Anda di halaman 1dari 33

ANALISIS DATA PERCEPATAN TANAH MAKSIMUM UNTUK WILAYAH PULAU JAWA DENGAN METODE MC. GUIRRE R.

LAPORAN PKL (PRAKTEK KERJA LAPANGAN ) SEMESTER GANJIL TAHUN AKADEMIK 2011/2012

Lailatul Khusnah

(NIM. 09640033)

JURUSAN FISIKA FAKULTAS SAINS DAN TEHNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2012

ANALISIS DATA PERCEPATAN TANAH MAKSIMUM UNTUK WILAYAH PULAU JAWA DENGAN METODE MC. GUIRRE R.K LAPORAN PKL (PRAKTEK KERJA LAPANGAN ) SEMESTER GANJIL TAHUN AKADEMIK 2011/2012 Oleh: Lailatul Khusnah (NIM. 09640033)

Telah disetujui dan disahkan Pada tanggal: .,...,2012

Pembimbing Fakultas,

Pembimbing Lapangan,

Imam Tazi, M.Si NIP.19761003 200312 1004

Muhammad Aji Permana NIP.19880710 200911 1001

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan wilayah yang dilalui oleh tiga lempeng tektonik dunia yaitu lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. Lempeng IndoAustralia dan lempeng Eurasia bertemu di sepanjang barat Sumatra, selatan Jawa, selatan Nusa Tenggara, dan berakhir di Laut Banda. Sedangkan lempeng Eurasia dan lempeng Pasifik bertemu di sepanjang Laut Maluku dan berakhir di Laut Banda. Selain 3 lempeng tersebut, di Indonesia juga banyak terdapat sesar atau patahan lokal aktif yang sering menimbulkan gempa bumi. Tatanan tektonik yang demikian menyebabkan Indonesia menjadi salah satu negara yang mempunyai aktifitas seismik yang tinggi. Karena sumber gempa biasanya terletak pada batas antara dua lempeng yang bergerak relatif satu dengan yang lain. Benturan atau subduksi antara dua lempeng dapat menyebabkan terbentuknya deretan gunung berapi dan parit samudra. Interaksi lempeng tersebut juga dapat berakibat timbulnya gempa, tsunami, dan meningkatnya kenaikan magma ke permukaan. Hal inilah yang menyebabkan sebagian (keseluruhan) daerah di Indonesia sering mengalami peristiwa gempa bumi. Wilayah Indonesia yang mengalami gempa bumi dengan frekuensi tinggi adalah wilayah Indonesia yang berdekatan dengan zona subduksi lempengan yang aktif yang biasa disebut zona seismik. Zona seismik merupakan kawasan yang rawan gempa bumi dengan hazard seismisitas yang tinggi karena letaknya yang berada disekitar perbatasan lempeng atau di daerah sesar aktif. Setiap gempa yang terjadi akan menimbulkan satu nilai percepatan tanah pada suatu tempat (site). Nilai Percepatan tanah yang akan diperhitungkan pada perencanaan bangunan adalah nilai percepatan tanah maksimum.

Meskipun gempabumi yang kuat tidak sering terjadi tetapi tetap sangat membahayakan kehidupan manusia. Salah satu hal yang penting dalam penelitian seismologi adalah mengetahui kerusakan akibat getaran gempabumi terhadap bangunan-bangunan di setiap tempat. Hal ini diperlukan untuk menyesuaikan kekuatan bangunan yang akan dibangun di daerah tersebut. Bangunan-bangunan yang mempunyai kekuatan luar biasa dapat saja dibuat, sehingga bila terjadi gempabumi yang bagaimanapun kuatnya tidak akan mempunyai tanggapan / reaksi yang tidak sama terhadap kekuatan gempabumi. Nilai percepatan tanah dapat dihitung langsung dengan seismograf khusus yang disebut strong motion seismograph atau accelerograf. Namun karena begitu pentingnya nilai percepatan tanah dalam menghitung koefisien seismik untuk bangunan tahan gempa, sedangkan jaringan accelerograf tidak lengkap baik dari segi periode waktu maupun tempatnya, maka perhitungan empiris sangat perlu dibuat. Oleh sebab itu untuk keperluan bangunan tahan gempa harga percepatan tanah dapat dihitung dengan cara pendekatan dari data historis gempabumi. Perkembangan tektonik pulau Jawa dapat dipelajari dari pola-pola struktur geologi dari waktu ke waktu. Struktur geologi yang ada di pulau Jawa memiliki polapola yang teratur. Secara geologi pulau Jawa merupakan suatu komplek sejarah penurunan basin, pensesaran, perlipatan dan vulkanisme di bawah pengaruh stress regime yang berbeda-beda dari waktu ke waktu. Pulau Jawa berada di tepi tenggara Daratan Sunda (Sundaland). Pada Daratan Sunda ini terdapat dua sistem gerak lempeng; Lempeng Laut Cina Selatan di utara dan Lempeng Samudera Hindia di selatan. Lempeng Laut Cina Selatan bergerak ke tenggara sejak Oligosen (Longley, 1997), sedangkan Lempeng Samudera Hindia yang berada di selatan bergerak ke utara sejak Mesozoikum dan menunjam ke bawah sistem busur kepulauan Sumatra dan Jawa. Untuk Pulau Jawa, yang terbesar pengaruhnya adalah sistem gerak Lempeng Samudera Hindia. Oleh karena itu dalam mempelajari evolusi tektonik Pulau Jawa

perlu dipahami perkembangan pemekaran lantai Samudera Hindia dari waktu ke waktu. 1.2 Rumusan Masalah Permasalahan dalam penelitian ini adalah meneliti besarnya nilai percepatan
tanah maksimum di wilayah Pulau Jawa dan sekitarnya dengan menggunakan model empiris Mc. Guirre R.K dan menggambarkan hasil kontur percepatan tanah.

