Anda di halaman 1dari 2

Abses Tubo Ovarian Definisi Radang bernanah yang terjadi pada ovarium dan atau tuba fallopii pada

satu sisi ataukedua sisi adneksa (Mudgil, 2009). Epidemiologi Abses tubo ovarian sering terjadi pada wanita fase seksual aktif yakni antara usia 20-40tahun (Mudgil, 2009). Etiologi dan Faktor Resiko Abses tubo ovarian disebabkan oleh infeksi berbagai bakteri seperti spesies Streptococcus, E.Coli, spesies Bacteroides, spesies Prevotella, spesies Peptostreptococcuss (Mudgil, 2009). Beberapa faktor resiko yang terkait adalah (Mudgil, 2009): 1. Pasangan seksual multipel 2. Riwayat penyakit peradangan panggul 3. Penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) 4. Status sosioekonomi bawah 5. Riwayat terkena penyakit menular seksual seperti gonorhea dan chlamidia Patofisiologi Dengan adanya penyebaran bakteri dari vagina ke uterus lalu ke tuba dan atauparametrium, terjadilah salpingitis dengan atau tanpa ooforitis, keadaan ini bisa terjadipada pasca abortus, pasca persalinan atau setelah tindakan genekologik sebelumnya(Mudgil, 2009). Mekanisme pembentukan ATO yang pasti sukar ditentukan, tergantung sampaidimana keterlibatan tuba infeksinya sendiri. Pada permulaan proses penyakit, lumen tuba masih terbuka mengeluarkan eksudat yang purulent dari febriae dan menyebabkanperitonitis, ovarium sebagaimana struktur lain dalam pelvis mengalami keradangan,tempat ovulasi dapat sebagai tempat masuk infeksi. Abses masih bisa terbatas mengenaitempat masuk infeksi. Abses masih bisa terbatas mengenai tuba dan ovarium saja, dapatpula melibatkan struktur pelvis yang lain seperti usus besar, buli-buli atau adneksa yang lain. Proses peradangan dapat mereda spontan atau sebagai respon pengobatan, keadaan inibiasanya memberi perubahan anatomi disertai perlekatan fibrin terhadap organterdekatnya. Apabila prosesnya menhebat dapat terjadi pecahnya abses (Mudgil, 2009). Gejala Klinis Bervariasi bisa tanpa keluhan bisa tampak sakit, dari ringan sampai berat disertai suhubadan naik, bisa akut abdomen sampai syok septic. Nyeri panggul dan perut bawahdisertai pula nyeri tekan, febris (60-80 % kasus), takhirkardi, mual dan muntah, bisa pulaterjadi ileus. Adanya masa pada perut bawah dan aneksa lebih memastikan suatu absestubo ovarian (Mudgil, 2009). DiagnosisPemeriksaan Fisik Toucher : - Nyeri kalau portio digoyangkan. - Nyeri kiri dan kanan dari uterus. - Kadang-kadang ada penebalan dari tuba. Tuba yang sehat tak teraba.

- Nyeri pada ovarium karena meradang (Mudgil, 2009). Terapi a. Curiga ATO utuh tanpa gejala - Antibotika dengan masih dipertimbangkan pemakaian golongan : doksiklin 2x / 100 mg /hari selama 1 minggu atau ampisilin 4 x 500 mg / hari, selama 1 minggu. -Pengawasan lanjut, bila masa tak mengecil dalam 14 hari atau mungkin membesar adalahindikasi untuk penanganan lebih lanjut dengan kemungkinan untuk laparatomi b. ATO utuh dengan gejala : - Masuk rumah sakit, tirah baring posisi semi fowler, observasi ketat tanda vital danproduksi urine, perksa lingkar abdmen, jika perlu pasang infuse P2 -Antibiotika massif (bila mungkin gol beta lactar) minimal 48-72 jamGol ampisilin 4 x 1-2 gram selama / hari, IV 5-7 hari dan gentamisin 5 mg / kg BB / hari,IV/im terbagi dalam 2x1 hari selama 5-7 hari dan metronida xole 1 gr reksup 2x / hariatau kloramfinekol 50 mg / kb BB / hari, IV selama 5 hari metronidzal atau sefaloosporingenerasi III 2-3 x /1 gr / sehari dan metronidazol 2 x1 gr selama 5-7 hari -Pengawasan ketat mengenai keberhasilan terapi - Jika perlu dilanjutkan laparatomi, SO unilateral, atau pengangkatan seluruh organ genetaliainterna c. ATO yang pecah, merupakan kasus darurat : dilakukan laporatomi pasang drain kultur nanah- Setelah dilakukan laparatomi, diberikan sefalosporin generasi III dan metronidazol 2 x 1 gr selama 7 hari (1 minggu) (Mudgil, 2009). Prognosis a. ATO yang utuh - Pada umumnya prognosa baik, apabila dengan pengobatan medidinaslis tidak adaperbaikan keluhan dan gejalanya maupun pengecilan tumornya lebih baik dikerjakanlaparatomi jangan ditunggu abses menjadi pecah yang mungkin perlu tindakan lebih luasKemampuan fertilitas jelas menurun kemungkinan reinfeksi harus diperhitungan apabilaterapi pembedahan tak dikerjakan b. ATO yang pecah Kemungkinan septisemia besar oleh karenanya perlu penanganan dini dan tindakanpembedahan untuk menurunkan angka mortalitasnya (Mudgil, 2009).