Anda di halaman 1dari 5

Pengertian Fasilitas Belajar Fasilitas adalah sarana dan prasarana.

Sarana dan prasarana sendiri adalah: Sarana belajar meliputi semua peralatan serta perlengkapan yang langsung digunakan dalam pendidikan disekolah misalnya gedung sekolah, ruangan,meja, kursi, alat peraga dan lain-lain. Sedangkan prasarana merupakan semuakomponen yang secara tidak lansung menunjang jalannya proses belajarmengajar serta pendidikan sekolah, misalnya jalan menuju ke sekolah, halamansekolah, tata tertib dan lain-lain. Proses belajar mengajar akan semakin sukses jika ditunjang dengan adanya fasililtas belajar atau yang disebut sarana danprasarana pendidikan. Menurut Djamarah (1995:92) fasilitas belajar merupakankelengkapan yang menunjang belajar anak didik di sekolah. Dengan adanyafasilitas belajar akan mempengaruhi hasil belajar siswa. Menurut Tim PenyusunPedoman Pembakuan Media Pendidikan Depdikbud dalam Arikunto (1988:23),yang dimaksud dengan:Sarana pendidikan adalah semua fasilitas yang diperlukan dalam prosesbelajar mengajar yang bergerak maupun yang tidak bergerak agar pencapaiantujuan pendidikan berjalan lancar, teratur, efektif dan efisien. Sedangkan Aswarni Sudjud, Tatang M. Amirin & Sutiman (1988:70)mengemukakan bahwa :Sarana pendidikan lazim dimaksudkan sebagai fasilitas fisik yang langsungmendukung proses pendidikan (alat pelajaran, alat peraga, media pendidikan,pendapat lain memasukkan meja, kursi belajar, papan tulis dan gedung).Prasarana pendidikan dimaksudkan sebagai fasilitas fisik yang tidak langsungmendukung proses belajar mengajar (proses pendidikan) yakni:gedung/ruangbelajar, meubeler, jalan menuju sekolah, asrama, kantin dan sebagainya. Ruang Lingkup Fasilitas Belajar Fasilitas belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasilbelajar siswa, jelaslah bila dalam kegiatan belajar mengajar akan berhasil jikaditunjang dengan fasilitas yang memadai dan dalam hal ini akan diuraikanmengenai ruang lingkup fasilitas belajar.Ditinjau dari fungsi dan peranannya terhadap pelaksanaan proses belajarmengajar, Arikunto (1987:10) mengemukakan bahwa sarana pendidikan atausarana materiil dibedakan menjadi 3 macam yaitu : 1) Alat Pelajaran 2) AlatPeraga 3) Media Pengajaran.Berdasarkan pendapat diatas dapat diketahui bahwa fasilitas belajar adalahsemua peralatan dan perlengkapan yang secara langsung digunakan dalamproses belajar mengajar yang terdiri dari alat pelajaran, alat peraga dan mediapengajaran/media pendidikan.