1.3 Tujuan Masalah


Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang harga percepatan tanah maksimum pada struktur permukaan di wilayah Pulau Jawa dan sekitarnya serta mengetahui daerah daerah yang rawan terhadap bencana khususnya gempabumi.

1.4 Batasan masalah Pada laporan kerja lapangan ini, penulis hanya membatasi masalah untuk membuat peta kontur percepatan tanah gempabumi dengan menggunakan software GIS yang disebabkan oleh beberapa gempa yang terjadi pada tahun 2001-2010 di wilayah Pulau Jawa dan sekitarnya dengan batas wilayah 4.5 LU 4.5 LS dan 105 BT - 115 BT .

1.5 Manfaat penelitian Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan informasi kepada masyarakat tentang berapa besarnya nilai percepatan tanah maksimum di wilayah Pulau Jawa dan sekitarnya serta memberikan informasi tentang daerah-daerah yang rawan terhadap bencana khususnya gempa bumi.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Kerangka Tektonik Pulau Jawa Pulau jawa merupakan pulau terbesar ke-13 dunia dari pulau-pulau yang terpadat di dunia, kondisi geografis Pulau Jawa hampir seluruhnya berasal dari vulkanik, mengandung 38 pegunungan, beberapa dari mereka adalah gunung berapi aktif. Secara garis besar perkembangan tektonik Pulau Jawa tidak berbeda banyak dengan perkembangan Pulau Sumatra. Hal ini disebabkan disamping keduanya masih merupakan bagian dari batas tepi lempeng Mikro Sunda, juga karena masih berada dalam sistim yang sama, yaitu interaksi konvergen antara lempeng India-Australia dan Lempeng Eurasia demgam lempeng Mikro Sunda. Perbedaan utama dalam pola interaksi ini terletak pada arah mendekatnya lempeng India-Australia ke lempeng Sunda. Di Jawa, arah tersebut hadir hampir tegak lurus. Unsur-unsur tektonik yang membentuk Pulau Jawa adalah: 1. Jalur subduksi Kapur-Paleosen yang memotong Jawa Barat, Jawa Tengah dan terus ke timur laut menuju Kalimantan Tenggara. 2. Jalur magma kapur di bagian utara Pulau Jawa. 3. Jalur magma Tersier yang meliputi sepanjang pulau terletak agak ke bagian selatan. 4. Jalur subduksi Tersier yang menempati punggungan bawah laut di selatan pulau Jawa. 5. Palung laut yang terletak di selatan pulau Jawa dan merupakan batas dimana lempeng/ kerak samudra menyusup ke bawah pulau Jawa (jalur subduksi sekarang).

Secara geografis Indonesia terletak di daerah khatulistiwa dengan morfologi yang beragam dari daratan sampai pegunungan tinggi. Keragaman morfologi ini banyak dipengaruhi oleh faktor geologi terutama dengan adanya aktifitas pergerakan 3 batas pertemuan lempeng besar tektonik aktif (triple junction plate convergence) di sekitar perairan Indonesia, diantaranya adalah lempeng Eurasia yang bergerak relatif ke tenggara, lempeng Indo-Australia yang bergerak relatif ke utara dan lempeng Dasar Samudera Pasifik (lempeng Pasifik) yang bergerak relatif ke barat. Pergerakan lempeng-lempeng tektonik tersebut menyebabkan terbentuknya jalur gempabumi, rangkaian gunung api aktif serta patahan-patahan geologi yang merupakan zona rawan bencana gempabumi dan tanah longsor.

2.2 GEMPABUMI Gempabumi merupakan suatu patahan yang terjadi tiba tiba pada suatu kedalaman tertentu didalam bumi kemudian menghasilkan gelombang elastic yang menjalar didalam bumi yang akan menggetarkan permukaan bumi dan bangunan

yang ada di atasnya. Seorang seismolog Amerika, Reid (Bullen, 1965 ; Bolt, 1998) mengemukakan suatu teori yang menjelaskan mengenai bagaimana umumnya gempabumi terjadi. Teori ini dikenal dengan nama Elastic Rebound Theory. Menurut teori ini gempabumi terjadi pada daerah yang mengalami deformasi. Energi yang tersimpan dalam deformasi berbentuk elastis strain dan akan terakumulasi sampai daya dukung batuan mencapai batas maksimum, hingga akhirnya menimbulkan rekahan atau patahan.

Gambar 2.2 mekanisme gempa bumi Gempa bumi juga memiliki pengertian umum sebagai sentakan asli dari bumi yang bersumber di dalam bumi yang merambat melalui permukaan bumi dan menembus bumi. Gempa bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng bumi). Bumi kita walaupun padat, selalu bergerak, dan gempa bumi terjadi apabila tekanan yang terjadi karena pergerakan itu sudah terlalu besar untuk dapat ditahan.Terdapat dua teori yang menyatakan proses terjadinya atau asal mula gempa yaitu pergeseran sesar dan teori kekenyalan elastis. Gerak tiba tiba sepanjang sesar merupakan penyebab yang sering terjadi. Namun demikian gempa yang seringkali terjadi dan menimbulkan banyak kerusakan karena skalanya yang besar adalah gempa bumi tektonik. Gempa ini terjadi akibat adanya pergerakan lempeng tektonik di bagian kulit bumi yang tersusun atas material kaku, bergerak dengan arah dan kecepatan yang berbeda. Sedangkan pergerakan lempeng tersebut diakibatkan oleh adanya arus konveksi yang terjadi karena proses termal dan gravitasional.

Gambar 2. Teori arus konveksi pada lempeng tektonik

Apabila dua buah lempeng tektonik bertumbukan, maka terjadi tegangan di daerah perbatasan tersebut. Efek dari teori elastisitas berawal dari peristiwa ini, yakni jika tegangan tersebut melampaui batas ketahanan kulit bumi, maka akan terjadi patahan pada kulit bumi di daerah terlemah, sehingga terjadi pelepasan energy sebagian atau seluruhnya untuk kembali ke keadaan semula. Peristiwa pelepasan energi inilah yang nantinya menjalar sampai ke permukaan bumi sebagai gelombang gempa bumi.

