Anda di halaman 1dari 25

TUGAS PENGAYAAN DOKTER MUDA

DEMENSIA

Putri Annisa Kamila 0710713007 Pembimbing: Dr. Sri Budhi Rianawati, SpS Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang , 2011
1

EPIDEMIOLOGI
Demensia adalah kumpulan gejala klinik yang disebabkan oleh berbagai latar belakang penyakit yang ditandai dengan hilangnya memori jangka pendek , gangguan global fungsi mental , termasuk fungsi bahasa , mundurnya kemampuan berpikir abstrak , kesulitan merawat diri sendiri, perubahan perilaku , emosi labil , dan hilangnya pengenalan waktu dan tempat , tanpa ada gangguan tingkat kesadaran atau situasi stress, sehingga menimbulkan gangguan dalam pekerjaan , aktivitas seharihari dan sosial . Demensia juga dapat disebabkan oleh berbagai keadaan dan sebagian diantaranya bersifat ireversibel . Demensia dapat terjadi karena berbagai proses diotak diantaranya : gangguan serebrovaskuler , infeksi pada susunan sistem saraf pusat ( SSP ) , defisiensi vitamin , gangguan metabolik atupun proses penuaan yang normal . Sebagian besar penyebab ini ditemukan di orang tua . Estimasii terbaru menyebutkan bahwa , pada tahun 2000 terdapal 18 25 juta orang di dunia yang mengalami dementia , dimana jumlah ini akan berlipat ganda menjadi 32-40 juta orang di dunia
2

pada

tahun

2020.

www.psychiatryjournal.com ) . Demensia dapat timbul di segala usia, tapi demensia biasanya lebih sering terjadi pada orang dengan usia tua , dimana angka kejadian dibawah umur 65 tahun sangatlah kecil yaitu 1-2% . Angka kejadian dementia diatas umur 65 tahun semakin besar seiring dengan umur yang lebih tua . Jika dementia terjadi pada individu yang berusia dementia . Di Indonesia , peningkatan usia harapan hidup akan meningkatkan jumlah penduduk usia lanjut . Pada tahun 2000 , penduduk usia lanjut mencapai 7, 28% . Jumlah ini akan terus meningkat , dan pada tahun 2020 diproyeksikan jumlah lansia akan mencapai 11, 34% . Perlu diwaspadai adanya peningkatan penyakit yang berhubungan dengan proses degeneratif , diantaranya demensia , yang gejalanya akan menurunkan kualitas hidup. Proses penuaan otak abnormal merupakan bagian dari degenerasi pada seluruh organ tubuh . Hal ini akan menimbulkan berbagai gangguan neuropsikologis dan masalah yang terbesar adalah demensia . Prevalensi demensia diperkirakan sekitar 15% pada penduduk berusia lebih dari 65 tahun . , maka disebut presenile

DEFINISI Ada sejumlah definisi tentang demensia, tetapi semuanya harus mengandung tiga hal pokok, yaitu gangguan kognitif, gangguan tadi harus melibatkan berbagai aspek fungsi kognitif dan bukannya sekedar penjelasan defisit neuropsikologik, dan pada penderita tidak terdapat gangguan kesadaran, demikian pula delirium yang merupakan gambaran yang menonjol. Definisi lain mengenai demensia adalah hilangnya fungsi intelektual seperti daya ingat, pembelajaran, pemikiran maksimal , penalaran, melibatkan pemecahan hemisfer otak masalah, , yang dan secara

abstrak,sebagai sebuah konsekuensi dari penyakit yang mempangaruhi utuh. Di dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi keempat (DSM- IV) demensia dicirikan oleh adanya defisit kognitif multipleks (termasuk gangguan memori) yang secara langsung disebabkan oleh gangguan kondisi medik secara umum, bahan-bahan tertentu (obat, narkotika, toksin), atau berbagai faktor etiologi. Demensia
4

