Anda di halaman 1dari 111

SKRIPSI

HUBUNGAN KONDISI FISIK RUMAH DAN LINGKUNGAN SEKITAR RUMAH DENGAN KEJADIAN MALARIA DI DESA KETOSARI KECAMATAN BENER KABUPATEN PURWOREJO

MALARIA DI DESA KETOSARI KECAMATAN BENER KABUPATEN PURWOREJO Skripsi ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Skripsi ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijazah S1 Kesehatan Masyarakat

Disusun Oleh :

APRILIA AYU PAMELA J 410 050 013

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2009

i

ABSTRAK

APRILIA AYU PAMELA. J 410 050 013

HUBUNGAN KONDISI FISIK RUMAH DAN LINGKUNGAN SEKITAR RUMAH DENGAN KEJADIAN MALARIA DI DESA KETOSARI KECAMATAN BENER KABUPATEN PURWOREJO.

xv +69+24

Malaria masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Desa Ketosari merupakan salah satu desa di Kecamatan Bener yang endemis malaria dengan API (Annual Parasite Insidence) pada tahun 2008 yaitu 34,7‰. Kejadian malaria disebabkan adanya kontak manusia dengan nyamuk malaria dan didukung oleh kondisi perumahan dan lingkungan yang kurang baik. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan dan risiko kondisi fisik rumah dan lingkungan sekitar rumah dengan kejadian malaria di Desa Ketosari Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo. Penelitian ini dilakukan dalam bentuk survei lapangan yang bersifat observasional dengan pendekatan case control. Jumlah sampel sebanyak 42 rumah yang terdiri dari 21 rumah pada kelompok kasus dan 21 rumah pada kelompok kontrol. Data penelitian dianalisis dengan metoda analisis non parametrik dengan uji chi square. Nilai keyakinan uji statistik adalah 95% dan nilai kemaknaan (α) 0,05. Variabel-variabel bebas adalah kondisi fisik rumah antara lain : ventilasi (p = 0.013 dan OR = 5,20), langit-langit (p = 0,002 dan OR = 8,50), dan dinding (p = 0,013 dan OR = 5,0). Kondisi lingkungan sekitar rumah antara lain: semak-semak (p = 0,019 dan OR = 0,18), parit atau selokan (p = 0,000 dan OR = 0,06), dan kandang ternak (p = 0,000 dan OR = 0,01) Dapat disimpulkan bahwa kondisi fisik rumah dan lingkungan sekitar rumah menunjukkan adanya hubungan yang bermakna terhadap kejadian malaria maka disarankan adanya penyuluhan bagi masyarakat serta perbaikan dan kebersihan pada kondisi fisik rumah dan lingkungan sekitar rumah.

Kata kunci : Kondisi Fisik, Lingkungan, Malaria Kepustakaan : 35, 1991-2009

Pembimbing I

Dwi Astuti, S.Pd, M.Kes NIK. 765

Surakarta,

November 2009

Pembimbing II

Sri Darnoto, SKM NIK. 100. 1015

Mengetahui, Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat

Yuli Kusumawati, SKM, M.Kes(Epid) NIK. 863

ii

Aprilia Ayu Pamela. J 410 050 013

HOUSE PHYSICAL CONDITION AND ENVIRONMENT’HOUSE THAT

CORRELATION WITH MALARIAE INSIDENT AT KETOSARI VILLAGE,

SUBDISTRICT BENER DISTRICT PURWOREJO.

Abstract

Malariae incident is health problem in indonesia until now. Ketosari is the one of village in subdistrict Bener that it has endemic malariae incident with API (Annual Parasite Insidence) in the year 2008 up to 34,7‰. Malariae incident is caused with between human contact and malariae mosquito, thus supported by bad condition in housing and environment. The research aim is to detect the relation between house physical condition and their environment with malariae incident at Ketosari Village, Bener sub district, Regency Purworejo. This research work a field research with observasional research and case contro approach. The amount of Sample is 42 houses that consist of 21 houses in case group and 21 houses in control group. The datas is analyzed with non parametrik analysis method and chi square test. Statistics test confidence value is 95% and standart value is α = 0,05. Independent variables from house physical condition : ventilation (p = 0.013 and or = 5,20, ceilings (p = 0,002 and or = 8,50) and wall (p = 0,013 and or = 5,0). The environment’house variables is bush (p = 0,019 and or = 0,18), canals or gutter (p = 0,000 and or = 0,06) and livestock stable (p = 0,000 and or = 0,01). It can be summarized that house physical condition and their environment represent the significant connection towards malariae incident, thus it can be suggested to act the elucidation for society plus to repair and clean in house physical condition and their environment.

Keyword: physical condition, environment, malariae

iii

SKRIPSI

HUBUNGAN KONDISI FISIK RUMAH DAN LINGKUNGAN SEKITAR RUMAH DENGAN KEJADIAN MALARIA DI DESA KETOSARI KECAMATAN BENER KABUPATEN PURWOREJO

Skripsi ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijazah S1 Kesehatan Masyarakat

Disusun Oleh :

APRILIA AYU PAMELA J 410 050 013

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2009

iv

@ 2009 Hak Cipta Pada Penulis

v

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi dengan judul:

HUBUNGAN KONDISI FISIK RUMAH DAN LINGKUNGAN SEKITAR RUMAH DENGAN KEJADIAN MALARIA DI DESA KETOSARI KECAMATAN BENER KABUPATEN PURWOREJO.

Disusun oleh

: Aprilia Ayu Pamela

NIM

: J 410 050 013

Telah kami setujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Pembimbing I

Dwi Astuti, S.Pd, M.Kes NIK. 765

vi

Surakarta,

November 2009

Pembimbing II

Sri Darnoto, SKM NIK. 1001. 015

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi dengan judul :

HUBUNGAN KONDISI FISIK RUMAH DAN LINGKUNGAN SEKITAR RUMAH DENGAN KEJADIAN MALARIA DI DESA KETOSARI KECAMATAN BENER KABUPATEN PURWOREJO

: Aprilia Ayu Pamela : J 410 050 013 Surakarta, : Dwi Astuti, S.Pd, M.Kes
: Aprilia Ayu Pamela
: J 410 050 013
Surakarta,
:
Dwi Astuti, S.Pd, M.Kes
(
:
Sri Darnoto, SKM
(

Disusun Oleh

NIM

Telah dipertahankan dihadapan Tim Penguji Skripsi Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta pada tanggal 1 November 2009 dan telah diperbaiki sesuai dengan masukan Tim Penguji.

November 2009

Ketua Penguji

Anggota Penguji I

)

)

Anggota Penguji II

:

Noor Alis Setiyadi, SKM

(

)

Mengesahkan, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta

( Arif Widodo, A.Kep, M.Kes ) NIK. 630

vii

PERSEMBAHAN

Karya sederhana ini kupersembahkan untuk:

Setiap lembaran dari goresan tinta ini merupakan wujud dari keagungan dan kasih sayang yang diberikan Allah SWT kepada umat-Nya.

Setiap detik waktu penyelesaian karya ini merupakan hasil getaran jiwa kedua orang tuaku, eyang, kakak, dan adikku yang dengan seluruh nafas memberikan kasih sayang, semangat, dorongan, doa yang tiada henti kepada diriku.

Setiap inspirasi dan semangat yang terlintas dalam sebuah penyelesaian karya sederhana ini merupakan dorongan pemilik hatiku sayang.

Setiap keberhasilan dalam penyelesaian karya ini merupakan wujud dari seluruh kebanggaan diriku untuk mengerti sebuah jati diri serta rasa hormat dan baktiku.

Guru-guruku, karenamu aku bisa mengeja.

viii

Almamaterku.

MOTTO

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

(QS. Al Baqarah 286)

Keridhoan Allah tergantung kepada keridhoan orang tua dan murka Allah

terletak kepada murka orang tua

(HR. Al Hakim)

Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang

demikian itu sungguh berat, kecuali bagi yang khusuk.

(QS. Al Baqarah 45)

Hal terindah dalam hidup ini yaitu melihat orang yang kita sayangi tersenyum

( Peneliti )

“Bersabar dan ikhlaslah dalam menjalani cobaan, sesungguhnya dibalik itu

semua pasti ada hikmahnya”

( Peneliti )

Harga sebuah kegagalan dan kesuksesan bukan dinilai dari hasil akhir,

melainkan dari proses perjuangannya.

( Peneliti )

Jadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin dan jadikanlah

hari esok lebih baik dari hari ini.

( Peneliti )

ix

Nama Tempat/Tanggal Lahir Jenis Kelamin Agama Alamat

RIWAYAT HIDUP

: Aprilia Ayu Pamela : Brebes, 23 April 1987 : Perempuan : Islam

: Krajan RT 02 RW 05 Suruh, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang.

Riwayat Pendidikan

: 1.

Lulus SD N 2 Suruh tahun 1999

2.

Lulus SLTP N 3 Susukan tahun 2002

3.

Lulus SLTA N 1 Tengaran tahun 2005.

4.