2.2.1

Teori Lempeng Tektonik Menurut teori Lempeng Tektonik, lapisan terluar bumi kita terbuat dari suatu

lempengan tipis dan keras yang masing-masing saling bergerak relatif terhadap yang lain. Gerakan ini terjadi secara terus-menerus sejak bumi ini tercipta hingga sekarang. Teori Lempeng Tektonik muncul sejak tahun 1960-an, dan hingga kini teori ini telah berhasil menjelaskan berbagai peristiwa geologis, seperti gempa bumi, tsunami, dan meletusnya gunung berapi, juga tentang bagaimana terbentuknya gunung, benua, dan samudra.

Lempeng tektonik terbentuk oleh kerak benua ataupun kerak samudra, dan lapisan batuan teratas dari mantel bumi. Kerak benua dan kerak samudra, beserta lapisan teratas mantel ini dinamakan litosfer. Kepadatan material pada kerak samudra lebih tinggi dibanding kepadatan pada kerak benua. Demikian pula, elemen-elemen zat pada kerak samudra lebih berat dibanding elemen-elemen pada kerak benua. Di bawah litosfer terdapat lapisan batuan cair yang dinamakan astenosfer. Karena suhu dan tekanan di lapisan astenosfer ini sangat tinggi, batu-batuan di lapisan ini bergerak mengalir seperti cairan (fluid). Litosfer terpecah ke dalam beberapa lempeng tektonik yang saling bersinggungan satu dengan lainnya. Berikut adalah nama-nama lempeng tektonik yang ada di bumi, dan lokasinya bisa dilihat pada Peta Tektonik. Berdasarkan arah pergerakannya, perbatasan antara lempeng tektonik yang satu dengan lainnya terbagi dalam 3 jenis, yaitu divergen, konvergen, dan transform. Selain itu ada jenis lain yang cukup kompleks namun jarang ditemukan, yaitu pertemuan simpang tiga (triple junction) dimana tiga lempeng kerak bertemu. 1. Batas Divergen Terjadi pada dua lempeng tektonik yang bergerak saling memberai / saling menjauh. Ketika sebuah lempeng tektonik pecah, lapisan litosfer menipis dan terbelah, membentuk batas divergen. Pada lempeng samudra, proses ini menyebabkan pemekaran dasar laut. Sedangkan pada lempeng benua, proses ini menyebabkan terbentuknya lembah retakan akibat adanya celah antara kedua lempeng yang saling menjauh tersebut. Pematang Tengah-Atlantik adalah salah satu contoh divergensi yang paling terkenal, membujur dari utara ke selatan di sepanjang Samudra Atlantik, membatasi Benua Eropa dan Afrika dengan Benua Amerika. 2. Batas Konvergen Terjadi apabila dua lempeng tektonik tertelan ke arah kerak bumi, yang mengakibatkan keduanya bergerak saling menumpu / saling mendekat satu sama lain Wilayah dimana suatu lempeng samudra terdorong ke bawah lempeng benua atau lempeng samudra lain disebut dengan zona tunjaman. Di zona tunjaman inilah sering
10

terjadi gempa. Pematang gunung-api (volcanic ridges) dan parit samudra (oceanic trenches) juga terbentuk di wilayah ini. 3. Batas Transform Terjadi bila dua lempeng tektonik bergerak saling menggelangsar / bergerak salah satu relatif secara horizontal, yaitu bergerak sejajar namun berlawanan arah. Keduanya tidak saling memberai maupun saling menumpu. Batas transform ini juga dikenal sebagai sesar ubahan-bentuk (transform fault). Jadi jelas bahwa pada batas konvergenlah yang sangat menunjang terjadinya gempa tektonik yang sangat sering melanda Indonesia. Oleh karena hanya pada batas inilah kedua lempeng tektonik dapat saling bertumbukan dan menimbulkan gelombang gempa. Negeri kita tercinta berada di dekat batas lempeng tektonik Eurasia dan IndoAustralia. Jenis batas antara kedua lempeng ini adalah konvergen. Lempeng IndoAustralia adalah lempeng yang menunjam ke bawah lempeng Eurasia. Selain itu di bagian timur, bertemu 3 lempeng tektonik sekaligus, yaitu lempeng Philipina, Pasifik, dan Indo-Australia yang disebut sebagai triple junction.
2.2.2 Jenis Jenis Gempabumi

1) Menurut proses terjadinya gempabumi, gempabumi dapat digolongkan menjadi empat jenis, yaitu : a. Gempabumi Vulkanik ( Gunung Api ) Gempa bumi ini terjadi akibat adanya aktivitas magma, yang biasa terjadi sebelum gunung api meletus. Apabila keaktifannya semakin tinggi maka akan menyebabkan timbulnya ledakan yang juga akan menimbulkan terjadinya gempabumi. Gempabumi tersebut hanya terasa di sekitar gunung api tersebut. b. Gempabumi Tektonik Gempabumi ini disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik, yaitu pergeseran lempeng lempeng tektonik secara mendadak yang mempunyai kekuatan dari yang sangat kecil hingga yang sangat besar. Gempabumi ini banyak menimbulkan kerusakan atau bencana alam di bumi, getaran gempa bumi yang kuat mampu menjalar keseluruh bagian bumi.

11

c.