daerah

korteks

dan

hipocampus

sedangkan fungsi vegetatif (diluar kemauan) masih tetap

dapat progresif, statik atau dapat pula mengalami remisi. Reversibilitas demensia merupakan fungsi patologi yang mendasarinya serta bergantung pula pada ketersediaan dan kecepatan terapi yang efektif. ANATOMI FISIOLOGI OTAK Dalam mempelajari penyebab demensia , diperlukan pemahaman mengenai anatomi dan fisiologi otak tersendiri. Dikarenakan jenis demensia yang terjadi sangat berkaitan dengan bagian otak yang terlibat . Sistem saraf manusia terdiri dari sistem saraf pusat (SSP) dan perifer sistem saraf (PNS). Yang pertama terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang, sedangkan yang kedua terdiri dari saraf memanjang ke dan dari otak dan sumsum tulang belakang. Fungsi utama dari sistem saraf adalah untuk memantau, mengintegrasikan (proses) dan menanggapi informasi dalam dan di luar tubuh. Otak sendiri dibagi kedalam beberapa kelompok utama :

1. Telensefalon yang terdiri atas : hemisfer serebri yang disusun oleh korteks serebri , limbik sistem , basal ganglia, dimana basal ganglia disusun oleh : nucleus caudatum , nucleus lenticularis , klaustrum dan amigdala
a. Korteks

serberi

berperan

dalam

Persepsi sensorik , kontrol gerakan volunter , bahasa , sifat pribadi , fungsi luhur b. Nucleus basal berperan pada :

kordinasi gerak lambat dan menetap , pola gerakan 2. Diensefalon yang terbagi menjadi epithalamus , thalamus , subtalamus dan hipotalamus 3. Mesensefalon 4. Metensefalon 5. Serebellum Hemisfer sendiri menurut pembagian fungsinya masih dibagi kedalam lobus-lobus yang dibatasi oleh girus dan sulcus
6

Keterlibatan berbeda- beda pula . ETIOLOGI

daerah

tertentu

dari

otak

akan

menimbulkan manifestasi dan penggolongan dementia yang

Demensia mempunyai banyak penyebab, tetapi demensia tipe Alzheimer dan demensia vaskular samasama berjumlah 75 persen dari semua kasus. Penyebab demensia lainnya yang disebutkan dalam DSM-IV adalah penyakit Pick, penyakit Creutzfeldt-Jakob, penyakit Parkinson, Human Immunodeficiency Virus (HIV), dan trauma kepala. Beberapa penyebab dementia, disebutkan pada tabel dibawah ini :

Common Alzheimer disease (60%80%) Dementia with Lewy bodies/Parkinson disease with dementia (10%20%) Frontotemporal dementia (5%10%) Cerebrovascular disease (10%20%)

Less Common Corticobasal degeneration CADASIL arteriopathy (cerebral with autosomal dominant and subcortical infarcts

leukoencephalopathy) Vitamin defieciencies Endocrine and other organ failure ( hipotiroidisme ) Chronic infection ( HIV , Prion , etc ) Head trauma and diffuse brain damage Neoplastic Toxic Degenerative disorder ( Hutington , Pick:s Disease )

KLASIFIKASI Terdapat beberapa macam pengelompokan

demensia , yaitu berdasarkan etiologi dan reversibilitas , berdasarkan anatomi yang terlibat , korteks atau sub korteks atau penyakit yang berkaitan dengan demensia itu sendiri .
8

Pengelompokan

demensia

berdasarkan

hubungannya dengan penyakit Lain , antara lain adalah : a. Penyakit yang berhubungan dengan Sindrom Medik: Hal ini meliputi hipotiroidisme, penyakit Cushing, defisiensi nutrisi, kompleks demensia AIDS, dan sebagainya. b.Penyakit yang berhubungan dengan Sindrom Neurologi: Kelompok ini meliputi korea Huntington, penyakit Schilder, dan proses demielinasi lainnya; penyakit Creutzfeldt-Jakob; tumor otak; trauma otak; infeksi otak dan meningeal; dan sejenisnya. c. Penyakit dengan demensia sebagai satu-satunya tanda atau tanda yang mencolok: Penyakit Alzheimer dan penyakit Pick adalah termasuk dalam kategori ini. Sedangkan dari segi anatomi dibedakan antara demensia kortikal dan demensia subkortikal.