Menempuh pendidikan di Program Studi Kesehatan Masyarakat FIK UMS sejak tahun

2005.

x

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kemudahan dan petunjuk dalam menyelesaikan skripsi yang berjudul “Hubungan Kondisi Fisik Rumah dan Lingkungan Sekitar Rumah dengan Kejadian Malaria di Desa Ketosari Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo”. Laporan skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta. Penulis menyadari tanpa bantuan berbagai pihak tidak banyak yang bisa penulis lakukan dalam menyelesaikan skripsi ini. Untuk itu penulis

menyampaikan rasa hormat dan terimakasih atas semua bantuan dan dukungannya selama pelaksanaan dan penyusunan laporan skripsi ini kepada:

1. Bpk. Arif Widodo, A.Kep, M.Kes selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.

2. Ibu Yuli Kusumawati SKM, M.Kes (Epid) selaku Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta.

3. Ibu Dwi Astuti, S.Pd, M.Kes selaku pembimbing I yang telah memberikan bimbingan, pengarahan, dan masukan dalam skripsi ini.

4. Bpk. Sri Darnoto, SKM selaku pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, pengarahan, dan masukan dalam skripsi ini.

5. Kepala Puskesmas Bener, Kepala Desa Ketosari, dan Mas Nur Safi’i selaku JMD ( Juru Malaria Desa ) Ketosari yang telah memberikan banyak bantuan pada saat penelitian skripsi ini.

6. Papa dan Mama tersayang yang telah memberikan doa tanpa kenal waktu, semangat, nasihat, dukungan, dan kasih sayang yang tak terhitung banyaknya. Kalian adalah inspirasi terbesar dalam pencapaian tujuan hidupku.

xi

7. Eyang Barodji, eyang putri, kakak, dan adikku tersayang yang telah memberikan inspirasi untuk segala hal, dorongan, nasihat, rasa sayang, dan selalu membuatku tersenyum.

8. Sucita Tri Nugraha yang telah banyak membantu pada saat penelitian dan memberikan nasihat, semangat, rasa sayang, doa, serta menjadi penghilang sedikit penat saat kuliah.

9. Junitha, Umy, Vita, Ririn, Idda, Aput, Aya, mbak Eka dan semua teman- teman seperjuangan Prodi Kesmas 2005 kalian telah mengajarkanku arti sebuah persahabatan.

10. Serta semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah memberikan dukungan dan dorongan dalam penyelesaian skripsi ini.

Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

xii

Surakarta, November 2009

Penulis

DAFTAR ISI

 

Halaman

HALAMAN JUDUL

i

HAK CIPTA

ii

PERNYATAAN PERSETUJUAN

iii

PERNYATAAN PENGESAHAN

iv

PERSEMBAHAN

v

MOTTO

vi

RIWAYAT HIDUP

vii

KATA PENGANTAR

viii

DAFTAR ISI

x

DAFTAR GAMBAR

xiii

DAFTAR TABEL

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

xv

DAFTAR SINGKATAN

xvi

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

1

B. Rumusan Masalah

3

1. Masalah Umum

3

2. Masalah Khusus

4

C. Tujuan Penelitian

5

1. Tujuan Umum

5

2. Tujuan Khusus

5

D. Manfaat Penelitian

6

E. Ruang Lingkup

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Malaria

7

B. Epidemiologi

7

1. Agent

7

2. Host

8

xiii

3.

Environment

9

 

C. Penyebab Penyakit Malaria

13

D. Cara Penularan

15

E. Pencegahan Penyait Malaria

16

F. Pemberantasan Penyakit Malaria

17

G. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Malaria

18

H. Kerangka Teori

26

I. Kerangka Konsep

27

J. Hipótesis Penelitian

27

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

29

B. Subjek Penelitian

29

C. Lokasi dan Waktu Penelitian

30

D. Populasi dan Sampel

30

1. Populasi

30

2. Sampel

31

E. Variabel Penelitian

32

F. Definisi Operasional Variabel

33

G. Pengumpulan Data

36

1. Jenis data

36

2. Sumber data

36

3. Cara pengumpulan data

37

H. Langkah-langkah Penelitian

37

1. Instrumen Penelitian

37

2. Jalannya Penelitian

37

I. Pengolahan Data

38

J. Anlisis Data

39

1. Analisis univariat

39

2. Analisis bivariat

39

xiv

BAB IV

HASIL PENELITIAN

 

A. Gambaran Umum

41

B. Hasil Penelitian

42

1. Karakteristik responden

42

2. Analisis univariat

46

3. Analisis bivariat

50

BAB V

PEMBAHASAN

A. Hubungan antara Kondisi Fisik Rumah dengan Kejadian Malaria

58

1. Hubungan antara Ventilasi dengan Kejadian Malaria

58

2. Hubungan antara Langit-langit dengan Kejadian Malaria

59

3. Hubungan antara Dinding dengan Kejadian Malaria

60

B. Hubungan antara Kondisi Lingkungan sekitar Rumah

dengan Kejadian Malaria

62

1. Hubungan antara Semak-semak dengan Kejadian Malaria

62

2. Hubungan antara Parit atau Selokan dengan Kejadian Malaria

63

3. Hubungan antara Kandang Ternak dengan Kejadian Malaria

64

C. Keterbatasan Penelitian

66

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

67

B. Saran

68

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

xv

Gambar

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Kerangka Teori Peneliti

26

2. Kerangka Konsep Penelitian

27

xvi

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

1. Gambaran Kejadian Malaria Menurut Karakteristik Responden

di

Desa Ketosari Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo

45

2. Rangkuman Hasil Analisis Univariat Hubungan Kondisi Fisik Rumah

dan Lingkungan Sekitar Rumah

49

3. Hubungan Ventilasi Rumah dengan Kejadian Malaria Di Desa Ketosari Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo

50

4. Hubungan Langit-Langit Rumah dengan Kejadian Malaria

di

Desa Ketosari Kecamatan Bener KabupatenPurworejo

51

5. Hubungan dinding rumah dengan kejadian malaria

di

Desa Ketosari Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo

52

6. Hubungan semak-semak dengan kejadian malaria

di

Desa Ketosari Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo

54

7. Hubungan parit atau selokan dengan kejadian malaria

di

Desa Ketosari Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo

55

8. Hubungan kandang dengan kejadian malaria

di

Desa Ketosari Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo

56

9. Rangkuman hasil analisis bivariat hubungan kondisi fisik rumah dan lingkungan sekitar rumah

57

xvii

Lampiran

DAFTAR LAMPIRAN

1. Surat Kesediaan Menjadi Responden

2. Kuesioner penelitian

3. Peta Desa Ketosari

4. Ijin Pengambilan Data

5. Ijin Penelitian

6. Laporan Kasus Malaria Positif

7. Hasil Analisis Statistik

8. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian

9. Dokumentasi Penelitian

DAFTAR SINGKATAN

ACD

: Active Case Detection

API

: Annual Parasit Insidence

CI

: Confidence Interval

JMD

: Juru Malaria Desa

KK

: Kepala Keluarga

KLB

: Kejadian Luar Biasa

MDA

: Mass Drug Administration

OR

: Odd Ratio

PCD

: Passive Case Detection

PJB

: Pemantauan Jentik Berkala

PNPM

: Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat

RT

: Rukun Tangga

RW

: Rukun Warga

SKRT

: Survei Kesehatan Rumah Tangga

xix

1

A. Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

Malaria masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia sampai saat ini.

Derajat endemisitas malaria di Indonesia berbeda antara satu daerah dengan

daerah lain (Pribadi dan Sungkar, 1994). Data hasil Survei Kesehatan Rumah

Tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan jumlah penderita malaria klinis di

seluruh Indonesia mencapai 15 juta orang dan 43 ribu diantaranya meninggal.

Jumlah penderita malaria cenderung mengalami kenaikan pertahunnya. Tahun

2006, wabah malaria dinyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) di 7

provinsi, dengan jumlah penderita mencapai 1.107 orang, 23 diantaranya

meninggal. Sedangkan tahun 2007 KLB terjadi di 8 provinsi, dengan jumlah

penderita

mencapai

1.256

orang

dan

mengakibatkan

74

meninggal dunia (Zubersafawi, 2009).

penderitanya

Bulan Juli-Agustus 2002 dilaporkan 35 kabupaten di Jawa Tengah

terserang

penyakit

ini,

dengan

jumlah

penderita

sekitar

3.000

orang

(Prabowo,

2004).

Kabupaten

Purworejo

merupakan

salah

satu

dari

35

Kabupaten di Jawa Tengah yang terdapat kasus malaria dengan daerah

endemis malaria yaitu Kecamatan Bener. Dalam periode tahun 2003 hingga

tahun 2007 API (Annual Parasit Insidence) di Kecamatan Bener mengalami

penurunan dari API sebesar 20,28‰ turun menjadi 0.58‰. Akan tetapi pada

tahun 2008 terjadi peningkatan kasus malaria dengan API sebesar 3.5‰

(Puskesmas Bener 2008). Adanya kasus di daerah tersebut menunjukkan

2

bahwa penularan penyakit masih terus barlangsung dan pengendalian vektor

harus dilakukan.

Kesakitan malaria sampai saat ini disebabkan karena adanya kontak

nyamuk dengan manusia sebagai vektor malaria. Kalau di suatu daerah

dijumpai kasus malaria dan ada nyamuk yang menjadi atau diduga sebagai

vektornya serta ada tempat perindukannya maka sudah dapat dipastikan

bahwa penularan terjadi di daerah tersebut (Barodji, 2000). Berdasarkan hasil

penelitian Darmadi (2002), diketahui bahwa ada hubungan yang bermakna

antara kondisi fisik rumah dan lingkungan sekitar rumah dengan kejadian

malaria.

Kasus malaria di Kecamatan Bener pada tahun 2008 terdapat di Desa

Ketosari dengan jumlah penderita yang positif malaria sebanyak 66 orang

dengan API 34,7‰, angka tersebut masih di atas target nasional (0,08‰).