Gempabumi Runtuhan Gempabumi ini biasanya terjadi pada daerah kapur ataupun pada daerah

pertambangan, gempabumi ini jarang terjadi dan bersifat lokal. d. Gempabumi Buatan Gempa bumi buatan adalah gempa bumi yang disebabkan oleh aktivitas dari manusia, seperti peledakan dinamit, nuklir atau palu yang dipukulkan ke permukaan bumi. 2) Menurut kedalaman sumber gempa, gempabumi dapat digolongkan atas : Gempa dangkal, yaitu gempabumi dengan kedalaman ( h ) 0 60 km Gempa menengah, yaitu gempabumi dengan kedalaman ( h ) 60 300 km Gempa dalam, yaitu gempabumi dengan kedalaman ( h ) > 300 km

2.2.3

Parameter Gempabumi

Parameter dasar gempabumi antara lain : a. Origin Time Origin Time merupakan waktu kejadian gempabumi, yaitu waktu terlepasnya akumulasi tegangan yang berbentuk penjalaran gelombang gempabumi. b. Magnitude Magnitude yaitu ukuran kekuatan gempabumi, berdasarkan energi yang dilepaskan dipusat gempabumi (hiposenter) dan merupakan hasil rekaman seismograf. Magnitude dinyatakan dalam Skala Richter. c. Jarak Episenter dan Hiposenter Hiposenter adalah daerah di dalam lapisan kulit bumi, dimana deformasi / patahan terjadi. Sedangkan episenter merupakan titik pada permukaan bumi yang merupakan proyeksi tegak lurus dari titik pusat gempabumi (hiposenter). Di peta biasanya digambar dengan sebuah titik koordinat, tetapi sebenarnya adalah suatu kawasan yang cukup luas.

12

d. Kedalaman sumber gempa (h) Kedalaman sumber gempa (h) adalah jarak dari titik fokus gempa (hiposenter) dengan permukaan diatas fokus (episenter).

2.3 GELOMBANG SEISMIK 2.3.1 Tipe Dasar Dan Sifat Utama Gelombang seismik adalah gelombang elastik yang menjalar ke seluruh bagian dalam bumi dan melalui permukaan bumi, akibat adanya lapisan batuan yang patah secara tiba tiba atau adanya suatu ledakan. Gelombang utama gempa bumi terdiri dari dua tipe yaitu gelombang body (Body Wave) dan gelombang permukaan (Surface Waves). Gelombang Body (Body Waves) Gelombang body merupakan gelombang yang menjalar melalui bagian dalam bumi dan biasa disebut free wave karena dapat menjalar ke segala arah di dalam bumi. Gelombang body terdiri atas gelombang primer dan gelombang sekunder. Gelombang primer merupakan gelombang longitudinal atau gelombang kompresional, gerakan partikelnya sejajar dengan arah perambatannya. Sedang gelombang sekunder merupakan gelombang transversal atau gelombang shear, gerakan partikelnya terletak pada suatu bidang yang tegak lurus dengan arah penjalarannya. Gelombang kompresional disebut gelombang primer (P) karena kecepatannya paling tinggi diantara gelombang yang lain dan tiba pertama kali.

Gambar 2.3 Gelombang Primer

13

Sedang gelombang shear disebut gelombang sekunder (S) karena tiba yang kedua setelah gelombang P. Gelombang sekunder terdiri dari dua komponen, yaitu gelombang SH dengan gerakan partikel horizontal dan gelombang SV dengan gerakan partikel vertikal.

Gambar 2.4 Gelombang Sekunder Gelombang Permukaan (Surface Waves)

Gelombang permukaan merupakan gelombang elastik yang menjalar sepanjang permukaan bumi dan biasa disebut sebagai tide waves. Karena gelombang ini terikat harus menjalar melalui suatu lapisan atau permukaan. Gelombang permukaan terdiri dari: 1. Gelombang Love (L) dan gelombang Rayleigh (R), yang menjalar melalui permukaan bebas dari bumi. Gelombang L gerakan partikelnya sama dengan gelombang SH dan memerlukan media yang berlapis. Gelombang R lintasan gerak partikelnya merupakan suatu ellips. Bidang ellips ini vertikal dan berimpit dengan arah penjalarannya. Gerakan partikelnya ke belakang (bawah maju atas mundur). Gelombang R menjalar melalui permukaan media yang homogen. 2. Gelombang Stonely, arah penjalarannya seperti gelombang R tetapi menjalar melalui batas antara dua lapisan di dalam bumi. 3. Gelombang Channel, yaitu gelombang yang menjalar melalui lapisan yang berkecepatan rendah (low velocity layer) di dalam bumi. Gelombang permukaan yang banyak tercatat pada seismogram adalah gelombang Love dan gelombang Rayleigh.

14

Dari hasil pengamatan diperoleh dua ketentuan utama yang menunjukkan bahwa bagian bumi berlapis-lapis dan tidak homogen, yaitu : Adanya gelombang Love ; gelombang ini tidak dapat menjalar

padanpermukaan suatu media yang kecepatannya naik terhadap kedalaman. Adanya perubahan dispersi kecepatan (velocity dispersion).

Gambar 2.5 (a) Gelombang Rayleigh, (b) Gelombang Love, (c) Gelombang Rayleigh dan Gelombang Love Gelombang L dan R tidak datang bersama-sama pada suatu stasiun, tetapi gelombang yang mempunyai periode lebih panjang akan datang lebih dahulu. Dengan kata lain gelombang yang panjang periodenya mempunyai kecepatan yang tinggi.