Sedengakan pengelompokan demensia yang paling umum , yaitu pengelompokan demensia berdasarkan etiologi dan reversibelitas ,adalah :

10

A. Reversibel : a. Demensia vaskuler b. Demensia akibta hidrosefalus c. Demensia akibat kelainan psikiatri d. Demensia akibat penyakit berat e. Demensia akibat intoksikasi f. Demensia akibat defisiensi B12 g. Demensia akibat gangguan metabolik B. Irreversibel : a. Demensia Alzheimer b. Demensia akibat infkesi HIV c. Demensia akibat trauma kapitis d. Demensia akibat penyakit Parkinson e. Demensia akibat penyakit Pick f. Demensia akibat penyakit Hutingtons

11

Frekuensi demensia yang tertinggi adalah adalah Demensia Alzheimer yang meliputi 50-55 % dari seluruh demensia . Namun , beberapa penelitian di Asia , diantaranya Singapur , Jepang dan India menunjukan frekuensi demensia vaskular lebih ting. gi dari demensia Alzheimer

DIAGNOSIS Demensia ditandai oleh adanya gangguan kognisi , fungsional dan perilaku sehingga terjadi gangguan pada pekerjaan , aktivitas sehari-hari dan sosial . Kriteria yang paling sering digunakan untuk

membantu penegakan diagnosis dementia adalah kiriteria DSM IV yang meliputi :

12

Diagnosis

demensia

ditegakan

berdasarakan

anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang . Anamnesa meliputi awitan penyakit , perjalanan penyakit , usia awitan , riwayat medis umum dan neuroligis , perubahan neurobehaviour , riwayat psikiatri , dan riwayat yang berhubungan dengan etiologi . Pemeriksaan fisik meliputi tanda vital, pemeriksaan umum pemeriksaan neurologis dan neuropsikologis ,. Pemeiksaan penunjang meliputi laboratory dan radiografi . Pemeriksaan neuropsikolgi meliputi evaluasi

memori , orientasi m bahasa, kalkulasi , praksis , visuospasial dan visuoperseptual . Mini Mental State Examination ( MMSE ) dan Clock Drawing Test ( CDT ) adalah pemeriksaan penapisan
13

yang

berguna

untuk

mengetahui adanya disfungsi kognisi , menilai ektifitas pengobatan dan untuk menentukan progresivitas penyakit . Nilai normal MMSE adalah 24-30 . gejala awal dementia perlu dipertimbangkan pada penderita dengan nilai MMSE kurang dari 27 , terutama pada individu dengan golongan berpendidikan tinggi . Selain itu pula perlu dilakukan oemeriksaan aktivitas harian dengan pemeriksaan Activity of Daily Living dan Instrumental Activity of Daily Living . Hasil pemeriksaan tersebut dipengaruhi oleh tingkat pendidikan , sosial dan budaya. Sedngkan pemerikasaan radiologis yang dilakukan adalah pemeriksaan pencitraan otak . Pemeriksaan ini berperan dalam menunjang diagnosis ,menentukan beratnya penyait maupun prgnosis . CT- Scan atau MRI dapat mendeteksi adanya kelainan struktural , sedangkan PET Scan dan SPECT digunakan untuk pemeriksaan fungsional namun masih terbatas untuk penelitian . PENATALAKSANAAN DEMENSIA . Pemeriksaan PET ataupun SPECT bukan merupakan pemeriksaan rutin ,

14

Beberapa kasus demensia dianggap dapat diobati karena jaringan otak yang disfungsional dapat menahan kemampuan untuk pemulihan jika pengobatan dilakukan tepat pada waktunya. Riwayat medis yang lengkap, pemeriksaan fisik, dan tes laboratorium, termasuk pencitraan otak yang tepat, harus dilakukan segera setelah diagnosis dicurigai. Jika pasien menderita akibat suatu penyebab demensia yang dapat diobati, terapi diarahkan untuk mengobati gangguan dasar. Pendekatan pengobatan umum pada pasien