Sedangkan pada tahun 2009 jumlah penderita malaria pada Januari–Juli

sebanyak 123 orang (Puskesmas Bener, 2009). Dengan vektor utama malaria

di Desa Ketosari adalah Anopheles aconitus, Anopheles balabacensis dan

Anopheles maculatus (Lestari dkk, 2007).

Peningkatan kasus malaria di Desa Ketosari diperkirakan berkaitan

dengan kondisi lingkungan fisik rumah yaitu mudah tidaknya nyamuk masuk

ke dalam rumah yang dipengaruhi oleh ventilasi yang dipasang kawat kasa,

kerapatan dinding dan adanya langit-langit rumah. Kondisi lingkungan sekitar

rumah yang mendukung perindukan nyamuk

yaitu ada

tidaknya tempat

perindukan dan persinggahan nyamuk di sekitar rumah. Karena dilihat dari

3

bionomik vektor di daerah ini, bahwa pada siang hari Anopheles maculatus

dan Anopheles balabacensis ditemukan istirahat di semak-semak dan di

kandang kambing yang terbuat dari bambu. Tempat perkembangbiakannya di

parit atau selokan dan di genangan-genangan air jernih. Sedangkan perilaku

menghisap darah sejak sore hari dan paling banyak menggigit sekitar pukul

21.00-03.00 (Lestari dkk, 2007). Hasil pendataan yang dilakukan petugas

PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) Desa Ketosari tahun

2009 mencatat presentase rumah miskin di Desa Ketosari yaitu 51,9%. Rumah

yang

miskin

inilah

yang

berpotensial

tidak

memenuhi

syarat

kesehatan

sehingga mendukung kepadatan nyamuk baik di dalam maupun di luar rumah.

Berdasarkan

uraian

latar

belakang

di

atas,

penulis

melakukan

penelitian tentang malaria kaitanya dengan faktor tersebut. Dengan judul

penelitian “Hubungan kondisi fisik rumah dan lingkungan sekitar rumah

dengan kejadian malaria di Desa Ketosari Kecamatan Bener Kabupaten

Purworejo.

B. Rumusan Masalah

1. Masalah umum

Apakah ada hubungan antara kondisi fisik rumah dan lingkungan

sekitar rumah dengan kejadian malaria di Desa Ketosari Kecamatan Bener

Kabupaten Purworejo?

4

2. Masalah Khusus

a. Adakah hubungan antara ada tidaknya kawat kasa pada ventilasi

rumah dengan kejadian malaria di Desa Ketosari Kecamatan Bener

Kabupaten Purworejo?

b. Adakah hubungan antara ada tidaknya langit-langit pada semua atau

sebagian ruangan rumah dengan kejadian malaria di Desa Ketosari

Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo?

c. Adakah hubungan antara kerapatan dinding rumah dilihat dari ada

tidaknya lubang lebih dari 1,5 mm² pada dinding dengan kejadian

malaria di Desa Ketosari Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo?

d. Adakah hubungan antara ada tidaknya semak-semak di sekitar rumah

dengan

kejadian

malaria

di

Kabupaten Purworejo?

Desa

Ketosari

Kecamatan

Bener

e. Adakah hubungan antara ada tidaknya parit atau selokan di sekitar

rumah dengan kejadian malaria di Desa Ketosari Kecamatan Bener

Kabupaten Purworejo?

f. Adakah hubungan antara ada tidaknya kandang ternak di sekitar rumah

dengan

kejadian

malaria

di

Kabupaten Purworejo?

Desa

Ketosari

Kecamatan

Bener

5

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Tujuan

umum

dari

penelitian

ini

adalah

untuk

mengetahui

hubungan kondisi fisik rumah dan lingkungan sekitar rumah dengan

kejadian

malaria

Purworejo.

2. Tujuan khusus

di

Desa

Ketosari

Kecamatan

Bener

Kabupaten

a. Mengetahui hubungan antara ada tidaknya kawat kasa pada ventilasi

rumah dengan kejadian malaria di Desa Ketosari Kecamatan Bener

Kabupaten Purworejo.

b. Mengetahui hubungan antara ada tidaknya langit-langit pada semua

atau

sebagian

ruangan

rumah

dengan

kejadian

malaria

di

Desa

Ketosari Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo.

c. Mengetahui hubungan antara kerapatan dinding rumah dilihat dari ada

tidaknya lubang lebih dari 1,5 mm² pada dinding dengan kejadian

malaria di Desa Ketosari Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo.

d. Mengetahui hubungan antara ada tidaknya semak-semak di sekitar

rumah dengan kejadian malaria di Desa Ketosari Kecamatan Bener

Kabupaten Purworejo.

e. Mengetahui hubungan antara ada tidaknya parit atau selokan di sekitar

rumah dengan kejadian malaria di Desa Ketosari Kecamatan Bener

Kabupaten Purworejo.

6

f. Mengetahui hubungan antara ada tidaknya kandang ternak di sekitar

rumah dengan kejadian malaria di Desa Ketosari Kecamatan Bener

Kabupaten Purworejo.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini dapat diharapkan memberikan manfaat pada beberapa

pihak antara lain :

1. Bagi intansi kesehatan

Sebagai masukan atau bahan pertimbangan kepada pengelola progam

pemberantasan

penyakit

penyakit malaria.

2. Bagi masyarakat

menular

terutama

pada

pengelola

progam

Sebagai sumbangan pemikiran dan bahan pertimbangan dalam upaya

pencegahaan dan pemberantasaan penyakit malaria.

3. Bagi mahasiswa

Menambah wawasan dan pengalaman bagi mahasiswa dalam menerapkan

ilmu pengetahuan yang penulis peroleh dibangku kuliah.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup materi dalam penelitian ini dibatasi pada pembahasan

mengenai hubungan antara kondisi fisik rumah dan lingkungan sekitar rumah

dengan kejadian malaria di Desa Ketosari Kecamatan Bener Kabupaten

Purworejo.

7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Malaria

Malaria

adalah

penyakit

menular

yang

disebabkan

oleh

parasit

plasmodium

yang

ditularkan

melalui

gigitan

nyamuk

Anopheles

yang

terinfeksi. Penyakit ini dapat menyerang semua orang baik bayi, anak-anak

maupun orang dewasa (Depkes RI, 1991).

B. Epidemiologi Malaria

Epidemiologi

malaria

adalah

ilmu

yang

mempelajari

tentang

penyebaran

malaria

dan

faktor-faktor

yang

mempengaruhinya

dalam

masyarakat. Dalam epidemiologi selalu ada 3 faktor yang diselidiki: host

(manusia sebagai host intermediate dan nyamuk sebagai host definitif), agent

(penyebab penyakit malaria, plasmodium) dan environment (lingkungan).

Penyebaran malaria terjadi bila ketiga faktor tersebut saling mendukung.

1. Agent (parasit malaria)

Agent atau penyebab penyakit malaria adalah semua unsur atau

elemen hidup ataupun tidak hidup dalam kehadirannya bila diikuti dengan

kontak yang efektif dengan manusia yang rentan akan memudahkan

terjadinya suatu proses penyakit. Agent penyebab malaria adalah protozoa

dari genus plasmodium.

8

2. Host (Pejamu)

a. Manusia (host intermediate)

Penyakit

malaria

dapat

menginfeksi

setiap

manusia,

ada

beberapa faktor intrinsik yang dapat mempengaruhi manusia sebagai

penjamu

penyakit

malaria

antara

lain:

usia/umur,

jenis

kelamin,

suku/ras,

sosial

ekonomi,

status

perkawinan,

riwayat

penyakit

sebelumnya, cara hidup, keturunan, status gizi, dan tingkat imunitas.

b. Nyamuk (host definitif)

Nyamuk

Anopheles

yang

menghisap

darah

hanya

nyamuk

Anopheles

betina.

Darah

diperlukan

untuk

pertumbuhan

telurnya.

Perilaku nyamuk sangat menentukan dalam proses penularan malaria.

Beberapa sifat dan perilaku sangat penting adalah :

1) Tempat hinggap atau istirahat

a) Eksofilik: nyamuk hinggap dan istirahat di luar rumah.

b) Endofilik: nyamuk hinggap dan istirahat di dalam rumah.

2) Tempat menggigit

a) Eksofagik: lebih suka menggigit di luar rumah.

b) Endofagik: lebih suka menggigit di dalam rumah.

3) Obyek yang digigit

a) Antrofofilik: lebih suka menggigit manusia.

b) Zoofilik: lebih suka menggigit binatang.

9

4) Faktor lain yang penting adalah :

a) Umur

nyamuk

(longevity) semakin

panjang

umur nyamuk

semakin besar kemungkinannya untuk menjadi penular atau

vektor malaria.

b) Kerentanan nyamuk terhadap infeksi gametosit.

c) Frekuensi menggigit manusia.

 

d) Siklus

gonotrofik

yaitu

waktu

yang

diperlukan

untuk

matangnya telur.

 

3.

Environment (lingkungan)

 

Lingkungan

adalah

lingkungan

manusia

dan

nyamuk

berada.

Nyamuk berkembang biak dengan baik bila lingkungannya sesuai dengan

keadaan yang dibutuhkan oleh nyamuk untuk berkembang biak. Kondisi

lingkungan yang mendukung perkembangan nyamuk tidak sama tiap

jenis/spesies nyamuk. Nyamuk Anopheles aconitus cocok pada daerah

perbukitan dengan sawah non teknis berteras, saluran air yang banyak

ditumbuhi

rumput

yang

menghambat

aliran

air.