2.4 TEORI PERCEPATAN TANAH 2.4.1 Percepatan Tanah

Parameter getaran gelombang gempa yang dicatat oleh seismograf umumnya adalah simpangan kecepatan atau velocity dalam satuan kine (cm/dt). Selain velocity tentunya parameter yang lain seperti displacement (simpangan dalam satuan micrometer) dan acceleration (percepatan dalam satuan gal atau cm/dt2) juga dapat ditentukan. Parameter percepatan gelombang seismik atau sering disebut percepatan

15

tanah merupakan salah satu parameter yang penting dalam seismologi teknik atau earthquakes engineering. Besar kecilnya percepatan tanah tersebut menunjukkan resiko gempa bumi yang perlu diperhitungkan sebagai salah satu bagian dalam perencanaan bangunan tahan gempa. Perpindahan materi dalam penjalaran gelombang seismik biasa disebut displacement. Jika kita lihat waktu yang diperlukan untuk perpindahan tersebut, maka kita bisa tahu kecepatan materi tersebut. Sedangkan percepatan adalah parameter yang menyatakan perubahan kecepatan mulai dari keadaan diam sampai pada kecepatan tertentu. Jadi percepatan tanah merupakan perubahan kecepatan gelombang gempa yang sampai dipermukaan bumi. Pada bangunan yang berdiri di atas tanah memerlukan kestabilan tanah tersebut agar bangunan tetap stabil. Percepatan gelombang gempa yang sampai di permukaan bumi disebut juga percepatan tanah, merupakan parameter yang perlu dikaji untuk setiap gempa bumi, kemudian dipilih percepatan tanah maksimum atau Peak Ground Acceleration (PGA) untuk dipetakan agar bisa memberikan pengertian tentang efek paling parah yang pernah dialami suatu lokasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya nilai percepatan tanah pada suatu tempat, antara lain : magnitude gempa kedalaman hiposenter jarak episenter kondisi tanah Semakin besar magnitude suatu gempa berarti besar energi yang dipancarkan dari sumber gempa tersebut semakin besar, sehingga percepatan permukaan tanah yang timbul juga semakin besar pula. Semakin dalam hiposenter dan semakin jauh jarak episenter maka percepatan permukaan tanah yang timbul menjadi semakin kecil. Faktor lain yang juga menentukan besarnya percepatan permukaan tanah yaitu tingkat kepadatan tanah di tempat tersebut. Jadi, percepatan permukaan tanah yang

16

timbul berbanding lurus dengan magnitude dan berbanding terbalik dengan jarak episenter, kedalaman hiposenter, dan kepadatan tanah.

2.4.2 Percepatan Tanah Maksimum Setiap gempa yang terjadi akan menimbulkan satu nilai percepatan tanah pada suatu tempat (site). Nilai Percepatan tanah yang akan diperhitungkan pada perencanaan bangunan adalah nilai percepatan tanah maksimum. Percepatan tanah maksimum adalah nilai terbesar percepatan tanah pada suatu tempat akibat getaran gempa bumi dalam periode waktu tertentu. Meskipun gempa bumi yang kuat tidak sering terjadi tetapi tetap sangat membahayakan kehidupan manusia. Salah satu hal yang penting dalam penelitian seismologi adalah mengetahui kerusakan akibat getaran gempa bumi terhadap bangunan-bangunan di setiap tempat. Hal ini diperlukan untuk menyesuaikan kekuatan bangunan yang akan dibangun di daerah tersebut. Semakin besar nilai PGA yang pernah terjadi disuatu tempat, semakin besar risiko gempabumi yang mungkin terjadi. Nilai percepatan tanah yang akan diperhitungkan adalah nilai percepatan tanah maksimum. Efek primer pada kejadian gempabumi adalah kerusakan struktur bangunan baik gedung bertingkat, fasilitas umum, jembatan dan infrastruktur struktur lainnya, yang diakibatkan oleh getaran yang ditimbulkannya. Secara garis besar, tingkat kerusakan yang mungkin terjadi tergantung dari kekuatan dan kualitas bangunan, kondisi geologi daerah tersebut, geotektonik lokasi bangunan, dan percepatan tanah di lokasi dimana terjadi getaran suatu gempabumi. Pengukuran percepatan tanah dengan cara empiris dapat dilakukan dengan pendekatan dari beberapa rumus yang diturunkan dari magnitude gempa atau / dan data intensitas. Perumusan ini tidak selalu benar, bahkan dari satu metode ke metode lainnya tidak selalu sama, namun cukup memberikan gambaran umum tentang percepatan tanah maksimum atau Peak Ground Acceleration (PGA).

17

2.4.3 Perhitungan Percepatan Tanah Untuk mendapatkan nilai percepatan tanah pada suatu daerah dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Pengukuran Langsung dengan Accelerograph Accelerograph merupakan instrumen yang terdiri dari accelerometer dan accelerogram. Accelerometer adalah sensor yang digunakan untuk mengukur percepatan tanah dari gelombang seismik, sedangkan accelerogram merupakan rekaman dari percepatan tersebut. Accelerograph dipasang pada lokasi pengamatan untuk mengukur percepatan tanah yang diakibatkan oleh gempabumi di sekitar lokasi tersebut. Namun, jaringan accelerograph di Indonesia belum efektif dan jumlahnya masih terlalu sedikit bila dibandingkan dengan negaranegara lain seperti Jepang, Amerika dan Cina. 2. Perhitungan Menggunakan Metode Empiris Pengukuran percepatan tanah menggunakan metode empiris dapat dilakukan dengan pendekatan dari beberapa rumus yang diturunkan dari parameter-parameter gempabumi, rumus -rumus tersebut antara lain : Rumus Richter = 1.5 (M - 0.5) log = I / 3 - 0.5.(2.4-1)

Dimana M adalah magnitude, O I adalah intensitas pada tempat yang akan dicari dan a adalah percepatan tanah pada tempat yang dicari dalam satuan cm/ Rumus Murphy dan OBrein log a = 0.14 I + 0.24M - 0.68 log + 0.7....(2.4-2) Dimana a adalah percepatan tanah pada tempat yang akan dicari, I adalah intensitas gempa pada tempat yang akan dicari, M adalah magnitude dan adalah jarak episenter dalam km. Rumus Donovan = 1080( )/ ......(2.4-3) atau gal.