demensia adalah untuk memberikan perawatan medis suportif, bantuan emosional untuk pasien dan keluarganya, dan pengobatan farmakologis untuk gejala spesifik, termasuk gejala perilaku yang mengganggu. Pemeliharaan kesehatan fisik pasien, lingkungan yang mendukung, dan pengobatan farmakologis simptomatik diindikasikan dalam pengobatan sebagian besar jenis demensia. Pengobatan simptomatik termasuk pemeliharaan diet gizi, latihan yang tepat, terapi rekreasi dan aktivitas, perhatian terhadap masalah visual dan audiotoris, dan pengobatan masalah medis yang menyertai, seperti infeksi saluran kemih, ulkus dekubitus, dan disfungsi kardiopulmonal. Perhatian khusus karena diberikan pada pengasuh atau anggota keluarga
15

yang

menghadapi

frustasi,

kesedihan,

dan

masalah

psikologis saat mereka merawat pasien selama periode waktu yang lama. Jika diagnosis demensia vaskular dibuat, faktor risiko yang berperan pada penyakit kardiovaskular harus diidentifikasi dan ditanggulangi secara terapetik. Faktorfaktor tersebut adalah hipertensi, hiperlipidemia, obesitas, penyakit jantung, diabetes dan ketergantungan alkohol. Pasien dengan merokok harus diminta untuk berhenti, karena penghentian merokok disertai dengan perbaikan perfusi serebral dan fungsi kognitif Pendekatan farmakologis dan non farmakologis yang dilakukan pada penderita dengan demensia memiliki tujut : uan sebagai beri Mempertahankan kualitas hidup dengan

memanfaatkan kemampuan yang ada secara optimal Menghambat progresivitas penyakit Mengobati gangguan lain yang menyertai demensi

16

Membantu keluarga untuk menghadapi keadaan penyakit pasien dan memberikan informasi cara perawatan yang tepat Penatalaksanaan farmakologis pada penderita

demensia reversibel ditujukan untuk pengobatan kausal , misalnya hipotiroid , defisiensi vitamin B12 , dan gangguan metabolik pengobatan penderita . Pada pengobatan demensia Alzheimer pengobatan bertujuan untuk menghentikan progresivitas openyakit dan memperahankan kualitas hidup . Sedangakan penatalaksanaan non farmakologis . Progresivitas simptmatis demensia untuk vaskuler dapat defisit dihentikan dengan pengobatan terhadap faktor resiko dan substitusi neurotransmitter . Namun hal ini tidak bisa menyembuhkan

ditujukan untuk keluarga , lingkungan , dan penderita . Penatalaksanaan ini bertujuan untuk : Menetapkan program aktivitas harian penderita Orientasi realitias Modifikasi perilaku
17

Memberikan informasi dan pelatihan yang benar pada keluarga , pengasuh dan penderita

RESUME

Kesulitan pada ingatan jangka pendek dan jangka panjang, berpikir abstrak (kesulitan menemukan antara benda-benda yang berhubungan), dan fungsi kortikal yang tinggi lainnya (sebagai contoh, ketidakmampuan untuk menamakan suatu benda, mengerjakan perhitungan aritmatika, dan mencontoh suatu gambar) - semuanya cukup berat untuk mengganggu fungsi sosial dan pekerjaan, terjadi dalam keadaan kesadaran yang jernih, dan tidak disebabkan oleh gangguan mental seperti gangguan depresif berat - menyatakan suatu demensia. Demensia disebabkan oleh bermacam-macam penyebab. Memperhatikan faktor penyebab tadi, maka ada beberapa jenis demensia yang dapat ditolong dengan mengobati penyebabnya walaupun kadang-kadang tidak mempunyai hasil sempurna. Disamping itu ada jenis
18

demensia yang sampai saat ini belum ada obatnya, ialah demensia pada Creutzfeldt-Jakob dan AIDS. Sementara itu, untuk demensia Alzheimer belum ada obat yang benarbenar manjur. Diagnosis demensia ditegakkan berdasarkan pemenuhan kriteria yang telah ditetapkan/disepakati dalam DSM-IV , anamnesa , pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Untuk itu diperlukan kehati-hatian dalam melakukan pemeriksaan. Penentuan faktor etiologi merupakan hal yang sangat esensial oleh karena mempunyai nilai prognostik. Penatalaksanaan demensia secara menyeluruh melibatkan seluruh anggota keluarga terdekat. Dengan demikian kepada anggota keluarga perlu diberikan penyuluhan agar penderita dapat dirawat dengan sebaikbaiknya.

