip dengan kromatografi: memisahkan campuran bahan-bahan berdasarkan perbedaan sifatnya. Dalam elektroforesis gel, pemisahan dilakukan terhadap campuran bahan dengan muatan listrik yang berbeda-beda

(menggunakan prinsip dalam elektroforesis) (Wikipedia, 2011). Elektroforesis merupakan proses bergeraknya molekul bermuatan pada suatu medan listrik. Kecepatan molekul yang bergerak pada medan lisrtik tergantung pada muatan, bentuk dan ukuran.dengan demikian elektroforesis dapat di gunakan untuk separasi makromolekul (seperti protein dan asam nukleat).posisi molekul yang terseparasi pada gel dapat di deteksi dengan pewarnaan atau autoradiografi, atau pun dilakukan kuantifikasi dengan densitometer. Elektroforesis untuk makromolekul memerlukan matriks penyangga untuk mencegah terjadinya difusi karena timbulnya panas dari arus listrik yang digunakan. Gel poliakrilamid dan agarosa merupakan matriks penyangga yang banyak dipakai untuk separasi protein dan asam nukleat elektroforesis yang dibahas di bawah ini menggunakan matriks berupa gel poliakrilamida (PAGE=poli-acrilamida gel electrophoresis) untuk separasi sampel protein. Banyak molekul biologi bermuatan listrik yang besarnya tergantung pada pH dan komposisi medium dimana molekul biologi tersebut terlarut. Bila berada dalam suatu medan listrik, molekul biologi yang bermuatan positif akan bermigrasi keelektroda negatif dan sebaliknya. Prinsip inilah yang dipakai dalam elektroforesis untuk memisahkan molekul-molekul berdasarkan muatanya. Oleh karena partikel sol bermuatan listrik, maka partikel ini akan bergerak dalam

medan listrik. Pergerakan ini disebut elektroforesis. Jika sistem koloid bermuatan negative, maka pertikel itu akan menuju elktrode positif Elektroforesis merupakan pergerakan zat bermuatan listrik akibat adanya pengaruh medan listrik. Pergerakan ini dapat dijelaskan dengan gaya Lorentz, yang terkait dengan sifat-sifat dasar elektris bahan yang diamati dan kondisi elektris lingkungan: F= q.E dimana, F adalah gaya Lorentz, q adalah muatan yang dibawa oleh objek, E adalah medan listrik. Elektroferesis adalah peristiwa pergerakan partikel koloid yang bermuatan ke salah satu elektroda. Elektrotoresis dapat digunakan untuk mendeteksi muatan partikel koloid. Jika partikel koloid berkumpul di elektroda positif berarti koloid bermuatan negatif dan jika partikel koloid berkumpul di elektroda negatif berarti koloid bermuatan positif.

Gambar 1. Rangkaian proses elektroforesis gel

Elektroforesis gel merupakan salah satu teknik utama dalam biologi molekular. Prinsip dasar teknik ini adalah bahwa DNA, RNA, atau protein dapat dipisahkan oleh medan listrik. Dalam hal ini, molekul-molekul tersebut dipisahkan berdasarkan laju perpindahannya oleh gaya gerak listrik di dalam matriks gel. Laju perpindahan tersebut bergantung pada ukuran molekul bersangkutan. Elektroforesis gel biasanya dilakukan untuk tujuan analisis, namun dapat pula digunakan sebagai teknik preparatif untuk memurnikan molekul sebelum digunakan dalam metode-metode lain seperti spektrometri massa, PCR, kloning, sekuensing DNA, atau immuno-blotting yang merupakan metode-metode karakterisasi lebih lanjut. Elektroforesis gel merupakan suatu teknik analisis penting dan sangat sering dipakai dalam bidang biokimia dan biologi molekular. Secara prinsip, teknik ini mirip dengan kromatografi: memisahkan campuran bahan-bahan berdasarkan perbedaan sifatnya. Dalam elektroforesis gel, pemisahan dilakukan terhadap campuran bahan dengan muatan listrik yang berbeda-beda

(menggunakan prinsip dalam elektroforesis Gel yang digunakan biasanya merupakan polimer bertautan silang (crosslinked) yang porositasnya dapat diatur sesuai dengan kebutuhan. Untuk memisahkan protein atau asam nukleat berukuran kecil (DNA, RNA, atau oligonukleotida), gel yang digunakan biasanya merupakan gel poliakrilamida, dibuat dengan konsentrasi berbeda-beda antara akrilamida dan zat yang memungkinkan pertautan silang (cross-linker), menghasilkan jaringan

poliakrilamida dengan ukuran rongga berbeda-beda. Untuk memisahkan asam nukleat yang lebih besar (lebih besar dari beberapa ratus basa), gel yang digunakan adalah agarosa (dari ekstrak rumput laut) yang sudah dimurnikan. Dalam proses elektroforesis, sampel molekul ditempatkan ke dalam sumur (well) pada gel yang ditempatkan di dalam larutan penyangga, dan listrik dialirkan kepadanya. Molekul-molekul sampel tersebut akan bergerak di dalam matriks gel ke arah salah satu kutub listrik sesuai dengan muatannya. Dalam hal asam nukleat, arah pergerakan adalah menuju elektroda positif, disebabkan oleh muatan negatif alami pada rangka gula-fosfat yang dimilikinya. Untuk menjaga agar laju perpindahan asam nukleat benar-benar hanya berdasarkan ukuran (yaitu