18

Di mana a adalah percepatan, M adalah magnitude dan r adalah jarak hiposenter dalam satuan km. Rumus Esteva = 5600( )/ .............................(2.4-4)

Di mana a adalah percepatan, M adalah magnitude dan r adalah jarak hiposenter dalam satuan km. Rumus Mc.Guirre R.K (1963)

= 472.3
dengan :

...(2.4-5)

= percepatan tanah pada permukaan (gal) M = magnitude permukaan (SR) R = jarak hiposenter (km) R = = Jarak episenter (km) h = kedalaman sumber gempa (km) Metode Kawashumi (1950) Log = M -5.45-0.00084(R-100) +(Log100/ R)(1/0.4342)...(2.4-6) dengan : = percepatan tanah pada permukaan (gal) M = magnitudo gelombang permukaan (SR) R = jarak hiposenter (km) R= = jarak episenter (km) h = kedalaman sumber gempa (km) Bila magnitude gelombang permukaan (Ms) tidak diketahui dan hanya diketahui magnitude gelombang bodi (mb), Ms dapat dihitung dengan menggunakan rumusan empiris hubungan antara Ms dan mb. Ms = 1.59mB 3.97.....(2.4-7)

19

dimana: Ms = magnitudo gelombang permukaan mb = magnitudo gelombang body

Dalam penulisan laporan kerja ini penulis hanya menggunakan rumus empiris Mc. Guirre R.K. (1963), yaitu :

..............................................(2.4-8) dimana: = percepatan tanah permukaan (gal) Ms = magnitudo gelombang permukaan R = jarak hiposenter (km) 2.4.4 Pengaruh Percepatan Tanah Maksimum Terhadap Bangunan Ketika terjadi gempabumi, timbul getaran yang disebut gelombang seismic yang menyebabkan tanah mengalami percepatan, maka benda-benda di atasnya mengalami percepatan pula. Dan karena setiap benda memiliki massa, maka benda tersebut akan menerima gaya sebesar massa dikalikan percepatannya. Gaya inilah yang disebut gaya gempa.

20

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat Penelitian Penelitian tentang analisis data gempa untuk pembuatan zona intensitas wilayah jawa barat ini dilaksanakan di BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) Sawahan Nganjuk yang berlokasi di JL. Raya Pesanggrahan No. 10 Nganjuk Jawa Timur. 3.2 Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan yaitu dari tanggal 9 Januari 2011 sampai 9 Pebruari 2011. 3.3 Jenis Data Data diperoleh dari data historis gempa bumi yang diambil dari PGN dengan periode dari tahun 2001-2010 berdasarkan pembatasan wilayah daerah pulau jawa dan sekitarnya. Dengan memilih magnitude 5.0 SR dengan kedalaman 100 km serta
dengan batasan wilayah 4.5 LU 4.5 LS dan 105 BT - 115 BT .

3.4 Metode Perhitungan dan Pengolahan Data Perhitungan percepatan tanah maksimum diawali dengan membagi daerah Pulau Jawa dengan jarak masing-masing grid 1 derajat. Langkah-langkah dalam menghitung nilai percepatan tanah maksimum adalah sebagai berikut : 1) Menyusun data historis gempabumi pada daerah Pulau Jawa dan sekitarnya periode 2001 2010 berdasarkan latitude, longitude, magnitude dan kedalaman dengan batasan wilayah 4.5 LU 4.5 LS dan 105 BT - 115 BT, diambil data gempa bumi diatas 5 SR dan digambar peta episenter:

21

Gambar 3.1 peta episenter Pulau Jawa. 2) Membagi pulau jawa menjadi beberapa grid, masing-masing grid 1 derajat dengan menggunakan ArcViewGIS 3.3.

Gambar 3.2 Pembagian Grid Pulau Jawa


22

3) Menghitung jarak episenter dengan rumus : Cos dimana : = jarak episenter = lintang posisi episenter = lintang stasiun pengamat = bujur posisi episenter = bujur stasiun pengamat 4) Menghitung jarak hiposenter dengan menggunakan rumus : R= dimana : R = jarak hiposenter = jarak episenter h = kedalaman sumber gempa 5) Menghitung harga percepatan tanah maksimum di tiap titik grid pengamatan dengan menggunakan model empiris Mc Guirre, RK sebagai berikut : = Sin Sin Cos Cos Cos( )

dimana: = percepatan tanah permukaan (gal) Ms = magnitudo gelombang permukaan R = jarak hiposenter (km) 6) Kemudian pada setiap tempat (titik grid) diambil harga maksimumnya sehingga diperoleh harga percepatan maksimum pada tempat tersebut. Membuat peta kontur percepatan tanah maksimum dengan program ArcViewGIS 3.3

23

3.5 Diagram alir

MULAI

KATALOG GEMPABUMI PERIODE 2000-2010

SORTIR DATA DENGAN BATASAN WILAYAH

4.5 LU 4.5 LS dan 105 BT - 115 BT

MEMBAGI WILAYAH PULAU JAWA MENJADI GRID DENGAN UKURAN 0,5 X 0,5 DERAJAT

MENGHITUNG JARAK EPICENTER DAN HIPOSENTER

KONVERSI MAGNITUDE MBMS

MENGHITUNG NILAI PERCEPATAN TANAH MAKSIMUM PADA SETIAP GRID DENGAN METODA MC. GUIRRE. R.K (MENGGUNAKAN PROGRAM MS. EXCEL)

MEMBUAT PETA KONTUR PERCEPATAN TANAH PULAU SUMATERA DAN SEKITARNYA (MENGGUNAKAN PROGRAM ARCVIEW GIS 3.2

HASIL DAN PEMBAHASAN

KESIMPULAN

SARAN

24

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Perhitungan

Dari hasil perhitungan pada setiap grid yang diplot pada lintang 4.5 LU 4.5 LS dan 105 BT - 115 BT diperoleh nilai percepatan tanah maksimum yaitu sebesar 335.661178 gal terletak pada -9.5 LU 107.5 BT , yaitu didaerah selatan Jawa Barat. Dan nilai percepatan minimumnya sebesar 8.672376311 pada peta pembagian grid terletak pada daerah A11 yaitu pada daerah Utara Laut Jawa, dengan keluaran berupa peta percepatan tanah