Nyamuk

Anopheles

balabacensis cocok pada daerah perbukitan yang banyak terdapat hutan

dan perkebunan. Jenis nyamuk

Anopheles maculatus dan Anopheles

balabacensis sangat cocok berkembang biak pada tempat genangan air

seperti bekas jejak kaki, bekas jejak roda kendaraan dan bekas lubang

galian. Lingkungan yang mendukung kehidupan dan perkembangbiakkan

nyamuk dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat) macam yaitu:

10

a. Lingkungan Fisik

Lingkungan

fisik

yang

berkaitan

dengan

umur

dan

perkembangbiakkan nyamuk Anopheles antara lain :

1) Suhu udara

Suhu

udara

sangat

mempengaruhi

panjang

pendeknya

siklus sporogoni atau masa inkubasi ekstrinsik. Makin tinggi

suhu makin pendek masa inkubasi ekstrinsik, dan sebaliknya

makin rendah suhu makin panjang masa inkubasi ekstrinsik.

2) Kelembaban Udara

Kelembaban

yang

rendah

akan

nyamuk.

Kelembaban

mempengaruhi

memperpendek

umur

kecepatan

berkembang

biak, kebiasaan menggigit, istirahat dan lain-lain dari nyamuk.

3) Hujan

Terdapat

hubungan

langsung

antara

hujan

dan

perkembangan larva

nyamuk menjadi

bentuk

dewasa.

Besar

kecilnya pengaruh tergantung pada jenis hujan, derasnya hujan,

jumlah hari hujan, jenis vektor dan jenis tempat perindukan.

Hujan yang diselingi panas akan memperbesar kemungkinan

berkembangbiaknya Anopheles.

4) Angin

Kecepatan angin pada saat matahari terbit dan terbenam

yang merupakan saat terbangnya nyamuk ke dalam atau ke luar

rumah, adalah salah satu faktor yang ikut menentukan jumlah

11

kontak antara manusia dan nyamuk. Jarak terbang nyamuk dapat

diperpendek atau diperpanjang tergantung kepada arah angin.

5) Sinar matahari

Pengaruh

sinar

matahari

terhadap

pertumbuhan

larva

nyamuk berbeda-beda. Anopheles sundaicus lebih suka tempat

yang teduh. Sebaliknya Anopheles hyrcanus lebih menyukai

tempat yang terbuka. Anopheles barbirostris dapat hidup baik di

tempat yang teduh maupun tempat yang terang.

6) Arus air

Anopheles barbirostris menyukai tempat perindukan yang

airnya statis atau mengalir sedikit. Anopheles minimus menyukai

tempat perindukan yang aliran airnya cukup deras dan Anopheles

letifer di tempat yang airnya tergenang.

b. Lingkungan Kimiawi

Lingkungan

kimiawi

sampai

saat

ini

baru

diketahui

pengaruhnya

adalah

kadar

garam

tempat

perindukan,

misalnya

Anopheles sundaicus tumbuh pada air payau dengan kadar garam 1,2-

2% dan tidak dapat berkembang biak pada kadar garam 4%.

c. Lingkungan Biologik

Lingkungan biologik tumbuhan bakau, lumut, ganggang dan

berbagai jenis tumbuhan lain dapat mempengaruhi kehidupan larva

nyamuk

Anopheles

karena

dapat

menghalangi

sinar

masuk

atau

melindungi dari serangan makhluk hidup yang lain. Adanya berbagai

12

jenis ikan pemakan larva seperti ikan kepala timah, ikan gabus, ikan

nila, mujair dan lain-lain akan mempengaruhi populasi nyamuk.

d. Lingkungan sosial budaya

Faktor

ini

besar

pengaruhnya

dibandingkan

dengan

faktor

lingkungan lain. Kebiasaan untuk berada di luar rumah sampai larut

malam dimana vektornya lebih bersifat eksofilik dan eksofagik akan

memperbesar

jumlah

gigitan

nyamuk.

Penggunaan

kelambu,

pemasangan kawat kasa pada ventilasi, jendela yang tidak terbuka

sampai senja, dinding rumah yang rapat dan adanya langit-langit

rumah

serta

penggunaan

zat

penolak

nyamuk

yang

intensitasnya

berbeda

sesuai

dengan

perbedaan

status

sosial

masyarakat,

akan

mempengaruhi angka kesakitan malaria.

Faktor

yang

cukup

penting

adalah

pandangan

masyarakat

terhadap penyakit malaria, apabila malaria dianggap sebagai suatu

kebutuhan untuk diatasi, upaya untuk menyehatkan lingkungan akan

dilaksanakan oleh masyarakat. Dampak dari laju pembangunan yang

cepat adalah timbulnya tempat perindukan buatan manusia sendiri

seperti pembuatan bendungan, penambangan timah/emas dan tempat

pemukiman

baru

menimbulkan

perubahan

lingkungan

yang

menguntungkan bagi nyamuk malaria (Depkes RI, 1999).

13

C. Penyebab Penyakit Malaria

Agent penyebab malaria ialah makhluk hidup Genus Plasmodia,

Famili Plasmodiidae dari Ordo Coccidiidae. Sampai saat ini di Indonesia

dikenal empat spesies parasit malaria pada manusia, yaitu :

1. Plasmodium

falciparum:

penyebab

penyakit

tropika

yang

sering

menyebabkan malaria berat/malaria otak yang fatal, gejala seranganya

timbul berselang setiap dua hari (48 jam) sekali.

2. Plasmodium

vivax:

penyebab

penyakit

malaria

tertiana

yang

gejala

serangannya timbul berselang setiap tiga hari.

3. Plasmodium malariae: penyebab penyakit malaria quartana yang gejala

serangannya timbul berselang setiap empat hari.

4. Plasmodium ovale: jenis ini jarang ditemui di Indonesia, banyak dijumpai

di Afrika dan Pasifik Barat.

Seorang penderita dapat dihinggapi lebih dari satu jenis plasmodium,

infeksi demikian disebut infeksi campuran (mixed infection). Yang terbanyak

terdiri dari dua campuran, yaitu Plasmodium falciparum dengan Plasmodium

vivax atau Plasmodium malariae. Infeksi campuran biasanya terjadi di daerah

yang angka penularannya tinggi (Depkes RI, 2006)

Parasit malaria memerlukan dua macam siklus kehidupan untuk

kelangsungan hidupnya, yaitu siklus hidup dalam tubuh manusia terjadi

pertumbuhan

bentuk

aseksual

dan

siklus

hidup

dalam

tubuh

nyamuk

Anopheles terjadi fase reproduksi seksual (Prabowo, 2004). Gejala klinis

14

malaria biasanya terdiri dari 3 stadium yang berurutan yaitu stadium dingin,

stadium demam, dan stadium berkeringat.

a. Stadium dingin (cold stage)

Stadium ini mulai dengan menggigil dan perasaan yang sangat

dingin. Gigi gemeretak dan penderita biasanya menutupi tubuhnya dengan

segala macam pakaian dan selimut yang tersedia. Nadi cepat tetapi lemah,

bibir dan jari-jari pucat atau sianosis, kulit kering dan pucat, penderita

mungkin muntah dan pada anak-anak sering terjadi kejang. Stadium ini

berlangsung antara 15 menit sampai 1 jam.

b. Stadium demam ( hot stage)

Stadium

ini

penderita

merasa

kepanasan.

Muka

merah,

kulit

kering dan terasa sangat panas seperti terbakar, sakit kepala, mual serta

muntah seringkali terjadi. Nadi menjadi kuat lagi. Biasanya penderita

menjadi sangat haus dan suhu badan dapat meningkat sampai 41°C atau

lebih. Stadium ini berlangsung antara 2-12 jam. Demam disebabkan

karena pecahnya sizon darah yang telah matang dan masuknya merosoit

darah ke dalam aliran darah.

c. Stadium berkeringat (sweating stage)

Stadium ini penderita berkeringat banyak sekali, sampai-sampai

tempat tidurnya basah, kemudian suhu badan menurun dengan cepat,

kadang-kadang sampai di bawah normal. Penderita dapat tidur dengan

nyenyak, badan terasa lemah setelah bangun. Stadium ini berlangsung 2-4

jam (Soegijanto, 2004).

15

Gejala-gejala tersebut tidak selalu ditemukan pada setiap penderita,

dan ini tergantung pada spesies parasit, umur, dan tingkat

penderita (Sutisna, 2002).

D. Cara Penularan

imunitas

Dikenal adanya berbagai cara penularan malaria :

1. Penularan secara alamiah

Penularan ini terjadi melalui gigitan nyamuk Anopheles.

2. Penularan yang tidak alamiah

a. Malaria bawaan (congenital)

Terjadi pada bayi yang baru dilahirkan karena ibunya menderita

malaria. Penularan terjadi melalui tali pusat atau plasenta.

b. Secara mekanik

Penularan

terjadi

melalui

transfusi

darah

melalui

jarum

suntik.

Penularan melalui jarum suntik banyak terjadi pada para morfinis yang

menggunakan jarum suntik yang tidak steril.

c. Secara oral (melalui mulut)

Cara penularan ini pernah dibuktikan pada burung, ayam (Plasmodium

gallinasium),

burung

dara

(Plasmodium knowlesi).

(Plasmodium

relection)

dan

monyet

Pada umumnya sumber infeksi bagi malaria pada manusia adalah

manusia lain yang sakit malaria baik dengan gejala maupun tanpa

gejala klinis (Rampengan, 1993).