1. Alat pelajaran adalah benda yang dipergunakan langsung dalam prosesbelajar mengajar baik itu oleh guru maupun siswa. Menurut Arikunto(1987:11-12) alat pelajaran di sekolah dibagi menjadi beberapa bentuk antara lain a) Buku-buku termasuk didalamnya buku-buku yang adadiperpustakaan, buku-buku dikelas baik itu sebagai bukupegangan untuk guru maupun buku pelajaran untuk siswa b) Alat-alat peraga digunakan oleh guru pada saat mengajar, baik yang sifatnya tahan lama dan disimpan disekolah maupun yangdiadakan seketika oleh guru pada jam pelajaran c) Alat-alat praktek, baik itu yang ada dilaboratorium, bengkel kerja,ataupun ruangruang praktek (kearsipan, mengetik, dansebagainya) d) Alat tulis menulis, seperti papan tulis, penghapus, kapur, kayupenggaris, dan sebagainya.. 2. Alat peraga adalah segala sesuatu yang dipergunakan oleh guru untuk memperagakan atau memperjelas pelayanan. (Arikunto,1987:13).Adapun menurut Anwar Yastin Med (1987:13), yang dikutip olehArikunto (1987:13) bahwa :Alat peraga adalah alat pembantu pendidikan dan pengajaran, dapatberupa perbuatan-perbuatan/benda-benda yang mudah memberikanpengertian kepada anak didik berturut-turut dari perbuatan yangabstrak sampai kepada benda yang sangat konkret . 3. Media pengajaran/pendidikanMenurut Arikunto (1987:14) media pengajaran adalah suatu sarana yangdigunakan untuk menampilkan pelajaran.Sedangkan menurut Umar Suwito (1978:13) bahwa media pendidikanadalah sarana pendidikan yang digunakan sebagai perantara dalam proses belajar mengajar untuk lebih mempertinggi efektivitas dan efisiensi dalammencapai tujuan pendidikan.Menurut The Liang Gie, (2002:33) dalam bukunya yang berjudul CaraBelajar Yang Efisien mengatakan bahwa untuk belajar yang baik hendaknyatersedia fasilitas belajar yang memadai antara lain tempat/ruangan belajar,penerangan yang cukup, buku-buku pegangan dan

kelengkapan peralatanpraktek. a) Tempat atau ruang belajar Salah satu syarat untuk dapat belajar dengan sebaik-baiknya ialahtersedianya tempat atau ruang belajar. Tempat/ruang belajar inilah yangdigunakan oleh siswa untuk melakukan kegiatan belajar mengajar. Dengan tempat/ruang belajar yang memadai dan nyaman untuk belajar maka siswaakan memperolah hasil belajar yang baik.

b) PeneranganPenerangan yang terbaik ialah sinar matahari karena warnanya putihdan sangat intensif. Namun apabila cuaca tidak baik pihak sekolah jugaharus menyediakan penerangan sehingga tidak akan mengganggu

prosesbelajar mengajar dikelas. c) Buku-buku peganganSyarat yang lain dalam kegiatan belajar mengajar yaitu buku-bukupegangan. Buku-buku pegangan yang dimaksud disini adalah bukubukupelajaran yang dapat menunjang pemahaman siswa dalam menerima materiyang disampaikan oleh guru. d) Kelengkapan peralatan praktek Selain buku-buku pegangan, peralatan praktek juga penting untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Belajar tidak dapat dilakukanperalatan praktek yang lengkap.Menurut Tuu (2004:84) faktor sarana sekolah yang dapat

mempengaruhihasil belajar siswa seperti gedung, ruangan, penerangan, meja kursi, buku-buku,alat-alat praktek dan sebagainya. Dengan sarana sekolah yang memadai akanmembantu pencapaian hasil belajar yang baik pula.Dengan demikian indikator fasilitas belajar dalam penelitian ini mengingatfasilitas yang dimaksud disini adalah fasilitas yang disediakan oleh pihak sekolah guna menunjang proses belajar mengajar yang nantinya akanberpengaruh terhadap hasil belajar siswa adalah : Tempat/ruang belajar Penerangan Buku-buku pegangan Kelengkapan peralatan praktek

Pemerataan Fasilitas Pendidikan di Indonesia Pelaksanaan pendidikan yang merata adalah pelaksanaan program pendidikan yang dapat menyediakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi seluruh warga negara Indonesia untuk dapat memperoleh pendidikan. Pemerataan dan perluasan pendidikan atau biasa disebut perluasan kesempatan belajar merupakan salah satu sasaran dalam pelaksanaan pembangunan nasional. Hal ini dimaksudkan agar setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan. Kesempatan memperoleh pendidikan tersebut tidak dapat dibedakan menurut jenis kelamin, status sosial, agama, ataupun letak lokasi geografis.