Gambar 4.1 Nilai percepatan maksimun Pulau Jawa

25

Gambar 4.2 Percepatan maksimum Pulau Jawa


4.2 Pembahasan

Percepatan tanah suatu daerah dapat diketahui dengan menggunakan persamaan yang bermacam-macam. Pada penelitian kali ini data di olah menggunakan model empiris Mc Guirre, RK karena lebih mudah dan praktis. Data diperoleh dari data historis gempa bumi yang diambil dari PGN dengan periode dari tahun 2001-2010, dari data tersebut nilai percepatan maksimum dan minimum suatu daerah dapat diketahui, dapat dilihat pada lampiran peta kontur pulau jawa, dimana pada daerah yang nilai percepatan maksimumnya tinggi yaitu pada daerah selatan Jawa Barat sebesar 335.661178 gal terletak pada -9.5 LU 107.5 BT. Hal ini

menunmjukkan bahwa aktifitas daerah tersebut jika terjadi gempa, maka menyebabkan nilai percepatan tanah yang semakin tinggi. Bila suatu gelombang melalui suatu lapisan sedimen maka akan timbul suatu resonansi. Ini disebabkan karena gelombang gempa mempunyai spektrum yang lebar

26

sehingga hanya gelombang gempa yang sama dengan periode dominan dari lapisan sedimen yang akan diperkuat. Bangunan-bangunan yang berada diatasnya akan menerima getaran-getaran tersebut, dimana arahnya dapat diuraikan menjadi dua komponen yaitu : komponen vertikal dan komponen horizontal. Untuk getaran yang vertikal, pada umumnya kurang membahayakan sebab searah dengan gaya gravitasi. Sedangkan untuk komponen horizontal menyebabkan keadaan bangunan seperti diayun. Bila bangunan itu tinggi, maka dapat diumpamakan seperti bandul yang mengalami getaran paksaan (force vibration), ini sangat membahayakan sekali. Untuk mendirikan bangunan tahan gempa, harus diperhatikan percepatan tanah maksimum di daerah tersebut dan bangunan harus di desain sedemikian hingga dapat menahan percepatan tanah tersebut. Bila suatu bangunan konstruksinya lebih lemah dari yang diperkirakan, maka bangunan disebut under design, ini sangat membahayakan dan dapat disebut bangunan tidak tahan gempa (non earthquake resistance). Hal-hal diatas perlu diperhatikan dan masalah percepatan tanah memegang peranan penting. Setiap gempa yang terjadi akan menimbulkan satu nilai percepatan tanah pada suatu tempat (site). Karena Semakin besar nilai percepatan tanah maksimum yang pernah terjadi disuatu tempat, semakin besar resiko gempabumi yang mungkin terjadi. Jika suatu daerah sering mengalami peristiwa Gempabumi maka percepatan tanahnya akan semakin cepat, Hal ini memberikan gambaran dan manfaat bagi masyarakat jika ingin membangun sebuah gedung- gedung yang menjulang tinggi atau membangun perusahaan, juga rumah mewah tidak berada pada daerah yang percepatan tanahnya tinggi, karena akan sering terjadi gempa. Seperti pada daerah selatan Jawa Barat. Pada daerah Yogyakarta juga sering terjadi gempa dan dapat dilihat pada peta kontur pulau jawa daerah Yogyakarta nilai percepatan maksimumnya juga besar. Pada bangunan yang berdiri di atas tanah memerlukan kestabilan tanah tersebut agar bangunan tetap stabil. Percepatan gelombang gempa yang sampai di permukaan bumi disebut juga percepatan tanah, merupakan parameter yang perlu

27

dikaji untuk setiap gempa bumi, kemudian dipilih percepatan tanah maksimum atau Peak Ground Acceleration (PGA) untuk dipetakan agar bisa memberikan pengertian tentang efek paling parah yang pernah dialami suatu lokasi. Semakin besar magnitude suatu gempa, maka semakin besar energi yang dipancarakan dari sumber gempa tersebut, sehingga percepatan permukaan tanah yang timbul juga semakin besar pula. Maka gambaran dari peta kontur percepatan tanah dapat diamati pada lampiran dua dan tiga menunjukkan pada Laut Selatan Daerah Jawa Barat terjadi gempa dalam sebesar dan dekat dengan daerah yang terjadi gempa, sehingga karena gempa dalam dan dekat dengan daerah jawa barat, sehingga nilai percepatan pada daerah Jawa barat sangat besar 335.661178 gal. Laut utara jawa tidak sering terjadi adnya gempa yang merusak, mungkin hanya terjadi gempa dalam dan juga laut utara jawa tidak berada di antara pertemuan dua lempeng, karena yang terjadi pertemuan dua lempeng terdapat pada laun selatan jawa yaitu pertemuan antara lempeng tektonik indo-australia dan lempeng tektonik Eurasia, dimana kedua lempeng tersebur saling bertumbukan, dan yang terjadi pada peta percepatan maksimum pulau jawa, pada wilayah laut selatan sering terjadi gempa dangkal yang sangat besar, sehingga pada daratan pulau jawa menimbulkan nilai percepatan tanah yang semakin tinggi, seperti yang terjadi di daerah Jawa Barat.