16

E. Pencegahan Penyakit Malaria

Pencegahan penyakit malaria secara garis besar dapat dikelompokkan

menjadi beberapa kegiatan :

1. Pencegahan terhadap parasit yaitu dengan pengobatan profilaksis atau

pengobatan pencegahan.

a. Orang yang akan berpergian ke daerah-daerah endemis malaria harus

minum

obat

antimalaria

sekurang-kurangnya

seminggu

sebelum

keberangkatan

sampai

empat

minggu

setelah

orang

tersebut

meninggalkan daerah endemis malaria.

 

b. Wanita

hamil

yang

akan

berpergian

ke

daerah

endemis

malaria

diperingatkan

tentang

risiko

yang

mengancam

kehamilannya.

Sebelum berpergian, ibu hamil disarankan untuk berkonsultasi ke

klinik atau rumah sakit dan mendapatkan obat antimalaria.

c. Bayi dan anak-anak berusia di bawah empat tahun dan hidup di daerah

endemis malaria harus mendapat obat anti malaria karena tingkat

kematian bayi/anak akibat infeksi malaria cukup tinggi.

2. Pencegahan terhadap vektor/gigitan nyamuk.

Daerah yang jumlah penderitanya sangat banyak, tindakan untuk

menghindari gigitan nyamuk sangat penting. Maka dari itu disarankan

untuk memakai baju lengan panjang dan celana panjang saat keluar rumah

terutama pada malam hari, memasang kawat kasa di jendela dan ventilasi

rumah, serta menggunakan kelambu saat tidur. Masyarakat juga dapat

memakai minyak anti nyamuk saat tidur dimalam hari untuk mencegah

17

gigitan nyamuk malaria, karena biasanya vektor malaria menggigit pada

malam hari (Prabowo, 2004).

F. Pemberantasan Penyakit Malaria

Penyebaran penyakit malaria disebabkan oleh tiga komponen yang

saling berkaitan yaitu host, agent, dan environment merupakan mata rantai

penularan. Pemberantasan malaria harus ditujukan untuk memutus penularan

penyakit malaria, dengan sasaran antara lain :

1. Penemuan penderita

Penemuan

penderita

secara

dini

merupakan

salah

satu

cara

memutus penyebaran penyakit

malaria. Kegiatan tersebut antara lain

dilakukan dengan penemuan penderita malaria secara aktif (ACD = Active

Case

Detection)

dilakukan

oleh

petugas

juru

malaria

desa

yang

mengunjungi rumah secara teratur. Penemuan penderita secara pasif (PCD

= Passive Case Detection) yakni berdasarkan kunjungan pasien di unit

pelayanan kesehatan (puskesmas pembantu, puskesmas, dan rumah sakit)

yang menunjukkan gejala klinis malaria.

2. Pengobatan penderita

Kegiatan pengobatan penderita antara lain :

a. Pengobatan

malaria

klinis,

adalah

pengobatan

penderita

malaria

berdasarkan diagnosa klinis tanpa pemeriksaan laboratorium.

b. Pengobatan radikal, adalah pengobatan penderita malaria berdasarkan

diagnosa secara klinis dan pemeriksaan laboratorium sediaan darah.

18

c. Pengobatan MDA (Mass Drug Administration), adalah pengobatan

massal pada saat KLB, mencakup > 80% jumlah penduduk di daerah

tersebut yang diobati.

d. Profilaksis, adalah

pengobatan

pencegahan

dengan

sasaran

warga

transmigrasi dan ibu hamil di daerah endemis malaria.

3. Pemberantasan vektor

Pemberantasan vektor dilakukan antara lain dengan penyemprotan

rumah

menggunakan

insektisida

untuk

membunuh

nyamuk

dewasa,

membunuh

jentik

melalui

kegiatan

anti

menghilangkan

atau

mengurangi

tempat

larva

atau

perindukan

larvasiding

dan

nyamuk

untuk

mengurangi jumlah nyamuk (Depkes RI, 1999).

G. Faktor-faktor yang berhubungan dengan malaria

Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit malaria

antara lain :

1. Faktor Lingkungan fisik

a. Kondisi fisik rumah

Rumah adalah struktur fisik, orang menggunakan untuk tempat

berlindung yang dilengkapi beberapa fasilitas yang berguna untuk

kesehatan jasmani dan rohani baik untuk keluarga maupun individu.

Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia disamping

pangan dan sandang, agar rumah dapat berfungsi sebagai tempat

19

tinggal yang baik diperlukan beberapa persyaratan. Rumah sehat harus

memenuhi beberapa persyaratan, antara lain :

1)

Rumah harus dibangun sedemikian rupa sehingga dapat terpenuhi

kebutuhan

fisik

dasar

dari

penghuninya.

Hal-hal

yang

perlu

diperhatikan di sini ialah :

 

a) Rumah tersebut harus terjamin penerangannya yang dibedakan

atas cahaya matahari dan lampu.

 

b) Rumah tersebut harus mempunyai ventilasi yang sempurna,

sehingga aliran udara segar dapat terpelihara.

 

c) Rumah tersebut dibangun sedemikian rupa sehingga dapat

dipertahankan suhu lingkungan.

 

2)

Rumah harus dibangun sedemikian rupa sehingga dapat terpenuhi

kebutuhan kejiwaan dasar dari penghuninya. Hal-hal yang perlu

diperhatikan adalah :

 

a) Terjamin berlangsungnya hubungan yang serasi antara anggota

keluarga yang tinggal bersama.

 

b) Menyediakan sarana yang memungkinkan dalam pelaksanaan

pekerjaan rumah tangga tanpa menimbulkan kelelahan yang

berlebihan.

 

3)

Rumah tersebut harus dibangun sedemikian rupa sehingga dapat

melindungi penghuni dari penularan penyakit atau berhubungan

dengan zat-zat yang membahayakan kesehatan. Hal-hal yang perlu

diperhatikan adalah :

20

a) Rumah yang di dalamnya tersedia air bersih yang cukup.

b) Ada tempat pembuangan sampah dan tinja yang baik.

c) Terlindung dari pengotoran terhadap makanan.

4)

d) Tidak

menjadi

tempat

bersarang

penyebab penyakit lainnya.

Rumah

harus

dibangun

sedemikian

binatang

melata

ataupun

rupa

sehingga

melindungi

penghuni dari kemungkinan terjadinya bahaya kecelakaan. Hal-hal

yang perlu diperhatikan adalah :

a) Rumah yang kokoh.

b) Terhindar dari bahaya kebakaran.

c) Alat-alat listrik yang terlindungi.

d) Terlindung dari kecelakaan lalu lintas (Azwar, 1996).

Kondisi fisik rumah berkaitan sekali dengan kejadian

malaria, terutama yang berkaitan dengan mudah atau tidaknya

nyamuk

masuk ke dalam rumah adalah ventilasi yang tidak di

pasang kawat kasa dapat mempermudah nyamuk masuk kedalam

rumah. Langit-langit atau pembatas ruangan dinding bagian atas

dengan atap yang terbuat dari kayu, internit maupun anyaman

bambu halus sebagai penghalang masuknya nyamuk ke dalam

rumah dilihat dari ada tidaknya langit-langit pada semua atau

sebagian ruangan rumah. Kualitas dinding yang tidak rapat jika

dinding

rumah

terbuat

dari

anyaman

bambu

kasar

ataupun

21

kayu/papan

yang

terdapat

lubang

lebih

dari

1,5

mm²

akan

mempermudah nyamuk masuk ke dalam rumah (Darmadi, 2002).

b. Lingkungan rumah

Lingkungan fisik yang diperhatikan dalam kejadian malaria

adalah jarak rumah dari tempat istirahat dan tempat perindukan yang

disenangi nyamuk Anopheless seperti adanya semak yang rimbun akan

menghalangi sinar matahari menembus permukaan tanah, sehingga

adanya semak-semak yang rimbun berakibat lingkungan menjadi teduh

serta

lembab

dan

keadaan

ini

merupakan

tempat

istirahat

yang

disenangi nyamuk Anopheles, parit atau selokan yang digunakan untuk

pembuangan air merupakan tempat berkembang biak yang disenangi

nyamuk, dan kandang ternak sebagai tempat istirahat nyamuk sehingga

jumlah populasi nyamuk di sekitar rumah bertambah (Handayani dkk,

2008).

c. Kondisi lingkungan yang sesuai dengan bionomik vektor malaria di

Jawa Tengah.

1)

Anopheles aconitus

Di Indonesia nyamuk ini terdapat hampir diseluruh kepulauan,

kecuali Maluku dan Irian. Biasanya dapat dijumpai di dataran

rendah tetapi lebih banyak didapat di daerah kaki gunung pada

ketinggian 400-1000 m. Jentiknya terdapat di sawah dan saluran

irigasi. Sawah yang akan ditanami dan mulai diberi air, yang masih

ada batang padi dan jerami yang berserakan, merupakan sarang

22

yang sangat baik. Nyamuk dewasa hinggap dalam rumah dan

kandang, tetapi tempat hinggap yang paling disukai ialah di luar

rumah, pada tebing yang curam, gelap dan lembab. Juga terdapat

diantara semak belukar didekat sarangnya. Jarak terbangnya dapat

mencapai

1,5

km,

tetapi

mereka

jarang

terdapat

jauh

dari

sarangnya. Terbangnya pada malam hari untuk menghisap darah.

(Iskandar dkk, 1985)

2)

Anopheles balabacensis

 

Anopheles balabacensis ditemukan sepanjang tahun baik pada

musim hujan maupun musim kemarau. Pada musim hujan tempat

perkembangbiakan spesies tersebut adalah di aliran mata air yang

tergenang, di genangan-genangan air hujan di tanah, dan di lubang-

lubang batu. Sering didapatkan juga pada parit yang alirannya

terhenti.