panjangnya), zat seperti natrium hidroksida atau formamida digunakan untuk menjaga agar asam nukleat berbentuk lurus. Sementara itu, protein didenaturasi dengan deterjen (misalnya natrium didesil sulfat, SDS) untuk membuat protein tersebut berbentuk lurus dan bermuatan negatif. Setelah proses elektroforesis selesai, dilakukan proses pewarnaan (staining) agar molekul sampel yang telah terpisah dapat dilihat. Etidium bromida, perak, atau pewarna "biru Coomassie" (Coomassie blue) dapat digunakan untuk keperluan ini. Jika molekul sampel berpendar dalam sinar ultraviolet (misalnya setelah "diwarnai" dengan etidium bromida), gel difoto di bawah sinar ultraviolet. Jika molekul sampel mengandung atom radioaktif, autoradiogram gel tersebut dibuat. G. Data dan Analisis Data Berdasarkan pada data yang didapat, yakni foto hasil elektroforesis dapat dilihat tidak adanya pita-pita yang muncul pada gel yang dipakai untuk proses elektroforesis. Berikut adalah foto gel hasil elektroforesis.

Gambar 2. Menuangkan agarose ke elektroforesis dengan menggunakan mikropipet

Gambar 3. Foto hasil elektroforesis untuk mengecek keberadaan DNA Gambar di atas menunjukkan tidak adanya pita-pita berwatna putih yang terbentuk. Dari kondisi ini dapat dilihat kalau proses isolasi yang dilakukan tidak berhasil. Tidak adanya pita menunjukkan tidak adanya DNA pada sumuran yang ada dalam gel elektroforesis. Pada saat diberi etanol absolut baru tampak adanya benang-benang berwarna putih seperti kabut. Dugaan awal yang muncul adalah bahwa benangbenang tersebut merupakan DNA, karena DNA dapat terpresipitasi di dalam alcohol absolute dingin. Namun ternyat setelah dilakukan elektroforesis ternyata tidak muncul pita-pita DNA. Berarti kemungkinan yang muncul sebagai benang ketika diberi Etanol bukan DNA melainkan pengotornya saja. Keberadaan DNA seharusnya ditunjukkan dengan adanya band atau pita berwarna putih ketika gel disinari dengan sinar ultraviolet. Pada gel dapat muncul warna putih karena DNA telah berikatan dengan EtBr, dan EtBr memiliki sifat dapat berpendar ketika disinari dengan sinar ultra violet. H. Pembahasan Hasil analisis data menunjukkan bahwa proses isolasi DNA berhasil dilaksanakan. Keberhasilan ini dapat dilihat dari adanya terbentuknya pita-pita DNA pada gel agarose ketika dilakukan pengamatan di gell doc.

Perpindahan molekul DNA dari medan listrik negatif ke arah positif terjadi ketika DNA di running pada proses elektroforesis. Cara deteksi DNA dilakukan dengan menggunakan media gel agarosa. Isolat DNA sebelum dimasukkan ditambahkan bahan kimia berupa loading dye agar warnanya memudahkan pemindaian. Sehingga terlihat sampai dimana DNA tersebut berjalan memintas gel agarose. Foto pada data diambil menggunakan kamera yang dibantu dengan penyinaran Ultra Violet (UV). Namun pita DNA tidak muncul. Menurut Prafitdhin (2009), tidak adanya pita DNA ini dapat diakibatkan oleh waktu perendaman yang terlalu lama pada TBE 1X dengan alat elektroforesis, maka DNA gagal berada di gel agarose. DNA terus menembus gel tersebut hingga keluar dari gel. Akibatnya tidak ada satu pun garis cahaya yang muncul pada gel.

I. Diskusi Fungsi kemikalia yang dipakai dalam kegiatan isolasi DNA 1. Tris-HCl: sebagai buffer elusion 2. EDTA: sebagai pengikat ion Mg2+ yang merupakan kofaktor enzim endonuklease 3. NaCl: sebagai pengokat DNA, Na+ dapat mengikat DNA yang bermuatan negatif 4. SDS: deterjen yang berfungsi untuk melisiskan membran sel karena mengikat molekul lipid yang ada pada mebran sehingga membrane akan rusak. 5. Alkohol 96%: untuk mempresipitasi DNA 6. Alkohol 70% untuk mencuci DNA dari berbagai kemikalia yang mungkin tersisa selama proses isolasi DNA

J. Daftar Rujukan Isolasi DNA http://asris07.student.ipb.ac.id/2010/06/19/isolasi-dna/ Suropeji. 2009. Isolasi DNA. (on line) http://suropeji.com/isolasidna/#ixzz1g8uB6PgB. Diakses 13 Desember 2011.

Prafitdhin, Achmad. 2009. Isolasi DNA, Polymerase Chain reaction (PCR), dan deteksi DNA melalui Elektroforesis. (on line) http://prafitdhinachmad.blogspot.com/2010/02/isolasi-dna-polymerase-chainreaction.html. diakses tanggal 16 Desember 20011.

ISOLASI DNA KERBAU


LAPORAN PRAKTIKUM BIOTEKNOLOGI
Untuk memenuhi tugas terstruktur matakuliah Bioteknologi yang dibimbing oleh Dr.agr. M. Amin, S.Pd., M.Si., Dr. Ummie Lestari M.Si., dan Dr. Endang Suarsini M.Ked

Disusun Oleh Nur Ismirawati 100341507516 Off B

UNIVERSITAS NEGERI MALANG PROGRAM PASCASARJANA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI Desember 2011