28

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Untuk mendirikan bangunan tahan gempa, harus diperhatikan percepatan tanah maksimum di daerah tersebut dan bangunan harus di design sedemikian hingga dapat menahan percepatan tanah tersebut. Bila suatu bangunan konstruksinya lebih lemah dari yang diperkirakan, maka bangunan disebut under design, ini sangat membahayakan dan dapat disebut bangunan tidak tahan gempa (non earthquake resistance). Bila suatu bangunan konstruksinya lebih kuat dari yang diperkirakan, maka bangunan disebut over design. Ini merupakan pemborosan biaya, maka apabila ingin membangun bangunan tahan gempa, hal-hal diatas perlu diperhatikan dan masalah percepatan tanah memegang peranan penting. Dengan adanya penelitian ini dapat diketahui jika ingin membuat bangunan, maka dipilih tempat yang tidak sering terjadi gempa, baik gempa dalam, dangkal dan gempa menengah. Dapat dilihat pada kontur tanah yang diteliti yaitu pada sekitar daerah Yogyakarta dan daerah Selatan Jawa Barat sering terjadi gempa, dan gempa yang sering terjadi gempa dangkal dan besar kekuatannya, sehingga nilai percepatan tanahnya juga besar, jadi tidak baik membangun gedung-gedung bertingkat tinggi disana. 5.2 Saran penelitian dapat di ambil dengan jangka waktu yang lebih lama dalam jangka 100 tahun atau lebih dari itu, agar hasil kontur percepatan tanah lebih maksimal.

29

DAFTAR PUSTAKA

Ibrahim Gunawan dan Subardjo. 2004 . Pengetahuan Seismologi. Badan Meteorologi dan Geofisika: Jakarta. Ismail, Sulaiman. 1989. Pendahuluan Seimologi I . Badan Diklat Meteorologi dan Geofisika : Jakarta. Murjaya, J., G. Ibrahim, M. Said, 1997. Pembagian Wilayah Intensitas Gempabumi diIndonesia . Procceding PIT-22 HAGI: Bandung. Heryandoko Nova, 2006 . Perhitungan Intensitas dan Percepatan Tanah Maksimum pada Struktur Permukaan di Daerah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta . Akademi Meteorologi dan Geofisika : Jakarta. Gustian, Arif, 2009. Analisa Percepatan Tanah Maksimum Wilayah Pulau Sumatera dan Sekitarnya dengan Metode mc. guirre r.k . Akademi Meteorologi dan Geofisika : Jakarta.

30

LAMPIRAN TABEL HASIL PERHITUNGAN NILAI PERCEPATAN TANAH MAKSIMUM WILAYAH PULAU JAWA DAN SEKITARNYA

grid A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 A9 A10 A11 B1 B2 B3 B4 B5 B6 B7 B8 B9 B10 B11 C1 C2 C3 C4 C5 C6 C7 C8

lintang -4.5 -4.5 -4.5 -4.5 -4.5 -4.5 -4.5 -4.5 -4.5 -4.5 -4.5 -5.5 -5.5 -5.5 -5.5 -5.5 -5.5 -5.5 -5.5 -5.5 -5.5 -5.5 -6.5 -6.5 -6.5 -6.5 -6.5 -6.5 -6.5 -6.5

bujur 105.5 106.5 107.5 108.5 109.5 110.5 111.5 112.5 113.5 114.5 115.5 105.5 106.5 107.5 108.5 109.5 110.5 111.5 112.5 113.5 114.5 115.5 105.5 106.5 107.5 108.5 109.5 110.5 111.5 112.5

(gal) 19.92177062 17.1176857 17.58286438 16.9761934 15.73728088 14.1389161 12.49085101 12.24304245 13.73745909 11.682961 8.672376311 45.46574074 25.29943594 26.89143872 23.47654465 19.91368796 17.14825581 14.57966561 21.33800435 30.09986517 19.11221716 11.2066384 103.0477381 42.76496294 49.90209817 36.35192905 26.03556077 29.36104805 23.22589819 29.99976878

31

C9 C10 C11 D1 D2 D3 D4 D5 D6 D7 D8 D9 D10 D11 E1 E2 E3 E4 E5 E6 E7 E8 E9 E10 E11 F1 F2 F3 F4 F5 F6 F7 F8 F9 F10 F11 G1 G2 G3

-6.5 -6.5 -6.5 -7.5 -7.5 -7.5 -7.5 -7.5 -7.5 -7.5 -7.5 -7.5 -7.5 -7.5 -8.5 -8.5 -8.5 -8.5 -8.5 -8.5 -8.5 -8.5 -8.5 -8.5 -8.5 -9.5 -9.5 -9.5 -9.5 -9.5 -9.5 -9.5 -9.5 -9.5 -9.5 -9.5 -10.5 -10.5 -10.5

113.5 114.5 115.5 105.5 106.5 107.5 108.5 109.5 110.5 111.5 112.5 113.5 114.5 115.5 105.5 106.5 107.5 108.5 109.5 110.5 111.5 112.5 113.5 114.5 115.5 105.5 106.5 107.5 108.5 109.5 110.5 111.5 112.5 113.5 114.5 115.5 105.5 106.5 107.5

80.28713574 25.15393787 16.42322766 44.2046946 74.99268817 128.9272473 52.86713143 42.38324851 92.20894066 38.54505157 19.51620714 24.66048439 44.46682093 20.19012834 48.64122507 88.81790797 136.5090566 79.75701127 44.82178254 80.68892555 57.76948131 37.48401116 32.55986762 30.42450753 21.75480132 52.98768317 115.5997906 335.661178 126.9581488 57.09637263 70.30492492 49.36741626 48.90418393 47.58422454 36.64986404 17.69453138 75.81163714 68.71451901 87.32878468
32

G4 G5 G6 G7 G8 G9 G10 G11

-10.5 -10.5 -10.5 -10.5 -10.5 -10.5 -10.5 -10.5

108.5 109.5 110.5 111.5 112.5 113.5 114.5 115.5

97.06926097 55.98095289 103.2317007 51.91362266 26.83513191 69.885454 33.67294086 16.9288263

33