Pada

musim

kemarau

sumber

air

tanah

berkurang

sehingga

terbentuk

genangan-genangan

air

sepanjang

sungai.

Genangan-genangan

air

tersebut

dimanfaatkan

sebagai

tempat

perkembangbiakkan

Anopheles

balabacensis.

Nyamuk

dewasa

lebih suka menghisap darah manusia dari pada darah binatang

(Barodji dkk, 2001).

 

3)

Anopheles maculatus

Spesies

nyamuk

ini

umumnya

berkembangbiak

pada

genangan-genangan air tawar jernih baik di tanah seperti di mata

air, galian-galian pasir atau belik, genangan air hujan maupun

23

genangan

air di sungai yang berbatu-batu kecil yang terbentuk

karena

sumber

air

kurang

sehingga

air

tidak

mengalir

dan

menggenang di sepanjang sungai serta mendapat sinar matahari

langsung. Perilaku menghisap darah baik di dalam maupun di luar

rumah paling banyak sekitar pukul 22.00. Spesies ini pada siang

hari ditemukan istirahat di luar rumah pada tempat-tempat yang

teduh antara lain di kandang sapi dan kerbau, di semak-semak, di

lubang-lubang di tanah pada tebing dan lubang-lubang tempat

pembuangan sampah. Selama penangkapan pada siang hari tidak

pernah menemukan Anopheles maculatus istirahat di dalam rumah

(Boesri dkk, 2003). Jarak terbangnya kurang lebih 1 km tetapi

mereka

jarang

terdapat

jauh

dari

sarangnya

dan

lebih

suka

mengigit binatang dari pada manusia (Iskandar dkk, 1985).

4)

Anopheles sundaicus

Tempat perindukan nyamuk Anopheles sundaicus umumnya di

air payau yang banyak tumbuhan air atau lumut dan mendapat

sinar matahari langsung seperti muara sungai yang tergenang, di

lagun, dan di genangan-genangan air payau diantara hutan bakau

dengan salinitas 1,2-2%. Nyamuk dewasa senang hinggap di dalam

rumah (Barodji dkk, 1993).

2. Faktor Perilaku

Upaya pencegahan penyakit malaria salah satunya adalah melalui

pendidikan

kesehatan

masyarakat,

dan

tujuan

akhir

dari

pendidikan

24

kesehatan

masyarakat

adalah

perubahan

perilaku

yang

belum

sehat

menjadi perilaku sehat, artinya perilaku yang mendasarkan pada prinsip-

prinsip

sehat

atau

kesehatan.

Pendidikan

yang

diberikan

kepada

masyarakat harus direncanakan dengan menggunakan strategi yang tepat

disesuaikan

dengan

kelompok

sasaran

dan

permasalahan

kesehatan

masyarakat yang ada. Strategi tersebut mencakup metode/cara, pendekatan

dan

tekhnik

yang

mungkin

digunakan

untuk

mempengaruhi

faktor

prediposisi, pemungkin dan penguat yang secara langsung atau tidak

langsung mempengaruhi perilaku (Machfoedz dkk, 2005).

Strategi yang tepat agar masyarakat mudah dan cepat menerima

pesan diperlukan alat bantu yang disebut peraga. Semakin banyak indra

yang digunakan untuk menerima pesan semakin banyak dan jelas pula

pengetahuan yang diperoleh ( Depkes RI, 1999).

Praktik atau perilaku keluarga terhadap upaya mengurangi gigitan

nyamuk malaria adalah:

a. Kebiasaan menggunakan kelambu

Beberapa

penelitian

menunjukkan

bahwa

menggunakan

kelambu

secara teratur pada waktu malam hari dapat mengurangi kejadian

malaria. Penduduk yang tidak menggunakan kelambu mempunyai

resiko 6,44 kali terkena malaria (Barodji 2000).

25

b. Kebiasaan menghindari gigitan nyamuk

Untuk menghindari gigitan nyamuk digunakan obat semprot, obat

poles atau obat nyamuk bakar sehingga memperkecil kontak dengan

nyamuk (Depkes RI, 1992).

c. Kebiasaan berada di luar rumah pada malam hari

Nyamuk penular malaria mempunyai keaktifan menggigit pada malam

hari. Menurut Lestari (2007) nyamuk Anopheles paling aktif mencari

darah

pukul

21.00-03.00.

Menurut

Darmadi

(2002)

kebiasaan

penduduk barada di luar rumah pada malam hari antara pukul 21.00 s/d

22.00 berhubungan erat dengan kejadian malaria, karena frekuensi

menghisap darah jam tersebut tinggi.

26

H. Kerangka Teori

Berdasarkan teori yang telah dipaparkan tersebut maka dapat disusun

kerangka teori sebagai berikut :

Kondisi lingkungan sekitar rumah

1. Semak - semak

2. Parit / selokan

3. Kandang ternak

Kondisi fisik rumah

1. Ventilasi

2. Langit - langit

3. Dinding

rumah 1. Ventilasi 2. Langit - langit 3. Dinding Keberadaan vektor malaria Manusia Kejadian penyakit

Keberadaan

vektor malaria

Langit - langit 3. Dinding Keberadaan vektor malaria Manusia Kejadian penyakit malaria 1. Imunitas 2.
Manusia Kejadian penyakit malaria
Manusia
Kejadian
penyakit
malaria

1. Imunitas

2. Resistensi

terhadap obat

Praktik / Perilaku

1. Kebiasaan di luar rumah

pada malam hari

2. Kebiasaan memakai kelambu

3. Kebiasaan memakai obat anti nyamuk

pada malam hari 2. Kebiasaan memakai kelambu 3. Kebiasaan memakai obat anti nyamuk Gambar 1. Kerangka

Gambar 1. Kerangka Teori Penelitian

27

I. Kerangka Konsep

Variabel bebas

Variabel terikat

Kawat kasa pada ventilasi

Variabel bebas Variabel terikat Kawat kasa pada ventilasi Langit-langit Kerapatan dinding Kejadian Malaria Semak-semak

Langit-langit

Kerapatan dinding

Kejadian Malaria

ventilasi Langit-langit Kerapatan dinding Kejadian Malaria Semak-semak Parit atau selokan Kandang ternak Gambar
ventilasi Langit-langit Kerapatan dinding Kejadian Malaria Semak-semak Parit atau selokan Kandang ternak Gambar

Semak-semak

Semak-semak Parit atau selokan Kandang ternak

Parit atau selokan

Semak-semak Parit atau selokan Kandang ternak

Kandang ternak

Gambar 2. Kerangka Konsep

J. Hipotesis Penelitian

1. Ada hubungan antara kawat kasa pada ventilasi rumah dengan kejadian

malaria di Desa Ketosari Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo.

2. Ada hubungan antara langit-langit pada semua ruangan rumah dengan

kejadian

malaria

Purworejo.

di

Desa

Ketosari

Kecamatan

Bener

Kabupaten

3. Ada hubungan antara kerapatan dinding rumah dengan kejadian malaria di

Desa Ketosari Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo.

28

4. Ada hubungan antara semak-semak di sekitar rumah dengan kejadian

malaria di Desa Ketosari Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo.

5. Ada hubungan antara parit atau selokan di sekitar rumah dengan kejadian

malaria di Desa Ketosari Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo.

6. Ada hubungan antara kandang ternak di sekitar rumah dengan kejadian

malaria di Desa Ketosari Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo.

29

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Jenis penelitian adalah merupakan penelitian observasional dengan

pendekatan case control yaitu rancangan studi epidemiologi yang mempelajari

hubungan

antara

paparan

(faktor

penelitian)

dan

penyakit

dengan

cara

membandingkan kelompok kasus dan kelompok kontrol berdasarkan status

paparannya (Murti, 1997).

B. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah seluruh rumah yang di dalamnya terdapat

penduduk yang pernah diperiksa darahnya secara mikroskopis malaria di Desa

Ketosari Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo pada Mei-Juli 2009.

1. Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi adalah karakteristik umum dari subjek penelitian yang

layak untuk dilakukan penelitian atau dijadikan responden. Kriteria inklusi

pada penelitian ini adalah:

a. Seluruh rumah yang salah satu atau lebih anggota keluarganya pernah

diperiksa

darahnya

secara

mikroskopis

positif

malaria

dijadikan

sebagai kasus, sedangkan rumah yang seluruh anggota keluarganya

pernah

diperiksa

darahnya secara

mikroskopis negatif

malaria

di

jadikan sebagai kontrol pada Mei-Juli 2009.

30

b. Merupakan warga yang berdomisili (tinggal menetap) dan memiliki

rumah di Desa Ketosari, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo.

c. Bersedia menjadi subjek penelitian atau menjadi responden.

2. Kriteria Eksklusi

Kriteria eksklusi merupakan subjek penelitian yang tidak dapat mewakili

sampel karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian. Kriteria

eksklusi pada penelitian ini adalah:

a. Seluruh rumah yang di dalamnya terdapat penduduk yang belum

pernah diperiksa darahnya secara mikroskopis pada Mei-Juli 2009.

b. Bukan merupakan warga yang berdomisili (tinggal menetap) dan

memiliki

rumah

Purworejo.

di Desa Ketosari,

Kecamatan

Bener,

Kabupaten

c. Tidak bersedia menjadi subjek penelitian atau menjadi responden.

C. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Desa Ketosari Kecamatan Bener Kabupaten

Purworejo pada bulan Agustus-September 2009.

D. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh rumah yang salah satu

atau

lebih

anggota

keluarganya

pernah

diperiksa

darahnya

secara

mikroskopis

malaria

di

Desa

Ketosari

Kecamatan

Bener

Kabupaten

31

Purworejo 2009 sebanyak 490 rumah. Dari 490 rumah di dapatkan 21

rumah yang salah satu atau lebih anggota keluarganya positif malaria.

2.

Sampel

a. Jumlah sampel

Jumlah sampel pada penelitian ini sejumlah 42 rumah yang

terdiri

dari

21 rumah pada

kelompok kasus dan 21 rumah pada

kelompok kontrol dengan perbandingan 1 : 1.

b. Teknik pengambilan sampel kasus

Sampel pada kelompok kasus pada penelitian ini adalah seluruh

rumah yang salah satu atau lebih anggota keluarganya pernah diperiksa

darahnya

secara

mikroskopis

positif

malaria

pada

Mei-Juli

2009.

Tekhnik

pengambilan

sampel

pada

penelitian

ini

menggunakan

exhautive sampling yaitu jumlah sampel sama dengan jumlah populasi.

Jumlah populasi pada kelompok kasus adalah 21 rumah, sehingga

didapatkan jumlah sampel pada kelompok kasus pada penelitian ini

yaitu 21 rumah.

c. Teknik pengumpulan sampel kontrol

Sampel kontrol pada penelitian ini adalah rumah yang seluruh

anggota keluarganya pernah diperiksa darahnya secara mikroskopis

negatif malaria pada Mei-Juli 2009. Teknik dalam pengambilan sampel

pada penelitian ini menggunakan metode simple random sampling yaitu

metode mencuplik sampel secara acak dimana masing-masing subjek

atau unit dari populasi mempunyai peluang yang sama dan independen

32

untuk terpilih menjadi sampel (Murti, 2006). Sampel kontrol dipilih 5

tetangga terdekat dari kelompok kasus kemudian dengan teknik simple

random sampling didapatkan 1 sampel untuk kelompok kontrol, begitu

seterusnya sampai didapatkan 21 sampel pada kelompok kontrol.

E. Variabel Penelitian

Penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu:

1. Variabel Bebas

Variabel bebas adalah variabel berpengaruh atau yang menyebabkan

berubahnya nilai dari variabel terikat. Sebagai variabel bebas dalam

penelitian ini adalah kondisi fisik rumah yang meliputi ada tidaknya kawat

kasa pada ventilasi, ada tidaknya langit-langit pada semua atau sebagian

ruangan rumah, dan kontruksi dinding rumah. Serta kondisi lingkungan

sekitar rumah yang meliputi ada tidaknya semak-semak, ada tidaknya

parit/selokan, dan ada tidaknya kandang ternak.

2. Variabel Terikat

Variabel terikat adalah variabel yang diduga nilainya akan berubah

karena adanya pengaruh dari variabel bebas. Sebagai variabel terikat

dalam penelitian ini adalah kejadian malaria di Desa Ketosari Kecamatan

Bener Kabupaten Purworejo.

33

F. Definisi Operasional Variabel

1. Variabel Bebas

a. Kondisi fisik rumah adalah keadaan dari bangunan rumah responden

yang dapat mempermudah terjadinya penularan malaria, terdiri dari:

1)

Ventilasi adalah lubang angin yang memungkinkan untuk keluar

masuknya

nyamuk

malaria

ke

dalam

rumah

dilihat

dari

ada

tidaknya kawat kasa. Dengan kategori:

 

a) Ya, jika ventilasi dipasang kawat kasa

b) Tidak, jika ventilasi tidak dipasang kawat kasa

 

Skala : nominal

2)

Langit-langit adalah pembatas ruangan dinding bagian atas dengan

atap yang terbuat dari kayu, internit maupun anyaman bambu halus

sebagai penghalang masuknya nyamuk ke dalam rumah dilihat dari

ada

tidaknya

langit-langit

pada

semua

atau sebagian ruangan

rumah. Dengan kategori :

 

a) Ada, jika terdapat langit-langit di seluruh ruangan.

 

b) Tidak, jika langit-langit tidak ada atau hanya terdapat pada

sebagian ruangan.

Skala : nominal

3)

Dinding adalah pembatas rumah

responden yang terbuat dari

pasangan batu bata, papan, anyaman bambu halus, anyaman bambu

kasar, dan dilihat dari kerapatannya. Dengan kategori :

34

a) Rapat, jika dinding rumah terbuat dari pasangan batu bata dan

tidak terdapat lubang lebih dari 1,5 mm².

b) Tidak rapat, jika dinding rumah terbuat dari anyaman bambu

ataupun kayu/papan yang terdapat lubang lebih dari 1,5 mm².

b.

Skala : nominal

Kondisi lingkungan sekitar rumah adalah keadaan di sekitar rumah

responden yang terdiri dari: semak-semak dan kandang ternak sebagai

tempat

istirahat

nyamuk,

parit

atau

selokan

sebagai

tempat

berkembangbiak nyamuk malaria (Iskandar dkk, 1985).

1)

Semak-semak adalah rumput atau tumbuhan berkayu yang rimbun

yang dibedakan dengan pohon karena cabangnya yang banyak dan

tingginya yang lebih rendah yaitu kurang dari 1 meter yang dapat

digunakan sebagai tempat istirahat nyamuk, dikatakan rimbun

apabila tidak bisa ditembus oleh sinar matahari, tidak rimbun

apabila bisa ditembus oleh sinar matahari. Dengan kategori:

 

a) Ada, jika terdapat semak-semak di sekitar rumah.

b) Tidak ada, jika tidak ada semak-semak di sekitar rumah.

Skala : nominal

 

2)

Parit

atau

selokan

adalah

saluran

air

yang

digunakan

untuk

pembuangan air hujan, limbah rumah tangga yang menggenang,

yang dapat digunakan sebagai tempat berkembang biak nyamuk.

Dengan kategori:

a) Ada, jika terdapat parit atau selokan di sekitar rumah.

35

b) Tidak ada, jika tidak terdapat parit atau selokan di sekitar

3)

rumah.

Skala : nominal

Kandang

ternak

adalah

bangunan

yang

dipergunakan

sebagai

tempat memelihara ternak seperti sapi, kerbau maupun kambing.

Dengan kategori:

a) Ada, jika terdapat kandang yang memelihara ternak seperti

sapi, kerbau, dan kambing di sekitar rumah.

b) Tidak ada, jika tidak terdapat kandang ternak yang memelihara

sapi, kerbau, dan kambing di sekitar rumah.

Skala : nominal

2. Variabel Terikat

Kejadian

malaria

adalah

suatu

keadaan

dimana

penderita

yang

ditemukan pada keluarga yang diperiksa darahnya secara mikroskopis

malaria. Data kejadian yang diambil hasil pemeriksaan laboratorium

puskesmas pada Mei-Juli 2009. Dengan kategori:

1)

Positif malaria

2)

Negatif malaria

Skala : Nominal

36

G. Pengumpulan Data

1. Jenis Data

Data yang dikumpulkan berupa data kuantitatif, yang diperoleh dari

wawancara menggunakan kuesioner dan observasi mengenai ada tidaknya

kawat kasa pada ventilasi, ada tidaknya langit-langit pada semua atau

sebagian ruangan rumah, kontruksi dinding rumah, dan keadaan di sekitar

rumah

yang

terdiri

dari:

ada

tidaknya

semak-semak,

ada

tidaknya

parit/selokan, dan ada tidaknya kandang ternak.

2. Sumber Data

a. Data Primer

Sumber

data

primer

diperoleh

dari

hasil

wawancara

menggunakan kuesioner dan pengamatan oleh peneliti mengenai ada

tidaknya kawat kasa pada ventilasi, ada tidaknya langit-langit pada

semua atau sebagian ruangan rumah, kontruksi dinding rumah, ada

tidaknya semak-semak di sekitar rumah, ada tidaknya parit/selokan di

sekitar rumah, dan ada tidaknya kandang ternak di sekitar rumah.

b. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dengan mengumpulkan data anggota

keluarga yang pernah diperiksa darahnya di laboratorium puskesmas

dengan

hasil

positif

malaria.

Sedangkan

data

pendukung lainnya

diperoleh dari hasil pencatatan dan pelaporan situasi malaria yang ada

di

Puskesmas

Bener dan

Kecamatan

Bener,

antara lain:

laporan

37

bulanan penderita malaria, hasil pemeriksaan sediaan darah, data

tentang demografi dari desa/kecamatan.

3. Cara Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara kepada responden

dan observasi mengenai ada tidaknya kawat kasa pada ventilasi, ada

tidaknya langit-langit pada semua atau sebagian ruangan rumah, kontruksi

dinding rumah, ada tidaknya semak-semak di sekitar rumah, ada tidaknya

parit/selokan di sekitar rumah, dan ada tidaknya kandang ternak di sekitar

rumah

menggunakan

penelitian.

kuesioner

yang

telah

H. Langkah-langkah Penelitian

1. Instrumen Penelitian

disiapkan

sesuai

tujuan

a. Laporan kasus positif malaria pada bulan Mei-Juli 2009

b. Kuesioner

c. Kertas karton warna biru dan putih

d. Kamera digital

2. Jalannya Penelitian

Berdasarkan laporan positif malaria pada bulan Mei-Juli 2009 terdapat

56 penderita malaria. Karena yang saya teliti adalah rumah maka dari 56

penderita, dengan bantuan JMD (Juru Malaria Desa) diambil per kepala

keluarga dan didapatkan 21 rumah yang di dalamnya terdapat penderita

malaria dan ini dijadikan sebagai kasus. Kemudian memberi tanda pada

38

rumah yang terdapat kasus dengan menempel kertas karton warna biru dan

selanjutnya mencari sampel kontrol yaitu dipilih 5 tetangga yang semua

anggota keluarganya negatif malaria dan dicari tetangga terdekat dari

kelompok kasus yang kemudian dengan teknik simple random sampling

didapatkan 1 sampel untuk kelompok kontrol dan memberi tanda pada

rumah dengan menempelkan kertas karton warna putih. Begitu seterusnya

sampai didapatkan 21 sampel pada kelompok kontrol dan 21 sampel pada

kelompok kasus.