PERTANYAAN .
19

1 . Sebutkan tujuan dari pemeriksaan radiologis CT, MRI ,PET Scan dan SPECT pada penatalaksanaan diagnosa pada kasus demensia? Jawab : Tujuan pemeriksaan penunjang pada penatalaksanaan diagnosis dementia : Mendeteksi gambaran normal sesuai dengan usia Atrofi serebrum umum Perubahan pembuluh darah kecil ( leukoensefalopati ) Atrofi fokal Infark cerebri , perdarahan ataupun tumor otak .

2. Apa saja yang membedakan antara delirium dengan demensia ? Jawab: Gangguan memori terjadi baik pada delirium maupun pada demensia. Delirium juga dicirikan oleh menurunnya kemampuan untuk mempertahankan dan memindahkan
20

perhatian secara wajar. Gejala delirium bersifat fluktuatif, sementara demensia menunjukkan gejala yang relatif stabil. Gangguan kognitif yang bertahan tanpa perubahan selama beberapa bulan lebih mengarah kepada demensia daripada delirium. 3. Sebutkan faktor yang mempersulit terapi demensia: Jawab : 1. Kompleksitas biologi dan biokimia otak; interaksi dan ketergantungan antar komponen belum diketahui secara jelas 2. Kesulitan dalam hal menentukan diagnosis etiologik dari sindrom psiko-organik 3. Tiadanya korelasi antara perilaku, gejala neurologik atau neuropsikologik, dan perubahan metabolik yang ada 4. Belum diketahuinya batas-batas biologik gangguan yang ada, sehubungan dengan aspek farmakologik 5. Kesulitan dalam hal metodologi untuk mengevaluasi efek terapetik, terutama dalam menginterpretasi hasil kelompok-kelompok peneli 4. Sebutkan terapi farmakologis yang diberikan untuk pasien demensia :
21

Jawab:

Obat anti inflamadi non steroid Antioksidan Neurotropik Cholinergic-enhancing agent Cholinedan lecithin Dihydropyridine

5. Bagaimana gambaran klinis dari tipe-tipe clinical difference dari demensia: Jawaban :

22

23

DAFTAR PUSTAKA
1. Aguero-Eklund, Hedda., Almkvist, Ove ., Edhag,

Olof ,et.al .2008 . Dementia Etiology and Epidemiology . Sweden , 172E/1


2. Bird, Thomas D . Miller, Bruce L . 2006. Harrisons

Neurology in Clinical Medicine : Alzheimer Disease and Other Dementias . McGrawHill


3. Clark , David G., Cummings, Jeffrey . The Diagnosis

and Management of Dementia . Los Angeles , ISN 148-4196


4. Duus, Peter.2005. Diagnosis Topik Neurologi :

Anatomi , Fisiologi , Tanda , Gejala . Jakarta : ECG


5. Little, Ann A., Gomez-Hassan , Diana. 2010. Oxford American Handbook of Neurology : Dementia . New York : Oxfor University Press 6. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia.2007. Diagnosis Dini dan Penatalaksanaan Demensia . Jakarta : PERDOSSI 7. Wilkinson, Iain ., Lennox , Graham . 2005. Essential Neurology. Massachusetts : Blackwell Publishing Co,. 24

8. www.scribd.com/doc/28579070/Anatomi-Dan-

Fisiologi-Otak ( Anatomi dan Fisiologi Otak ). Diakses 09 Oktober 2011. 18:10


9. www.cnsforum.com/imagebank/item/brain_struc_ALZ

/default.aspx (the areas of the brain affected in Alzheimers disease ) Diakses 09 Oktober 2011 . 18:10 10. www.scribd.com/doc/24799498/DEMENSIA ( DEMENSIA ) ) Diakses 09 Oktober 2011 . 18:10

25