Permasalahan pemerataan dapat terjadi; Pertama, karena adanya keterbatasan aksesibilitas dan daya tampung serta kurang terorganisirnya koordinasi antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, bahkan hingga daerah terpencil sekalipun. Kedua, ketidakmerataan pendidikan di Indonesia juga disebabkan karena aspek kemiskinan yang dibarengi dengan biaya oportunitas dan aspek pembiayaan pendidikan yang dibarengi oleh korupsi dana pendidikan. Ketiga, kurang berdayanya suatu lembaga pendidikan untuk melakukan proses pendidikan, hal ini terjadi karena kontrol pendidikan yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah tidak menjangkau daerah-daerah terpencil. Permasalahan ini akan mengakibatkan mayoritas penduduk Indonesia yang dalam usia sekolah, tidak dapat mengenyam pelaksanaan pendidikan sebagaimana yang diharapkan.

Ada juga beberapa faktor pendukung yang mengakibatkan sulit terjadinya pemerataan pendidikan. Pertama, Iptek. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada zaman modern ini berdampak pada sektor pendidikan di Indonesia. Ketidaksiapan bangsa menerima perubahan zaman membawa perubahan tehadap mental dan keadaan negara ini. Sebagai negara berkembang, Indonesia dihadapkan kepada tantangan dunia global. Sehingga subjektif penulis, bagi Indonesia sebagai negara berkembang, globalisasi berarti penjajahan sistemik (systemic colonization). Sehingga tidak aneh, banyak system di Indonesia yang berantakan termasuk sistem pendidikan. Dimana berbagai sistem di Indonesia berada di bawah pengaruh negara-negara adikuasa dan segala sesuatu dapat saja berjalan dengan bebas. Keadaan seperti ini tentunya akan sangat membahayakan keadaan pendidikan di Indonesia.

Kedua, Laju Pertumbuhan Penduduk. Laju pertumbuhan yang sangat pesat akan berpengaruh tehadap masalah pemerataan serta mutu dan relevansi pendidikan. Pertumbuhan penduduk ini akan berdampak pada jumlah peserta didik. Semakin besar jumlah pertumbuhan penduduk, maka semakin banyak dibutuhkan sekolah-sekolah untuk menampungnya. Jika daya tampung suatu sekolah tidak memadai, maka akan banyak peserta didik yang terlantar atau tidak bersekolah. Hal ini akan menimbulkan masalah pemerataan pendidikan. Tetapi apabila jumlah dan daya tampung suatu sekolah dipaksakan, maka akan terjadi ketidakseimbangan antara tenaga pengajar dengan peserta didik. Jika keadaan ini dipertahankan, maka mutu dan relevansi pendidikan tidak akan dapat dicapai dengan baik. Sebagai negara yang berbentuk kepulauan, Indonesia dihadapkan kepada masalah penyebaran penduduk yang tidak merata. Tidak heran jika perencanaan, sarana dan prasarana pendidikan

di suatu daerah terpencil tidak terkoordinir dengan baik. Hal ini diakibatkan karena lemahnya kontrol pemerintah pusat terhadap daerah tersebut.

Permasalahan pemerataan pendidikan dapat ditanggulangi dengan menyediakan fasilitas dan sarana belajar bagi setiap lapisan masyarakat. Pemberian sarana dan prasarana pendidikan yang dilakukan pemerintah sebaiknya dikerjakan setransparan mungkin, sehingga tidak ada oknum yang dapat mempermainkan program yang dijalankan ini. Suatu penyakit mengenai dana di manapun adalah korupsi. Sehebat-hebatnya rencana anggaran tapi jika banyak oknum yang melakukan korupsi, maka efektifitas dana tersebut akan kecil. Karena itu perlu dibuat lembaga pengontrol dana bantuan dari pemerintah dan swasta tersebut. Perlu diingat juga, bahwa pemerataan pendidikan tidak bisa direalisasikan tanpa adanya kerja sama berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat yang bersangkutan. Sehingga, pemerintah pusat dan daerah harus saling bersinergi memperkuat koordinasi dan konsolidasinya demi tercapainya pemerataan pendidikan yang maksimal sampai ke pelosok Indonesia.