Hari berikutnya melakukan survei pada kelompok kasus dan kelompok

kontrol dengan penyebaran kuesioner dan observasi mengenai kondisi

fiisk rumah dan lingkungan sekitar rumah. Kemudian mencatat hasil

survei dan mengambil gambar rumah dan lingkungan rumah responden

dengan kamera digital.

I. Pengolahan Data

Data yang telah diperoleh dari proses pengumpulan data, selanjutnya

diteliti

ulang

dan

diperiksa

ketepatan

atau

kesesuaian

jawaban

serta

kelengkapanya dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Editing

Langkah ini dimaksudkan untuk melakukan kegiatan pengecekan terhadap

kelengkapan data, kesinambungan data dan keseragaman data.

2. Coding

Melakukan pengkodean data untuk memudahkan dalam pengolahanya.

39

3. Entry data

Memasukkan data yang telah dilakukan coding ke dalam program SPSS

for Windows.

4. Tabulasi

Mengelompokkan data ke dalam suatu data tertentu menurut sifat yang

dimiliki sesuai dengan tujuan penelitian.

Langkah-langkah dalam tabulasi antara lain:

a. Memberi skor item yang perlu diberi skor.

b. Memberi kode terhadap item-item yang tidak diberi skor.

c. Mengubah

jenis

data

sesuai

digunakan (Budiarto, 2001).

J. Analisis Data

1. Analisis Univariat

dengan

teknik

analisis

yang

akan

Analisis univariat untuk menggambarkan deskriptif dari masing-masing

variabel yaitu kondisi fisik rumah, lingkungan sekitar rumah dengan

kejadian

malaria

Purworejo.

di

2. Analisis Bivariat

Desa

Ketosari

Kecamatan

Bener

Kabupaten

Analisis Bivariat menggunakan uji statistik chi square dengan tingkat

kepercayaan 95% (p=0,05) untuk menguji hubungan antara kondisi fisik

rumah

dan

lingkungan

sekitar rumah dengan

kejadian malaria

yang

40

dilakukan

dengan

bantuan

program

SPSS

versi

15

dengan

kriteria

pengambilan kesimpulan berdasarkan tingkat signifikan (nilai p) adalah:

a. Jika nilai p > 0,05 maka hipotesis penelitian ditolak.

b. Jika nilai p 0,05 maka hipotesis penelitian diterima.

Selanjutnya juga diperoleh besar resiko (Odds Ratio/OR) paparan terhadap

kasus dengan menggunakan table 2x2 sebagai berikut:

Penyakit Kasus Kontrol Total Paparan (+) (-) Terpapar a b a + b Tidak Terpapar
Penyakit
Kasus
Kontrol
Total
Paparan
(+)
(-)
Terpapar
a
b
a
+ b
Tidak Terpapar
c
d
c
+ d
Total
a + c
b + d
a + b + c + d

Besar nilai OR ditentukan dengan rumus OR=a.d / b.c dengan Confidence

Interval (CI) 95%. Hasil interpretasi nilai OR adalah:

a. Bila OR > 1, CI 95% tidak mencakup nilai 1, menunjukkan bahwa

faktor yang diteliti adalah faktor risiko.

b. Bila OR > 1, CI 95% mencakup nilai 1, menunjukkan faktor yang

diteliti bukan faktor risiko.

c. Bila OR < 1, menunjukkan bahwa faktor yang diteliti merupakan

faktor yang protektif.

41

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum

1. Keadaan Geografis

Desa Ketosari merupakan salah satu desa di wilayah Kecamatan

Bener Kabupaten Purworejo, memiliki luas wilayah 552.095 Ha yang

terdiri dari tanah pemukiman, pekarangan, persawahan non irigasi dan

tegalan. Desa ketosari terdiri dari 5 dusun yaitu: Dusun Keposong, Dusun

Gedung Agung, Dusun Simpu, Dusun Santren, dan Dusun Puguh. Dengan

jumlah RW (Rukun Warga) sebanyak 3, jumlah

RT (Rukun Tetangga)

sebanyak 9 dan jumlah KK (Kepala Keluarga) sebanyak 490 dengan

jumlah penduduk 1.958 .

berikut:

Adapun batas wilayah Desa Ketosari sebagai

a. Sebelah utara

: Desa Kalijambe, Kecamatan Bener

b. Sebelah selatan : Desa Kamijoro, Kecamatan Bener

c. Sebelah barat

d. Sebelah timur

: Desa Karangsari, Kecamatan Bener

: Desa Kegetan, Kecamatan Bener

Jarak Desa Ketosari dengan ibukota kecamatan yaitu Kecamatan

Bener sejauh 3 km, sedangkan Jarak Desa Ketosari dengan ibukota

kabupaten yaitu Kabupaten Purworejo mencapai 15 km. Untuk menuju

Desa

Ketosari

dari

ibukota

kecamatan

maupun

ibukota

kabupaten

42

transportasi sangat lancar baik musim penghujan maupun kemarau dapat

ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat.

B. Hasil Penelitian

1. Karakteristik Responden

a. Jumlah Anggota Keluarga

Pada umumnya sumber infeksi malaria pada manusia adalah

manusia lain yang sakit malaria baik dengan gejala maupun tanpa

gejala klinis, hal ini kemungkinan besar dapat terinfeksi dengan jumlah

anggota yang besar dalam keluarga di Desa Ketosari Kecamatan Bener

Kabupaten Purworejo. Jumlah anggota keluarga 3 – 5 orang yaitu

sebesar 71,4% menunjukkan paling tinggi pada kasus dan 76,2% pada

kontrol menunjukkan paling tinggi dengan jumlah anggota keluarga 3

– 5 orang. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 1.

b. Umur

Pada usia yang masih tergolong produktif kebiasaan untuk

berada di luar rumah sampai larut malam dimana vektornya lebih

bersifat eksofilik dan eksofagik akan memperbesar jumlah gigitan

nyamuk. Dari hasil penelitian didapatkan data karakteristik menurut

umur responden yaitu dari segi umur responden 31 – 39 tahun yaitu

sebesar 52,4% menunjukkan paling tinggi pada kasus dan 47,6% pada

kontrol menunjukkan paling tinggi dengan umur > 40 tahun. Hal ini

dapat dilihat pada Tabel 1.

43

c. Jenis Kelamin

Hasil observasi untuk jenis kelamin pada kasus dan kontrol di

Desa Ketosari Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo yaitu jenis

kelamin laki-laki yaitu sebesar 52,4% menunjukkan paling tinggi pada

kasus dan 61,9% pada kontrol dengan jenis kelamin laki-laki. Hal ini

dapat dilihat pada Tabel 1.

d. Pendidikan

Tujuan akhir dari pendidikan kesehatan masyarakat adalah

perubahan perilaku yang belum sehat menjadi perilaku sehat, artinya

perilaku yang mendasarkan pada prinsip-prinsip sehat atau kesehatan.

Semakin tinggi tingkat pendidikan akan sangat berpengaruh dalam

menerima informasi dan perubahan sikap, dari hasil observasi dengan

kasus dan

kontrol

diketahui pendidikan SD yaitu sebesar 42,9%

menunjukkan paling tinggi pada kasus dan 42,9% pendidikan SLTA

menunjukkan paling tinggi pada kontrol. Hal ini dapat dilihat pada

Tabel 1.

e. Pekerjaan

Aktifitas

yang

dilakukan

sehari-hari

untuk

menunjang

kebutuhan hidup sangat penting, rata-rata pekerjaan responden di Desa

Ketosari Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo dengan kasus dan

kontrol

diketahui

pekerjaan

sebagai

petani

yaitu

sebesar

52,4%

menunjukkan paling tinggi dan pada kontrol pekerjaan responden

44

f.

sebagai wiraswasta

menunjukkan paling tinggi yaitu sebesar 66,7%.

Hal ini dapat dilihat pada Tabel 1.

Pendapatan

Penghasilan yang didapat mencukupi kebutuhan pokok hidup

akan lebih terjamin dalam kelangsungan hidup seseorang, rata-rata

pendapatan responden di Desa Ketosari Kecamatan Bener Kabupaten

Purworejo dengan kasus dan kontrol diketahui pada kasus adalah

<

500.000 yaitu sebesar 81,0% menunjukkan paling tinggi dan 76,2%

pada

kontrol

dengan

rata-rata

pendapatan

500.000

s/d

1.000.000

menunjukkan paling tinggi. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 1.

45

Tabel 1. Gambaran Kejadian Malaria menurut Karakteristik Responden di Desa Ketosari Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo

Variabel

Kasus

Kontrol

N

%

N

%

Jumlah Anggota Keluarga

1

3 – 5 Orang

15

71,4